top of page

Hasil pencarian

9741 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Syekh Jumadil Kubra dan Orang Islam di Majapahit

    Sebuah pusara dikenal sebagai Kubur Tunggal. Disebut begitu karena sebelum dibangun cungkup yang besar seperti sekarang, pusara itu terletak di dalam sebuah cungkup dan berdiri sendiri. Di sinilah konon Syekh Jumadil Kubra dimakamkan. Seorang syekh yang kepadanya semua wali Jawa dihubungkan. Pada nisannya terdapat kutipan ayat-ayat Al-Qur’an: "tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu" (Ali Imran: 185) dan "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati" (Al-Ambiya: 35). Kutipan lainnya berbunyi: "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada kami kamu dikembalikan" (Al-Ankabut: 37); "Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan" (Ar-Rahman: 26-27); dan "Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah" (Surat Al-Qasas: 88). Selain itu, ada dua kalimat dalam bahasa Arab dan Asmaul Husna. Sedangkan nama Syekh Jumadil Kubra malah tak tertera pada nisan. Kendati demikian, haulnya digelar rutin. Peziarah berdatangan setiap malam Jumat Legimembuat makam Troloyo di Trowulan, Mojokerto, itu terkenal sebagai tempat peristirahatan terakhir sang mubalig. Melegenda di Seluruh Jawa Kisah Syekh Jumadil Kubra sebetulnya simpang siur. Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat menyebutkan, Syekh Jumadil Kubra diceritakan dalam berbagai legenda yang berkembang dalam kepustakaan berbahasa Jawa. Ada pula yang menghubungkannya dengan Majapahit. Babad Cirebon menyebut Syekh Jumadil Kubra sebagai moyang para wali Jawa, seperti Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Ampel. "Bahkan juga wali yang paling Jawa di antara para wali, Sunan Kalijaga," tulisVan Bruinessen. Menurut Martin, sebuah sejarah Gresik berbahasa Jawa menyebut Syekh Jumadil Kubra sebagai kakek buyut seorang wali lainnya lagi, Sunan Giri pertama. Kisahnya menyebut Syekh Jumadil Kubra adalah ayah dari Sunan Ampel yang menetap di Gresik. Sunan Ampel mempunyai anak bernama Maulana Ishaq yang menikahi putri raja Blambangan dan beroleh anak , Sunan Giri. Sementara itu, Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java mencatat versi lain dari legenda di Gresik, bahwa Syekh Jumadil Kubra bukanlah seorang moyang, melainkan pembimbing wali yang pertama. Raden Rahmat yang kelak menjadi Sunan Ampel datang dari Champa ke Palembang kemudian meneruskan perjalanan ke Majapahit. Mula-mula Raden Rahmat ke Gresik mengunjungi seorang ahli ibadah yang tinggal di Gunung Jali, bernama Syekh Molana Jumadil Kubra. Menurut Syekh Molana Jumadil Kubra kedatangan Raden Rahmat telah diramalkan oleh Nabi, bahwa keruntuhan agama kafir telah dekat. Raden Rahmat dipilih untuk mendakwahkan ajaran Muhammad di pelabuhan timur Pulau Jawa. Van Bruinessen juga mencatat cerita lisan di desa-desa yang terletak di lereng Gunung Merapi, sebelah utara Yogyakarta. Syekh Jumadil Kubra dipercaya sebagai wali muslim Jawa yang paling tua. Ia berasal dari Majapahit dan hidup sebagai pertapa di hutan gunung itu. Legenda rakyat berbahasa Jawa dari wilayah Tengger, Cariose Telaga Ranu, juga menyebut nama Maulana Ishaq dan Syekh Jumadil Kubra. Keduanya adalah saudara dari dua pertapa, Ki She Dadaputih di Gunung Bromo dan Ki She Nyampo di Sukudomas. "Maulana Ishaq pergi ke Blambangan dan menjadi ayah Raden Paku (Sunan Giri). Jumadil Kubra menjadi guru di Mantingan," tulis Van Bruinessen. Keberadaan Syekh Jumadil Kubra di Mantingan juga disebut dalam Serat Kandha. Ia disebut sebagai salah satu dari empat tokoh suci umat Islam di zaman kuno. Tiga lainnya yaitu Nyampo di Suku Dhomas, Dada Pethak di Gunung Bromo, dan Maulana Ishak di Blambangan. Isno, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Raden Wijaya Mojokerto, menambahkan, nama Syekh Jumadil Kubra juga dikenal di kalangan pengikut Syekh Siti Jenar. "Menurut cerita tutur, Syekh Jumadil Kubra adalah teman baik Syekh Siti Jenar saat membawa penawar atas tanah-tanah angker bekas pemujaan aliran Yoga-tantra," tulis Isno dalam "Pendidikan Islam Masa Majapahit dan Dakwah Syekh Jumadil Kubra", terbit di Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03, No. 01, Mei 2015. Bukan Makam Satu-satunya Kisah Syekh Jumadil Kubra menjadi legenda di empat wilayah, yaituBanten-Cirebon, Gresik-Majapahit, Semarang-Mantingan, dan Yogyakarta. Menurut Van Bruinessen, ada kesan seolah orang Islam Jawa pada zaman dan tempat berbeda semua bertolak dari nama Syekh Jumadil Kubra. Makam Syekh Jumadil Kubra pun ada di beberapa tempat. Selain di Troloyo, sebuah makam tua di antara tambak daerah pesisir pantai di Terbaya, tidak jauh dari Semarang, diyakini penduduk sekitar sebagai makam Syekh Jumadil Kubra. Keyakinan ini berdasarkan kisah dalam Babad Tanah Jawi yang menuturkan Syekh Jumadil Kubra pernah melakukan tapa di Bukit Bergota di Semarang. Makam keramat lain berada di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Desa Turgo. Keberadaannya disertai cerita lisan yang beredar di kawasan itu. Sementara itu, kisah Syekh Jumadil Kubra di Gresik dan Mantingan tidak meninggalkan jejak makam maupun petilasan. Makam Syekh Jumadil Kubra di Troloyo yang paling umum diakui. Kuburan ini paling sering kunjungi peziarah. Menurut Muhammad Chawari, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta dalam “Fenomena Islam pada Masa Kebesaran Kerajaan Majapahit” yang terbit di Majapahit: Batas Kota dan Jejak Kejayaannya , d ari seluruh makam di Troloyo yang ada prasastinya hanya satu nisan yang menyebut nama,  yaitu Zayn ud-Din atau mungkin bisa dibaca sebagai Zaenuddin. Angka tahun yang tertera pada nisan ini yaitu 874 H atau 1469 M. Paling tidak yang bisa diketahui, mereka yang dimakamkan di sana adalah penduduk kota Majapahit dan keluarga raja yang telah memeluk agama Islam. Khususnya tujuh makam bertuliskan aksara Arab yang letaknya tak jauh dari pusat kota Majapahit. Dari angka tahun yang tertulis pada nisannya, ada satu yang terbaca 874 H atau dalam tahun Saka 1391 (1469 M). Artinya, muslim atau mungkin kerabat raja Majapahit yang muslim sudah ada sejak Hayam Wuruk berkuasa. "Pada waktu Majapahit mencapai puncak keemasan di bawah Raja Hayam Wuruk, agama Islam sudah dianut oleh penduduk ibu kota Majapahit,"  tulis Chawari. Menurut Chawari dasar dan maksud mengidentikan Kubur Tunggal di Troloyo dengan Syekh Jumadil Kubra belum bisa dipastikan. Yang jelas, nama yang kini dikenal tak ada hubungannya dengan makam. Itu bukanlah nama sesungguhnya. Nama itu semata-mata hanya untuk mempermudah indentifikasi. Lagi pula bukan cuma Syekh Jumadil Kubra yang diidentikan dengan makam-makam Islam kuno di Trowulan. Syekh Maulana Ibrahim, Syekh Abdul Qodir Jaelani, Syekh Maulana Sekah, dan Syekh Ngundung pun dipercaya menjadi penghuni makam era Majapahit itu. "Secara umum tokoh itu pernah berjaya dan sangat dikenal di masa lalu, tidak di daerah Troloyo saja namun juga di daerah lain dalam kurun yang lain pula," tulis Chawari. "Dengan kata lain nama tokoh itu bukan nama tokoh sejarah yang berhubungan dengan makam Troloyo."

