top of page

Hasil pencarian

9805 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Benjol Segede Bakpao

    SETYA Novanto, tersangka kasus korupsi KTP elektronik, mengalami kecelakaan di Kompleks Perumahan Permata Hijau, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis malam (16/11/2017). Mobil fortuner yang ditumpanginya menabrak tiang listrik. Ketua DPR RI itu dilarikan ke RS Medika Permata Hijau, kemudian ke RS Cipto Mangunkusumo. Fredrich Yunadi, pengacara Setya Novanto, menyampaikan sebagaimana dikutip berbagai media, bahwa kepala kliennya benjol segede bakpao. Warganet pun segera menjadikannya candaan, selain tiang listrik. Bakpao, hidangan Tionghoa yang telah menjadi makanan siapa saja. Semula sesuai arti namanya, bakpao berisi daging babi: bak (daging babi) dan pao (roti). Roti kukus berbentuk setengah bola ini kemudian berisi aneka bahan-bahan manis seperti kacang ijo dan coklat. “Memang pada zaman dahulu bakpao identik dengan daging babi. Namun, kini di negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim, konotasi bakpao tidak lagi demikian. Kini pengertian umum dari bakpao adalah hidangan dari tepung terigu, difermentasi, diberi aneka isian dan dimatangkan dengan cara dikukus,” tulis Diah Surjani Ananto, penulis buku-buku tentang kue, dalam Bakpao . Sementara itu, food architect Istiawati Kiswandono, menerangkan bahwa di negara asalnya, Tiongkok utara yang dingin, roti kukus empuk berwarna putih ini rasanya tawar, tanpa isi dan disantap sebagai pengganti nasi, disebut ho yek pao . Sedangkan di Tiongkok selatan yang subtropis, roti ini diisi daging sapi cincang atau ayam berbumbu, disebut gou ruk . “Di Indonesia populer dengan sebutan bakpao asin. Berbeda dengan mantao yang rasanya agak manis, gou ruk bentuknya dilipat menjadi dua bagian, kemudian diisi dengan daging babi masak kecap yang diselipkan di tengahnya,” tulis Istiawati dalam Make Over dari Makanan Biasa Menjadi Hidangan Kreatif Eksklusif. Pada awal tahun 1950-an, makanan Tionghoa yang dijajakan keliling, seperti bakmi baso, bakmi pangsit, dan bakpao, belum diminati masyarakat. Sebab, kata Firman Lubis, seorang dokter, banyak yang menganggapnya makanan haram karena memakai minyak atau daging babi. “Seingat saya, baru pada akhir 1950-an, makanan Tionghoa mulai populer setelah dijual dan dipasarkan sebagai bakmi baso atau bakmi pangsit sapi. Selain itu juga bakpao dan masakan-masakan Cina secara umum mulai diperkenalkan sebagai makanan halal,” kata Firman dalam Jakarta 1950-an: Kenangan Semasa Remaja.

  • Desawarnana untuk Remaja

    Suatu hari Mien Ahmad Rifai pernah merasa bingung. Tetiba putri sulungnya yang masih duduk di kelas lima sekolah dasar bertanya tentang isi kitab Negarakertagama terjemahan Slamet Mulyana. Tak ada yang bisa dilakukannya. Dari kebingunan itulah kemudian muncul ide dalam pikirannya: coba “meremajakan” naskah klasik karya Mpu Prapanca itu. Ide Mien itu sejatinya bukan berasal dari ruang hampa. Pakar biologi itu, berkaca kepada tradisi pendidikan di Eropa yang memperkenalkan sejak dini karya klasik kepada siswa sekolah. Agar dimengerti oleh anak-anak seumuran para siswa, karya klasik itu dikreasi ulang. Sebagai contoh, adanya beberapa versi saduran karya-karya Shakespeare atau Dickens bagi siswa-siswa di Inggris. Di Indonesia hal semacam ini jarang dilakukan. Padahal, menurut Mien, itu penting agar anak-anak muda mengenal lebih dalam budaya yang pernah berkembang di Nusantara. Itulah yang mendorong Mien menyadur Nagarakertagama dalam bahasa yang lebih mudah dibaca oleh remaja. “Saya ingin membuat saduran yang bisa dibaca anak-anak sekolah dasar dan sekolah menengah. Karena kalau membaca dalam bentuk aslinya, mereka pasti akan kesulitan,” tutur Mien dalam acara peluncuran Desawarnana: Saduran Kakawin Nagarakertagama untuk Bacaan Remaja , di Perpustakaan Nasional, Kamis, (16/11/2017). Tidak sekadar menyadur, Mien juga kembali memakai judul asli naskah ini, Desawarnana . Selama ini khalayak lebih mengenal karya Mpu Prapanca tersebut sebagai Nagarakertagama sebagaimana diperkenalkan pertama kali oleh J.L.A. Brandes. Desawarnana ditemukan kembali oleh Brandes pada 1894 di Puri Cakranagara, Lombok. Brandes kemudian memperkenalkannya kepada publik dengan judul Nagarakertagama berdasarkan kolofon yang ditulis oleh penyalin terakhir naskah ini. Selama beberapa waktu, naskah temuan Brandes itu dianggap sebagai satu-satunya salinan yang tersisa. Dalam pengajaran di sekolah-sekolah pun siswa memang lebih mengenal Nagarakertagama daripada Desawarnana . Pada 1978 di Amlapura, Bali, ditemukan kembali empat naskah salinan Desawarnana yang lain. Dalam lembar pembungkus dan kolofon naskah ini dengan jelas disebutkan Desawarnana sebagai judulnya. Karena itulah Mien memilih untuk kembali memakai judul yang dimaksud oleh Mpu Prapanca sendiri untuk karyanya itu. Dalam saduran karyanya tersebut terdapat beberapa hal menarik tentang kehidupan masyarakat semasa Majapahit berjaya. Salah satunya adalah kesukaan masyarakat Majapahit akan tanaman hias. Itu terpindai dari tuturan Prapanca tentang keindahan tata kota Majapahit pada pupuh delapan sampai duabelas. “Tetumbuhan yang disebutkannya merupakan flora asli Pulau Jawa, jauh sebelum datangnya ratusan jenis tanaman pendatang baru yang dibawa orang Portugis atau Belanda beberapa abad kemudian,” ujar Mien. Contoh lain misalnya tentang tempat tetirah berupa wisma-wisma yang dibangun di atas tiang-tiang di tengah laut. Wisma tetirah itu dipersiapkan khusus untuk rombongan Rajasanegara alias Prabu Hayam Wuruk saat singgah di Patukangan, dekat Panarukan. Wisma-wisma itu dirancang sedemikian rupa hingga menyerupai segugusan pulau. “Rumah-rumah itu dihubungkan dengan jembatan bambu yang penopangnya goyah sehingga berayun-ayun sangat mengasyikkan bila diterpa alunan ombak,” tulis Mien dalam karyanya. Desawarnan juga menyebut tentang komitmen kerukunan beragama yang dipegang oleh Rajasanagara. Di Majapahit terdapat tiga aliran agama yang dianut oleh masyarakat, yaitu Shaiwa, Waisnawa, dan Buddha. Ada menteri-menteri khusus yang diperintahkan raja untuk mengurus ketiga aliran agama ini. Demi menjaga kerukunan, raja melarang pemuka suatu agama mendakwahkan agama di daerah yang mayoritas memeluk agama lain. “Karena itu pendeta Buddha yang mengemban tugas negara di sebelah barat Jawa dilarang menyiarkan kepercayaan agamanya sebab penghuninya umumnya bukan pengikut ajaran Buddha,” ungkap Mien. Kendati berlatar keilmuan biologi, Mien memiliki minat besar terhadap sastra dan budaya. Semasa sekolah ia gemar membaca sastra. Ia sempat berkeinginan mendalami bahasa dan budaya namun tidak direstui orang tuanya. Ia kemudian memilih mendalami ilmu alam. Tetapi, minatnya pada sastra tidak luntur. Juga selama menempuh studi pascasarjadi di Universitas Sheffield, Inggris, ia rajin membaca dan mengumpulkan literatur klasik dunia. “Saya merasa sebagai orang Indonesia yang utuh kala membaca karya-karya klasik penulis-penulis kita dari Sunda, Minang, Batak. Dengan mengetahui budaya bangsa, kita bisa membuat anak-anak ini cinta Indonesia,” ujar Mien. Semangat itulah yang hendak ia tularkan kepada generasi kiwari melalui Desawarnana . Baginya, “peremajaan” Desawarnana adalah juga usahanya melecut penulis lain agar ikut meremajakan adikarya klasik Indonesia lainnya.

