top of page

Hasil pencarian

9741 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Berpulangnya Presiden Malioboro Umbu Landu Paranggi

    UMBU Landu Paranggi, penyair yang disebut sebagai Presiden Malioboro, wafat tadi malam, 6 April 2021, dalam usia 77 tahun. Umbu adalah guru bagi banyak penulis dan sastrawan Indonesia, seperti Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi, Landung Simatupang, Agus Dermawan T, Ahmadun Yosi Herfanda, Yudhistira ANM Massardi, dan banyak lagi. Umbu lahir di Kananggar, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur pada 10 Agustus 1943. Sejak remaja, Umbu hijrah ke Yogyakarta. Di kota inilah Umbu lahir untuk kali kedua. “Pokoknya saya jatuh hati rata dengan tanah pada Jogja,” kata Umbu dalam wawancara di Balairung ,   No. 30 Tahun 1999. Umbu sempat menempuh pendidikan tinggi di jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Politik dan Sosial Universitas Gadjah Mada dan jurusan hukum Universitas Janabadra di Yogyakarta. Tapi ketertarikan Umbu pada sastra jauh lebih kuat daripada pilihan studinya.

  • Chailan Si Peliput Kongres Perempuan Pertama

    DALAM Kongres Perempuan Pertama, 1928, ada satu perempuan yang hadir khusus untuk meliput acara tersebut. Dialah Chailan Syamsu Datuk Tumenggung, tokoh perempuan yang lantang menyuarakan hak pilih bagi perempuan pribumi dan penghapusan perkawinan anak. Chailan meliput atas perintah Pejabat Penasihat Urusan Pribumi CH O van der Plas. Van der Plas merupakan atasan suami Chailan yang bekerja sebagai pegawai pemerintah Hindia-Belanda. Dalam tugas ini, Chailan diminta untuk membuat laporan rinci tentang penyelenggaraan dan pembahasan dalam kongres tersebut. Meski ditugaskan oleh pejabat Hindia, laporan Chailan, seperti dikutip Susan Blackburn dalam Kongres Perempuan Pertama, Tinjauan Ulang, bernada   simpatik. Ia mencatat ide-ide perempuan tentang perkawinan yang adil juga penghapusan perkawinan anak.

  • Kala Pasukan Muslim Menggedor Eropa Lewat Iberia

    EKSPANSI dunia Islam tak hanya menyasar Timur Jauh ke Nusantara via surat-menyurat khalifah dengan raja Sriwijaya. Kekuatan Islam pun merambah Eropa pada abad ke-8. Pintunya dibuka lebar oleh Kekhalifahan Umayyah, bukan melalui Konsantinopel, melainkan via Semenanjung Iberia (kini Spanyol dan Portugal). Kekhalifahan Umayyah yang berpusat di Damaskus, Syam (kini Suriah), didirikan Gubernur Syam Mu’awiyah bin Abu Sufyan pada 661 Masehi selepas kemunduran Khulafaur Rasyidin (623-661 M) di Madinah dan Kufah pasca-Perang Saudara Islam I (656-661 M). Kekhalifahan Umayyah terus menyebarkan Islam dari timur ke barat. Dalam artikelnya di Jurnal Islamic Studies , Vol. 2, No. 1, terbitan Maret 1963,” Two Letters from the Maharaja to the Khalifah: A Study in the Early History of Islam in the East ”, sejarawan studi Islam di Asia Tenggara S.Q. Fatimi mengungkapkan bahwa ada dua surat yang pernah dikirimkan penguasa Kerajaan Sriwijaya kepada Kekhalifahan Umayyah. Surat pertama ditujukan langsung kepada Khalifah Mu’awiyah yang berkuasa periode 661-680 M. Diperkirakan suratnya datang dari raja pertama Sriwijaya, Dapunta Hyang Sri Jayanasa.

  • Singkat Cerita Pesawat Hercules

    SEDIKIT demi sedikit alutsista TNI AU yang dinilai sudah uzur dipensiunkan. Setelah enam helikopter angkut multifungsi SA 330 Puma pada Desember 2023, kini giliran tiga pesawat angkut Lockheed C-130B Hercules yang purnatugas. Setelah lebih dari enam dekade menjadi bagian dari kekuatan udara Indonesia, tiga pesawat Hercules yang dianggap sebagai simbol ketangguhan dan pengabdian TNI AU dipensiunkan pada Rabu (23/4/2025). Tiga pesawat dengan sandi A-1303, A-1304, dan A-1313 yang bertugas di Skadron Udara 32 yang berbasis di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang itu dipensiunkan melalui upacara kehormatan di Depohar 10 Lanud Hussein Sastranegara, Bandung. “Pesawat ini bukan sekadar mesin tapi saksi sejarah perjuangan. Dari Operasi Trikora (1961-1962) hingga misi kemanusiaan seperti tsunami Aceh (2014), gempa Palu (2018), hingga erupsi Semeru (2021), Hercules selalu hadir di garis depan,” ujar Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal M. Tonny Harjono dalam sambutannya di upacara purnatugas Hercules, dilansir laman resmi TNI AU , Rabu (23/4/2025).

