top of page

Hasil pencarian

9750 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kisah Mantri Hutan Selamatkan Buron PKI

    PADA pertengahan 1944, satuan Polisi Militer Angkatan Darat Jepang (Kempeitai) menggelar razia besar-besaran di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka mengincar tempat-tempat persembunyian para pemberontak –dalam hal ini dimotori oleh PKI– yang kerap merepotkan pemerintah militer Jepang. Penyergapan oleh Kempeitai itu merupakan buntut dari kegiatan anggota PKI yang sejak 1942 terus melakukan gerakan bawah tanah menyebarkan propaganda anti-Jepang kepada masyarakat. Kegeraman militer Jepang semakin bertambah mana kala para kader PKI tersebut melakukan sabotase terhadap sejumlah fasilitas seperti lapangan terbang, penyulingan minyak, galangan kapal, kereta api, dan sebagainya. Tindakan-tindakan itulah yang membuat militer Jepang akhirnya memutuskan bergerak memberantas para pembuat onar ini. Dijelaskan Sidik Kertapati dalam Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 bahwa antara 1942-1944 sudah  banyak kader PKI yang ditangkap dan dihukum mati. “… Hampir semua (gerakan) PKI di Jawa Timur telah dihancurkan, kader-kadernya ditangkap dan kekejaman yakni siksaan berlanjut dan menjalar sampai ke Jawa Tengah dan Jawa Barat.” Meski banyak kadernya yang diberantas, aksi-aksi propaganda PKI itu tetap berlangsung. Salah satu alasannya adalah keberadaan tempat persembunyian di Karesidenan Pekalongan yang tidak mampu dihancurkan tentara Jepang. Selain karena lokasinya yang berada jauh di hutan jati Sukowati, Pemalang Selatan, keberadaan seorang mantri kehutanan asal Ambon bernama K. Holle juga turut memberi pengaruh besar. Berdasarkan penelitian Anton E. Lucas, dalam Persitiwa Tiga Daerah: Revolusi Dalam Revolusi , disebutkan kalau Holle merupakan penduduk Pulau Nusa Laut, Kepulauan Maluku, yang dilahirkan pada 1914. Ayahnya, Jonathan Holle, adalah seorang pendeta di Ambon. Setamat dari MULO, ia dikirim ke Malang untuk memperdalam bahasa Belanda sebelum memasuki Pusat Pendidikan Zending Protestan di Oestgeest, Belanda. Namun meski telah dikirim ke Malang Holle tidak kunjung menguasai bahasa Belanda. Ia pun gagal mengikuti jejak ayahnya menjadi pendeta. Holle lalu memutuskan melanjutkan pendidikannya di Sekolah Kehutanan di Bogor. Setelah selesai, ia memulai karirnya di hutan jati Sukowati sesaat setelah militer Jepang tiba. “Baru dalam masa pendudukan itu ia memasuki gerakan bawah tanah, dan membantu menyembunyikan tokoh-tokoh pelarian pada keluarga bawahannya,” tulis Lucas. Holle sangat mengenal daerah hutan Sukowati. Sebagian besar waktunya dihabiskan menjaga dan meneliti hutan tersebut. Karena itu ia mampu menyembunyikan dan mempertahankan keberadaan tempat pesembunyian para pelarian PKI di sana dengan baik. Ditambah, dengan memanfaatkan kedudukannya sebagai pejabat senior kehutanan di Sekowati, Holle dapat membuat kamuflase yang sangat rapi, yakni dengan mengangkat sejumlah pelarian menjadi bawahannya. Dituturkan oleh seorang bawahan Holle dari Lasem yang diwawancara Lucas pada 1976, Holle telah mendapat kepercayaan dari militer Jepang. Buktinya tindakan apapun yang ia lakukan, pemerintah tidak pernah mengusiknya. Bahkan ketika ia mengangkat delapan pelarian menjadi mandor pengawas penebangan pohon jati dan membantu pembagian jatah makanan serta pakaian bagi para romusha. “Setiap hari dapur di dekat rumah Holle menerima pemberitahuan berapa banyak romusha yang harus diberi makan. Kalau ada 30 orang, kami memuat kupon untuk 60 orang. Jatah beras secara resmi adalah 200 gram per hari, tetapi kami melipatduakannya. Kempeitai tidak pernah datang. Kalau bukannya Holle yang bertugas, tak seorang pun berani melipatduakan jatah. Ia menguasai segalanya.” Di samping menyediakan tempat bersembunyi, Holle juga aktif memberikan bantuan dana untuk berbagai keperluan kegiatan para buron PKI itu. Sebenarnya sumber dana tersebut tidak langsung diperoleh dari Holle melainkan datang dari pemerintah militer Jepang. Saat itu para pekerja romusha di Sukowati mendapat upah setiap harinya berdasarkan jumlah batang pohon yang berhasil dikumpulkan. Selain upah perhari, para pekerja itu mendapat hadiah berupa uang dan potongan kain setiap tiga bulan sekali. Hadiah itulah yang langsung diambil oleh para pejuang bawah tanah sebagai tambahan dari dana berbagai keperluannya. Menurut Lucas alasan mereka mengambil jatah itu adalah “Para romusha telah mendapatkan cukup jatah pangan dan pelayanan yang baik.” Menurut Holle, sumber dana lain (yang jumlahnya tidak kalah besar) diterima para pelarian dari seorang pemilik perkebunan teh dan karet asal Swiss bernama Victor Stober. Sang pengusaha yang posisinya terancam setelah Belanda keluar dari Indonesia, diselamatkan oleh Holle. Berkat bantuan itu, Stober memberikan sebagian hartanya kepada Holle dalam bentuk mata uang Belanda yang kemudian ditukarkan ke mata uang Jepang untuk kepentingan pergerakan. “Entah karena rasa terima kasih atas campur tangan dan perlindungan Holle, atau entah karena dipaksa, Stober juga memberikan kepada Holle senapan berlaras ganda dan sebuah radio yang sangat bermanfaat bagi kelompok Pemalang (anggota PKI),” ungkap Lucas. Peran Holle yang tidak kalah penting juga terlihat saat ia membantu kelompok Pemalang memperoleh informasi perkembangan peperangan, utamanya terkait posisi Jepang di dalam perang. Lewat perangkat radio yang diberikan Stober, Holle berhasil memecah kode pembatas yang dipasang Jepang sebagai bagian dari upaya memutus jaringan informasi mancanegara ke Indonesia. Caranya yaitu dengan membongkar bagian penerima sinyal di dalam perangkat radio, sehingga sinyal dapat diterima kembali. “Dan orang-orang Jepang tidak pernah mengetahui bahwa segelnya telah dirusak,” tulis Lucas.

