top of page

Hasil pencarian

9860 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ulah Adam Malik Bikin Bapak Brimob M. Jasin Bergidik

    SELAIN memiliki kepercayaan diri besar, mantan Wakil Presiden Adam Malik dikenal sebagai pejabat yang tak peduli protokoler. “Semua bisa diatur,” demikian kalimatnya yang terkenal. Almarhum Joesoef Isak, mantan pemred Merdeka  dan sekjen Persatuan Wartawan Asia-Afrika yang bersahabat dengan Adam, ingat betul sifat Adam itu. Joesoef sendiri pernah datang ke sebuah acara formal di mana Adam menjamu tamu-tamunya. Meski keduanya lama tak bertemu, Adam tak melupakannya. “Dia sedang bincang dengan tamu-tamu. Begitu lihat saya, dia langsung panggil dan datangi saya,” kata Joesoef tangannya menirukan gerakan Adam, kepada Historia . Ketidakpedulian Adam pada protokoler itu pernah mengakibatkan “Bapak Brimob” M. Jasin menjadi repot. Kisahnya terjadi saat Jasin menjalani pendidikan di Jerman Barat (Jerbar) sekitar 1962. Suatu hari, Jasin diajak Dubes RI untuk Jerbar Lukman Hakim SH ke Wina, Austria untuk mencari informasi keadaan tanah air kepada rombongan Presiden Sukarno yang sedang singgah di kota tersebut. Rombongan yang di dalamnya terdapat Wakasad Jenderal Gatot Soebroto dan Kolonel Mas Isman itu akan melanjutkan perjalanan ke Moskow, Uni Soviet. Mereka dijemput Dubes RI untuk Soviet Adam Malik di Wina. Di situlah Jasin bertemu Adam. “Bung Adam mengajak saya untuk ikut rombongan Presiden ke Moskow. Kepadanya saya katakan, ‘Bung Adam harus tahu bahwa sekarang ini saya hanya bertugas belajar dan tidak memiliki jabatan. Apakah Presiden Soekarno setuju jika saya ikut rombongan?’” kata Jasin dalam memoarnya, Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang: Meluruskan Sejarah Kelahiran Polisi Indonesia. “Semua bisa diatur. Tidak apa-apa, ikut saja,” jawab Adam santai. Jasin pun menyelinap ke dalam rombongan dan ikut ke Moskow. Usai sambutan kemiliteran di Bandara Internasional Moskow, anggota rombongan bersalam-salaman dengan perwakilan tuan rumah. Saat itulah Adam berulah sehingga mengagetkan Jasin. Adam memperkenalkan Jasin kepada kepala Kepolisian Uni Soviet sebagai Kapolri. “Saya berbisik kepada Bung Adam, ‘Bung, saya kan bukan Kapolri.’ Bung Adam balas berbisik, ‘Diam sajalah, supaya dilayani baik,’” kata Jasin dalam testimoninya di buku Sukarni Dalam Kenangan Teman-Temannya. Ulah Adam membuat Jasin mendapat fasilitas kelas satu. Selain mendapat kamar super VIP di Hotel Sovietskaya, Jasin juga mendapat dua ajudan dari Kepolisian Soviet yang standby  menjaga keamanannya sekaligus memenuhi semua permintaannya. Karuan fasilitas itu membuat Dubes RI untuk RRC Sukarni, yang juga hadir ke Moskow, bingung karena fasilitas yang diterimanya berbeda. Dia lalu menanyakannya pada Jasin mengapa dapat kamar lebih besar dari yang dia dapat. “Ini akibat ulah Bung Adam, saya diperkenalkan kepada mereka sebagai Kepala Polisi RI,” jawab Jasin. Jasin ikut saat rombongan presiden mengunjungi Mausoleum Lenin. Malamnya, sepulang dari Mausoleum, wajah Lenin terus membayangi Jasin. “Pada malam pertama di Hotel Sovietskaya saya dihinggapi rasa takut tidur di tempat tidur yang diperkirakan dapat ditiduri oleh 10 orang dalam ruangan yang sangat luas. Saya berusaha menutup mata, tetapi rasanya terbayang Lenin berdiri di muka tempat tidur saya. Maklumlah, paginya saya turut dalam acara berkunjung ke Museum Lenin. Saya bangun dan membuka jendela besar kamar, sehingga saya dengar kesibukan lalu lintas. Saya berharap, dengan berbuat demikian, akan hilang rasa takut itu. Saya kemudian kembali ke tempat tidur,” kenang Jasin. Upaya itu tak membantu Jasin bebas dari rasa takutnya. Dia tetap tak bisa tidur. Dia bahkan kaget setengah mati ketika suara ribut memenuhi kamarnya. Suara itu ternyata datang dari seekor burung gagak yang masuk. Maka Jasin buru-buru mengusirnya. Namun, tetap saja Jasin tak bisa tidur. Karena diliputi ketakutan, Jasin pun menuju kamar Sukarni yang terletak di lantai yang sama. Dia berharap Sukarni sudi menemaninya tidur di kamarnya. Jika Sukarni menolak, Jasin berencana ingin menumpang tidur di kamar Sukarni. Pintu kamar Sukarni pun diketuk Jasin. Namun karena berulangkali ketukan pintunya tak membuat Sukarni bangun, Jasin terpaksa kembali ke kamarnya sambil gelisah. Lelahlah yang akhirnya membuatnya bisa tidur. Di acara makan siang keesokannya, Jasin bertemu Sukarni yang mengajaknya makan siang ke rumah dinas Adam. Keduanya lalu menuju rumah dubes. Jasin merasa perlu membicarakan “jabatan Kapolri dadakan”-nya dengan Adam. “Saya masih tetap memikirkan ‘keberanian’ Bung Adam ‘mengangkat’ saya dari tugas belajar ke kedudukan sebagai Kepala Kepolisian RI di negeri Uni Soviet yang protokol dan intelnya ketat. Bagiamana jika ketahuan? Pasti akan muncul permasalahan diplomatik dan Kepala Kepolisian Negara RI yang sebenarnya mengajukan protes. Pikiran saya menjadi kacau mengharapkan Bung Adam lekas kembali agar ia menenangkan diri saya.” Maka sembari makan siang, Jasin mengutarakan kegelisahannya kepada Adam. Sukarni yang tak tahu apa-apa hanya mendengarkan. “Bung Jasin jangan pikirkan hal itu lagi. Saya sendiri telah menyelesaikan hal itu dengan Pimpinan Kepolisian Uni Soviet. Saya sudah minta kepada Attache Militer kita untuk mengurus perjalanan pulang Bung kemblai ke Jerman. Tinggallah beristirahat semau Bung!” kata Adam menjawab, dikutip Jasin. Jasin lega mendengar jawaban Adam. Dia lalu beralih ke Sukarni. “Di sana saya ceritakan apa yang saya alami tadi malam. Bung Karni tertawa terbahak-bahak. Katanya, ‘Masakan seorang jago medan perang takut kepada setan!’”*