  • Persebaran Situs-situs Kecil di Pesisir Utara Jawa

    SEBELUM Candi Borobudur atau Prambanan berdiri megah, situs-situs kecil yang tersebar di pesisir utara Jawa telah lebih dulu menerima pengaruh Hindu-Buddha. Namun, keberadaannya tak banyak diperhatikan. “Pemerintah juga turis lebih tertarik dengan situs besar, mungkin karena mudah dijual. Padahal, dari situs-situs kecil juga dapat diketahui bagaimana lingkungan sosial budaya masa Hindu-Buddha berlangsung karena situs-situs kecil itu lebih luwes menerima perubahan,” kata Veronique Degroot, arkeolog dan peneliti Lembaga Penelitian Prancis untuk Kajian Timur Jauh (EFEO) di IFI, Jakarta, Rabu (15/11). Veronique mengatakan pesisir utara Jawa lebih mungkin menjadi tempat persinggahan awal datangnya pengaruh India. Sebab, pesisir selatan Jawa memiliki ombak yang terlalu kencang. Itulah mengapa di utara banyak pelabuhan termasuk pada awal masa klasik. Pada 2012, Veronique bersama Agustijanto Indrajaya, arkeolog Puslit Arkenas (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional), melakukan survei lapangan berbekal foto zaman Belanda, arsip kepustakaan, dan arsip lokal. “Kami tidak berharap dapat situs sebesar Borobudur. Kami hanya ingin melihat landscape kebudayaan kala itu. Bagaimana India mempengaruhi Jawa,” kata Veronique. Survei itu berhasil menemukan 30-an situs yang tersebar dari Brebes hingga Rembang. Ini temuan baru, sebelumnya hanya sekira 8-11 situs. Misalnya, mereka menemukan batu candi dari abad 8-9 di Kepyar, Batang, Jawa Tengah. Sayangnya, penduduk setempat menggunakan batu itu sebagai nisan. Batu berelief dari candi ditemukan di Cebur, Semarang, namun dijadikan pot bunga. Bagian kemuncak ( ratna ) candi digunakan untuk menghias ujung-ujung pagar rumah. Bata kuno dari abad 9-10 di Bantarbolang, Tegal, dihancurkan untuk pengeras jalan dan jembatan menuju kebun tebu. Di Kentengsari, Kendal, batuan candi dijadikan pondasi sebuah rumah. Fragmen keramik Cina abad 9 hancur ketika warga menggarap ladangnya. “Kami terlambat sampai di sana. Tapi tak apa, tetap kami masukkan ke peta,” ujar Veronique. Mereka juga menemukan cukup banyak benda logam di Yosorejo, Pekalongan, yang berfungsi sebagai alat upacara. Ada tiga buah bel yang biasa digunakan pendeta dari sekira abad 11. Bukan cuma temuan lepas, ada beberapa titik yang potensial untuk diekskavasi. Setelah Veronique dan timnya mendapati gundukan tanah, Puslit Arkenas melakukan penggalian dan mendapati struktur pondasi candi di daerah Mijen, Semarang. Veronique juga menyaksikan bekas candi di tengah kebun di Lumbleng, Kendal, berupa fragmen makara dan umpak yang tergeletak begitu saja. “Ini jelas bagian candi. Saya harap Puslit Arkenas ekskavasi ini,” katanya. Permukiman Kuno Dari persebaran situs-situs kecil itu, terlihat kalau Hindu-Buddha tidak berkembang di satu area. Di Desa Sojomerto, Batang, sudah lama ditemukan Prasasti Sojomerto yang sangat penting karena menyebut nama Sailendra. Prasasti yang diperkirakan dari abad 7-8 itu bukan satu-satunya penanda kehidupan sosial di kawasan itu. Ada Balekambang yang dekat dengan pantai. Ada juga Pejaten dan Deles. Semua tempat itu berkaitan dan dihubungkan dengan sungai. Menariknya, tempat-tempat itu menyimpan bukti masa awal pengaruh India. Di Pejaten, terdapat arca Ganesha yang cirinya tak biasa. Ia tak bermahkota. Bukan karena rusak, tapi memang tak punya. Sikap duduknya, satu kaki menapak, kaki lainnya bersila. Sementara Ganesha di Jawa Tengah selalu ditemukan bermahkota. Sikap duduknya pun bersila. “Nah, seni awal di India abad 6-7 itu seperti yang di Pejaten. Ini pengecualian. Ini pun semasa dengan Sojomerto,” kata Veronique. Di Balekambang, Puslit Arkenas menemukan pemandian kuno. Situs petirtaan ini menggunakan saluran air dari batu. Di dekatnya ditemukan bekas candi. Ini petirtaan sakral yang banyak ditemukan di Jawa. Temuan di wilayah Batang juga memperlihatkan adanya permukiman kuno abad 7-9, di luar pusat ibukota di wilayah Magelang dan sekitarnya. Ditambah lagi dengan temuan fragmen keramik yang begitu padat pada kedalam 80 cm di dekat situs pemandian itu. “Ini permukiman abad 7-9. Jaraknya 2 km dari pesisir utara. Mungkin dulunya di sana ada pelabuhan kuno,” jelas Veronique. Sayangnya, belum bisa diketahui lebih jauh apakah kondisi sosial di kawasan itu berbeda dengan di pusat. Selain hanya sedikit prasasti yang ditemukan, tak banyak temuan situs permukiman sebagai perbandingan, khususnya era Mataram Kuno. Veronique mengakui penelitiannya belum selesai. Masih banyak yang perlu diungkap terkait tinggalan arkeologis Hindu-Buddha di wilayah pesisir utara Jawa. “Ini adalah awal dari penelitian situs-situs di pesisir utara Jawa,” katanya.*

