top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Berislam Ala Salman

    Beberapa waktu lalu, BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) merilis tujuh perguruan tinggi negeri yang sudah tersusupi ide-ide keagamaan radikal. Salah satunya adalah ITB (Institut Teknologi Bandung). Di hadapan media pada awal Juni lalu, masalah ini bahkan dibenarkan oleh Bermawi Priyatna, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB. Peneliti gerakan terorisme Solahudin menyatakan bingung dengan rilis BNPT tersebut. Jika soalnya adalah di ITB terdapat organisasi mahasiswa yang berafiliasi ke HTI (Hizbut Thahrir Indonesia), hal tersebut bukanlah sesuatu yang baru. “Saya merasa tidak jelas dengan definisi “radikal” versi BNPT. Apakah dengan cap “radikal”, anak-anak tersebut sudah pasti menyebarkan ide-ide yang mengarah kepada terorisme? Kalau hanya sekedar ide, sejak zaman dulu juga di ITB hal-hal seperti itu sudah ada,” ujar Solahudin kepada Historia . Solahudin benar. Sejak 1970-an, kampus ITB memang sudah dikenal sebagai sentral kegiatan mahasiswa Islam paling dinamis di Indonesia. Berbagai pemikiran, ideologi dan aliran Islam dipastikan pernah singgah di ITB. Menurut peneliti Litbang Departemen Agama Nurhayati Djamas, gejala itu mulai terjadi pada 1960-an ketika sekelompok mahasiswa berlatar belakang “elite santri” mulai memasuki kampus terkemuka yang didominasi orang-orang non Muslim dan kaum priyayi tersebut. “Masuknya mereka ke ITB, yang tadinya secara penuh didominasi corak sekuler, memberikan suasana baru dengan mulai diadakannya berbagai kegiatan religius,”ujar Nurhayati dalam Gerakan Islam Kontemporer di Indonesia , sebuah buku yang diselaraskan oleh Abdul Aziz dan Imam Tholhah Soetarman. Faktor Masjid Salman. Sejak para mahasiswa yang berlatar belakang santri memasuki kampus ITB, berbagai kegiatan keislaman mulai marak. Salah satu kegiatan rutin mereka adalah pelaksanaan shalat Jumat. Aula Barat ITB yang kerap dijadikan tempat pesta dansa-dansi para mahasiswa, setiap hari Jumat disulap menjadi “masjid”. Situasi tersebut jelas membuat “kegaduhan” di kampus ITB. Dalam suatu ceramah di Masjid Al A’raf, Jakarta pada 1991, almarhum Imaduddin Abdurrachim bercerita bagaimana mereka pernah menjadi obyek perhatian para penghuni ITB saat itu. “Saat kami berduyun-duyun menuju Aula Barat untuk shalat Jumat, ada saja mahasiswa yang meledek kami sebagai “rombongan onta Arab”,” kenang tokoh HMI Bandung pada 1960-an itu. Kegiatan keislaman semakin ramai, ketika pada 5 Mei 1974 Masjid Salman secara resmi difungsikan sebagai tempat beribadah mahasiswa beragama Islam. Dua tahun kemudian, Imadduddin mengadakan sebuah kursus kaderisasi bagi para mahasiswa Islam yang diberi nama LMD (Latihan Mujahiddin Dakwah). Menurut Solahudin, LMD oleh Imad dijadikan media untuk membentuk kader-kader yang tangguh dalam mentransformasikan  ideologi Islam. Pada angkatan pertama sekira 50 orang mahasiswa digembleng di Ruang Serba Guna ITB. Setelah melalui test IQ dan wawancara, para mahasiswa yang  lolos seleksi  di masukan ke base camp di Mesjid Salman. “Selama  tujuh hari tujuh malam mereka dilarang berinteraksi dengan dunia luar,” ujar eks aktivis Salman pada era 1980-an tersebut. Selanjutnya para peserta itu diajak untuk mengaji sekaligus mengkaji Al Qur’an terutama Surat Al Fath (ayat 27-29) yang  mengisyaratkan titik balik  kemenangan dakwah Islam melalui Perjanjian Hudaibiyah antara Rasulullah dengan  kaum kafir Quraisy pada tahun ke- 6 Hijriyah. Selain itu, mereka pun diwajibkan menghapal dan mendalami ilmu hadist. Kursus LMD yang merupakan produk awal Masjid Salman ternyata  berjalan sangat sukses. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya para pemuda dan mahasiswa yang berminat mengikuti kegiatan tersebut. Semangat “Islam ideologis”  yang  kemudian disebarkan  oleh  para alumni LMD  dengan  cepat  menjalar bahkan hingga jauh sampai ke luar Jawa. Salman selanjutnya menjadi prototype masjid kampus ideal di seluruh Indonesia. Laboratorium Demokrasi Selama ini banyak kalangan yang menyangka bahwa Masjid Salman hanya dikuasai oleh satu kelompok semata yakni kelompok yang berafiliasi kepada ide-ide Ikhwanul Muslimin. Anggapan itu tidak seluruhnya keliru jika mengingat LMD yang memulai kiprah gerakannya di Masjid Salman merupakan suatu lembaga yang banyak dipengaruhi ide-ide kelompok sosial keagamaan asal Mesir tersebut. “Imaduddin, inisiator LMD merupakan aktivis IIFSO (Federasi Organisasi Mahasiswa Islam Internasional) yang banyak dipengaruhi pemikiran tokoh-tokoh Ikhwan,” ujar Samsurizal Pangabean dalam suatu tulisannya di Jurnal Islamika Juli-September 1993 berjudul ‘Dunia Islam dan Perubahan Politik Global’. Namun menurut Nurhayati, sejatinya corak pemahaman Imad tidak seutuhnya Ikhwan minded . Dilihat dari metode gerakan, dia bahkan lebih banyak terpengaruh oleh “Islam gaya Masyumi” yang banyak berkembang di Indonesia. “Dia ingin memperjuangkan Islam yang kaffah lewat suatu perjuangan konstituante,” ungkap Nurhayati. Di Salman sendiri, selain ide-ide Ikhwanul Muslimin, sejak 1981 banyak pula berdatangan ide-ide keislaman lain seperti pemikiran Hizbut Thahrir, Darul Islam, Salafi, Syiah dan lain-lain. Semuanya mencoba untuk menjadi paham paling dominan namun tak pernah berhasil. Itu terjadi karena selain kentalnya budaya kritis di kalangan aktivis Salman, juga karena terbukanya kesempatan untuk saling berkompetisi secara sehat. “Salman itu ibarat laboratorium demokrasi, setiap kelompok dipersilakan membawa ide apapun namun  harus melalui “hadangan kritis” para aktivisnya. Jadi kalau tidak bisa menjawab ujian-ujian itu, dipastikan ide-ide yang datang tak bisa berkembang dengan sendirinya” ujar Solahudin. Pendapat Solahudin dikuatkan oleh Ivan Garda. Menurut eks aktivis Salman era 1990-an itu, budaya diksurus di Salman sangatlah kuat. Selain itu, pola kesetaraan dalam pergaulan antar aktivis berlangsung secara merata. Tak ada istilah orang paling benar dan paling pintar. Semuanya dibangun dalam semangat sama-sama sedang belajar. “Tapi jika menyangkut hal-hal politis, kami tahu diri dan dengan kesadaran penuh sementara“menjauhkan” diri dari Salman. Bagi kami Salman tetap harus menjadi tempat belajar bukan tempat berpolitik,” ungkap eks aktivis SKau (Salman Kau) tersebut. Sebagai contoh, ketika sejumlah aktivis Masjid Salman ingin mengekspresikan sikap politiknya terhadap kebijakan pemerintah Orde Baru terkait jilbab dan pengadaan SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah), mereka lantas mendirikan PMIB (Persatuan Mahasiswa Islam Bandung). “Kami berdemonstrasi dan turun ke jalan menentang kebijakan pemerintah tanpa membawa-bawa nama Salman,” kenang Ivan yang merupakan eks Ketua PMIB. Hingga kini, tak pernah ada kelompok yang benar-benar dominan di lingkungan Masjid Salman. Semuanya tetap terpelihara dalam gaya berislam ala Salman: selalu kritis terhadap ide-ide keagamaan yang mapan.