  • Jenderal Nas dan Kamerad Khruschev

    ABDUL HARIS NASUTION dikenal sebagai jenderal antikomunis. Namun sekali waktu, Nas –panggilan akrabnya – juga bisa bersikap luwes mengalahkan egonya. Ada momen bersejarah dalam hidup Nas yang mengharuskannya rapat dengan tokoh komunis. Siapakah itu? “Minggu ke-3 Februari 1960, Indonesia sedang menerima kunjungan Nikita Khruschev PM USSR (Union of Soviet Socialist Republics),” tutur Nas dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama. Di Lapangan Udara Kemayoran, Nas dan Khruschev berkenalan. Keduanya berjabatan tangan. Melalui penerjemahnya, Khruschev berkata bahwa Nas masih muda. Demikianlah kesan pertama pemimpin salah satu negara komunis terbesar di dunia saat itu. Pertemuan berlanjut di Kedutaan Besar Uni Soviet. Dalam sebuah resepsi, Nas datang hampir bersamaan dengan Presiden Sukarno. Saat akan memasuki ruangan resepsi, para hadirin harus melalui patung Vladimir Lenin – tokoh revolusi Bolshevik yang begitu dihormati rakyat Soviet. Khruschev terlihat mengambil sikap sempurna yang diikuti rombongannya untuk melakukan penghormatan militer kepada patung Lenin. Ketika giliran Nas memasuki ruangan, dia hanya berlalu karena tidak mengetahui aturan protokol pihak Kedubes USSR harus demikian. Nas boleh lega aksi melengosnya tidak dipermasalahkan oleh Khruschev. Kendati demikian, Nas jadi kikuk karena baru sadar belakangan. Namun di luar dugaan, Khruschev malah menyambut dan merangkulnya. Keramahan itu menyebabkan Nas tertekan oleh perut Khruschev yang cukup tambun itu.   Khruschev menyempatkan berbincang agak lama dengan Nas. Khruschev menanyakan kabar keluarga Nas. Pertanyaan itu dijawab Nas dengan mengatakan bahwa istrinya, Sunarti tengan menantikan kelahiran anak ke-2 mereka. Khruschev tanya lagi, apakah Nas menginginkan anak laki-laki atau perempuan. “Perkenalan ini saya rasakan aneh. Bagi saya, ia adalah pimpinan komunis sedunia dan saya tahu, bahwa saya adalah orang yang dianggap musuh nomor satu oleh komunis Indonesia,” kenang Nas. Selama safarinya di Indonesia, Khruschev menginap di paviliun Istana Bogor. Nas menyempatkan berkunjung ke sana atas permintaan Khruschev. Kepada Nas, Khruschev menyerahkan senapan berburu sebagai kenang-kenangan. Nas menuturkan, “(senapan) langsung ia taruh pada bahu saya pada posisi menembak, tapi ialah yang menarik platuknya ( trekker ). Kami sama-sama tertawa!” Keakraban yang ditampilkan Khruschev ternyata bukan basa-basi belaka. Padahal, pimpinan PKI, D.N. Aidit pernah menyampaikan cerita yang kurang positif mengenai Nasution kepada Khruschev dalam satu pertemuan di Moskow. Namun di luar dugaan, Khruschev menanggapinya dengan kata-kata penghargaan terhadap pribadi Nasution. Hal ini diketahui Nasution dari salah seorang anggota politbiro PKI yang telah bebas dari penjara Pulau Buru. “Memang pandangan-pandangan tersebut tidaklah bisa lepas sama sekali dari persoalan politik, namun juga tidak bisa lepas sama sekali dari pandangan manusianya,” ujar Nas. Khruschev sendiri dalam memoarnya Memoirs of Nikita Khruschev Volume 3: Statesman (1953—1964)  menyinggung perkenalannya dengan Nas. Khruschev mengakui bahwa dia sering berbicara dengan Nas. Menurutnya, mereka saling menghormati satu sama lain. Dalam pertemuan tatap muka, Khruschev tidak mendapatkan gelagat Nas membenci Uni Soviet.   “Dia tahu bagaimana menyembunyikan perasaannya, sehingga kami tidak punya alasan untuk berpikir bahwa ia memusuhi kami. Meski begitu, dia memang musuh,” tulis Khruschev.