  • Kisah Pembunuh Si Jalak Harupat

    KABAR dari masa lalu itu merebak menjelang 30 September 2020. Tetiba beberapa kalangan di media sosial menyebut bahwa sejatinya pihak yang menculik sekaligus membunuh tokoh nasional dari Jawa Barat Oto Iskandar di Nata pada Desember 1945 adalah Partai Komunis Indonesia (PKI) yang tergabung dalam Laskar Ubel-Ubel Hitam. Sumber yang mereka rujuk adalah buku Ayat-Ayat yang Disembelih  karya Anab Afifi. Sejarawan Iip D. Yahya menyebut anggapan tersebut terlalu gegabah dan menyederhanakan masalah. Pembunuhan tokoh berjuluk Si Jalak Harupat (Ayam Petarung) itu sesungguhnya memiliki latar belakang masalah yang sangat kompleks. Iip juga mengeritik beberapa kesalahan dasar terkait Oto Iskandar di Nata dalam buku Ayat-Ayat yang Disembelih . Salah satunya soal nama kelompok yang dikaitkan dengan pembunuhan Oto. “Sepengetahuan saya nama kelompok itu adalah Laskar Hitam, bukan Laskar Ubel-Ubel Hitam,” ujar penulis buku Oto Iskandar di Nata the Untold Stories  itu. Kalau pun mau disebut pelakunya PKI, kata Iip, kita harus merunut dulu secara historis apakah saat kejadian itu berlangsung, sebagai organisasi resmi PKI sudah ada lagi? Sebagai catatan,  usai melakukan pemberontakan pada 1926, PKI dibubarkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Para pengikutnya kemudian terceraiberai dan sebagian dibuang ke Digul (Papua). Pertanyaan Iip itu sesungguhnya telah dijawab oleh Siswoyo dalam otobiografinya, Siswoyo dalam Pusaran Arus Sejarah Kiri: Memoar Anggota Sekretariat CC PKI  yang disusun oleh Joko Waskito. Menurut salah satu tokoh komunis Indonesia itu, PKI baru kembali mendeklarasikan secara resmi partainya setelah mereka mengadakan Konferensi Nasional pada awal 1947 di Surakarta. “Kongres IV menghasilkan pengurus baru PKI… [yang secara organisasi] masih menggunakan pola lama seperti digunakan PKI Angkatan 1926,” ungkap Siswoyo. * Jalan Kapas No. 2 Jakarta pada suatu hari di bulan Desember 1945. Sanusi Hardjadinata tengah berbincang akrab dengan Oto Iskandar di Nata ketika beberapa pemuda mendatangi mereka berdua. Setelah berbincang sebentar, para pemuda yang nampaknya berasal dari satu kelompok laskar tersebut kemudian membawa Oto. Entah kemana. Sejak itulah Oto menghilang dari peredaran. Menurut Mujitaba bin Murkam (salah seorang anggota Laskar Hitam yang menjadi satu-satunya pelaku yang diadili pada 16 Agustus 1958), para pemuda itu membawa Oto ke Rumah Tahanan Tanah Tinggi. Dari situ, dia lantas dipindahkan ke penjara polisi di Tangerang. Oto kemudian jatuh ke tangan Laskar Hitam yang pada sekira pertengahan Desember 1945 mengeksekusinya di Pantai Mauk. “Pak Oto dieksekusi dengan cara ditusuk dengan pisau belati bagian lehernya,” ujar Iip. Kematian Oto meninggalkan misteri lain mengenai Laskar Hitam. Menurut Iip dalam bukunya, Laskar Hitam merupakan unit khusus dari Pasukan Berani Mati pimpinan Abdullah. Mereka pendukung kuat dari Achmad Chairun, seorang komunis yang mendirikan Republik Tangerang pada 18 Oktober 1945. Belakangan gerakan separatis itu kemudian berhasil ditumpas oleh kekuatan bersenjata Republik Indonesia. Sejarawan Rushdy Hoesein mengamini pendapat Iip. Kendati tidak menutup kemungkinan ada unsur komunis-nya, namun dia memiliki pendapat bahwa Laskar Hitam tak sepenuhnya bercorak ideologis dan lebih cenderung kental warna kriminalnya. “Kita tahulah saat ini wilayah pesisir Tangerang diramaikan dengan para jago, garong dan para penyamun bersenjata. Saya pikir Laskar Hitam itu lebih menyerupai kelompok-kelompok tersebut,” ujarnya. Ketika pulang dari wilayah Banten, Maroeto Nitimihardjo (tokoh pemuda Menteng 31) pernah ditahan dan nyaris dibunuh oleh Laskar Hitam. Untunglah saat situasi kritis, seorang komandan mereka bernama Haji Jaya mengenal Maroeto dan sebaliknya Maroeto pun mengenal baik Haji Jaya. “Ia seorang pejuang lama yang ikut pemberontakan PKI tahun 1926 di daerah Banten,” ungkap Maroeto seperti dituturkan kepada anaknya Hadidjojo dalam Ayahku Maroeto Nitimihardjo Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan. Berkelindan dengan pendapat Rushdy Hoesein, Maroeto menyebut Laskar Hitam lebih seperti kelompok petualang semata. Usai Republik Tangerang tertumpas, Laskar Hitam itu disinyalir berubah menjadi kelompok penjahat sejati yang dikenal orang-orang Tangerang kala itu sebagai Gerombolan Mat Item. Dalam kasus pembunuhan Oto, Iip meyakini bahwa Laskar Hitam hanyalah pelaku lapangan. Itu terbukti dari ketidaktahuan mereka kepada Oto yang merupakan salah satu orang penting di Republik Indonesia. Dengan kata lain, Laskar Hitam hanya menerima “order” dari “orang berkuasa” untuk menghabisi Oto yang disebut-sebut sebagai “penjual Bandung kepada Belanda”. Soal itu diakui Mujitaba saat diperiksa Jaksa Priyatna Abdurrasyid. “Mujitaba mengaku membunuh Oto Iskandar di Nata karena ia mendapat perintah tidak jelas dari siapa,” ungkap Priyatna Abdurrasyid dalam otobiografinya, Dari Cilampeni ke New York: Mengikuti Hati Nurani yang disusun oleh Ramadhan K.H. Benarkah tuduhan tersebut? Iip meragukannya. Menurutnya dengan latarbelakang Oto yang sangat republiken dan loyal kepada Sukarno-Hatta, hal tersebut sangat jauh panggang dari api. Oto tak lebih dari korban intrik politik saat itu. Pendapat Iip diperkuat oleh Atih Amini, salah seorang putri Oto, yang mengatakan bahwa sebelum terjadinya penculikan tersebut, dalam sepucuk surat kepada ibunya (istri Oto) Raden Ajeng Sukirah, sang ayah mengeluhkan dirinya sedang difitnah seseorang. Beruntung “keluhan Oto” itu sempat diabadikan oleh Nina Herlina Lubis dalam bukunya Si Jalak Harupat, Biografi Oto Iskandar di Nata, 1897-1945 : “…Sepertinya Bapak tengah mendapat ujian dari Tuhan. Tiada cara lain selain pasrah kepada takdirNya. Dalam situasi seperti ini tentu saja saya ada dalam kondisi prihatin karena tengah difitnah orang lain…” demikian dalam surat Oto yang aslinya berbahasa Sunda itu.*

  • Kisah Orang-orang Indonesia di Australia dalam Perang Dunia II

    SEBUAH kapal kecil berlabuh di dermaga Victoria di Pelabuhan Melbourne, Australia. Satu per satu penumpangnya turun. Mereka berkulit cokelat. Sejumlah kaki-laki mengenakan sarung berwarna cerah. Sejumlah perempuan memakai kebaya. Mereka semua pengungsi dari Indonesia. Jumlahnya 67 orang.

  • Moersjid, Jenderal yang Nyaris Menjadi Satpam