  • Cerita Kari Kepala Ikan Buatan Gus Dur

    Selesai dengan urusan pendidikan di Kairo, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memutuskan pergi ke Baghdad. Dia merasa kecewa dengan sistem pendidikan di Mesir yang jauh dari bayangannya. Tak ada kebebasan studi seperti yang dicita-citakannya. Kiprah Gus Dur pun berakhir dengan kegagalan. Sampai akhirnya sebuah beasiswa studi di Universitas Baghdad menyelamatkannya. Pada pertengahan 1966 Gus Dur tiba di Baghdad. Kota tersebut, kata Gus Dur sebagaimana diceritakan Greg Barton dalam Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of KH. Abdurrahman Wahid , merupakan kota kosmopolitas yang penuh vitalitas, baik dalam bidang ilmu pengatahuan, seni, maupun sastra. Para pelajar Indonesia di sana merasa kebebasan untuk bertukar pikiran terbuka lebar tanpa batasan dan halangan. Selama tiga tahun pertama kehidupannya sebagai mahasiswa Universitas Baghdad, Gus Dur tinggal seatap dengan sesama mahasiswa yang datang dari Indonesia. Bersama 19 orang kawannya itu, Gus Dur menyewa sebuah vila untuk kediamannya selama bermukim di ibu kota Irak tersebut. Tempat tinggal Gus Dur itu, kata Barton, cukup besar dan menyengkan untuk ukuran mahasiswa. Mereka mengumpulkan iuran untuk membiayai segala kebutuhan rumah tangga dan sewa vila. Kebanyak mahasiswa, termasuk Gus Dur, tercatat sebagai penerima beasiswa. Namun mereka juga bekerja paro waktu untuk memenuhi kebutuhan tinggal di sana. “Sebagai tempat tinggal mahasiswa, vila ini ditandai dengan suasana kebersamaan yang menyenangkan serta percakapan-percakapan yang hidup dan kebanyakan menarik,” tulis Barton. Segala pekerjaan rumah di vila itu dikerjakan bersama-sama. Mulai dari bersih-bersih, memasak, hingga merapikan barang tidak mengandalkan asisten rumah tangga. Untuk tugas memasak setiap mahasiswa akan mendapat giliran setiap 20 hari sekali. Ketika tiba waktu Gus Dur, dia sudah pasti akan menyiapkan menu andalannya: kari kepala ikan. Merupakan sebuah kebetulan hidangan itu bisa menjadi resep andalan Gus Dur. Suatu hari, ketika masih baru tinggal di Baghdad, Gus Dur melewati sebuah toko penjual ikan di dekat tempat tinggalnya. Dia memperhatikan bahwa orang Irak tidak memakan kepala ikan. Bagian tersebut dibuang begitu saja, atau diberikan untuk hewan. Dia pun lalu mendatangi penjual ikan tersebut dan meminta 20 kepala ikan ukuran besar. Pemilik toko heran dengan permintaan yang baginya tidak masuk akal tersebut. “Untuk apa kepala ikan sebanyak itu?” tanyanya. “Hmm, saya memlihara banyak anjing,” kata Gus Dur. “Berapa banyak?” si penjual mulai mengerti situasi orang asing ini. “Dua puluh ekor,” jawab Gus Dur sambil menahan tawa. Sejak itu setiap 20 hari sekali Gus Dur akan mendatangi toko tersebut dan membawa pulang 20 kepala ikan berukuran besar. Dia tidak menerimanya secara gratis. Gus Dur selalu meninggalkan beberapa keping uang logam sebagai tanda membeli, walau nilainya sangat jauh ketimbang harga normal ikan yang dijual di sana. Setiba di rumah Gus Dur langsung mengolah kepala ikan tersebut. Diakui oleh teman-temannya bahwa kari kepala ikan buatan kawan dari Jombang ini sangat lezat. Menurut Barton walau Gus Dur senang bisa mengubah barang yang tidak terpakai dari sebuah toko menjadi hidangan yang digemari kawan-kawannya, bukan berarti itu didorong oleh keinginan untuk menghemat uang. Dia mempunyai cukup uang dari beasiswa dan upah bekerja, serta honorarium untuk setiap esai yang dibuatnya. Gus Dur melakukannya karena semata-mata gemar membuat kari kepala ikan. Suatu ketika mahasiswa-mahasiswa ini menerima tamu resmi dari Indonesia. Pihak kedutaan kemudian mengusulkan agar kediaman Gus Dur dipakai untuk kegiatan jamuan makan. Mereka setuju dan segera membentuk kepanitian persiapan acara. Salah seorang teman Gus Dur mendapat tugas memasak. Dia ingin menghidangkan kari kepala ikan buatan Gus Dur, di samping menu olahan daging sapi dan kambing. Temannya ini lalu pergi ke toko ikan yang biasa dikunjungi Gus Dur. Si penjual mengenali orang ini sebagai teman Gus Dur. Sambil tertawa dia memberi komentar: “Temanmu sangat aneh.” “Kenapa?” tanya kawan Gus Dur itu keheranan. “Ia memelihara banyak sekali anjing. Bayangkan, 20 anjing!” kata si penjual yang kembali terkekeh. Tanpa berkomentar apapun mahasiswa ini kembali pulang. Sampai di rumah, dia langsung mencari Gus Dur. “Sampai hati kau samakan kami dengan anjing?” katanya menumpahkan kemarahannya kepada sang pemilik resep kari kepala ikan itu.