  • Ludruk Marhaen di Kiri Panggung

    Gelanggang kebudayaan Indonesia pasca kemerdekaan memang cukup riuh. Bukan hanya pada ranah sastra, musik atau film, panggung seni pertunjukan pun turut masuk dalam pusaran di mana bangsa Indonesia tengah mencari identitas kebudayaannya. Salah satunya ludruk, teater rakyat asal Jawa Timur. Dan nama Ludruk Marhaen merupakan yang paling terkenal pada era 1950-an hingga 1965. Tak hanya menyematkan nama Marhaen yang terdengar politis, ludruk ini juga turut andil dalam pergulatan kebudayaan Indonesia saat itu. Semangat Revolusi Menurut Henri Supriyanto dalam Lakon Ludruk JawaTimur , Ludruk Marhaen didirikan oleh pelawak Rukun Astari dan Shamsudin pada 19 Juni 1949. Namun, kelompok ludruk asal Surabaya ini awalnya telah dibentuk sekitar tahun 1945, pasca Proklamasi. “Dan di jaman bergejolaknya api revolusi 1945 lahirlah sebuah rombongan ludruk yang terdiri dari anak-anak muda dan hidup terus sehingga kini di bawah nama 'Marhaen'. Sandiwara ini terpaksa menghentikan kegiatannya pada tahun 1948 karena terserak-sebarnya para anggota-anggotanya dan pada permulaan tahun 1950 dibentuk kembali dan berkedudukan di Surabaya,” tulis Harian Rakyat , 14 April 1958. Setelah lahir kembali pada 1950, Ludruk Marhaen mulai aktif mementaskan lakon-lakon terutama terkait revolusi dan patriotisme. Ludruk ini kemudian dikenal luas tak hanya di wilayah Surabaya maupun Jawa Timur. “Sejak itu sandiwara ludruk membuka tradisi baru dalam sejarah ludruk: drama tragedi dipanggungkan, dan bersamaan dengan zamannya, ia sepenuhnya didukung oleh gelora dan api patriotisme tetapi tanpa kehilangan wataknya yang khas sebagai ludruk yaitu satirenya. Dari saat berdirinya itulah, kini Ludruk Marhaen tetap mempertahankan tradisinya sendiri dan ia tetap memelihara kecintaan dan kesayangan publik terhadapnya, sejak dari Bung Karno sampai rakyat jelata,” tulis Harian Rakyat . James L. Peacock dalam Rites of Modernization: Symbolic and Social Aspects of Indonesian Proletarian Drama, menyebut Ludruk Marhaen muncul pada 1945 sebagai bagian dari sayap drama Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia), yang pada 1950 menjadi Pemuda Rakyat. Meskipun Ludruk Marhaen tidak memiliki hubungan resmi dengan PKI atau Pemuda Rakyat, banyak aktornya terpegaruh ideologi komunis melalui ceramah, menghadiri kongres Pemuda Rakyat, atau ambil bagian dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Menurut Supriyanto, Rukun Astari mengatakan bahwa Ludruk Marhaen tidak berbau politik. Namun, Shamsudin mengatakan bahwa Ludruk Marhaen condong ke perjuangan kaum kiri. Dalam wawancara dengan Peacock, Shamsudin mengatakan bahwa panggung ludruk memang telah menjadi bagian dari propaganda politik. “Mereka yang mengkritik ludruk karena tidak menjadi seni, tidak berani berbicara tentang bagaimana ludruk diberangus oleh pemerintah kolonial, bagaimana Pak Gondo disiksa oleh Jepang karena perbuatannya. Kritik terhadap mereka yang menikmatinya... bagi kita di ludruk yang lahir dan menjadi hebat dalam kuali revolusi, ludruk menarik warisan heroik dari generasi rahim revolusioner!” kata Shamsudin. Pak Gondo yang dimaksud Shamsudin adalah Gondo Durasim atau yang lebih dikenal dengan sebutan Cak Durasim. Dia adalah seniman ludruk yang menciptakan parikan atau semacam pantun berbunyi, “ Pagupon omahe doro, melu Nippon tambah soro ” yang artinya “Pagupon rumah merpati, ikut Nippon tambah sengsara.” Parikan itu membuat Jepang geram. Sang seniman dibui dan setahun setelahnya meninggal dunia. Sukarno tertawa saat menonton Ludruk Marhaen di Istana Negara, 11 April 1958. (Perpusnas RI). Ludruk Marhaen dan Sukarno Di antara kelompok ludruk Surabaya, Ludruk Marhaen paling sering mendapat undangan Presiden Sukarno untuk pentas di Istana Negara. “Berdasarkan pengakuan Rukun Astari, tercatat 16 kali Ludruk Marhaen menerima undangan Presiden Sukarno,” kata Supriyanto. Dalam pidato Sukarno, Tjapailah Bintang-Bintang Di Langit! (Tahun Berdikari) tahun 1965 Ludruk Marhaen juga disebut Bung Besar. Sukarno mengatakan: "Kalau kaum tani menghasratkan tanah, tanah 'senyari bumi', apakah itu tidak masuk akal? Aku teringat kepada seniman-seniman Ludruk Marhaen yang mengatakan, 'Ia kalau punya pacul tapi ndak punya tanah, kemana pacul itu mesti dipaculkan!'" Beberapa lakon luruk seperti, Kunanti di Djogja , Memburu Menantu , Mawar Merah di Lereng Bukit , dan Pak Sakerah pernah difilmkan. Film Kunanti di Djogja digarap oleh sutradara Lekra, Tan Sing Hwat. Film ini kemudian menerima penghargaan kategori skenario terbaik dan hadiah khusus pada Festival Film Indonesia 1960. Sementara itu, pada 1961, kelompok ludruk bernama Tresno Enggal diindoktrinasi melalui ceramah oleh perwira militer yang menekankan tema "perang melawan Imperialisme dan Kolonialisme" dan "Cegah revolusi multi-level Sukarno dengan membangun negara secara moral, ekonomi, dan budaya,". Sejak itu Tresno Enggal membagi waktunya antara pertunjukan komersial untuk keuntungan sendiri dan tampil di kamp militer. “Marhaen dan Tresno Enggal adalah dua kelompok yang paling terkenal karena loyalitas partai atau faksi mereka: Marhaen kepada PKI, Tresno Enggal kepada tentara,” sebut Peacock. Selain dua ludruk tersebut, pada masa yang sama, di Surabaya berkembang berbagai ludruk seperti Ludruk Mari Katon, Ludruk Massa, Ludruk Sari Rukun, Ludruk Irama Enggal, Ludruk Massa Rukun, dan Ludruk Panca Bakti. Nama Marhaen ternyata tak hanya dipakai oleh Ludruk Marhaen Surabaya. Di Jombang, terdapat beberapa ludruk yang menyematkan nama Marhaen seperti Ludruk Banteng Marhaen, Ludruk Suluh Marhaen, dan Ludruk Marhaen Muda. Sebagian besar kelompok ludruk tersebut memiliki kecenderungan mendukung politik berhaluan kiri. Namun pasca peristiwa G30S 1965, semua hal yang terkait atau dikaitkan dengan PKI, termasuk ludruk kena imbasnya. Organisasi-organisasi ludruk dilebur dan pembinaannya berada di bawah militer. Ada pula yang senimannya dikirim ke Pulau Buru. Eks Ludruk Marhaen akhirnya dilebur menjadi Ludruk Wijaya Kusuma Unit I.