  • Meringkus Soepardjo, Sang Jenderal Buronan

    Menjelang hari Lebaran, Panglima Kodam V Jaya Brigjen Amirmachmud mendapat tugas khusus. Perintah datang langsung dari atasannya: Panglima Kostrad merangkap pimpinan sementara TNI AD Letjen Soeharto. Sudah barang tentu Amir menyanggupi.  “Ketika itu beliau meminta agar saya menangkap Soepardjo pada hari Idul Fitri untuk dijadikan hadiah Lebaran bagi umat Islam Indonesia,” kenang Amir dalam otobiografinya H. Amirmachmud: Prajurit Pejuang. Sang buronan adalah perwira berpangkat brigadir jenderal, pangkat tertinggi seorang tentara yang terlibat langsung dalam Gerakan 30 September (G30S) 1965. Bersama Letnan Kolonel Oentoeng Sjamsoeri dari Resimen Tjakrabirawa, dia dituding ikut merancang penculikan sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat. Tercatat sejak Oktober 1965, Soepardjo telah masuk daftar buruan Kodim 0501 Jakarta Pusat.  Untuk meringkus Soepardjo secepatnya, Amir menggelar operasi intelijen. Tim khusus dibentuk dalam operasi bersandi “kalong”. Dinamakan demikian karena tim operasi bergerak malam hari, seperti kalong. Operasi Kalong dipimpin oleh Kapten CPM Suroso. Personelnya berasal dari Kompi Raiders Kodam V Jaya yang dipersiapkan sebagai pasukan tempur. Selain itu, kelompok pengintai di bawah pimpinan Pembantu Letnan M. Afandi bertugas mencari informasi persembunyian Soepardjo.   Pada 10 Januari 1967, sebagaimana dilansir majalah Angkasa vol.17, 1968, lokasi persembunyian Soepardjo diketahui berada di Komplek KKO Cilincing, Jakarta Utara. Salah seorang anggota KKO AL, Mayor Adnan Suwardi menampung Soepardjo dikediamannya. Tim Operasi Kalong bergegas menyerbu ke Cilincing. Namun Soepardjo berhasil melarikan diri menuju Halim Perdana Kusumah. Soepardjo Terciduk Pagi hari menjelang subuh 12 Januari 1967, Tim Operasi Kalong bergerak ke arah Halim. Pasukan memasuki komplek perumahan AURI pukul 05.30. Dalam penggeledahan, Soepardjo berhasil ditangkap di loteng rumah Kopral Udara Sutardjo. Soepardjo terpaksa turun dari loteng setelah seorang pasukan penangkap mengancam akan menembaknya. Selain Soepardjo turut terciduk Anwar Sanusi, seorang penulis buku pelajaran sejarah dan anggota PKI. Kabar teringkusnya Soepardjo sampai kepada Amir Machmud pada siang hari. Berita itu dilaporkan Letnan Kolonel Soedjiman ketika Amir selesai sholat Ied di lapangan Banteng. Betapa gembiranya Amir sampai-sampai dia memeluk dan mencium Soedjiman berkali-kali. Keduanya kemudian sowan ke rumah Soeharto di Jalan Agus Salim melaporkan “hadiah Lebaran” tersebut.  Akhir pelarian Soepardjo yang berujung penangkapan diberitakan sebagai berkah. “Hadiah Lebaran Untuk Rakyat: Soepardjo, Anwar Sanusi berhasil dibekuk. ‘Kabut Halim’ akan semakin tersingkap,” tulis Kompas 16 Januari 1967. Dalam tajuk rencana pada hari yang sama, Kompas menanggapi penangkapan Soepardjo yang tepat jatuh pada hari Lebaran mengandung makna simbolik. Pada hari Lebaran itu umat yang berpuasa merayakan kemenangannya atas hawa nafsu yang dipatahkan selama sebulan berpuasa. “Tertangkapnya eks Brigjend Soepardjo diharapkan mematahkan jaringan operasi fisik G30S/PKI yang selama ini masih menyelinap dimana-mana. Kita percaya tindakan pembersihan akan segera dilakukan di semua jaringan,” tulis Kompas . Perwira Jujur Apakah Soepardjo penjahat sebagaimana yang disangkakan? Dua bulan setelah tertangkap, Soepardjo dihadapkan ke Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Pengadilan mendakwanya bersalah atas tindakan makar dan menjatuhi vonis hukuman mati.  Ketika sama-sama dipenjara dalam Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Oetomo, Oei Tjoe Tat, menteri Kabinet Dwikora mengungkap sisi lain sosok Soepardjo. Oei mengenal Soepardjo sebagai Panglima Komando Tempur dalam rangka konfrontasi Malaysia di Kalimantan Barat. Dari pengakuan anak buahnya, Soepardjo adalah pribadi yang disukai, seorang militer yang setia kepada Bung Karno. “Jenderal Pardjo sebagai tahanan di RTM mendapat simpati, baik dari para petugas maupun para tahanan karena sikapnya,” ujar Oei dalam Memoar Oei Tjoe Tat : Pembantu Presiden Soekarno . Menurut Oei Tjoe Tat, Soepardjo figur perwira yang jujur dan loyal. Kepada Oei, Soepardjo pernah menyampaikan tentang adanya golongan yang serius tentang konfrontasi dan ada golongan yang cuma pura-pura saja demi duit. Oei agaknya meragukan peran Soepardjo sebagai otak dibalik G30S atau setidaknya dia dijerumuskan. “Sekiranya benar, ia tidak berniat berontak terhadap pemerintahan Sukarno,” kata Oei. Senada dengan Oei, John Roosa sejarawan University of British Columbia mengamati keganjilan keterlibatan Soepardjo dalam G30S. Roosa menyandarkan pendapatnya pada dokumen Soepardjo yang dicatat saat pelarian berjudul “Beberapa Pendapat jang Mempengaruhi Gagalnja ‘G-30-S’ Dipandang dari Sudut Militer”. Dokumen Soepardjo mengungkapkan bahwa dia bukan pimpinan gerakan dan juga tidak memimpin pasukan apapun dalam G30S. Sebagai seorang perwira militer, Soepardjo menulis kebingungannya oleh semua penyimpangan gerakan dari praktik baku kemiliteran. “Seandainya ia yang bertanggung jawab, orang dapat berharap bahwa aksi G-30-S akan menjadi operasi yang lebih profesional,” tulis Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto . Menurut Roosa, Soepardjo bukanlah salah seorang pimpinan inti G30S. Perannya sebatas sebagai perwira yang mempunyai koneksi untuk berhubungan langsung dengan Presiden Sukarno. Soepardjo sama sekali tidak menghadiri rapat-rapat perencanaan pada pekan-pekan sebelumnya. Dia tiba di Jakarta hanya tiga hari sebelum aksi dimulai. “Namun terlepas dari hal-hal yang tentu sangat mengecewakannya, ia telah menuliskan tentang G-30-S tanpa rasa dengki atau dendam,” tulis Roosa. Harian Sinar Harapan 3 Oktober 1968 mewartakan keputusan Presiden Soeharto yang menolak permohonan grasi yang diajukan Soepardjo bersama empat orang gembong G30S lainnya. Perwira bintang satu bernama lengkap Mustafa Sjarief Soepardjo itu meregang nyawa dihadapan regu tembak pada 16 Mei 1970.

