top of page

Hasil pencarian

9858 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Bertahan di Barat Jawa

    Awal Mei 1948, empat bulan setelah Divisi Siliwangi meninggalkan Jawa Barat. Senja mulai memasuki Curug Sawer yang dingin. Suara air terjun bergemuruh memerangi sunyi di kawasan yang termasuk wilayah Cianjur Selatan itu. Diapit tebing tinggi dan jurang menganga, iring-iringan konvoi militer Belanda merayap di jalan sempit. Beberapa serdadu bule di dalamnya nampak tegang, sebagian di antara mereka menghisap rokok untuk mengusir rasa takut. Senjata-senjata mereka siap ditembakkan. Begitu jip pengawal iring-iringan lewat, rentetan tembakan berhamburan dari atas tebing-tebing tinggi. Granat-granat melayang dibarengi teriakan nyaring yang membuat suasana semakin mencekam. Di balik sebuah pohon besar, Kopral BM. Permana menembakan stengun-nya. Begitu juga dengan pimpinan pasukan, Letnan Djadja Djamhari tak henti-henti menembakan pistol seraya memberi komando. Setengah jam lamanya pertempuran berlangsung “Mereka akhirnya lari dengan meninggalkan sebuah truk yang berisi sekitar 10 prajurit KL (Angkatan Darat Kerajaan Belanda) yang langsung kami hantam tanpa ada yang tersisa,” kenang lelaki kelahiran Kebumen, 95 tahun lalu itu. B.M. Permana adalah seorang prajurit muda dari Kompi IV Batalyon 2 Brigade Infanteri 2 Soerjakantjana Divisi Siliwangi. Berbeda dengan sebagian besar kawan-kawannya yang dikirim untuk berhijrah ke Yogyakarta akibat pemberlakuan Perjanjian Renville saat itu, dia justru ditugaskan untuk tetap bertahan di wilayah Cianjur Selatan. “Tentu saja kami kami tidak menggunakan nama Siliwangi lagi, tapi mengatasnamakan Kesatuan Patriot Bangsa. Belanda sendiri menyebut kami sebagai 'gerombolan liar',” kata B.M. Permana. Letnan M. Adnan dari Brigade Infanteri 2 Soerjakantjana menguatkan pernyataan BM. Permana.  Dia masih ingat, pada hari-hari menjelang hijrah, dirinya dipanggil oleh Letnan Kolonel A.E. Kawilarang (Komandan Brigif 2 Soerjakantjana) ke Sukabumi. “Saat bertemu Pak Kawilarang itulah, saya diperintahkan untuk tinggal di Jawa Barat untuk terus menghadapi tentara Belanda,” ujar M. Adnan seperti tertulis dalam dokumen Dewan Harian Cabang Angkatan 45 Cianjur berjudul Beberapa Catatan Tentang Sejarah Perjuangan Rakyat Cianjur dalam Merebut dan Mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia 1942-1949. Namun ada dua syarat yang wajib ditaati oleh pasukan-pasukan Siliwangi yang diperintahkan bertahan itu. Pertama, jika tertangkap oleh militer Belanda jangan pernah mengaku sebagai bagian dari Divisi Siliwangi dan saat beraksi dilarang keras menggunakan nama kesatuan asli. Kedua, seluruh anggota Divisi Siliwangi yang ditanam di Jawa Barat dilarang keras masuk ke wilayah-wilayah Republik Indonesia versi Perjanjian Renville. Jika ternyata tetap ada yang melarikan diri ke wilayah-wilayah tersebut, maka mereka akan langsung ditembak mati tanpa proses pengadilan. Soal “penanaman” pasukan itu diakui oleh pihak TNI. Itu terjadi karena  hasil kesepakatan Perjanjian Renville diterima dengan setengah hati oleh pihak tentara. Demikian menurut buku Siliwangi dari Masa ke Masa (ditulis oleh Sedjarah Militer Daerah Militer VI Siliwangi/Sendam VI Siliwangi pada 1968). Kendati pada akhirnya menerima keputusan untuk mengosongkan Jawa Barat, namun diam-diam Panglima Besar Jenderal Soedirman telah menugaskan Letnan Kolonel Soetoko untuk tetap mengkoordinasikan perlawanan bersenjata di tanah Pasundan. Lewat Soetoko-lah kemudian dibentuk Brigade Tjitaroem, sebagai induk perlawanan kaum Republik di Jawa Barat. Upaya tersebut sempat tercium oleh intelijen militer Belanda dan menyebabkan Soetoko dipenjarakan pada Agustus 1948. Namun tanpa Soetoko, kiprah Brigade Tjitaroem terus berjalan. Ada beberapa batalion dan kesatuan lasykar yang tergabung dalam organ tersebut. “Yang saya ingat di antaranya  adalah pasukan Mayor Soegih Arto di Cililin, pasukan Letnan Effendi di Gentong-Tasikmalaya, pasukan Letnan Tjoetjoe di Gunung Cikuray-Galunggung, pasukan Letnan Zakaria di Bekasi, dan sebagian anggota Brigade Infanteri Soerjakantjana di Cianjur-Sukabumi,” ungkap Letnan Kolonel (Purn.) Eddie Soekardi, sesepuh Divisi Siliwangi. Aksi rahasia yang dilakukan oleh TNI itu mendapat reaksi keras dari pihak militer Belanda. Guna mengantisipasi aksi-aksi yang dijalankan oleh “pasukan liar” tersebut, pihak militer Belanda memutuskan untuk menjalankan operasi-operasi pembersihan di daerah-daerah yang ditinggalkan oleh pasukan Siliwangi. Salah satu kawasan di Jawa Barat yang dinilai “corak republik”nya masih kental adalah Sukabumi. Di daerah itu, propaganda-propaganda pro-republik terus berlangsung. Bahkan, penyerangan terhadap pos-pos militer Belanda juga sering terjadi, kadang-kadang secara sporadis. Kekacauan-kekacauan itu tentu saja menimbulkan kemarahan pihak militer Belanda. Menurut salah seorang saksi sejarah bernama Atjep Abidin (95), tidak jarang usai terjadi penyerangan terhadap pos-pos militer Belanda, operasi pembersihan langsung dilakukan beberapa jam kemudian. “Rakyat sipil dikumpulkan. Setelah dintimidasi, beberapa kaum lelaki dari mereka diambil dan dimasukkan ke penjara militer Van Delden, yang terletak di Gunung Puyuh, Sukabumi,” ujar anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Takokak ini. Menurut Atjep, operasi pembersihan yang paling sering dilakukan yaitu di kawasan Nyalindung dan Sagaranten. Kedua tempat tersebut memang dikenal sebagai basis fanatik kaum Republik. Selanjutnya dari Van Delden, secara berkala, orang-orang yang dinilai militer Belanda sebagai kaum Republik dibawa ke wilayah Takokak , nama suatu kawasan terpencil yang yang terletak kira-kira 25 km di utara Sukabumi. Salah seorang mantan gerilyawan di Sukabumi, Yusuf Soepardi (96) mengakui bahwa Takokak sebagai tempat eksekusi mati kaum Republik memang sudah santer di kalangan masyarakat Sukabumi dan Cianjur. “Kalau ada orang Sukabumi atau Cianjur dibawa oleh tentara Belanda ke sana, ya jangan berharap ia bisa pulang lagi ke rumah…” ujar veteran yang di masa-masa tuanya pernah menjadi kuli panggul di Pasar Induk Cianjur tersebut. Sepeninggal Divisi Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah, sesungguhnya tak ada perubahan situasi yang berarti di Jawa Barat. Pertempuran tetap berlangsung dan penyerangan pos-pos militer Belanda tetap terjadi. Itu dilakukan baik oleh pasukan Siliwangi yang sengaja ditinggalkan di Jawa Barat, laskar-laskar maupun oleh pasukan Tentara Islam Indonesia (TII) yang secara resmi menentang Perjanjian Renville.  Kondisi tanpa stabilitas tersebut berlangsung hingga “para maung” Siliwangi pulang kembali ke Jawa Barat menyusul  hancurnya kesepakatan Renville pada 19 Desember 1948.

