Hasil pencarian
9735 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Makanan Kaleng Merentang Zaman
PEMERINTAH Prancis mendeklarasikan sebuah sayembara unik pada 1795. Isinya: dicari orang yang mampu mengawetkan makanan. Hadiah yang ditawarkan tak tanggung-tanggung, yakni uang sejumlah 12.000 franc (setara 167 juta dalam kurs rupiah saat ini). Penggagas hajatan itu adalah Napoleon Bonaparte, jenderal Prancis terkemuka. Saat itu, Napoleon membutuhkan metode pengawetan makanan untuk menyokong logistik konsumsi pasukannya dalam persiapan menginvasi berbagai negara.
- Israel Nyaris Tenggelamkan Kapal Angkatan Laut AS
RABU (8 Juni 1967) pagi yang tenang di geladak kapal riset dan intelijen maritim AL AS USSLiberty seketika berubah mencekam ketika “tamu tak dikenal” mendekatinya. “Sesaat sebelum pukul 09.00 (waktu setempat), dua pesawat jet bermesin tunggal dan bersayap delta, mengorbit dekat Liberty tiga kali pada posisi 31-27Utara, 34-00Timur. Ketinggian pesawat diperkirakan 5.000 kaki, berjarak sekitar dua mil. Liberty memberitahu Komando atasannya, Armada Keenam dan yang lainnya tentang pengintaian ini, dan menyatakan bahwa identifikasi tidak diketahui dan belum ada laporan penguat yang akan diajukan,” tulis William D. Gerhard dalam Attack on the USS Liberty . Laut tempat Liberty berlayar itu, 13 mil lepas pantai Semenanjung Sinai, Mesir, merupakan area pertempuran pihak Israel dan pihak negara-negara Arab dalam Perang Enam Hari. Saat itu perang tersebut memasuki hari ketiga. Meski AS menyatakan netral dalam perang tersebut, negeri “Paman Sam” tetap berkepentingan terhadap daerah itu sehingga mengirim Liberty untuk melakukan misi pengumpulan sinyal intelijen. “Washington menghabiskan pagi 8 Juni seperti hari-hari sebelumnya, memantau perang dari jarak aman,” tulis Michael B. Oren dalam Six Days of War: June 1967 and the Making of the Modern Middle East . Liberty yang mondar-mandir antara Al-Arish dan Port Said itu berlayar sendirian. Permintaan pengawalan menggunakan kapal perusak (destroyer) yang diminta Komandan Liberty William L McGonagle, ditolak Panglima Armada ke-6, berbasis di Mediterania, Laksamana William Martin. Menurut Martin, semua atribut yang dimiliki cukup untuk menunjukkan Liberty sebagai kapal AS dan jalur pelayaran yang digunakan Liberty merupakan perairan internasional. Dengan dua indikator tersebut, Liberty dianggapnya cukup aman dari penargetan serangan pihak-pihak yang berperang. Alhasil, Liberty mesti berlayar sendiri di jalur lalu lintas niaga internasional yang sebetulnya telah ditutup oleh Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser sejak perang pecah. Pelayaran Liberty akhirnya mencurigakan pihak Israel. Selain karena Liberty tak memberitahukan keberadaannya, perwakilan AS di Israel juga tak pernah memberitahukan keberadaan kapal itu. Padahal saat hari pertama perang, Panglima AU Israel Jenderal Yitzhak Rabin memberitahu atase AL AS di Tel Aviv Ernest Carl Castle agar AS mengevakuasi semua kepentingannya dari wilayah pertempuran atau minimal memberitahukan keberadaan kapal-kapalnya di area itu. Maka setelah beberapa penerbangan pengintaian dilakukan AL Israel sejak pagi 8 Juni, Markas AL Israel di Haifa menandai Liberty dengan titik merah alias kapal tak dikenal. Kecurigaan Israel makin besar lantaran dari semua misi pengintaian yang dibuatnya tak satu pun pilot melaporkan telah melihat bendera Amerika berukuran lima kali delapan kaki berkibar di Liberty . Misi pengintaian Israel itu jelas diketahui para awak Liberty. Pesawat-pesawat Israel itu bahkan bisa diidentifikasi dengan jelas. Namun para awak Liberty tak menaruh curiga karena mengira pesawat-pesawat Israel itu sedang mencari kapal selam Mesir yang belum lama melintas dekat Liberty . Para awak Liberty , termasuk Komandan McGonagle, tak pernah tahu hari itu merupakan jadwal Israel melancarkan operasi pengamanan pantainya. Misi itu hanya diketahui oleh Atase AL Castle, yang diberitahu Rabin beberapa saat sebelum operasi itu dimulai. Dalam pemberitahuan itu, Rabin menyarankan Castle agar AS memindahkan semua kapalnya dari perairan sebelum operasi dimulai, sebab semua kapal tak dikenal yang berlayar lebih dari 20 knot –kecepatan yang saat itu hanya bisa dijangkau oleh kapal perang– akan dimusnahkan. Peberitahuan Rabin itu tidak sampai ke awak Liberty . Ketika sebuah ledakan besar mengguncang pesisir Al-Arish pukul 11.26 waktu setempat, Israel mengganggapnya sebagai serangan pasukan Mesir terhadap pasukannya di darat sebagai pendahuluan bagi pendaratan pasukan amfibi Mesir. Israel meresponnya dengan mengirimkan tiga kapal torpedo dari Skadron 914, yang disandikan Pagoda, ke lokasi pada pukul 12.05. Celakanya, ke tempat itulah Liberty melanjutkan pelayarannya. Pukul 13.41, Aharon Yifrah, perwira informasi tempur di kapal T-204 Skuadron Pagoda, memberitahu Komandan Moshe Oren atasannya bahwa sebuah kapal tak dikenal terlihat di 22 mil timur-laut dari Al Arish. Kecepatan kapal itu, kata Yifrah, 30 knot dan bergerak ke arah Mesir. Informasi itu, tulis Michael B. Oren, “membuat Oren menyimpulkan bahwa ini adalah kapal musuh yang melarikan diri ke pelabuhan asalnya setelah menembaki posisi Israel.” Tiga kapal torpedo AL Israel pun memburu Liberty . Pemburu Liberty bertambah setelah kepala Operasi AL Israel meminta dukungan udara kepada AU Israel, yang menindaklanjutinya dengan mengirim dua pesawat tempur Mirage III. Menjelang pukul 14.00, jet-jet tempur Israel telah mendapati posisi Liberty . Sepanjang komunikasinya dengan kapal-kapal Skuadron Pagoda, para pilot jet tempur Israel terus mengidentifikasi Liberty untuk mendapatkan kepastian ia bukan kapal Soviet atau kapal Amerika. Para petugas di kapal-kapal torpedo Israel menyimpulkan, kapal buruan mereka merupakan kapal logistik Mesir El Quseir . Sementara itu, kata Oren, “(Iftah, red .) Spector (salah satu pilot AU Israel) mendapati kapal (buruannya) dan mengidentifikasinya pada ketinggian 3.000 kaki. Yang dilihatnya ‘sebuah kapal militer, kapal perang abu-abu dengan empat senapan, dengan haluan mengarah ke Port Said ... satu tiang berikut satu cerobong asap.’ Terlepas dari beberapa ‘huruf hitam’ di lambung, kapal itu tidak punya tanda-tanda lain. Deknya tidak dicat dengan salib biru dan putih yang membedakan semua kapal Israel. Pilot menyimpulkan bahwa ini adalah "Z", atau perusak kelas Hunt ( destroyer Mesir buatan Inggris), dan karena pesawatnya hanya dipersenjatai dengan kanon, ia meminta jet tambahan yang sarat dengan bom besi.” Di geladak Liberty , para awak baru saja menyelesaikan latihan penanganan serangan kimia yang rutin digelar sejak bulan sebelumnya. Karena status kesiapan ditetapkan pada Mode 3, di empat senapan mesin kalibaer 50 yang dimiliki Liberty pun diisi kru yang bersiaga. Para kru lain juga bersiaga memasok amunisi untuk senjata-senjata lainnya. Pada saat itulah dua Mirage III Israel menurunkan ketinggian dan mendekati Liberty. Komandan McGonagle terus mengamatinya dari jembatan Liberty menggunakan binokular. “Komandan McGonagle mengamati sebuah pesawat jet bermesin tunggal yang tampak serupa, jika tidak identik, dengan yang terlihat sebelumnya pada hari itu. Dengan sebuah pesawat yang diamati lewat teropongnya, komandan tak menyadari ada pesawat kedua yang melintas dari sisi kiri untuk meluncurkan roket yang diarahkan ke jembatan. Ketika roket itu meledak dua tingkat di bawah jembatannya, McGonagle memerintahkan agar sirene dibunyikan,” tulis Gerhard. Setelah meroket Liberty , Mirage-Mirage Israel itu memberondong kapal nahas itu. Badan Liberty langsung dipenuhi ratusan lubang dan tong bahan bakar di geladaknya meledak akibat berondongan itu. "Adegan di Liberty adalah neraka. Orang-orang dengan luka bakar mengerikan, tubuh mereka terkoyak pecahan peluru, berebut ke ruang tunggu ke ruang kecil yang telah diubah menjadi rumah sakit darurat. Para pelaut berbadan sehat lainnya dengan panik membakar kertas-kertas rahasia dan mengibarkan bendera besar Amerika, untuk menggantikan bendera angkatan laut asli yang telah rusak ditembak. Tak satu pun dari mereka yang tahu siapa penyerang itu. Kebanyakan mengira mereka pesawat-pesawat MiG Mesir," tulis Oren. Sembilan awak Liberty tewas seketika –versi lain menyebut 8– dan 75 lainnya luka-luka, beberapa di antaranya kemudian tewas karena luka terlalu parah. Komandan McGonagle sendiri tertembak lengan dan paha kanannya. Alih-alih menerima perawatan medis di ruang pengobatan, McGonagle memilih untuk melanjutkan tugasnya dengan memerintahkan para kru senjata melakukan tembakan balasan. Dia lalu mengirim kawat ke Armada ke-6 agar segera mengirim bantuan karena kapalnya diserang. Tembakan balasan Liberty membuat kapal-kapal torpedo Israel balik menembak. Tembakan kanonnya langsung menewaskan juru mudi Liberty. Beberapa saat kemudian, lime torpedo dilepaskan kapal-kapal Israel. Satu di antaranya langsung menembus sisi kanan bangunan utama Liberty dan menghancurkan ruang penelitian. Dua puluh lima prajurit, mayoritas dari bagian intelijen, langsung tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat torpedo itu. Para pilot dan pelaut Israel lalu dibuat heran. Selain sejak awal kapal buruannya tak pernah memberi respon, tembakan balasan pun hanya sebentar dan berhenti sejak torpedo dilepaskan. Mereka akhirnya dibuat kaget ketika salah satu sekoci Liberty yang mereka sergap ternyata menampilkan tanda AL AS. Pukul 15.30 semua personil Israel akhirnya sadar melakukan serangan ke target yang salah, yakni kapal AL AS. Berita salah serang itu akhirnya sampai ke markas besar militer Israel. Israel langsung mengirimkan permintaan maaf kepada Amerika melalui Castle, yang meneruskannya ke Armada ke-6 untuk kemudian diteruskan ke Washington –yang diterima Presiden Lyndon Johnson hampir dua jam kemudian. “Saya harus akui perasaan saya campur aduk tentang berita tersebut – penyesalan mendalam karena telah menyerang sahabat-sahabat sendiri dan perasaan amat lega bahwa kapal yang diserang itu bukan kapal Soviet,” kata Rabin. Permintaan maaf itu membuat Laksamana Martin memanggil pulang pesawat-pesawat tempur AS yang diterbangkan dari kapal induk USS America untuk memberi bantuan pada Liberty . Pukul 17.05, Liberty yang hampir tenggelam akhirnya terhuyung-huyung melanjutkan pelayaran menuju Malta dengan 34 awak yang tewas dan 171 terluka di dalamnya. Meski awalnya membuat semua pihak AS marah, Presiden Johnson akhirnya setuju dengan tawaran Israel berupa pembayaran kompensasi. Sebanyak 12 juta dolar uang kompensasi akhirnya dibayarkan Israel kepada keluarga para korban. Jonhson lalu membiarkan penyelesaian insiden itu dengan memfokuskan perhatian ke tempat-tempat lain seperti Vietnam, membuat selubung misteri Insiden USS Liberty masih belum terbuka seluruhnya meski berbagai investigasi, termasuk yang dibuat AL AS dan pemerintah Israel, telah diselesaikan beberapa tahun kemudian. “Tuduhan paling tersebar luas menyatakan bahwa Israel –khusunya Menhan Mose Dayan – menginginkan agar Liberty dimusnahkan untuk menyembunyikan persiapan penyerangan ke Suriah,” tulis Michael B. Oren.