  • Nama Anak dari Nama Anak Buah

    Nama adalah doa. Setiap orang tua akan memberikan nama terbaik untuk anaknya. Nama yang diberikan mengandung makna yang diharapkan membawa kebaikan bagi anak. Nama itu juga bisa jadi memiliki cerita sendiri bagi orang tua, seperti Pranoto Reksosamodra memberikan nama untuk anak pertamanya. Pada September 1947, Mayor Pranoto Reksosamodra menjabat komandan Resimen XXI, Yogyakarta. Dalam pertempuran di Semarang barat, dia berpangkalan di garis pertahanan dari perkebunan karet Rembes ke selatan lewat daerah Gemuh, Biting, sampai Candiroto. Daerah hutan itu sulit mendapatkan air. Untuk mandi saja harus turun ke jurang yang ada sumber air jernih dengan kolam bercadas. Pada sore hari, Pranoto mandi ke sumber air itu dengan dikawal oleh Prajurit Untung dan Kopral Wardoyo. "Sedang di tengah mandi aku mendengar suara ilalang bergemerisik, seperti ada orang-orang yang datang mendekatiku," kata Pranoto dalam memoarnya, Catatan Jenderal Pranoto Reksosamodra dari RTM Boedi Oetomo sampai Nirbaya . Wardoyo berbisik pada Untung, "Awas, patroli Belanda datang." Tanpa pikir panjang, Untung memberondongkan tembakan sten gun ke arah suara gemerisik itu. Wardoyo mencari posisi ke samping Untung. Sewaktu dia meloncat ke samping kiri, kakinya tersambar peluru dari sten gun Untung yang menembak membabi buta. Ternyata tidak ada balasan tembakan dari arah suara gemerisik yang dikira tentara Belanda. Malahan sekawanan babi hutan yang mencari minum terpaksa kembali karena tembakan itu. Tak berapa lama kemudian, terdengar suara Wardoyo mengerang kesakitan. " War, War, kowe kejungkel ana jurang apa ? (War, War, kamu terjatuh ke jurang?)" tanya Untung. "Kejungkel gundulmu, aku kena sasaran pelurumu," kata Wardoyo. "Geli rasanya aku menyaksikan kedua pengawal itu berceloteh," kata Pranoto. Pranoto memeriksa kaki Wardoyo, benar saja peluru sten gun Untung menembus kulit sepatu dan kakinya. Pranoto dan Untung kemudian memapah Wardoyo yang pincang karena terluka. Sampai di markas batalion di Biting, Wardoyo mendapat perawatan dari perwira kesehatan, Letnan Sukiman. Tiba-tiba telepon berdering dan diangkat oleh perwira bagian perhubungan. Dia melaporkannya kepada Pranoto bahwa istrinya telah melahirkan seorang putra pada pagi, 15 September 1947. Malam itu juga, Pranoto yang suka cita karena kelahiran anak pertama, berangkat ke Yogyakarta. Dia membawa serta Wardoyo untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut di Rumah Sakit Militer di Magelang. Dalam perjalanan dari Magelang, Pranoto melajukan mobil Chevrolet Super de Lux tahun 1945, dengan tenang dan memungkinkannya mencari nama yang pantas untuk anaknya. Dia pun teringat pada peristiwa menggelikan yang dilakukan anak buahnya pada petang hari tadi. "Aku meminjam nama kedua pengawalku. Anakku kuberi nama Untung Wardoyo," kata Pranoto. Istrinya, Soeprapti Poerwodisastro, melahirkan di Rumah Sakit Bethesda. Bayi laki-laki bernama Untung Wardoyo itu berambut kriting, hidung mancung, dan kulitnya kuning. Setelah istrinya selesai dirawat, Pranoto kembali ke markasnya di Biting untuk mempertahankan daerah Semarang barat. Buah hati Pranoto-Soeprapti itu berumur pendek. Sejak dalam kandungan, dia telah terpengaruh oleh kesehatan ibunya yang sakit-sakitan. Ketika lahir dia menjadi bayi yang kurang sehat, jantungnya lemah. Dr. Suwondo dan dr. Suharsono telah berusaha merawatnya. Namun, Tuhan mengambilnya. Untung Wardoyo, bayi berumur 35 hari, meninggal di Rumah Sakit Panti Rapih pada 21 Oktober 1947. Enam bulan kemudian, Soeprapti kembali mengandung. Bahkan, sepanjang hidupnya, Pranoto-Soeprapti dikaruniai 12 anak. Karier militer Pranoto sampai menjabat caretaker Menteri/Panglima Angkatan Darat pada 1965 dengan pangkat Mayor Jenderal. Namun, dia dituduh terlibat Gerakan 30 September 1965 dan dipenjara oleh Orde Baru selama 15 tahun (16 Februari 1966–16 Februari 1981). Pranoto Reksosamodra meninggal di Jakarta pada 9 Juni 1992.

  • Robohnya Patung Edward Colston Si Tokoh Perbudakan dan Rasisme

    KEMATIAN George Floyd (46) di Minneapolis, Amerika Serikat pada 25 Mei 2020 memantik badai demonstrasi di berbagai belahan dunia. Sejumlah simbol rasisme jadi sasaran, salah satunya patung Edward Colston di Bristol, Inggris. Rasisme bukan barang baru di bumi sisi Barat, utamanya Amerika. Kematian George Floyd, seorang Afro-Amerika, akibat kekerasan oleh sejumlah polisi Minneapolis memicu bara rasisme yang telah lama terpendam. Ia meledak lewat gerakan demonstrasi bertajuk “Black Lives Matter”. Di Inggris, yang banyak warganya berkulit hitam, kematian Floyd memicu unjuk rasa di kota Bristol pada 7 Juni 2020. Para demonstran menyasar patung tokoh rasis dan saudagar perbudakan abad ke-17, Edward Colston. Menukil The New York Times , Selasa (9/6/2020), patung itu mulanya dikelilingi massa yang kemudian mencorat-coret badan patung berusia 125 tahun itu dan diakhiri dengan merobohkan dan menyeret patung untuk dibuang ke perairan di Pelabuhan Bristol. Aparat keamanan yang kalah jumlah dari massa demonstran tak bisa mencegahnya. Colston yang patungnya dirobohkan itu merupakan putra Bristol kelahiran 2 November 1636. Ia anak tertua saudagar besar cum Sheriff Tinggi kota Bristol William Colston. Baca juga: Rasis Tak Kunjung Habis Patung Edward Colston dirobohkan dan dibuang ke laut oleh pendemo George Floyd (Foto: brh.org.uk/Twitter @HackneyAbbott) Edward mewarisi bakat bisnis dari ayahnya. Ia memulainya di perusahaan niaga Mercers Company. Dari perusahaan itu, mengutip Matthew Parker dalam The Sugar Barons: Family, Corruption, Empire and War in the West Indies , ia meluaskan jejaring bisnis dengan para saudagar lain yang punya komoditas kain, minyak, buah dan minuman anggur, serta