  • Tjong Ling, Mata-mata Sultan Banten

    Pramoedya Ananta Toer ditahan hampir setahun (1960-Agustus 1961) karena menerbitkan buku yang bersimpati kepada Tionghoa, berjudul Hoakiau di Indonesia . Buku itu berisi kumpulan tulisannya setiap minggu di Bintang Timur , koran Partindo (Partai Indonesia). Dalam buku itu, Pram menyebut bahwa Hoakiau (orang Tionghoa) di masa penjajahan Belanda mempunyai sumbangsih yang bisa diperhitungkan, tidak dapat disangkal, sekalipun ada juga Tionghoa yang merusak jasa itu. Misalnya, Sacanegara, seorang Tionghoa, berkong-kalikong dengan Ratu Syarifah Fatimah dari Banten, seorang keturunan Arab, yang bekerja sama dengan Belanda hendak menguasai Kesultanan Banten. Pram mengutip buku Fakta yang Dilupakan karya E.H. Bahruddin untuk menyebut contoh orang Tionghoa yang berjasa. Bahruddin menulis, karena Tionghoa bisa berdagang dan berhubungan, tidak jarang mereka menjadi mata-mata: “Demikian Sultan Ageng mempergunakan seorang Tionghoa sebagai mata-mata untuk menyelidiki Pasar Ikan dan kedudukan Belanda. Tionghoa itu yang dalam dokumen Belanda dinamakan de Chinees Jonge-ling (rupa-rupanya Tjong Ling atau Lin) kemudian ditangkap dan digantung setelah disiksa. Karena sikap Tionghoa yang sependirian dengan rakyat Indonesia, wajarlah bahwa VOC mencurigai mereka.” Pram tidak menjelaskan siapa Tjong Ling, mungkin karena Bahruddin juga hanya menyebut namanya tanpa menguraikan sepak terjangnya sebagai mata-mata? Mungkin karena itu pula, penulis sejarah Tionghoa yang mengutip buku Pram, berbeda soal siapa yang memerintahkan Tjong Ling menjadi mata-mata: Sultan Agung (berkuasa 1613-1645) atau Sultan Ageng (berkuasa 1651-1683)? Benny G. Setiono dalam bukunya yang tebal (lebih dari seribu halaman), Tionghoa dalam Pusaran Politik , menyebut Tjong Ling menjadi mata-mata Sultan Agung dari Mataram ketika menyerang VOC di Batavia. “Sultan Agung dari Mataram yang bertikai dengan kerajaan Banten meminta VOC untuk bersekutu dan membantunya, tetapi Belanda menolaknya. Belanda lebih menyukai bila tanah Jawa terpecah-pecah. Akibatnya Sultan Agung yang marah berusaha menyerang Batavia pada 1628 dan 1629,” tulis Benny. Sedangkan penulis lain, Hembing Wijayakusuma dalam Pembantaian Massal 1740: Tragedi Berdarah Angke , menyebut Tjong Ling menjadi mata-mata bagi Sultan Ageng Tirtayasa. Pada masa itu, nasionalisme warga etnis Tionghoa sudah terlihat sejak VOC berniat menguasai Banten. Sumbangsih warga Tionghoa kepada perjuangan rakyat Banten melawan VOC tidak dapat begitu saja dilupakan. Akan tetapi, lanjut Hembing, sulit untuk menentukan jumlah mereka secara pasti sebab mereka telah banyak berasimilasi, sehingga bukan saja menggunakan nama pribumi tetapi juga memasuki adat istiadatnya. “Salah seorang di antaranya yaitu Tjong Ling, yang membantu Sultan Ageng Tirtayasa dengan cara menjadi mata-mata bagi Banten, dalam menyelidiki gerakan Belanda. Dalam sebuah dokumen Belanda, Tjong Ling dinamakan de Chiness Jonge-ling , yang kemudian ditangkap dan digantung setelah disiksa oleh Belanda,” tulis Hembing. Agaknya memang yang lebih tepat adalah Tjong Ling mata-mata Sultan Ageng Tirtayasa. Sebab, Bahruddin pun menyebutnya “Sultan Ageng” bukan “Sultan Agung.” Dan dia disebut setelah Sacanegara, seorang Tionghoa yang merusak jasa kaum Tionghoa. Dia bersekutu dengan perempuan keturunan Arab, Ratu Syarifah Fatimah, istri Sultan Zainul Arifin (1733-1748), untuk menguasai Kesultanan Banten. Supono Soegirman, mantan anggota Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin, sekarang Badan Intelijen Negara), dalam Intelijen: Profesi Unik Orang-orang Aneh , menjelaskan bahwa Sultan (Supono menyebutnya Sultan Agung) sudah paham benar arti penting seorang “agen lokal” yang beretnis Tionghoa, dengan pertimbangan agen yang diduga bermatapencaharian sebagai pedagang ini pasti memiliki “akses” dan kemudahan untuk mendekati sumber informasi terkait pelabuhan Sunda Kelapa dan basis-basis tentara Kompeni. “Kesediaan Tjong Ling membantu Sultan diduga bermotif kenyamanan berusaha…Di sinilah, kejelian dan keberhasilan Sultan yang telah merekrut Tjong Ling dengan memanfaatkan sentimen ‘nasionalisme’ dicampur dengan sentimen kenyamanan mencari nafkah,” kata Supono, yang pernah menjabat Ketua II Sekolah Tinggi Intelijen Negara yang didirikan BIN. Menurut Supono, nasib Tjong Ling yang tertangkap, disiksa, dan digantung, memang sebuah risiko yang harus dihadapi oleh seorang yang melakukan kegiatan intelijen bila gagal melindungi kedoknya. “Betapapun,” kata Supono, “Tjong Ling merupakan orang Tionghoa nasionalis yang pemberani.”

  • Nasib Dokter Dulu dan Kini

    VIDEO berisi kritikan anggota Komisi IX DPR Fraksi PDIP dr. Ribka Tjiptaning tentang pelaksanaan BPJS Kesehatan viral beberapa waktu lalu. Dalam video itu, Ribka menyampaikan, layanan BPJS Kesehatan belum ideal bagi rakyat dan adanya perilaku diskriminatif dari para petugas medis ke pasien mereka. Ribka juga menyampaikan bagaimana celah dokter mencari untung dari orang-orang yang berobat. Menurut Ribka, dokter tak seharusnya menjadikan profesinya sebagai ajang bisnis karena layanan kesehatan seharusnya berorientasi sosial, bukan komersil. “Saya pernah disomasi oleh IDI karena mereka sakit hati dengan pernyataan saya. Saya bilang dokter lebih jahat dari polisi. Polisi menilang orang sehat, tapi dokter menilang orang sakit,” kata Ribka. Kritik Ribka itu berbanding terbalik dengan kondisi petugas layanan kesehatan di era kolonial. Nasib dokter Jawa di era kolonial amat kontras dengan dokter sekarang. Dulu, pendapatan mereka amat minim dan sering mengalami kesewenang-wenangan. WK Tehupeiory, seperti dicatat Hans Pols dalam Nurturing Indonesia, menjadi ahli kesehatan pribumi pertama yang mengemukakan pendapat tentang nasib dokter Jawa. Para ahli medis pribumi mengalami beragam perlakukan tak adil. Seorang dokter Jawa pernah mengeluh pada Tehupeiory bahwa ia tidak diberi akses pada obat-obatan lantaran kunci lemarinya dipegang dokter Eropa setempat. Selain mendapat diskriminasi, para dokter Jawa juga tidak menerima upah layak. Setelah lulus, dokter Jawa diwajibkan bekerja pada layanan medis kolonial selama 10 tahun. Masa kerja wajib yang lama ini tidak dibarengi dengan gaji yang mencukupi. Pendapatan para dokter Jawa bahkan lebih rendah dari pegawai yang kurang berpendidikan. Para dokter Jawa juga diperlakukan sewenang-wenang oleh pasien kelas atas mereka. Watak feodal ini membuat orang dengan posisi lebih rendah (dokter Jawa) tidak bisa meminta bayaran pada orang yang posisinya lebih tinggi. Padahal secara umum, pasien pribumi kebanyakan datang dari kelas atas, lantaran pribumi kelas bawah kebanyakan berobat ke dukun. Menurut Liesbeth Heeselink dalam Healers on the Colonial Market , dukun punya bayaran yang cukup baik. Mereka dibayar dalam bentuk uang, barang, atau jasa. Dalam catatan pegawai sipil pemerintah kolonial E. Francis, di Lampung seorang dukun pria menerima 6-12 'oewang' (koin sepuluh sen) dari menyunat seorang anak laki-laki. Sementara, untuk pasien anak perempuan, dukun perempuan menerima 3 oewang atau seikat benang bernilai sama. Nasib beberapa dokter Jawa lebih apes. Pada 1904 seorang residen melaporkan bahwa di wilayahnya, dokter Jawa hampir tak pernah menerima bayaran atas jasa yang mereka berikan pada pegawai pribumi. Sementara, pasien Eropa jarang sekali menggunakan jasanya karena lebih memilih berobat ke dokter Eropa. Dokter Jawa akhirnya sering tak menarik biaya atas jasanya. Mereka khawatir niatnya disalahpahami. Maksud hati ingin meminta bayaran sebagai bagian dari profesionalitas, salah-salah malah kena semprot oleh pasien aristokratnya. Dalam ceramahnya di Pertemuan Umum Para Dokter, di Batavia, Tehupeiory menggambarkan ketiadaan dukungan dari kantor residen pada dokter Jawa yang sering tidak dibayar itu. Rupanya orang Eropa sangat marah bila seorang dokter pribumi berani mengirimi faktur. Pasien Eropa tersebut lantas mengeluh kepada sekretaris di kantor residen untuk memberi hukuman pada si dokter Jawa. Namun, si dokter Jawa tidak terintimidasi dan menjawab, pegawai Eropa tersebut tak punya hak untuk dirawat secara cuma-cuma. Ia pun menyebarkan cerita itu kepada rekan-rekannya, termasuk Tehupeiory. Kerisauan tentang perilaku pasien kelas atas dan Eropa yang tak mau membayar itu akhirnya sampai ke “telinga” pemerintah. Sebagai tindak lanjut, Sekretaris-Jenderal Pertama Paulus mengeluarkan surat edaran kepada kepala pejabat Departemen Administrasi Sipil Umum dan Kepala Pemerintahan Daerah. Isinya, pemerintah mengutuk perilaku pegawainya yang memanfaatkan pangkat untuk menghindari biaya layanan medis. “Pemerintah menganggap tidak pantas jika pejabat mengambil keuntungan dari kesalahpahaman atau prasangka yang ada, agar dilayani secara gratis padahal mereka tidak memiliki hak untuk mendapat layanan kesehatan gratis,” tulis Paulus dalam surat edaran, dikutip Liesbeth Heeselink. Namun, imbauan tersebut tidak menghapus kebiasaan para pejabat pribumi dan pegawai Eropa yang suka berobat gratisan. Dokter Jawa yang tidak dibayar tetap masih ada.