- Artati Marzuki, Menteri PD dan K di Tengah Konflik Departemen
MENYUSUL terjadinya krisis internal di tubuh Departemen Pendidikan, pemerintah menunjuk Artati Marzuki Sudirdjo sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan (PD dan K) pada Agustus 1964. Artati dianggap mampu melanjutkan jalannya roda departemen itu meski tak punya jejak karier dalam dunia pendidikan. Kariernya didominasi sebagai diplomat, sejak 1949. Sebelum menjadi Menteri PD dan K, Artati yang lahir di Salatiga pada 15 Juni 1921 bekerja di Komite Urusan Luar Negeri dan sebagai Panitia Persiapan Penyerahan Kedaulatan Republik Indonesia pada 1949. Sejak 1950 ia menjadi perwakilan tetap Indonesia pada berbagai pertemuan PBB. Dalam Menteri-Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Sejak Tahun 1966, Sumardi menyebut keaktifan dan kepintaran Artati membuatnya diberi gelar Minister Counsellor oleh Kedutaan Besar RI di Roma. Penunjukan Artati sebagai menteri PD dan K bertujuan utama untuk menertibkan lingkaran dalam departemen, menciptakan suasana kerja yang baik, dan membuat instansi tersebut terbebas dari polarisasi politik. Sebelum Artati menjabat, Departemen Pendidikan terbagi menjadi dua blok. Blok pertama terdiri atas pejabat dan pegawai beraliran komunis yang bergabung dengan Serikat Sekerja Pendidikan (SSP). Sebagian lain ialah pekerja pendidikan yang juga anggota partai politik (PNI) dan berideologi agama, yang bergabung dengan Serikat Sekerja Pendidikan dan Kebudayaan (SSPK). Artati Marzuki. Benih-benih pertentangan politik mulai bersemi di lingkungan PD dan K sejak awal 1960-an. Sebagai akibatnya, PGRI makin sulit mempertahankan sifat independennya karena baik SSP maupun SSPK saling berusaha menguasai situasi. Mereka saling berlomba untuk menentukan arah kebijakan departemen, khsusunya yang berupa program pendidikan dan kebudayaan nasional. Pertentangan dua kelompok tersebut terjadi bersamaan dengan polarisasi kekuatan politik di lingkungan masyarakat, antara kelompok aliran nasionalis, agamis, dan komunis. Pada 1960, Menteri Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan (PP dan K) Prof. Prijono mengajukan konsep Panca Wardhana sebagai sistem pendidikan nasional dan Manipol-Usdek sebagai dasar pendidikan nasional. Panca Wardhana berisi perkembangan Cinta Bangsa dan Tanah Air, Moral, Nasional, Internasional, Keagamaan; Perkembangan Intelegensia; Perkembangan Emosional, Artistik atau Rasa Keharuan dan Keindahan Lahir Batin; Perkembangan Kerajinan Tangan; dan Perkembangan Jasmani. Konsep itu mulanya tak menimbulkan gejolak. Kelompok Maerhaenis dan agama bisa menerimanya. Ditambah lagi, Pancasila dimasukkan sebagai sistem pendidikan nasional sebagai falsafah dalam Panca Wardhana. Gejolak konflik dimulai ketika pada 16-18 Februari 1963 Lembaga Pendidikan Nasional yang berafiliasi dengan PKI menyelenggarakan seminar “Pendidikan Mengabdi Manipol”. Dr. Busono Wiwoho dari UGM menjadi salah satu pembicara dalam seminar tersebut. Dalam kesempatan itu, Busono menyampaikan Panca Cinta: Cinta pada nusa-bangsa, ilmu pengetahuan, kerja dan rakyat bekerja, perdamain dan persahabatan antar bangsa-bangsa, dan orang tua. Menurut Busono, Panca Cinta itu merupakan inti dari Panca Wardhana. Seminar ini menjadi puncak pergolakan kelompok agamis dan marhaenis melawan kelompok komunis dalam Departemen Pendidikan. Kelompok marhaenis dan agamis menuduh Panca Cinta menghilangkan sila pertama Pancasila. Kekisruhan itu memaksa Menteri Prijono menengahi dengan mengatakan bahwa Panca Wardhana dan Panca Cinta tidak saling bertentangan, namun saling mengisi. Namun, para marhaenis dan agamis menganggap seminar itu tetap mengaburkan sila 1 Pancasila. Konflik antara SSPK dan SSP meningkat di dalam tubuh Departemen Pendidikan dengan penyelenggaraan seminar tandingan, “Penegasan Pancasila sebagai Dasar Pendidikan Nasional”, yang diselenggarakan kelompok marhaen dan agama pada 16-17 Juli 1963. Hasil seminar ini diajukan pada presiden untuk menetapkan keputusan tegas mengenai sistem pendidikan nasional. Buahnya adalah Penpres No. 19 1965 tentang Pokok-Pokok Sistem Pendidikan Nasional Pancasila. Namun polarisasi politik dalam tubuh Kementerian P dan K tak dapat dibendung. Posisi Prof. Prijono pun digantikan oleh Artati Marzuki. Sementara, Prof. Prijono naik menjadi menteri koordiantor yang membidangi Kompartemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Dwikora. Suradi HP dalam Sejarah Pemikiran Pendidikan dan Kebudayaan menyebut, boleh dikatakan patokan-patokan penting yang telah digariskan oleh menteri sebelumnya tidak mengalami perubahan. Tugas utama Artati adalah meredakan konflik dalam tubuh Departemen Pendidikan. “Kebudayaan kita harus bersifat anti-imperialisme, anti-feodalisme, dan anti-neokolonialisme. Kebudayaan kita harus bersifat kebudayaan rakyat yang progresif revolusioner,” kata Artati dalam pidatonya sebagai menteri, 28 Mei 1965, seperti dimuat dalam Harian Rakjat.
- Kematian 5 Mahasiswa Indonesia di Belanda
Permulaan abad ke-20, banyak bangsawan di Hindia Belanda yang mulai berminat belajar ke Belanda. Sejak Raden Mas Panji Sosrokartono, kakak Kartini, menjadi generasi pertama orang Indonesia yang bersekolah di Belanda, para bangsawan berlomba menyekolahkan anaknya di sana. Mereka berharap memperoleh pengetahuan untuk membangun dan menjaga kekuasaannya. Di samping urusan gengsi antar bangsawan. Namun persoalan hidup di Belanda bukanlah perkara mudah bagi orang Indonesia. Keadaan iklim dan kebiasaan makan (termasuk jenis makanan) yang berbeda menjadi sebab banyak dari mereka yang kemudian jatuh sakit. Bahkan hingga menelan korban jiwa dalam kasus tertentu. Dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950, sejarawan Harry A. Poeze mencatat jika antara 1913-1920 terdapat 5 orang Indonesia yang meninggal. Baca juga: Orang Indonesia Pertama di Kabinet Belanda Mengingat kecilnya jumlah keseluruhan mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di sana, dan dalam umur muda pula, angka kematian itu memang cukup menjadi sorotan. Karena itu beberapa kali para pejabat Belanda dan para ahli mengemukakan kalau menempuh pendidikan di Eropa bukan pilihan yang bagus bagi orang Indonesia, utamanya jika ditinjau dari segi kesehatan. Perlu adanya penyaringan yang ketat untuk hal tersebut. “Meninggalnya orang-orang muda di tempat yang jauh dari tanah-airnya itu merupakan tragedi yang luar biasa,” ungkap Poeze. Berikut 5 mahasiswa Hindia Belanda (Indonesia) yang meninggal dunia saat proses studi di Belanda. Raden Mas Ario Notowirojo Raden Mas Ario Notowirojo tercatat sebagai mahasiswa Indonesia pertama yang wafat ketika sedang menempuh studi di Belanda. Ario Notowirojo meninggal pada April 1913, dalam usia 22 tahun. Ia meninggal akibat penyakit TBC (tuberculosis) yang dideritanya ketika sudah tinggal di Belanda. Ario Notowirojo tiba di Amsterdam pada 1910 untuk mengikuti pendidikan di sekolah dagang. Sebelum meninggal ia sempat mendapat perawatan di Swiss. Namun usaha medis itu tidak dapat menyelamatkan nyawanya. Kematian Ario Notowirojo itu menjadi pukulan berat bagi Praja Pakualaman. Karena Ario Notowirojo adalah putra Paku Alam VII, dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Prabu Suryodilogo (1882-1937). Praja Pakualaman berdiri pada 17 Maret 1813 di bawah pimpinan Bendara Pengeran Harya Natakusuma, dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam I. Pemerintahan Pakualaman berada di wilayah Yogyakarta. Namun status kekuasaannya tidak lebih besar dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Baca juga: Kantor Sultan Yogyakarta Diserbu Belanda Kematian Ario Notowirojo begitu membekas di kalangan orang-orang Belanda, utamanya yang mengenal sosok almarhum. Pejabat Hindia Belanda Jacques Henrij Abendanon bahkan sampai menulis artikel peringatan kematian Notowirojo di Voordracten en Mededeelingen van de Indische Vereeniging . Ario Notowirojo, kata Abendanon, datang ke Belanda dengan semangat yang tinggi untuk memperdalam ilmu pengetahuan agar dapat memimpin pemerintahan di negerinya. Ia disebut berkeinginan kuat membawa kemajuan di bidang ekonomi, terutama dalam kaitannya dengan perdagangan dan industri. Mempelajari perekonomian dunia diyakini Ario Notowirojo sebagai jalan tercepat mewujudkan mimpinya itu. “Ada hal-hal lain yang menyebabkan semua orang yang mengenal Notowirojo akan selalu mengenangnya dan menyesalkan kepergiannya yang terlalu dini itu, yaitu kelembutannya, budi pekertinya yang menyenangkan, kemauannya yang keras, dan semangat yang memancar di matanya. Semangat ini, hasrat jiwanya untuk hidup dan bekerja demi bangsa ini, tidak akan hilang. Ia akan hidup terus di hati ribuan orang,” tulis Abendanon. Raden Basoeki Raden Basoeki (Repro Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950) Mahasiswa Indonesia selanjutnya yang juga meninggal dunia akibat penyakit TBC adalah Raden Basoeki. Ia tutup usia pada September 1915, dalam usia 21 tahun. Raden Basoeki tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Pertanian Tinggi di Wageningen, Belanda. Ia juga merupakan putra Atmodirono, arsitek pertama di pemerintahan Hindia Belanda