  • Dulu Menjegal, Kini Gagal

    Setelah kalah akibat gol bunuh diri melawan Iran (19/6/2018), Maroko kembali kalah di pertandingan kedua Grup B Piala Dunia 2018, Rabu (20/6/2018), melawan Portugal. Gol tunggal Christiano Ronaldo membuat Maroko kalah sekaligus jadi tim pertama yang angkat koper dari turnamen. Sebagaimana pertandingan pertama, Maroko apes. Bermain apik, tim Singa dari Pegunungan Atlas itu mendominasi permainan. Penguasaan bola Maroko 54 persen, peluang 16 buah, dan tendangan mengarah ke sasaran empat buah. Tapi, Maroko gagal menciptakan gol. Pertandingan ini kebalikan dari pertandingan Maroko kontra Portugal 32 tahun silam di Piala Dunia Mexico, Maroko menang 3-1. Keberhasilan itu buah dari pembenahan yang dilakukan pelatih asal Brasil Jose Faria, yang dikontrak Federation Royale Morocanne de Football (FRMF), induk organisasi sepakbola Maroko, pada 1983. Faria mengutamakan pembangunan mental para pemain. Pembangunannya itu membuat Maroko tampil percaya diri dan bermain lepas di Mexico meski diremehkan banyak pihak. Kepercayaan diri, disiplin, dan sifat pantang menyerah membuat Maroko survive di Grup F yang berisi Inggris, Polandia, dan Portugal. Di pertandingan perdana (2 Juni),  Maroko berhasil menahan imbang Polandia yang diperkuat Zbignew Boniek, yang bersama Michel Platini mengantar Juventus merebut Piala Champions pertamanya, 0-0. Di pertandingan kedua, Maroko kembali berhasil menahan imbang 0-0 tim favorit juara Inggris. “Para pemain Maroko seharusnya mengambilalih permainan dan memenangkannya. Tapi mereka terlalu bersemangat masuk ke dalam cangkang, puas dengan hasil imbang; dan Inggris selamat,” tulis Brian Gianville dalam The Story of the World Cup: 2018 . Maroko mesti menang di pertandingan ketiga untuk bisa lolos ke babak berikutnya. Hal serupa juga berlaku pada Portugal, semifinalis Piala Eropa 1984. Keduanya sama-sama baru mengoleksi poin dua. Maka, ketika Maroko dan Portugal bertemu di Stadion Tres de Marzo, 11 Juni 1986, keduanya sama-sama ngotot. Saling serang terjadi sejak babak pertama. Namun, tekanan membuat permainan Portugal tak berkembang maksimal. Sebaliknya, sebagai underdog Maroko tampil tanpa beban sehingga berhasil mendominasi pertandingan. Di menit ke-19, striker Abderrazak Khairi langsung memanfaatkan salah umpan bek Portugal Jaime Pacheco dengan melesakkan tendangan dari luar kotak penalti. Kiper Portugal Vitor Damas gagal menahannya sehingga Maroko unggul 1-0. Tujuh menit kemudian, Khairi kembali merobek gawang Damas setelah berhasil menyelesaikan umpan silang bek kanan Labid Khalifa dengan tendangan voli first time . Tertinggal 0-2, Portugal meningkatkan serangan di babak kedua. Kerjasama apik António Sousa dan Fernando Gomes tak lama setelah babak kedua dimulai hampir membuahkan hasil. Sayang tendangan keras Sousa dari luar kotak penalti ditepis kiper Maroko Badou Zaki. Unggul 2-0 tak membuat Maroko mengendurkan serangan di babak kedua. Sebuah kerjasama apik empat pemain yang dimotori Mohammed Timoumi pada menit ke-62 behasil memporak-porandakan pertahanan Portugal. Diakhiri oleh umpan silang Timoumi, striker Abdelkarim Merry menyelesaikannya dengan baik. Maroko unggul 3-0. Portugal baru bisa memperkecil kedudukan lewat Diamantino di menit ke-80. Kemenangan itu tak hanya mematahkan pandangan miring publik terhadap Maroko. “Maroko menciptakan sejarah bukan semata menjadi negara Afrika pertama yang mencapai babak gugur Piala Dunia tapi juga sebagai juara grup,” tulis Somnath Sengupta dalam “How Morocco’s 1986 World Cup Campaign Changed African Football Forover”, dimuat thesefootballtimes.co . Meski kalah dari Jerman Barat di babak berikutnya, para pemain Maroko mendapat sambutan meriah begitu tiba di tanah air. Tak hanya rakyat yang merayakannya di jalan-jalan, Raja Hasan II dan keluarganya bersuka cita di istananya. Pencapaian itu masih jadi prestasi terbaik Maroko di Piala Dunia hingga kini. “Belum pernah terjadi dalam sejarah sepakbola dunia sebuah negara Dunia Ketiga atau tim Afrika menjadi juara grup, padahal ini merupakan grup kuat. Banyak orang berharap kami kalah tapi banyak orang justru kalah di taruhan. Kami bisa pulang sekarang. Seolah-olah kami sudah menang Piala Dunia,” ujar Faria sang pelatih yang amat gembira usai pertandingan.

  • Preambul Piala Dunia Pertama Amburadul

    PIALA Dunia 2018 di Rusia resmi buka tirai, Kamis, 14 Juni 2017. Negeri Beruang Merah sukses menggelar upacara pembukaan yang mewah dan meriah. Musisi tenar Robbie Williams dan penyanyi sopran Rusia Aida Garifullina turut menggoyang seisi Stadion Luzhniki, Moskva. “Kami sangat bahagia bisa menggelar Piala Dunia di negara kami. Sepakbola sangat dicintai di sini. Rusia adalah negara terbuka, ramah, dan bersahabat,” cetus Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pidatonya ketika membuka Piala Dunia, dilansir BBC , Kamis (14/6/2018). Pembukaan Piala Dunia ini jelas jauh berbeda jika dibandingkan pembukaan Piala Dunia perdana, 88 tahun lampau. Piala Dunia Uruguay 1930 preambulnya amburadul. Selain baru kali pertama dihelat, turnamen itu gelar karpet di negeri Amerika Latin yang kondisi ekonomi, infrastruktur, dan sumber daya manusianya tak secanggih Eropa. Maka ketika si pencipta Piala Dunia, Jules Rimet, memutuskan gelaran pertamanya di Uruguay (sebagai peraih emas sepakbola Olimpiade Amsterdam 1928), banyak negara Eropa yang menolak memenuhi undangan partisipasi. Kala itu keikutsertaan di Piala Dunia masih sistem undangan. Situs FIFA 14 Juni 2014 menyebutkan, semua anggota FIFA saat itu diundang dan diberi tenggat waktu hingga 28 Februari 1930 untuk memberi kepastian. Tapi karena digelarnya di Amerika Latin, yang lebih banyak menyanggupi adalah para tetangga Uruguay di Benua Amerika. Selain politis, faktor lain yang membuat tim-tim Eropa kurang berminat adalah soal jarak. Soal ini, pemerintah Uruguay padahal sudah memberi jaminan bahwa transportasi (laut) ditanggung tuan rumah. Tetap saja, hanya empat partisipan Eropa yang datang: Belgia, Rumania, Yugoslavia, dan Prancis. Itupun setelah Presiden FIFA Jules Rimet turun tangan melobi. SS Conte Verde, kapal yang disediakan Uruguay untuk menjemput para partisipan Eropa/Foto: fifa.com Sisa delapan kontestan semua dari Benua Amerika: Amerika Serikat, Argentina, Cile, Meksiko, Brasil, Bolivia, Peru, dan Paraguay. Ke-13 negara, termasuk Uruguay, jadi perintis peserta Piala Dunia dan ini jadi rekor partisipan terbanyak Benua Amerika hingga sekarang. Laga Pembuka Diungsikan Terlepas dari situasi depresi ekonomi yang dialami negara-negara Benua Amerika, Uruguay juga terpengaruh bencana banjir dalam persiapannya. Akibat paling telak, pembangunan Estadio Centenario, stadion ikonik karya arsitek Juan Antonio Scasso yang dibangun khusus untuk Piala Dunia 1930 sekaligus perayaan 100 tahun kemerdekaan Uruguay dan menguras dana satu juta dolar Amerika, molor dari  tenggat waktu penyelesaian. Pengamat sepakbola cum wartawan senior Fernando Fiore dalam The World Cup: The Ultimate Guide to the Greatest Sports Spectacle in the World menyebutkan, pemancangan tiang pertamanya saja baru dilakukan enam bulan jelang jadwal pertandingan pertama, 13 Juli 1930. Estadio Centenario yang dibangun pada 1929 dan gagal rampung tepat waktu hingga upacara pembukaan Piala Dunia 1930 molor lima hari/Foto: Anotando Futbol Fiore mengerti betul perjuangan para pekerjanya, mesti berkejaran dengan waktu dan melawan banjir. “Paman saya berkisah bahwa dia dan para rekannya berbekal jas hujan, menyelesaikan beton tribun dengan obor las dan kipas besar agar cepat kering. Hujan turun tanpa henti dan tekanan kepada para pekerjanya sangat intens dan meningkat setiap harinya,” tutur Fiore. Seiring kian dekatnya Hari-H, reputasi Uruguay dipertaruhkan hingga akhirnya pasrah, Centenario gagal rampung tepat waktu. Jadwal dari FIFA tak berubah. Laga pertama tetap digulirkan 13 Juli dengan dua pertandingan sekaligus di waktu bersamaan, Prancis vs Meksiko di Grup 1 dan Amerika Serikat vs Belgia di Grup 4. Pihak penyelenggara akhirnya mencari venue pengganti untuk mengungsikan laga perdana itu. Panitia memilih dua venue yang juga berlokasi di Montevideo: Estadio Pocitos milik Klub Penarol untuk laga Prancis vs Meksiko (dimenangi Prancis 4-1) dan Estadio Gran Parque Central untuk laga AS vs Belgia (dimenangi AS 3-0). Sementara, Estadio Centenario baru rampung lima hari pascalaga pertama Piala Dunia (18 Juli 1930). Di saat itulah upacara resmi pembukaan Piala Dunia pertama dihelat. Diawali defile negara-negara peserta yang disambut 85 ribu penonton, upacara pembukaan lantas diakhiri dengan pertandingan pertama tuan rumah kontra Peru. “Estadio Centenario diresmikan 18 Juli dengan pertandingan (Piala Dunia) yang dimenangkan Uruguay, 1-0 atas Peru lewat gol Hector Castro,” ungkap Ejikeme Ikwunze dalam World Cup (1930-2014): A Statistical Summary .