  • Wajah Lain Gajah Mada

    Suatu hari Muhammad Yamin mengunjungi Trowulan untuk melihat jejak-jejak Kerajaan Majapahit. Saat itulah ia menemukan pecahan terakota berupa kepala pria berwajah gempal dan berambut ikal. “Arca ini digali dekat puri Gajah Mada di Terawulan, Majapahit,” katanya. Yamin kemudian mengidentifikasi wajah itu sebagai arca Gajah Mada. Menurutnya dalam Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara , air muka arca itu penuh dengan kegiatan yang mahatangkas. Wajahnya menyinarkan keberanian seorang ahli politikus yang berpandangan jauh. Wajah Gajah Mada versi Muh. Yamin​​​​ Arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar berpendapat lain soal wajah Gajah Mada. Dalam Gajah Mada Biografi Politik, ia menjelaskan arca Brajanata dan Bima sebagai dua perkembangan dari penggambaran Gajah Mada. Kendati telah wafat pada 1364, Gajah Mada atau Mpu Mada masih dikenang oleh masyarakat Majapahit. Ia dianggap oleh masyarakat Majapahit akhir sebagai tokoh besar yang diperdewa. “Ia dipandang sebagai dewata yang dapat dimintai pertolongan masyarakat yang sengsara akibat peperangan,” ujar Agus. Selepas Hayam Wuruk, perang terus terjadi di Majapahit. Pada masa itu pula arca-arca perwujudan Gajah Mada terus diciptakan. Nampaknya masyarakat ingin mendatangkan kembali masa gemilang pemerintahan raja dan patihnya itu. Gajah Mada Berwujud Brajanata Kisah Panji, menurut Agus, menyimpan metafora kehidupan Hayam Wuruk. Penggambaran kisah Panji pertama kali ada di Candi Miri Gambar. Candi ini didirikan setelah Hayam Wuruk mati, ketika menantunya Wikramawarddhana berkuasa. Kisah ini dihiasi dengan tokoh Panji dan Brajanata, dua tokoh paling dominan dalam beberapa kisah panji paling awal. Tokoh-tokoh utama dalam kisah Panji bisa disejajarkan dengan tokoh sejarah masa Majapahit. Misalnya Raden Panji adalah Hayam Wuruk. Ayahanda Panji, raja Keling atau Jenggala atau Koripan adalah Kertawarddhana alias Raden Cakradhara. Ibunda Panji, permaisuri raja Keling adalah Tribhuwana Wijayottunggadewi. Ibu Hayam Wuruk ini bergelar Bhre Kahuripan. Sementara raja Daha adalah paman Panji. Kenyataannya, raja Daha juga paman Hayam Wuruk. Permasuri raja Daha, bibi Hayam Wuruk bergelar Bhre Daha. Dewi Sekar Taji, putri raja Daha adalah permaisuri Raden Panji. Dalam sejarah Majapahit, permasuri Hayam Wuruk adalah sepupunya sendiri, yaitu putri Bhre Daha. Dalam Pararaton ia dijuluki Paduka Sori. Lalu kekasih Panji, Dewi Angreni bisa dipadankan putri Sunda yang tewas: Dyah Pitaloka. Dengan banyaknya kesamaan penokohan itu, rasanya tak berlebihan jika menyamakan Raden Brajanata sebagai Gajah Mada. Ia adalah kakak Raden Panji yang berbeda ibu. Namanya disebut dalam Hikayat Panji Kuda Semirang dan Hikayat Panji Angreni dari Palembang. Peranan Brajanata mirip dengan Gajah Mada. Brajanata juga selalu mengawal Raden Panji, sebagaimana Gajah Mada dengan Hayam Wuruk. Brajanata dalam kisahnya disuruh ayah ibu Raden Panji untuk menghabisi Dewi Angreni. “(Brajanata, red. ) digambarkan tinggi besar, badan tegap, berkumis tebal, berambut ikal, mungkin merupakan ikon dari Gajah Mada,” kata Agus. Itu sesuai dengan pendapat Poerbatjaraka dalam Tjerita Pandji dalam Perbandingan mengenai relief Panji Gambyok di Kediri. Tokoh berambut ikal dan berbadan tegap itu adalah Brajanata. Arca Brajanata Dengan demikian, menurut Agus, arca koleksi Museum Nasional bernomor inventaris 310d dari Gunung Penanggungan yang dinamai Kertala lebih tepat jika diidentifikasi sebagai Brajanata. “Arca itu sangat mirip dengan figur pria tegap berambut keriting yang digambarkan di kanan kiri pipi tangga Candi Miri,” katanya. Apalagi tokoh Kertala dalam Cerita Panji hanya berperan sedikit dibandingkan dengan pengiring Panji lainnya, seperti Brajanata, Carang Waspa, atau Prasanta. “Tokoh yang diarcakan tentunya tokoh yang mengesankan, tak cukup hanya dalam relief, melainkan perlu sosok arcanya,” kata Agus. Maka, jika Brajanata adalah ikon Gajah Mada, arca itu dapat ditafsirkan sebagai penggambaran Gajah Mada. Arca itu menampilkan sosok berbadan tegap, kumis melintang, rambut ikal berombak, di bagian puncak kepala terdapat ikatan rambut dengan pita membentuk topi tekes . Ia mengenakan busana, gelang dan kelat lengan atas berupa ular. Lingga atau bagian kemaluannya diukir menonjol. Namun seiring waktu pandangan masyarakat berubah. Gajah Mada kemudian lebih banyak digambarkan sebagai Bima. Pada masa akhir Majapahit, pertengahan abad ke-15, banyak dibuat arca Bima yang cirinya mirip dengan arca tokoh Brajanata. “Itu bukanlah kebetulan belaka,” kata Agus. Gajah Mada sebagai Bima Arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Triwurjani menjelaskan dalam “Bima sebagai Tokoh yang Dikultuskan” termuat di Proceedings Pertemuan Ilmiah Arkeologi V, bahwakurang lebih pada awal abad ke-15 muncul kultus terhadap tokoh Bima yang dikenal dari kisah Mahabharata. Arca Bima beberapa kali ditemukan pada bangunan suci di beberapa daerah di Jawa Timur. Misalnya , arca Bima dari Trenggalek, Jawa Timur. Di bagian belakang arca itu terdapat inskripsi. Model tulisannya sejaman dengan prasasti yang dikeluarkan oleh Gajah Mada pada 1357. “…Pada waktu itu… pendeta Mpu Wirata… memberikan pratistha kepada telapak…,” catat inkskripsi itu. Menurut Triwurjani, dengan adanya kata pratistha , berarti arca itu adalah arca perwujudan. Ini disepakati oleh Agus Aris Munandar. Arca itu sesuai dengan ciri arca perwujudan masa Majapahit. Sikap arca tak memperlihatkan gerak tubuh. Kedua tangan terjulur di samping tubuh. Mata digambarkan setengah terpejam seperti sikap meditasi. Agus mengaitkan tokoh itu sebagai perwujudan Gajah Mada. Secara fisik, arca Bima berkumis, berbadan tegap, kemaluannya menonjol dari balik kain. Ini mirip dengan arca Brajanata. Bedanya hanya tata rambut. Brajanata rambutnya menyerupai tutup kepala tekes . Bima rambutnya berbentuk supit urang . Bima juga digambarkan dengan kuku yang panjang ( pancanaka ). Menurut Agus gejala itu menunjukkan ada pergeseran penggambaran Gajah Mada sebagai Brajanata kepenggambarannya sebagai tokoh Bima. “Para pemuja dan pengagum Gajah Mada mulai pertengahan abad ke-15 hingga keruntuhannya lebih menyukai mengarcakan Gajah Mada sebagai Bima daripada sebagai Brajanata,” jelasnya. Alasannya, tokoh Bima lebih terkenal dibanding Brajanata. Tokoh Brajanata baru dikenal dalam karya sastra muda, yaitu kisah Panji. Kisah ini baru berkembang pada era Majapahit akhir. Sementara tokoh Bima sudah dikenal sejak masuknya pengaruh India dan Hindu ke Jawa. Pun tokoh Bima terkesan lebih sakral dibanding Brajanata. Bila Brajanata adalah manusia. Tokoh Bima adalah aspek Siwa yang berwujud manusia. “Karenanya pengagum Gajah Mada lebih senang menyetarakannya dengan Bima,” jelas Agus. Menurut Agus, Bima punya kesamaan dengan Gajah Mada. Berdasarkan namanya, Gajah Mada, bisa dibayangkan orangnya tinggi besar dan bertenaga besar seperti gajah. Bima kebetulan mempunyai kemiripan perawakan dengan Gajah Mada. Sebenarnya banyak juga tokoh berciri seperti itu dalam epos Mahabharata. Namun, Bima lebih punya banyak peran. Pun dia ditempatkan sebagai tokoh protagonis dalam cerita.   Dalam konsep agama, Bima juga disetarakan dengan Gajah Mada. Kitab Jawa Kuno, Brahmanda Purana, menyebut Bima sebagai aspek Siwa. Sedangkan raja-raja Majapahit seringkali disetarakan sebagai Siwa. Maka, patih amangkubhumi -nya sebagai aspek dari Sang Dewa. Selama ini arca Bima banyak ditemukan dari masa Majapahit. Pertanyaannya siapakah yang hendak diwujudkan oleh arca itu. Dan, Agus yakin , tokoh itu adalah Sang Mahapatih Gajah Mada.