    MAYJEN TNI Moersjid pulang ke Indonesia setelah dua tahun bertugas sebagai duta besar di Filipina. Moersjid tiba di Jakarta pada Oktober 1969. Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) menggelar upacara penerimaan kembali kedatangan Moersjid. Pada akhir bulan November, Letjen TNI Umar Wirahadikusumah menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Pagi hari tanggal 8 Desember, Moersjid diminta melapor kepada Umar. Seyogianya Moersjid dan Umar kolega dekat karena sama-sama perwira dari Divisi Siliwangi. Tapi Ketika Moersjid datang menghadap KSAD, Umar menyodorkan secarik kertas. Siapa nyana, isinya bertuliskan surat penahanan. “Sid, ini surat penahanan,” kata Umar seperti dituturkan Siddharta Moersjid, putra Moersjid kepada Historia.ID . Isi surat pun dibacakan. Umar kemudian melempar pulpen agar segera dipakai Moersjid untuk tanda tangan. Moersjid melempar balik pulpen tersebut. Akibatnya, tinta berceceran di kemeja Umar. Dengan tenang, Moersjid mengambil pulpennya sendiri dan meneken surat penahanan itu. Selama empat tahun Moersjid ditahan tanpa melalui proses pengadilan. Bertahun berselang setelah bebas, Moersjid mengenang kembali kejadian “pulpen terbang” itu kepada seorang wartawan. “Mungkin Jenderal Umar tidak sengaja atau, bisa saja mendadak pulpennya terlepas dari tangan?” tanya si wartawan. Jawab Moersjid, “Kami perwira tinggi dalam sebuah upacara resmi. Sengaja atau tidak, dia menghina kehormatan seorang perwira. Langsung pulpennya saya slenthik , untung hanya kena di bajunya,” tulis Julius Pour dalam obituari tentang Moersjid di Kompas , 25 Agustus 2008. Insiden dengan Marshall Green Insiden itu terjadi di Manila International Airport. Dalam sebuah jamuan, emosi Moersjid terpantik mendengar ocehan Marshall Green. Asisten Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) untuk kawasan Timur Jauh itu mengajukan tanya bernada hinaan tentang keadaan Presiden Sukarno. Moersjid, tentara tulen berpostur besar itu hampir saja menghajar Green. Menurut Moersjid, pertanyaan itu tidak sepatutnya dilontarkan oleh seorang pejabat tinggi. Pada saat itu, Bung Karno memang gencar diberitakan terjungkal di ujung kekuasaannya. Angkatan Darat yang dipimpin oleh Jenderal Soeharto mulai mengambil alih kekuasaan. Arsip-arsip Kementerian Luar Negeri AS yang telah dideklasifikasi di kemudian hari membuktikan peranan AS dalam menyokong gerakan anti-Sukarno. Terlepas dari adanya keterlibatan AS, percekcokannya dengan Marshall Green menyebabkan Moersjid dipanggil kembali ke Jakarta. “Dua minggu setelah insiden, saya dipanggil pulang. Hanya saya dan Green yang terlibat, kok Jakarta langsung mencopot saya? Jelas, Green lebih dipercaya dan lebih kuasa, ini kan tai kucing namanya,” kata Moersjid dikutip Julius Pour. Sekembalinya dari Manila, Moersjid diinterogasi. Di saat yang sama, bergulir wacana untuk mengadili Sukarno. Kesalahannya pun dicari-cari. “Ada isu Bung Karno belikan rumah untuk seorang perempuan Filipina. Mungkin Moersjid diperiksa agar memberikan info yang merugikan Bung Karno. Karena tidak mau, ia (Moersjid) ditangkap,” ujar sejarawan Asvi Warman Adam kepada Historia . Moersjid, perwira lapangan yang apolitis itu harus menelan pil pahit. Dari Rumah Tahanan Militer (Budi Utomo), Moersjid kemudian menghabiskan masa tahanannya di RTM Nirbaya. Padahal, kata Asvi, Moersjid bukan orangnya Nasution, Yani, apalagi Soeharto; juga tidak terlalu dekat dengan Sukarno. Selama Moersjid berada dalam tahanan, sang istri Siti Rachmah mesti berjuang sendiri menghidupi keluarga dengan enam orang anak sambil berjualan roti. Pilu merundung kalbu Siti Rachmah sehingga dia membakar semua atribut Angkatan Darat milik suaminya, lengkap dengan seragam dan sederet tanda jasa. Barangkali untuk menyalurkan rasa kecewa.  Beruntunglah, duka itu tidak larut lebih lama lagi. Pada 1973, Moersjid kembali berkumpul bersama keluarga setelah dibebaskan dari tahanan. Pertanyaannya: Siapa? Sepanjang karier militernya, Moersjid merasakan bermacam palagan. Dia mulai angkat senjata sejak era revolusi. Jiwa tempurnya kian terasah kala menumpas pemberontakan Darul Islam di Jawa Barat kemudian Permesta di Sulawesi Utara. Dalam operasi pembebasan Irian Barat, Moersjid nyaris gugur berkalang samudra dalam insiden Laut Aru. Pada pertengahan 1962, Moersjid menjadi perwira tinggi mendampingi Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Ahmad Yani sebagai Deputi I/Operasi. Setelah itu, Moersjid sempat menjabat wakil menteri pertahanan, lalu duta besar di Filipina hingga kemudian terhempas dalam tahanan rezim Orde Baru. Bintang gemilang Moersjid mendadak pudar paska prahara politik tahun 1965. Jenderal yang dijuluki “si jago tempur” itu harus menepi karena intrik. Sehari sesudah bebas dari tahanan, terbitlah keputusan bahwa Moersjid dipensiunkan dalam pangkat mayor jenderal pada usia 48 tahun. Usia yang tidak lazim bagi perwira aktif untuk purnabakti. Setelah pensiun, Moersjid menyepi dan hidup seperti orang sipil biasa. Namanya tidak lagi diperhitungkan. Dia bahkan berniat ingin menjadi satpam karena tiada pekerjaan yang pas dilakoninya.     “Da... Da... Kayaknya Papa jadi satpam paling cocok,” kata Moersjid kepada anaknya Siddharta pada suatu percakapan. “Ada sih yang ajakin dia kerja, tapi bawaannya gitu, ya susah (terlalu tegas),” tutur Sida kepada Historia . Kendati dapat hidup bebas, masih ada konflik batin yang menyisa dalam diri Moersjid. Bagi Moersjid, hanya ada satu pertanyaan yang belum terang terjawab. Siapa yang punya inisiatif menjerumuskan dirinya ke dalam tahanan? “Yang menandatangani suratnya memang KSAD. Tapi siapakah yang memerintahkan? Ini misteri yang mungkin tidak akan terjawab,” ujar Siddharta. Dalam obituarinya, Julius Pour menulis tajuk, “Moersjid: Siapa Telah Memfitnah Diriku?”. Atas apa yang terjadi menimpa dirinya, Moersjid selalu berkata “Saya contoh terbaik the right man in the wrong place . (Orang yang benar di tempat yang salah).” Menurut sesepuh TNI AD Letjen TNI (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo, Soeharto mendapat masukan yang mengatakan bahwa Moersjid seorang perwira Sukarnois. Selain mereka yang dicap “kiri”, di masa peralihan menuju Orde Baru, orang-orang yang dianggap dekat dengan Sukarno juga turut “dibersihkan”. Moersjid dimasukan pada kategori terakhir. “Rupanya ada orang-orang di sekitar Presiden Soeharto yang menganggap Pak Moersjid seorang Sukarnois,” kata Sayidiman kepada  Historia . Namun, Sayidiman tidak tahu pasti siapa orang yang dimaksud. Indikasi mengarah kepada Jenderal TNI Abdul Haris Nasution. Dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru , Nasution menyebut nama Moersjid sebanyak 12 kali. Pada halaman 180, Nasution mengatakan, “Jenderal Mursid adalah seorang jenderal yang dipercayai oleh Presiden”. Dan pada halaman  306, Nasution menyebut, “Mursid adalah pengaggum Bung Karno.” Meski demikian, tudingan Moersjid seorang perwira Sukarnois bukan menjadi alasan yang tepat menjerumuskannya ke dalam tahanan. Sebab, kalau benar demikian, tentulah Moersjid yang dipilih Sukarno menggantikan Ahmad Yani sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat. Namun, Sukarno malah mementahkan Moersjid lantaran dianggap “tukang gelut”. Pertanyaan itu tetap tidak terjawab hingga akhir hayat Moersjid. Sebelum meninggal, Moersjid berpesan kepada keluarganya agar jangan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sebagai pejuang dengan sejumlah tanda jasa, Moersjid sejatinya layak mendapat tempat di sana. "Saya pikir itu alasan pribadi," kata Siddharta mengenai keinginan ayahnya yang enggan dimakamkan di Kalibata. Dalam usia 82 tahun, Moersjid wafat pada 13 Agustus 2008. Taman Giritama, Tonjong, Bogor menjadi pusaranya. Prosesi militer mengiringi acara pemakaman sebagai wujud penghormatan terakhir bagi Moersjid.*