  • Mendamba Kecantikan, Menggadaikan Kesehatan

    KULIT putih terang, halus, dan bersih menjadi dambaan banyak orang sejak lama. Resep-resep memutihkan kulit pun sudah ada sejak zaman baheula . Di Indonesia, resep mujarab memutihkan kulit didapat dengan rutin menggunakan bedak dingin yang terbuat dari tepung beras. Di masa berikutnya, muncul produk-produk pemutih kulit mengandung bahan kimia. “Kalau dibilang tidak sehat, ya pasti tidak sehat. Orang tadinya hitam lalu ingin putih, itu hal yang mengubah struktur kulit. Tapi selama tidak sehatnya hanya sedikit ya tidak apa-apa,” kata Sjarief Wasitaatmadja, salah satu dokter kosmetik medik pertama di Indonesia, kepada Historia . Pada 1970-an, produk kosmetik yang merusak kulit dan meracuni tubuh banyak beredar baik produk impor maupun produk lokal yang dibuat dengan formula warisan kolonial. Kosmetik itu umumnya mengandung zat-zat kimia yang berpotensi merusak kulit. Pasalnya, kala itu kesehatan kulit belum diperhatikan betul, hanya asal cantik saja. Sebagai contoh, krim pemutih kulit ada yang mengandung merkuri. Alih-alih memutihkan dan menghaluskan, krim justru merusak kulit dan tubuh. “Bahkan, ada yang sampai bengkak dan bernanah,” kata Retno Iswari Tranggono dalam biografinya yang ditulis Jean Coutetau, The Entrepreneur Behind The Science of Beauty . Produk bermerkuri memiliki efek yang sangat berat. Selain merusak kulit, logam berat merkuri bisa mengendap di otak, ginjal, dan lever. “Merkukri dilarang, soalnya beracun. Zaman dulu jangankan berbahaya, bahan yang bikin mati saja dipakai. Zaman dulu kan pengetahuannnya belum banyak. Tapi setelah dilakukan penelitian, orang tahu kalau itu berbahaya,” kata Sjarief. Krim pemutih bermerkuri sudah digunakan semasa Dinasti Tudor Inggris pada 1500-an. Kala itu kulit putih pucat didamba para bangsawan. Kulit putih pucat seolah menjadi penanda bahwa para bangsawan tak pernah kena sinar matahari dan bekerja fisik. Alhasil, mereka mempunyai kulit yang putih pucat laiknya mayat. Konon, Ratu Elizabeth I menggunakan kosmetik untuk memutihkan kulitnya. Kosmetik itu dibuat dari ramuan putih telur, tawas, boraks, dan biji poppy (bahan dasar opium) yang ditumbuk dan diberi air. Ramuan itu akan bertahan selama satu tahun dan konon ratu menggunakannya seminggu tiga kali. Sementara kelas di bawahnya, yakni para bangsawan, menggunakan bedak ( ceruse ) untuk membuat kulit terlihat putih. Tidak hanya perempuan, lelaki pun ingin memutihkan kulit mereka sebagai penanda status sosial. Mereka ramai-ramai membedaki wajah dan berjalan penuh kecongkakan tanpa tahu kalau kosmetik mereka beracun. Lama-kelamaan, kosmetik ini membuat kulit berjerawat dan pemakainya mengalami kerontokan rambut. Kulit pemakainya pun tidak lagi berwarna putih pucat, tapi jadi keabu-abuan. Beberapa kasus kronis menyebabkan pemakainya meninggal. Annette Drew-Bear dalam Painted Faces on the Renaissance Stage menulis, bedak yang digunakan para bangsawan mengandung logam berat. Salah satu bahan yang banyak digunakan di era itu adalah boraks dan merkuri yang berbahaya untuk tubuh. Di Amerika, ahli saraf Universitas Harvard Allen Counter, menemukan bahwa di Arizona, California, dan Texas, ratusan perempuan keturunan Meksiko menderita keracunan merkuri. Pemicunya tak lain penggunaan krim pemutih kulit. “Merkuri sebenarnya pemutih yang bagus tapi itu berbahaya. Soalnya merkuri mematikan semuanya, ya pigmen mati, ya orangnya mati. Ha-ha-ha,” kata Sjarief berkelakar. “Kalau digunakan dalam waktu lama, semua syaraf dan organ bisa mati karena keracunan. Merkuri dalam jumlah sedikit saja berbahaya,” sambung Sjarief dengan nada serius. Di Indonesia, salah satu pemutih kulit yang populer tahun 1970-an adalah krim mutiara ( pearlcream ), dari Tiongkok. Krim mutiara dipakai sebagai alas bedak dan krim menjelang tidur. Daya pemutihnya pada kulit sangat kuat. Namun, ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan kulit putih dengan krim ini. Pasalnya, krim mutiara mengandung merkuri. Merkuri yang masuk ke dalam tubuh bisa meracuni ginjal, saraf, dan darah. Efeknya bisa merusak organ tubuh secara permanen. Kulit pengguna juga bisa kemerahan bahkan bengkak hingga bernanah. Pemerintah Indonesia melarang penggunaan pemutih berbahan merkuri pada 1970-an. Ada risiko besar yang harus ditanggung kala usaha memutihkan kulit berujung nestapa. Sebab, pada dasarnya memutihkan kulit menyimpan risiko kesehatan alih-alih mencapai kecantikan ideal yang didamba entah siapa. “Orang Indonesia banyak yang ingin kulit putih. Itu sebenarnya tidak sehat,” kata Sjarief.