  • Barong Penjaga Desa

    PERAYAAN itu berlangsung sederhana. Dengan mengenakan masker dan menjaga jarak, belasan orang berjalan mengiringi barong keliling desa. Mereka dikawal beberapa petugas berpakaian APD (alat pelindung diri) lengkap yang mengingatkan warga agar menjaga jarak dan sesekali menyemprotkan disinfektan. Sejumlah warga hanya menonton di halaman rumah. Di tengah pandemi Covid-19, pemangku adat warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi memutuskan tetap melaksanakan ritual Barong Ider Bumi pada 25 Mei lalu. Ritual ini diadakan sebagai upacara tolak bala atau penolak penyakit, bencana, dan sebagainya. Pada tahun-tahun sebelumnya ritual digelar meriah. Ada acara seremoni, aneka hiburan, hingga tradisi makan tumpeng pecel pitik. Tapi pandemi Covid-19 memaksa mereka untuk memangkas prosesi untuk menghindari kerumunan orang. Tahun ini ritual hanya berupa arak-arakan barong dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Makan bersama yang biasanya dilakukan seluruh warga di tengah jalan juga ditiadakan. Sebagai gantinya pelaku adat makan bersama di rumah pemangku adat selametan desa. “Semoga pandemi Covid-19 ini selesai. Tidak ada lagi Corona,” ujar Suhaimi, tokoh adat setempat, dikutip detikcom . Mengarak Barong Ritual Barong Ider Bumi adalah tradisi turun-temurun masyarakat Osing di Desa Kemiren. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan dan keamanan sekaligus upacara tolak bal yang diadakan setiap tanggal 2 bulan Syawal dalam kalender Hijriah. Sesuai namanya, unsur terpenting dalam ritual ini adalah barong, sosok binatang mitologi yang bisa dijumpai dalam masyarakat Jawa dan Bali. Keberadaannya diyakini memiliki kekuatan magis dan dianggap suci oleh masyarakat. Ia juga dipercara menjadi pelindung dari makhluk-makhluk jahat, penyakit, magi hitam, dan sebagai manifestasi kebaikan. Sebagai salah satu ikon seni tradisi Banyuwangi, barong dimiliki beberapa  desa yang dihuni masyarakat Osing. Namun yang paling terkenal dan melegenda adalah barong Kemiren. Ia berwujud hewan raksasa; bersayap empat dan bermahkota, dengan mata besar melotot, serta taring mencuat keluar. Mahkotanya kerucut dikombinasikan dengan hiasan pelengkap dan dandanan rambut berbentuk udang. Barong dimainkan dua orang yang bertugas di bagian kepala dan bagian ekor. Menurut Wiwin Indiarti dan Abdul Munir dalam “Peran dan Relasi Gender Masyarakat Using dalam Lakon Barong Kemiren-Banyuwangi” di jurnal Patrawidya , April 2016, barong Kemiren merupakan unsur terpenting dalam ritual Ider Bumi maupun upacara bersih desa Tumpeng Sewu. Di sisi lain, ia ditampilkan pada acara pernikahan, khitanan, penyambutan tamu, festival kesenian, dan acara lainnya. Barong Kemiren bertransformasi menjadi tontonan (hiburan), meski unsur spiritual magis tetap berperan. “Dengan kata lain, seni tradisi ini berfungsi sakral sekaligus profan,” tulis mereka. Menariknya, menurut Wiwin Indiarti dan Abdul Munir, kendati asal-usulnya selalu dikaitkan dengan Kemiren, pertunjukan barong berasal dari Dandang Wiring (sekarang daerah Perliman) di Banyuwangi yang saat itu dipimpin oleh Mbah Sukib. Mbah Sukib memiliki barong beserta perlengkapan musiknya. Pada 1920-an Mbah Sukib yang sudah mulai tua sepakat menjualnya kepada Mbah Salimah di bagian timur Desa Kemiren. Mbah Salimah adalah salah satu juru kunci makam dan perantara roh Buyut Cili, danyang desa tersebut. Suatu saat dia diminta roh Buyut Cili untuk membeli barong dari Mbah Sukib. Sayangnya, upaya Mbah Salimah gagal karena beberapa anggota kelompok barong dari Dandang Wiring enggan melepas barong itu. Berutung Mbah Sukib akhirnya mau membuat tiruannya. Sebagai ritual, ritual Barong Ider Bumi menjadi salah satu tradisi tertua di Banyuwangi. Menurut Mudjijono dan Christriyati Ariani dalam Komunitas Adat Using di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi ,upacara adat ini awalnya dimaksudkan untuk menghilangkan pagebluk yang menyerang warga Kemiren. Menurut cerita tutur, Desa Kemiren dilanda wabah penyakit dan hama tanaman. Melihat kondisi desa yang sangat memprihatinkan, beberapa sesepuh desa memutuskan berziarah ke makam Mbah Cili. Mereka berdoa meminta petunjuk dan pertolongan guna mengembalikan keadaan desa seperti semula. Beberapa hari kemudian, para sesepuh mendapat wangsit dari Buyut Cili agar warga Desa Kemiren mengadakan upacara slametan dan arakan-arakan barong mengelilingi desa. Setelah melakukan ritual yang dimaksudkan, Desa Kemiren terbebas dari pageblug . “Di sini terlihat bahwa upacara adat dapat 'mengikat' penduduk Kemiren dalam satu tujuan yang sama, yakni keselamatan desa beserta warganya,” tulis Mudjijono dan Christriyati Ariani. Sosok Buyut Cili menjadi bagian penting dalam ritual Barong Ider Bumi. Masyarakat Using meyakini Buyut Cili selalu hadir di setiap pelaksanaan Barong Ider Bumi. Keyakinan itu telah ada sejak pelaksanaan ritual yang pertama; beberapa sumber menyebut tahun 1800-an, namun sumber lain menyebut awal 1900. Pada setiap ritual Barong Ider Bumi, barong selalu diletakkan pada urutan pertama dan diikuti kesenian-kesenian lain yang ada di Kemiren. Iring-iringan biasanya terdiri atas barong, pitik-pitikan (ayam-ayaman), macan-macanan dan para pemusik yang membawa alat musik berupa kethuk, gong, ceng-ceng, dan kendang. “Prosesi mengarak barong mengelilingi desa dalam ritual Ider Bumi merupakan bagian penting dan keharusan bagi masyarakat Kemiren,” tulis Wiwin Indiarti dan Abdul Munir. Pelaksanaan Ritual Selain barong, elemen lain yang tak kalah penting di dalam ritual Ider Bumi adalah sesajen. Ada tiga jenis sesajen yang disiapkan: sesajen di makam Buyut Cili, rumah barong, dan jalan desa. Sesajen di makam Buyut Cili dan jalan desa memiliki kemiripan menu, yakni tumpengan, pecel pitik, jenang merah dan putih, kemenyan yang dibakar, dan toya arum (air bunga kenanga). Sementara sesaji di rumah barong tak terlalu beragam  karena di tempat ini hanya dilaksanakan ritual kecil sebagai wujud permintaan izin. Di sana para pemangku adat melakukan penataan untuk segala keperluan arak-arakan, terutama pemasangan pernak-pernik barong serta alat musik sebagai pemandung iringan barong. “Menurut kepercayaan mereka, setelah pelaksanaan ritual di makam Buyut Cili, barong tersebut sudah dimasuki danyang desa tersebut, maka pendukung yang terlibat tidak berani memegang barong, yang diperbolehkan dan berani hanya pemiliknya,” tulis Sulistyani. Pelaksanaan ritual Barong Ider Bumi melibatkan seluruh warga Desa Kemiren. Persiapan dilakukan dengan melaksanakan upacara adat di makam Buyut Cili dan rumah barong untuk meminta izin agar ritual berjalan lancar dan keselamatan diberikan selama prosesi. Prosesi pemberangkatan iring-iringan barong dimulai dari sisi timur desa (Dusun Kedaleman) menuju sisi barat desa (Dusun Krajan). Di setiap sudut desa, sesaji diletakkan.  Setelah itu iring-iringan kembali lagi ke tempat pemberangkatan awal. Acara ditutup dengan doa bersama dan selametan yang hidangan utamanya bubur merah-putih (jenang abang-putih) dan tumpeng-pecel pitik. Menurut Sulistyani dalam “Ritual Ider Bumi di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi” di jurnal Mudra tahun 2008, pelaksanaan dari timur ke barat ini sesuai keyakinan di dalam Islam, sebagai agama mayoritas masyarakat desa Kemiren bahwa kiblat berada di barat. “Dengan demikian tampak dengan jelas bahwa segala aktivitas masyarakat Using di Desa Kemiren selalu terdapat penggabungan antara agama yang dianut dengan warisan budaya yang masih dijalani,” tulis Sulistyani. Ritual Barong Ider Bumi sejatinya masuk dalam agenda wisata tahunan Banyuwangi Festival 2020. Namun pandemi Covid-19 membuat ritual ini digelar tanpa konsep festival. Toh, meski dilakukan di tengah keterbatasan, makna ritual tetap ada: sebagai penghilang pagebluk .