gula. Pada 1680 ia sudah menjadi anggota Royal African Company, sebuah perusahaan niaga yang didirikan Raja Charles II dan adiknya, Duke of York. “Perusahaan itu memonopoli perdagangan di sepanjang pesisir barat Afrika terkait emas, perak, gading, dan perbudakan. Perusahaan itu berkembang pesat sejak Colston mendaki jabatan di dewan perusahaan, hingga menjadi wakil gubernurnya pada 1689 dan 1690,” sebut Parker. “Komoditas” terakhir di atas itulah yang paling mendongkrak keuntungan perusahaan di bawah Colston. Tanpa mempedulikan penderitaan mereka, pada 1680-1692 saja perusahaan itu mengangkut sekira 84 ribu budak baik lelaki, perempuan, maupun anak-anak yang diperdagangkan dari Afrika Barat untuk keperluan para saudagar pemilik perkebunan tembakau dan gula di Karibia dan Amerika Utara. Banyak dari budak itu tak bisa sampai di tempat tujuan karena mati kelaparan atau terpapar penyakit akibat mereka dikungkung di lambung kapal terbawah dengan kondisi buruk. Disebutkan Parker, dalam kurun 1680-1692, ada 19 ribu dari 84 ribu budak yang diangkut Royal African Company tewas di perjalanan dan pastinya jasad mereka dibuang ke laut. Baca juga: Skandal Perbudakan Raffles di Hindia Belanda Kondisi memprihatinkan kapal-kapal pengangkut budak milik Inggris (Foto: Library of Congress) Colston baru pensiun dari bisnis perdagangan budak itu pada 1708. Di kota kelahirannya, ia “mendarmabaktikan” diri di Society of Merchant Venturers, sebuah organisasi amal di Bristol. Dua tahun berselang Colston turut terjun ke dunia politik sebagai anggota parlemen kerajaan dari faksi Tory. David Hughson dalam London: Being An Accurate History and Description of the British Metropolis and Its Neighbourhood mengungkapkan, Colston menghabiskan sisa umurnya sebagai seorang dermawan selain berpolitik. Ia mendirikan Colstons Alm s houses atau rumah singgah untuk tunawisma dan fakir miskin di Bristol. Ia juga jadi donatur tetap Queen Elizabeth’s Hospital dan mendirikan pula Colston’s Hospital. “Colston seorang dermawan besar untuk kota Bristol, di mana sepanjang hidupnya, menyumbangkan lebih dari 17 ribu pounds. Ia dihormati berbagai pihak karena selain menyumbang untuk sosial, ia juga donatur terpandang sejumlah gereja di Bristol,” tulis Hughson. Diabadikan dengan Patung Hingga akhir abad ke-19, sosok Colston tetap dikenang sebagai saudagar kaya yang luar biasa dermawan, utamanya untuk kota Bristol. Untuk menghormatinya, pada 1893 atau 176 tahun setelah ia wafat pada 1721, presiden organisasi amal Anchor Society, James Arrowsmith, mengusulkan figurnya diabadikan dalam bentuk patung. Sebagaimana disitat dari laman National Heritage List for England, pembuatan patung itu memakan dana hingga seribu pounds, yang berasal dari penggalangan dana yang digulirkan Arrowsmith setahun berselang. Pengerjaan patungnya dipercayakan pada pematung kelahiran Irlandia, John Cassidy. Cassidy membuat patung setinggi 18 kaki atau sekitar 5,5 meter di atas sebuah tugu batu Portland itu dari perunggu. Di setiap sudut tugunya dihiasi patung lumba-lumba dan plakat dengan ukiran bergaya art nouveau yang menggambarkan kisah hidup Colston sebagai pelaut dan saudagar. Sosok Edward Colston, saudagar yang kaya dari memeras darah budak kulit hitam (Foto: Bristol City Council) Patung itu lantas ditempatkan di Colston Avenue dan diresmikan pada 13 November 1895. Peresmiannya dihadiri walikota, uskup kota Bristol, serta para alumni Colston’s School. Dalam peresmian itu sekaligus diumumkan bahwa hari peresmian itu ditetapkan sebagai “Colston Day”. “Satu lagi plakat yang ditempatkan di sisi selatan terukir tulisan berbunyi: ‘Didirikan oleh warga Bristol sebagai peringatan atas putra asli Bristol yang bijaksana dan berbudi luhur,’ di samping juga terukir nama pematungnya,” demikian bunyi tulisan di plakat tersebut. Baca juga: Di Balik Patung Jenderal Ahmad Yani Namun, reputasi Colston sebagai tokoh dermawan akhirnya terbuka topengnya hingga melahirkan kontroversi. Pada 1920, John Henry Wilkins dalam risetnya yang dibukukan, Edward Colston: 1636-1721, A Chronological Account of His Life and Work, membongkar borok Colston bahwa warga kota Bristol selama ratusan tahun tidak tahu kedermawanan Colston berasal dari kekayaannya yang bermula dari perdagangan budak. “Kita tidak bisa menggambarkan sosoknya dengan obyektif, kecuali dengan melihat latarbelakang historisnya. Walau memang keterlibatan Colston dalam perdagangan budak terjadi lama sebelum pergerakan abolisi pada 1807. Keterlibatannya dalam bisnis itu berlangsung ketika perbudakan masih dimaklumi di Inggris dan seantero Eropa, termasuk oleh golongan terpelajar maupun gereja,” tulis Wilkins. Patung Edward Colston karya John Cassidy saat belum lama diresmikan pada 1895 (Foto: Bristol Archives) Kontroversi sosok Colston itu namun tetap tak menggoyahkan posisi patung tersebut yang masih gagah berdiri di lokasinya hingga 2013. Di tahun inilah Walikota Bristol George Ferguson mengungkit isu sensitif itu lagi. Setahun kemudian, suratkabar Bristol Post melakukan polling terhadap 1.100 responden. Hasilnya, 56 persen menghendaki patungnya tetap berdiri, hanya 44 persen yang ingin mengenyahkannya. Keberadaan patung itu tetap “membelah” warga kota Bristol hingga pada 7 Juni 2020 ketika patung tersebut diturunkan paksa dan dibuang oleh demonstran “Black Lives Matter” ke perairan Bristol. Kini pengabadian sosok Colston yang tersisa hanya berupa beberapa institusi yang menyandang namanya. Antara lain, Colstons Almshouses, Colston Tower, Colston Hall, Colston Avenue, Colston Street, dan Colston’s Girls’ School. Hingga kini isu penggantian nama institusi tersebut masih jadi pertimbangan dewan kota dan walikota Bristol. Baca juga: Perbudakan di Nusantara

