top of page

Hasil pencarian

9741 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Shili Foshi yang Berubah Jadi San-fo-tsi

    Di laut selatan sebuah kerajaan bangsa liar dikenal dengan nama Kerajaan San-fo-tsi. Ia memerintah 15 macam negeri. Letak San-fo-tsi ada di antara Chen-la dan Shepo. Bila angin baik, berlayar dari Kwang-tung ke negara itu bisa ditempuh dalam waktu 20 hari.  Negeri itu tak menghasilkan gandum. Mereka memproduksi padi, kapri kuning dan hijau. Masyarakatnya menggunakan huruf Sanskerta. Mereka juga mengenal huruf Tiongkok. Jika mereka mengirim utusan ke Tiongkok mereka menulis dengan huruf itu. Begitu Dinasti Song (960-1279) di Tiongkok mencatat keberadaan kerajaan San-fo-tsi. Sementara itu, berita dari Zhu Fan Zhi atau Catatan Bangsa Asing yang disusun kepala bea cukai di Quanzhou, Fujian, Zhao Rugua pada masa Dinasti Song, menguraikan San-fo-tsi adalah negeri di selatan Ch-uan-hou, yang berhadapan dengan Formosa Utara. Rakyatnya bersarung kain kapas dan berpayung sutra. Mereka pandai berperang, baik di laut maupun di darat. Organisasi ketentaraannya sangat rapi.   Banyak ahli, termasuk W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa, yang menafsirkan San-Fo-tsi sebagai Kedatuan Sriwijaya yang ada di Palembang . Arkeolog George Cœdès dalam Kedatuan Sriwijaya pun mendukung pernyataan itu. Ia mengutip berita Tionghoa Zhao Rugua yang juga mengatakan kalau San-Fo-tsi berada di tepi laut besar dan menguasai lalu lintas pelayaran dari dan ke Tiongkok. Namun, Slamet Muljana dalam Kuntala, Sriwijaya, dan Suwarnabhumi berteori bahwa San-fo-tsi adalah kerajaan yang berbeda. San-fo-tsi mulai tercatat pada abad ke-10 merupakan kelanjutan dari kerajaan Sriwijaya yang pernah berjaya pada abad ke-7. Sebelumnya, Kerajaan Sriwijaya pernah disebut dalam catatan Tiongkok dengan nama Shili foshi (Che-li-fo-che). Nama ini tercatat dalam Sejarah Baru Dinasti T’ang ( Hsin-t’ang-shu ) dari 618-907, maupun dalam karya biksu Tiongkok I-Tsing yang mampir di Sumatra dalam perjalanannya ke Nalanda. Hsin-t’ang-shu mencatat, Kerajaan Shili foshi mengirim utusan ke Tiongkok dalam kurun waktu 670-673 dan 737-741. Namun, sejak itu, utusan dari sana tak dikabarkan lagi. Beberapa abad setelah Shili foshi tak muncul, dalam perdagangan internasional pada 960 muncul kerajaan di Sumatra yang dicatat dengan nama berbeda, San-fo-tsi. Negeri ini mengirim utusan ke Tiongkok berkali-kali. Sejarah Dinasti Sung ( Sung Shi ) mencatat kedatangan utusan itu ke Tiongkok pada 960, 962, 971, 974, 975, 980, 983, 985, dan 988. Utusan yang terakhir tinggal di Kanton sampai 990. Waktu itu ia medengar negerinya sedang diserang oleh tentara dari negeri Cho-p’o. Hampir bersamaan dengan berita Tiongkok tentang adanya sebuah kerajaan bernama San-fo-tsi di lautan selatan, sejarah India memberikan petunjuk keberadaan kerajaan di tanah Sumatra, yaitu dalam prasasti Nalanda dari abad ke-9. Tersebutlah Raja Dewapaladewa, Raja Benggala di India, memerintahkan membuat prasasti yang memberitakan Sri Maharaja Balaputradewa menghadiahkan beberapa bangunan vihara kepada Universitas Nalanda. Ia berasal dari Suwarnadwipa, yang berarti Pulau Emas, dan menganut agama Buddha. Tertulis pula kakek sang Raja Balaputradewa yang dikenal dengan sebutan Sailendravamsatilaka Sri Wirawairimathana atau permata keluarga Sailendra, pembunuh musuh-musuh yang gagah perwira. Sejarawan Slamet Muljana berpendapat Suwarnadwipa adalah nama Sanskerta asli yang tidak digunakan dalam prasasti-prasasti Jawa dan Melayu. Yang digunakan dalam prasasti Jawa, yaitu Prasasti Amoghapasa (1286), adalah Suwarnabhumi. Arca ini dikirim Raja Kertanegara dari Singhasari kepada Raja Tribhuwanaraja sebagai Raja Suwarnabhumi. Ekspedisi yang terjadi pada 1275 ini kemudian dikenal sebagai Pamalayu. Dengan begitu, San-fo-tsi sebenarnya adalah transliterasi dari kata swarnabhumi. Ia merupakan kelanjutan dari Sriwijaya yang pernah berjaya pada abad ke-7. Pendapat itu kemudian didukung oleh sejarawan Suwardono dalam Sejarah Indonesia Masa Hidu-Buddha. “Kerajaan San-fo-tsi merupakan kelanjutan atau kebangkitan kembali dari Sriwijaya (Shili Foshi),” kata Suwardono. Analoginya, menurut Suwardono, seperti Kerjaan Singhasari yang didirikan oleh Rajasa. Ia kemudian hancur pada 1292. Berikutnya timbul kerajaan baru bernama Majapahit. Mengapa tak diberi nama yang sama oleh Wijaya? Alasannya, Majapahit ibu kotanya tak lagi di tempat di mana Singasari beribukota. Wijaya memindahkannya ke Trik, Mojokerto. Begitu juga dengan Shili foshi yang sempat tenggelam dalam hubungan internasional selama sekira 150 tahun lebih. Ia baru bangkit lagi pada akhir abad ke-9. “Bangkitnya Sriwijaya sebagai negara baru serta nama yang baru yaitu San-fo-tsi (Suwarnabhumi), dengan kota yang baru pula, yakni Jambi." Ibu Kota Baru Sriwijaya Namun, dalam Sriwijaya, Slamet Muljana seakan mengubah pandangannya. Swarnadwipa tak mungkin ditranskripsikan San-fo-tsi dalam tulisan Tionghoa. Sementara Swarnadwipa yang ada dalam prasasti Nalanda jelas merujuk pada pusat pemerintahan yang sama dengan yang disebut dalam prasasti-prasasti Sriwijaya. Alasannya, nama Swarnadwipa telah banyak dikenal dalam berita Tionghoa. I-Tsing menyebut dalam karyanya dengan Chin-chou atau Pulau Emas. Baik Swarnadwipa maupun Swarnabhumi punya arti yang sama dengan itu sebagai sebutan lawas untuk Pulau Sumatra. “Ia tak mentranskripsikannya ke dalam huruf Tionghoa tapi menerjemahkannya,” jelas Slamet Muljana. Pun letaknya, menurut Slamet Muljana, bukan pula di Jambi. Justru Jambi mungkin adalah bawahan San-fo-tsi. Dalam Sung-hui-yao atau catatan pemerintahan pada masa Dinasti Sung, pada 1082, Kerajaan Jambi masih berdiri sendiri sebagai bagian dari kerajaan San-fo-tsi. Kerajaan Jambi itu disebut Chan-pei. Nama yang mirip, yaitu Kien-pi disebutkan dalam Zhu Fan Zhi sebagai salah satu dari 15 negara bawahan San-fo-tsi. Selain Kien-pi, Zhu Fan Zhi yang disusun pada 1225 menyebut negeri bawahan kerajaan San-fo-tsi lainnya yaitu Pong-fong, Tong-ya-nong, Ling-ya-si-kia, Kilantan, Fo-lo-an, Ji-lo-ting, Tsien-mai, Pa-t’a, Tan-ma-ling, Kia-lo-hi, Pa-lin-fong, Sin-to, Lan-mu-li, dan Siam. Slamet Muljana kemudian menyamakan Pong-fong dengan Pahang, Tong-ya nong dengan Trengganu, Ling-ya-si-kia dengan Langkasuka, Ki-lan-tan dengan Kelantan, Ji-lo-ting dengan Jelotong di ujung tenggara Semenanjung, Tan-ma-ling dengan Tamralingga, Kia-lo-hi dengan Grahi, Pal-lin-fong dengan Palembang, Sin-to dengan Sunda, Ken-pi dengan Pulau Kempe di teluk Aru, Lan-wu-li dengan Lamuri (Aceh), Si-lan dengan Cyelon atau Sailan atau Sri Lanka. Karena Palembang dan Jambi masuk ke dalam daftar bawahan San-fo-tsi, artinya kerajaan itu tak bisa dicari di keduanya. Slamet Muljana beranggapan San-fo-tsi haruslah transkripsi dari nama tempat yang sudah ada pada masa Sriwijaya. Pasalnya pada 960 ketika Sriwijaya masih berdiri, nama San-fo-tsi telah muncul dalam sejarah Tionghoa. Selain di dalam catatan resminya juga ada dalam Prasasti Kanton (1079) yang mencatat perbaikan kuil Ti’en Ching atas biaya raja San-fo-tsi bernama Ti-hu-ka-lo. Slamet Muljana lalu menemukan transkripsi San-fo-tsi tak jauh dari nama Sambhogin. Ini didapat setelah ia meminta dua orang Tionghoa menulis Sambhogin dengan huruf Tionghoa. “Keduanya menjawab sulit sekali. Namun mereka berusaha juga untuk menulisnya. Mereka lalu membacanya menurut ucapan Mandarin dan Kanton: San-fo-tsi,” kata Slamet Muljana. Berdasarkan percobaan itu, dia yakin kalau San-fo-tsi dalam sejarah Sung adalah transkripsi dari Sambhogin. Sekarang nama itu menjadi Sabukingking, yang kini ada di timur Palembang, di tepi Sungai Musi. “Demikianlah Sabukingking atau Sambhogin adalah ibu kota Sriwijaya pada abad ke-10 ke atas,” kata Slamet Muljana. Artinya, ibu kota Sriwijaya pada abad ke-10 berpindah. Tapi, perpindahan itu tak jauh, dari Palembang ke Sabukingking. “Orang-orang Tionghoa menyebut nama kerajaan, yang pada waktu itu masih jelas bernama Sriwijaya, dengan nama pusat kerajaannya,” kata Slamet Muljana.