  • Hurustiati Subandrio, Dokter yang Aktif dalam Gerakan Perempuan

    DALAM perjamuan malam yang diadakan Presiden Sukarno dan dihadiri oleh Perdana Menteri Djuanda, sejumlah menteri luar negeri negara sahabat, Hurustiati Subandrio ikut hadir menemani suaminya, Menteri Luar Negeri Subandrio. Ia bahkan menghampiri Menteri Luar Negeri Uni Soviet Andrey Gromyko yang duduk di pojok ruangan dan terlihat ogah ikut berdansa, dan membujuknya ikut menari selepas perjamuan. Ajakan Hurustiati pun tak bisa ditolak Gromyko. “Tak mungkin seorang gentleman menolak undangan seoang lady, ya toh?” tulis Rosihan Anwar dalam bukunya Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia. Menteri Uni Soviet yang terkenal berwajah muram itu pun menari mengikuti alunan musik. Ia memegang tangan Husrustiati yang berdansa berputar-putar sekeliling partner- nya. Itu bukan kali pertama Hurustiati menemani suaminya. Pada 1947, Hurustiati mengikuti suaminya ke London sebagai perwakilan Pemerintah Republik Indonesia. Sembari mengikuti suaminya, ia kuliah di London School of Economics and Political Science dan meraih gelar doktor dengan disertasi berjudul “Javanese Peasant Life”. Ia juga aktif menulis. Salah satu karyanya ialah buku tentang Kartini. Beragam artikel bertema perempuan dan kesehatan telah dituliskannya. Kumpulan tulisan pendeknya dibukukan oleh Seksi Kebudayaan Kedutaan Besar Indonesia di London dengan judul Speeches and Lectures . Ketika pada 1954 Subandrio ditugasi menjadi duta besar di Moskow, Hurustiati kembali ikut menemani. Sekembalinya dari Moskow pada 1956, Hurustiati ditunjuk sebagai kepala Bagian Kesehatan Masyarakat di Kementerian Kesehatan. Hurustiati lahir di Lawang, Jawa Timur. Ia menyelesaikan studi kedokterannya di Jakarta pada 1944 dan membuka praktik di Semarang hingga 1946. Cora Vreede-de Stuers dalam bukunya Sejarah Perempuan Indonesia menyebut Hurustiati aktif di gerakan perempuan.  Ia menjadi salah satu utusan dalam East Asia Conference di India bersama Soetiah Soerjohadi dan Nyonya Hamdani pada 1946. Kondisi Indonesia yang berada di tengah perang mempertahankan kemerdekaan tak menghalangi mereka untuk menjalin hubungan dengan gerakan perempuan di dunia internasional. Sebagai dokter, ahli antropologi, sekaligus aktivis perempuan, Hurustiati juga amat peduli pada kesehatan kaumnya. Suara Karya , 6 Juni 1989 mengabarkan, Hurustiati juga mempelajari soal kesehatan reproduksi perempuan dan penggunaan kontrasepsi selama tinggal di London. Ia kemudian menjalin kontak dengan International Planned Parenthood Federation (IPPF) agar mendapat penjelasan lebih mendalam tentang penggunaan kontrasepsi dari segi medis dan sosial. Bersama tokoh perempuan lain, Hurustiati mendirikan klinik KB di Gedung Wanita, Jakarta pada 1956. Di Klinik ini ia memberi layanan Keluarga Berencana meski pelayanannya masih sangat terbatas. Ia kemudian menjalin kontak dengan koleganya sesame dokter dan aktivis perempuan seperti dr. Soeharto, dr Hanifa Wiknjosastro yang mengambil pasca-sarjana kebidanan di London, dan ahli hukum Nani Soewondo. Bersama-sama mereka mendirikan Perkumpulan Keluarga Berencana (PKB) pada 23 Desember 1957, di Jakarta. Lewat PKB, para dokter, rohaniawan, dan aktivis perempuan memberi penerangan tentang masalah perkawinan, pendidikan seks, sterilisasi dalam perkawinan, dan memberikan nasihat mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pengendalian kelahiran. Sebagai anggota Ikatan Sarjana Wanita Indonesia (ISWI), ia juga aktif di federasi perempuan Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Pada Mei 1957, ia mewakili Kowani dalam konferensi pendahuluan perempuan Asia dan Afrika di Karachi. Ia sering dikirim sebagai perwakilan Indonesia dalam kongres perempuan Internasional. Pada 1959 ia dipercaya sebagai ketua seksi Indonesia di International Federation of University Women. Pada Kongres Wanita Indonesia XII tahun 1961, Hurustiati duduk sebagai pimpinan kongres bersama Maria Ullfah, Titi M. Tanumijaya, Burdah Yusupadi, dan Mahmudah Mawardi. Kongres sepakat memilih Sembilan perempuan dari beragam organisasi untuk duduk sebagai dewan pimpinan. Hurustiati terpilih sebagai sebagai Dewan Pimpinan Kongres bersama delapan perempuan lainnya. Ia ditemani Maria Ullfah, Burdah Yusupadi, Titi M. Tanumijaya, Mahmudah Mawardi, Nyonya Mudikdio, Yetty Rizali Noor, Widya Latief, dan Abednego. Dicatat dalam Sejarah Setengah Abad Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia, Hurustiati kembali terpilih sebagai Dewan Pimpinan Kongres Wanita Indonesia periode 1964-1967. Dalam periode tersebut ia aktif dalam kunjungan ke beberapa negara, seperti Korea Utara pada September dan ke Tiongkok pada Oktober 1946. Ia mengetuai keberangkatan rombongan yang terdiri dari Nyonya D. Sukahar (perwakilan Bhayangkari), Mariam Katasumpena (Muslimat NU), Suwarti Suwarto (Gerwani), dan Chamsinah Ali Dahlan (Perwamu) itu. Pada Januari 1965, Hurustiati kembali melakukan kunjungan mancanegara mewakili Kowani. Kali ini ia ke Uni Soviet atas undangan Gabungan Wanita Uni Soviet dan tinggal selama tiga minggu di sana. Anggota yang menemani Hurustiati ialah Nyonya B. Simorangkir, Enny Busyiri, Ratjih Natawidjaja, dan Mimi Suparmi. Keaktifan Hurustiati di Kowani kemudian terhenti pasca - Peristiwa 1965. Hurustiati Subandrio dikeluarkan dari Kowani setelah suaminya, Subandrio , ditangkap dan dipenjara pada 1966.