  • Apa Agama Cheng Ho?

    SECARA simbolis Indonesia sudah memastikan Cheng Ho adalah pemeluk Islam melalui pembangunan Masjid Cheng Ho yang tersebar di pelbagai daerah. Namun, di China yang merupakan negeri asalnya, apa sebenarnya agama yang dianut laksamana Dinasti Ming itu, masih terus dipertanyakan oleh para sejarawan sampai sekarang.

  • Kisah Jurnal Tertua

    Sebuah jurnal kedokteran yang terbit di Hindia-Belanda, Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (GTNI), menguak sejarah perkembangan ilmu medis di Indonesia. Jurnal yang terbit berkala sepanjang 1852-1942 itu membahas pola penyebaran penyakit, wabah penyakit berikut pencegahan dan penanganannya, hingga perilaku para dokter di masa itu. Gani Ahmad Jaelani, Pengajar Departemen Sejarah dan Filologi Universitas Padjadjaran (Unpad) menjelaskan awalnya penelitian mengenai kesehatan di Hindia Belanda termotivasi akibat makin banyaknya orang Eropa yang bermigrasi. Untuk menetap di Hindia Belanda, mereka memerlukan jaminan apakah tempat baru itu cocok untuk ditinggali. "Makanya ada sejumlah penelitian medikal topografi untuk memastikan aman atau tidaknya (Hindia Belanda) ditinggali orang Eropa," kata Gani dalam peluncuran dan diskusi buku The Medical Journal of the Dutch-indies 1852-1942, di Perpustakaan Nasional, Kamis (16/11). Awalnya penelitian yang terhimpun dalam GTNI berkaitan dengan tingkat higienitas di Hindia Belanda. Pun soal bagaimana mempertahankan, merawat kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup. Namun, semua itu kemudian berkembang menjadi lebih menyoroti pada penyebab lingkungan yang tak sehat. "Pada periode 1800-an penelitian GTNI lebih (difokuskan kepada) soal iklim yang tidak sehat, tapi lalu (menjadi) berkembang," ujar Gani. Pada tahun 1930, jurnal kedokteran tertua di Indonesia itu membahas pula soal kesehatan sosial, terutama terkait kesehatan para pekerja perkebunan. Di jurnal itu disebutkan jumlah kuli yang sakit dan berhasil disembuhkan serta berapa jumlah yang tak terselamatkan. Empat tahun kemudian, muncul institusi tentang nutrisi. Ini pun mendorong penelitian kualitas makanan yang dikonsumsi masyarakat. Berkembang pesatnya penelitian kesehatan di lingkungan Hindia Belanda tentunya berkaitan dengan munculnya lembaga-lembaga pengajaran medis ketika itu seperti Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (STOVIA) di Batavia pada 1899 dan Sekolah Dokter Hindia Belanda (NIAS) di Surabaya pada 1913. Sjamsuhidayat, Guru Besar Ilmu Bedah Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia (UI), menambahkan munculnya artikel GNTI pun tak bisa dilepaskan dari perkembangan ilmu kedokteran internasional. Beberapa tahun sebelum jurnal ini terbit, pada 1849 anestesi ditemukan. Kedokteran internasional juga mulai mengenal ilmu bakteriologi pada sekira tahun 1850. Lima Puluh Tahun kemudian metode transfusi darah mulai dikenal. Ketika akhir penerbitan jurnal pada 1942, ilmu kedokteran telah sampai pada penemuan antibiotik. “Kurun waktu yang dicakup buku ini menggambarkan juga kondisi dan pencapaian kedokteran dan dunia kesehatan di dunia (saat itu)” ungkap Sjamsuhidayat. Bukan hanya penyakit perorangan yang menjadi perhatian. Wabah juga mulai disoroti pemerintah Hindia Belanda. Sebelum 1920 pernah terjadi kasus beri-beri dan penyakit menular lainnya seperti pes dan TBC. Terlepas dari kebutuhan akan pengetahuan soal kesehatan, penelitian bidang kedokteran ini juga terdorong adanya kebijakan resmi dari pihak Kerajaan Belanda. Pada September 1901. Ratu Wihelmina dalam pidatonya menyebutkan bahwa sejatinya Kerajaan Belanda memiliki utang kehormatan terhadap Hindia-Belanda. Ratu menyadari bahwa karena hasil bumi Hindia-Belanda-lah yang menyebabkan negaranya menjadi kaya, sementara Hindia Belanda tetap miskin. “Jadi ada kebijakan resmi untuk membayar kembali utang kehormatan ini,” ujar Sjamsuhidayat.