yang berasal dari golongan pribumi. Dalam majalah mahasiswa Wageningen ditulis sebuah kenangan tentang detik-detik terakhir hidup Raden Basoeki yang cukup menyayat hati. Seperti dikutip Poeze: “Di dalam matanya saya baca keinginan yang sangat untuk melihat tanah kelahirannya di selatan yang kaya sinar matahari. Ia hanya bisa menyembuhkan diri di bawah naungan pohon palem dan beringin di tanah airnya yang menyenangkan dan selalu hijau. Terasa oleh saya, untuk dia meninggal begitu jauh dari tanah air, dari orangtua, dari handai taulan itu sungguh mengerikan. Basoeki menderita dengan diam dan tabah, seperti biasa pada orang-orang sebangsanya.” Baca juga: Raja Nusantara di Penobatan Ratu Belanda Penghormatan terhadap sosok Raden Basoeki juga datang dari Abendanon. Dalam majalah Koloniaal Weekblad , sang pejabat Hindia Belanda ini memberi laporan perihal pemakaman almarhum. Ahli hukum Belanda Conrad Theodore van Deventer mendapat kesempatan berbicara saat upacara pemakaman. Ia hadir sebagai ketua Tjandistichting (Perhimpunan Yayasan Tjandi) yang melakukan pengawasan terhadap sejumlah mahasiswa Indonesia, termasuk Raden Basoeki. Van Deventer menyebut kematian Raden Basoeki cukup mendadak karena sembilan hari sebelum kematiannya mereka sempat bertemu dan si mahasiswa terlihat baik. Raden Mas Ario Soerjo Soebandrio Raden Mas Ario Soerjo Soebandrio (Repro Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950) Kematian Raden Mas Ario Soerjo Soebandrio menjadi yang paling mengejutkan. Musibah yang menimpa keluarga Praja Mangkunegaran itu diratapi oleh kaum elit Jawa. Peran Raden Soebandrio begitu diharapkan keluarga Mangkunegaran dalam proses pembangunan Praja Mangkunegaran di wilayah kekuasaannya, Surakarta. Praja Mangkunegaran sendiri berkuasa di Surakarta sejak 1757 sampai 1946. Kerajaan otonom ini merupakan pecahan dari Dinasti Mataram, yang dikenal sebagai Wangsa Mangkunegaran. Namun praja ini tidak memiliki otoritas sebesar Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta. Para penguasa Mangkunegaran bergelar “Pangeran Adipati Arya” karena mereka tidak berhak menyandang gelar “Sunan” atau “Sultan”. Penguasa pertama praja ini adalah Raden Mas Said, dengan gelar Mangkunegara I. Raden Mas Soebandrio merupakan adik dari Mangkunegara VII, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aria. Bastomi S dalam Karya Budaya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegara I-VIII , menyebut jika putra-putri Mangkunegara V (ayah Raden Mas Soebandrio) berjumlah 28 orang. Mangkunegara VII adalah anak ketujuh, sementara keterangan mengenai urutan ke berapa Raden Mas Soebandrio di dalam persaudaraan yang besar itu tidak dijelaskan. Baca juga: Mengintip Masa Lalu dari Mangkunegaran Kegiatan studi Raden Mas Soebandrio di Belanda tersebut sebenarnya mengikuti jejak kakaknya. Diketahui Mangkunegara VII pernah mengenyam pendidikan di Universitas Leiden, Belanda, selama 3 tahun, sebelum akhirnya kembali ke Mangunegaran untuk menggangikan pamannya, Mangkunegara VI yang mengundurkan diri pada 1916. Selama berada di Negeri Belanda, Raden Mas Soebandrio tinggal bersama Noto Soeroto, yang kemudian hari dikenal sebagai penyair Jawa pertama yang karya-karyanya dikenal dalam ranah kesusastraan Belanda. Si Penyair mengajarkan banyak hal kepada Raden Mas Soebandrio, utamanya pendalaman bahasa-bahasa Barat yang dikuasainya. Athanasius Djajeng-Oetama Nisan Athanasius dan Linus (Repro Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950) Athanasius Djajeng-Oetama adalah salah satu mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan keagamaan di Belanda. Ia datang bersama 4 mahasiswa lainnya antara tahun 1916-1920. Mereka dikirim oleh kelompok pater Jesuit yang mendirikan beberapa sekolah di Muntilan, Jawa Tengah. Melalui sekolah-sekolah inilah, agama Katholik tersebar. Banyak murid yang diarahkan untuk menjadi pendeta. Sehingga pendidikan Katolik-Roma di Belanda penting untuk diikuti. Athanasius merupakan orang beruntung yang berkesempatan menimba ilmu keagamaan di Belanda. Namun takdir memaksa Athanasius melupakan cita-citanya menjadi pendeta. Ia wafat sebelum dapat menyelesaikan pendidikannya. Mahasiswa ini meninggal dunia pada Maret 1918 setelah berjuang melawan suatu penyakit ganas selama beberapa minggu. Tidak ada informasi tentang jenis penyakit apa yang diderita Athanasius. Meski begitu perjuangannya tergambar jelas di dalam Majalah St. Claverbond tahun 1918. Hari-hari terakhir Athanasius dihabiskan dengan berdoa bersama para pendeta dan suster yang merawatnya di gereja. Ia telah berjuang melawan penyakitnya. Namun kondisinya terus menurun dan tidak ada dokter yang mampu menyembuhkannya. Para pendeta pun sudah melakukan kebaktian terakhir baginya. Baca juga: Langkah Awal Anak Pendeta “Sama sekali tidak dibesar-besarkan, bahwa meninggalnya Athanasius dirasakan sekali oleh semua orang di sekitarnya. Mereka merasakan betapa indah dapat dimakamkan bersama dia,” ditulis majalah St. Claverbond. Athanasius memang dikenal memiliki kepribadian yang baik. Ia pintar dan mudah untuk bergaul. Karenanya banyak orang yang merasa kehilangan sosok pemuda Jawa yang baik hati ini. Pemakaman Athanasius dilangsungkan di taman pemakaman di Noviciaat di Mariendaal. Upacara pelepasan dilakukan langsung oleh Kepala Biara. Keluarganya dari Jawa turut hadir. Kawan-kawan sesama mahasiswa di Belanda pun banyak yang menghadiri pelepasan Athanasius. Linus Sardal Pontja-Soevonda Sama seperti Athanasius, Linus Sardal Pontja-Soevonda juga terdaftar sebagai mahasiswa keagamaan di Belanda. Linus datang bersama rombongan calon pendeta Jawa antara tahun 1916-1920. Nasibnya sama-sama kurang beruntung seperti Athanasius. Ia meninggal dunia pada April 1920 akibat penyakit TBC. Linus telah berkali-kali terhindar dari kematian. Secara medis hidup Linus seharusnya sudah berakhir sejak 1919. Namun ia mampu bertahan. Diketahui para pendeta telah melakukan tiga kali pembacaan doa terakhir untuknya –berarti tiga kali pula Linus terhindar dari kematiannya. Setiap kali Linus terhindar dari kematian, kondisi fisiknya ikut kembali prima. Ia bahkan tidak terlihat seperti orang yang baru saja sakit. Namun pada Maret 1920, kondisi Linus benar-benar kritis. Setiap orang yang melihatnya berharap kematian kembali menghindari Linus. Tetapi tubuhnya sudah tidak dapat menahan penderitaannya. 6 April 1920 semua kerabat telah berkumpul. Hari berikutnya Linus pergi untuk selamanya. Ia lalu dimakamkan di pemakaman Noviciaat Sarikat Jesus. “Kalau Linus sudah di surga, Linus akan mengkristenkan seluruh Jawa,” ucap pendeta yang mempin upacara pemakaman. Kematian Athanasius dan Linus sempat membuat gempar. Banyak calon pendeta dari Jawa yang akhirnya enggan pergi menuntut ilmu ke Belanda. Mereka takut kejadian kedua pendahulunya itu menimpa mereka. Namun tahun-tahun setelahnya, keadaan kembali normal. Banyak calon pendeta yang kembali pergi ke Belanda. Baca juga: D.I. Pandjaitan, Balada Jenderal Pendeta
- Eksotiknya Akar Sejarah Karnaval Rio
JUTAAN orang sudah bersiap menyambut pesta jalanan terbesar di dunia, Carnaval do Rio de Janeiro alias Karnaval Rio di Brasil. Ajang itu menghadirkan parade ribuan penari dan peserta karnaval berkostum flamboyan, glamor, eksotis hingga vulgar. Tahun ini karnaval itu “direcoki” kecemasan akan virus corona yang tengah mewabah di 27 negara dan menjangkiti sekira 60 ribu orang di seluruh dunia. Karnaval Rio biasanya digelar tahunan selama sepekan, dimulai setiap hari Jumat jelang ibadah puasa prapaskah (51 hari sebelum Paskah) dalam Katolik, agama yang dianut mayoritas rakyat Brasil. Untuk tahun ini, Karnaval Rio rencananya dihelat sepanjang 21-26 Februari 2020. “Memang wabah virus ( corona ) itu mengkhawatirkan karena akan ada banyak orang bepergian ke sana-sini dan juga banyak turis datang ke sini dari segenap penjuru dunia,” terang pejabat dinas kesehatan kota Rio de Janeiro Patricia Guttman, dikutip Daily Mail , Kamis (13/2/2020). Parade blocos atau kirab usungan raksasa yang ikonik di tiap perhelatan Karnaval Rio (Foto: riocarnaval.org ) Meski hingga saat inibelum ditemukan kasus virus corona di “Negeri Samba”, setidaknya 34 dari 60 ribu orang yang terjangkit di seluruh dunia merupakan warga Brasil di luar negeri. “Namun kami siap untuk (menggelar) karnaval,” tegas Guttman. Sebagai langkah pencegahan, pemerintah kota Rio sudah menyiapkan 120 kamar karantina di berbagai rumahsakit serta melatih tenaga-tenaga medis untuk mendeteksi gejala-gejala virus corona. Tak ketinggalan, para tenaga medis yang bersiaga dalam karnaval bakal dilengkapi masker dan pakaian khusus antivirus siap pakai jika terdeteksi ada kasus virus corona. Secuil Tradisi Romawi hingga Portugis Hingga zaman kiwari, belum ada peneliti yang bisa memastikan detailnya sejak kapan akar Karnaval Rio berhulu. Namun beberapa bukti mengejutkan. Festival semacam itu, kata bukti-bukti tersebut, sudah ada sejak eksisnya permukiman penjelajah Romawi di beberapa wilayah di Brasil sejak tahun 19 SM.Mereka datang jauh sebelum bangsa Portugis yang dipelopori Pedro Álvares Cabral pada tahun 1500. Maka ada kisah perayaan semacam Karnaval Rio berawal dari pesta yang acap digelar para pendatang Romawi di Rio, dalam rangka perayaan penghormatan terhadap Bacchus, dewa anggur. Kisah ini diperkuat oleh penemuan sejumlah artefak dari bangkai kapal era Romawi pada 1976 di Teluk Guanabara oleh beberapa nelayan pemburu lobster. Sejarawan Gary Fretz menyimpulkan dalam esai nya “The First Europeans to Reach the New World” , dikutip Frank Joseph dalam The Lost Colonies of Ancient America , bahwa orang Eropa pertama yang datang ke Brasil tak lain adalah bangsa Romawi, bukan bangsa Portugis di permulaan abad ke-16. Se iring dengan bermukimnya bangsa Romawi , se jumlah tradisi seperti p erayaan pemujaan Dewa Bacchus , turut mereka seb arkan . Semuabermula karena garam,komoditas paling berharga bagi manusia di zaman itu.