  • Cara Natsir Menghidupkan Pendidikan Islam

    MENJELANG Hari Raya Idulfitri tahun 1934 cobaan datang menghampiri Mohammad Natsir. Program Pendidikan Islam (Pendis) di Bandung yang dipimpinnya sedang dirundung masalah ekonomi. Hampir tidak ada pendapatan yang masuk. Sementara uang sewa tempat, buku, dan gaji para guru tiap bulan harus tetap berjalan. Keadaan itu terjadi karena banyak murid menunggak uang sekolah. Dikisahkan Lukman Hakiem dalam Biografi Mohammad Natsir: Kepribadian, Pemikiran, dan Perjuangan , orang tua mereka sibuk mempersiapkan perayaan lebaran. Sebab membeli baju kala itu menjadi suatu hal yang penting ketimbang keperluan pendidikan. Sebagai sekolah partikelir yang tidak mendapat subsidi dari pemerintah, uang dari para murid menjadi tumpuan Natsir menjalankan program pendidikannya ini. “Dalam pada itu, para guru justru sangat memerlukan gaji, karena mereka juga menghadapi bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri,” tulis Lukman. Tidak hanya Pendis, sang pimpinan pun sedang membutuhkan uang untuk menghidupi keluarga barunya. Menikah pada 30 Oktober 1934 dengan Nurnahar binti Marzuki Datuk Bandaro, beban pikiran Natsir kian bertambah. Jalan keluar harus segera dicari olehnya agar persoalan ekonomi itu dapat terselesaikan. Suatu hari di bulan Ramadan, bermodal 4,50 gulden, Natsir berangkat ke Cirebon. Dia berencana mengunjungi beberapa kenalannya, salah satunya Abdullah bin Afiff. Natsir menemui pengusaha kitab-kitab terbitan Mesir itu untuk memungut zakat bagi keperluan Pendidikan Islam. Abdullah mengerti akan kewajibannya mengeluarkan zakat, sehingga dia sudah memaklumi maksud kedatangan Natsir. Natsir diterima dengan baik oleh Abdullah. Keduanya berbincang banyak soal kitab-kitab keluaran Mesir yang baru terbit. Ketika terlihat gelagat Natsir akan pamit, Abdullah segera bangkit dan menyerahkan zakatnya sebesar 25,00 gulden, seraya berkata “Untuk perjuangan fii sabilillah ”. Sesudah itu, Natsir diundang berbuka puasa di rumahnya. “Natsir mengenang Abdullah bin Afiff sebagai seorang pengusaha yang benar-benar kaya. Kaya harta dan kaya budi,” tulis Lukman. Namun rupanya tidak semua pengusaha yang dikunjungi Natsir seperti Abdullah. Banyak juga yang menunjukkan sikap acuh tak acuh kepada tokoh Masyumi ini saat ditanya soal zakatnya. Mayoritas tidak mengerti kewajibannya dalam mengeluarkan uang hasil usahanya. Dalam menghadapi hal ini, Natsir mencoba bersikap sabar. Dikatakan kepada para pengusaha itu dirinya datang bukan untuk meminta belas kasihan. Dia datang mengingatkan kepada mereka untuk memenuhi kewajiban setiap orang yang mengaku beragama Islam. Sebagai orang yang paham, Natsir merasa perlu mengingatkan bahwa di dalam setiap harta yang didapat para pengusaha ini ada hak masyarakat yang harus dikeluarkan. “Saya datang membantu Tuan agar zakat yang akan Tuan keluarkan sampai kepada yang benar-benar berhak menerimanya. Pendidikan Islam sebagai badan perjuangan umat Islam dalam lapangan pendidikan adalah salah satu dari pihak yang berhak menerimanya,” kata Natsir. “Saya datang sebagai perantara antara Tuan yang akan menunaikan zakat dengan pihak yang berhak menerimanya. Itupun kalau Tuan ridha . Kalau tidak, saya tidak berkecil hati. Sebab saya hanya melakukan kewajiban,” tambahnya. Biasanya setelah mendengar ucapan dari Natsir tersebut, para pengusaha akan langsung membayarkan zakatnya. Tidak hanya mengunjungi Cirebon, Natsir juga pergi ke Pekalongan, Kudus, dan Surabaya. Mereka yang dikunjungi Natsir pada akhirnya menjadi donatur tetap Pendis. Mereka rutin mengirim zakat, infak, dan sedekah kepada Natsir untuk keperluan Pendis. “Dengan cara demikian, dari tahun ke tahun tertolong juga Pendidikan Islam dari kesulitan-kesultan menghadapi Ramadhan dan lebaran. Natsir merasa yang dilakukannya untuk mengatasi kesulitan Pendidikan Islam, tergolong sebagai cara yang cukup terhormat,” tulis Lukman.*