  • Dari Manila ke Manila

    SORE itu, 5 September 2019, di salah satu bidang lapangan basket Gelora Bung Karno. Seolah tak mau kalah dari keriuhan sekitar arena yang dikeluarkan suporter timnas Indonesia jelang pertandingan Indonesia kontra Malaysia, Julisa Rastafari acap mengeluarkan suara lantangnya. Urat di tenggorokannya berulangkali menegang kala ia memberi instruksi lewat teriakan. Maklum, arahannya harus terdengar para anak asuhnya. Gaya melatih Julisa memang keras. Seringkali omelan dengan kata-kata kasar keluar dari mulutnya. Sesekali tangannya tampak “gatal” seperti ingin menampar. Namun,  semua itu cair ketika anak-anak asuhnya bisa mempraktikkan arahannya dengan benar, yang diikuti tos atau sekadar acungan jempol. Pun begitu, tak sekali pun terlihat orangtua anak-anak didiknya naik pitam atas gayanya melatih pasukan putri U-14 Indonesia Muda (IM). Sebaliknya, laku-laku Julisa justru beberapakali mengundang tawa kecil beberapa aparat keamanan di pinggir lapangan. “Kalau orang baru kenal pasti enggak betah sama saya. Jadi sebelum mereka minta saya (melatih), duduk bersama dulu orangtuanya. Kalau di lapangan saya (seperti) pakai helm. Saya enggak mau tahu itu anak presiden, pejabat, kalau salah ya saya omelin. Jadi harus commit dulu bahwa di lapangan dia anak gue. Mau gue apain kek, mau dikatain, enggak boleh marah,” kata Julisa kepada Historia. Melatih di IM jadi rutinitas Julisa di usia yang tak lagi muda. Setelah pensiun dari pemain pada 1992, ia sempat masuk kepengurusan Perbasi di Bidang Pembinaan Wanita hingga Bidang SDM dan Sertifikasi (1994-2014). Pernah pula ia melatih timnas U-16 pada 2013 dan U-18 setahun setelahnya. Julisa M. Rastafari tak segan bersikap keras terhadap anak-anak didiknya. (Fernando Randy/Historia). Darah Atlet Ibu dari pilar timnas basket putra Andakara Prastawa Dhyaksa itu juga lahir dari ayah seorang olahragawan. Ia lahir di Jakarta, 30 Juli 1962 dari pasutri Tuti Basuki dan Mursanjoto, kiper timnas Indonesia era 1950-an. Nama lahirnya Julisa Moertoetyana. Rastafari ditambahkan di belakang namanya setelah ia dipersunting pelatih basket legendaris Rastafari Horongbala pada 1991. Belakangan diketahui, ternyata ia masih sepupu dari sprinter legendaris Mohammad Sarengat. Dalam program “Impact” yang dipandu Peter Gontha pada 2007, Sarengat berkisah bahwa ayah Sarengat yang merupakan petenis Prawirosuprapto, merupakan ipar dari Mursanjoto. “Dia (Mursanjoto) awalnya dari IM juga. Jadi darah olahraga orangtua menurun ke saya. Tapi kenapa saya lari ke basket, mulanya gara-gara diledekin kakak saya waktu SD. Sama kakak saya sering diajakin main basket tapi pakai bola tenis. Tempat lilin dijadikan ring mini. Tapi sering dicurangin karena saya enggak ngerti aturannya,” kenangnya. Maka ketika beranjak SMP, ia mulai menseriusi bola basket, termasuk memahami aturan-aturannya, dengan mengikuti ekstrakurikuler di sekolahnya, Santa Theresia. Di situ pula ia mengenal latihan keras hingga membuatnya nyaris kapok main basket. “Pelatihnya di (SMP) Santa Theresia kebetulan bagus. Darnoto, adiknya Ary Sudarsono (pebasket legendaris nasional dan pembawa acara). Galaknya minta ampun. Sadis itu pelatih. Sempat saya ngambek enggak mau basket lagi. Terus ketemu Mas Ary Sudarsono. Dia bilang, mental kamu kecoa! Begitu ‘doang’ ngambek enggak mau basket lagi,” tutur Julisa. Pertemuan dengan Ary Sudarsono itu jadi titik balik kiprahnya. Ia tertantang untuk berlatih lebih keras sembari menempa mental. Maka jika dibilang siapa orang paling berjasa bagi sepakterjangnya di luar keluarga, Ary Sudarsono jawabannya. “Ya karena itu tertantang. Dia bilang, siapa tahu sebentar lagi jadi pemain nasional. Saya pun lanjut latihan dan sering nambah sendiri latihannya. Kebetulan saya juga senang olahraga dari kecil. Stamina dan nafas terbantu dari kegemaran saya olahraga beladiri, mulai dari karate sampai pencak silat. Sempat juga saya ikut Merpati Putih (dilatih) sama Mas Poeng dan Mas Budi (mendiang guru besar Purwoto Hadipoernomo dan Budi Santoso Hadipoernomo) di SD Besuki 3,” imbuhnya. Bak nostalgia dengan masa-masanya menjadi pemain, Julisa kerap berlarian men-dribble bola untuk memberi contoh. (Fernando Randy/Historia). Prestasi di Manila Sejak diguyur wejangan Ary Sudarsono, perlahan tapi pasti kiprah Julisa melesat. Selain digembleng di tim SMP Santa Theresia, ia ditempa di klub pertamanya, Prambors, hingga masuk tim inti DKI Jakarta untuk Pekan Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (POPSI) hingga PON 1977. “Setelah POPSI saya masuk IM dan dari situ bisa terpilih seleksi timnas Perbasi untuk persiapan SEA Games 1983. Dari waktu ke waktu kita TC ( training camp ) di Malaysia. Setiap hari ketemunya tim Malaysia. Eh , enggak tahunya di SEA Games (edisi 1991) kita ‘ngalahin’ dia, hahaha …,” kata Julisa mengenang dibumbui tawa. Dari empat SEA Games, Julisa punya koleksi dua perunggu dan sekeping perak. Dua perunggu diraihnya bersama tim putri di SEA Games 1987 dan 1989. Sementara yang paling bernilai, satu perak, dipetiknya di SEA Games Manila 1991. Di ibukota Filipina itulah Julisa seolah menebus kegagalan ayahnya di Asian Games 1954 di kota yang sama. Timnas PSSI yang saat itu tergolong “macan Asia” justru gagal meraih medali. Catatan RSSSF , Mursanjoto yang tampil menggantikan Parengkuan di bawah mistar, tetap gagal membantu timnas menang di perebutan perunggu. Timnas PSSI keok 4-5 dari Burma (kini Myanmar). “Kalau dapat perunggu rasanya biasa saja ya. Tentu pas meraih perak yang paling berkesan buat saya dan paling saya banggakan. Saat itu kita enggak menyangka bisa mengalahkan Malaysia. Saat TC ketemunya dia terus. Malaysia juga sudah anggap kita di bawahnya dia. Kita juga berpikirnya rebutan perunggu lagi sama Filipina atau tim lain,” sambung Julisa. Di SEA Games 1991 yang bersistem klasemen itu, tim putri Indonesia menang empat dari lima partai yang dimainkan. Malaysia termasuk dari empat lawan yang mampu mereka bekap (Indonesia vs Malaysia: 58-49). Hanya saja, mereka takluk oleh Thailand (54-65) di partai penentuan medali emas. Dua puluh empat tahun lamanya prestasi itu belum pernah disamai apalagi dilewati oleh para penerus Julisa dkk. Baru pada SEA Games 2015, timnas putri di bawah manajer Augie Fantinus dan pelatih Bambang Asdianto Pribadi kembali membawa pulang medali perak. Julisa M. Rastafari bersama sepasukan asuhannya U-14 Indonesia Muda. (Fernando Randy/Historia). Julisa sendiri sempat punya nazar bahwa dia takkan bisa tidur nyenyak dan belum bersedia meninggalkan lapangan untuk melatih jika prestasi tim putri belum bisa menyamainya – medali perak SEA Games. Kini, ia sudah bisa tenang. “Bangga dan terharu melihat timnas basket putri yang meraih kembali perak di SEA Games 2015, kali pertama setelah 24 tahun. Peran Augie sebagai manajer timnas putri pantas diberi acungan jempol,” tulisnya dalam testimoni otobiografi sang manajer, Jump!: Dari Penonton Jadi Manajer Timnas Indonesia .