  • Gugurnya Jenderal Kedua

    PERTEMPURAN Surabaya baru saja berjalan beberapa jam, ketika sebuah kabar bertiup kencang di medan perang: Brigadir Jenderal Robert Guy Loder Symonds (Komandan Detasemen Artileri Tentara Inggris di Surabaya) telah tewas. Menurut Kantor Berita Reuters , Symonds tewas akibat pesawat Mosquito yang ditumpanginya mengalami kecelakaan di landasan Lapangan Udara Morokrembangan, Surabaya pada Sabtu, 10 November 1945. Ikut tewas bersama sang jenderal seorang pilot RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris) bernama Letnan Phillip Norman Osborne. Dalam rilis yang dikeluarkan oleh Mayor Jenderal E.C.Mansergh (Panglima Tentara Inggris di Jawa Timur) dikatakan bahwa Symonds mengalami kecelakaan saat tinggal landas di Lapangan Udara Morokrembangan tepat jam 09.50. “Pesawat yang ditumpangi oleh Brigadir Jenderal Symonds dan Letnan Osborne langsung terbakar dan menyebabkan keduanya tewas seketika,” ujar Mansergh seperti dikutip oleh Het Dagblad van Batavia pada 13 November 1945. Tapi benarkah Symonds dan Osborne tewas semata-mata karena kecelakaan? Dalam Pertempuran Surabaya November 1945 , Des Alwi menampik penjelasan pihak militer Inggris tersebut. Sebagai pelaku sejarah peristiwa Pertempuran Surabaya, Des lebih suka menyebut itu sebagai upaya Inggris menutupi “kekalahannya” di Surabaya. Secara pribadi, dia lebih mempercayai jika kedua perwira Inggris itu tewas akibat pesawatnya ditembak para pejuang Surabaya. Kepercayaan Des berkelindan dengan pernyataan Barlan Setiadidjaja dalam Merdeka atau Mati di Surabaya . Menurut Barlan, sesungguhnya Mosquito yang ditumpangi Symonds dan Osborne jatuh karena tembakan seorang anggota BPRI (Barisan Pemberontak Rakjat Indonesia) bernama Goemoen. Kisah itu dimulai saat Goemoen dan kawan-kawannya menemukan sepucuk meriam anti pesawat udara yang telah rusak di gudang senjata Don Bosco bekas milik tentara Jepang. Setelah diperbaiki sana-sini, meriam itu kembali dapat digunakan. Saat mereka menyiapkan peluru dan mencari sasaran untuk ditembakan, tetiba di atas Stasiun Wates melayang sebuah Mosquito milik RAF. “Pesawat nahas itu segera diputuskan untuk dijadikan sasaran percobaan,” tulis Barlan. Tanpa banyak bicara, Goemoen yang memegang meriam itu mengarahkan bidikan ke pesawat yang tengah baru tinggal landas tersebut. Blaarr! Begitu peluru dilepaskan langsung mengenai sayap pesawat sehingga Mosquito itu langsung oleng dan dalam kondisi terbakar lantas jatuh di landasan pacu Lapangan Udara Morokembangan. “Saya yakin itulah pesawat Mosquito yang ditumpangi Jenderal Loder Symonds,” ungkap Barlan yang juga merupakan veteran Pertempuran Surabaya. Gugurnya Symonds merupakan kehilangan jenderal yang kedua buat tentara Inggris di Surabaya. Sebelumnya pada 30 Oktober 1945, perwira tinggi yang lain yakni Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby gugur pula dalam suatu insiden berdarah di depan Gedung Internatio. Setelah sempat tertanam di bumi Surabaya, jasad Symonds kemudian dipindahkan ke Commonwealth War Cementry Blok V Menteng Pulo, Jakarta Selatan. Sang jenderal dimakamkan persis bersebelahan dengan makam jasad Letnan Osborne, pilot yang menerbangkan pesawat nahas tersebut.