  • Kawin-Cerai di Ganda Campuran

    SEBAGAIMANA menjalani bahtera rumah tangga yang harmonis, prestasi manis bakal terus berbuah bagi seorang atlet ganda campuran di arena bulutangkis jika punya pasangan yang “nge-klik”. Jika pasangan sejiwanya sudah tak lagi di sisi, berapakalipun mencoba kawin, ujungnya cerai tiada arti seperti yang dialami Tontowi Ahmad. Sepanjang kariernya sejak 2010, pebulutangkis yang akrab disapa Owi itu begitu harmonis berpasangan dengan Liliyana Natsir (Butet) di berbagai ajang dan hasilnya pun manis. Raihan emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016 jadi capaian tertinggi pasangan itu. Akan tetapi, semua itu berubah sejak Butet memutuskan pensiun pada Januari 2019. Prestasi Owi langsung menurun drastis hingga akhirnya memutuskan pensiun dari Pelatnas PBSI dan sebagai atlet profesional per 18 Mei 2020. Owi berlasan tak dihargai PBSI lantaran sejak Desember 2019 berstatus atlet magang. Mengklarifikasi Owi, Kepala bidang Pembindaan dan Prestasi PBSI Susy Susanti menyatakan di laman resmi PBSI , 19 Mei 2020, status itu lantaran Owi belum punya pasangan tetap. Sejak “cerai” dari Butet, Owi sempat dipasangkan dengan beberapa pemain putri lain seperti Winny Oktavina Kandow hingga Apriyani Rahayu. Bersama Winny sepanjang 2019, Owi gagal memenuhi ekspektasi lolos kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020. Sementara Apriyani yang dijajal berpasangan dengan Owi pada awal 2020, akhirnya diputuskan PBSI untuk difokuskan pada sektor ganda putri bersama Greysia Polii karena keduanya sudah lolos kualifikasi olimpiade. Banyak pihak menyesalkan keputusan Owi. Salah satunya legenda ganda putra dan ganda campuran Christian Hadinata. Menurutnya, pengalaman Owi masih sangat dibutuhkan untuk jadi pengayom dan penjembatan tongkat estafet demi menyambung era kejayaan ganda campuran kepada para juniornya. Seperti duet Praveen Jordan/Melati Daeva Oktaviani, misalnya. Meski sempat bikin kejutan dengan menjuarai All England pada Maret 2020 lalu, keduanya belum semapan Owi/Butet karena masih mencari performa terbaik. Mundurnya Owi dikhawatirkan mengakibatkan terjadi kekosongan prestasi berkelanjutan di ganda campuran, nomor yang sejak 1970-an disebut sebagai sektor “buangan” namun berhasil dipatahkan Christian. Pasangan-Pasangan Christian Hadinata Meski Indonesia berlimpah prestasi dari ganda campuran, problem klasik “kawin-cerai” karena mengundurkan diri atau pensiun acap memengaruhi kontinuitasnya. Namun, hal itu tak berlaku buat Christian Hadinata. Meskipun pada 1970-an acap dibongkar-pasang oleh pelatihnya, ia nyaris tak pernah kering gelar. Di masa itu, secara tak tertulis semua pemain pelatnas diwajibkan untuk bisa main rangkap sektor. Pemain-pemain tunggal seperti Rudy Hartono atau Liem Swie King pun tak jarang turun di nomor tunggal putra dan ganda putra dalam satu ajang. Sementara pemain spesialis ganda putra seperti Tjun Tjun dan Christian sering merangkap ganda campuran. “Para senior saya di pelatnas juga biasanya yang tunggal putra selalu merangkap jadi ganda. Walau saat itu tidak ada secara spesifik pemain yang khusus berlatih di sektor itu, baik ganda putra maupun ganda campuran. Saya juga awalnya merangkap tunggal dan ganda. Akhirnya saya memilih di ganda putra dan campuran, sebenarnya strategi juga karena waktu itu di tunggal putra persaingannya hebat,” terang Christian kepada Historia. Christian Hadinata berbagi kisahnya membela Merah-Putih di sektor ganda campuran (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Di Pelatnas PBSI untuk ganda campuran, sejak 1971 Christian pernah dipasangkan dengan lima pemain putri: Retno Koestijah, Utami Dewi, Regina Masli, Imelda Wigoena, dan Ivana Lie. Lazimnya, pasangan-pasangan itu dipilih tim pelatih dengan melihat catatan performa si pemain putri sebelumnya, baik yang dari tunggal putri maupun ganda putri. “Pertamakali tampil di sektor itu (ganda campuran) di Kejuaraan Asia 1971. Selain ganda putra saya pasangan sama Ade Chandra, di ganda campuran saya berpasangan dengan Mbak Retno Koestijah dengan prestasi yang cukup baik, sehingga bisa kembali mewakili Indonesia di All England 1972,” kata Christian. Mengutip Rahasia Ketangguhan Mental Juara Christian Hadinata karya Dr. Monty P. Satiadarma, di Kejuaran Asia itu Christian/Retno sukses membawa pulang gelar juara, meski di All England mereka gagal. Christian hanya mendapat juara di ganda putra bersama Ade Chandra. Setelah itu, di ganda campuran Christian dipasangkan dengan Utami Dewi. Keduanya tampil di ajang demonstrasi cabang bulutangkis di Olimpiade Munich 1972 dan pulang dengan mengalungi medali perunggu. Setelah Utami Dewi menjadi warga negara Amerika Serikat, Christian “dikawinkan” dengan Regina Masli. Pasangan Christian/Regina sukses mendulang prestasi. “Di Asian Games 1974, saya berpasangan dengan Christian Hadinata. Kala itu, lawan paling kuat buat kita adalah wakil-wakil dari China. Yang terkuat itu Tang Xianhu/Chen Yuniang waktu ketemu di semifinal. Kita berdua senang sekali bisa menang straight set dari mereka waktu itu,” kata Regina kepada Historia , mengingat momen itu setelah kemudian mereka menyabet emas usai mengalahkan pasangan Indonesia lain, Tjun Tjun/Sri Wiyanti . Regina Masli selain di ganda putri juga merangkap ganda campuran bersama Christian Hadinata (Foto: Dok. Regina Masli) Setelah bersama Regina, Christian dipasangkan dengan Imelda. Selain menjuarai ajang-ajang turnamen terbuka, Christian/Imelda berjaya memenangkan All England 1979, Kejuaraan Dunia 1980, serta emas di SEA Games 1979 dan 1985. Terakhir berduet dengan Ivana Lie, Christian merebut emas Asian Games 1982 dan menjuarai Badminton World Cup 1985. Rangkaian prestasi tersebut menjadikan Christian spesialis ganda campuran, di luar ganda putra. Mengenai dua nomor berbeda yang ditekuninya sekaligus itu, Christian berkomentar. “Kalau di ganda putra kita lihat ada keseimbangan ya, dua-duanya ada tugas masing-masing untuk main di belakang dan di depan. Kalau ganda campuran lebih banyak meng- cover atau mem- back up putrinya. Karena biasanya yang diincar itu putrinya. Jadi bagaimana supaya saya memukul shuttlecock sedemikian rupa supaya pukulan lawan kalaupun mengarah ke partner saya, tidak jadi hal yang sulit. Partner putri saya yang lebih menguras konsentrasi. Apalagi di ganda putra, saya lebih sering main di depan. Di ganda campuran saya harus lebih banyak di belakang. Itu yang membedakan,” imbuhnya. Imelda Wigoena dan Christian Hadinata yang melegenda sebagai ganda campuran di era 1980-an (Foto: badmintonindonesia.org ) Dalam latihan pun Christian mesti memahami karakter pemain yang dipasangkan dengannya agar bisa menyesuaikan dengan taktik permainan. Dengan Retno Koestijah, misalnya, Christian harus paham bahwa partner srikandi Minarni Soedarjanto di ganda putri itu punya kelebihan bermain di depan tapi punya kelemahan ketika harus bermain di belakang. “Kalau dengan Regina agak unik. Dia bagus di depan maupun belakang. Smash dia cukup keras. Jadi kita tidak terpaku seperti ganda campuran pada umumnya, kita bisa rotasi. Sementara kalau Imelda, dia seperti Mbak Kus, spesialis di depan dan netting Imelda itu bagus,” tambahnya. “Dengan Ivana juga unik karena dia aslinya pemain tunggal putri, bukan ganda. Jadi kalau dia di belakang, saya tidak khawatir karena dia pemain tunggal pasti kuat di belakang. Drop shot- nya bagus, smash -nya ke pinggir bagus, jadi saya enggak khawatir walau saya di depan. Itulah keunikan partner-partner saya.”

  • Saat Jakarta Sunyi karena Pendemi

    Dalam catatan sejarah, negeri ini tak sekali ini menerima pandemi. Tahun 1918 Indonesia –dulu Hindia Belanda- dilanda oleh flu Spanyol yang menyebabkan kematian hingga 1,5 juta jiwa. Tahun sebelumnya, wabah penyakit pes sudah lebih dulu meluluhlantakkan mengganas di seantero Jawa. Jalan Sudirman yang sepi saat pendemi Covid-19. (Fernando Randy/Historia). Toko-toko yang tutup di kawasan Senen Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Suasana sepi tempat berjualan pakaian di kawasan Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Sejak virus corona atau Covid-19 mulai masuk ke Indonesia, dampaknya langsung terasa ke seluruh kota, terutama Jakarta. Jakarta hingga saat ini masih menjadi daerah dengan kasus tertinggi. Mengacu dari laman corona-jakarta.co.id hampir 4 ribu orang terjangkit virus yang menyerang saluran pernapasan ini. Toko perabotan di Jakarta yang tutup saat pendemi Covid-19. (Fernando Randy/Historia). Seorang pegawai toko tampak lesu saat tokonya tutup karena pendemi. (Fernando Randy/Historia). Kawasan Sarinah yang terpaksa tutup saat pendemi. (Fernando Randy/Historia). Seorang warga melintas ditengah tutupnya food court di Sarinah. (Fernando Randy/Historia). Dengan makin meluasnya penyebaran virus korona akhirnya Presiden Joko Widodo mengeluarkan himbauan untuk mengkarantina diri. Mulai dari sekolah yang diliburkan hingga para pekerja yang diharapkan untuk bekerja dari rumah. Dengan kondisi tersebut banyak perubahan yang terlihat pada kota metropolitan seperti Jakarta. Kota yang biasanya hampir tidak pernah tidur, kini seakan berhenti berdetak. Kawasan Kuningan Jakarta yang tampak kosong dan sepi. (Fernando Randy/Historia). Kolam renang di Kuningan Jakarta yang tampak sepi. (Fernando Randy/Historia). Lampu gedung perkantoran yang tidak hidup semua dikarenakan para karyawan kerja dari rumah. (Fernando Randy/Historia). Kantor yang biasanya ramai di kawasan Sudirman, tampak sepi di tengah pendemi. (Fernando Randy/Historia). Mall-mall yang biasa ramai oleh warga kota, kini sepi. Tidak lagi terlihat para pekerja sibuk menawarkan dagangan toko mereka, aktifitas pun hanya terbatas pada gerai yang menjual kebutuhan pokok makanan. Jalanan pun lenggang, terlihat wajah lusuh para ojek online yang tetap berusaha mencari nafkah. Kedai kopi yang saban hari selalu penuh oleh pekerja Jakarta untuk memenuhi asupan kafein mereka kini melompong. Mal di Jakarta yang tutup karena pendemi Covid-19. (Fernando Randy/Historia). Sangking sepinya bahkan seorang pengunjung tidak malu untuk tertidur di mall. (Fernando Randy/Historia). Covid-19 membuat para pedangang merugi, tak jarang mereka hingga tertidur menunggu pembeli. (Fernando Randy/Historia). Walaupun tanda-tanda pendemi ini belum akan berakhir, dampak dari berhentinya segala aktifitas warga Jakarta pun ada sisi positifnya. Salah satunya adalah menurunnya polusi udara di Jakarta. Pembatasan ruang gerak masyarakat dalam bertransportasi nyatanya berdampak baik untuk kualitas udara kota ini.