  • Jagoan PKI Anti Peluru

    PADA 19 September 1948, PKI dan aliansinya yang menamakan diri Front Demokratik Rakyat (FDR) melakukan gerakan bersenjata di Madiun. Menurut Soe Hok Gie, perebutan kota tersebut berlangsung sejak jam 02.00. “Pagi-pagi pada 19 September, pemerintah RI ditumbangkan…” ungkap sejarawan muda asal UI itu dalam Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan . Sehari kemudian Kolonel Djoko Soedjono, salah satu tokoh FDR, menegaskan bahwa tindakan-tindakan di Madiun bukanlah suatu pemberontakan. Dia menyebut istilah gerakan itu sebagai bentuk koreksi dari para pemuda revolusiener. Namun pemerintah RI di bawah Sukarno-Hatta terlanjur menganggapnya sebagai suatu upaya kudeta. Karena dianggap makar, maka pemerintah RI mengerahkan kekuatan militernya guna menumpas gerakan tersebut. Salah satu pasukan yang ditugaskan untuk menghancurkan kekuatan FDR adalah Divisi Siliwangi yang saat itu tengah berhijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta. Sejak awal Oktober 1948, unit-unit Siliwangi sudah bergerak memburu Tentara Merah (istilah untuk kekuatan militer di bawah FDR) ke Madiun. Tanpa perlawanan yang berarti pada 30 September 1948, Madiun bisa dikuasai lagi oleh pasukan pemerintah. “Mayor Sambas Atmadinata dengan Batalyon Kian Santang-nya dan Peleton I MA (Akademi Militer) memasuki kota Madiun…”tulis Himawan Soetanto dalam Perintah Presiden Sukarno: “Rebut Kembali Madiun…”   Gerakan pasukan pemerintah usai menguasai Madiun dilanjutkan dengan operasi perburuan orang-orang FDR ke wilayah-wilayah sekitar Madiun. Laiknya di Madiun, kekuatan FDR di kota-kota lain pun seolah tak bertaji dan selalu berhasil dipukul mundur oleh pasukan Siliwangi. Saat pembebasan suatu kawasan dari tangan FDR, unit-unit Siliwangi dan pasukan pemerintah lainnya melakukan penangkapan terhadap sejumlah tokoh PKI. Mereka terdiri dari prajurit, perangkat desa, lurah dan camat yang diangkat oleh FDR begitu Insiden Madiun meletus. Pada 18 Oktober 1948, giliran Blora jatuh ke tangan pasukan pemerintah yang diwakili oleh Batalyon Kala Hitam dari Divisi Siliwangi. Seperti biasanya, saat pembebasan sebuah kawasan, terdapat sejumlah musuh yang menjadi tawanan. Menurut Mayjen TNI (Purn.) Rachwono (saat itu masih seorang kadet di MA), salah seorang tawanan terlihat bersikap menantang dan seolah tak mau menyerah. Seorang prajurit Kala Hitam kemudian membawa tawanan itu ke tengah alun-alun Blora yang sudah dipenuhi kerumunan rakyat. Dengan menggunakan sepucuk pistol, dia kemudian menembak jagoan PKI itu dari jarak sekitar 30 meter. Dor! Peluru mengenai kening. Namun dia sama sekali bergeming. Hanya asap tipis yang nampak terlihat di sekitar kepalanya. Melihat pemandangan tersebut, seorang sersan berlari ke arah tawanan itu, menuntunnya ke tempat lain lalu dia mundur. Begitu berjarak sekitar 8 meter dari sang tawanan, dia berhenti seraya mengeluarkan pistol mitrailleur Scmeiser kaliber 9 mm dari sarungnya. Pistol dikokang lalu ditarik pelatuknya. Klik. Hanya itu yang terdengar. Dipicu lagi. Klik. Hingga tiga kali ditembakan, pistol itu sama sekali tak berfungsi. Semua yang hadir menjadi bingung termasuk Mayor Kemal Idris, komandan Yon Kala Hitam. Di tengah kebingungan itu, seorang komandan peleton menghampiri Mayor Kemal. “Ada apa, Mayor?” tanyanya. “Itu tawanan mita mati,” jawab Kemal. Tanpa banyak cakap lagi, sang Danton mencabut pistol Parabellum kaliber 9 mm dari sarungnya. Dia melambaikan tangannya kepada tawanan itu supaya mendekat. Seperti kerbau dicocok hidungnya, sang tawanan berjalan pelan menghampiri. Begitu dekat, sang Danton lalu menempelkan pistolnya ke kening jagoan PKI itu. Thek! Thek! Dua kali dipicu kembali pistol tidak berbunyi. “Punya ilmu ya?” tanya sang Danton. “Ndak…” jawab tawanan. Pistol dikokang lagi. Laras ditempelkan kembali ke kening tawanan. Dor! Kali ini dia terjengkang dan langsung roboh tak berkutik lagi. “Rupanya, jawaban “ndak” dari sang jagoan merupakan kunci pelepasan ilmu kebalnya sehingga dia mati sesuai permintaannya…” ungkap Rachwono dalam sebuah dokumen pribadinya. Mayor Kemal Idris termasuk orang yang kerap melihat kejadian aneh seperti di alun-alun Blora. Saat membebaskan Pati (pada Oktober 1948 juga), dia pun terlibat dalam kejadian serupa. Bahkan menurut Kemal, kejadian itu bukan saja disaksikan masyarakat banyak dan puluhan anak buahnya namun juga melibatkan mata perwira Australia Kolonel Stewart, seorang peninjau dari Komisi Tiga Negara (KTN). Itu nama sebuah lembaga yang dibuat PBB untuk mengawasi gencatan senjata antara Belanda-Indonesia pasca Perjanjian Renville. “Dia pun sampai heran dan bingung melihat kejadian itu,” ujar Kemal Idris dalam biografinya, Bertarung dalam Revolusi yang disusun oleh Rosihan Anwar, Ramadhan K.H. , Ray Rizal dan Dien Madjid. Ceritanya, seorang benggol (jagoan) PKI berhasil ditangkap. Setelah melalui pengadilan kilat, diputuskan dia mendapat hukuman mati. Maka eksekusi pun dilangsung di alun-alun Pati dengan disaksikan banyak orang. Namun berkali-kali ditembak dengan menggunakan berbagai jenis senjata (termasuk senapan otomatis), si benggol tetap segar bugar. Giliran Letnah Ahmad yang kemudian mencoba untuk mengeksekusi tawanan kebal peluru itu. Saat berhadapan dengan sang benggol , terjadilah dialog. “Kemana kawan-kawan kamu?” tanya Letnan Ahmad. Si benggol diam seribu bahasa. “Kalau kamu diam saja, kamu saya tembak!” hardik Letnan Ahmad. “Tembak saja,” ujar tawanan dalam nada tenang. Letnan Ahmad mengeluarkan sebutir peluru dari magasin pistolnya. Setelah menggesek-gesekannya ke tanah, peluru itu dimasukan kembali ke magasin. “Kamu mau mati ya?” “Ya.” Sang letnan kemudian mengarahkan pistol ke dada sang benggol . Dor! Suara pistol memecah ketegangan. Tawanan terhukum mati pun terpental. Dia langsung tewas seketika. Di Punung, Pacitan, para kadet MA mengalami kejadian serupa. Seperti dikisahkan oleh Daud Sinjal dalam Laporan Kepada Bangsa Militer Akademi Yogya , tersebutlah seorang lurah pro PKI yang diputuskan pengadilan kilat harus dihukum mati. Lurah yang dikenal sebagai seorang warok (jawara) itu lantas menghadapi regu tembak dengan sikap jumawa. Benar saja ketika ditembak, sang lurah sama sekali tidak mati. Alih-alih mati, darah yang keluar dari batok kepalanya malah dihirup kembali dengan tenangnya. Untunglah dalam situasi kritis itu, seorang tua menghampiri  kadet Suhardiman. Dia kemudian berbisik,” Den Hardiman, dia punya aji-aji hitam di kolornya.” Jimat itu kemudian diambil. Hukuman tembak dilanjutkan. Barulah pada tembakan ke-4, sang warok itu tewas bersimbah darah.