  • Atlet Berprestasi Dituduh PKI Bertransformasi Diri Jadi Laki-laki

    KARNAH sumringah. Medali perunggu menggantung di lehernya. Gadis 18 tahun itu berhasil menjadi tiga besar dalam cabang atletik nomor lempar lembing putri Asian Games Tokyo 1958. Dia mengumpulkan total lemparan 45, 03. Nilai itu kalah 1,04 dari Elizabeth Davenport (India) dan 2,12 Yoriko Shida (Jepang). Karnah menjadi satu dari sedikit atlet yang menyumbang medali kepada kontingen Indonesia. Selain darinya, lima medali perunggu yang digondol Indonesia berasal dari cabang sepakbola putra, polo air putra, renang estafet putra nomor 400 meter, renang gaya bebas putra nomor 200 meter (Habib Nasution), dan renang gaya dada putri nomor 100 meter (Ria Tobing). Prestasi itu menjadi raihan terbaik kontingen Indonesia sejak keikutsertaannya di Asian Games I, New Delhi 1951 sebelum kemudian dipecahkan dalam Asian Games IV Jakarta. Saat menjadi tuan rumah, Indonesia menjadi runner up klasemen akhir –yang hingga kini masih menjadi prestasi terbaik Indonesia di Asian Games. Sumbangsih Anak Petani untuk Negeri Karnah Sukarta lahir di Ciamis, Jawa Barat pada 1 Februari 1940. Meski keluarganya hanya petani kecil, dia sangat aktif. Kesukaannya pada atletik, khususnya lempar lembing, terus diasahnya. Ketekunannya akhirnya membuahkan hasil. Karnah terpilih menjadi anggota kontingen Indonesia dalam Asian Games Tokyo. Di ajang olahraga multicabang terbesar Asia itu, dia berhasil menyumbang medali. Karnah dan para atlet kontingen Indonesia pun mendapat sambutan meriah sepulang ke tanah air. Bak pahlawan, mereka langsung diundang berbagai pejabat, mulai Presiden Sukarno hingga pejabat-pejabat daerah. Surat kabar Pikiran Rakyat, 5 Juli 1958, melaporkan, sekira 18 atlet kontingen Indonesia turut dielu-elukan di Bandung. Beragam kendaraan disiapkan untuk menjemput mereka, yang datang dengan kereta api dari Jakarta. Karnah pribadi diantar khusus oleh perwira Siliwangi Letkol Rivai dengan mobil Cabriolet Deluxe, diantar dari Stasiun Bandung ke Balai Kota tempat upacara penyambutan. Gempita penyambutan Karnah juga semarak di kampung halamannya, Ciamis. Iring-iringan kendaraan militer mengarak Karnah dari Tarogong, Ciamis sampai Pendopo Tasikmalaya. Warga kampung halamannya bahkan sampai mengeluarkan gagasan agar Karnah dijadikan tokoh Ciamis yang diabadikan dengan tugu peringatan. “Di kalangan penduduk Ciamis sekarang ini timbul keinginan supaya atlet wanita Karnah dijadikan tokoh Ciamis dan supaya untuk dirinya dibuat tugu peringatan. Keinginan tersebut sudah disampaikan kepada DPRD Swatantra II Ciamis. Jasa-jasanya menaikkan derajat nusa dan bangsa dalam bidang olahraga,” tulis Bintang Timur , 4 Juli 1958. Tuduhan Suap dan Antek PKI Sayang, prestasi Karnah di Asian Games 1958 jadi puncak kariernya. Setelah itu, Karnah tak pernah lagi mengusung nama negara lantaran setahun berselang dia diskors GABA (Gabungan Atletik Bandung). Pasalnya, Karnah diduga menerima suap. GABA melarang setiap atlet amatir menerima uang. Karnah memang mengakui pernah menerima sejumlah uang. Namun, katanya, uang itu bukan untuk suap dalam kompetisi tapi merupakan bantuan dari beberapa pihak untuk biaya pendidikannya di Sekolah Guru Pendidikan Djasmani (SGPD) Bandung dan kemudian dilanjutkan ke IKIP Bandung. “Karnah menyatakan bahwa apa yang telah diterimanya itu berupa uang, tidak ada hubungannya dengan keolahragaan, akan tetapi semata-mata karena dia sebagai murid yang terlantar hidupnya,” tulis majalah Aneka , 20 Oktober 1959. Karnah akhirnya memilih fokus ke kuliahnya di IKIP Bandung. Sejak 1962, sebagai mahasiswi serta anggota Dewan Mahasiswa (Dema) IKIP yang begitu mengagumi Bung Karno, Karnah menjadi aktivis dan acap memberi orasi. Dia bahkan dikabarkan sampai ikut Gerwani, organisasi perempuan yang kerap dianggap sayap PKI, di Kawali, Ciamis. Meletusnya Prahara 1965 membalikkan kehidupan Karnah. Sebagai loyalis Bung Karno, dia ikut kena ciduk. Dia digaruk di Banjaran awal November 1965 kemudian disel di Kebonwaru, Bandung. “Karnah dikenal di kampungnya di daerah Kawali, Ciamis Utara sebagai salah seorang anggota pengurus Gerwani setempat. Ia baru-baru ini kembali dari Bandung ke kampungnya dan karena timbul kecurigaan pada pihak berwajib, Karnah kemudian diamankan (Kepolisian Ciamis),” tulis Kompas , 8 November 1965. Caci-maki dan kebencian lalu mengalir kepadanya sebagai korban perubahan besar politik di tanah air. Rumah Karnah di Bandung sampai dibakar massa. Sejumlah piagam penghargaan dan sertifikat ikut hangus. Kehidupan rumahtangganya dengan Karya Natasasmita sejak 1962 juga hancur. Lantaran tak ingin suaminya ikut dikira antek PKI, Karnah memilih menceraikannya. Tapi Karnah tak sampai setahun di Kebonwaru, dia dibebaskan pada 1966. Penahanan itu bukan kali terakhir Karnah jadi penghuni hotel prodeo. Meletusnya Malari (Malapetaka 15 Januari) 1974, di mana Karnah juga ikut terlibat, membuatnya kembali dijebloskan ke penjara sampai 1978. Ganti Kelamin, Ganti Nama Usai menjadi tahanan Malari, Karnah menikah lagi. Namun, pernikahan dengan Ganda Atmadja hanya berlangsung selama setahun. Karnah terpaksa bercerai karena kejadian langka menimpanya. Karnah, tulis Poskota 8 Juni 2007, mengalami perubahan alat kelamin setelah berziarah ke makam Bung Karno pada 1979 dan bermimpi bahwa dia akan menikah dengan perempuan. Ajaibnya, lambat-laun fisiknya, termasuk alat kelamin, berubah. Karnah pun mengganti namanya menjadi Iwan Setiawan. Setahun kemudian, Iwan menikah dengan perempuan bernama Tuti Pudjiastuti. Mereka dikaruniai seorang putra. Terlepas dari kejadian ajaib –yang menurut medis, Karnah mengalami gangguan perkembangan seksual langka– itu, kehidupan Iwan dan keluarganya begitu memprihatinkan. Dia sempat menjadi buruh tani di Dusun Noong, Desa Sukahurip, Cisaga, Ciamis untuk menghidupi keluarganya. Penghargaan dari pemerintah baru datang pada 2007. Kementerian Pemuda dan Olahraga memberi bantuan uang dan rumah kepada Karnah alias Iwan Setiawan dan beberapa mantan atlet berprestasi Indonesia lainnya.