  • Awal Praktik Keislaman di Indonesia

    Islamisasi sudah terjadi berabad-abad di Nusantara. Namun, bukan berarti praktik keislaman, khususnya salat dan puasa, sudah dilakukan bersamaan dengan proses itu secara masif. Jajang Jahroni, dosen Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah, mengatakan bukti-bukti Islamisasi paling tidak sudah muncul sejak abad ke-12 dan ke-13. Namun, ketika itu identitas keislaman masih terbatas pada syahadat, berkhitan, dan menghindari makan daging babi. Bukti Islamisasi dari nisan-nisan bertulisan Arab hanya menunjukkan bahwa sudah ada orang-orang yang dimakamkan secara Islam. "Harus dilihat sumber sejarah yang lain. Ketika melihat nisan,keislamannya seperti apa? Apakah salat dan sebagainya. Ini pertanyaan sulit," kata Jajang dalam diskusi "Tradisi dan Harmoni Ramadan pada Peradaban Nusantara" via zoom yang diselenggarakan Puslit Arkenaspada Rabu, 20 Mei 2020. Mengenal Islam Secara Bertahap Pada masa penyebaran Islam di Jawa, walisongo sudah mengenalkan aspek ketuhanan hingga syariat. Namun, itu baru dilaksanakan oleh beberapa kantung masyarakat muslim, khususnya di pesisir. "Ini masih proses konversi. Orang-orang Majapahit banyak yang masuk Islam dan menjadi santri walisongo. Yang melahirkan Demak itu kan orang-orang Majapahit juga," kata Jajang. Bagaimana dengan masyarakat yang belum menjadi sasaran dakwah? Jajang menduga mereka masih mempraktikkan agama lokal. "Orang masih campur-campur, saya kira," kata Jajang. "Semakin ke utara, di mana banyak walisongo berdakwah di sana semakin ortodoks." Jajang menyebutkan bahwa Islamisasi membutuhkan lembaga yang matang. Misalnya pendakwah. Kendati sudah ada pendakwah pada abad ke-13, jumlahnya masih terbatas. "Biasanya yang masuk Islam cukup rajanya saja. Raja masuk Islam rakyatnya ikutan. Raja itu makrokosmos. Raja pindah ke timur, semua pindah. Watak kerajaan sebelum Islam kan begini," kata Jajang. Sejumlah kesultanan Islam, kata Jajang, perlu dikecualikan. Kesultanan Banten adalah salah satu yang sudah menerapkan syariat Islam, termasuk berpuasa saat Ramadan walaupun masih terbatas. "Saat itu puasa masih elitis. Semakin jauh dari keraton , saya pikir orang tidak berpuasa," kata Jajang. Tubagus Najib, ahli arkeologi Islam, manambahkan bahwa pada awal Islam datang, yang didakwahkan bukan persoalan fikih yang syar'i. Namun tarekat yang banyak diminati masyarakat Nusantara. Di antara tarekat itu, kemungkinan rukun Islam belum dianggap perlu. Ketika itu, yang paling dianggap penting adalah pengenalan kepada Allah Swt. "Yang penting eling, ingat sama yang kuasa. Sunan Giri juga pernah menegur kenapa Sunan Kalijaga mengajarkannya begitu? Lalu dijawab oleh Sunan Kalijaga nanti ke depan ada yang meluruskan,” ujar Najib. Berpuasa karena Tuntutan Sosial Sejak kapan muslim Indonesia berpuasa secara masif? Menurut Jajang, salat lima waktu dan puasa Ramadan baru dilaksanakan secara masif pada abad ke-19 ketika pemahaman Islam sudah semakin mantap. "Jadi, baru 100 tahun lebih orang Islam Nusantara berpuasa secara masif. Belum lama," kata Jajang. Puasa Ramadan menjadi identitas keislaman yang penting. Berpuasa bukan hanya persoalan agama, tetapi juga budaya. Seakan ada kebutuhan orang muslim, bahwa ketika Ramadan, mereka akan berusaha untuk berpuasa. Entah itu hanya pada awal atau akhir Ramadan. "Ada tekanan sosial luar biasa. Jadi orang berpuasa karena mungkin merasa nggak enak sama orangtuanya atau nggak enak sama keluarga," kata Jajang. Sama halnya dengan hari raya Idul f itri, banyak orang yang terdorong untuk datang ke lapangan melaksanakan salat id. "Mungkin hari-hari biasanya dia nggak salat (lima waktu, red. )," kata Jajang. Hal itu diamati Snouck Hurgronjedi Aceh pada abad ke-19. Dalam catatannya, Orang Aceh: Budaya, Masyarakat, dan Politik Kolonial , ia menulis bahwa pada bulan puasa banyak orang bersemangat melaksanakan salat tarawih. Namun, mereka mengabaikan kewajiban agama sehari-hari. "Penilaian berlebihan yang populer mengenai tarawih ini dijelaskan melalui hubungannya dengan bulan puasa," tulis Snouck. Menurut Snouck, puasa memiliki tempat yang lebih luhur dalam penilaian masyarakat dibandingkan dalam penilaian hukum. Ada banyak orang yang tak pernah melakukan seumayang menjadi pelaku puasa yang taat. "Setiap ibadah yang secara khusus berkaitan dengan bulan penebusan ini, baik itu wajib maupun sunah, akan dengan penuh semangat dilakukan selengkap mungkin," tulis Snouck. Snouck menyebut di Jawa juga begitu. Mereka yang ikut tarawih berjamaah adalah orang yang tidak melaksanakan salah Jumat. Tidak pula melakukan salat wajib harian di masjid atau langgar. Jajang mengatakan penanda lain masifnya praktik keislaman adalah semakin banyaknya orang Nusantara pergi haji. "Ini butuh dana besar. Banyak orang Islam Jawa yang kaya, misalnya karena tanam paksa. Dia punya lahan disewakan ke Belanda. Dia pilih pergi haji,"  kata Jajang. Hal itu berhubungan dengan kemudahan lalulintas ke Timur Tengah. Semakin banyak orang Nusantara yang belajar Islam di Timur Tengah. Semakin banyak pula pesantren yang tumbuh, khususnya pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. "Akhir abad ke-19 terjadi Islamisasi besar-besaran. Banyak orang naik haji dan banyak yang studi Islam ke Timur Tengah terutama Makkah," kata Jajang. "Ulama-ulama besar di Nusantara produk pada periode itu, generasi abad ke-19 dan awal abad ke-20. Hasyim Asy’ari dan Ahmad Dahlan, misalnya." Kondisi itu berlanjut. Setelah abad ke-20 organisasi Islam bermunculan. Praktik keislaman menjadi lebih masif lagi. "Jadi, Islamisasi itu memiliki tahapan. Orang dulu belajar Islam terbatas, makanya ada tahap-tahap itu," kata Jajang. Hingga 1970-an, orang melaksanakan puasa Ramadan dengan cara yang bersahaja. Penuh dengan simbol-simbol budaya dan sosial. Berpuasa pada saat Ramadan adalah ajang mempererat silaturahim. Sementara puasa menjadi identitas baru terjadi pada dekade terakhir, yaitu pada 1980 dan 1990-an. Sebagian kelompok muslim tak ragu untuk mengedepankan simbol-simbol Islam di ruang publik. "Puasa tak pelak dijadikan simbol keislaman pada periode ini. Muncul jargon 'hormati orang yang berpuasa'," kata Jajang. "Waktu saya kecil nggak ada itu." Sekelompok Islam kemudian menjadikan Ramadan sebagai bulan amar makruf nahi munkar yang diwujudkan dengan menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran. "Mengg e ruduk tempat-tempat yang dianggap maksiat, karena dianggap menodai kesucian bulan Ramadan," kata Jajang. Terjadi pula kapitalisasi Ramadan. Misalnya, muncul banyak tayangan bertema Ramadan di televisi atau media lainnya. Pada akhirnya, Ramadan dan tradisi berpuasa telah menciptakan ruang kultur sosial yang baru. Misalnya, acara buka puasa bersama, perhelatan Ramadan Jazz, juga berbagai kuliner khas Ramadan. "Bukan cuma kalangan kaum muslim tapi nonmuslim juga," kata Jajang. "Ini memperkaya tradisi keislaman Nusantara." Tidak Merusak Tradisi Oleh karena itu, menurut Najib, anggapan ajaran Islam telah merusak tradisi lokal adalah salah besar. "Dalam pandangan orientalis memang seperti itu. Snouck mengatakan tradisi dan Islam, seakan tradisi ini lawan ajaran Islam. Ini salah besar," tegas Najib. Dalam pandangan Islam, kata Najib, tradisi pada dasarnya boleh kecuali yang dilarang. Sementara syariat pada prinsipnya tidak boleh kecuali yang dianjurkan. "Sesungguhnya tradisi Nusantara memiliki kecenderungan pada hal positif dan kreativitas," kata Najib. "Artinya tradisi kita selalu menerima hal-hal baik." Masuknya Islam ke Nusantara justru memunculkan harmoni di antara keduanya. Misalnya, kalimat syahadat yang harus diucapkan ketika seseorang masuk Islam telah melahirkan budaya sekaten. "Sekaten dari kata syahadatain yang dirayakan pada bulan Muharam di Jawa,"  kata Najib . Arsitektur masjid pun tak lepas dari bentuk-bentuk budaya lokal. Misalnya, bentuk atap masjid yang beratap tumpang. "Bentuk atap masjid yang tiga susun itu saya kira sejak sebelum Islam sudah ada. Waktu Islam datang ditafsirkan menurut Islam sebagai simbol iman, Islam, ihsan. Jadi pas. Tidak ada yang merasa tersinggung atau tersaingi," kata Jajang. Di manapun di Nusantara, Jajang melihat Islam dan budaya lokal selalu saling mengisi. Pun di negara-negara lain yang terdapat komunitas Islam. "Islam di mana-mana justru masuk ke budaya lokal, tidak menegasikan budaya lokal," kata Jajang. Kendati begitu proses seleksi juga terjadi. Budaya lokal yang cocok dan sesuai dengan ajaran Islam diambil. Sementara yang dianggap tak sesuai ditinggalkan. Itu pun dilakukan secara perlahan, sehingga masyarakat lokal lambat laun menerima kehadiran Islam dengan baik. "Ini melahirkan mozaik yang sangat cantik," ujar Jajang.