  • Gamelan Rantang dari Pengasingan

    Kamp Tanah Merah terletak di pedalaman hutan kawasan atas aliran Sungai Digul yang penuh buaya. Jaraknya kira-kira 160 km dari Merauke, empat malam jika naik sampan. Pada Maret 1927, kapal dari Surabaya berlayar menuju tempat itu membawa rombongan besar pertama tahanan politik Belanda. Mereka yang dikirim ke kamp adalah orang-orang yang membangkang terhadap pemerintah kolonial Belanda. Salah satu dari para tahanan rombongan pertama itu adalah Pontjopangrawit. Seorang seniman sekaligus pejuang kemerdekaan dari Surakarta. Di Tanah Merah, Pontjopangrawit membuat seperangkat gamelan yang di kemudian hari dikenal sebagai Gamelan Digul. Kaleng-Kaleng Susu Di Kamp Tanah Merah, para tahanan harus membangun rumah sendiri. Mereka menebang pohon untuk papan dan tiang dengan dua kilogram paku dan besi-besi yang sudah berkarat. Paku dan perkakas bangunan itulah yang dimanfaatkan Pontjopangrawit untuk membuat gamelan. “Ia mula-mula membuat gamelannya dari kaleng tempat susu bubuk (yang tentunya didatangkan dari Ambon) sebagai pengganti bonang-bonangnya. Rebabnya terbuat dari kaleng sardine dan kulit binatang, karena ia tidak bisa menemukan isi perut atau kantung empedu kerbau, begitu juga tidak ada separoh tempurung kelapa yang bisa digunakan untuk membuat perut rebab,” tulis Margaret J. Kartomi dalam Gamelan Digul di Balik Sosok Seorang Pejuang . Sementara itu, untuk membuat gong gedhé kemodhong , Pontjopangrawit dan kawan-kawannya menggunakan periuk tanah besar, yang biasa digunakan di dapur. Periuk itu ditaruh di dalam sebuah kotak kayu, dengan dua bilahan-nada berjendul dari besi. Gong dipasang bergantung pada rentangan tali di atasnya. Kaleng-kaleng susu yang dipakai untuk dua bonangnya, pada akhir 1920 diganti dengan rantang besi yang sangat berat. Menurut Makmud Amin, eks Digulis yang diwawancarai Kartomi, Pontjopangrawit berhasil mendapat rantang buatan Belanda yang bagus dan tidak lagi dipakai oleh penduduk Belanda di Hindia. “Rantang tentu saja berbunyi lebih bagus dan lebih panjang daripada kaleng susu yang tidak ada harganya. Sampai hari ini pada umumnya bunyinya masih tetap murni dan stabil,” sebut Kartomi. Gamelan Digul dicat warna hijau dan kuning. Namun analisis sayatan melintang pigmen menunjukan bahwa sebelumnya gamelan tersebut berwarna hijau muda. Awalnya gamelan ini juga tidak diberi nama sepeti gamelan-gamelan lain. Nama “Gamelan Digul” disematkan untuk membedakannya dengan gamelan perunggu lain di Universitas Monash, lokasi gamelan itu saat ini. Rantang besi digunakan untuk bonang barung. (Chrish Basile/Arsip Departemen Musik Universitas Monash). Hari Buruh Di kamp, Gamelan Digul sering digunakan untuk mengiringi pertunjukan kesenian Jawa seperti wayang orang dan ketoprak. Menurut Kartomi, Gamelan Digul menjadi sarana hiburan, kesibukan kesenian, dan kegembiraan di tengah kehidupan kaum buangan. Membuat mereka merasa agak longgar dari kerasnya kehidupan di kamp. Mas Marco Kartodikromo, penulis yang juga diasingkan ke Digul hingga meninggal karena malaria, menyebut gamelan ini dalam bukunya berjudul Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel . “Pada 1 Mei 1928 orang-orang itu mengadakan perayaan untuk memperingati Hari Buruh tanggal 1 Mei dan menyelenggarakan berbagai pertunjukan seperti gamelan, musik, barongan, liongan, sport padvinder (kepanduan) dst. Gamelan dibuat dari rantang seng oleh Pontjopangrawit, buangan dari Solo,” tulis Marco. Pada Hari Buruh itu, kebetulan pukul delapam pagi kapal Segah  datang membawa 98 buangan baru. Pertunjukan yang sedang diadakan kemudian sekaligus untuk menyambut orang-orang baru tersebut. “Tapi gara-gara penyambutan yang luar biasa ramainya itu, orang-orang baru terpaksa dijemur di tanah lapang dari pukul 8 sampai pukul 12 siang, dan baru sesudah itu mereka disuruh datang ke Interneeringskamp . Banyak di antara mereka menderita pusing kepala karena terlalu panas, sedang anak-anak banyak yang menangis,” sebut Marco. Malamnya, orang-orang menonton tonil, pandu, musik hingga wayang orang. Namun pertunjukan dibubarkan pasukan militer. “Kurang lebih 400 orang lelaki dipaksa jongkok, berjajar lima-lima, lalu digiring ke tangsi, dimasukan gudang gabah. Semalam suntuk mereka tak dapat tidur. Paginya mereka diperintahkan mengangkut zink dari motorboot milik kapal Segah  yang baru datang,” tulis Marco Perayaan Hari Buruh itu mengakibatkan tiga orang dihukum lima hari yaitu Siswoditardjo, Brotosiswojo pendiri perkumpulan wayang orang, dan Pontjopangrawit, pembuat gamelan. Kempul pada Gamelan Digul. (Annette Bowie/Arsip Departemen Musik Universitas Monash). Dibawa ke Australia Pada 1932, Pontjopangrawit menjadi salah satu tahanan yang dibebaskan dan dikirim pulang ke rumahnya di Surakarta. Sedangkan gamelan buatannya tetap berada di kamp dan dimainkan kawan-kawannya. Gamelan Digul kemudian dibawa ke Australia pada masa pendudukan Jepang. Para eks Digulis memainkan gamelan ini dan alat musik Indonesia lainnya seminggu sekali di Hotel Metropole, Melbourne pada 1943 sampai 1945. Hubungan Indonesia dan Australia kala itu juga sedang mencapai puncaknya. Gerakan kemerdekaan Indonesia didukung oleh para pelaut dan aktivis serikat buruh Australia. “Dukungan Australia pada perjuangan Indonesia melawan kekuasaan kolonial telah mendekatkan kedua bangsa ini menjadi lebih akrab. Maka Gamelan Digul boleh dipandang sebagai lambang persahabatan yang kuat antara rakyat Australia dan Indonesia,” sebut Kartomi. Pada 1945, para eks Digulis dan aktivis politik kembali ke Indonesia. Sementara itu, Gamelan Digul ditinggal di Australia. Pada 1946, gamelan tersebut disumbangkan ke Museum Victoria. Kemudian menjadi milik Departemen Musik Universitas Monash pada 1977.