“Bangsa Romawi punya tempat produksi garam yang besar di Ilha do Sal (pulau garam, kini Pulau Sal) di Kepulauan Cape Verde, 350 mil lepas pantai Afrika Barat. Lokasinya terletak dalam garis lurus arus gelombang panas dan angin kering dari Gurun Sahara yang sangat mudah bisa membawa kapal garam Romawi terdampar ke Teluk Guanabara,” ujar Fretz. Ilustrasi perayaan Entrudo di masa kolonial (Foto: ipanema.com ) Setelah Romawi runtuh, tradisi itu turut terhenti. Perayaan besar semacam pesta serupa dan jadi cikal bakal Karnaval Rioadalah perayaan Entrudo yang dibawa bangsa Portugis. Perayaan itu asalnya merupakan tradisi dari Kepulauan Madeiradan Cape Verde. Beberapa sumber menyebut bahwa Entrudo sudah sering digelar di Brasil sejak abad ke-16, setelah kedatanganCabral. Meski begitu, ungkap John J. Crocitti dan Monique Vallance pada risetnya yang disusun dalam Brazil Today: An Encyclopedia of Life in the Republic , gelaran Entrudo pertama yang tercatat arsip sejarah Portugis terjadi pada 1641. Seperti halnya Karnaval Rio saat ini, Entrudo juga digelar jelang puasa prapaskah. “Perayaannya dihelat di jalan-jalan, di mana orang-orang menggelar perang air yang mereka saling lempar dengan ember, limões de cheiro , semacam bola lilin yang diberi pengharum, dan tak ketinggalan perang telur dan tepung,” jelas Crocitti dan Vallance. Entrudo mulanya sekadar perayaan bagi kelas menengah bangsa Portugis dan para budak. Oleh karenanya Entrudo acap dihelat dengan parade kreasi kostum glamor para budak meniru para tuan mereka. Seiring dihapuskannya perbudakan di Brasil pada 1888, Entrudo tak lagi hanya dinikmati kelas pekerja, warga kulit hitam , dan mulattos (blasteran Afro-Eropa). Kaum elit ikut menikmatinya . Kolase parade cordões yang khas dalam Karnaval Rio (Foto: riodejaneiro.com/riocarnaval.org ) Pasca-kemerdekaan Brasil pada 1822 yang mengakibatkan ditinggalkannya warisan Portugis, mereka membuat perayaan yang lebih teroganisir pengganti Entrudo . Ranchos carnavalescos , misalnya. Di awal abad ke-20,perayaan ranchos carnavalescos masih tertular pengaruh tradisi kaum Afro-Brasil era perbudakan, yakni blocos dan cordões . Pengaruh itu dipertahankan hingga kini sebagai cirikhas Karnaval Rio. Sejarawan Brasil Ana Lucia Araujo dalam Public Memory of Slavery memaparkan, blocos adalah semacam kirab kreasi kontemporer raksasa yang diusung, dan cordões adalah parade penari yang memakai kostum-kostum glamor, flamboyan, dan vulgar. Keduanya dibawakan oleh Escola de Samba atau sekolah Samba, organisasi kontes kostum yang berdiri sejak 1928. “ Escola de Samba mayoritas terdiri dari warga Afro-Brasil, kegiatan mereka dimasukkan secara resmi ke perayaan karnaval oleh pemerintahan (presiden) Getúlio Vargas. Di periode yang sama, Komisi Pariwisata Brasil juga mulai mensponsori Escola de Samba jelang persiapan parade sepanjang tahun,” ungkap Araujo. Sejak saat itu, Karnaval Rio tak hanya sekadar perayaan jelang puasa prapaskah, namun juga ajang kontes kostum dan kirab. M eski m ulanya Karnaval Rio di gra t iskan untuk umum, namun per 1961 ia menjadi tontonan berbayar .
- Senjakala Kopi Jawa
PERANG Jawa (1825-1830) telah menyedot begitu banyak uang di kas Kerajaan Belanda. Menurut sejarawan Peter Carey, kurang lebih 25 juta gulden (setara dengan kira-kira 2,5 milyar dolar Amerika Serikat untuk hari ini) telah dikeluarkan untuk memadamkan pemberontakan yang dipelopori oleh Pangeran Diponegoro itu. “Situasi itu menyebabkan pemerintah Hindia Belanda bukan saja kekurangan uang namun juga terjerat utang di mana-mana,” ujar lelaki Inggris yang hampir setengah abad meneliti tentang Perang Jawa tersebut. Kebangkrutan itu pula yang menyebabkan Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch (1830-1833) membuat kebijakan tanam paksa atau dikenal sebagai Cultuur stelsel (sistem kultivasi) guna mengembalikan kestabilan pundi-pundi Hindia Belanda. Menurut Prawoto Indarto dalam The Road to Java Coffee , gagasan Cultuur stelsel sejatinya diambil dari kerjasama VOC dengan bupati Priangan yang dikenal sebagai Priangan stelsel . Bedanya dalam Cultuur stelsel , selain Jawa juga mencakup seluruh Sumatera dan komoditi lebih beragam. Walaupun demikian, kopi tetap dimasukan dalam tanaman yang diwajibkan. “Untuk menajalankannya, van den Bosch memanfaatkan ikatan feodal-tradisional antara bangsawan-bangsawan pribumi dan rakyat sebaik-baiknya,” ungkap Prawoto. Pada saat permintaan dunia akan kopi semakin meningkat, van den Bosch melihat peluang yang bisa digunakan untuk menutup kerugian keuangan akibat Perang Jawa. Maka dia memerintahkan penanaman kopi sebanyak 50 juta benih pada tahun pertama dan 40 juta benih pada tahun kedua pemerintahannya. Menurut Surip Mawardi dalam makalahnya berjudul “Perkembangan Bahan Tanam Kopi Arabika di Indonesia Selama Tiga Abad (1699-1999)”, hingga 1840 di Pulau Jawa saja ada sekitar 330 juta pohon kopi yang mampu menghasilkan satu juta karung kopi. Dua tahun kemudian, panen kopi mengalami lonjakan menjadi sekitar 64.201 ton. Pada 1845, pasaran dunia memerlukan 209.100 ton kopi. Kendati tidak bisa mengulangi prestasi seperti di tahun 1724, namun setidaknya kopi jawa berhasil memenuhi 27% (209.100 ton) dari permintaan pasar dunia tersebut. “Dari tanam paksa, Kerajaan Belanda bisa meraup untung hingga 832 juta gulden (setara dengan 75,5 milyar dolar Amerika Serikat hari ini),” ujar Peter Carey. Pernyataan Carey terkonfirmasi dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 karya sejarawan M.C. Ricklefs. Ricklefs menyebut keuntungan sistem tanam paksa menjadikan perekonomian dalam negeri Belanda kembali stabil: hutang-hutang luar negeri Belanda terlunasi, pajak-pajak diturunkan, kubu-kubu pertahanan dibangun, terusan-terusan diciptakan, dan jalan-jalan kereta api negara dibangun. “Hal yang sebaliknya terjadi pada masyarakat Jawa yang diperas: penyakit dan kelaparan bertambah merajalela dan kaum miskin melonjak tinggi jumlahnya di desa-desa Jawa),” ungkapnya. Kritik terhadap Cultuur stelsel kemudian bermunculan. Tokoh humanis Belanda Eduard Dauwes Dekker alias Multatuli dalam bukunya Max Havelaar, of the Koffie-veilingen der Nederlandsche Handelsmaatshappij memprotes akibat dari Culltuur stelsel yang banyak memakan korban dari kalangan rakyat Hindia Belanda. Dia juga menuduh sistem itu sebagai kecurangan pemerintah Hindia Belanda kepada petani hingga menyebabkan kemiskinan, tragedi dan kematian para petani lokal. Dari kelompok liberal muncul nama Fransen van de Putte. Dalam sebuah artikel berjudul “Suiker Contracten”, dia mengkritik Cultuur stelsel yang telah membunuh bisnis perkebunan swasta di Hindia Belanda. Pemerintah Hindia Belanda merespon kritik-kritik itu dengan mengganti Cultuur stelsel dengan peraturan Undang-undang Agraria ( Agrische Wet ) pada 1870. Dalam aturan tersebut, pihak swasta diberikan porsi besar untuk mengelola bisnis kopi di Hindia Belanda. Ada disediakan Hak Guna Usaha perkebunan selama 75 tahun untuk pihak swasta dan perorangan. Pasca 1870, pihak swasta merajai bisnis kopi di Hindia Belanda. Dengan memanfaatkan kebijakan Politik Etis (politik balas budi), mereka mengatur menejemen bisnis kopi secara mandiri. Begitu dominannya peran mereka, hingga pada 1905, secara resmi pemerintah Hindia Belanda menarik diri dari bisnis kopi di Jawa. Tiga tahun kemudian, mereka melakukan hal yang sama di Sumatera. Seiring pengalihan itu, pada 1876 “kutukan” menghampiri bisnis kopi di Hindia Belanda. Entah dari mana datangnya, tetiba wabah yang disebut sebagai hemeleia vastatrix merajalela. Hemeleia vastatrix merupakan jamur berwarna putih yang menempel di pucuk daun kopi. Kendati terlihat sepele dan biasa, jamur itu terbukti bisa menebar secara mendadak di sebagian besar perkebunan Kopi Jawa, terutama yang berada di dataran rendah (di bawah 1.000 dpl). Menurut Prawoto yang mengutip Fernando dalam karyanya Java , akibat serangan jamur putih itu, bisnis Kopi Jawa mengalami sakratul maut. Sejarah mencatat pada 1880, Jawa telah kehilangan potensi ekspor sekitar 120.000 ton biji kopi sehingga menimbulkan kapanikan luar biasa di pasaran kopi dunia. “Para pengamat industri kopi dunia mengungkap situasi yang terjadi di Jawa (dan Ceylon) itu sebagai declining of Asian production yang turut mendorong kenaikan harga kopi di pasaran dunia,” tulis Prawoto. Bencana yang terjadi di Jawa (dan Ceylon) dimanfaatkan oleh para petani Brazil. Mereka lantas menanam kopi secara besar-besaran. Perlahan namun pasti, Brazil kemudian menggantikan posisi Hindia Belanda sebagai pemasok utama kopi dunia. Bahkan hingga kini. Sejak diserang jamur hamileia vastatrix , penyebab karat daun kopi, usia Kopi Jawa sendiri mulai menuju senjakala. Kejayaannya sekarang hanya tersisa di pelosok-pelosok Jawa. Itu pun dalam bentuk yang tidak sekualitas dan sebanyak dulu lagi.*