  • Yang Diceraikan Jelang Hajatan

    KALAU seorang pelatih gagal mengantarkan timnya lolos Piala Dunia dan dipecat atau mengundurkan diri, itu biasa. Tapi, kalau pelatih sudah meloloskan timnya namun batal mendampingi di hajatan akbar Piala Dunia gara-gara PHK atau resign , ini perkara langka. Julen Lopetegui mengalaminya baru-baru ini hingga menggegerkan jagat sepakbola dunia. Pelatih timnas Spanyol itu dipecat dua hari jelang Piala Dunia 2018. RFEF (Federasi Sepakbola Spanyol) terpaksa memecatnya akibat Julen meneken kontrak dengan Real Madrid tanpa sepengetahuan manajemen RFEF. “Tapi kami sudah mengetahuinya lima menit sebelum Real Madrid mengumumkannya,” ungkap Ketua RFEF Luis Rubiales, dikutip El Pais , Rabu (13/8/2018). Untuk sementara, tim Matador akan didampingi Direktur Olahraga RFEF Fernando Hierro sebagai caretaker sepanjang turnamen. Ini kejadian yang sangat tidak lazim dalam sejarah Piala Dunia. Selain Lopetegui, ada empat pelatih lain yang juga batal memimpin timnya dari pinggir lapangan: Vahid Halilhodzic, Carlos Queiroz, Amodu Shaibu, dan Philippe Troussier. Vahid Halilhodzic Vahid Halilhodzic diceraikan Pantai Gading dan kini Jepang jelang Piala Dunia/Foto: Wikimedia Halilhodzic lebih dulu mengalami kepahitan ketimbang Lopetagui. Pelatih Bosnia berusia 66 tahun ini pada 2008 dipercaya membangun sepakbola Pantai Gading. Halilhodzic sukses membimbing Didier Drogba cs. melalui kualifikasi Piala Dunia 2010 tanpa kekalahan. Begitupun di kualifikasi Africa Cup of Nations (Piala Afrika) 2010. Sial, di Piala Afrika Angola 2010, Pantai Gading tersingkir 2-3 dari Aljazair di perempatfinal. Publik Pantai Gading kecewa. Seketika, Halilhodzic dipecat pada 27 Februari 2010 atau empat bulan jelang Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Jelas,dia tak terima.“Saya kalah sekali dari 24 laga terakhir dalam dua tahun dan sekarang saya dikorbankan. Keputusan itu murni politis,” kata Halilhodzic, dikutip harian L’Equipe , 28 Februari 2010. “Ketika kalah, para politisi mulai menghujani kami dengan tekanan. Mereka takkan mengorbankan pemain atau ofisial dari tim. Yang dikorbankan adalah pelatih,” imbuhnya. Kesialan kembali menimpanya ketika Halilhodzic menukangi Jepang pada 2015 dan berhasil membawa tim itu lolos ke Piala Dunia 2018. Dua bulan jelang turnamen, Halilhodzic dipecat. Kekalahan 1-4 dari Korea Selatan pada laga terakhir gelaran EAFF E-1 Championships medio Desember 2017 jadi penyebabnya. Pujiannya terhadap Korea pasca-pertandingan bikin murka petinggi JFA. Carlos Queiroz Carlos Manuel Brito Leal Queiroz/Foto: fifa.com Untuk keempat kalinya, pria Portugal ini kembali ke Piala Dunia. Tahun ini, Queiroz mendampingi timnas Iran sebagaimana empat tahun sebelumnya bersama negara kelahirannya Portugal di Piala Dunia 2010. Namun dari segudang pengalamannya di Piala Dunia, ada satu kegetiran. Mestinya Queiroz bisa menggulirkan debutnya sebagai pelatih di Piala Dunia pada 2002 bersama timnas Afrika Selatan (Afsel). Beberapa bulan jelang hajatan akbar di Jepang dan Korea Selatan, Queiroz mengundurkan diri setelah sebelumnya mengantarkan tim Bafana Bafana lolos kualifikasi. Pada 12 Maret 2002, sebagaimana dilansir panapress.com, Queiroz mundur lantaran SAFA (Federasi Sepakbola Afsel) kekeuh menempatkan sosok Direktur Teknik Jomo Sono. SAFA dan Queiroz kerap tak sependapat dalam seleksi pemain. Afsel berangkat ke Korea-Jepang dengan Jomo Sono sebagai penggantinya. Amodu Shaibu Amodu Shaibu/Foto: Signal NG Shaibu Amodu tak pernah menyangka perhelatan pendahuluan macam Piala Afrika  bisa menentukan nasib di Piala Dunia. Setelah susah payah mengantarkan Nigeria lolos kualifikasi Piala Dunia 2002, dia mesti gigit jari akibat dipecat pada 18 Februari 2002. “Setelah performa yang mengecewakan di Piala Afrika, Amodu dipecat. Menurut Menteri Olahraga Ishaku Mark Aku, sang pelatih disebutkan kurang berkomitmen dan disiplin dalam turnamen itu,” ungkap Michael Lewis dalam World Cup Soccer: Korea/Japan 2002. Di turnamen itu, Nigeria tersingkir di semifinal setelah dibekap Senegal, 1-2. “Saya tak pernah mengira dihakimi seperti ini setelah Piala Afrika. Andai saya memenangkannya, takkan ada yang berkata negatif tentang saya,” kata Shaibu kala diwawancara BBC , 26 Februari 2002. Nigeria akhirnya ditemani pelatih pengganti Festus Onigbinde di Piala Dunia 2002. Amodu kembali mengasuh Nigeria pada 2008-2010 dan 2014-2015. Philippe Troussier Philippe Omar Troussier/Foto: fifa.com Pelatih asal Prancis Philippe Troussier turut merasakan habis manis sepah dibuang tak lama setelah meloloskan Nigeria ke Piala Dunia 1998. NFA, kini NFF (Federasi Sepakbola Nigeria) lebih menginginkan pelatih dengan pengalaman lebih. Velibor ‘Bora’ Milutinovic akhirnya dipilih menggantikan Troussier. “Kami telah membatalkan kontrak Troussier karena kami merasa secara teknis dia kurang cocok untuk mendampingi Eagles (julukan Nigeria) ke Piala Dunia di Prancis tahun depan,” terang Ketua NFA Abdulmumuni Aminu, disitat Panafrican News Agency , 25 September 1997. Namun Dewi Fortuna tetap berpihak kepada Troussier. Dia tetap berangkat ke Piala Dunia 1998 mendampingi timnas Afsel. Tak lama kemudian, Nigeria mencoba kembali mendatangkan Troussier sepeningal Milutinovic. Sialnya, usaha mereka pada 2004 gagal. Pun begitu sedekade berselang (2014).

  • Akar Seteru Suporter Oranye dan Biru

    HAMPIR tiap kali Persija dan Persib hendak bertanding, kekhawatiran akan tawuran antara kedua kelompok suporter militan mereka, Jakmania (Persija) dan Viking (Persib), mencuat. Entah sudah berapa kali seruan damai ditujukan pada keduanya, toh perdamaian mutlak belum belum juga muncul di antara keduanya. Perseteruan dua kelompok suporter besar ini nyaris seusia The Jakmania yang lahir pada 1997. Padahal, Jakmania dan Viking awalnya merupakan kawan. “Sebelum-sebelumnya enggak pernah bentrok, karena Viking sendiri lahir 1993, sementara The Jak baru 1997, kan,” ungkap Bobotoh cum pengamat hukum olahraga Eko Noer Kristiyanto kepada Historia. Persahabatan itu berjalan hingga awal 2000. Ketua Umum Jakmania Tauhid Ferry Indrasjarief ingat betul masa-masa indah itu.  “Kita pernah sambut Bobotoh di Jakarta. Mereka pulang, kita iring-iringan nyanyi ‘Halo-Halo Bandung’ sampai tukeran kaos segala,” ujar Ferry kepada Historia . Beberapa waktu kemudian, ketika Jakmania diserang di Stadion Siliwangi, lanjut Ferry, “Viking malah dulu yang dekat sama kita, berusaha jaga.” Namun, perdamaian itu mulai retak oleh ulah “penumpang gelap”. Akar masalahnya, kata Ferry, mulai muncul pasca-Persib bertandang ke Jakarta tahun 2000. “Dulu itu sejarahnya waktu kita sambut Bobotoh di Jakarta. Sempat ada benturan kecil, tapi akhirnya damai,” kata Ferry. Setahun kemudian, insiden kembali terjadi ketika ratusan Jakmania mengawal Persija bertandang ke Stadion Siliwangi, Bandung. “Di situ kan banyak yang bukan Viking. Terjadi keributan, dua anggota kita kepalanya bocor dan gegar otak,” sambung Ferry. Sejumlah oknum Viking memperparah keadaan dengan menyerang anggota Jakmania di Cimahi beberapa saat kemudian. Jakmania kala itu tengah mengawal Persija berlaga kontra Persikab Bandung. Dari situlah timbul saling dendam. “Meluas karena pemberitaan media, TV. Anak-anak yang nggak datang ke Bandung ikut sakit hati, timbullah kebencian yang lebih luas. Sampai ada kejadian lagi di Kuis Siapa Berani,” ujar Ferry menjelaskan. Insiden yang terjadi 28 Juli 2003 itu mengakibatkan sembilan anggota Viking luka-luka. Upaya Damai Upaya untuk berdamai dari masing-masing kubu bukan tidak ada. Ferry sendiri sudah tiga kali melancong ke Bandung, dua kali bertemu pentolan Viking dan sekali bersua pimpinan Bomber (Bobotoh Maung Bandung Bersatu). Namun diakui Ferry, sulitnya perdamaian juga disebabkan oleh kondisi “panas” di garis perbatasan macam Bogor, Depok atau Bekasi. Para penggila bola di daerah-daerah itu juga terpecah antara oranye (Jakmania) dan biru (Viking). Tauhid Ferry Indrasjarief, Ketua Umum Jakmania/Foto: Randy Wirayudha “Sudah pernah juga saya diskusikan dengan pimpinan Viking. Terutama yang di Bekasi dan Bogor, juga kondisinya sulit. Saya pernah ingin temui pentolan Viking di Bogor, tapi mereka belum bisa nentuin waktunya kapan bisa ketemu,” sambungnya. Pihak ketiga, mulai kepolisian hingga kementerian, juga sudah berkali-kali mencoba jadi mediator. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bersama PSSI, misalnya, memediasi pada Agustus 2017. “Mari kita sudahi hal-hal yang menyakitkan,” seru Menpora Imam Nahrawi dalam pembukaan gelar jumpa suporter, 3 Agustus 2017, dikutip situs kemenpora.go.id. Sayang, kala itu Ferry justru enggan hadir. “Karena gue mau (upaya silaturahim) ini datang dari bawah, bukan dari atas. Bukan dari orang pemerintahan, politik, atau kepolisian. Kalau mau damai, kita bicara kelompok A dan B. Dengan dipertemukan pihak ketiga belum tentu lebih baik. Karena kalau ketemu, polisi, pejabat, itu bisanya cuma bilang damai-damai, dinasihatin, ayo tanda tangan, ikrar. Nggak bisa begitu menurut gue,” jelas Ferry. Pernyataan Ferry ada benarnya. Itu bisa dibuktikan dari fakta singkatnya usia perdamaian yang disepakati ketua Jakmania Larico Ranggamone dan Ketua Umum Viking Heru Joko di Bogor, 11 April 2014. Perdamaian yang diinisiasi Wakapolda Jabar Brigjen Rycko Amelza Dahniel dan Wakapolda Metro Jaya Brigjen Sujarno itu kembali rusak pada 27 Mei 2014 kala keduanya kembali bentrok hingga menewaskan tiga orang. Bentrokan berlanjut 9 November 2014, rombongan 20 bus Viking diserang di Tol JORR (Jakarta Outer Ring Road). “Ada yang melestarikan permusuhan ini, tapi saya tidak tahu siapa,” cetus Larico, dikutip Detik , 17 Oktober 2015. Perdamaian hanya bisa terjadi bila akar rumput bisa “dididik” sehingga kebencian dari segala hal bisa dihilangkan. Baru setelah itu bicara rekonsiliasi. “Kita bicara lagu rasis dulu deh. Itu harus dihilangkan. Itu yang membuat luka makin melebar. Hate speech di kaos, spanduk, media sosial juga harus dihilangkan dulu. Harus ada pendekatan psikologis. Digali nuraninya, apa mau sampai kiamat? Daripada dikasih doktrin-doktrin damai. Artis saja banyak yang disuruh damai tapi cerai-cerai juga tuh ,” canda Ferry. n