  • Pasang-Surut Hubungan Bali dengan Bangsa Asing

    HINGGA kini, Bali masih menjadi ujung tombak pariwisata Indonesia. Bagi warga asing tak lengkap rasanya jika mengunjungi Indonesia tanpa menikmati suasana Bali. Gelar salah satu ‘surga dunia’ pun tak ayal disematkan kepada pulau di sebelah timur Jawa tersebut. Data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Bali menunjukan bahwa tiap tahunnya jumlah kunjungan pelancong asing ke Bali selalu meningkat. Hingga Juli 2019, dilansir bali.bps.go.id , telah ada 3,4 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali. Walau menjadi destinasi terfavorit di Indonesia, tidak semerta-merta menjadikan Bali sebagai daerah yang aman. Dari daftar kota-kota teraman tahun 2019 yang dipublikasikan Majalah CEOWORLD, di situs resminya ceoworld.biz , bulan Agustus lalu, Bali menempati urutan 212 dari 334 kota di dunia. Namun sejarah bangsa ini mencatat rakyat Bali abad ke-16 hingga abad ke-18 merupakan sosok masyarakat yang ramah. Jaminan perlindungan dan keamanan didapatkan oleh orang-orang Belanda dan Inggris yang berkunjung ke sana. Mereka membuka selebar-lebarnya kesempatan bagi para penjelajah itu membangun kehidupannya di Pulau Dewata. Hubungan Erat Kontak pertama rakyat Bali dengan bangsa asing dimulai sekitar abad ke-16. Kapal penjelajah Belanda Cornelis de Houtman tercatat merapat di pantai Bali pada 25 Januari 1597. Selama 30 hari lamanya de Houtman beserta anak buahnya menjelajah sebagian besar pulau itu. Ia lalu mencatat semua hal yang dilihat dan didengarnya dalam sebuah laporan perjalanan, yang kemudian oleh peneliti Belanda Cornelis Lekerkerker dalam Bali en Lombok: Overzicht der Litteratuur Omtrent deze Elianden tot einde 1919 , disebut Bali Verslag . Menurut Made Sutaba, dkk. dalam Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Bali , Cornelis de Houtman dan awak kapalnya diterima dalam suasana yang baik oleh masyarakat Bali. Hal itu tentu membuat de Houtman terkejut. Mengingat selama ini kedatangannya selalu mendapat penolakan dari masyarakat di daerah-daerah yang ia singgahi. “Kunjungan Cornelis de Houtman di beberapa tempat sebelumnya boleh dikatakan kurang berhasil. Ia disambut dengan penuh kecurigaan oleh masyarakat setempat sehingga menimbulkan beberapa insiden,” tulis Sutaba. Keramahan penguasa serta rakyat Bali diterima baik oleh de Houtman. Ia lalu mengutus dua orang bawahannya, Lintsgentsz dan Manuel Rodenberch untuk menyampaikan rasa hormat dan memberikan sejumlah buah tangan kepada Raja Gelgel. Dalam Sedjarah Hukum Internasional di Bali dan Lombok: Pertjobaan sebuah Studi Hukum Internasional Regional di Indonesia , E. Utrecht menyebut jika tindakan de Houtman itu merupakan percobaan pertama Belanda menjalin hubungan diplomasi dengan salah seorang raja di Pulau Bali. “Namun kesempatan ini rupanya belum dimanfaatkan untuk mengadakan suatu traktat atau kontrak antara kekuatan politik Belanda dengan salah seorang raja Bali,” ungkap Sutaba. Pada saat de Houtman meninggalkan Bali, Manuel Rodenberch dan seorang kawannya, Yacob Claess, tidak turut serta. Keduanya memutuskan untuk tinggal lebih lama di Bali. Mereka bermaksud meneliti masyarakat di sana dan membuat laporan yang lebih rinci mengenai kehidupan di Bali. Pada 1601, Belanda singgah di Bali untuk kedua kalinya. Kali ini Cornelis van Heemskerck yang dipercaya memegang kendali kapal. Meski beda pimpinan, kedatangan orang-orang Belanda ini tetap disambut dengan hangat oleh masyarakat Bali. Menurut Utrecht kedatangan Heemskerck merupakan tindak lanjut dari hubungan sebelumnya. Dalam kesempatan ini Heemskerck menyampaikan surat dan hadiah dari Pangeran Maurits (memerintah 1590-1625) untuk penguasa Bali. Sebagai balasan, raja Bali menghadiahi Heemskerck seorang gadis bangsawan Bali. Walau mulanya sang kapten menolak, namun berkat saran dari Rodenberch akhirnya diterima pula. “Sebab bila hadiah itu ditolak berarti suatu penghinaan kepada raja Bali, sehingga dapat menimbulkan keretakan dalam hubungan yang telah terjalin baik itu.” Mengalami Keretakan Seiring waktu berjalan, hubungan Bali dengan orang-orang Eropa semakin erat terjalin, terutama sekitar abad ke-17 dan abad ke-18. Hal itu disebabkan oleh peningkatan jumlah perdagangan budak di Bali. Umumnya para budak ini dikirim ke tempat-tempat strategis yang menjadi pusat pemerintahan Belanda, seperti Batavia, Maluku, dan Sumatera. Di kalangan orang-orang Eropa budak dari Bali cukup terkenal. Budak laki-lakinya dikenal memiliki kesetiaan yang besar dan keinginan belajar yang tinggi. Sementara budak perempuan Bali dikenal sebagai pengasuh yang baik, serta pandai dalam melakukan perawatan kesehatan. Setelah H.W. Daendels (1808--1811) menduduki jabatan gubernur jenderal, Belanda memulai serangkaian penguasaan di Nusantara, tidak terkecuali Bali. Daendels berusaha mendirikan pemerintahan kolonial di sana. Ia memulainya dengan mengirim Van den Bahl sebagai konsul dan pengawas perdagangan di Bali. Ketika Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1816) mengambil alih kekuasaan, peraturan perdagangan budak di Bali dihapuskan. Bukannya senang, hal itu malah mendapat reaksi keras dari raja Buleleng dan Karangasem. Dua kerajaan itu lalu melakukan serangan terhadap orang-orang Inggris di Banyuwangi. Mengetahui penyerangan itu, Raffles merespons balik dengan menundukkan Buleleng dan Karangasem. Setelah itu kerajaan-kerajaan di Bali menyutujui gagasan penghapusan perbudakan di wilayahnya. “Namun demikian rupanya perdagangan budak masih berlangsung terutama oleh orang-orang Cina,” ungkap Utrecht. Tahun 1817 rombongan Belanda pimpinan Van den Broek tiba di Bali. Ia bermaksud mendirikan pangkalan dagang di sana. Namun, usahanya itu mengalami kegagalan karena sikap raja-raja Bali yang mulai berubah terhadap orang-orang Eropa. Kesalahpahaman yang sebelumnya jarang terjadi pun kini menjadi hal yang lumrah, dan kecurigaan-kecurigaan terhadap orang-orang Eropa mulai menumpuk di dalam diri rakyat Bali. Tahun 1824, melalui perantara pedagang Arab, Belanda berusaha membujuk raja-raja Bali membuka wilayahnya untuk perdagangan mereka. Tawaran tersebut ternyata ditolak oleh sebagian besar raja-raja Bali. Pada 1827, J.S. Wetters berhasil mendapatkan kepercayaan dari para penguasa Bali. Ia pun akhirnya mendapat kepercayaan untuk mengatur perdagangan di pulau itu. Rupanya kelonggaran dari penguasa Bali itu dimanfaatkan oleh Belanda untuk memperlemah hukum di Bali. Mereka mencoba menanamkan kekuasaan mereka secara mutlak di Bali. Namun, berbagai usaha pelemahan itu selalu berujung kegagalan. “Pada saat itu Bali hanya mengenal satu hukum saja, yaitu hukuman mati. Di samping itu kesewenang-wenangan seorang raja tidak dapat dirubah sedikitpun,” tulis Sutaba. Puncak retaknya hubungan Belanda dengan rakyat Bali terjadi saat para kolonial itu mencampuri urusan internal kerajaan-kerajaan di Bali. Pemerintah Belanda sebelumnya telah memutuskan untuk memperoleh pengaruh politik di sana. Bagi mereka cara terbaik untuk melakukannya hanyalah dengan turut ambil bagian di dalam pemerintahan raja-raja Bali. Sebagian penguasa dan rakyat yang tidak menghendaki hal itu terjadi akhirnya menentang keras tindakan orang-orang Belanda. “Usaha Belanda untuk ikut berperan dalam pemerintahan kerajaan Buleleng tampak dalam berbagai perjanjian. Tujuan sebenarnya ialah untuk menjerat secara diplomatis supaya Bali dapat dijajah dengan mudah tanpa mempergunakan intervensi bersenjata karena yang terakhir ini akan memerlukan biaya dan kurban yang besar,” tulis Sutaba.