  • Penemuan 16 Titik Kuburan Massal di Purwodadi

    DINI hari, sekira pertengahan awal November 1965. Desa Toroh, daerah Purwodadi, Jawa Tengah, masih sangat sepi. Bulan purnama pun masih terang. “Saya dijemput empat orang polisi dari Purwodadi. Mereka sampai di rumah sekitar pukul 03.00 pagi. Sejak itu saya langsung dibawa ke Kamp Lusi, yang terkenal dengan nama Gudang Seng di Kota Purwodadi,” ujar Kandar Sumarno, 77 tahun, kepada Historia . Kandar mendekam di Kamp Gudang Seng sejak November 1965 hingga Januari 1966 tanpa proses hukum. Pada Februari 1966, dia menghabiskan masa hukuman 14 tahun di Penjara Nusakambangan, lepas pantai selatan Jawa Tengah. Selama di Kamp Gudang Seng, dia menyaksikan setiap malam truk-truk tentara mengambil sekira 50 orang kawan-kawannya untuk dieksekusi. “Kalo sejak 1965 sampai 1968 banyak yang dieksekusi di daerah Monggot. Kemudian antara 1968 hingga 1969, katanya banyak yang dieksekusi di daerah Waduk Simo,” ujar penyintas eks Barisan Tani Indonesia cabang Toroh ini. Lokasi pembantaian itu diamini Bedjo Untung, ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 (YPKP 65) saat menggelar konferensi pers singkat di Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat, (15/11). “Kedatangan saya ingin melaporkan penemuan kembali kuburan massal. Jadi, YPKP perlu menyampaikan tentang kuburan massal antara 1965-1969. Sekarang saya datang untuk menambah bukti kuburan massal yang semula ada 122 titik di Indonesia, kemudian ditambah lagi 16 titik di daerah Purwodadi. Dengan demikian menjadi 138 titik,” ujar Bedjo. Peristiwa pembantaian di Purwodadi ini dimuat di harian KAMI, 26 Februari 1969, bertajuk “Gelombang Pembantaian Selama Tiga Bulan di Purwodadi.” Pada hari sama, harian KAMI juga memuat wawancara dengan Haji J.C. Princen, anggota Lembaga Pembela Hak Asasi Manusia, yang telah melakukan perjalanan selama seminggu di Jawa Tengah. Mengenai kasus Purwodadi, Princen mencatat bahwa sekira dua ribu hingga tiga ribu penduduk Purwodadi yang terindikasi komunis sudah meregang nyawa. Pasca laporan itu, beberapa harian lain seperti Indonesia Raya dan Sinar Harapan menurunkan laporan serupa pada Maret 1969. “Laporan dari Princen itu memang menjadi acuan awal. YPKP pun mengumpulkan bukti baru dari kesaksian yang masih hidup di sana dan mengetahui lokasi-lokasi pembantaian dan menjadi kuburan massal di Purwodadi,” ujar Bedjo. Bedjo merilis untuk pertama kali 16 titik kuburan massal di daerah Purwodadi antara lain Kali Genjing, Kali Glugu, Pesantren Kali Aren, Bui Jati Pohon Kamp Takhrin, Jembatan Bandang, Waduk Simo, Pasar Kuwu, Waduk Langon, Sendang Tapak, Pangkrengan, Daplang, Tegowanu, hutan Monggot, Kedung Jati, hutan Sanggrahan, dan Mojo Legi. "Jumlah korban terbesar di daerah Monggot lebih dari 2000 orang. Jumlah seluruh korban mencapai 5000 orang," kata Bedjo. Saat konferensi pers berlangsung, di muka gedung Komnas HAM terparkir sebuah mobil komando lengkap dengan pengeras suara. Mereka menamakan diri Gerakan Pemuda Anti Komunis. “Buat komisioner Komnas HAM yang bertugas 2017-2022, kalo ente biarin itu Bedjo Untung dan kawan-kawan, maka enggak sampai 2022 ente . Ane gulingin ,” ujar Ade Selon, panglima Gerakan Pemuda Jakarta, yang berorasi di atas mobil komando. Tiga orang anggota aksi kemudian bersikeras menemui salahsatu komisioner Komnas HAM. Mereka diterima anggota komisioner Komnas HAM, Amiruddin Al Rahab, di ruang pengaduan. “Kami meminta komisioner untuk tidak memproses segala laporan apapun yang dilakukan YPKP dan Bedjo Untung, dan kami memandang tidak ada tempat lagi bagi komunis di negeri ini,” ujar Rahmat Himran, ketua umum Gerakan Pemuda Anti Komunis. “Kami menerima segala laporan. Jangan berprasangka negatif dulu, mari kita bekerjasama membenahi ini semua,” ujar Amir. Ketiga wakil pendemo kemudian keluar dari ruang pengaduan.

  • Lelucon Para Kadet

    HUBUNGAN perkawanan antara sesama kadet Akademi Militer Yogyakarta dan para instrukturnya, dikenal sangat erat dan kompak. Menurut Sajidiman Surjohadiprodjo, keadaan tersebut bukan saja menimbulkan perasaan senasib sepenanggungan, namun juga kisah-kisah lucu di kalangan mereka. “Terdapat banyak anekdot yang beredar di kalangan kami,” ujar kadet angkatan pertama di Akademi Militer Yogyakarta itu. Ada suatu cerita yang kerap dikenang oleh anak-anak Akademi Militer Yogyakarta angkatan awal yakni kisah celana pinjaman Aswawarmo, salah seorang instruktur di akademi militer tersebut. Kisah itu pernah ditulis oleh Daud Sinjal dalam Laporan Kepada Bangsa . Ceritanya, suatu hari Aswawarmo meminjam celana lapangan dari seorang kadet. Setelah dipakai beberapa kali oleh sang instruktur, celana itu lantas dipinjam oleh seorang “kadet tengil” bernama Acub Zainal (kelak menjadi Gubernur Irian Jaya). Namun karena kekuarangan makan, celana itu setelah dipakai Acub kemudian berpindah tangan ke tukang loak. Hasil dari penjualan itu lantas dipakai untuk pesta makan-makan oleh beberapa kadet dan instruktur termasuk Aswawarmo. Di akhir pesta, Aswawarno menanyakan kok tumben mereka bisa makan enak, duitnya dari mana? Tak ada jawaban, kecuali suara tawa dan rasa riang gembira dari semua kadet, termasuk sang pemilik celana. Salah seorang mantan instruktur Akademi Militer Yogyakarta kemudian menjadi perwira staf di MBAD (Markas Besar Angkatan Darat) dengan pangkat terakhir letnan kolonel. Hubungan dengan para perwira, bekas anak didiknya di Yogyakarta tetap berlangsung akrab. Itu dibuktikan dengan kerapnya mereka bertegur sapa secara informal tanpa peduli soal kepangkatan. Salah seorang eks kadet Yogyakarta bernama Sabrawi Istanto kemudian dinaikan pangkatnya menjadi kolonel. Namun eks instruktur itu pun seperti tak peduli. Suatu hari, dia bertemu dengan Sabrawi di gedung MBAD dan langsung menyapa akrab: "Wi!” Sabrawi yang tengah bangga-bangganya menyandang pangkat kolonel itu lantas meresponsnya dengan jawaban: "Wa, Wi, Wa, Wi …Kolonel kek, Bapak kek,” ujarnya. Memang sedikit bergurau. Eh, kala Acub Zainal diangkat menjadi Brigadir Jenderal, situasi itu kembali terulang. Namun kali ini, Sabrawi yang begitu berpapasan dengan Brigjen Acub, dia berseru, "Hei, Kub!" Acub langsung menjawabnya: “Kab, Kub, Kab, Kub…Jenderal kek, hormat kek…”