  • Petualangan Intelektual Gus Dur di Luar Negeri

    Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sejak remaja dikenal haus akan ilmu pengetahuan. Buku bacaannya begitu banyak, tidak hanya soal teologi tetapi juga filsafat, politik, hingga tema ideologi. Berhasil menamatkan sekolahnya, Gus Dur merasa masih banyak hal yang tidak ia ketahui. Dia pun segera merencanakan studi lanjutan, tidak di dalam negeri melainkan di luar negeri. Memulai Petualangan Petualangan Gus Dur di luar negeri dimulai pada 1962. Tertulis di dalam buku Leadership Secrets of Gus Dur and Gus Miek karya M.N. Ibad, dirinya berhasil memperoleh beasiswa dari Kementerian Agama RI untuk studi di Kairo, Mesir. Gus Dur memanfaatkan kesempatan itu untuk belajar sebanyak mungkin nilai-nilai keislaman modern dari para tokoh cendekiawan Muslim Mesir. Seperti diketahui pada tahun-tahun tersebut Mesir sedang mengalami perkembangan yang pesat di bawah pimpinan Gamal Abdul Nasser, utamanya di bidang pendidikan Islam modern. Salah satu alasan Gus Dur mengambil kesempatan bersekolah di Mesir adalah dia berusaha mencari jawaban atas kondisi keislaman di Republik yang kian mengkhawatirkan. Greg Barton dalam Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of KH. Abdurrahman Wahid menyebut Gus Dur begitu gelisah ketika melihat ada banyak persoalan yang dihadapi umat Islam di Indonesia. Kemiskinan, penindasan, dan ketidakadlian selalu menghiasi kehidupan kaum muslimin di sini. Saat berlabuh di Kairo, dia berharap menemukan jawaban yang tepat atas kegetirannya. Baca juga:  Gus Dur dan Buku “Meskipun pada awalnya Gus Dur sangat bersemangat dengan studinya di Al-Azhar, namun ia kemudian merasa sangat kecewa oleh karena masa keemasan Al-Azhar telah mencapai puncaknya beberapa dasawarsa sebelumnya,” tulis Barton. Kekecewaan lain dirasakan Gus Dur ketika pihak universitas menyuruhnya mengikuti kelas bahasa Arab untuk mereka yang benar-benar pemula. Dia dianggap tidak cukup mengetahui pengetahuan tentang bahasa tersebut. Gus Dur, kata Barton, sebenarnya mahir berbahasa Arab. Semasa bersekolah di Jombang, Jawa Timur, dia telah lulus studi yurisprudensi Islam, teologi, dan pelajaran lain yang memerlukan pengetahuan bahasa Arab sangat baik. Sayangnya tidak ada ijazah yang menunjukkan bahwa dia telah lulus kelas bahasa Arab ketika di Jombang. Sebagai raksi penolakan, Gus Dur memilih tidak mengikuti kelas tersebut. Itu berarti sepanjang tahun 1964 dia tidak mengikuti studi formal apapun. Gus Dur kemudian menghabiskan waktunya membaca di perpustakaan-perpustakaan besar, menonton film-film Prancis, mengikuti diskusi-diskusi, serta menonton banyak pertandingan sepakbola di Kairo. “Walaupun kecewa dengan sistem pendidikan di Al-Azhar sebagai institusi, tetapi Abdurrahman Wahid sangat senang dengan kehidupan kosmopolitan di kota Kairo,” tulis Syamsul Bakri dan Mudhofir Abdullah dalam Jombang-Kairo, Jombang Chicago: Sintesis Pemikiran Gus Dur dan Cak Nur dalam Pembaruan Islam di Indonesia . Akhir 1964, Gus Dur lulus ujian bahasa Arab dengan mudah. Kepercayaan dirinya seketika muncul bahwa ia bisa melompati kelas-kelas di dalam studinya di universitas. Ketika melihat bahan pelajaran yang akan diikutinya selama program sarjana tidak beda membosankannya dengan kelas bahasa Arab, Gus Dur kembali mengulangi kegiatannya: menghindari pelajaran formal. Baca juga:  Dahsyatnya Humor Gus Dur Dia merasa telah memperoleh pengetahuan yang cukup untuk studi di tahun peratama. Gus Dur yakin walau mengikuti pelajaran secara asal-asalan, di akhir tahun akademik tetap akan membuatnya lulus ujian. Namun keputusannya itu malah berujung petaka. Pihak universitas yang memberinya beasiswa tidak menyukai catatan kehadirannya. Dia juga dianggap terlalu meremehkan sistem pendidikan di Al-Azhar. Kondisi politik di Indonesia yang memburuk setelah peristiwa 30 September 1965 ikut menambah beban kehidupan studi Gus Dur di Kairo. “Seorang mahasiswa yang lebih disiplin barangkali akan bisa menciptakan suasana belajar lagi, akan tetapi Gus Dur terlambat melakukan usaha itu dan juga karena usahanya memang asal-asalan. Oleh karena itu, ia gagal lulus salah satu dari dua objek inti dan diberitahu bahwa ia harus mengulang tahun itu, dan sangat mungkin sekali tanpa menerima beasiswa,” tulis Barton. Gus Dur menghabiskan sebagian besar waktunya di Kairo untuk membaca. Setiap harinya dia akan mengunjungi perpustakaan Universitas Amerika, perpustakaan Prancis, atau perpustakaan Universitas Kairo. Berbeda dengan di Jombang, di Kairo dia bisa membaca apa saja dan di mana saja, bahkan bisa di sekeliling rumah atau di tempat menunggu bus. Meski tidak berhasil menamatkan studinya, Gus Dur merasa di kota inilah pemikiran-pemikirannya diasah. Dia mampu mengembangkan pengetahuan pada tingkatan lebih tinggi. Berkat kebebasan yang secara relatif dimilikinya, juga penolakan atas pelajaran bahasa Arab untuk pemula, Gus Dur bisa menyerap pengetahuan sebanyak yang diinginkannya. “Oleh karena Gus Dur bisa memperoleh bermacam-macam buku baru, demikian kenangnya, ia merasa bahwa cita rasanya dalam membaca cepat meluas dengan adanya penemuan-penemuan baru,” ungkap Barton. Kehidupan Baru Menerima kegagalan di Kairo, Gus Dur tidak langsung putus asa. Dia segera mengusahakan kembali keberlangsungan studinya. Pada 1966 kabar baik itupun datang, Gus Dur mendapatkan tawaran beasiswa studi di Fakultas Seni, Universitas Baghdad, Irak. Tawaran ini menjadi kesempatan kedua Gus Dur untuk memulai segalanya dari awal. “Abdurrahman Wahid mengakui bahwa sistem pembelajaran di Universitas Baghdad dirasakan lebih dinamis dan dalam banyak hal lebih mirip dengan sistem pendidikan di universitas-universitas Eropa dibandingkan dengan Al-Azhar,” tulis Bakri dan Abdullah. Kala itu, Universitas Baghdad memiliki banyak dosen lulusan Eropa. Itulah mengapa penerapan standar Eropa mulai dirasakan Gus Dur saat pertama kali tiba di sana. Sebagai mahasiswa dia dituntut untuk berpikir kritis dan banyak membaca. Sebuah hal yang agaknya tidak terlalu sulit bagi Gus Dur. Namun di sini dia tidak bisa main-main seperti sebelumnya. Kehadiran di kelas menjadi syarat wajib mengikuti studi. Mahasiswa di sini dipantau secara ketat. Baca juga:  Sinta Nuriyah Berkisah tentang Gus Dur Demi menunjang studinya, setiap sore Gus Dur akan mampir ke perpustakaan universitas. Dia merasa tidak boleh lalai seperti di Kairo agar beasiswanya tetap dipertahankan. Hampir setiap hari juga akan ada tugas makalah yang dibawa pulang. Gus Dur tidak pernah menyelesaikannya di rumah, perpustakaan selalu menjadi pilihan terbaik baginya untuk belajar. Di Baghdad, Gus Dur memiliki jawal yang lebih padat daripada ketika masih di Kairo. Dia tidak bisa bebas berjalan-jelan di kota karena waktunya habis dipakai untuk studi. Meski demikian, kata Barton, Gus Dur masih menyisihkan sebagian waktunya guna menonton film-film Prancis dan membaca buku kegemarannya. Bahkan pada malam-malam tertentu, Gus Dur menyempatkan diri untuk menikmati secangkir kopi di tepi Sungai Tigris, sambil terlibat di dalam diskusi-diskusi. “… Baghdad merupakan kota magis bagi Gus Dur dan ia pun menghabiskan waktu senggangnya guna mencari tempat-tempat baru untuk dikunjunginya,” kata Barton. Gus Dur berhasil menyelesaikan pendidikan di Universitas Baghdad pada pertengahan 1970-an. Memakan waktu kurang lebih empat tahun untuk dia meraih gelar sarjananya. Studi yang Tertunda Keinginan Gus Dur mengenyam studi di Eropa sebenarnya ada sebelum ia memutuskan memilih Kairo. Berbagai buku karya sastrawan-sastrawan Eropa, serta tema-tema pemikiran tokoh Eropa yang dibacanya sejak masih belajar di Yogyakarta membuat keinginan terbang ke Benua Biru itu begitu meluap-luap. Selesai dengan Baghdad, Gus Dur pun kemudian pindah ke Eropa. Mula-mula dia tinggal di Belanda. Pamor Negeri Kincir Angin tersebut sebagai destinasi pendidikan menjadi pilihan utama Gus Dur. Dia melabuhkan dirinya di sana dengan harapan dapat memperoleh kesempatan untuk melanjutkan studi pascasarjana di bidang perbandingan agama. Baca juga:  Gus Dur dan Keberagaman Pada bulan-bulan pertama Gus Dur lebih banyak mengumpulkan informasi terkait universitas mana yang cocok bagi studinya. Jika harus memilih, dia lebih senang melanjutkan di Universitas Leiden. Namun rasa kecewa mesti dihadapi Gus Dur. Ketika tengah mencari informasi, dia memperoleh kenyataan bahwa di Leiden dan di seluruh Eropa, studinya di Universitas Baghdad tidak memperoleh pengakuan. Jika Gus Dur tetap ingin melanjutkan studi di Eropa, beberapa universitas akan menerimanya. Tetapi mereka menetapkan prasyarat yang mengharuskannya mengulang studi tingkat sarjana. Gus Dur tidak menerima hal itu. Dia pun tidak memaksakan keinginannya dan memilih menghabiskan waktu untuk berkeliling Eropa, mempelajari banyak hal secara informal. Setelah berkelana hampir setahun, Gus Dur memutuskan kembali ke Indonesia pada pertengahan 1971. “Walaupun Gus Dur tidak memperoleh kualifikasi formal dari studinya di Eropa, namun pengelamannya di Eropa itu adalah cita-cita yang ia inginkan bertahun-tahun sebelumnya,” tulis Barton.

  • Mimpi Buyar Ekonomi Terpimpin

    “TENTANG ekonomi aku tidak mengerti apa-apa.” Itu kata-kata Sukarno kepada Prof. Jan Tinbergen dari Belanda. Tinbergen beberapa kali bertandang ke Indonesia untuk memberikan saran kepada pejabat bidang ekonomi. Suatu hari dia bertemu Sukarno saat ekonomi Indonesia terlilit inflasi pada 1960-an.

  • Kyai Haji Abdul Halim

    Kyai pesantren yang khatam soal masalah politik, siasat gerilya, dan tentu saja soal agama.