  • Keluar dari Bayang-Bayang Liem Swie King

    HARIYANTO Arbi jadi satu dari sekian legenda bulutangkis Indonesia yang turut mengernyitkan dahi kala mendengar kabar Audisi PB Djarum hendak dihentikan mulai 2020. Ia sendiri jebolan PB Djarum dan berkat didikan klub yang lahir di Kudus, Jawa Tengah tersebut ia jadi termasuk eks atlet yang bergelimang gelar dunia. “Kami tiga bersaudara yg sangat berhutang budi dengan @PBDjarum berkat didikannya Bendera Merah Putih bisa kami kibarkan di manca negara. Sudah 50 tahun tak henti2nya @PBDjarum membina juara2 baru. Tetap semangat PB Djarum demi Indonesia Juara!!” cuitnya di akun Twitter -nya @arbismash . Darah Olahragawan Lahir dari keluarga olahragawan pada 21 Januari 1972 di Kudus, langkah Hariyanto lurus mengikuti jejak kedua kakaknya, Hastomo dan Eddy. Hastomo merupakan salah satu atlet binaan PB Djarum angkatan pertama sebagaimana maestro Liem Swie King. Hariyanto dan kedua kakaknya merupakan putra salah satu jagoan bulutangkis lokal, Ang Tjin Bik. Ang-lah yang memperkenalkan bulutangkis pada Hariyanto dan kedua kakaknya. Hariyanto mengikuti jejak Hastomo dan Eddy menseriusi bulutangkis dengan masuk PB Djarum. Ia masuk asrama Kaliputu pada 1982. “Paling dirindukan ya, kehidupan di asrama. Ada saja kegiatan. Kalau pas enggak latihan, bisa main bola, kadang tenis meja bareng-bareng. Begitu juga tradisi lari ke (bukit) Colo dan Kaliyitno. Lari jaraknya kira-kira 18 kilometer dari asrama,” kata Hariyanto mengenang, kala ditemui Historia di kantor Flypower, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Hariyanto Arbi di kantor Flypower (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Dalam biografi Hariyanto Arbi, Smash 100 Watt, wartawan senior Broto Happy Wondomisnowo mencatat, kecemerlangan Hariyanto sudah tampak sejak usia pelajar. Saat mengikuti Kejuaraan Pelajar se-Asia di Hongkong pada 1986, ia andil dalam membawa pulang gelar juara beregu. Prestasi Hariyanto dilanjutkan dengan gelar juara Invitasi Bulutangkis Dunia Yunior tiga tahun berselang. Era 1980-an menandai kemonceran Hariyanto di tingkat yunior. Di era 1990-an, namanya sudah melesat di level senior. Dari yang mulanya kalahan dari para seniornya seperti Joko Supriyanto, Ardy Bernardus Wiranata hingga Eddy Kurniawan, Hariyanto bangkit berkat dorongan mental dari para mentornya di PB Djarum. “Waktu itu memang sempat ada beberapa pelatih di pelatnas (PBSI, red. ) pernah ngomong bahwa prestasi saya sudah mentok. Biasanya yang bisa menguatkan itu orangtua dan klub. Jadi PB Djarum benar-benar membantu saya. Kalau lagi kesepian karena saya enggak ada sepantarannya di asrama PBSI, saya ‘ngungsi’ ke asrama PB Djarum Jakarta,” sambung Hariyanto. Bayang-Bayang Liem Swie King Perlahan tapi pasti, Hariyanto bangkit. Ia membuktikannya dengan menggamit gelar All England 1993. Gelar prestisius pertama itu tak pernah lekang dari ingatannya itu ia pertahankan di tahun berikutnya. “Kalau dulu kan PB Djarum identiknya dengan All England ya. Jadi waktu juara awal All England itu yang membanggakan banget. Jadi kalau zaman dulu kan Liem Swie King patokannya. Kalau sudah juara All England seperti dia, itu sudah luar biasa sekali,” lanjutnya. Lewat gaya permainannya yang atraktif dengan jumping smash -nya, tak ayal ia mulai disebut-sebut sebagai reinkarnasi Liem Swie King. “Ya saya sih senang-senang saja dibilang mirip Liem Swie King. Karena memang Om Swie King kan idola saya. Dan perjalanan dia untuk mencapai juara All England luar biasa,” tambah Hari. Hariyanto Arbi & Liem Swie King dengan jersey legendaris PB Djarum (Foto: Instagram @hariyanto_arbi) Semasa belia di kandang PB Djarum di Kudus, ia dibina para pelatihnya macam Arisanto dan Anwari dengan diberi patokan sosok Swie King. “Waktu kecil di tempat latihan, oleh pelatih kita diberitahu bahwa di Djarum ini ada sosok yang luar biasa, Liem Swie King. Bahwa dia kalau latihan enggak mau kalah, disiplin juga. Jadi kita kalau latihan diceritakan itu. Oh , kalau mau bagus ya diarahkannya mengikuti Om Swie King ini.” Smash 100 Watt Hariyanto lantas dikenal luas bukan hanya karena gelar-gelar prestisiusnya macam Thomas Cup 1994, dua emas Asian Games 1994 serta Kejuaraan Dunia 1995. Ia juga tenar lantaran senjata mematikannya yang ikonik, Smash 100 Watt, yang membuatnya keluar dari bayang-bayang Swie King. Dalam biografinya disebutkan bahwa julukan itu mencuat setelah ia ditantang seniornya, Ardy BW, untuk bisa mengalahkan Rashid Sidek di kandangnya pada final Malaysia Open 1993. Tantangan itu pun dijawab Hariyanto lewat perkataan bahwa dia akan mengalahkan Rashid dengan “Smash 100 (berkekuatan) Watt”. Celetukan itu lantas terdengar wartawan Indonesia dan ketika menang, sebutan itu muncul di headline beberapa suratkabar nasional. Pukulan ikoniknya itu menurut salah satu pelatihnya di PB Djarum, Arisanto, dalam  biografinya, dikatakan terinspirasi dari jumping smash Liem Swie King . Namun, Hariyanto tidak membenarkan 100 persen. “Benar bahwa inspirasi salah satunya dari Liem Swie King. Kedua, pelatih saya, Indra Gunawan, menyarankan juga melihat Mas Hastomo. Dia posturnya kecil tapi lompatan smash -nya tinggi. Saya disuruh coba latihan kayak gitu. Seperti menambah skipping , lompat pagar, drilling , latihan shadow /bayangan, banyak prosesnya sampai bisa kayak gitu,” tuturnya. Alhasil, gerakannya “Smash 100 Watt” tak 100 persen sama dengan jumpingsmash Swie King. Jika Swie King lazimnya lebih dulu ambil selangkah mundur sebelum melompat, Hariyanto langsung melompat dan melakukan smash keras itu. Hariyanto menutup kariernya tahun 2000. Enggan mengikuti jejak Hastomo yang masih melatih di PB Djarum, Hariyanto memilih berbisnis peralatan olahraga bersama seniornya Fung Permadi dengan membangun merek Flypower. Hariyanto Arbi saat menangi All England 1994 (kiri) & emas Asian Games 1994 di Hiroshima (Foto: Instagram @hariyanto_arbi) Di balik suksesnya dalam karier dan bisnis, Hariyanto masih menyimpan satu penyesalan. Dari semua gelar yang dibanggakannya, ia kecewa belum pernah menyumbangkan medali olimpiade buat negerinya. Pada Olimpiade 1992 di Barcelona ia tak masuk dalam line-up tim. Di Olimpiade Atlanta 1996, ia disingkirkan wakil Denmark Poul-Erik Høyer Larsen di semifinal 11-15 dan 6-15. Untuk perebutan perunggu pun ia keok di tangan Rashid Sidek lewat pertandingan tiga set: 15-5, 11-15 dan 6-15. Ia pun gagal menambah pundi medali dari cabang bulutangkis, sebagaimana kelima rekannya: Ricky Subagdja/Rexy Mainaky (emas), Mia Audina (perak), serta Susy Susanti dan Denny Kantono/Antonius Ariantho (masing-masing perunggu). “Waktu Olimpiade 1996 itu paling pahit. Saya sudah masuk semifinal tapi tidak mendapatkan medali sama sekali. Itu pengalaman yang sangat mengecewakan buat saya. Dulu sebelumnya kan belum ada olimpiade (baru dipertandingkan 1992). Patokan prestis biasanya All England. Setelah ada olimpiade, semua mencita-citakan juara di olimpiade,” tandasnya.

  • Hatta Bikin Pengusaha Hasjim Ning Pening

    HASJIM Ning, pengusaha-sahabat Presiden Sukarno sekaligus keponakan Wapres Moh. Hatta, selalu ingat pribadi Hatta sangat teguh memegang prinsip. Salah satu prinsip yang teguh dipegang Hatta adalah ketidakmauannya menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. “Misalnya, pada suatu hari di awal tahun 1950, Bung Hatta yang telah begitu lama tidak ketemu dengan ibundanya sudah demikian rindunya. Aku disuruh menjemput ke Sumedang,” kata Hasjim dalam otobiografinya, Pasang Surut Pengusaha Pejuang . Bagi Hasjim, permintaan Bung Hatta kurang sesuai dengan adat ketimuran. Hasjim menyarankan Bung Hatta mengirimkan mobil dinasnya untuk menjemput sang ibu jika Bung Hatta tak punya waktu. Dengan menunjukkan bakti kepada ibunya begitu, Hasjim yakin sang ibu pasti bangga. “Tidak bisa. Pakai saja mobil Hasjim,” jawab Bung Hatta. “Mobil itu bukan kepunyaanku. Mobil itu milik negara.” Hasjim yang bingung dengan sikap pamannya itu pun mau-tak mau menurutinya. Kebingungan itu pula yang dirasakan Hasjim ketika suatu kali menemui Bung Hatta dan menjelaskan keinginannya untuk berderma. “Oom,” kata Hasjim, “perusahaanku ingin menyumbang, karena memperoleh untung lumayan tahun ini. Siapa menurut Oom yang perlu dibantu?” “Hasjim tentu lebih tahu. Kasihkan padanya,” jawab Bung Hatta singkat dan datar. “Baik juga kalau ada yang Oom calonkan,” kata Hasjim terus mengejar. “Coba Hasjim tanya Margono!” Hasjim lalu menemui Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) sekaligus ayah ekonom Soemitro Djojohadikusumo, yang dimaksud Hatta. Margono merupakan pendiri sekaligus ketua Yayasan Bung Hatta, yayasan yang bergerak di bidang perpustakaan. Kepada Margono, Hasjim menceritakan soal pembicaraannya dengan Hatta. Margono langsung tertawa begitu mendengar penjelasan Hasjim. “Bung Hatta, Bung Hatta. Untuk menyebut yayasan yang memakai namanya saja ia tidak mau. Ia malah menyuruh Hasjim kepadaku sebagai ketua yayasan,” kata Margono, dikutip Hasjim. Sebagai salah seorang sahabat dan pernah menjadi bawahan Hatta di Departemen Urusan Perekonomian semasa pendudukan Jepang, Margono tahu betul pribadi Hatta. “Ia seorang yang keras memegang ajaran dan hukum agamanya, tanpa fanatik dan mengganggu orang-orang lain. Di dalam sikap hidupnya ia selalu mendengrakan suara hati nuarninya dan sangat menghargakan waktu sampai kepada soal yang berkecil-kecil,” kata Margono dalam otobiografinya, Kenang-Kenangan dari Tiga Zaman: Satu Kisah Kekeluargaan Tertulis . Penjelasan Margono pun membuka pintu lebih bagi Hasjim dalam memahami Bung Hatta. “Seringkali sikap Bung Hatta itu menyesakkan napasku karena aku tidak bisa mengerti. Kalau ingin mengetahui sikapnya, tak ada gunanya mengajaknya berdebat. Ia selalu punya alasan. Tapi yang terutama ia tidak pernah mau berubah dari pendiriannya semula,” kata Hasjim. Keteguhan sikap Hatta itu makin membuat Hasjim enggan memanfaatkan kedekatannya dengan Bung Hatta untuk meminta katebelece . Namun, suatu ketika, keadaan memaksa Hasjim minta katebelece kepada Bung Hatta. Hasjim memintanya untuk keperluan bisnisnya ke Amerika Serikat (AS). Pasalnya, Kedutaan Besar (Kedubes) AS di Jakarta baru akan memberinya visa jika ada jaminan dari dua orang terkemuka Indonesia. Hasjim langsung mendatangi Bung Hatta usai mendapat pemberitahuan dari Kedubes AS. Dia yakin bakal mendapatkan apa yang diinginkannya dari Bung Hatta mengingat perjalanan bisnisnya juga menyangkut kepentingan negara. Setelah menceritakan duduk perkaranya, Hasjim meminta jaminan tertulis kepada Bung Hatta. Alih-alih  mendapatkannya, Hasjim justru ditanya balik oleh Bung Hatta. “Mengapa tidak Hasjim minta pada presiden direktur Chrysler saja?” kata Bung Hatta. “Akan memakan waktu lama, Oom,” jawab Hasjim menjelaskan lamanya proses surat-menyurat formal Indonesia-AS saat itu yang bisa memakan waktu sebulan. “Tidak mengapa menunggu.”