  • Hatta Tak Suka Dijadikan "Dewa"

    BEGITU kapal kecil yang membawanya bersandar di dermaga, 3 Juni 1947, Wakil Presiden Moh. Hatta segera turun ke darat. Kunjungan ke Panjang, Lampung, itu menandai kunjungan pertamanya ke Sumatra setelah Indonesia merdeka. Kunjungan Hatta itu merupakan safari politik untuk memperkuat semangat juang rakyat. “Aku berangkat ke Sumatera atas undangan anggota-anggota KNIP dari Sumatera, yang baru dipilih dalam sidang pleno pada waktu itu. Yang ikut dalam rombongan antara lain Suryo, ketua Dewan Pertimbangan Agung; Ir. H. Laoh, menteri Perhubungan; Mr. A. Karim (waktu itu salah seorang direktur Bank Negara Indonesia); Suria Atmadja (Kementerian Perekonomian); Rusli Rahim (kepala Bagian Koperasi pada Kementerian Perekonomian); Abubakar Lubis, Supardjo, pemimpin pemuda; Wangsa Widjaja (sekretaris wakil presiden); WI. Hutabarat dan Ruslan Batangtaris (ajudan wakil presiden),” kata Hatta dalam otobiografinya Untuk Negeriku , Jilid 3.   Sekira tanggal 15, rombongan memasuki Sungai Dareh, Sumatera Barat melalui jalan darat dari Muara Tebo, Jambi. Dari situ, rombongan melanjutkan perjalanan ke Padang Panjang sebelum mencapai tujuan akhir Bukittinggi. Antara Sungai Dareh dan Padang Panjang, rombongan beberapakali berhenti. Untuk sesaat, Bung Hatta menyempatkan diri menyapa rakyat yang menyambutnya meriah, lalu memberi sedikit wejangan. Pidato panjang diberikannya ketika di Padang Panjang. “Sesudah itu kami dibawa ke sebuah rumah yang dihiasi dengan bendera Sang Saka Merah Putih. Kaum ibu di sana berhari-hari menyiapkan makan untuk kami. Meja makan penuh dengan ayam goreng, rendang, ikan air tawar, dan satu piring selada, yang sangat enak rasanya,” kenang Hatta. Dari Padang Panjang, rombongan melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi, kampung halaman Hatta. Mereka mendapat sambutan begitu meriah dari rakyat. Di sana, rombongan bakal tinggal selama enam hari, namun batal karena pada hari kelima Hatta dijemput Biju Patnaik, pengusaha penerbangan India yang bersimpati pada kemerdekaan Indonesia, untuk memenuhi permintaan Presiden Sukarno agar Hatta bertemu dengan PM India Jawaharlal Nehru. Namun sebelum terbang ke India, Hatta sempat memberikan pidato di depan rakyat. Sebelum memberi pidato itulah Hatta mendapat sambutan luar biasa. Alih-alih senang, Hatta yang dikenal sederhana justru kecewa terhadap sambutan yang berlebihan itu. Bahkan, ia sampai menegur gubernur karena sambutan berlebihan itu. Jauh setelah peristiwa itu terjadi, Hatta menceritakan kekecewaan itu kepada Hasjim Ning, keponakannya yang menjadi pengusaha berjuluk “Raja Mobil Indonesia”. Hasjim mengisahkan kekesalan pamannya itu dalam otobiografinya, Pasang Surut Pengusaha Pejuang . “Orang di sana lupa bahwa aku wakil presiden, bukan raja dari suatu kerajaan,” kata Hatta. “Mengapa, Oom?” tanya Hasjim yang belum tahu duduk perkaranya. “Mereka menyambutku dengan nyanyian hymne.” “Itu maksudnya mau menghormati, Oom,” kata Hasjim memberi komentar. “Hymne itu lagu pujaan kepada dewa, tahu?” “Teks lagunya bagaimana, Oom?” “Ya berisi pemujaan atas pribadiku.” “Ah, kalau begitu secara agama mereka sudah sesat, secara bernegara mereka sudah feodal,” Hasjim memberi penilaian. “Ya itulah yang aneh. Orang Minangkabau yang selama ini terkenal demokrat, setelah merdeka mereka menjadi feodal,” kata Hatta.