  • Dari Sekolah Liar hingga Anarkisme

    PARTAI Komunis Indonesia (PKI) tidak serta-merta berdiri. Lewat Sarekat Islam (SI), organisasi bumiputra terbesar saat itu, aktivis PKI bergerak dan melakukan konsolidasi anggota di tingkat basis. Pada kongres 1921, SI melarang keanggotaan rangkap. Akibatnya, para aktivis PKI mesti keluar. Organisasi terbagi menjadi dua: SI Putih dan SI Merah. SI Putih dipimpin Haji Agus Salim dan Abdoel Moeis (di Yogyakarta), sementara SI Merah dipimpin Semaoen dan Alimin (di Semarang).

  • Alfiah Muhadi, Pendakwah Perempuan yang Peduli Nasib Kaumnya

    ALFIAH Muhadi sedang hamil tua kala clash II terjadi di Yogyakarta. Lantaran tidak bisa ikut berjuang langsung, ia sebisanya membantu para gerilyawan dengan mengumpulkan bekal untuk bertahan di pedalaman. Bersama suami ia beberapakali menyamar sebagai penjual buah atau pedagang sayur. Namun karna rumahnya hanya berjarak 300 meter dari pos tantara Belanda, kegiatannya tercium. Rumah Alfiah digerebek, suaminya ditangkap dan ditahan bersama pejuang lain. Alfiah tak tahu di mana suaminya ditahan. Ia berusaha mencari tahu agar upaya pembebasan suaminya bisa dilakukan. “Namun usahaku sia-sia. Baru setelah Yogyakarta dapat direbut kembali dan suasana sudah tenang, kami dapat berkumpul kembali,” kata Alfiah dalam kumpulan memoar perempuan, Sumbangihku Bagi Ibu Pertiwi. Kebersamaan yang kembali terjalin itu hanya bertahan selama empat tahun. Pada 1953 suaminya meninggal. Alfiah lantas membesarkan anaknya seorang diri sembari terus aktif dalam gerakan perempuan. Memperjuangkan nasib perempuan menjadi ketertarikan Alfiah sejak kecil. Alih-alih mendaftar sebagai guru selulusnya dari Sekolah Guru Muhammadiyah (Mualimat) Yogyakarta pada 1937, perempuan kelahiran Karanganyar, Kebumen itu malah masuk organisasi perempuan Aisyiyah dan Pemuda Putri Indonesia (PPI). Kala itu, banyak perempuan masih buta huruf dan keadaan sosial-ekonomi mereka memprihatinkan. Menurut Alfiah, penjajahan yang begitu lama tidak memberi kesempatan bagi perempuan rakyat bawah untuk memperbaiki keadaan. “Hubungan antara perempuan kalangan biasa dengan perempuan kaum atas hampir tak ada. Kalaupun ada, hubungan itu bersifat feodal,” kata Alfiah. Alfiah menganggap kultur feodal itu juga membuat perempuan sulit mengembangkan diri. Ia pun berusaha menguarangi masalah ini. Alfiah kemudian bekerjasama dengan Wanita Taman Siswa untuk mengajar perempuan di Yogyakarta agar terbebas dari buta huruf dan sikap rendah diri akibat hidup di lingkungan feodal. “Sedikit demi sedikit terlihat hasilnya, meskipun tidak secara total. Yang penting pula timbul rasa menghargai antar sesama,” kata Alfiah. Kepeduliannya pada nasib perempuan juga ia suarakan kala mengisi pidato pada Kongres ke-28 Aisyiyah di Medan. Pidato Alfiah berjudul “Harapan Dunia Kepada Kaum Wanita”. Menurutnya, negara akan menjadi baik bila kaum perempuannya baik dan terdidik. Alfiah ditugasi Aisyiyah mengisi ceramah di cabang-cabang Aisyiyah, khususnya wilayah Kedu dan Banyumas. Pada 1939 ia pernah berdakwah di daerah Banyumas bersama Jendral Sudirman yang kala itu merupakan pemimpin Hizbul Wathon, organisasi kepanduan Pemuda Muhammadiyah. Didampingi istri Surdirman, beberapakali ia naik dokar keluar-masuk desa untuk memberikan ceramah. “Dakwahku di Banyumas seiring dengan keluarga Sudirman,” kata Alfiah. Untuk dakwahnya di daerah Kedu, Puworejo, dan Kutoarjo, Alfiah seringkali bersama Sarbini dan istrinya, Juffrow  Salami, yang bekerja sebagai guru di HIS Muhammadiyah Kutoarjo. Dalam setiap dakwahnya Alfiah selalu menyampaikan tentang kedudukan perempuan dalam Islam. Bahwasannya perempuan dan lelaki sama-sama hamba Allah yang hadir di muka bumi dengan tanggung jawab masing-masing. “Mengapa hal itu kutekankan, karena pada saat itu masyarakat mempunyai anggapan bahwa perempuan hanya menjadi kanca wingking , teman di belakang suaminya,” kata Alfiah. Selain aktif berdakwah dan terjun langsung dalam upaya pemberantasan buta huruf, Alfiah juga terlibat dalam mengelola majalah Suara Aisyiyah  bagian Karanganyar bersama rekannya Hayinah Mawardi. Namun aktivitas itu berubah semasa pendudukan Jepang lantaran semua organisasi perempuan yang ada harus dilebur dalam Fujinkai. Setelah kemerdekaan, Alfiah pindah ke Yogyakarta mengikuti suaminya. Mereka tinggal di Ngadiwinatan. Pada 1957, Alfiah bergabung dengan Balai Kesejahteraan Rumah Tangga di Yogykarta. Ia bertugas memberikan penyuluhan tentang perkawinan menurut ajaran Islam bahwa suami tidak semestinya berlaku sewenang-wenang terhadap istri dan anak merupakan tanggung jawab orang tua. Di samping itu, ia juga memberikan kursus keterampilan pada anak perempuan. Ketika Menteri Agama mendirikan Badan Penyuluh Pernikahan dan Penasihat Perceraian (BP4), Alfiah menjadi salah satu pengurus di Yogyakarta. Alfiah duduk sebagai seksi penerangan ketika Perkumpulan Keluarga Berencana (PKB) didirikan pada 1957. Meski beberapa golongan agama Islam menolak KB, Alfiah berusaha menjelaskan tiga faktor yang menentukan baik tidaknya KB, yakni niat penggunaan, alat yang dipakai, dan syarat penggunaannya. Ia terus duduk di posisi seksi penerangan hingga kemudian PKB berubah menjadi PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia). Atas keaktifannya di bidang sosial, pemerintah menganugerahinya penghargaan Satya Lancana Kebaktian Sosial berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 120/TK/Tahun 1996. Suara Aisyiyah  Vol. 74 tahun 1997 menulis, penghargaan itu diserahkan Gubernur Kepala Daerah DIY Sri Pakualam VIII di Bangsal Kepatihan Komplek Kantor Gubernur DIY pada 15 Agustus 1997.*