- Bogor Historical Walk, Menjawab Keingintahuan Khalayak
LANGIT di atas Bogor berwarna biru cerah pagi itu. Bayangan bulan separuh terlukis sebagai sisa-sisa malam yang tertinggal. Di mulut Jalan Suryakancana, persis dekat Vihara Dhanagun, orang-orang berpakaian merah berkumpul. Dari menit ke menit, jam ke jam, jumlahnya semakin bertambah hingga puncaknya mencapai 40-an orang. “Ayo kawan-kawan, ibu-ibu-bapak-bapak, jam 9 teng kita akan langsung berangkat ya,” ujar Ramadhian Fadillah (36), seorang lelaki berkacamata. Iyan (panggilan akrab Ramadhian Fadillah) merupakan salah satu pemandu dari Bogor Historical Walk (BHW). Itu adalah nama sebuah komunitas non profit yang memiliki misi mengenalkan sejarah dan keanekaragaman budaya di Kota Bogor. Didirikan pada 2019, BHW pada awalnya hanya kumpulan anak-anak muda yang memiliki minat yang sama: mempelajari sejarah Bogor. “Awalnya cuma kegiatan untuk mengasuh anak dan mengenalkan sejarah. Cuma saat beberapa kawan ikut bergabung, lalu muncul usul kenapa nggak dibuat untuk publik saja sekalian,” ujar Iyan yang juga seorang jurnalis. Setelah melakukan riset seperlunya, maka pada 14 September 2019, BHW pun bergerak. Dengan dibantu anggota BHW lainnya yakni Leni Maria Dewi, Yessy Elizabeth, Habibie Faturachman dan Arief Rachman Hakim, Iyan memandu tur umum pertama mereka bertajuk “Bogor Era Kolonial”. Dengan 25 peserta, BHW berkeliling Bogor. Rute yang mereka singgahi masing-masing Stasiun Bogor, Jalan T.B. Muslihat, Katedral, Balai Kota dan berakhir di Lapangan Sempur. Kegiatan perdana mereka ternyata disambut secara antusias oleh orang-orang lintas profesi yang memiliki minat terhadap sejarah Bogor. Berita adanya tur sejarah kota Bogor cepat menyebar melalui jejaring media sosial. Maka setiap bulan secara rutin BHW selalu mengadakan tur Bogor Era Kolonial. “Rupanya banyak juga orang yang ingin tahu sejarah Bogor. Bukan hanya orang Bogor saja tapi juga dari Jakarta dan Depok. Nah, kami ada untuk menjawab keingintahuan itu,” kata Iyan. Uniknya, BHW tidak menerapkan sistem “pemandu tahu segalanya”. Di tur mereka, semua peserta bisa menjadi narasumber dan saling melengkapi pengetahuan yang ada. Tidak heran, jika usai satu tur, alih-alih menjadi jenuh, pengetahuan peserta dan pemandu tentang Bogor malah semakin bertambah. Cerita-cerita baru itu tentu saja selalu disampaikan dalam pertemuan berikutnya. Untuk mendapatkan situasi dan pengetahuan baru, maka sejak Januari 2020, BHW membuat tema “Jejak Naga di Suryakancana”. Tema ini menelusuri sejarah perkembangan orang-orang Tionghoa di kota hujan itu. Mulai dari Vihara Dhanagun hingga rumah bekas kapiten Tionghoa di Bogor. Tak dinyana tema tersebut mendapat sambutan yang sangat luar biasa. Sejak mengeluarkan pengumuman, orang yang mendaftarkan diri sebagai peserta seolah tak ada hentinya. “Bahkan sampai melebihi jumlah 250 orang. Itu pun terpaksa kami tolak sebagian karena kami membatasinya hanya sampai angka 250 saja” kata Yessy alias Echie. Merasa tidak mungkin melayani semuanya dalam satu tur, maka BHW membagi jumlah itu dalam beberapa sesi. Satu sesi dijalankan pada setiap Sabtu pagi hingga tengah hari. “Jumlah yang kami sanggup menanganinya hanya sekitar 40-an dalam setiap sesi. Itu pun lalu dibagi dua kelompok menjadi masing-masing 20 orang,” ungkap Leni. Dalam setiap tur ada pembagian kerja yang tetap di kalangan BHW. Jika Iyan, Habibie dan Echie merupakan spesialis sebagai periset dan pemandu, maka Leni dan Arief berlaku sebagai tim pendukung meliputi masalah-masalah teknis seperti logistik, perlengkapan dan dokumentasi. Lantas bagaimana komentar para peserta setelah mengikuti tur BHW itu? Rata-rata menyatakan sangat puas dan kecanduan ingin ikut kembali. Seperti Nina, misalnya. Penduduk Bogor itu menyebut kegiatan tur kota Bogor tersebut jelas sekali manfaatnya bagi dirinya. “Walau saya tinggal sudah lama di Bogor, tapi cerita seputar obyek-obyek yang saya kenal sejak kecil itu tidak selamanya saya tahu latar belakangnya. Di kegiatan ini, nyaris semua terjawab dan saya jadi memiliki pengetahuan baru,” ujar alumni Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sastra Prancis UI itu. Senada dengan Nina, Idris yang datang dari Cibubur, Jakarta Timur menyatakan bahwa tur yang diadakan oleh BHW itu merupakan kegiatan yang patut menjadi referensi para peminat sejarah di sekitar Jabodetabek. Dia kagum bahwa kegiatan itu justru diinisiasi oleh anak-anak muda. “Sayang, pesertanya kebanyakan orang separuh baya ke atas ya…Ke depan semoga lebih banyak kalangan mudanya,” ujar lelaki berusia 52 tahun itu. Iyan mengakui soal itu. Dia tidak menafikan jika sebagian besar peserta datang dari kalangan tua. Seiring waktu, dia memang berencana untuk lebih gencar lagi mengajak kalangan muda. “Tapi ya pelan-pelan saja, tidak usah terburu-buru. Toh ini pun kami lakukan atas dasar kecintaan kami kepada sejarah saja. Jadi tidak usah ada target dulu-lah. Berapa pun jumlah peserta, jalan saja,”ujarnya. Langit di atas Bogor mulai memutih. Matahari sudah mencorong dan membagikan hawa panasnya kepada penghuni bumi. Peluh pun mulai berjatuhan di wajah-wajah para peserta. Keletihan mulai membayang. Namun begitu, mata mereka terlihat bersinar penuh kegembiraan. “Bulan depan kalau ada tema lain, boleh kasih tahu saya lagi ya,” ujar salah seorang peserta sambil memasuki mobilnya untuk kembali ke Jakarta.
- Tempat-Tempat Pacaran Tempo Dulu
"Sudah pernah pacaran? Kan senang, bahagia… Makanya tidak boleh diganggu." Itulah jawaban Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta 1966–1977, ketika wartawan bertanya apakah dia tidak khawatir dituduh sebagai gubernur sekuler. Selama hayatnya mengatur Jakarta, dia mengupayakan wujudnya tempat hiburan layak dan murah untuk warga. Sebagian tempat itu jadi pilihan utama bujang dan dara semasa untuk berpacaran. Mereka betah berlama-lama di tempat itu. Mau ngobrol sambil duduk atau jongkok, meremas-remas tangan, makan panganan kecil, bersumpah setia sehidup semati, atau sampai meninggalkan bekas merah di leher masing-masing, aman-aman saja. Tak ada lagi orang berlagak menjadi polisi susila. Sebelum Ali Sadikin menjabat, orang jenis ini sering muncul, bertanya tentang kartu identitas atau surat nikah kepada bujang dan dara yang mabuk asmara di suatu tempat. "Saya sengaja melarang orang yang lagi pacaran diganggu. 'Awas lu ya, kalau mengganggu!'" kata Ali Sadikin dalam Tiara , 4 Agustus 1991. Ancaman ini bikin polisi susila lesap dari peredaran. Ali Sadikin memberi kaum muda kesempatan untuk menggunakan ruang publik sebagai tempat pacaran. Alasannya, orang mustahil pacaran di kampung-kampung padat. Bayangkan, satu rumah kecil berisi kakek-nenek, ayah-ibu, dan para sanak saudara. Halaman tak ada. Lebar gang cuma semeter. Mana enak untuk pacaran. "Nah, orang tidak mengerti itu, bagaimana sengsaranya hidup rakyat jelata itu," kata Ali Sadikin. Dari pendalaman tersebut, dia upayakan ruang publik untuk kebutuhan bujang dan dara yang berpacaran. Dia hanya melarang mereka melakukan dua hal di ruang publik: melacur dan berzina. "Kalau mau berzina di lain tempat. Apa itu dianggap sekuler? Saya tahu rakyat tidak mampu dan kewajiban saya untuk menyediakannya," kata Ali Sadikin. Lalu di mana saja tempat-tempat pacaran bujang dan dara yang aman, murah, dan asyik semasa itu? Ancol Ancol adalah lokasi paling sering dikunjungi oleh bujang dan dara. Letaknya di utara Jakarta, daerah pesisir. Aman sekali dari jawilan orang-orang iseng sok moralis. Tersebab Ali Sadikin menjamin betul-betul kenyamanan bujang dara berpacaran. Bahkan polisi pun dilarang masuk. "Dia juga mengusir polisi dari Taman Ria Ancol, agar orang-orang muda yang berkasih-kasihan tidak diganggu atau diperas," kenang Ajip Rosidi dalam Hidup Tanpa Ijazah . Ancol tadinya tempat menyeramkan. Hutan lebat, hamparan rawa-rawa gelap, penuh ular, kera, dan nyamuk. Orang takut memasukinya. Ungkapan populernya tempat jin buang anak. Soemarno, Gubernur Jakarta 1960–1964, mendapat mandat dari Presiden Sukarno untuk mengubah Ancol jadi tempat rekreasi, perumahan, dan industri. Tapi mandat itu terhambat. Tak ada dana untuk menjalankannya hingga masa Soemarno berakhir. Ali Sadikin, pengganti Soemarno, juga belum menunjukkan kemampuan untuk menjalankan mandat itu. Bujang dan dara 1970-an bergandengan tangan di ruang publik. Hal seperti ini tidak ditemukan pada periode sebelumnya. ( Midi, 31 Agustus 1974) Semua berubah dengan kemunculan Ciputra. Dia tengah menggarap perbaikan Pasar Senen. Kerjanya cukup bagus. Nama Ciputra mulai sohor di kalangan pejabat daerah. Dia menyatakan sanggup mengubah Ancol sesuai mandat Presiden Sukarno. Dia juga bilang akan berbagi cuan dengan