  • Menahan Laju Uang Merah

    Bahkan sekalipun sudah angkat kaki karena kalah melawan Jepang, Belanda berpikir bakal kembali menguasai Indonesia. Segala persiapan dilakukan. Termasuk mencetak mata uang Hindia Belanda yang baru. Persiapan itu mulai dilakukan pemerintah Belanda di London awal Desember 1942. Ratu Belanda memberi restu dengan mengeluarkan surat keputusan tanggal 2 Maret 1943. Uang kertas tersebut dicetak pada 1943 di American Bank Note Company, Amerika Serikat, dalam sembilan pecahan dari 50 sen hingga 500 gulden/rupiah. “Pada saat itu pemerintah telah memperkirakan bahwa DJB sulit untuk langsung berfungsi setibanya mereka di wilayah Hindia Belanda,” tulis Unit Khusus Museum Bank Indonesia dalam bahasan sejarah pra-Bank Indonesia dalam situs resminya . DJB adalah singkatan dari De Javasche Bank. Dalam uang kertas itu dicantumkan nilai gulden dalam bahasa Belanda dan nilai rupiah dalam bahasa Indonesia. Semua pecahan uang NICA menampilkan gambar Ratu Wilhelmina dan ditandatangani bersama oleh Pejabat Gubernur Letnan Jenderal H.J. van Mook dan Presiden DJB R.E. Smits. Dalam Perjuangan Mendirikan Bank Sentral Repulik Indonesia , tim peneliti BI mengatakan, penggunaan kata “rupiah” pada uang NICA merupakan upaya Belanda untuk menarik hati rakyat Indonesia. Ketika diedarkan, 1 rupiah uang Jepang sama nilai tukarnya dengan 3 sen uang NICA. Dengan beredarnya uang NICA, perang mata uang terjadi di Indonesia. Rupanya harapan itu terwujud. Pendudukan Jepang berakhir. Sekalipun Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya, Belanda tetap kembali ke wilayah bekas koloninya dengan membonceng Sekutu. Tak hanya membawa tentara sipil (NICA), Belanda juga membawa mata uangnya. Masyarakat menyebutnya dengan uang NICA atau “uang merah” karena pecahan 50 sen dan 10 rupiah yang banyak digunakan berwarna merah. Para petinggi NICA seperti Charles van der Plas dan Van Mook semula berpikir ulang untuk mengedarkan mata uang NICA. Mereka melihat kebijakan ini berisiko tinggi bagi rencana menegakkan kembali pemerintahan Hindia Belanda. Namun para pemimpin di Belanda, seperti tercermin dari hasil sidang Kementerian Daerah-daerah Seberang Lautan yang diadakan 30 September 1945, telah memutuskan untuk menarik mata uang rupiah Jepang dan menggantinya dengan uang NICA. “Akhirnya, ada semacam persetujuan dari van Mook untuk mengedarkan mata uang NICA di luar Jawa dengan kurs penukaran 3 sen uang NICA untuk setiap 1 rupiah uang Jepang. Sedangkan peredaran uang NICA di Jawa dilakukan kemudian,” kata sejarawan Mohammad Iskandar dalam “’Oeang Republik’ dalam Kancah Revolusi” pada Jurnal Sejarah Vol. 6 No. 1, Agustus 2004. Indonesia bereaksi terhadap peredaran uang NICA tersebut. “Uang ini kita anggap tidak laku; janganlah diterima, supaya jangan timbul inflasi di sini,” demikian maklumat pemerintah Indonesia pada 2 Oktober 1945 dalam arsip Sekretariat Negara RI No.48 koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Suasana penukaran uang di Indonesia tahun 1947. (Cas Oorthuys/ geheugen.delpher.nl ). Ditodong Senjata Peredaran uang NICA berjalan mulus kecuali di Jawa dan Sumatra. Muncul perlawanan dari rakyat yang mematuhi maklumat pemerintah Indonesia bahwa uang NICA bukanlah uang sah oleh Republik Indonesia. Pada 3 Oktober 1945, para pelajar sekolah menengah di Yogyakarta merazia uang NICA. Mereka keluar-masuk kampung untuk menyita mata uang NICA. Dua hari kemudian, kaum buruh mengadakan rapat raksasa untuk menyatakan kebulatan tekad mendukung Republik Indonesia. Mereka menyatakan, dilansir harian Merdeka , 7 Oktober 1945, “semua bentuk tipu daya kaum imperialis seperti mendirikan NICA dan mengeluarkan mata uang kertas yang bertuliskan ‘Nederlandsch Indie’ akan ditentang.” Di Jakarta, banyak pedagang pribumi menolak menjual barang dagangan kepada orang Belanda. Mereka juga enggan menerima pembayaran dalam bentuk mata uang NICA. Sementara iu kaum Republik di Bandung menyatakan penolakannya terhadap mata uang NICA. Demikian pula di Semarang, banyak rakyat yang tidak mau menerima uang merah.  Tidak jarang arena jual beli, sebagaimana diwartakan Berita Indonesia , 7 Oktober 1945, berubah menjadi arena perkelahian. Pihak Sekutu ikut turun tangan mengatasi perang mata uang tersebut. Pada 6 Oktober 1945, Brigjen Bethell selaku komandan penanggung jawab Sekutu sekaligus pemimpin pembebasan tawanan perang menerbitkan pengumuman tentang penggunaan senjata dan mata uang. Salah satu isinya menyatakan bahwa uang NICA tak berlaku dan hanya uang rupiah Jepang yang berlaku sebagai alat tukar. Namun, pada bulan-bulan berikutnya Sekutu memperlihatkan sikap tak konsisten. Memasuki tahun 1946, alih-alih netral, kebijakan Sekutu cenderung menguntungkan Belanda. Di sisi lain Belanda tetap menjalankan siasat memperluas peredaran uang NICA. Uang NICA senilai Lima Rupiah. ( Historia.id /Koleksi Museum Bank Indonesia). NICA sudah memperoleh akses ke kantor-kantor pusat bank Jepang di Jakarta pada 10 Oktober 1945. Bank-bank Jepang kemudian ditutup. DJB dihidupkan kembali dan diberi tugas sebagai bank sirkulasi. Pada 6 Maret 1946, NICA melalui komandan pasukan Sekutu Sir Montagne Stopford secara resmi mulai mengedarkan uang NICA emisi 2 Maret 1943. Pada bulan berikutnya, DJB membuka kembali kantor-kantor cabangnya di kota yang telah diduduki NICA. Melalui cabang-cabangnya inilah uang NICA diedarkan. Dengan demikian, uang NICA menjadi alat pembayaran yang sah di daerah-daerah pendudukan. DJB kemudian mengeluarkan uang kertas dengan tanda tahun 1946. Uang kertas DJB tersebut juga disebut sebagai uang kertas DJB emisi darurat 1946, terbit dalam pecahan 5, 10 dan 25 gulden/rupiah. “Ketiga pecahan ini tersu beredar di wilayah Indonesia hingga nantinya ditarik dari peredaran sehubungan dengan kebijakan Gunting Sjafruddin pada 1950,” tulis Unit Khusus Museum Bank Indonesia. Banyaknya mata uang yang beredar membingungkan rakyat kecil. Di Makassar misalnya, seperti dicatat Pramoedya Ananta Toer, dkk dalam Kronik Revolusi Indonesia Jilid 1, rakyat hanya mau menerima uang rupiah cetakan Jepang. Tapi kadang-kadang para pedagang dipaksa dengan todongan senjata untuk menerima uang NICA. Tapi, menggunakan uang NICA pun sama nahasnya. Pejuang atau Tentara Republik akan mencap siapa saja yang kedapatan menyimpan uang NICA sebagai mata-mata Belanda. Uang NICA senilai Sepuluh Rupiah. ( Historia.id /Koleksi Museum Bank Indonesia). Perang Mata Uang Pada 15 Maret 1946, pihak Republik mengeluarkan maklumat yang melarang penduduk mengedarkan uang NICA. Sebagaimana diberitakan majalah Pantja Raya , 1 April 1946, “Barang siapa menyimpan atau mengedarkan mata uang NICA akan mendapat hukuman berat.” Pihak Belanda pun melaporkan bahwa orang-orang yang memegang uang NICA dikeroyok tentara resmi Republik Indonesia di Wonotor, Probolinggo. Tak pelak, kehadiran uang NICA di tengah masyarakat seolah jadi momok menakutkan. Pemerintah Indonesia tak tinggal diam.Setelah Bank Nasional Indonesia (BNI) berdiri pada 5 Juli 1946, pemerintah Republik menetapkan penarikan beberapa mata uang dari peredaran. Mata uang itu antara lain uang De Javasche Bank, uang pemerintah Hindia Belanda, dan uang pemerintah pendudukan Jepang. Setiap penduduk hanya diperbolehkan memegang uang maksimal 50 rupiah Jepang untuk kebutuhan sehari-hari. Kemudian, Menteri Keuangan berdasarkan surat keputusan No. SS/1/25 tanggal 29 Oktober menetapkan berlakunya Oeang Republik Indonesia (ORI). Pada 30 Oktober 1946 pukul 00.00, ORI menjadi mata uang yang sah di wilayah Republik Indonesia. Hasil cetakan ORI dikirim ke seluruh Jawa dan Madura dalam gerbong-gerbong kereta api. Kawalan ketat mengiringi pengiriman itu guna menghindari perampokan di tengah jalan.  Kehadiran ORI menandai dimulainya babak baru perang mata uang. Uang ORI mulai memasuki daerah-daerah pendudukan melawan uang NICA. Rakyat menyambut antusias. Umpamanya, tukang becak di Jakarta lebih memilih dibayar uang ORI senilai 20 sen ketimbang 1 rupiah uang NICA. Di Pasar Tanah Abang, harga ayam potong harganya f2 uang NICA tapi para pedagang pribumi malah menawarkan dagangannya senilai Rp 50 uang ORI. NICA tak mau tinggal diam, Pada 15 Juli 1947, setelah hampir semua uang NICA beredar, DJB mulai mencetak uang kertasnya sendiri ( post-war banknotes ). Melalui Ordonansi 20 November 1947 keluarlah uang kertas pemerintah Belanda dengan tanggal emisi Batavia/Djakarta, Desember 1947, dengan pecahan 10 sen dan 25 sen. “Uang kertas pemerintah ini lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia serta dicantumkan kata ‘INDONESIA’ sebagai penerbit uang,” tulis Unit Khusus Museum Bank Indonesia. Kemudian saat uang tersebut habis, uang DJB dan uang pemerintah Hindia Belanda yang pernah beredar sebelum perang dinyatakan sebagai alat pembayaran yang sah mulai 27 Mei 1948. Dengan demikian, di wilayah yang diduduki Belanda beredar berbagai macam uang seperti uang NICA, uang kertas DJB, uang kertas dan uang logam pemerintah Hindia Belanda, dan uang Jepang. Uang NICA senilai Seratus Rupiah. ( Historia.id /Koleksi Museum Bank Indonesia). Kenyataan Pahit Seperti halnya perang dalam palagan, persaingan uang NICA dengan uang ORI terus berlangsung. Setelah Belanda meninggalkan Yogyakarta menjelang akhir 1949, Menteri Negara/Koordinator Keamanan Sri Sultan Hamengkubuwono menetapkan ORI tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah. Begitu pula dengan uang NICA yang beredar selama masa pendudukan. “Kebijakan itu diambil karena pada hakikatnya p emerintah RI sangat kekurangan uang,” tulis Darsono dkk dalam Perjuangan Mendirikan Bank Sentral Republik Indonesia . Semula pemerintah Belanda meminta agar uang NICA dijadikan sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah selama proses perundingan Konferensi Meja Bundar berjalan. Sultan menolak. Meski demikian, Sultan menawarkan usulan nan jitu. Dia mempersilahkan pihak Belanda melakukan survei guna mengetahui respon masyarakat Indonesia terhadap kedua mata uang tersebut. Pihak Belanda harus menerima kenyataan pahit.  Survei tersebut membuktikan bahwa masyarakat tetap memilih menggunakan ORI sebagai alat pembayaran yang sah. Uang NICA tak sanggup menyumpal warga Republik Indonesia yang ingin merdeka dan berdaulat.*

  • Noto Soeroto dan Sejarah Seni Rupa Indonesia

    NAMA Noto Soeroto jarang sekali diperbincangkan baik dalam sejarah politik maupun senirupa Indonesia. Padahal, banyak literatur yang bisa mengungkap posisi Noto Soeroto dalam historiografi Indonesia. Di bidang seni rupa, ia punya peran baik sebagai budayawan maupun kritikus.

  • Perang Koncang di Rangkasbitung

    KAMPUNG Koncang terletak di Desa Sumurbandung, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Pada masa Hindia Belanda, dalam pembagian wilayah Karesidenan Banten tahun 1828, Onderdistrict Koncang merupakan bagian dari District Lebak Parahiang. Pada zaman penjajahan Belanda itu pernah terjadi peristiwa penting yang tak banyak diketahui orang, yaitu Perang Koncang. Peristiwa ini terekam dalam sastra lisan sebagaimana disebut Yetty Kusmiyati Hadish, dkk., dalam Sastra Lisan Sunda: Mite, Fabel, dan Legende (Proyek Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1979). "Di Banten terdapat tempat-tempat, gunung, sungai yang melahirkan berbagai cerita lisan, baik yang berlatar belakang perkembangan sejarah Banten maupun yang berdasarkan kepercayaan penduduk. Di antaranya … yang bertalian dengan penjajahan seperti 'Perang Koncang' di Rangkasbitung," tulis Yetty. Sayangnya, buku Yetty itu tidak memuat sastra lisan Perang Koncang tersebut, yaitu perlawanan rakyat karena menolak bayar pajak. Dalam sejarah, perlawanan yang terkenal karena menolak membayar pajak adalah Perang Kamang atau Perang Belasting di Sumatra Barat pada 1908. Sumber Perang Koncang masih minim , sehingga perlu penelitian lebih lanjut, baik melalui sejarah lisan maupun penggalian arsip, laporan pejabat kolonial, dan berita pada masanya. Sedikit keterangan Perang Koncang diceritakan Misbach Yusa Biran dalam memoar nya , Kenang-Kenangan Orang Bandel . Misbach lahir di Rangkasbitung pada 11 September 1933. Dia seorang penulis drama, cerpen, kolom, skenario film dan televisi, serta pelopor dokumentasi film dengan mendirikan Sinematek. Dia kemungkinan mendapat cerita Perang Koncang dari keluarganya, yaitu Uwa Ape, seorang jawara yang memiliki istri dari Koncang. "Saya disayang oleh jawara itu (Uwa Ape, red .) karena anak beliau sudah besar-besar dan isterinya yang terakhir tidak punya anak," kata Misbach. "Saya sering main di kebunnya, bergaul dengan jawara-jawara yang kerja di kebunnya. Saya dipanggul-panggul oleh Mang Gatot, jawara dari Koncang, adik isteri Uwa Ape." Menurut Misbach, jawara adalah jagoan. Orang yang memiliki ilmu kabedasan , tidak mempan senjata dan sebagainya, serta pemberani. Semua jawara bertindak sebatang kara saja, tidak mempunyai kelompok. Jawara yang sebetulnya tidak pernah bekerja. "Uwa Ape di masa mudanya berkeliling saja ke mana-mana. Mungkin orang beginimenunjang hidupnya dari 'uang jago' dari orang-orang yang menganggapnya sebagai godfather  yang akan menjamin mereka dari gangguan siapa saja yang sok jago," kata Misbach. Misbach mencatat bahwa Koncang sangat terkenal di Banten karena di sana lahir banyak jawara andal ( kedot menurut istilah Banten), berani, dan ampuh. Pernah penduduk desa ini membangkang tidak mau bayar pajak. Tidak bisa dihadapi oleh polisi biasa, pemerintah kolonial Belanda kemudian mengirim banyak Marsose (Brimob-nya Belanda) ke Koncang. "Terjadi pertempuran antara penduduk Koncang dengan marsose. Banyak marsose yang tewas dalam peristiwa yang dikenal sebagai Perang Koncang itu," kata Misbach. Sayangnya, Misbach tidak menyebut tahun peristiwa Perang Koncang itu. Maka itu, lanjut Misbach, pemungut pajaknya harus lurah, atau di Banten disebut jaro , yang dipilih oleh rakyat. Yang dipilih jadi jaro adalah jawara yang paling kedot di daerah itu. Sehingga kalau rakyat membangkang, jaro berani mendesak dengan kekerasan. Kalau jaro kurang jago, dia akan segera mati terkapar. "Maka, jaro untuk Koncang harus jawara yang betul-betul tangguh karena di situ gudangnya jawara," kata Misbach.*