  • Bung Karno Si Salesman yang Selalu dalam Pengawasan

    Meskipun hanya memiliki pemasukan amat sedikit dari aparat kolonial, Bung Karno tetap bisa survive saat menjalani pembuangan di Ende, Flores. Dapur rumahnya yang “dikomando” Inggit istrinya tetap bisa “ngebul” tiap hari. “Sekalipun kami hanya punya uang sedikit, kami berhasil mencukupi diri sendiri. Aku orang yang sederhana. Kebutuhanku sederhana. Makananku terdiri dari nasi, sayur, buah-buahan, terkadang ayam atau telor dan ikan asin kering sedikit. Sayuran diambil dari yang kutanam di pekarangan samping rumah. Ikan kudapat dari kawan-kawanku para nelayan,” kata Bung Karno dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Namun, jatah kurang dari10 dolar tiap pekan yang diberikan pemerintah kolonial jelas tak cukup untuk mendukung kegiatan-kegiatannya. “Karena itulah aku mencari uang tambahan dengan menjualkan bahan pakaian dari sebauh toko tekstil di Bandung. Mereka memberikan komisi 10% pada setiap barang yang kujualkan,” sambungnya. Baca juga:  Sukarno: Wartawan Pekerjaan Gawat Setelah barang contoh itu tiba dari Bandung, Bung Karno pun berkeliling menawarkannya dari rumah ke rumah. Begitu mendapat sejumlah pembeli, dia langsung mengirim wesel ke pihak toko yang dagagannya dia pasarkan. Barang akan datang kembali beberapa bulan kemudian. Meski hanya sebagai salesman, Bung Karno tetap diawasi oleh aparat kolonial. Pengawasan tak hanya dilakukan sejumlah polisi tapi juga dengan tindakan yang membuat penduduk, terutama ambtenaar setempat dan kalangan terpelajar, takut mendekat padanya. Situasi itu membuat Bung Karno amat tersiksa. “Di Endeh aku dibatasi bergerak, juga untuk menikmati kesenangan yang kecil-kecil. Aku juga boleh berkeliaran dalam batas lima kilometer dari rumah. Akan tetapi lewat satu langkah saja, aku jadi sasaran hukuman. Di Flores semangatku berada dalam kurungan. Di sini aku diasingkan dari masyarakat, diasingkan dari orang-orang yang dapat mempersoalkan tugas hidupku. Orang di sini yang mengerti, takut untuk berbicara,” kata Bung Karno. Maka, dia pun berpaling untuk mendapatkan perkawanan. “Kalau begitu keadaannya, aku akan bekerja tanpa bantuan orang-orang terpelajar yang tolol ini. Aku akan mendekati rakyat jelata yang paling rendah. Rakyat-rakyat yang terlalu sederhana untuk bisa memikirkan soal politik. Aku mendekat kepada rakyat jelata, karena aku melihat diriku sendiri di dalam orang-orang yang melarat ini. Aku membentuk masyarakatku sendiri dengan pemetik kelapa, supir, bujang yang tidak bekerja – inilah kawan-kawanku,” sambungnya. Baca juga:  Bung, Saudara Serevolusi Pergaulan dengan masyarakat lapisan bawah tak hanya memberikan Bung Karno kawan, tapi juga memberinya pandangan lebih jelas mengenai kehidupan bangsanya dari mata sendiri. Dia akhirnya bisa mengorganisir anak-anak dengan membentuk grup sandiwara Kelimutu. Aktivitas itu jelas mendapat perhatian dari pemerintah kolonial. Lewat kaki-tangannya yang terus mengawasi dan aparat-aparatnya yang selalu menguntit Sukarno, pemerintah terus membatasi ruang-gerak sang “Singa Podium”. “Di kota ini ada delapan polisi, jadi sungguhpun berpakaian preman aku mengenal mereka itu. Di samping itu, hanya mereka yang memakai sepeda hitam dengan merek ‘Hima’. Yang terlalu jelas adalah bahwa mereka berada pada jarak yang tetap waktu mengiringkanku. Kalau seorang Belanda yang misterius selalu berada pada jarak 60 meter di belakangku, maka tahulah aku,” kata Sukarno. Pengawasan itulah yang pada suatu sore membuat Sukarno tertawa karena mendapat hiburan gratis. Ketika sedang bersepeda menuju sebuah sungai, Sukarno dikuntit seorang polisi berpakaian preman yang juga bersepeda. Pada saat polisi itu berhenti dan terus mengawasi gerak-gerik Sukarno, tiba-tiba dua ekor anjing melompat ke arahnya dengan geram. Baca juga:  Sukarno dan Anjingnya “Pemaksa hukum yang tinggi kejam ini karena kagetnya memanjat ke atas sepedanya dan berdiri di ats tempat duduk-duduk dengan kedua belah tangannya berpegang erat ke pohon. Sungguhpun aku kepanasan dan dalam keadaan kotor di waktu itu, namun pemandangan ini lebih menyegarkan badanku daripada air sungai yang sejuk,” kata Sukarno.