  • Bertahan Hidup dengan Batu

    BUKTI linguistik menunjukkan telah terjadi ekspansi secara lambat oleh kelompok penutur Austronesia dari Formosa ke Kepulauan Nusantara sekira 4.000 tahun yang lalu. Mereka telah bercocok tanam. Gaya hidup berburu dan mengumpulkan makanan pun secara berangsur terkikis. Secara umum, kebiasaan lama itu tak pernah hilang sama sekali pada era berikutnya. Para petani juga masih berburu dan mengumpulkan makanan. Karenanya, dalam beberapa milenium terakhir, teknologi dan tata ekonomi yang berbeda dapat berlangsung bersamaan di situs yang berdekatan bagaikan mosaik. Kata Peter Bellwood, dalam  Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia,  buktinya adalah Peralatan batu yang diserpih tetap digunakan di beberapa daerah oleh kelompok pemburu dan pengumpul makanan maupun mereka yang bercocok tanam hingga masa yang baru lalu. “Tinggalan arkeologi yang berbeda harus dilihat secara sinkronis sebagai ciri budaya kawasan tertentu, tak harus ditafsirkan sebagai pencerminan tahap perkembangan teknologi dan ekonomi yang berurutan di seluruh wilayah kepulauan,” jelas dosen arkeologi di School of Archaeology and Anthropology Australian National University itu. Penggunaan alat batu yang terkesan masif dan sederhana sering dilekatkan dengan budaya Paleolitik. Di Indonesia salah satunya ditandai oleh temuan di Sungai Baksoka, Pacitan. Ruly Fauzi, arkeolog Balai Arkeologi Palembang, menulis “Perkakas Paleolitik dari Das Ogan: Bukti Awal Kebudayaan di Wilayah Oku” dalam  Gua Harimau dan Perjalanan Panjang Perdaban Oku.  Katanya, alat-alat Paleolitik umumnya diperoleh melalui metode penyerpihan untuk membentuk tajaman pada kerakal sungai. Ada juga yang dengan melepaskan serpih berukuran besar dari sebuah batu inti. "Di Kali Baksoka, yang kondang dengan sebutan alat Pacitanian misalnya, hampir seluruhnya (alat batu paleolitik - red ) berada di hamparan sungai, bercampur dengan sisa fauna dari Stegodon sp, Elehas namadicus, gigi-gigi SImia, Echimosorex, Sumphalangus dan Hylobates," tulis Harry Widianto dalam  Nafas Sangiran . Pada 1983, Arkeolog R.P Soejono menyebutkan lewat “Temuan Baru Alat-Alat Paleolitik di Indonesia” dalam  Pertemuan Arkeologi ke-III,  bahwa pada masa Paleolitik di Nusantara ditandai dengan temuan yang dinamakan kapak perimbas. Ini menurutnya merupakan tipe dominan di kawasan ini. Ada pula alat jenis serpih bilah, serpih besar,dan kapak penetak. Pemakaian alat serpih kemudian menjadi lebih dominan pada masa berburu tingkat lanjut. “Klasifikasi alat batu yang dilakukan hanya berdasarkan teknis, tidak menyangkut masalah fungsi. Untuk menentukan fungsi alat batu dari masa yang sangat lama adalah spekulatif,” katanya. Lebih jauh, Peter Bellwood, dosen arkeologi di School of Archaeology and Anthropology Australian National University, dalam  Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia  berpendapat pemakaian istilah kapak perimbas, kapak genggam, serut, dan semacamnya justru mengacaukan bentuk dan fungsi alat. Kata dia, penamaan ini seolah membuat aktivitas manusia pada masa itu begitu spesifik. “Dalam banyak kasus asumsi ini mungkin benar, tetapi masalahnya adalah umumnya tak mungkin membuktikan apakah asumsi itu benar atau salah,” kata Bellwood. Ditambah lagi penamaan itu akan sangat membingungkan. Seorang peneliti akan menyebut suatu alat batu sebagai kapak penetak. Sementara menurut peneliti lainnya itu disebut serut. Menurutnya penamaan berdasarkan teknik pun agak intuitif. Seiring berjalannya waktu definisi berdasarkan teknis terbukti tak tegas dan sering menimbulkan keraguan. “Penelitian saya sendiri menunjukkan dengan jelas kepada saya bahwa yang disebut oleh salah seorang peneliti sebagai kapak penetak dari Kala Plestosen Tengah mungkin hanyalah limbah batu yang dibuang kurang dari 10.000 tahun lalu,” lanjut Bellwood. Sejalan dengan itu, Ruly juga bilang ada percampuran antara tipe alat dari Paleolitik Bawah, atau masa yang lebih tua, dengan masa yang lebih lanjut (Paleolitik Tengah). Di Eropa dan Afrika, kedua fase tradisi budaya Paleolitik itu mudah dibedakan. Tapi tidak di Indonesia. “Artefak dari kedua tradisi itu terkadang muncul dalam satu konteks, seperti yang ditemukan di Ngebung (Sangiran) dan Baksoko (Pacitan),” jelas dia. Si Pembuat Alat Alat-alat batu dari Ngebung, Ngandong, dan Pacitan kemudian menjadi penanda budaya tertua di Jawa. Industri peralatan itu dianggap mungkin milik  Homo erectus.  