  • Volksraad, DPR ala Hindia Belanda

    Rapat paripurna pengesahan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja menjadi undang-undang oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Senin (5/10/2020), berakhir. Setelah dibahas melalui 64 kali rapat, sejak 20 April hingga 3 Oktober 2020, ketukan palu Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin menandai omnibus law  resmi disahkan. RUU Cipta Kerja itu terdiri atas 15 Bab dan 174 Pasal. Putusan DPR tersebut mendapat reaksi keras dari masyarakat. Banyak yang menilai langkah pengesahan RUU Cipta Kerja akan berdampak buruk bagi kehidupan para pekerja di Indonesia. Dilansir BBC Indonesia , sejumlah kelompok buruh menyatakan perlawanannya terhadap undang-undang itu.   “Kami akan berusaha berjuang sekuat-kuatnya bagaimana mendesak agar terjadi pembatalan terhadap Omnibus Law. Pengalaman kami dulu, beberapa kali, misalkan pemerintah ingin melahirkan suatu regulasi, ketika ini bertentangan dengan prinsip dan asas konstitusi dan Pancasila, sekuat mungkin harus diperjuangkan,” kata Ketua Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia Nining Elitos seperti dikutip BBC. Selain aksi turun ke jalan, kecaman juga banyak disuarakan publik di media sosial. Masyarakat beramai-ramai menolak putusan tersebut, dan mengecam DPR selaku lembaga legislatif di negeri ini. Aksi “mosi tidak percaya” kepada pemerintah juga menjadi trending di Twitter . DPR sebagai lembaga legislatif akarnya telah ada sejak zaman Hindia Belanda. Pada masa itu lembaga legislatif yang mewakili rakyat pribumi di hadapan pemerintah Belanda dikenal sebagai Volksraad atau “Dewan Rakyat”. Dewan tersebut diisi oleh orang-orang terpilih yang mencerminkan suara para pribumi.  Wakil Para Pribumi Menurut Joko Darmawan dalam Sejarah Nasional “Ketika Nusantara Berbicara” , Volksraad terbentuk atas desakan dari pemuka-pemuka pergerakan di Indonesia dan orang Belanda yang menuntut adanya dewan perwakilan bagi orang-orang Hindia. Dewan ini merupakan parlemen untuk urusan bumiputra, yang hak-haknya secara resmi dijamin oleh hukum Belanda. Mulanya lembaga parlemen ini bernama “Dewan Kolonial”, namun kemudian namanya diubah menjadi Volksraad atau “Dewan Rakyat”. Volksraad dibentuk lewat keputusan Indische Staatsregeling, wet op de Staatsinrichting van Nederlandsh-Indie ( Indische Staatsrgeling ) Pasal 53 sampai Pasal 80 bagian Kedua tanggal 16 Desember 1916, serta diumumkan dalam Staatsblat No. 114 tahun 1916. Peraturan yang berlaku pada 1 Agustus 1917 itu memuat hal-hal yang berkenaan dengan Volksraad sebagai dewan legislatif. “Boleh jadi pembentukannya hanya semacam basa-basi politik pemerintahan kolonial saja. Lewat pemilihan yang bertingkat-tingkat dan berbelit, komposisi keanggotaan Volksraad pada mulanya tidak begitu simpatik,” tulis Azizah Etek, dkk dalam Kelah Sang Demang Jahja Datoek Kajo: Pidato Otokritik di Volksraad 1927-1939 . Pembentukan dewan rakyat itu tidak terlepas dari peran Gubernur Jenderal Graaf van Limburg Stirum dan Menteri Urusan Kolonial Belanda Thomas Bastian Pleyte. Stirum menghendaki anggota-anggota Volksraad nantinya berisikan orang-orang yang mewakili unsur-unsur di Hindia Belanda seluas-luasnya. “Ia sangat berharap, kepentingan Hindia Belanda dapat terwakili dalam Dewan Rakyat tersebut dengan sebaik-baiknya meski ia mengakui keterwakilan daerah-daerah di luar Jawa sulit untuk dilakukan,” tulis Gamal Komandoko dalam Boedi Oetomo: Awal Bangkitnya Kesadaran Bangsa. Sidang Volksraad tahun 1927 di Batavia ( Nationaalarchief.nl ) Di dalam surat yang ditujukan kepada Menteri Urusan Jajahan pada Juni 1917, Stirum berencana membuat daftar calon anggota yang akan duduk di Volksraad. Dia tidak ingin Volksraad hanya diisi oleh pejabat tinggi dan bangsawan pribumi yang secara kualitas tidak cukup baik untuk mewakili rakyat di bawahnya. Stirum juga berusaha menjauhkan Volksraad dari kesan sebagai “boneka pemerintah”. Pada 21 Januari 1918, hasil pemungutan suara untuk anggota Volksraad dari kalangan pribumi diumumkan. Benar saja, daftar anggota terpilih tersebut didominasi oleh kaum priayi, di antaranya: Abdoel Moeis, M. Aboekasa Atmodirono, R. Kamil, Radjiman Wedyodiningrat, R. Sastrowidjono, Abdoel Rivai, R.A.A.A. Djajadiningrat, R.A.A. Koesoemo Joedo, R.M.A.A. Koesoemo Oetojo, dan A.L. Waworoentoe. Demi menjaga keseimbangan antara bangsawan tinggi dan kalangan pribumi biasa di tubuh Volksraad, Stirum menggunakan kekuasaannya untuk mengangkat lima anggota baru. Mereka adalah Tjipto Mangoenkoesoemo, Tjokroaminoto, Dwidjosewojo, P.A.A.P. Prangwadono, dan Teukoe Tjhi Mohamad Thajeb. “Meski fungsi Volksraad yang sesungguhnya bukanlah dimaksudkan sebagai parlemen dengan tanggung jawab membentuk undang-undang negara, namun demikian pembentukan Volksraad dianggap oleh sebagian besar orang Belanda sebagai langkah maju dalam perjuangan untuk mendapatkan otonomi Hindia Belanda,” tulis Komandoko. Rapat Volksraad tahun 1930. ( nationaalarchief.nl ). Tugas dan fungsi Volksraad baru secara resmi terlaksana pada 18 Mei 1918. Pengesahannya dilakukan langsung oleh Gubernur Jenderal Stirum. Sebagai ketua Volksraad pertama terpilihlah J.C. Koningsberger. Menurut Fajlurrahman Jurdi dalam Hukum Tata Negara Indonesia , Volksraad memiliki struktur keanggotaan yang terdiri dari satu orang ketua (diangkat oleh raja), dan 38 orang anggota –15 orang kalangan pribumi, dan 23 orang mewakili golongan Eropa dan Timur Asing– yang diangkat berdasar pemilihan, perwakilan provinsi, dan pengangkatan. Pada 1927 terjadi penambahan jumlah anggota Volksraad menjadi 55 anggota. Selama periode 1930 sampai 1940, Volksraad menjadi wadah tokoh-tokoh pergerakan Indonesia menyuarakan aksinya. Seperti dilakukan Soetardjo pada 1935 yang mengeluarkan petisi agar pemerintah Belanda bersedia mengadakan suatu perundingan bersama dengan perwakilan Indonesia untuk membicarakan nasib Indonesia di masa mendatang. “… karena dominasi Koloni Belanda saat itu hampir mencakup di semua aspek sehingga usul tersebut tidak mendapat respon,” tulis Darmawan. Dari lembaga legislatif itu jugalah terlahir banyak tokoh pergerakan penting Indonesa, di antaranya Haji Agus Salim, Aboel Moeis, Soetardjo, M.H. Thamrin, Oto Iskandar di Nata, dan sebagainya. Ada kejadian penting yang terjadi pada sidang Volksraad tahun 1938. Ketika itu untuk pertama kalinya bahasa Indonesia diperdengarkan di depan anggota Volksraad. Melalui pidato dari M.H. Thamrin tersebut, terbukalah jalan bagi bahasa Indonesia dikenal oleh dunia. Segala aktivitas Volksraad berakhir saat pasukan Jepang mendarat di Hindia Belanda pada 1942. Bagi para penjajah baru itu keberadaan Volksraad tidak diakui karena bekas peninggalan koloni sebelumnya. Kemudian setelah Indonesia merdeka, dewan legislatif dibentuk kembali dengan nama Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Didirikan pada 29 Agustus 1945, dengan ketua pertamanya Kasman Singodimedjo.