  • Atas Nama Ideologi Negara

    BADAN Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menghiasi laman portal berita sepekan terakhir. Lembaga yang bernaung di bawah Presiden ini dibentuk sejak Mei 2017. Badan itu menjadi unit kerja yang membantu Presiden Joko Widodo dalam merumuskan arah kebijakan pembinaan ideologi Pancasila. Sejumlah tokoh masyarakat dan intelektual tergabung di dalamnya.   Sorotan mengarah ketika besaran gaji yang diterima tim BPIP tersingkap ke publik. Beberapa kalangan menilai, jumlah yang dialokasikan kelewat besar bahkan lebih tinggi daripada presiden dan jajaran pejabat tinggi negara lainnya. Perkembangan terakhir datang dari ketua pelaksana BPIP, Yudi Latif yang memutuskan mengudurkan diri. Beragam tanya pun kian bergulir terhadapl urgensi dan kinerja BPIP. Menilik sejarahnya, lembaga ideologi seperti BPIP pernah eksis pada dua rezim. Di era Sukarno dikenal indoktrinasi Manipol-USDEK. Sementara di zaman Orde Baru,  Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4) pernah begitu mengakar dalam kehidupan masyarakat. Bagaimana sepakterjang keduannya dalam mengawal ideologi negara? Indoktrinasi Ala Sukarno Bermula ketika Bung Karno mengeluarkan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959 yang menjadi tonggak Demokrasi Terpimpin. Ideologi negara dirumuskan kembali. “Dia (Sukarno) menyerukan dibangkitkannya kembali semangat revolusi, keadilan sosial, serta perlengkapan kembali lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi negara demi revolusi yang berkesimbungan,” ujar sejarawan Merle Calvin Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern . Sukarno menguraikan ideologi negara dalam Manifestasi Politik (Manipol). Manipol adalah isi pidato Sukarno yang berjudul “Penemuan Kembali Revolusi Kita” pada peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus 1959. Intisari Manipol terdiri dari lima unsur yang disebut USDEK, yaitu UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia. “Upaya Sukarno menjadikan Manipol USDEK sebagai tafsir resmi menandai perubahan penting Pancasila menjadi ‘ideologi negara’ yang bersifat resmi dan tunggal,” tulis Roy B.B. Janis dalam Soeharto Murid Soekarno . “Seluruh kekuatan masyarakat dikerahkan hanya untuk mengenal dan ‘mengamalkan’ pengertian resmi itu sambil menolak segala paham yang tidak berkesesuaian dengannya.” Setelah ditetapkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), doktrin Manipol USDEK diperkenalkan ke segala lini kehidupan. Adalah lembaga Dewan Pertimbangan Agung (DPA) yang berperan sebagai alat indoktrinasi. DPA beranggotakan 45 orang dari berbagai golongan yang bertugas memberikan masukan bagi Presiden.  Namun dalam kinerjanya, DPA lebih berfungsi sebagai wadah think thank pengejawatahan Manipol-USDEK. Manipol USDEK menjadi materi yang disisipkan melalui kurikulum sekolah tingkat dasar hingga universitas. Indoktrinasi juga meliputi pegawai negeri dan karyawan perusahaan negara. Indonesianis terkemuka. Herberth Feith dalam Sukarno-Militer dalam Demokrasi Terpimpin menyebutkan setiap partai politik, organisasi massa, dan pers diwajibkan mendukung dan menerima Manipol-USDEK sebagai pedomannya. Dalam praktiknya, indoktrinasi ini tak cukup sebagai pembina ideologi. Ia juga menjadi alat politik yang beririsan dengan hegemoni kekuasaan. “Beberapa redaktur yang pro-Masjumi dan pro-PSI menolak melakukannya, dan suratkabar mereka pun dilarang terbit,” tulis Ricklefs. Strategi Soeharto Politisasi ideologi kembali terulang di masa Orde Baru. Pada 1975, Presiden Soeharto mencanangkan Eka Prasetya Panca Karsa atau Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Gagasan ini disahkan MPR dalam Sidang Istimewa dengan TAP MPR No II/MPR/1978. “Secara bertahap dibentuk bahan-bahan yang saya tugasi untuk memikirkan bahan bahan penataran, memberi arah dan melaksanakan penataran itu, baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat daerah,” kata Soeharto dalam otobiografi Soeharto: Pikiran, Ucapan, Tindakan Saya . Untuk mengawal jalannya program ideologi ini, Soeharto membentuk lembaga khusus: Tim Pembinaan Penatar dan Bahan Penataran Pegawai Republik Indonesia dan Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan P-7 (BP-7). Program penataran diperuntukan bagi seluruh warga negara, terutama pegawai negeri dan aparat ABRI. Dalam P-4, wujud pengamalan Pancasila dirinci dalam butir-butir nilai yang berjumlah 36. Semua pegawai pemerintah dan anggota militer wajib ambil bagian dalam penataran itu. Pada setiap permulaan tahun ajaran baru SMP, SMA, dan universitas baik negeri ataupun swasta turut  menyelenggarakan P-4. Tak dapat dimungkiri bahwa pelaksanaan penataran P-4 menyedot biaya besar dari dana negara dan rawan sebagai proyek manipulasi anggaran. Menurut Galih Hutama Putra, kebijakan P-4 merupakan pengimplementasian tujuan pemerintah Orde Baru untuk menjalankan Pancasila secara murni, konsisten, dan konsekuen. Namun kebijakan ini tak luput dari tuaian kritik. Pasalnya, P-4 berujung kepada penetapan Pancasila sebagai asas tunggal yang kemudian menimbulkan kisruh politik. Sebagian kalangan masyarakat menilai kebijakan ini memaksakan ideologi dari pemerintah sekaligus strategi Soeharto untuk memperkuat kekuasannya. Mereka yang menolak antara lain seperti kelompok Petisi 50 dan kelompok agama yang diwakili Partai Persatuan Pembangunan (PPP). “Kebijakan P-4 dan Asas Tunggal adalah sebuah upaya Soeharto dalam memperkuat kekuasannya,” tulis Galih dalam skripsinya di Universitas Indonesia berjudul “Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4) dan Asas Tunggal: Kebijakan Soeharto tahun 1978-1985”. “Meskipun dalam pelaksanaannya mendapat kritikan dan reaksi yang cukup gencar dari berbagai kalangan masyarakat, namun Soeharto berhasil mengatasinya dan tetap menjalankannya selama hampir 20 tahun.” Kedua lembaga ideologi Orde Lama dan Orde Baru bubar seiring dengan jatuhnya kekuasaan rezim. Indoktrinasi Manipol USDEK terhenti setelah meletupnya prahara politik 1965 yang mengakhiri pemerintahan Sukarno. Pun demikian, penataran P4 mengalami nasib yang sama. Dalam Sidang Istimewa November 1998, MPR mencabut TAP MPR No II/MPR/1978 tentang P-4. Pertimbangannya, materi muatan dan pelaksanaan P4 tak sesuai dengan perkembangan kehidupa negara.