  • Melacak Sejarah Halalbihalal di Masa Kolonial

    HALALBIHALAL adalah salah satu tradisi penting umat Islam Indonesia saat merayakan Idul Fitri. Kamus Besar Bahasa Indonesia  (KBBI) daring mengartikan halalbihalal sebagai ‘hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dan sebagainya) oleh sekelompok orang’. Menariknya, contoh kalimat yang dipakai untuk memudahkan pemahaman pembaca juga menekankan betapa Indonesianya tradisi ini bahkan dalam perspektif tradisi Muslim global: ‘--merupakan suatu kebiasaan khas Indonesia’. Walau dalam tata bahasa Arab istilah halalbihalal tidak dikenal, istilah ini sudah mengakar kuat di tengah masyarakat Indonesia dan berasosiasi dengan hari Lebaran.

  • Semaun Si Propagandis

    Sneevliet menemukan Semaun sebagai seorang pemuda berani yang berbakat memimpin kaum buruh. Dalam sebuah suratnya Semaun memanggil Sneevliet, “Mijn Goeroe” (guruku).

  • Meriam PRRI yang “Bikin Ngeri” A. Yani

    USAI mengikuti Misi Yani keliling Eropa untuk membeli senjata, awal 1960-an, Hasjim Ning keponakan Bung Hatta yang pengusaha berjuluk “Raja Mobil Indonesia”, mampir ke Tokyo bersama Mayjen A. Yani (deputi II KSAD). Mereka dijemput istri masing-masing di sana. Keduanya lantas menginap di sebuah hotel yang sama di Tokyo. Saat di hotel itulah Hasjim mendapati istrinya, Ivonne, digoda seorang pria Jepang. Perkataan-menggoda pria itu didengar Hasjim maupun Yani. “Kurang ajar banget itu Jepang. Pukul saja, Pak Hasjim,” kata Yani yang geram, dikutip Hasjim dalam otobiografinya yang ditulis AA Navis, Pasang Surut Pengusaha Pejuang . “Kompor” Yani membuat dada Hasjim makin membara. Sejurus kemudian, dia langsung melayangkan tinjunya ke pria Jepang tadi sambil mengucapkan kalimat bakero omae . Si Jepang langsung tersungkur dan mengundang kedatangan security hotel. Hasjim pun menjelaskan dan si pria penggoda tadi langsung diusir security . Momen di Tokyo itu hanya satu dari sekian banyak kisah persahabatan Hasjim dengan Yani. Keduanya saling percaya bukan hanya urusan kerjaan namun juga urusan pribadi. “Aku mengenalnya sudah lama. Semenjak zaman penjajahan Belanda. Di Bogor,” kata Hasjim mengenang. Kedekatan itulah yang membuat Yani kerap meminta bantuan atau mengajak Hasjim dalam urusan-urusan penting. Salah satunya, mengikuti Misi Yani. “Khusus mengenai tugasku ialah untuk mengimpor kendaraan untuk keperluan militer, seperti jip dan truk, secara komersial dengan pembayaran lima tahun atas jaminan Bank Indonesia,” kata Hasjim. Saat Yani dirundung fitnah korupsi menjelang pengangkatannya sebagai KSAD karena kedapatan memiliki sebuah sedan Mercedes Benz baru, Hasjim membelanya. Kepada Presiden Sukarno, yang –ingin memastikan calon panglima AD-nya itu bebas dari skandal– memanggil Hasjim ke Istana, Hasjim pun menjelaskan duduk perkaranya. “Kepada Bung Karno aku terangkan bahwa Mercedes itu diperoleh A. Yani atas usaha aku dengan Suwarna yang menjadi dealer Mercedes di Indonesia. Dan persetujuan perwakilan Mercedes. Sehingga harganya memperoleh banyak korting,” kata Hasjim. Permasalahan yang dihadapi Yani pun clear . Beberapa waktu kemudian, Presiden Sukarno mengangkat Yani menjadi orang nomor satu di angkatan darat menggantikan Jenderal Nasution. Kepercayaan Yani pada Hasjim bahkan dibuktikan dengan sampai pernah mengajaknya ikut pendaratan pasukan APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) di Sumatera Barat ketika Yani dipercaya KSAD AH Nasution memimpin Operasi 17 Agustus untuk memadamkan gerakan PRRI. “Operasi militer ini khusus untuk memadamkan pemberontakan PRRI di Sumatera Tengah (Sumatera Barat dan Riau) dengan mengerahkan pasukan besar yang terdiri dari ketiga Angkatan Perang. Selain Kolonel A. Yani operasi ini dipimpin pula oleh Kolonel (L) John Lie dan Letnan Kolonel (U) Wiriadinata,” tulis sejarawan Payung Bangun dalam Kolonel Maludin Simbolon: Liku-Liku Perjuangannya dalam Pembangunan Bangsa . Sebagai “orang awak”, pengetahuan dan jaringan Hasjim tentu amat diperlukan Yani. Pengetahuan itu pula yang membuat Hasjim bisa mengeluarkan joke yang awalnya tak dipahami Yani ketika keduanya bertemu setelah operasi selesai. Yani membuka obrolan dengan mengomentari pertahanan pasukan PRRI yang rapuh. “Bagaimana itu orang awak, Pak Hasjim. Masa tidak satu pun tembakan mereka menyambut kami ketika mendarat. Padahal, aku mendarat naik drum kosong,” kata Yani. “Kabarnya, pada mulanya Pak Yani mau mendarat di pantai Pariaman pada waktu subuh. Tapi demi melihat banyaknya pasukan dengan meriam pantai terarah ke laut pada waktu subuh itu, Pak Yani lantas mengalihkan pendaratan ke pantai utara Padang,” jawab Hasjim sambil membanyol. “Itu tidak benar. Siapa yang bilang itu?” kata Yani serius karena tak paham maksud Hasjim membanyol. Hasjim hanya tertawa tahu Yani tak paham banyolannya. Banyolannya baru dipahami Yani dalam lain kesempatan ketika keduanya bertemu. “Kemudian aku buat joke bahwa ia membatalkan pendaratan di pantai Pariaman pada waktu subuh karena melihat pasukan meriam pantai PRRI telah menanti dengan jumlah yang sulit dihitung, sehingga ia mengalihkan pendaratan ke pantai utara Kota Padang. Padahal, yang dilihatnya itu hanyalah penduduk yang sedang buang air,” kata Hasjim. Yani yang akhirnya paham banyolan itupun langsung terpingkal-pingkal. “ Joke itu lama sekali terkesan padanya, sehingga sampai keluar air matanya karena tertawa. Cerita yang aku sampaikan itu hanyalah joke orang awak di Jakarta, tentang kebiasaan penduduk pesisir yang berak di tepi pantai waktu subuh, lalu dihubungkan dengan pendaratan A. Yani yang sukses itu."

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page