  • Bunga dan Buah pada Zaman Kuno

    HANOMAN, kera bermahkota dengan kain selutut mengobrak-abrik taman milik Rahwana yang ditumbuhi pohon asoka . Di taman itu pula Sinta dikurung setelah diculik dari suaminya, Rama. Potongan kisah Ramayana dalam relief Candi Panataran, Blitar itu, juga menggambarkan pemandangan alam. Asoka atau soka ( Ixora Javanica ) salah satu tanaman yang sering muncul dalam penggambaran alam Jawa Kuno, baik dalam relief maupun karya sastra kakawin. Hingga kini, bunga soka masih bisa ditemui. Ia memiliki bunga merah yang bergerombol, kayu kehitaman, dan berdaun lebat. Selain tanaman hias, dalam relief juga terdapat tanaman budidaya, seperti pohon aren ( Arenga pinnata) pada relief di pendopo teras Candi Panataran. Seniman pahat menggambarkannya: batang lurus menjulang, daun berhelai-helai, dan buah menggerombol dan menggantung. Pada batangnya bambu tergantung untuk menampung tetesan nira. Minuman tuak dari air nira digemari hingga kini. Pada relief Karmawibhangga di Candi Borobudur terdapat dua jenis tanaman. Jenis tanaman pertanian basah yaitu padi sementara tanaman pertanian kering antara lain jagung, sukun, pisang, tebu, nangka, mangga, dan aren. Aryo Sunaryo, dosen seni rupa Universitas Negeri Semarang (UNNES) dalam “Aneka Ornamen Motif Flora pada Relief Karmawibhangga Candi Borobudur,” Imajinasi Vol. VI No. 2 Juli 2010, mendata dari 160 panil relief Karmawibhangga, 32 panil menampilkan pohon mangga, motif jambu air sekira tujuh panil, dan pohon pisang tiga panil. Menurut Petrus Josephus Zoetmulder, pakar sastra Jawa, pohon dan bunga yang disebut dalam kakawin adalah hasil observasi penulis terhadap lingkungannya. Sang penulis atau kawi , biasanya mencari keindahan bagi tulisannya dan menemukannya di alam. Mereka biasanya tertarik pada pohon-pohon yang berbunga. Selain asana dan asoka, pohon yang sering disebut ialah andul ( rajasa ), wungu, dan campaka. Penyebutan tanaman dalam kakawin seringkali untuk membuat perumpamaan, khususnya untuk melukiskan kecantikan perempuan. Misalnya, pohon pakis diumpamakan sanggul perempuan. Bunga menur yang mirip melati berbentuk kecil dan putih menggambarkan burung-burung bangau yang berterbangan. “Untuk memahami analogi ini, orang harus cukup mengenal flora yang ada di Jawa,” tulis Zoetmulder dalam Kalangwan . Pohon andul ( rajasa ) disebut sampai mundur penuh rasa malu ketika melihat gusi seorang perempuan. Sebab, bunga pohon andul berwarna merah tapi kalah merah dibandingkan gusi perempuan yang cantik. Ada pula pohon wungu . Bunganya berumpun dan berwarna merah. Bentuknya menjulang dan meruncing ke pucuk. Karenanya, ia sering diserupakan dengan candi atau meru . Perumpamaan ini muncul dalam Kakawin Sumanasantaka yang menyebut seorang tokoh bernama Harini berharap jenazahnya dapat diperabukan dalam candi sebuah wungu. Sementara bunga tanjung yang kecil seringkali dirangkai menjadi hiasan sanggul dan perhiasan di belakang telinga. Bunga campaka dan asana yang berwarna kuning muda atau putih lebih sering dipakai perempuan sebagai hiasan. Sampai-sampai dalam lingkungan keraton, warna kedua bunga ini paling ideal bagi perempuan. “Ungkapan warna kulitnya menyerupai kulit bunga campaka sudah menjadi klise,” tulis Zoetmulder. Mengenai bunga asoka yang merah sering dipakai untuk hiasan rambut. Bunga ini juga dikagumi karena tangkainya yang lemah lembut sehingga diumpamakan pinggang perempuan yang langsing. Bukan cuma bunga, pohon bambu juga disebut dalam kakawin dengan istilah pring, petung, wuluh. Bambu ini sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk membuat saluran air yang melintasi jurang, ruasnya untuk membawa air atau menanak nasi. Namun, bagi seorang kawi, bambu bisa menjadi inspirasi berbagai perumpamaan. Seperti dalam Nagarakrtagama disebutkan ketika seorang raja mangkat, mata pohon bambu bengkak karena tangisnya. Di telinga seorang penyair, suara pohon cemara ( camara ) yang digoyangkan angin, menyerupai keluh kesah, ratap tangis, bahkan sorak sorai. Menurut Zoetmulder, bambu, cemara, dan pohon kelapa memang tidak bisa dikagumi warnanya. Para kawi tetap melukiskan keindahan pohon-pohon ini melalui tumbuhan yang menjalari batangnya. Seperti katirah yang merah atau gadung yang kuning. “Sebuah tiang atau pohon yang dijalari oleh tanaman sering dipakai sebagai perumpamaan bagi dua orang kekasih yang berangkulan,” tulisnya. Meski begitu ada pula perumpamaan yang sulit dimengerti. Misalnya, bagian mana dari bunga pisang yang jatuh ke tanah bisa disamakan dengan pecahan kuku tangan? Hal semacam ini, kata Zoetmulder, perlu dipecahkan bersama oleh ahli filologi dan ahli botani Jawa .