pemerintah daerah. Ali Sadikin mempersilakan Ciputra mengerjakan Ancol. Kerja bareng Ciputra dan pemerintah daerah berbuah manis. Ancol bersalin rupa. Dari hutan dan rawa-rawa menjadi pantai bersih, indah, modern, ditambah bioskop kendara ( drive-in ), dan gedung akuarium. Jin pun tak bisa lagi buang anak di sini. Orang-orang datang menikmati senja di pantai. Bujang dan dara memilih naik perahu. Jika bosan dengan perahu, mereka bisa masuk gedung akuarium. Di sini mereka pacaran sembari mempelajari hewan-hewan laut. "Penting juga kan pacaran sambil belajar ilmu hewan air? Ingat cerita dalam Layar Terkembang karangan Sutan Takdir Alisjahbana? Di akuarium besar ini percintaan dimulai," ungkap redaksi Midi , 31 Agustus 1974, dalam "Tempat2 Pacaran di Jakarta yang Aman, Asyik, Murah". TIM dan Monas Dari wilayah utara, bujang dan dara biasanya meneruskan pacaran ke wilayah tengah. Di sini ada dua ruang publik favorit mereka: Taman Monas dan Taman Ismail Marzuki (TIM). Masuk Taman Monas gratis. Tempatnya lapang dan hijau. Ada air mancur bergoyang pula. Sesuatu yang masih jarang tersua di Jakarta. Kalau seorang bujang mengajak daranya ke sini, kebanyakan calon mertua akan senang dan bangga. Calon mertua mana yang tidak rela anaknya diajak melihat sesuatu yang belum ada? Masalah utama Taman Monas ialah terlalu ramai. Ia terletak begitu strategis di tengah kota. Ia bisa dijangkau oleh siapa pun dari mana saja. Maka kalau bujang dan dara ingin sedikit suasana sepi, mereka bergerak ke TIM. TIM dibuka pada 10 November 1968 oleh Ali Sadikin. Asalnya tempat ini untuk para seniman berkumpul, berdiskusi, dan menampilkan karyanya. Tapi TIM juga menyediakan taman dan planetarium. Ada pepohonan rindang, kursi panjang, teropong bintang, dan teater untuk menyaksikan pertunjukan benda-benda langit. Bujang dan dara yang berpacaran di sini punya alasan bagus kepada orang tuanya. Katakanlah mau sedikit berbudaya. Supaya kelihatan beda di depan calon mertua. "Mau nonton drama kek, mau nonton pameran lukisan kontemporer kek," ungkap Midi . Suasana di dalam TIM sangat mendukung bujang dan dara meningkatkan kualitas pacarannya. Senimannya toleran sekali dan mudah diajak ngobrol tentang segala hal. Dari filsafat, budaya, tradisi, karya seni kontemporer, sampai membaca tanda-tanda perubahan zaman. Obrolan dengan para seniman penting bagi bujang dan dara untuk berlatih mempelajari tanda-tanda perubahan dalam diri pasangannya masing-masing. Jika mau merasakan pacaran di bawah bintang-gemintang sembari merenungi betapa kecilnya diri di alam semesta, bujang dan dara tinggal melangkah sedikit masuk ke Planetarium. "Selama ini tidak banyak yang masuk, hingga nggak usah kuatir bakalan penuh. Apalagi pada keadaan tertentu tempatnya menjadi gelap 100%. Jadi sambil mempelajari tata surya langit, sempat mempelajari tata surya sang pacar," ungkap Midi . Bujang dan dara 1970-an berkasih-kasih di rerumputan Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta. ( Midi, 31 Agustus 1974) Ragunan Setelah bosan bertemu sesama manusia dan benda-benda angkasa, bujang dan dara seringkali menjajal pacaran bersama hewan-hewan. Bergerak ke selatan, berjarak 15 kilometer dari TIM, sampailah di Taman Margasatwa Ragunan. Ragunan adalah pindahan kebun binatang Cikini. Ragunan menjadi tempat ideal bagi bujang dan dara berkantong kempes. Uang masuk cuma Rp100. Sangat terjangkau oleh kebanyakan bujang dan dara. Murah tapi sepi. Sebab luas tempatnya mencapai 160 hektar. Banyak pepohonan dan rerumputan terhampar. Begitu hijau dan jauh dari polusi. Baik polusi kendaraan bermotor ataupun polusi orang-orang sekitar. Di Ragunan, bujang dan dara berpacaran dengan berjalan kaki. Tidak ada kendaraan di dalam sini. Entah itu sepeda ataupun bermotor. Biasanya bujang dan dara akan mempersiapkan napas sebelum ke sini. Bujang dan dara yang tidak siap pasti kaget. Sebab Ragunan kurang ideal bagi yang tidak biasa jalan kaki. "Apalagi kalau si pria napas Ji-Sam-Su (merk rokok, red .) atau tembakau buatan sendiri. Bisa ngos-ngosan," catat Midi . Di Ragunan ada beberapa juru potret keliling. Mereka siap mengekalkan momen manis dan bersejarah bujang dan dara. Mereka sanggup menerima segala pose sesuai permintaan dari bujang dan dara. Dari pose tersopan sampai terpanas. Tapi yang paling sering adalah pose jalan bergandengan tangan di antara hamparan rumput dan pepohonan. Demikianlah beberapa tempat pacaran bujang dan dara tempo dulu di Jakarta. Sampai sekarang tempat itu masih ada meski sudah banyak berubah. Tapi mungkin anda-anda para bujang dan dara era milenial ingin merasakannya juga. Syaratnya cuma satu: harus punya pasangan. Selamat mencoba tempat-tempat pacaran tempo dulu!
- Indonesia, CIA, dan Crypto AG
PADA 11 Februari 2020, harian Washington Post , stasiun televisi Jerman ZDF , dan stasiun televisi Swiss SRF, merilis laporan hasil penyelidikan terhadap Crypto AG di Swiss, perusahaan komersial yang menawarkan jasa menjaga kerahasiaan data.
- Tugu-Tugu Palu Arit di Indonesia
Sebuah tugu di Madiun tengah menjadi sorotan. Tugu yang berada di interchange menuju gerbang tol Madiun itu disebut mirip simbol palu arit. Isu ini viral setelah Roy Suryo melalui akun twitter -nya mengunggah kicauan mengenai tugu ini. “ Tweeps , Patung yg terletak di pinggir Jalan Tol Madiun ini lagi kontroversi, banyak pihak yg menginginkan Patung ini dibongkar karena mengingatkan Trauma masa lalu di daerah tersebut sekitar tahun 1948 silam. Bagaimana pendapat anda? Benarkah Patung ini mirip2 simbol2 tertentu?” tulis Roy Suryo disertai foto tugu tersebut. Unggahan tersebut kemudian ditanggapi oleh politikus Partai Gerindra Fadli Zon. “Kesan ‘Palu Arit’ tak bisa dinafikan. Apakah ada kesengajaan?” cuitnya. PT Jasamarga Ngawi Kertosono Kediri (JNK), sebagai pengelola tol, menyebut bahwa bentuk tugu tersebut dibuat berdasarkan logo JNK. “Dilihat dari sisi sudut tertentu, tugu ikonik membentuk huruf J, N, K. Tugu menjulang vertikal dari arah barat ke timur membentuk huruf J,” sebut Dwi Winarsa, Direktur Utama PT JNK, dikutip kompas.com . Kemudian, jelas Dwi, lengkung yang melingkar akan membentuk huruf N jika dilihat dari atas. Dan dari Simpang Susun Madiun ke arah timur akan membentuk huruf K. Sementara itu, mengutip detik.com , Kepala Bakesbangpol Kabupaten Madiun Sigit Budiarto menyebut selama ini warga Madiun tidak pernah menyoroti tugu tersebut. “Saya tiap hari lewat tugu itu ya biasa saja,” ungkapnya. Namun, sekelompok orang bersama Center of Indonesia Community Studies (CICS) mendesak agar tugu tersebut dibongkar. Saat Partai Komunis Indonesia (PKI) berjaya pada paruh pertama dekade 1960-an, pernah berdiri tugu-tugu palu arit yang berukuran besar. Namun, pasca peristiwa 1965, tugu-tugu ini dihancurkan bersamaan dengan pelarangan segala hal yang berhubungan dengan PKI. Surat kabar Harian Rakjat , memuat beberapa foto tugu yang tampaknya dibangun dalam rangka menyambut ulang tahun ke-45 PKI pada 23 Mei 1965. Berikut ini beberapa tugu yang termuat di Harian Rakjat periode Mei-Juni 1965. Tugu Palu Arit di Cililitan Tugu palu arit di Cililitan, Jakarta. ( Harian Rakjat , 27 Mei 1965). Harian Rakjat menulis, “Begitu kita memasuki Kota Djakarta dari arah selatan, kita akan disambut oleh tugu raksasa yang menjulang tinggi yang di puncaknya palu arit besar berdiri teguh. Bandingkan orang yang berdiri di bawah dengan tinggi tugu itu. Tugu ini terdapat di perapatan jalan Cililitan.” Penyair Taufik Ismail menyebut keberadaan tugu itu dalam Himpunan Tulisan 1960-2008 . “Di Cililitan, yang sempat saya saksikan, PKI mendirikan sebuah tugu berwarna putih, di atasnya lambang palu arit berwarna emas kemilau ditimpa sinar matahari,” tulisnya. Tugu Palu Arit di Palembang Tugu palu arit di Palembang. ( Harian Rakjat , 9 Juni 1965). Di Palembang, PKI membangun dua tugu besar. Tugu pertama berbentuk palu dan arit terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Palembang, Sumatera Selatan. Sedangkan tugu kedua berada di depan Masjid Agung Palembang. Tugu ini tidak menonjolkan palu arit sebagai obyek utama, melainkan seorang laki-laki tengah memutar stir. Di belakang tampak Jembatan Ampera. Tugu Banting Stir di Palembang. (Repro Harian Rakjat , 8 Juni 1965). Tugu Palu Arit di Surabaya Tugu palu arit di Surabaya. ( Harian Rakjat 10 Juni 1965). Tugu palu arit di Surabaya ini sekaligus menjadi podium rapat umum ulang tahun ke-45 PKI di Surabaya. Dalam foto ini disebutkan bahwa Wakil Ketua II CC PKI Njoto tengah berpidato dalam rapat umum tersebut. Tugu Palu Arit di Losari Tugu palu arit di Losari. ( Harian Rakjat , 5 Juni 1965). Tugu ini berada di Losari, perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Disebutkan bahwa tugu ini juga menjadi jalur estafet panji-panji PKI dari Denpasar. Tugu Palu Arit di Medan Tugu palu arit di Medan. (Repro Harian Rakjat 23 Juni 1965). Tugu palu arit ini disebut berada di Medan. Harian Rakjat menulis, “15.000 massa dengan penuh perhatian mendengarkan pidato Ketua Delegasi PB Vietnam Le Duc Tho dan Sudisman anggota Politbiro/Kepala Sekretariat CC PKI dalam rapat raksasa ultah ke-45 PKI di alun-alun Merdeka Medan tgl 30/5.”