  • Bukber di Gedung Putih

    SETELAH sekian lama absen, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyambung tradisi buka puasa bersama (bukber) di Gedung Putih, Washington, DC Rabu (6/6/2018) waktu setempat (Kamis, 7 Juni WIB). Ini kali pertama Trump menjamu puluhan duta besar negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, termasuk Duta Besar RI Budi Bowoleksono. “Kami merasa sangat terhormat dan terimakasih banyak atas kehadiran Anda semua. Kepada Anda dan muslim di seluruh dunia: Ramadan Mubarak . Makan malam Iftar (buka puasa) adalah saat di mana keluarga dan para sahabat merayakan pesan perdamaian dan kasih,” cetus Trump dalam potongan pidatonya yang dimuat whitehouse.gov , 6 Juni 2018. Ramadan tahun lalu, Trump mengabaikan tradisi bukber di Gedung Putih. Kala itu Trump masih “alergi” dengan dunia Islam, yang diperlihatkan sejak masa kampanyenya. Pernyataan Trump acap bikin sakit hati umat Islam. Yang paling bikin resah adalah rencananya melarang muslim masuk AS dan umat Islam yang ada di AS akan disensus. Kalau perlu, diberi tanda laiknya orang Yahudi di era Nazi. Sayang, dalam bukber tahun ini Trump tak mengundang perwakilan komunitas muslim di negerinya sendiri. Di masa-masa sebelum Trump, mereka selalu ikut diundang. Termasuk di masa kepresidenan George Walker Bush, saat hubungan AS dengan dunia Islam berada di titik nadir gara-gara Tragedi 11 September 2001. Bush memang sempat membatalkan tradisi bukber, namun Bush kembali menghelat bukber di tahun berikutnya (2002). “Sejumlah organisasi muslim menduga Bush membatalkan Iftar karena khawatir dirinya dikritik oposisi pro-Israel karena telah bersosialisasi dengan muslim,” ungkap Theodore Gabriel dan Jane Idleman Smith dalam Islam and the West Post 9/11. Dirintis Thomas Jefferson Bukber pertamakali masuk Gedung Putih pada 9 Desember 1805, ketika Presiden Thomas Jefferson menjamu Sidi Soliman Melli Melli, utusan Beylik Tunisia, negara bagian otonom Kekaisaran Turki Ottoman. Bukber itu bersifat informal lantaran hanya pelengkap dari jamuan Jefferson. Jefferson mengundang Melli Melli untuk membicarakan pembajakan di kawasan Laut Mediterania pasca-Perang Barbaria I (1801-1805), perang laut antara AS, Swedia, dan Kerajaan Sisilia (kini bagian dari Italia) di satu pihak melawan Kesultanan Tripolitania (Libya) dan Maroko di pihak lain. Pembicaraan itu akan dibarengi makan bersama. Frederick William Dame dalam The Muslim Discovery of America membeberkan bahwa sebelumnya Melli Melli dengan sopan menolak memenuhi undangan ke Gedung Putih itu lantaran masih berpuasa. Jefferson lalu menunda undangan makan bersama hingga pukul 3.30 petang di waktu matahari terbenam. Dia berharap Melli Melli bersedia datang sembari berbuka puasa bersama. Jefferson memahami Islam karena telah mempelajarinya sejak masih studi tentang hukum alam. Sejak 1765, dia mempelajari dua jilid Al-Quran terjemahan bahasa Inggris. Koleksi dua Al-Quran-nya itu kini tersimpan di Perpustakaan Kongres. Pemahaman terhadap Islam ini membantu pembicaraannya dengan Melli Melli. Alhasil, negosiasi berjalan lancar. Sejumlah kapal dagang AS yang dibajak pun dikembalikan dan perdamaian dari Traktat Tripoli pasca-Perang Barbaria I tetap lestari. Bukber yang dirintis Jefferson sayangnya tak dilanjutkan presiden-presiden setelahnya lantaran memang resepsi Iftar itu bukan acara resmi. Amerika juga belum memiliki banyak hubungan diplomatis dengan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim kala itu. Tradisi ini baru jadi agenda resmi lebih dari 200 tahun berselang. Tepatnya di masa kepresidenan Bill Clinton, bukber di Gedung Putih menjadi acara resmi untuk pertama kalinya. Pada 20 Februari 1996, Ibu Negara Hillary Clinton juga menjadi tuan rumah perayaan Idul Fitri pertama di Gedung Putih. “Perayaan itu adalah hal baik dari apa yang saya dan suami saya pelajari tentang Islam. Semua itu juga (gagasannya) datang dari putri saya (Chelsea Clinton). Dia pernah belajar tentang sejarah Islam setahun lalu,” tutur Hillary, dikutip Nicholas J. Cull dalam The Decline and Fall of the United States Information Agency .

  • Kegetiran di Balik Penemuan Obat Jerawat

    KETIKA bintik merah menghiasi wajah, beberapa orang akan langsung lari ke dokter kulit. Biasanya dokter akan meresepkan tretinoin dosis rendah dalam bentuk obat oles sebagai pengobatan jerawat. Bila pengobatan belum berhasil, dosis tretinoin ditingkatkan dalam bentuk obat minum. Tretinoin merupakan nama umum dari Retin-A, turunan vitamin A yang bersifat asam. Asam vitamin A membantu mengelupas kulit dan meningkatkan kolagen sehingga memperbaiki kulit rusak dan mempercepat penyembuhan jerawat. “Sejauh ini tretinoin yang paling jadi andalan. Obat oralnya buat akne (jerawat) bagus banget. Tetapi boleh diresepkan bila dosis di bawahnya tidak mempan karena efek sampingnya juga berat,” kata Sjarief Wasitaatmadja yang sudah menjadi dokter kulit sejak 1970-an. Sjarief menyayangkan beberapa dokter langsung memberikan tretinoin oral untuk pasien. Sebab, efek tretinoin cukup berat, seperti cacat janin bila dikonsumsi perempuan hamil. Untuk mengurangi kesalahan dan risiko pengobatan jerawat, Sjarief beserta beberapa rekannya di Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Seluruh Indonesia (Perdoksi) membuat Kelompok Studi Dermatologi Kosmetik yang memberikan bimbingan pengobatan jerawat pada para dokter muda. Penggunaan tretinoin dalam pengobatan jerawat di Indonesia dimulai ketika ilmu kosmetik medik muncul pada dekade 1970-an, tak lama setelah dokter kulit asal Amerika Albert Kligman menemukan obat jerawat berbahan tretinoin. Jerawat sebagai masalah kulit yang pasti diderita semua orang sekali seumur hidup, dulunya dianggap bukan penyakit. Jerawat ditangani dengan dipencet dan diberi sulfur. Penemuan yang Penuh Kegetiran Penemuan tretinoin sebagai obat jerawat bermula dari ketertarikan Kligman, profesor di Universitas Pennsylvania, Amerika untuk mempelajari zat turunan dari Vitamin A pada 1960-an. Para peneliti Eropa jauh sebelumnya memang telah melakukan riset tentang tretinoin, tapi menurut mereka zat ini terlalu keras untuk kulit. Kligman bersama rekan-rekannya menemukan dosis yang tepat dalam penggunaan tretinoin sehingga aman digunakan sebagai obat pada 1967. Penemuan ini dilisensikan untuk perusahaan farmasi Johnson & Johnson yang memasarkan Retin-A pada 1971. Tapi penelitian Kligman menyimpan kegetiran. Sejak 1951-1974 penelitian medis di Amerika Serikat menggunakan narapidana sebagai kelinci percobaan. Para napi di penjara Holmesburg, Pennsylvania, dibayar untuk menguji beberapa kandungan zat dari yang paling remeh seperti bahan pembuat deodoran dan sampo sampai bahan radioaktif, halusinogenik, dan beracun. Para tahanan bahkan harus siap bersinggungan dengan patogen penyebab infeksi kulit, herpes, dan jamur. Allen M. Hornblum dalam artikelnya “A Conspiracy of Silence” yang dimuat dalam Journal of Clinical Research Best Practice April 2006, menyebut lebih dari 30 perusahaan farmasi dan beberapa lembaga pemerintah ada di balik praktik kejam ini. "Uang adalah alasan utama para narapidana mau berpartisipasi dalam program itu. Mereka membutuhkan uang untuk keluarga mereka dan kebutuhan hidup,” kata Gerd Plewig ketika diwawancara Hornblum tahun 1996. Plewig adalah murid Kligman dari tahun 1967 hingga 1970. Dia salah satu dokter kulit yang ikut dalam riset medis di Penjara Holmesburg. Plewig kemudian menjadi ketua Departemen Dermatologi di Universitas Munich, Jerman, sebuah posisi penting di kalangan dokter kulit Eropa. Menurut Plewig, Holmesburg adalah tempat kelahiran tretinoin sebagai obat jerawat. Ketika masih menjadi murid Kligman, dia mengkhususkan diri pada perawatan jerawat. Riset utama Plewig adalah retinoid (tretinoin) untuk terapi obat. “Prapengujian untuk keamanan dan toleransi dosis retinoid dilakukan di penjara. Uji klinis pertama di laboratorium baru dilakukan setelahnya,” kata Plewig. Untuk membayar penemuan bahan obat jerawat paling andalan ini para napi yang menjadi sukarelawan harus rela mengalami pengelupasan kulit hebat, bahkan luka. Studi medis yang melibatkan napi kemudian berakhir pada dekade 1970-an. Pemicunya bukan eksperimen retinoid, melainkan dioxin, zat beracun yang digunakan militer Amerika selama Perang Vietnam. Kligman, pemimpin riset di Holmesburg, selain melakukan riset tentang penyembuhan jerawat juga bereksperimen dengan dioxin. Kligman memaparkan zat dioxin dosis tinggi pada sekira tujuh puluh napi Holmesburg. Riset ini dibiayai Dow Chemical, yang membayar Kligman 10 ribu dollar Amerika pada 1965-1966. Pada 1980-an, seperti ditulis Keramet Reitert dalam artikelnya “Experimentation on Prisoners: Persistent Dilemmas in Rights and Regulations”, dimuat di jurnal hukum universitas California, dua tahanan menuntut Dow Chemical. Mereka mengaku masih mengalami bekas luka, lecet, kista, dan ruam sampai 15 tahun pasca-percobaan. "Kligman samasekali tidak peduli tentang para tahanan di Holmesburg dan masalah etika eksperimennya pada mereka,” kata Bernard Ackerman, ahli fisika yang tak sepakat dengan studi medis Kligman di penjara. Tingginya protes dan laporan dampak buruk dalam ujicoba medis membuat pemerintah menutup Penjara Holmesburg pada 1975. Tiga tahun setelahnya, keluar peraturan federal yang melarang ujicoba studi medis berisiko tinggi pada manusia, termasuk napi. Sementara Kligman dan Johnson & Johnson mendapat untung besar dari penemuan retinoid dan mendunianya penemuan mereka, para napi menanggung luka. Ada kegetiran yang harus ditanggung untuk sebuah resep mujarab menghaluskan kulit.*