  • Joseph Goebbels, Setia Nazi Sampai Mati

    MESKI wajah kakunya tampak tenang, pikiran Dr. Joseph Goebbels tengah berkecamuk. Pagi itu, 29 April 1945, situasi kota Berlin kian mencekam mengingat pasukan Uni Soviet kian mendekati Führerbunker atau bunker di kompleks Reichkanzlei  (Kekanseliran Jerman). Di hari itulah untuk pertamakali Goebbels menolak perintah Hitler. Setelah mengikuti sarapan “pesta” pernikahan Hitler dengan Eva Braun, Goebbels diminta Hitler untuk berusaha keluar dari kota Berlin. Hitler merasa harus menjadi kapten yang ikut tenggelam bersama kapalnya. Traudl Junge, sekretaris pribadi Hitler, masih ingat betul ketika Goebbels masuk ke ruangannya. Kala itu, Junge sedang mengalihwahanakan wasiat Hitler yang ditulis tangan ke mesin ketiknya. “Tiba-tiba Goebbels masuk tanpa saya sadari. Wajahnya tampak pucat seputih kapur. Air mata mengalir di pipinya…suaranya yang biasanya jernih menjadi bergetar. ‘ Führer  ingin saya keluar dari Berlin, Nona Junge. Saya diperintah memimpin pemerintahan baru di utara. Tetapi saya tak bisa meninggalkan Berlin dan Führer ! Saya Gauleiter  (kepala distrik) Berlin dan di sinilah tempat saya. Jika Führer  mati, hidup saya tiada artinya’,” kata Junge dikutip T. Thacker dalam Joseph Goebbels: Life and Death. Baca juga: Pernikahan dan Kematian Hitler Anak-anak Joseph Goebbels yang turut dibawa bunuh diri, kecuali Harald Quandt (berseragam Luftwaffe/AU Jerman), putra tirinya karena sedang bertugas di medan perang (Foto: Bundesarchiv) Goebbels lantas mendiktekan wasiatnya pula dan minta diketikkan Junge. “Untuk pertamakalinya dalam hidup saya, saya harus menolak menaati perintah Führer. Begitupun istri dan anak-anak saya. Hati saya tak bisa membiarkan Führer  sendirian di saat yang ia butuhkan…bersama istri saya, lebih baik mengakhiri hidup di sisi Führer ,” demikian bunyi potongan wasiat   Goebbels. Keesokan harinya, Goebbels turut menanti akhir hayat Hitler. Dari ujung pintu kamar, Goebbels mendengar sendiri dua kali bunyi letupan pistol dari balik pintu. Ia hanya bisa berdiri kaku saat jasad Führer  dibawa ke halaman luar bunker untuk dibakar dengan bensin. Sehari setelahnya, 1 Mei 1945, Goebbels bersama istri dan keenam anaknya menyusul sang Führer  ke alam baka. Bocah Penyakitan dan Katolik yang Taat Paul Josep Goebbels, itulah nama yang diberikan kepada bayi   yang dilahirkan Katharina Odenhausen, wanita blasteran Jerman-Belanda, di Rheydt, sebuah “kecamatan” di Mönchengladbach, pada 29 Oktober 1897.   Anak keempat dari enam bersaudara itu hidup di tengah keluarga menengah ke atas, di mana ayahnya mengais nafkah sebagai klerek di sebuah pabrik. Mengutip keterangan Goebbels, sejarawan Peter Longerich dalam Goebbels: A Biography  mengungkapkan, Goebbels di masa kecilnya menjadi bocah penyakitan. Selain   mengalami masalah pada paru-parunya, dia punya kelainan CTEV ( Congenital talipes equinovarus ) pada kaki kanannya, membuat kaki kanannya lebih tebal namun lebih pendek dari kaki kirinya. Alhasil,   Goebbels   pun pincang dan mesti selalu mengenakan sepatu khusus yang beda ukuran. Kelainan itu   pula yang membuatnya ditolak masuk kemiliteran di kala Perang Dunia II berkecamuk. Tetapi ia tak patah arang. Ia tetap jadi pemuda Katolik taat dan rajin ke gereja. Goebbels di usia 12 saat masih jadi pelajar Rheydt Gymnasium pada 1910 (kiri) dan usia 18 tahun saat mulai berkuliah (Foto: Archivo Storico Thule/spartacus-educational.com) Orangtuanya berharap ia menjadi pastur. Namun, Goebbels lebih menggemari sastra dan sejarah dunia. Maka jurusan itulah yang diambilnya ketika ia mendapat beasiswa Albertus Magnus Society dan diterima di Prinzenuniversität (kini Universitas Bonn). Goebbels mahasiswa yang cemerlang. Dia menyelesaikan studi di Julius-Maximilians-Universität Würzburg, Albert-Ludwigs Universität Freiburg, Ludwig-Maximilians-Universität München, hingga Ruprecht-Karls-Universität Heidelberg.   Gelar doktor diraihnya setelah menyelesaikan disertasi mengenai tokoh sastrawan Wilhelm von Schütz. Ia memilih topik itu atas saran Max Freiherr von Waldberg, profesor berdarah Yahudi yang jadi   dosen pembimbingnya. Baca juga: Hitler Seniman Medioker Goebbels tak keberatan dibimbing seorang Yahudi karena masa mudanya   tak pernah bersentuhan dengan hal-hal berbau antisemit. Masa   mahasiswa Goebbels hanya dipenuhi   oleh   kerakusannya melahap beragam buku,   termasuk buku-buku kiri karya Karl Marx, Friedrich Engels, Rosa Luxemburg, August Bebel, dan Gustav Noske. “Tetapi mulai 1924, Goebbels mulai kepincut dengan kharisma Adolf Hitler. Terutama ketika Hitler duduk di kursi terdakwa pada Februari 1924 atas insiden Beer Hall Putsch (8-9 November 1923). Persidangannya jadi berita hangat di koran-koran dan Goebbels mulai membangun kekagumannya pada Hitler,” singkap Longerich. Antek Nazi sampai Mati Dari kekagumannya itu, Goebbels menganggap Hitler sebagai mentornya ketika Goebbels memilih terjun ke politik dan bergabung ke Nationalsozialistische Deutsche Arbeitpartei (Partai Pekerja Nasional Sosialis Jerman) yang populer dengan sebutan Nazi. Goebbels mulai jadi kader pada Desember 1924, setelah Hitler keluar penjara. Tugas pertama Goebbels sebagai kader adalah di kantor sekreariat Partai Nazi cabang Distrik Rhine-Ruhr di bawah Gauleiter  (kepala cabang) Karl Kaufmann dan Gregor Strasser.   Baru dua tahun kemudian dia bertemu Hitler untuk kali pertama. Itu terjadi dalam Konferensi Bamberg, 14 Februari 1926, di mana Hitler memanggil semua kepala cabang partai. “Saya sungguh mencintainya…   Dia punya pikiran yang mencakup segala hal. Pemikirannya sungguh cemerlang. Saya tunduk pada sosok hebat ini, seorang politikus jenius,” kata Goebbels menyanjung dalam catatan hariannya, dikutip Ian Kershaw dalam Hitler: A Biography. Joseph Goebbels bersama Adolf Hitler pada 22 Januari 1933 atau sepekan sebelum pengangkatannya sebagai kanselir (Foto: Bundesarchiv) Dalam   pertemuan   itu   Hitler juga merasa Goebbels sebagai orator ulung   seperti dirinya. Hitler kemudian mempromosikannya sebagai Gauleiter  Berlin per Agustus 1926. Sejak saat itu, Goebbels dan Hitler tak terpisahkan. Dari sekian perombakan yang dilakukan Goebbels, di mana ia hanya melapor langsung pada Hitler, ada dua hal yang jadi faktor utama penopang kelanggengan kekuasaan Hitler sebagai ketua partai.   Pertama , Goebbels merombak keanggotaan partai. Sebagai pilot project , di distrik Berlin   yang dipimpinnya, Goebbels menetapkan iuran keanggotaan dan mewajibkan setiap anggota membayar lagi untuk bisa ikut rapat-rapat partai. Itu dilakukan untuk konsolidasi   dan   membersihkan   partai dari anggota-anggota yang berpotensi menggembosi Hitler. Perombakan itu menghasilkan   berkurangnya anggota distrik Berlin dari sekira 1.000 menjadi 600 anggota yang komit. Langkah itu kemudian diikuti semua distrik lain. Baca juga: Stauffenberg, Opsir "Judas" Kepercayaan Hitler Kedua , Goebbels memberi masukan pada Hitler untuk memfilmkan setiap parade partai dan pidato-pidato Hitler. Goebbels melihat media film tengah booming  di Jerman   saat itu. Ia juga memprediksi film-film itu nantinya bisa ditayangkan dan akan menjangkau simpatisan yang lebih luas. Manuver-manuver Goebbels turut menyukseskan langkah Hitler hingga bisa bertakhta sebagai kanselir pada 30 Januari 1933. Untuk merayakan bertakhtanya Hitler, Goebbels mengotaki   digelarnya   pawai obor di jalan-jalan kota Berlin yang mengikutsertakan 60 ribu kader paramiliter Sturmabteilung  (SA) dan  Schutzstaffel  (SS). Perayaan megah itu   disiarkan radio dan difilmkan. “Tetapi ia sempat kecewa karena dalam kabinet baru yang dibentuk Hitler, ia tak diberikan posisi menteri kebudayaan. Jabatan yang ia idam-idamkan. Baru pada 14 Maret, Goebbels diberi posisi di kementerian yang baru dibentuk, Kementerian Negara bidang Penerangan dan Propaganda,” sambung Longerich. Kolase parade akbar Partai Nazi di Nürnberg (Foto: Bundesarchiv) Dengan posisi inilah Goebbels membuat   ajang-ajang akbar seperti Parade Nürnberg 1934 yang kemudian difilmkan oleh sineas Leni Riefenstahl   dengan tajuk Triumph des Willens.   Film itu bahkan memenangi medali emas Festival Film Venezia pada 1935. Dengan posisi ini pula Goebbels mengarsiteki   doktrin-doktrin antisemit.   Dia   memulainya dengan merangkum sebuah dekrit terkait pemboikotan bisnis-bisnis kaum Yahudi, yang ditandatangani Hitler pada 1 April. Goebbels juga ikut menggerakkan pengajuan Jerman sebagai tuan rumah Olimpiade 1936 . Pentas global itu baginya bisa dimanfaatkan sebagai promosi atas hegemoni rezim Nazi di tanah Jerman. Itu dilakukan demi menutupi sejumlah doktrin dan kebijakan antisemit Nazi. Salah satu kebijakan rasis Goebbels yang kondang adalah mewajibkan setiap orang Yahudi mengenakan tanda bintang Daud berwarna kuning. Baca juga: Erwin Rommel yang "Dipaksa" Hitler Bunuh Diri Bukan hanya kaum Yahudi, rezim Nazi juga sempat clash  dengan kaum agamawan, baik dari Gereja Katolik maupun Protestan. Akibatnya, banyak agamawan yang dipersekusi. Protes dari Paus Pius XI lewat eksikliknya, “Mit brennender Sorge”, dibalas Goebbels dengan pidato di hadapan 20 ribu massa Nazi di Berlin, 28 Mei 1937 yang mengkampanyekan bahwa Gereja Katolik baik di Jerman maupun di Vatikan secara moral sudah korup. Lebih lanjut, Goebbels menggunakan wewenangnya untuk melarang ceramah-ceramah di gereja yang berkaitan dengan kritik rezim Nazi. Sesudah Hitler memulai Perang Dunia II, Goebbels bertanggungjawab menyensor semua kabar   dari medan perang. Propaganda kemenangan dari garis depan sudah barang pasti jadi kabar-kabar yang boleh berseliweran di siaran-siaran radio. Joseph Goebbels (kiri) memberikan hormat Nazi kepada barisan Volkssturm pada apel dan parade pada 12 November 1944 (Foto: Bundesarchiv) Memasuki 1944, ketika   Jerman sudah   mendekati kekalahan, Goebbels menginisasi pembentukan Volksstrum, semacam laskar rakyat, pada 18 Oktober 1944.   Perekrutan di Volksstrum mulanya sukarela, tetapi ketika Uni Soviet mulai mengepung Berlin, semua warga diwajibkan angkat senjata, tak peduli masih bocah ingusan atau sudah renta. Kondisi Berlin yang makin mencekam pada April 1945   membuatnya berpikir bahwa tak mungkin ia dan keluarganya hidup di Jerman tanpa Naziisme.   Goebbels pun   menolak diperintah Hitler untuk keluar dari Berlin. Pada 1 Mei 1945, Goebbels dan istrinya, Magda Rietschel, menjejali kapsul sianida kepada enam anaknya: Helga, Hildegard, Helmut, Holdine, Hedwig, dan Heidrun. Lantas pada pukul 20.30, Goebbels dan Magda keluar ke halaman bunker. Dengan sepucuk pistol di tangan, Goebbels menembak Magda untuk kemudian menembak kepalanya sendiri. Jasad keduanya disiram bensin dan dibakar oleh ajudan Goebbels, Kapten Günther Schwägermann, persis seperti Hitler yang sehari sebelumnya duluan menuju alam baka. Baca juga: Empat Upaya Pembunuhan Hitler yang Gagal