  • Teman Lama Ternyata CIA

    UPAYA pemerintah pusat meredam pergolakan di Sumatra dan Sulawesi menemui jalan buntu. Pemerintah tak bisa memenuhi tuntutan para panglima daerah. Mereka juga tak mau berkompromi dengan tuntutannya, terutama pulihkan dwitunggal Sukarno-Hatta, ganti pimpinan TNI AD (KSAD Mayjen TNI A.H. Nasution diganti sebagai langkah pertama stabilisasi TNI), otonomi daerah yang luas, dan melarang komunisme yang hakikatnya berorientasi internasional.

  • Film Indonesia Pertama yang Menggunakan Efek Khusus

    Babi kecil itu ditaruh di atas meja untuk disembelih. Ketika sang jagal sedang mengambil kapak, si babi berubah menjadi seorang manusia berkepala babi. Sang jagal kaget dan ketakutan. Manusia babi itu lalu menghilang. Tie Pat Kai namanya, siluman babi itu hendak memperistri Tjoei Lan, anak gadis seorang hartawan. Ia berubah menjadi pemuda tampan untuk mengelabui Tjoei Lan dan keluarganya. Setelah berhasil menikah, mereka dikaruniai seorang anak berwujud babi. Akhirnya, penyamaran Tie Pat Kay terbongkar. Tie Pat Kay Kawin  (1935) merupakan film besutan The Teng Chun produksi Java Industrial Film. Film ini merupakan koleksi film tertua yang dimiliki Indonesia, yang saat ini tersimpan di Sinematek. Namun, dari durasi 43 menit, hanya 21 menit yang bisa ditonton. Sebagian film telah rusak. “Itu yang bisa diselamatkan, sisanya kondisinya tidak memungkinkan. Ada pula yang semacam mengkristal,” kata Budi Ismanto, pekerja Sinematek. Film ini merupakan salah satu film era awal yang menggunakan efek khusus untuk memvisualisasikan filmnya. Efek-efek khusus digunakan pada adegan perkelahian, perubahan wujud atau bentuk, serta jurus-jurus yang menunjukkan kesaktian. Misalnya pada saat babi berubah menjadi manusia berkepala babi, terdapat kilatan putih pada tubuh babi lalu membesar hingga berubah menjadi siluman babi. Siluman babi mengeluarkan jurus berwujud kilatan putih. Jika saat ini efek khusus menggunakan CGI atau Computer Generated Image , seperti pada film-film superhero , film  Tie Pat Kay Kawin ternyata hanya menggunakan teknik sederhana dan sangat manual. Agustinus Dwi Nugroho, pengajar di Program Studi Media Rekam, Jurusan Film dan Televisi Institut Seni Yogyakarta (ISI), dalam "Special Effect Technology in Film Tie Pat Kay Kawin (1935) and Tengkorak Hidoep (1941)" yang dipresentasikan di International Conference for Asia Pasific Art Studies (ICAPAS) 2017 menyebut bahwa efek-efek khusus tersebut dibuat dengan teknik scratch atau goresan untuk merusak lapisan emulsi pada pita seluloid. Frame demi frame dirusak lapisannya dengan bentuk gambar berbeda untuk menghasilkan gambar bergerak. Teknik untuk menggerakkan efek goresan ini biasanya disebut teknik stop motion . “Untuk menghasilkan efek berdurasi 1 detik maka harus secara manual menggores 24 frame sesuai gambar yang diinginkan. Namun ada pula frame yang hanya digores kurang dari 24 frame , maka efek yang dihasilkan terlihat bergerak sangat cepat, dengan motivasi membentuk efek kecepatan,” jelas Dwi. Warna putih menunjukkan goresan pada frame. (Dok. Agustinus Dwi Nugroho). Bentuk-bentuk seperti kilatan cahaya dan seperti kobaran api akan dihasilkan dari teknik ini. Goresan pada lapisan emulsi seluloid mengakibatkan warna yang muncul di frame berwarna putih. Efek scratch tidak hanya muncul di shot statis, namun juga muncul di shot dengan pergerakan kamera dengan teknik pan. Efek scratch dikombinasikan transisi editing (transisi cut ) untuk menghasilkan efek khusus yang kompleks. Transisi editing dipakai pada adegan Tie Pat Kay yang ketika menghilang ( out frame ) ataupun muncul ( in frame ) di frame secara tiba-tiba. Visualisasi efek khusus lainnya juga terdapat pada perubahan bentuk karakter, dan obyek. Perubahan bentuk atau wujud ini memberikan efek transisi jump cut . Menurut Dwi, teknik-teknik efek khusus yang dipakai Tie Pat Kay Kawin ini belum ditemui di film-film era selanjutnya dan perlu diteliti lebih lanjut. “Saat ini yang saya tau belum ada. Saya tanya petugas Sinematek sepertinya juga nggak ada film sejenis. Di film Tengkorak Hidoep yang saya teliti pun tekniknya sangat sederhana dan tidak ada teknik scratch effect -nya,” kata Dwi kepada Historia . Penggunaan efek khusus pada era early cinema bisa dijumpai pada karya-karya George Melies, sutradara asal Prancis. Melies membuat ratusan film pendek pada 1896-1913 yang penuh trik dan efek khusus. A Trip to the Moon (1902) adalah salah satu karyanya yang kental akan efek khusus. Namun belum diketahui apakah George Melies yang menginspirasi The Teng Chun. “Kesimpulan sementara, dilihat dari tekniknya, di film-film George Melies menggunakan teknik-teknik seperti transisi editing dan properti asli dalam filmnya, sedangkan di film Tie Pat Kay Kawin juga menggunakan hal yang sama namun juga ada satu teknik lagi yang dinamakan scratch effect (menggores seluloid) di film ini yang secara dominan dipakai,” ungkap Dwi. Film-film George Melies lebih banyak menggunakan trik-trik serta ilusi sulap mengingat ia juga merupakan seorang pesulap. “Di film-film George Milies sepertinya jarang menggunakan scratch ini,” sebut Dwi. Selain  Tie Pat Kay Kawin , Dwi juga meneliti film Tengkorak Hidoep . Penggunaan efek khusus film ini terdapat pada adegan bangkit dari kubur yang memperlihatkan properti asli berupa bentuk kerangka tengkorak berubah menjadi manusia. Efek ini dibuat mengunakan transisi dissolve . Properti berbentuk kerangka dimungkinkan merupakan replika kerangka manusia. ”Transisi editing dissolve yang secara perlahan mengubah sosok kerangka menjadi Maha Daru mampu memberikan efek kengerian. Transisi dissolve macam ini tidak muncul dalam Tie Pat Kay Kawin . Teknik ini selalu digunakan pada adegan yang menunjukkan perubahan wujud karakter serta muncul/hilangnya tokoh dalam frame ,” jelas Dwi.