- Wabah-Wabah Penyakit Pembunuh Massal
Penyebaran cepat virus korona atau nama resminya COVID-19 di Tiongkok telah memicu alarm global. Negara-negara tetangga menutup perbatasan mereka. Maskapai penerbangan global menangguhkan penerbangan dan beberapa pemerintahan melarang masuk orang-orang yang baru-baru ini berkunjung ke negara Asia. Virus yang diperkirakan berasal dari pusat kota Wuhan pada akhir Desember 2019 telah terdeteksi di lebih dari dua lusin negara. Dilansir dari Aljazeera , virus ini telah menginfeksi hampir 60.000 orang dan menewaskan lebih dari 1.300 di Tiongkok. Pada 30 Januari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menyatakan wabah virus korona sebagai darurat global atau istilahnya, darurat kesehatan publik yang menjadi perhatian internasional (PHEIC). PHEIC diperkenalkan pada 2005 setelah SARS dikategorikan sebagai ancaman global oleh WHO pada pertengahan Maret 2003. Virus ini menginfeksi sekira 8.000 orang di seluruh dunia, membunuh 774 orang dalam tujuh bulan. Kasus penularan virus telah terjadi sejak 400 SM di Yunani. Sehingga, kata pandemi pun berasal dari bahasa Yunani: pan artinya semua, dan demo berarti orang. 430 SM: Athena Pandemi paling awal yang tercatat. Wabah ini terjadi selama Perang Peloponnesia pada era Yunani Kuno. Penyakit ini melintasi Libya, Ethiopia, dan Mesir, lalu melewati tembok Athena ketika pasukan Sparta mengepung. Robert J. Littman dalam “The Plague of Athens: Epidemiology and Paleopathology” termuat di Jurnal Mount Sinai Journal of Medicine, menulis dalam tiga tahun sebagian besar penduduk terinfeksi, sekitar 75.000 hingga 100.000 orang atau sekira 25 persen dari populasi kota. Gejalanya meliputi demam, haus, tenggorokan dan lidah berdarah, kulit merah dan lesu. Penyakit ini melemahkan Athena hingga berujung pada kekalahan oleh Sparta. Pada 2001, sebuah kuburan massal ditemukan dari masa wabah itu. DNA Salmonella enterica serovar Typhi , ditemukan pada tiga tengkorak. Infeksi bakteri ini biasanya menyebabkan tipes. Namun, para ahli mengatakan kalau tifoid bukanlah penyebab dari epidemi mendadak itu. Pasalnya, tipus adalah endemik di dunia Yunani. 165 M: Wabah Antoninus Wabah Antoninus mungkin menjadi penampilan awal cacar yang dimulai oleh orang Hun, sebagaimana dilansir History . Orang Hun membawa wabah ini menginvasi Jerman, kemudian menyerahkannya kepada orang Romawi, yang kembali menyebarkannya ke seluruh kekaisaran Romawi. Sekira lima juta orang tewas akibat tertular penyakit ini. Gejala penyakitnya termasuk demam, sakit tenggorokan, dan diare. Jika pasien hidup cukup lama lukanya bernanah. Wabah ini berlanjut hingga sekira 180 M. Dilansir dari BBC , wabah ini bernama Antonine setelah Marcus Aurelius Antoninus, salah satu dari dua kaisar Romawi meninggal karenanya. Wabah kedua terjadi antara 251 dan 266 M. Puncaknya sekira 5.000 orang meninggal di Roma setiap harinya. 250 M: Wabah Cyprian Nama wabah itu berasal dari korban pertama yang meninggal yaitu uskup Kristen Kartago, Cyprian. Wabah ini menyebabkan diare, muntah, radang tenggorokan, demam, tangan dan kaki yang kasar. Penyebarannya kemungkinan dimulai dari Ethiopia, Afrika Utara, Roma, Mesir, lalu ke utara. Untuk menghindari infeksi, penduduk kotanya melarikan diri ke Kartago, tetapi malah menyebarkan penyakit itu lebih lanjut. Wabah berulang selama tiga abad berikutnya. Pada 444 M, wabah ini menghantam Inggris. Wabah ini pun mengganggu pertahanan mereka dari serangan Kerajaan Pict dan Skotlandia. Inggris pun harus mencari bantuan dari Saxon, yang kemudian menguasai pulau itu. 541 M: Wabah Justinian Pertama kali muncul di Mesir, wabah Justinian menyebar melalui Palestina dan Kekaisaran Bizantium, kemudian ke seluruh Mediterania. Efek wabah ini di antaranya mengubah arah kekaisaran, memadamkan rencana Kaisar Justinian untuk menyatukan Kekaisaran Romawi. Pun menyebabkan kesulitan ekonomi besar-besaran. “Menciptakan suasana apokaliptik yang mendorong penyebaran cepat agama Kristen,” catat History . Kambuhnya penyakit ini selama dua abad berikutnya menewaskan sekira 50 juta orang atau 26 persen dari populasi dunia. Wabah ini diyakini sebagai penampilan pertama dari penyakit pes. Wujud penyakitnya kelenjar limfatik membesar. Ia dibawa oleh tikus dan disebarkan oleh kutu. Abad ke-11: Kusta Kendati sudah ada sejak lama, kusta tumbuh menjadi pandemi di Eropa pada abad pertengahan. Penyakit ini akibat bakteri yang berkembang lambat yang menyebabkan luka dan cacat. Kala itu kusta diyakini sebagai hukuman dari Tuhan. Keyakinan ini menyebabkan penilaian moral dan pengucilan korban. Para pejabat menempatkan orang-orang dan anggota keluarga yang menunjukkan gejala kusta ke rumah penderita kusta. Mereka sering berada di lokasi terpencil dan membentuk biara. Banyak rumah sakit dibangun yang fokus mengakomodasi para korban kusta. 1350: Black Death Salah satu wabah yang paling mengerikan. Ia bertanggung jawab atas kematian sepertiga populasi dunia. Kemunculan kedua penyakit pes ini dimulai di Asia dan bergerak ke barat dengan karavan. Ia masuk melalui Sisilia pada 1347 M. Ketika penderita tiba di pelabuhan Messina, penyakit itu menyebar ke seluruh Eropa dengan cepat. “Mayat menjadi begitu lazim sehingga banyak yang tetap membusuk di tanah dan menciptakan bau busuk di kota-kota,” catat History . Wabah itu membuat Inggris dan Prancis lumpuh sehingga melakukan gencatan senjata. Sistem feodal Inggris runtuh ketika wabah mengubah keadaan ekonomi dan demografi. Bahkan Viking kehilangan kekuatan untuk berperang melawan penduduk asli, dan penjelajahan mereka di Amerika Utara terhenti. Karikatur seorang dokter dalam wabah penyakit dari sekira 1656. (Wikipedia). 1817: Pandemi Kolera Pertama Berdasarkan situs resmi WHO , selama abad ke-19, kolera menyebar ke seluruh dunia dari aslinya di delta Sungai Gangga, India. Asalnya dari beras yang terkontaminasi. Penyakit ini dengan cepat menyebar ke sebagian besar India, Myanmar, dan Sri Lanka. Pada 1820, kolera telah menyebar ke Thailand, Indonesia (menewaskan 100.000 orang di pulau Jawa), lalu Filipina. Penyakit ini menyebar ke Tiongkok pada 1820 dan Jepang pada 1822 melalui orang yang terinfeksi di kapal. Kolera juga menyebar ke luar Asia. Pada 1821, pasukan Inggris yang melakukan perjalanan dari India ke Oman membawa kolera ke Teluk Persia. Penyakit ini akhirnya mencapai Eropa, Turki, Suriah, dan Rusia Selatan. Pandemi itu punah setelah enam tahun, kemungkinan karena musim dingin yang parah pada 1823-1824. Kemungkinan kondisi ini membunuh bakteri yang hidup dalam persediaan air. Enam pandemi berikutnya membunuh jutaan orang di seluruh benua. Saat ini adalah pandemi ketujuh, yang dimulai di Asia Selatan pada 1961, dan mencapai Afrika pada 1971, lalu Amerika pada 1991. Kolera sekarang menjadi endemik di banyak negara. “Ini adalah pandemi terpanjang di dunia,” catat WHO. 1855: Pandemi Wabah Pes Ketiga Dua pandemi wabah utama pertama dimulai dengan Wabah Justinian dan Black Death. Yang terbaru, yang disebut “Pandemi Ketiga” meletus pada 1855 di Yunnan, Tiongkok. Penyakit ini melintasi dunia selama beberapa dekade berikutnya. Pada awal abad ke-20, tikus yang terinfeksi berpindah dengan kapal uap, membawanya ke enam benua. Pada akhirnya wabah ini merenggut sekira 15 juta jiwa di seluruh dunia, sebelum mereda pada 1950-an. Kendati banyak korban, Pandemi Ketiga menyebabkan beberapa terobosan dalam pemahaman dokter tentang wabah pes. Pada 1894, seorang dokter di Hong Kong, Alexandre Yersin, mengidentifikasi Yersinia pestis sebagai penyebab penyakit tersebut. Beberapa tahun kemudian, dokter lain akhirnya mengonfirmasi bahwa gigitan kutu tikus adalah cara utama penularannya ke manusia. 1889: Flu Rusia Ini adalah epidemi influenza terbesar pada abad ke-19. Muncul di Eropa dari timur pada November dan Desember 1889. Pandemi flu pertama yang dimulai di Siberia dan Kazakhstan, ke Moskow, dan melintas ke Finlandia kemudian Polandia, di mana ia pindah ke seluruh Eropa. Pada tahun berikutnya, flu telah menyeberangi lautan ke Amerika Utara dan Afrika. Pada akhir 1890, 360.000 orang meninggal dunia. Ini juga merupakan epidemi pertama yang banyak dikomentari oleh media massa. 1918: Flu Spanyol Penyakit yang disebabkan virus influenza ini ditularkan melalui unggas yang mengakibatkan 50 juta kematian di seluruh dunia. Menurut Maksum Radji dari Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi FMIPA-UI dalam “Avian Influenza A (H5N1): Patogenesis, Pencegahan dan Penyebaran pada Manusia” termuat di Majalah Ilmu Kefarmasian, subtipe yang mewabah saat itu adalah virus H1N1 yang dikenal dengan “Spanish Flu”. Flu Spanyol diduga berasal dari Tiongkok dan disebarkan oleh pekerja Tiongkok yang diangkut dengan kereta api melintasi Kanada dalam perjalanan mereka ke Eropa. Di Amerika Utara, flu pertama kali muncul di Kansas pada awal 1918. Lalu terlihat di Eropa pada musim semi. Laporan layanan kawat tentang wabah flu di Madrid pada musim semi 1918 menyebabkan pandemi ini disebut “Flu Spanyol”. Pada Oktober 1918, ratusan ribu orang Amerika meninggal. Ancaman flu baru menghilang pada musim panas 1919, saat sebagian besar yang terinfeksi telah mengembangkan kekebalan atau mati. Rumah sakit darurat selama pandemi flu Spanyol di Camp Funston, Kansas, tahun 1918. (Wikipedia/National Museum of Health and Medicine). 1957: Flu Asia Menurut Maksum, pada 1957 dunia dilanda wabah global yang disebabkan oleh kerabat dekat virus influenza yang bermutasi menjadi H2N2 atau dikenal dengan “Asian Flu”. Virus ini merenggut 100.000 jiwa. Dimulai dari Hong Kong menyebar ke seluruh Tiongkok kemudian ke Amerika Serikat, flu Asia menyebar luas di Inggris di mana lebih dari enam bulan 14.000 orang meninggal dunia. Gelombang kedua terjadi pada awal 1958 yang menyebabkan sekira 1,1 juta kematian di seluruh dunia, dengan 116.000 kematian terjadi di Amerika Serikat. Vaksin lalu dikembangkan yang secara efektif membendung pandemi. 1981: HIV/AIDS Penyakit ini pertama kali diidentifikasi pada 1981. AIDS menghancurkan sistem kekebalan tubuh seseorang. Pada akhirnya penyakit ini menyebabkan kematian karena kekebalan tubuh yang seharusnya berfungsi melawan penyakit menjadi lemah. Mereka yang terinfeksi oleh virus HIV mengalami demam, sakit kepala, dan pembesaran kelenjar getah bening setelah infeksi. Virus HIV menular melalui kontak cairan tubuh seperti darah dan sperma melalui perilaku seksual dan penggunaan jarum suntik. AIDS diyakini telah berkembang dari virus simpanse dari Afrika Barat pada 1920-an. Penyakit ini menyebar ke Haiti pada 1960-an, dan kemudian New York, dan San Francisco pada 1970-an. Metode perawatan telah dikembangkan untuk memperlambat perkembangan penyakit. Namun 35 juta orang di seluruh dunia telah meninggal dunia. Sementara obatnya belum ditemukan hingga kini.