Kendati kalau menurut Bellwood, alat-alat batu itu tak pernah ditemukan bersama dengan fosil manusia. Adapun soal  Homo erectus,  kata Ruly Fauzi, arkeolog Balai Arkeologi Palembang, dan Truman Simanjuntak, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dalam “Sumatra dan Problematikanya dalam Sejarah Migrasi Manusia ke Nusantara” termuat di  Gua Harimau dan Perjalanan Panjang Perdaban Oku , fosil tertuanya di Nusantara ditemukan di Situs Sangiran, Sragen, Jawa Tengah, dari 1,5 juta-0,9 juta tahun yang lalu. Lalu yang cirinya lebih evolutif dari 0,9-0,25 juta tahun lalu. Fosilnya juga ditemukan di Sangiran. Selanjutnya tipe  Homo erectus  yang lebih progresif. Ia hidup sekira 150.000 tahun lalu. Fosilnya ditemukan di Situs Ngandong (Blora, Jawa Tengah), Sambungmacan (Sragen), dan Ngawi (Jawa Timur). Namun, kata Bellwood lagi, dengan mengakui  erectus  Jawa adalah pembuat alat, tak berarti kemampuan itu menyelamatkan mereka dari kepunahan. Alasannya, hominid lain yang lebih berkembang, seperti Neandertal yang juga mampu membuat alat batu, ternyata dianggap punah juga oleh banyak pakar modern. “Situs yang mengandung alat batu amat sedikit, sementara kesenjangan dalam kronologi masih panjang. Masih banyak yang harus kita pelajari,” catatnya. Industri peralatan batu dengan tipe yang lebih khusus bertarikh kurang dari 40.000 tahun yang lalu dianggap sebagai hasil karya manusia yang secara anatomis lebih modern. “Saya menyebut semua industri itu sebagai industri alat batu kerakal dan alat serpih,” kata Bellwood. Kendati ada bentuk khas setempat, alat batu kerakal dan alat serpih di Asia Tenggara dan yang terus bertahan hingga Kala Holosen punya kesamaan. Alat batunya cukup berat dan dibuat dengan menyerpih kerakal sungai, serpihan besar, atau bongkah batu inti yang ditambang. “Semua jenis ini biasanya disebut alat-alat batu kerakal,” kata dia. Lalu ada alat-alat berukuran lebih kecil yang dibuat dari serpihan yang dipangkas dari suatu batuan inti atau dari pecahan batu yang berkuran relatif kecil. Meski begitu alat dari kerakal batu yang hanya diasah tajamannya juga ada di beberapa situs. Ini seperti di Niah, Sarawak dan Kota Tampan di Malaysia. Beranjak dari Batu Selanjutnya budaya Preneolitik atau Mesolitik di Indonesia terpantau muncul di situs-situs daerah Jawa Timur dan Sulawesi. Budaya ini, kata Ruly, kemungkinan mulai muncul sejak awal Holosen hingga kedatangan budaya Neolitik sekira 4.000 tahun yang lalu. Indikasinya adalah penggunaan alat tulang. “Sejumlah (alat,  red ) serpih pakai juga muncul, tetapi butuh studi khusus untuk mengonfirmasinya,” lanjut dia. Industri alat batu kerakal dan alat serpih digantikan oleh himpunan tembikar menandai masuknya budaya Neolitik. Ini ditemukan di seberang Laut Sulawesi, di Gua Agop Atas, di Borneo utara. Pun di Ceruk Leang Tuwo Mane’e di Kepulauan Talaud ditemukan pecahan tembikar polos dan berpoles merah dari bejana bundar berdinding tipis dengan tepian melipat keluar. Mungkin temuan itu berasal dari 2.500 SM. Selain keberadaan gerabah, Budaya Neolitik juga umumnya ditandai dengan kemunculan beliung persegi, sebagaimana yang terjadi di Gua Harimau, Sumatera Selatan. Di situs itu ditemukan pula gerabah dan calon beliung. Kedua temuan terakhir ini berasosiasi dengan kubur telentang.   “Dalam perspektif biologis, tradisi Neolitik selalu dikaitkan dengan diaspora penutur Austronesia 4.000 tahun lalu dan keberadaan ras Mongoloid yang menggantikan Australomelanesid di Nusantara,” jelas Ruly. Agak tumpang tindih dengan masa sejarah, teknologi logam awal dimulai dengan pengenalan artefak dari tembaga, perunggu, dan besi. Teknologi pembuatan ketiganya nampak terjadi bersamaan. Artinya, seperti kata Bellwood, tak ada masa perunggu secara terpisah. Menurut dia, zaman Logam Awal terjadi bersamaan dengan pengenalan teknologi baru dan barang dagangan ke Kepualau Indo-Malaysia dari sumber-sumbernya di Vietnam, India, dan Tiongkok.  “Hampir pasti semua unsur budaya baru itu diperoleh langsung dari sumber-sumbernya di daratan Asia Tenggara selama beberapa abad terakhir sebelum Masehi,” jelas Bellwood. “Saya akan mengambil 500 SM sebagai titik mula. Penelitian masa datang mungkin akan mendorong Tarikh ini lebih dekat ke 200 SM.” Yang terkenal adalah budaya Dong Son dari Vietnam Utara. Bersama Muang Thai tengah dan timur laut, kawasan ini memiliki bukti paling awal tentang pembuatan perunggu di Asia Tenggara. Contoh artefaknya adalah kapak corong. Corongnya adalah pangkal yang berongga untuk memasukkan pegangan. Ada pula Nekara. Nekara yang penting dari Indonesia antara lain nekara Makalamau dari Pulau Sangeang dekat Sumbawa dan nekara dari Kai. “Himpunan tinggalan arkeologis Dong Son sangat penting karena benda logam paling awal di Kepulauan Nusantara umumnya bercorak Dong Son,” jelas dia. Kalau dilihat dari hiasannya, nekara-nekara itu mungkin tak dibuat di Indonesia. Orang pada masa itu telah mengimpor barang, dalam hal ini nekara dari produsennya di Vietnam. Akhirnya, seperti kata Bellwood, kedatangan penutur Austronesia membuka perubahan budaya yang besar di kawasan Nusantara. Mungkin memang ada variasi di kawasan tertentu dalam teknik pembuatan alat batu. Tapi itu merupakan kewajaran mengingat kurun waktu yang panjang dan kemampuan manusia modern untuk berkomunikasi dan berinovasi. “Masa-masa yang mantab selama ribuan tahun sebelum adanya pertanian, mendekati akhirnya yang dramatis ketika terjadi ekspansi Austronesia,” jelas dia.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page