  • Lasmidjah Hardi, Perempuan Pejuang yang Menggemari Sejarah

    BERSAMA rekan-rekannya sesama perempuan pejuang di masa revolusi, Lasmidjah Hardi mendirikan Yayasan Wanita Pejuang pada 24 Februari 1977. Selain Lasmidjah, anggotanya antara lain SK Trimurti, Sujatin Kartowidjono, Siti Djauhari Sudiro, Soekanti Soerjotjondro, Utami Soerjadharma, dan Amini Sutari Abdulgani. Yayasan ini mereka maksudkan sebagai wadah untuk mewariskan nilai-nilai perjuangan kepada generasi penerus. Langkah tersebut diwujudkan lewat upaya penghimpunan dan pembukuan kisah-kisah perjuangan para para wanita. Yayasan ini megeluarkan lima jilid buku berjudul Sumbangsihku Bagi Ibu Pertiwi . Diungkapkan dalam prawicara Sumbangsihku Bagi Ibu Pertiwi I, ide pembuatan bukunya bermula dari obrolan dalam reuni Wanita Pejuang pada Mei 1981. Akhirnya dibuatlah lima jilid buku yang memuat 54 cerita para perempuan pejuang. Tokoh yang mengisahkan perjuangannya di buku tersebut diambil dari beragam latar belakang, daerah, budaya, agama, dan organisasi agar mencerminkan kebhinekaan Indonesia. “Sejak bangkitnya pergerakan nasional, wanita merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan untuk kemerdekaan tanah air,” kata Lasmidjah dalam prawicara Sumbangsihku Bagi Ibu Pertiwi IV.  Ia juga mengajak para perempuan untuk menyadari hak-haknya yang sudah diperjuangkan di masa sebelumnya. Lasmidjah menyadari, tak semua perempuan pejuang dapat diwawancarai atau bisa menuliskan kisah perjuangan mereka. Ada yang sudah meninggal, ada pula yang amat sibuk dengan kegiatannya. Buku lain yang diterbitkan yayasan ini, bekerjasama dengan Departemen Penerangan RI, ialah Perjuangan Wanita Indonesia 10 Windu setelah Kartini 1904-1994 . Lewat buku itu mereka menghimpun kisah-kisah perempuan pejuang yang ikut dalam usaha kemerdekaan baik di garis depan maupun di garis belakang. Langkah tersebut merupakan pengabadian perjuangan perempuan di tengah heroisme perjuangan yang didominasi tokoh lelaki. “Akan ada goresan dalam sejarah sebagai bukti kehadiran mereka (perempuan pejuang, red. ) dalam perjuangan bangsanya. Biarpun sekilas, peristiwa perjuangan itu harus dibuatkan ‘ snap shot moment opname’ sebelum kenangan itu hilang seolah tanpa kesan, tanpa bekas,” kata Lasmidjah. Sayangnya, makin lama anggota Yayasan Wanita Pejuang terus berkurang. Banyak para anggota yang sudah sepuh, meninggal. Akibatnya, yayasan makin tidak aktif hingga mandek sama sekali. Namun nasib baik tak akan lari. Ketika menghadiri sebuah pertemuan di rumah Radius Prawiro pada 1990-an, Lasmidjah bertemu dengan banyak pejuang. Ia berbicara dengan Sulasikin Murtopratomo, mantan Menteri Negara Urusan Peranan Wanita. Dari pertemuan inilah hasrat untuk mengumpulkan kembali para perempuan pejuang terpantik. Hasilnya, setelah beberapa kali rapat, dibentuklah Paguyuban Wanita Pejuang pada 18 Oktober 1995. Hampir mirip dengan Yayasan Wanita Pejuang, paguyuban ini dibentuk sebagai wadah agar para perempuan yang pernah berjuang dapat bertemu dan bertukar pikiran. Kegiatannya pun serupa, yakni menerbitkan buku-buku yang mengisahkan perjuangan perempuan. Lewat dua organisasi ini, Lasmidjah dan rekan-rekannya menyumbangkan khasanah lain dalam sejarah Indonesia yang begitu maskulin. Dalam autobiografinya, Lasmidjah Hardi Perempuan Tiga Zaman,  ia mengisahkan kecintaannya pada sejarah tak terbatas pada kisah perempuan. Lasmidjah juga bergabung dalam Yayasan 19 September 1945 bersama Soejono Martosewojo, Daan Anwar, Akip Suganda, SK Trimurti, Siti Djauhari Sudiro, Yos Masdani, dan Treen Radjasa. Yayasan ini juga menerbitkan buku Samudra Merah Putih  yang mengisahkan perjuangan pemuda di Lapangan Ikada. Kecintaan Lasmidjah pada sejarah juga mendorongnya mendirikan Yayasan Pencinta Sejarah bersama Sidik Gondowarsito, Sejarawan UI Lily Manus, dan Nana Nurliana. Lewat yayasan ini pula ia turut andil dalam penerbitan buku Jakarta-ku, Jakarta-mu, Jakarta Kita dengan dukungan Gubernur DKI Jakarta R Soeprapto. “Kami, para pejuang yang sudah sepuh, sudah uzur ibarat matahari sudah condong ke barat dan siap untuk masuk ke peraduan. Kami tak punya apa-apa selain semangat dan cita-cita yang ingin kami wariskan kepada generasi muda,” kata Lasmidjah.

  • Masuknya Aksara Pallawa ke Nusantara

    PARA brahmana dari India mengawali tradisi menulis di Nusantara dengan memperkenalkan aksara Pallawa. Pallawa merupakan dinasti di India Selatan yang berkuasa dari abad ke-4 hingga abad ke-8. Aksara Pallawa menyebar ke Asia Tenggara, seperti Burma, Laos, Kamboja, Thailand, Vietnam, dan Indonesia di Kalimantan, Sumatra, Jawa, dan Bugis. Arkeolog Universitas Gadjah Mada, Mimi Savitri, mengatakan di wilayah lain, aksara Pallawa tidak banyak berubah, sedangkan di Nusantara mengalami perubahan. Di tempat asalnya, Pallawa berbahasa Sanskerta. Sedangkan di Nusantara, ketika Pallawa berubah jadi Jawa Kuno, bahasanya Jawa Kuno. Walaupun ada juga Jawa Kuno berbahasa Sanskerta. Aksara Jawa Kuno banyak digunakan dalam prasasti-prasasti pada masa Mataram Kuno hingga Majapahit.

bottom of page