- Pertarungan Terakhir Pahlawan Piala Uber
SUDAH sekira sembilan hari Tati Sumirah (beberapa sumber menyebutnya Taty Sumirah) dirawat di ruang gawat darurat RSUP Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur. Namun ketika mentari baru sedikit mengintip pagi ini, Jumat (14/2/2020), kabar tak mengenakkan datangdari Regina Masli, srikandi bulutangkis Indonesia yang menjuarai Piala Uber 1975. “Teman kami meninggal dunia tadi malam. Tati Sumirah, RIP,” tulisnya dalam pesan singkat kepada Historia. Pada 5 Februari, Tati dilarikan ke rumahsakit dan bertarung melawan penyakitnya. Namun Tuhan Yang Maha Kuasa berkata lain dengan memanggilnya pada Kamis (13/2/2020) malam atau empat hari setelah ia genap menginjak usia 68 tahun. Almarhumah dimakamkan usai shalat Jumat di TPU Kemiri, Rawamangun, Jakarta Timur. “Dia sakit darah tinggi dan gula. Memang kehidupannya memprihatinkan. Sepertinya habis tidak main lagi, tidak ada yang peduli. Saya sempat kaget lihat keadaan Bu Tati yang sangat kasihan,” sambung Regina yang sempat menyisipkan foto Tati saat masih dirawat yang didapatkannya dari keponakan Tati. Sejak merintis karier bulutangkisnya, Tati hidup melajang. Ia sempat bekerja di apotek hingga di perusahaan oli nasional dengan penghasilan pas-pasan. “Dia memang tidak berkeluarga. Hidupnya selalu untuk merawat dan memperhatikan ibu dan adik-adiknya,” kata Regina yang sebagaimana Tati, juga sesama jebolan PB Tangkas. Darah Atlet Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Tati yang lahir di Jakarta, 9 Februari 1952, sejak kecil sudah punya darah atlet dari ayahnya, MS Soetrisno, mantan petinju tingkat daerah. Masa kecil Tati sarat dengan kegiatan olahraga yang diajarkan ayahnya, semisal sepakbola dan tinju. Persentuhannya dengan bulutangkis terjadi tak sengaja semasa ia sekolah dasar. Saat itu di dekat kediamannya sedang berlangsung pembangunan jalan bypass . Tati berkenalandengan seorang pekerja kontraktor asal Amerika Serikat (AS) yang turut mengerjakan proyek itu. Orang ‘bule’ itulah yang memperlihatkanmajalah-majalah olahraga yang banyak memuat foto pemain bulutangkis kepada Tati. Saat itu bulutangkis sedang jadi olahraga populer baru di AS. Jatuh cinta pada pandangan pertama, hati Tati langsung kepincut bulutangkis. Ayahnya tetap mendukung walau Tati tak lagi berminat pada sepakbola atau tinju. Tidak hanya membelikan raket, ayahnya sampai membuatkan lapangan bulutangkis sederhanadi halaman belakang rumah. Ayahnya pula yang menggenjot latihan fisik Tati hingga menjadi pemain muda tangguh. “Papanya memang sangat keras melatih Bu Tati. Papanya mau supaya Bu Tati kalau main harus menang,” kata Regina mengenang. MS Soetrisno, ayah Tati Sumirah yang mantan atlet tinju (Foto: Youtube ACT) Alhasilsebelum masuk klub PB Tangkas pada 1971, Tati sudah jadi langganan juara Kejurda DKI sejak 1966.Pada1969, Tati sudah masuk tim PON DKI. Meski begitu, ada pengorbanan yang diambilnya menyangkut masa depan.Tati memilih menyeriusi bulutangkis dan meninggalkan pendidikannya meski sudah kelas 3 SMP. “Meskipun berlatih secara mandiri dan tanpa dukungan pelatih, Tati dianggap memiliki tingkat kebugaran fisik di atas rata-rata. Semua itu berkat latihan tekun, disiplin, dan pantang menyerah. Berbekal kemampuan tersebut, ketika bergabung dengan PB Tangkas, Tati tinggal membenahi tekniknya,” tulis wartawan senior Broto Happy dalam Baktiku Bagi Indonesia. Kenangan Piala Uber Di PB Tangkas, ia digembleng pelatih M. Ridwan. S untuk menjadi pemain tunggal putri.Setahun kemudian, Tatiberhasilmasuk Pelatnas PBSI. Dari sekian “petualangan” di gelanggang olahraga tepok bulu, Tati menggoreskan namanya dengan tinta emas di Piala Uber 1975. “Kalau mengenang kejayaan masa lalu itu sungguh indah,” cetus Tati dikutip Justian Suhandinata dalam Tangkas: 67 Tahun Berkomitmen Mencetak Jawara Bulutangkis . Tahun 1975 menjaditahun keemasan bulutangkis Indonesia.Untuk kali pertama para pebulutangkis Indonesia bisa mengawinkan Piala Thomas dan Piala Uber. Padahal di Piala Ubertim putri Indonesia sama sekali belum diperhitungkan bakal juara oleh banyak pihak. Maklum,tim putri Indonesiayang juga diperkuatTatisebelumnya kandas di edisi 1969 dan 1972. Tati Sumirah (kedua dari kiri) usai turut memenangi Piala Uber yang pertama bagi Indonesia pada 1975 (Foto: Dok. Regina Masli) Di partai puncak yang dimainkan di Istora Senayan, 6 Juni 1975, Indonesia harus kehilangan poin di laga pembuka setelah Theresia Widiastutikalah 7-11 dan 1-11 dari Hiroe Yuki. Indonesiamenyeimbangkan kedudukan, 1-1, setelah di laga keduaTati menaklukkan Atsuko Tokuda, 11-5 dan 11-2. Indonesia akhirnya juara setelah menang 5-2 dari tujuh laga yang dimainkan. Prestasi itu jelas membanggakan para srikandi hingga diundang ke Bina Graha, tempat Presiden Soeharto berkantor. “Waktu mau ketemu presiden, kita mau bilang supaya beliau kasih rumah untuk pemain Uber Cup 1975. Tapi Pak Sudirman (ketum PBSI, red .) bilang, jangan minta apa-apa ke presiden. Tapi anak (pemain, red .) sekarang hebat-hebat bonusnya. Makanya kasihan nasib Tati,” sambung Regina. Seingat Regina, Tati bukan pribadi yang acap mengeluh. Sosoknyaselalu fokus di lapangan meski ia tahu di masa itu pemain bulutangkis belum tentu bisa menjaminmasa depan yang baik secara finansial. “Bu Tati orangnya pendiam. Orangnya tertutup. Tapi dengan teman-teman bisa ngobrol, kok. Kalau sedang tidak latihan di pelatnas, kita biasa bareng-bareng juga sama Theresia dan Sri Wiyanti jajan mie bakso di Mayestik,” kata Regina mengenang pertemanannya dengan Tati. Tati gantung raket pada 1981, baik di pelatnas maupun klub, lantaranbermunculannyatalenta-talenta muda macam Ivana Lie atau Verawaty Fadjrin. Tapi perjuangannyadi luar lapangan tetap berlanjut. Tati mesti mengais rezeki demi merawat ibunya. Kariernya di arena bulutangkistak memberinya banyak materi. Sementara, pekerjaan layak sulit didapatnya lantaran ia SMP pun tak lulus. “Tawaran melatih di PB Tangkas ditolaknya dengan alasan dia tidak berbakat jadi pelatih. Setelah pensiun, dia total meninggalkan bulutangkis,” sambung Broto Happy. Tati Sumirah (ketiga dari kiri) bersama tim Uber Cup 1975 ketika diterima Presiden Soeharto di Bina Graha (Foto: Dok. Regina Masli) Untuk menghidupi dirinya dan ibunya yang tinggal di Buaran, Jakarta Timur, Tati sampai harus menjual hadiah dari menjuarai ajang-ajang yang diikutinya.Selain skuter,mobil juga terpaksa dijualnya pada 1992. Untuk memenuhi kebutuhan harian, ia bekerja jadi kasir di Apotek Ratu Mustika, Tebet, Jakarta Selatan. Pekerjaan itu dilakoninya hingga 2005. Setelah kisah masa senjanya yang memprihatinkan diangkat “Kick Andy”di Metro TV ,Tati ditawari pekerjaan di perusahaan oli swasta nasional tempat legenda bulutangkis Rudy Hartono menjadi komisaris utamanya. Tati menerima tawaran itu. Pekerjaan sebagai pegawai bagian administrasi itu dilakoninya hingga pensiun pada 2016. Setelah pensiun, Tati hanya mengandalkan pemasukannya dari tunjangan pensiun dan bantuan para keponakannya. Kesehariannya dia habiskan untuk merawat ibunya yang sakit dan menyelesaikan pekerjaan rumahtangga.Itu terus dikerjakanannya meski sejak 2017 lutut kirinya bermasalah gegara kecelakaan motor. Tati tak bisa operasi lantaran ketiadaan biaya. Obat yang mampu dibelinya pun hanya sejenis generik. Tatiakhirnya jatuh sakit pada awal Februari 2020. Penyakitnya itu akhirnya menghentikan perjuangan Tati di lapangan kehidupan. Selamat jalan, pahlawan Uber Cup! Statistik Prestasi Tati Sumirah: Kejurda DKI 1966 – Emas (Tunggal Putri) PON 1969 – Perunggu (Beregu Putri) 1973 – Emas (Tunggal Putri & Beregu Putri) 1977 – Emas (Beregu Putri); Perak (Tunggal & Ganda Putri) Kejurnas 1974 – Emas (Tunggal Putri) Singapura Terbuka 1972 – Perak (Tunggal Putri & Ganda Putri) SEA Games 1977 – Emas (Beregu Putri) 1979 – Emas (Beregu Putri) 1981 – Emas (Beregu Putri) Kejuaraan Asia 1971 – Perunggu (Tunggal Putri) Asian Games 1974 – Perak (Beregu Putri) Kejuaraan Dunia 1974 (Invitasi) – Perak (Tunggal Putri) 1980 – Perunggu (Tunggal Putri) Piala Uber 1972 – Juara II 1975 – Juara I 1981 – Juara II






