  • Dari Kopi Sampai ORI

    DI masa perang, bukan hal mudah bagi pemerintah Republik Indonesia yang baru merdeka untuk membuat mata uang sendiri. Dari sulitnya mencari bahan baku hingga mencari percetakan. Upaya mencetak uang di Surabaya gagal. Begitu juga di Jakarta. Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken atau disingkat NIMEF, sebuah pabrik percetakan di Kendalpayak, Malang, Jawa Timur, menjadi penyelamat. Lokasinya jauh dari medan-medan pertempuran yang sedang berkobar di berbagai kota. Wilayah ini juga dikuasai Republik. Menurut Fendy E.W. Parengkuan dalam biografi A.A. Maramis, SH. ,   pabrik NIMEF sempat menjadi tempat pembuatan bahan peledak semasa pendudukan Jepang. “Dengan berkuasanya pemerintah RI maka Menteri Keuangan Mr. A.A. Maramis mengubah nama pabrik menjadi PKPN (Pabrik Kaleng dan Percetakan Negara) Kendalpayak Malang,” tulis Fendy. Setelah NIMEF ditunjuk untuk mencetak uang, Panitia Penyelenggara Percetakan Uang Kertas Republik Indonesia segera mencari bahan-bahan. Kebutuhan kertas dibantu oleh Serikat Buruh Kertas Padalarang. Mesin pembuat kertas berhasil dibawa dari pabrik Padalarang sebelum dikuasai tentara Belanda. Sementara itu, bahan-bahan kimia didatangkan dari Jakarta dan dari laboratorium pabrik-pabrik gula di Jawa Timur. Maka, dengan bahan yang tersedia dan mesin-mesin percetakan NIMEF, uang Republik berhasil diproduksi. Pabrik NIMEF di Malang, kemudian juga Solo dan Yogyakarta, yang berhasil mencetak uang dijaga ketat. Untuk mengedarkannya, uang dimasukan ke dalam besek, kemudian dimasukan lagi ke karung goni dan diangkut dengan kereta api ke seluruh Jawa. Maka, 30 Oktober 1946, sebagai tanggal emisi pertama ORI, kemudian ditetapkan sebagai Hari Keuangan. NIMEF punya andil penting dalam lahirnya mata uang rupiah. Namun, siapa sangka, NIMEF berawal dari rumah sangrai kopi yang tumbuh menjadi salah satu pabrik paling besar di Hindia Belanda dan paling canggih pada masanya. Pekerja di pabrik percetakan NIMEF. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum). Produksi Kemasan Cerita bermula pada 1901. Dua orang Belanda, L. Schol dan H. Janssen van Raay, mendirikan rumah sangrai kopi Eerste Nederland Indie Koffiebranderij (ENIK) di Malang. Dengan menyewa sebuah rumah kontrakan, mereka memulai bisnis kopi kecil-kecilan. Perseroan terbatas ENIK ini hendak memasarkan kopi panggang dan kopi bubuk. Produknya hanya diedarkan di pasar-pasar. Perusahaan ini baru benar-benar beroperasi pada 1902. Namun, bisnis kopi ini ternyata berkembang pesat dalam waktu singkat. Modal perusahaan yang awalnya 26.900 gulden meningkat hampir dua kali lipat menjadi 50.000 gulden pada 1904. Pada tahun itu juga, perusahaan membeli tanah di Kendalpayak, sebuah desa di Malang. Mesin cetak dan mesin potong kemudian dibeli untuk memproduksi kemasan kertas yang sebelumnya dipasok dari Eropa. Dari sinilah, perusahaan mulai merambah ke produksi kemasan kertas. Pada 1908, NIMEF kembali melebarkan sayap. Dari kemasan kertas, mereka mulai memproduksi kemasan kaleng. “Akhirnya…. karena segala sesuatu sudah sedia, maka karena indahnya, orang lain pun suka pula memakai yang demikian, lalu perusahaan itu tidak saja membikin dalam pabriknya untuk dipakai sendiri, tapi juga untuk orang lain,” tulis wartawan kenamaan Parada Harahap dalam Indonesia Sekarang . Pada 1939-1940, Parada Harahap keliling Jawa dan mengunjungi beberapa pabrik besar, termasuk NIMEF. Pesanan berdatangan dari berbagai perusahaan. Menurut Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië , 1 Agustus 1927, hampir semua kebutuhan kemasan industri di Jawa bergantung pada perusahaan ini. Meski demikian, saat itu bahan mentah masih bergantung pada Amerika Serikat dan Jepang. “Lambat laun timbul kekurangan tempat, sehingga pada tahun 1911 dibuatlah bangunan pabrik baru,” tulis Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië . Dari bisnis sampingan, produksi kemasan kemudian dipisah dari produksi kopi. Perusahaan khusus kemasan lalu didirikan 1918 dan diberi nama Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken atau disingkat NIMEF. Pabrik percetakan NIMEF pertama di Malang. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum). Besar dan Canggih Masih di 1918, direktur NIMEF melawat ke Eropa untuk melihat perusahaan-perusahaan sejenis. Mesin-mesin dari Eropa kemudian didatangkan. Areal pabrik diperluas dan sekitar 400 orang Indonesia dipekerjakan. Mereka tinggal di satu kampung di sekitar pabrik. Gedung pabrik yang baru ini mulai beroperasi awal 1920. “Modal saham yang disetor sudah mencapai NLG 700.000,” tulis De Indische Courant , 6 September 1934. Perusahaan ini memproduksi berbagai macam kantong kemasan dari karton untuk kebutuhan toko-toko. Selain itu memproduksi beragam kotak karton, dari kotak amplop hingga kotak obat. “Juga kotak-kotak tempat sabun mewah biasanya terlihat dikemas, dan kotak-kotak yang lebih bagus, yang digunakan di toko perhiasan besar untuk memajang benda-benda berharga, dibuat di sini,” tulis Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië . Tak hanya itu, beragam kebutuhan seperti buku kantor, kartu nama, hingga tiket untuk trem, kereta api dan bioskop dicetak di sini. Segala produk yang memungkinkan dicetak pada karton akan diproduksi NIMEF. Perkembangan pabrik begitu pesat. Mesin cetak perunggu serta dua mesin pengepres kecepatan tinggi yang digerakkan secara elektrik kemudian juga dimiliki NIMEF. Bahkan NIMEF mengembangkan ekspedisi langsung dari gudang pabrik yang terhubung dengan jalur trem uap Malang. Hal ini memungkinkan bongkar muat yang lebih efisien. “Perusahaan ini didukung oleh mesin gas dan juga oleh listrik. Sangat menarik untuk bisa melihat-lihat di sini,” tulis Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië . Pabrik percetakan NIMEF kedua didirikan di Bandung pada 1933. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum). Dari tahun ke tahun, omzet NIMEF terus meningkat. Pada 1932, ketika pabrik rokok Faroka dibuka, NIMEF mendapat kontrak untuk memproduksi semua kemasan dan keperluan percetakan lainnya. Mesin dari Eropa kembali dipesan secara khusus untuk kontrak ini. Pada saat yang sama, NIMEF mengembangkan kemasan timah seperti pelat iklan, kaleng cat, hingga kaleng teh dan minyak. Sementara itu, bagian percetakan karton NIMEF telah menjadi yang terbesar di Hindia Belanda. Pada 1933, NIMEF mulai melirik Jawa Barat untuk memperluas jangkauan pasar. “Secara bertahap bisnis mengambil skala besar dan untuk lebih bersaing dengan pabrik pengemasan yang ada di Jawa Barat, pabrik kedua didirikan di Bandung pada tahun 1933 di bawah kepemimpinan H.H. Proper,” tulis Soerabaijasch Handelsblad , 17 Juni 1935. Tahun-tahun selanjutnya, NIMEF semakin di depan. Dari segi teknologi maupun cakupan pasar. Agensi NIMEF kemudian dibuka di Batavia (Jakarta). Mereka juga memiliki toko sendiri bernama Toko NIMEF. Menurut Parada Harahap, NIMEF memiliki tidak kurang 1.101 pegawai Indonesia dan 40 orang Eropa. Pabrik ini juga memiliki klinik, rumah-rumah pondok, lapangan sepakbola, dan selalu membantu para pekerjanya yang ingin memiliki rumah dan pekarangan. Sebab, kata Parada Harahap, “NIMEF berpendapat seboleh-boleh kaum buruhnya itu hendaklah merasa betah di sana, turun-menurun sampai kepada anak-cucunya.” Pabrik percetakan NIMEF di Jakarta. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum). Cagar Budaya Setelah Indonesia merdeka, pabrik NIMEF di Kendalpayak, Malang, dipakai pemerintah Indonesia untuk mencetak ORI. Kiranya dua tahun sejak akhir 1945 NIMEF terus memproduksi ORI. Namun, perannya harus berhenti pada 1947 ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I. NIMEF ditinggalkan. “Pabrik tersebut terpaksa dibumihanguskan tahun 1947 untuk mencegah jatuhnya ke tangan Belanda yang telah memulai agresinya 21 Juli 1947. Semua uang yang telah tercetak bersama barang-barang berharga lainnya dibawa mengungsi ke Yogyakarta di bawah pengawalan yang ketat,” tulis Fendy Di lahan bekas pabrik NIMEF di Malang kini berdiri kantor Bank Rakyat Indonesia (BRI). Sementara bangunan eks Toko NIMEF di Jalan Agus Salim sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kota Malang.