  • Kisah Garda Bahari di Awal Revolusi

    KETIKA berpidato menyambut HUT TNI AL ke-74 pada Selasa, 10 September 2019, KSAL Laksamana Siwi Adji menekankan fakta historis bahwa TNI AL berembrio dari kekuatan rakyat. “Bersama rakyat, TNI AL siap membangun SDM unggul, pondasi Indonesia Maju,” ujar Laksamana Adji di dermaga Koarmada I Pondok Dayung, Jakarta Utara. Eksisnya TNI AL, 10 September 1945, berangkat dari lahirnya Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut. Sejalan dengan pembentukan tentara resmi oleh pemerintah, nama itu pun selanjutnya berubah secara berurutan menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Laut, Tentara Republik Indonesia (TRI) Laut, Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), dan terakhir TNI AL.  Ia merupakan badan perjuangan yang diisi para pelaut yang digembleng sejak zaman Belanda, Jepang, ditambah para pemuda dan buruh pelabuhan di kota-kota pesisir. “Selama 74 tahun TNI Angkatan Laut menunjukkan jati dirinya sebagai komponen pertahanan negara yang tangguh di tengah perubahan lingkungan strategis yang kian dinamis,” lanjut Adji dalam amanatnya selaku inspektur upacara. Selaras dengannya, maka defile kali ini tak hanya diikuti satuan-satuan di TNI AL, namun juga satu barisan BKR Laut lengkap dengan atribut masa 1945. Pasukan BKR Laut memang bukan diisi para pejuang sebenarnya, namun oleh puluhan reenactor (pereka ulang sejarah) dari Jakarta, Bekasi, Bogor, Bandung, dan Surabaya. Kehadiran para reenactor justru mendapat tepuk tangan riuh, termasuk dari KSAL, lantaran mencerminkan pasukan laut di masa awal kemerdekaan.  Berdirinya BKR Laut Pusat, menurut Zamzulis Ismail dan Burhanuddin Sanna dalam Siapa Laksamana R.E. Martadinata, dibidani sejumlah pelaut di kantor bekas gedung Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) Kali Besar Barat yang lantas disahkan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Markas pertamanya di gedung SMA Budi Utomo, Jalan Budi Utomo (kini SMA Negeri 1 Jakarta). “Dipelopori oleh kelompok pemuda pelaut bekas siswa dan guru SPT serta pelaut-pelaut dari Jawatan Pelayaran Jawa Unko Kaisha , Akatsuki Butai yang antara lain dikoordinasikan oleh Mas Pardi, Adam, RE Martadinata, R. Soerjadi, Oentoro Koesmardjo dan Jasanatakoesoemah, pada tanggal 10 September 1945 berhasil dibentuk BKR Laut Pusat.” Bara di Utara Jakarta Kedaulatan republik yang baru beberapa pekan lahir mulai terusik dengan kedatangan Sekutu, 16 September 1945. Adalah BKR Laut dan para pemuda pelabuhan yang pertamakali berkontak dengan Sekutu di Tanjung Priok. Mereka datang disertai Belanda (NICA). “Karena sikap serdadu-serdadu Inggris dan NICA sangat angkuh dan sama sekali tidak mau menghargai aparatur pelabuhan RI, maka terjadilah bentrokan senjata antara mereka dengan para pemuda pejuang (BKR Laut, red.) di sekitar Menara Air, Stasion (Stasiun Tj. Priok), dan Zeeman’s Huis (mess pelaut),” ungkap tim Dinas Sejarah Militer Kodam V Jaya dalam Sejarah Perjuangan Rakyat Jakarta, Tanggerang dan Bekasi dalam Menegakkan Kemerdekaan R.I. Barisan BKR Laut di HUT TNI AL ke-74 oleh puluhan reenactor Bekasi, Jakarta, Bogor, Bandung dan Surabaya. (Ist/Indra Eka Saputra). Pasukan BKR Laut di Utara Jakarta dipimpin Matmuin Hasibuan, pemuda Batak yang sebelumnya “bos” buruh pelabuhan. Oleh Letkol Moeffreni Moe’min, pemimpin BKR Jakarta Raya, Hasibuan dan Martadinata ditunjuk jadi penanggungjawab pengamanan wilayah Utara Jakarta merangkap BKR Laut Cabang Jakarta. Hasibuan bersama pasukannya baku-tembak dengan pasukan Inggris dan NICA mengakibatkan markas BKR Laut terpaksa dipindah. Menukil Sejarah Teluk Jakarta karya Dinas Museum Sejarah dan DKI Jakarta, markas BKR Laut dipindah dari gedung SMA Budi Utomo ke Gang Z, mengungsi ke kantor Jawatan Pelabuhan dan lantas ke Cilincing. Sampai awal Oktober 1945, Inggris dan NICA sudah menguasai Priok dan kemudian memperluas basis hingga ke Cilincing.  Hasibuan dan pasukannya mendapat bantuan serdadu dari segala pelosok Utara Jakarta dan Bekasi untuk membuat perimeter pertahanan di sekitar Jembatan Kali Kresek, Cilincing. Di Jembatan Kali Kresek inilah sekira 6 Oktober 1945 pecah pertempuran pertama antara serdadu laut republik (per 5 Oktober BKR Laut berubah menjadi TKR Laut) dengan Sekutu dan NICA. Meski skala kecil, pertempuran tergolong sengit lantaran berlangsung sehari semalam. Inggris sampai mengerahkan pesawat-pesawat P-40-nya untuk mematahkan perlawanan kaum republik. “Cilincing merupakan medan pertempuran yang menguntungkan pihak RI karena daerah penuh ditumbuhi pepohoan mangrove, banyak sungai kecil, jalannya tak beraspal, sempit dan berbelok-belok,” lanjut tim Kodam Jaya. Perimeter di Jembatan Kali Kresek akhirnya jebol juga. Pada 10 November, Sekutu dan NICA sudah merangsek ke arah Koja, Jembatan Tinggi, dan Pasar Ikan. Sejak jebolnya “gerbang” Priok, teror-teror terhadap rakyat meningkat di berbagai pelosok Jakarta. Kondisi tersebut membuat PM Sutan Sjahrir mengeluarkan maklumat pada 19 November 1945. Seluruh satuan TKR diperintah meninggalkan Jakarta.  Sisa TKR Laut pimpinan M. Hasibuan yang sebelumnya berbasis di Priok dan Cilincing, pun menyingkir ke Babelan, Bekasi. Mereka mengonsolidasikan kekuatan dengan Laskar Hisbullah pimpinan KH. Noer Ali di Utara Bekasi. Sementara, Martadinata dan KSAL Laksamana III Mas Pardi sudah pindah ke Yogyakarta pada 15 November 1945.  Di Bekasi, pasukan Hasibuan lagi-lagi terlibat pertempuran sengit. Bersama Laskar Hisbullah, TKR Laut terjun di Palagan Sasak Kapuk (kini Pondok Ungu), 29 November 1945. Tiada yang menang dalam palagan ini.  Beberapa hari setelahnya, KH Noer Ali prihatin dengan tertangkapnya Hasibuan oleh NICA. Hasibuan ditangkap pada 5 Desember 1945 saat berperjalanan bersama wedana Priok Hindun Witawinangun ke kantor penghubung TKR di Jalan Cilacap, Jakarta.  “Mereka ditahan dan disiksa NICA di Kamp Polonia hingga Hindun Witawinangun tewas. Madnuin (Hasibuan) juga disiksa, namun selamat. Ia baru dibebaskan 15 Desember 1945,” tulis Ali Anwar dalam biografi KH Noer Ali, Kemandirian Ulama Pejuang menyebut.  Setelah Agresi Militer Belanda I, KH Noer Ali dan Hasibuan terus mundur dari Bekasi. KH Noer Ali akhirnya menyingkir ke Yogyakarta dan pasukan Hasibuan hijrah ke Tegal.

  • Langsa Diancam, Gubernur Hasan Bertindak Cepat

    SUATU hari seorang opsir Jepang datang tergesa-gesa menghadap Gubernur Sumatra Teuku Mohammad Hasan. Dia menyampaikan pesan Panglima Tentara Jepang di Pematang Siantar. Isinya, mendesak Hasan supaya meninjau Kota Langsa karena keadaan sangat genting: akan terjadi pertempuran antara pihak militer Jepang dengan para pejuang Indonesia. “Mengingat kepentingan keamanan umum dan kepentingan negara, maka desakan Jepang ini saya setujui,” kenang Hasan dalam memoarnya Mr. Teuku Hasan dari Aceh ke Pemersatu Bangsa . Pada 29 Desember 1945, rombongan Hasan berangkat menuju Langsa. Setengah perjalanan tibalah di Kuala Simpang. Hasan menemui pimpinan tentara Jepang, Mayor Jenderal Sawamura. Laporan Sawamura menyebutkan kejahatan orang-orang Langsa. Mereka telah merampas senjata milik Jepang. Padahal, tentara Jepang telah menyerahkan senjatanya kepada TKR, pimpinan Letkol Bachtiar. Selain itu, TKR merampas pula obat-obatan, uang, beras, pakaian, makanan, kendaraan dan kendaraan Jepang. Perampasan yang terjadi membuat tentara Jepang siap siaga menggempur Langsa. Moncong meriam telah diarahkan. Sawamura menuntut senjata yang dirampas dikembalikan. Hasan meneruskan perjalanannya ke Langsa.   Tiba di Langsa, Hasan bertemu dengan T. Hasan Ibrahim, pemimpin laskar rakyat. Dari Ibrahim didapati keterangan tentang tindakan Jepang yang kejam dan kasar. Makanya rakyat Aceh dari seluruh penjuru berduyun-duyun ke Langsa. Bersenjatakan tombak, rencong, bambu runcing, mereka hendak menggempur tentara Jepang. Pada 30 Desember 1945, diadakanlah rapat antara Gubenur Sumatra dengan pemuka rakyat bertempat di rumah asisten residen. Sepanjang jalan dipenuhi oleh laskar rakyat yang membawa aneka senjata tajam. Mereka berjalan sambil melantunkan kalimat syahadat dan ayat-ayat Al- Qur’an. “Keadaan suasana waktu itu sangat seram dan tegang, seolah-olah hendak menyerbu saja tentara Jepang yang kejam itu,” kata Hasan.Setelah dengar pendapat, Hasan berkesimpulan pertempuran dengan Jepang buang-buang tenaga dan waktu. Tengah hari, Hasan berangkat dari Langsa menuju Kuala Simpang untuk berunding dengan Sawamura. Reaksi Sawamura tidak disangka-sangka. Dia tetap bersikukuh agar senjata Jepang dikembalikan. Sawamura lantas memanggil opsir-opsirnya dan memberikan perintah. Seorang kolonel yang bertugas sebagai penerjemah memberi tahu Hasan bahwa Sawamura marah. Ultimatum dilontarkan: besok pagi pukul 6 meriam-meriam akan ditembakan ke Kota Langsa sampai hancur. Hasan melobi pihak Jepang untuk mengulur waktu. Waktu tambahan diberikan hingga pukul 12 untuk pengembalian senjata. Kembali ke Langsa, Hasan bertindak cepat. Dia meminta komandan TKR dan kepala polisi setempat untuk mencari beberapa pucuk senapan rampasan, lalu menyerahkannya langsung kepada Sawamura. Hasan juga membujuk Hasan Ibrahim agar menyerahkan senjata yang dirampas oleh para laskar. Mendengar anjuran Hasan, Ibrahim menyadari bahaya yang akan menimpa Kota Langsa. Dia berjanji menyerahkan beberapa pucuk senjata kepada Hasan untuk dikembalikan kepada pihak Jepang. Pagi hari, tanggal 31 Desember 1945, sudah terkumpul puluhan pucuk senapan di kediaman Hasan. Pukul 9 pagi, semua barang itu diantar oleh staf Hasan, Abdul Xarim MS ke Kuala Simpang. Sebelum jam 12, sampailah senjata rampasan itu kepada pihak Jepang. Kepada rakyat di Langsa, Hasan memberi penjelasan tentang keputusannya untuk mengembalikan senjata rampasan. Maka terhindarlah Kota Langsa dari amukan balatentara Jepang.

bottom of page