  • Jakmania Milik Semua Masyarakat Ibukota

    PADA 22 Juni nanti, Jakarta akan menginjak usia 491 tahun. Ibukota makin disesaki manusia dari berbagai daerah. Sejak masih bernama Sunda Kelapa pun, kota ini sudah jadi tempat mukim orang dari bermacam etnis, mulai Sunda, Jawa, Melayu, Ambon, Tionghoa hingga Eropa.  Dari percampuran banyak etnis itu, muncullah etnis baru bernama Betawi. James Minahan dalam EthnicGroupsofSouthAsiaandthePacific : AnEncyclopedia menyebutkan, percampuran itu terjadi sejak 1619 ketika VOC, kongsi Dagang Belanda, berkuasa dan menamakan daerah itu Batavia. Etnis Betawi mendominasi Batavia pasca-Geger Pecinan 17 Oktober 1740. Semasa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin (1966-1977), etnis Betawi dan budayanya dijadikan identitas Jakarta.  Seiring putaran waktu dan kencangnya arus urbanisasi, Jakarta tak lagi “milik” masyarakat Betawi saja. Jakarta menjadi etalase slogan Bhinneka Tunggal Ika. Jakarta bukan milik satu etnis. Pun Persija Jakarta sebagai klub kebanggaan ibukota. Prinsip itu yang ingin digulirkan Tauhid Ferry Indrasjarief ke dalam Jakmania, suporter setia Persija. Bung Ferry, begitu dia biasa disapa, ingin masyarakat Ibukota yang berbeda-beda suku tetap satu dukungan, untuk Persija. Ferry pertama kali jadi panglima saat menggantikan Gugun Gondrong. Pria bernomor anggota JM 002 itu lalu bertahan sebagai tampuk pimpinan berturut-turut mulai 1999-2001, 2001-2003, dan 2003-2005. Lewat Musyawarah Luar Biasa Jakmania Januari 2017 lalu, Ferry kembali terpilih sebagai ketua umum (ketum) periode 2017-2020. Kecintaan putra Betawi namun kelahiran Bandung, 18 Februari 1965, itu terhadap tim Macan Kemayoran bersemi seiring seringnya diajak menonton tim nasional main oleh sang kakek, Mujeran. “Kakek orang Betawi asli Petojo. Dulu dia yang sering ajak nonton timnas (Indonesia). Di timnas saat itu ada sembilan pemain Persija. Dari situ gue mulai suka dengan Persija,” ungkap Bung Ferry kala ditemui Historia di kediamannya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Diakui Bung Ferry, sejak masa sekolah hingga kuliah, belum ada pendukung Persija yang terorganisir. Baru di era 1990-an muncul Persija Fans Club, berasal dari kalangan artis dan keluarga pemain Persija. “Tapi kemudian hilang begitu saja,” lanjutnya. Kawan suporter asal ibukota Bung Ferry pun hanya dari Commandos, kelompok pendukung Pelita Jaya. Bersama sebagian dari mereka, Bung Ferry mendirikan The Jakmania pada 19 Desember 1997. Dengan markas pertama di Stadion Menteng, mereka beberapa kali kena gusur sehingga pindah ke Stadion Lebak Bulus, GOR Ciracas, dan kini Stadion Soemantri Brodjonegoro di Kuningan, Jakarta Selatan. Menembus Sekat Kultural Diakui Ferry, Jakmania sebagaimana gambaran masyarakat di ibukota “demografinya” sangat heterogen. Itu yang membedakan dari Persija Fans Club yang kental unsur ke-Betawi-annya. Semasa PFC, Persija sempat berganti julukan jadi “Si Jampang”. Oleh karena itu, Ferry menegaskan, Jakmania tak terbentur sekat-sekat kesukuan atau budaya laiknya Bobotoh yang kental dengan nyunda -nya atau Bonek yang identik dengan Arek-Arek Suroboyo. “Jakmania itu mendobrak kultur dan mengusung kultur baru. Tidak harus sepakbola itu dijadikan perang antarsuku (di lapangan). Tidak harus orang Sunda (di ibukota) dukung Persib. Ketika elo tinggal di Jakarta, cari makan di Jakarta, ayo kita sama-sama dukung Persija, tim yang ada di kota elo. Kita didik generasi kedua para pendatang dengan pendekatan itu dan itu berhasil. Kulturnya jadi nyatu semua, karena mereka semua kan tinggal di Jakarta,” tuturnya lagi. Tauhid Ferry Indrasjarief, Ketua Umum The Jakmania/Foto: Randy Wirayudha Oleh Ferry dan jajarannya, prinsip itu terus “dipropagandakan” dengan slogan yang tertera di kaos-kaos Jakmania. Dalam kaos angkatan pertama, “Gue Anak Jakarta”, bukan “Gue Anak Betawi”, pimpinan menyemai prinsip Persija bukan milik orang Betawi saja tapi milik orang Jakarta. Lewat kaos di tahun kedua, “Satu Jakarta Satu”, pimpinan Jakmania bertujuan menghilangkan tawuran. “Sesama The Jak dilarang tawuran, tabu buat kita. Alhamdulillah dampak tawuran antarsekolah ikut berkurang, tinggal tawuran antarkampung yang belum,” imbuh Ferry. Seiring bertambahnya massa Jakmania, Ferry mengakui tugasnya kian berat di periode keempat. Tantangan terberatnya, menjaga kesolidan Jakmania di tengah bermunculan kelompok-kelompok anyar. “Heterogennya makin kuat di Jakmania. Tapi yang penting bagaimana caranya agar tetap nyatu , walau dia alirannya Ultras, Hooligans atau apa. Makanya gue bikin lagu, “Persija Menyatukan Kita Semua”. Karena menurut gue di Jakarta harus tetap ada satu payung yang mengayomi mereka semua,” tambah Bung Ferry. Jakmania, sebagaimana diinginkan Ferry, mesti jadi jembatan antara suporter, klub, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Selain tetap kritis terhadap prestasi klub, Jakmania juga sudah lama menantikan janji-janji birokrat terkait stadion pasca-digusurnya Stadion Menteng (2006) dan Lebak Bulus (2015). “Sudah kenyang janji. Dari zaman Bang Yos (Gubernur DKI Sutiyoso) sampai Anies (Baswedan), dibilangnya akan ada stadion baru, tapi tetap nggak ada realisasinya. Mungkin kalau ada gubernur yang namanya Bandung Bondowoso, mungkin. Dia kan bikin seribu candi aja bisa dalam satu malam. Dia bikin stadion, nggak pake izin pasti langsung bangun, hahaha …,” canda Bung Ferry menutup obrolan.

  • Seteru Dua Menteri Soeharto

    TRI Utami Satriastuti atau Tuti, menantu Menteri Urusan Peranan Wanita (UPW) Lasijah Soetanto, masih ingat ketika suatu hari mertuanya berselisih dengan Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Sudomo. Lasijah tak setuju dengan pengiriman tenaga kerja wanita (TKW, kini disebut Pekerja Migran Indonesia) ke luar negeri yang jadi program Sudomo.

bottom of page