  • Derita Pasukan Karbol AURI

    “PASUKAN KARBOL” adalah sebutan bagi taruna Akademi Angkatan Udara (AAU). Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto pun pernah merasakan jadi pasukan karbol. Selain itu, Hadi yang jebolan AAU angkatan 1986 itu pernah menjadi Komandan Batalion Taruna AAU. Ketika melatih para pasukan karbol, Hadi sering kali unjuk kebolehan.   “Misalnya, saat para karbol sedang berlatih menembak, Hadi menerbangkan pesawat lalu sengaja terbang rendah dan bermanuver ke arah mereka,” demikian dikisahkan Eddy Suprapto dalam biografi Anak Sersan Jadi Panglima: Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto . Menurut Chappy Hakim dalam kumpulan tulisan Awas Ketabrak Pesawat Terbang  panggilan “karbol” bermula pada awal 1960-an. Pelopornya ialah Letkol (AU) Saleh Basarah. Pada 1963, Basarah, Perwira Wing Pendidikan 001 yang merangkap anggota pelaksana proyek AAU sedang mengikuti pendidikan di Amerika Serikat tahun 1963. Saat berkunjung ke markas US Air Force (USAF) di Washington, Basarah menyaksikan para kadet udara sering dipanggil “The Dollies”, “Dooly”, “Mister Dooly”, dan sebagainya. Panggilan itu diambil dari nama jenderal USAF: James Harold Doolitle, seorang penerbang andal yang serba bisa. Pada Perang Dunia II, Doolittle dianugrahi Medal of Honor atas keberaniannya memimpin serangan balasan ke Jepang, empat bulan setelah Pearl Harbour dihancurkan. Operasi militer udara itu dikenal dengan nama “Serangan Doolitle”. Basarah kemudian mengadaptasikan tradisi di Amerika itu ke Angatan Udara (AURI). Dia memutuskan panggilan karbol untuk menyebut para taruna AAU. Nama “karbol” diambil dari julukan Marsekal Muda Abdulrachman Saleh, penerbang dan perintis AURI yang gugur ditembak pesawat Belanda. “Mengharapkan semua lulusan Akademi Angkatan Udara dapat mencontoh keteladanan dan mampu mencapai kualitas seorang perwira seperti Abdulrachman Saleh, maka para taruna AAU dipanggil dengan nama ‘karbol’,” tulis Chappy Hakim. Menurut Suprapto, tidak ada surat keputusan untuk itu. Saleh Basarah hanya mengumumkan secara lisan dalam apel pagi pataruna yang lazim disebut Apel Embun di Lapangan Belimbing. Tentu saja dengan sedikit penjelasan tentang sosok Abdul Rahman Saleh. Panggilan karbol langsung disetujui semua pihak. Namun, pasukan karbol angkatan 1965 harus merasakan getirnya pengalaman pahit. Itu terjadi pada peringatan Hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) 5 Oktober 1965. Pasukan karbol berjejer menyambut konvoi panser pengusung jenazah pahlawan revolusi yang akan dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata. Kehadiran dan tindakan mereka di sana sebagai tanda ikut berkabung. “Pasukan karbol yang berdiri di pinggir jalan dalam sikap sempurna dan memberi hormat pada iring-iringan jenazah para jenderal korban G-30-S, mukanya diludahi oleh pasukan Angkatan Darat yang berada di atas panser,” kenang mantan panglima AURI Omar Dani dalam Pledoi Omar Dani:   Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku yang disusun Benedicta A. Surodjo dan J.M.V. Suparno. Menurut Omar Dani, AURI menjadi bulan-bulanan dan cemoohan banyak pihak karena dianggap terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Rundungan tidak hanya mendera pasukan karbol. Mobil perwira AURI seperti Laksda Aburachmat dan Lettu (AU) Chusnul Chotimah ditabrak oleh jip-jip pasukan RPKAD (kini Kopassus). Para ibu AURI yang berbelanja di pasar luar kawasan Pangkalan Halim Perdanakusumah juga ikut diludahi. Omar Dani sendiri menjadi pesakitan politik yang dijebloskan ke penjara selama hampir 30 tahun. Selama rezim Orde Baru berkuasa, sebagaimana diungkapkan sejarawan Asvi Warman Adam dalam kata pengantar Pledoi Omar Dani , hubungan antara Presiden Soeharto dengan Angkatan Udara sebagai suatu lembaga tidak pernah mesra. Dalam membangun industri kedirgantaraan, Soeharto lebih percaya kepada teknokrat B.J. Habibie ketimbang ahli dari Angkatan Udara. Selain itu, di masa Orde Baru kepemimpinan militer selalu “dikuasai” oleh Angkatan Darat yang menjadi Panglima ABRI. Dominasi itu patah memasuki era reformasi. Pada 2006, Marsekal Djoko Suyanto menjadi sebagai Panglima TNI di masa kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono. Dan kini, Panglima TNI dijabat oleh Marsekal Hadi Tjahjanto yang juga perwira dari Angkatan Udara.*