  • Timur Pane Pejuang yang Terbuang

    Pertengahan Juli, 1947. Wakil Presiden Mohammad Hatta mengadakan perjalanan keliling Sumatera. Dia mengunjungi wilayah Tapanuli dan Sumatera Timur sebagai destinasi utama. Saat itu, keadaan di tempat-tempat tersebut sangat gawat. Di Pematang Siantar, ibu kota Sumatra Timur, Hatta bersua dengan seorang pimpinan laskar yang disegani: Timur Pane “….Sarwono telah ditangkapnya dan hendak dibunuhnya. Kupanggil Timur Pane ke tempatku menginap dan kuperintahkan supaya Sarwono jangan dibunuh,” kenang Hatta dalam otobiografinya, Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi . Nama Timur Pane kesohor sampai ke Jawa. Para bandit dinaungi di bawah pimpinannya untuk bertempur melawan tentara Belanda. Kendati demikian, pasukannya laskar “Naga Terbang” dikenal liar dan suka mengacau. Kadang-kadang suka merampas milik rakyat. Panglima Divisi Siliwangi saat itu, Abdul Haris Nasution mencatat, di Lubuk Pakam yang menjadi markas Naga Terbang, pasukan Timur Pane menduduki beberapa perkebunan. “Tindakan mereka tidak dapat dikendalikan oleh badan-badan pemerintah yang berwajib,” ujar Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 4: Periode Linggajati . Dijinakkan Bung Hatta Ekses-ekses perjuangan memicu perselihan antar laskar. Timur Pane yang tunduk kepada PNI daerah sedang bertentangan dengan suatu laskar lainnya yaitu Ksatria Pesindo di bawah Sarwono Sastro Sutardjo. Naga Terbang-nya Timur Pane adalah salah satu penentang terkeras Sarwono. Masalah ekonomi serta persaingan memperebutkan wilayah atau sumber-sumber uang yang mendasarinya. Hatta sampai turun tangan menengahi persoalan laskar di Sumatra Timur. Ketika berhadapan dengan Hatta, Timur Pane tak berani mendebat. Dia mematuhi Wakil Panglima Tertinggi Tentara Republik Indonesia itu. Untuk membuktikan diri, Timur Pane meminta persetujuan Hatta bagi pasukannya yang mau menggempur dan mengenyahkan Belanda dari Medan Area. Sontak para hadirin terperangah. Mereka meragukan kemampuan pasukan Timur Pane, terlebih sejak 1946 mereka lebih banyak di garis belakang. Dugaan mereka, Timur Pane hanya ingin memanfaatkan momen untuk mencari keuntungan karena mereka kerap meresahkan masyarakat. Namun Hatta mengizinkannya. “Aku menyuruhnya pergi ke Tapanuli, sebab ia bermaksud akan menggempur daerah Medan,” ujar Hatta. Menurut Hatta, di hari yang sama, Timur Pane langsung kembali dari Tapanuli membawa beberapa ratus senjata disertai beberapa golongan laskar. Timur Pane melaporkan kesiapan pasukannya untuk menyerang. Hatta segera memberi perintah memasuki daerah Belanda di sekitar Medan. Tanggal 27 Juli 1947, militer Belanda berkekuatan 500 orang prajurit mendarat di Pantai Cermin, lebih kurang 40 kilometer sebelah timur kota Medan. Perlawanan sengit berlangsung namun hasil akhir pertempuran di luar dugaan. Legiun Penggempur yang ditugaskan menghadang pendaratan tak kuasa membendung laju tentara Belanda. Pasukan Belanda bergerak terus ke arah Lubukpakam. Sementara rencana Timur Pane memasuki kota Medan dibatalkan. Pada saat pemerintahan Hatta mengeluarkan kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) tahun 1948, Legiun Penggempur termasuk salah satu badan perjuangan yang dilikuidasi. Semenjak itu, Timur Pane dicopot dari kedudukan militernya. Gelar jenderal mayor kebanggaannya dilucuti. Jenderal Mayor yang Hilang Kendati kehilangan jabatannya, Timur Pane masih punya banyak pengikut setia. Mereka dikumpulkan dalam barisan pengawan yang dinamakan “Sang Gerilya”. Kelompok pasukan tak resmi ini ditampung dalam Divisi Banteng Negara oleh Mayor Liberti Malau. Malau adalah komandan Sektor II Komandemen Sumatera yang meliputi wilayah Tapanuli Utara. Timur Pane dan Malau merupakan rekan seperjuangan ketika membentuk Brigade Marsose. Dalam suatu rapat di Samosir, Timur Pane berusaha agar Mayor Malau diganti sebagai komandan Sektor II. Gerakan Timur Pane menyebabkan kekacauan di Sektor II karena suka menghasut rakyat. Persoalan ini dibawa sampai kepada gubernur militer, Ferdinand Lumbantobing. Suatu pasukan ekspedisi dikerahkan untuk mengusir pasukan Timur Pane. Setelah keluar dari Divisi Banteng Negara, Timur Pane mengundurkan diri ke Sektor III di wilayah Dairi, komandemen Sumatera. Di sana, dia diterima oleh Mayor Selamat Ginting. Selamat Ginting tak sampai hati menangkap Timur Pane. “Rupanya perasaan setia kawan pada seorang teman seperjuangan sejak Medan Area mengikat kedua tokoh ini,” tulis buku Perjuangan Rakyat Semesta Sumatera Utara . Kendati demikian, Timur Pane lagi-lagi membuat gerakan. Maraden Panggabean dalam otobiografinya Berjuang dan Mengabdi menyebut, pasukan Timur Pane sering bertindak tanpa izin atau sepengetahuan Komandan Sektor III, Selamat Ginting. Timur Pane malah memilih bergabung dengan Gerakan Rakyat Murba Indonesia (Germi). Germi dipimpinoleh Tama Ginting yang berseteru dengan Selamat Ginting. Pasalnya, program penebangan kayu hutan untuk ekonomi rakyat yang digagas Germi dilarang oleh Selamat Ginting selaku pimpinan militer. Koalisi ini mendapuk Timur Pane sebagai panglima dan Sang Gerilya sebagai pasukan tempur. Dalam suatu operasi, Sang Gerilya berhasil melucuti pasukan Batalyon III dari Sektor III. Selamat Ginting memutuskan untuk menumpas aksi pasukan mantan kompatriotnya itu. “Pasukan Sang Gerilya akhirnya digempur habis-habisan sehingga pada saat pengkuan kedaulatan tidak kedengaran lagi mengenai Timur Pane dan pasukannya,” kata Maraden. Tak ada catatan lanjut mengenai akhir kiprah Timur Pane. Berita kematian atau di mana pusara nya juga tak diketahui. Dalam narasi sejarah, namanya kerap diidentikan sebagai bandit sekaligus pejuang yang melegenda. Pada 1987, sineas dan sutradara kenamaan Asrul Sani mengadaptasi kisah Timur Pane ke dalam layar sinema. Sosok Timur Pane dilakonkan sebagai Naga Bonar dalam film Naga Bonar .

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page