  • Cerita Lama Spurs Bersemi Kembali

    HANYA butuh dua menit untuk mengubah ekspresi wajah Ole Gunnar Solksjær 180 derajat di bench  Manchester United kala menjamu Tottenham Hotspur, Minggu (4/10/2020) malam WIB. Kegetiran tampak di wajah sang pelatih selepas wasit Anthony Taylor meniup peluit panjang dan memandangi papan skor di Old Trafford yang memamerkan angka 6-1 sebagai epilog m atchday  keempat Liga Inggris 2020/2021. Padahal ketika laga baru bergulir dua menit, Solksjær girang ketika Bruno Fernandes membuka skor 1-0 lewat titik putih. Entah gerangan apa yang membuat Spurs terlecut, dua menit kemudian keadaan berbalik jadi bencana. Petaka bermula dari kemelut di muka gawang Manchester United yang dikawal David de Gea. Situasi lantas diubah gelandang Spurs Tanguy Ndombèlé yang menjebol gawang de Gea sehingga kedudukan, 1-1. Alih-alih bangkit, klub berjuluk “Setan Merah” itu malah kecolongan. Bukan main-main, sampai lima gol lagi. Masing-masing dua gol dari Son Heung-min (7’, 37’), Harry Kane (30’, 79’) dan sebutir gol lagi dari kaki Serge Aurier (51’).  “Setelah (skor) 2-1, kami masih memegang kendali. (Tetapi) Anda tak memenangkan pertandingan dengan membuat kesalahan-kesalahan individu dan bermain seperti itu. Hasil itu tak cukup pantas buat Manchester United. Tidak ada alasan juga (terkait kartu merah Anthony Martial). Reaksi yang buruk dari Anthony. Pertandingan juga masih dalam kendali kami,” cetus Solksjær, dikutip laman resmi klub , Minggu (4/10/2020). Papan Skor di Old Trafford yang merujuk angka 6-1 (Twitter @SpursOfficial) Pelatih Spurs, José Mourinho bangga bukan main. Harry Kane cs. tak menyia-nyiakan momentum kala melihat lawannya mulai kelimpungan selepas berbalik unggul 2-1. “Saat kami melihat kelemahan, kami langsung menghantamnya. Sungguh performa yang menakjubkan. Saya bisa bayangkan orang-orang anti-Spurs akan mengatakan kemenangan itu karena ketimpangan 11 melawan 10 pemain, namun saya melihat permainan kami bahkan lebih baik saat kondisinya masih 11 melawan 11,” tutur Mourinho di situs klub pada saat bersamaan. “Tim bermain sangat agresif dan setelah skor 2-1, kami makin percaya diri. Tiga poin ini membawa kami melonjak di klasemen dan ini juga jadi hasil yang bersejarah,” tambah pelatih yang sebelumnya membesut Manchester United sepanjang 2016-2018 itu. Spurs Mengulang Sejarah Tak salah pelatih eksentrik asal Portugal itu menyebut “pembantaian” Spurs atas Manchester United itu hasil yang sarat historis. Pasalnya, dari total 165 pertemuan keduanya di berbagai ajang sepanjang catatan sejarah, duel akhir pekan lalu jadi kemenangan terbesar “The Lilywhites” (julukan Spurs) di stadion Old Trafford nan angker itu. Menurut data statistik di soccerway.com , dari 165 duel head-to-head antara keduanya, Spurs menang 80 kali di kandang dan 85 lainnya di partai tandang, serta 40 sisanya berakhir imbang. Terakhir kali Spurs menang telak di markas Manchester United juga terukir di pentas Division One (kasta teratas Liga Inggris), 12 September 1959. Di salah satu laga awal musim 1959-1960 itu, Manchester United yang diasuh Sir Matt Busby sedang garang-garangnya dengan skuad berjuluk “The Busby Babes”. Namun Bobby Charlton dkk. justru membuat skuad Manchester United di Old Trafford ditundukkan 1-5 oleh sang tamu Spurs.  “Manchester United selalu jadi lawan populer untuk Totttenham dan tentunya karena mereka merupakan salah satu klub tersukses sejak era pasca-Perang di liga dan kami mengingat banyak laga hebat melawan mereka di masa lalu,” demikian pernyataan klub di sebuah jurnal edisi 1959-1960, “Tottenham Hotspur Official Programme and Record of the Club” yang dirilis 23 Januari 1960. William Edward "Bill" Nicholson, pelatih legendaris Spurs periode 1958-1974. ( tottenhamhotspur.com ). Di musim itu, Spurs tak kalah agresif di lapangan. Terlebih sejak pergantian pelatih dari Jimmy Anderson ke tangan Bill Nicholson pada Oktober 1958. Debutnya saja bikin geger dengan kemenangan 10-4 atas Everton di markas, White Hart Lane. “Pemain manapun yang datang ke Spurs, entah dia pemain rekrutan besar atau hanya staf lapangan, mesti mendedikasikan dirinya untuk sepakbola dan klub. Ia tak pernah boleh puas atas performa terakhirnya dan harus bisa membenci kekalahan,” kata Nicholson dikutip Steve Hale dalam biografi bertajuk Mr Tottenham Hotspur: Bill Nicholson OBE, Memories of a Spurs Legend. Kelima gol Spurs dibukukan Bobby Smith (2 gol), Dunmore, Tommy Harmer, dan Dave Mackay yang masing-masing mencetak satu gol. Sementara sebutir gol penghibur “Setan Merah” dicatatkan Dennis Viollet. Maka kesuksesan Mourinho akhir pekan lalu mengulang sejarah dengan skor serupa 88 tahun lampau. Bedanya, dalam pertandingan pada 10 September 1932 itu Spurs yang dibesut Percy James Smith menggebuk Manchester United 6-1 di kandang sendiri, White Hart Lane, dan di League Division Two atau kasta kedua Liga Inggris. Di hadapan 23 ribu pasang mata di White Hart Lane, keenam gol Spurs diukir oleh William Evans dan George Hunt yang masing-masing menorehkan dua gol, dan satu gol James Brain. Sebiji gol balasan Manchester United datang dari William Ridding. Kemenangan Spurs itu jadi kehebohan tersendiri di London Utara lantaran jadi hadiah ulang tahun ke-50 klub yang jatuh beberapa waktu sebelumnya. Darah Muda dalam Catatan Sejarah Dari masa ke masa, Spurs acap bertulang punggungkan para pemain muda. Termasuk di musim baru ini. Kala mengganyang Manchester United 6-1, rata-rata usia pemain andalan Spurs 25 tahun. Sementara, usia rata-rata pemain lawannya 26 tahun. Muda ibarat DNA yang diwariskan oleh para pendiri Spurs, yang didirikan 138 tahun silam oleh sekumpulan anak muda. Sebagaimana disingkap dalam A Romance of Football: The History of the Tottenham Hotspur F.C. , penggagas lahirnya Spurs merupakan 11 siswa Mr. Cameron’ School (kini Scotch Prebysterian Academy) yang sebelumnya merupakan anggota Hotspur Cricket Club. “Para pendirinya adalah J. Anderson, T. Anderson, E. Beaven, R. Buckle, H.D. Casey, L. R. Casey, F. Dexter, S. Leaman, J.H. Thompson Jr, P. Thompson, dan E. Wall. Dengan mandiri mereka membeli sendiri bola dan tiang gawang kayunya. Lapangannya dipinjamkan Kapten Delane yang punya hubungan kerabat dari salah satu Thompson bersaudara di Park Lane,” sebut buklet rilisan bareng The Tottenham dan Edmonton Weekly Herald ( Februari 1921).  Seiring waktu, tambahan pemain Hotspur FC berdatangan dari sekolah lain dan pada Desember 1882 anggota mereka sudah mencapai 18 pemain. Tujuh anggota barunya dibebankan biaya masuk untuk menambah kas klub. Hingga 1921, jersey yang acap mereka pakai berwarna biru gelap. Adapun logo klub baru sekadar lambang huruf “H”. John Rispsher, guru mata pelajaran Alkitab di All Hallows Curch, yang lantas dijadikan presiden pertama klub, menata klub menjadi terorganisir. Laga kandang pertama mereka, 6 Oktober 1883, melawan klub amatir Brownlow Rovers. Hotspur menang telak 9-0. Namun, menurut Martin Cloake dan Alan Fisher dalam A People’s History of Tottenham Hotspur , debut Spurs terjadi pada 30 September 1882 kontra tim lokal Radicals. Spurs keok 0-2. Sementara, kompetisi resmi pertama yang diikuti Spurs baru terjadi pada 1892, yakni kompetisi amatir Southern Alliance. Barisan pemuda yang menggagas berdirinya Tottenham Hotspur. (Repro A Romance of Football ). Setelah menjadi profesional dan diakui FA (otoritas tertinggi sepakbola Inggris) pada 20 Desember 1895, Spurs diikutsertakan ke divisi satu Southern League musim 1896. Dua tahun berselang klub ini naik kelas dengan dinaungi perusahaan yang lebih profesional. Namanya pun diganti menjadi Tottenham Hotspur and Athletic Company dengan pelatih pertamanya Frank Brettell. Nama Spurs mulai dikenal luas setelah menjuarai FA Cup 1901 mengalahkan Sheffield United 3-1 di final. Jersey Spurs berubah menjadi putih, warna kebanggaan sampai kini, pada 1898. Hingga 1921, logo klub masih berupa huruf “H” berwarna merah. Logo itu berubah sekaligus mengusung moto Audere est Facere (Berani dalam Bertindak) setelah Spurs untuk kedua kalinya memenangkan FA Cup, 1921. “Ayam jantan muncul sebagai logo di jersey setelah 1921. Inspirasinya diambil dari kekaguman Sir Henry Percy, bangsawan yang dijuluki Hotspur, pada taji ayam jantan, meski logo ayam jantan ini sudah dipakai klub sejak 1901,” tulis Leonard Jägerskiöld Nilsson dalam World Football Club Crests: The Design, Meaning and Symbolism of World Football’s Most Famous Club Badges . Pada 1956, logo Spurs diubah lagi dengan tambahan lambang perisai Sir Henry Percy. Namun pada 1983 hiasan perisainya dihilangkan lagi. Pada 2006, logo Spurs dikembalikan seperti awal: ayam jantan berdiri gagah di atas sebutir bola tanpa motto klub. Selain logo, kandang Spurs pun mengalami evolusi. Setelah menempati Park Lane yang disewa sejak awal berdiri, pada 1888 Spurs pindah ke Northumberland Park. Setahun berselang, Spurs hijrah lagi ke White Hart Lane dan menetap sampai sekarang. Laga pertama Spurs di kandang baru dihelat 4 September 1899 kontra Notts County. Di markas-markas itulah nama Spurs terus diukir hingga akhirnya jadi klub kuda hitam sepakbola Inggris dengan tulang punggung para pemain muda. Spurs bahkan menjadi pemasok utama striker timnas Inggris era 1980-an hingga 1990-an. Glenn Hoddle, Clive Allen, Gary Lineker, dan Chris Waddle merupakan striker Spurs yang jadi andalan lini depan Inggris.  Hampir semua turnamen pernah dimenangi Spurs. Hingga kini, lemari gelar Spurs sudah terisi masing-masing dua titel Second Division dan First Division, delapan FA Cup, empat League Cup, tujuh Charity Shield, satu Winners Cup, dan dua UEFA Cup.

  • Lukisan yang Tak Bersih Lingkungan

    KECINTAAN pada seni dan hobi mengoleksi barang seni membuat Sukarno menjadikan Istana Negara sedikit demi sedikit dipenuhi berbagai koleksi seni, termasuk lukisan, sejak dihuninya pada 1950. Lebih dari 2000 lukisan koleksi pribadi Sukarno dipajang di Istana. Sukarno gandrung mengoleksi lukisan yang dianggapnya revolusioner. Banyak di antaranya adalah lukisan-lukisan karya seniman Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Namun, pergantian rezim mengubah wajah istana. Lukisan-lukisan koleksi Sukarno yang dianggap “kiri” bernasib nelangsa . Orde Baru menyingkirkannya. Agus Dermawan T. menyebut dalam Dari Lorong-lorong Istana Presiden, penyingkiran terhadap lukisan koleksi Sukarno dilakukan sejak awal rezim Soeharto berkuasa. “ Sejak 1968, lukisan karya para seniman ‘aroma Lekra’ yang ada di Istana Presiden mulai dipinggirkan –sebuah kebijakan yang sah dan masuk akal dari aspek politik,” tulis Agus. Lukisan Kawan-kawanku  (1957) karya pendiri Sanggar Bumi Tarung, Amrus Natalsya, salah satu yang disingkirkan. Lukisan ini dibeli Sukarno untuk dipajang di istana dan telah terhimpun pula dalam buku  Koleksi Lukisan dan Patung Presiden RI Soekarno Seri III. Bung Karno bukan kali itu saja membeli karya Amrus.   Pada Lustrum Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) I tahun 1955, Sukarno membeli patung buatan Amrus berjudul Orang Buta yang Dilupakan. Selain itu, karya patungnya Jeritan Tak Terdengar yang dipamerkan dalam rangka menyambut KAA di Bandung   juga dikoleksi oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. “Dua peristiwa penting ini melambungkan nama Amrus. Reputasinya naik dan sosoknya menjadi sangat diperhitungkan, padahal usianya masih 22 tahun saat itu,” tulis Hairus Salim HS dan Hajriansyah dalam Berlayar di Tengah Badai . Amrus Natalsya dikenal sebagai salah satu pelukis dan pematung terkemuka pada 1960-an. M. Agus Burhan dalam Seni Lukis Indonesia Masa Jepang Sampai Lekra menyebut Amrus termasuk seniman yang berkomitmen pada kredo seni untuk rakyat. Lukisan Kawan-Kawanku  menjadi salah satu karya yang mercerminkan ekspresi ketegangan pada kelompok masyarakat bawah. Bekas pelukis istana, Lim Wasim, menuturkan kepada Agus Dermawan bahwa, “menurut Kepala Rumah Tangga Kepresidenan kala itu, lukisan tersebut adalah gambaran dari rakyat jelata yang marah kepada kapitalis birokrat.” Alasan-alasan itulah, kata Agus Dermawan, yang membuat lukisan Amrus dikategorikan sebagai “tidak bersih lingkungan”. Selain itu, Orde Baru menganggap lukisan itu dapat memprovokasi ketertindasan proletar yang identik sebagai kaumnya sosialis-komunis. “Akibatnya, selama hampir tiga dekade ‘Kawan-kawanku’ digudangkan bersama puluhan lukisan ‘kiri’ yang lain,” ungkap Agus. Sementara itu, Amrus sendiri mengatakan bahwa makna lukisan tersebut sederhana saja. Kawan-Kawanku  hanya menggambarkan orang-orang yang sedang istirahat di sore hari dan hendak mandi di kali setelah seharian bekerja. “Teman-teman saya di ASRI tahu, karena mereka adalah modelnya,” kata Amrus seperti dikutip Agus. Namun tetap saja Orde Baru yang menentukan. Lukisan tersebut telah puluhan tahun diturunkan dari dinding istana dan baru ditemukan kembali pada 2011 oleh Panitia Uji Petik yang dibentuk Susilo Bambang Yudhoyono. Sayangnya lukisan Kawan-Kawanku  telah rusak berat. Selain itu, lukisan lain seperti Memanah  karya Henk Ngantung juga mengalami kerusakan setaraf.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page