  • Pesawat Hercules Hasil Barter Pembebasan Pilot CIA

    PESAWAT Hercules milik Angkatan Udara Republik Indonesia jatuh di Jl. Jamin Ginting, Medan, pada 30 Juni 2015. Pesawat tersebut mengangkut 113 orang (12 kru, yaitu 3 pilot, 1 navigator, dan 8 teknisi) dan 101 penumpang sipil. Diperkirakan tak ada yang selamat, ditambah korban yang ada di bangunan yang tertimpa pesawat. Musibah pesawat Hercules ini untuk ke sekian kalinya. Kecelakaan terburuk pernah terjadi pada Hari ABRI 5 Oktober 1991. Hercules C-130 jatuh di Condet Jakarta Timur menewaskan 133 personel TNI AU serta dua warga sipil. Ternyata, ada kisah menarik di balik Indonesia memiliki pesawat Hercules. Indonesia menjadi negara pertama di luar Amerika Serikat yang mengoperasikan Hercules C-130B. Indonesia bisa memiliki pesawat Hercules gara-gara pilot CIA (Dinas Rahasia Amerika Serikat), Allen Pope, yang bergabung dengan PRRI-Permesta.

  • 18 Mei 1958: Pilot CIA Ditembak Jatuh di Ambon

    PADA 18 Mei 1958, pesawat pembom B-26 milik Amerika Serikat yang diterbangkan oleh Allen Lawrence Pope ditembak jatuh di Ambon. Pope, penerbang CIA (Dinas Intelijen Amerika Serikat) terlibat dalam pemberontakan Permesta (Piagam Perjuangan Semesta), yang wilayahnya meliputi Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku. Menurut Tim Weiner dalam Membongkar Kegagalan CIA , pada usia 25 tahun Pope sudah menjadi veteran selama empat tahun dari misi-misi rahasia berbahaya. Dia terkenal karena keberanian dan semangatnya. Pilot-pilot CIA telah mulai membombardir pada 19 April 1958. Pope melakukan misi terbang pertamanya di Indonesia pada 27 April 1958. Selama tiga pekan berikutnya, dia bersama rekan-rekannya sesama pilot CIA menyerang sasaran militer dan sipil di beberapa desa dan pelabuhan di timur laut Indonesia. Kedutaan Besar AS melaporkan bahwa ratusan warga sipil terbunuh. Direktur CIA, Allen Dulles dengan tegang menceritakan kepada Dewan Keamanan Nasional AS bahwa semua serangan bom tersebut telah mengundang kemarahan besar di kalangan rakyat Indonesia karena dituduhkan bahwa pilot-pilot AS memegang kendali.

  • Perkara Babi di Medan Merentang Zaman

    WARGA Kota Medan tengah diliputi ketegangan menyusul surat edaran dari Wali Kota Rico Waas terkait penertiban perdagangan daging non halal. Kebijakan ini diberlakukan untuk mengatur lokasi penjualan bahan makanan yang mengandung kontaminasi seperti daging babi. Dengan pengaturan demikian, aktivitas jual-beli tidak menimbulkan gangguan lingkungan, risiko kesehatan, maupun ketidaknyamanan warga di sekitar fasilitas umum.   Namun, bagi sebagian warga yang menggantungkan hidupnya sebagai pedagang babi, kebijakan tersebut mengancam mata pencaharian mereka. Menyambut surat edaran wali kota, sejumlah ormas Batak melayangkan protes dan merencanakan aksi unjuk rasa. Bagi sebagian warga lainnya, khususnya yang mengharamkan, perdagangan babi di tempat terbuka dinilai meresahkan dan mengganggu lingkungan.   Begitulah, permasalahan babi di Kota Medan telah merentang lama dari masa ke masa. Beberapa tahun silam, muncul gerakan #savebabi sebagai reaksi pro-kontra atas merebaknya virus kolera yang menjangkiti babi. Kota Medan yang masyarakatnya plural dari berbagai suku dan etnis menanggapi dengan beragam persepsi soal binatang yang satu ini.

  • Politik Gentong Babi di Parlemen

    DALAM rapat Badan Anggaran DPR RI awal Mei 2010, sejumlah fraksi mengusulkan dana aspirasi yang diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2011 sebesar Rp8,4 triliun atau tiap anggota DPR (560 orang) mendapat jatah Rp15 miliar. Fraksi yang paling gigih memperjuangkannya adalah Partai Golkar. Alasannya untuk program percepatan pembangunan di daerah pemilihan. Kritik pun berdatangan. Demonstrasi dilakukan, menyebut dana aspirasi ini sebagai “gentong babi”, yang rawan korupsi alias hanya memenuhi celengan para politisi. Istilah “gentong babi” ( pork barrel ) mengacu pada pengeluaran yang diusahakan oleh politisi atau anggota parlemen untuk konstituennya sebagai imbalan atas dukungan politik, baik dalam bentuk kampanye atau suara pada pemilihan umum. Tujuannya agar mereka dapat terpilih kembali dalam pemilu berikutnya. Praktik politik ini dikecam karena cenderung menguntungkan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum serta rawan penyelewengan dan salah sasaran.

  • Melanggengkan Praktik Kamp Interniran

    DI KAMP interniran Jepang di Cideng, Tanah Abang, orang-orang Belanda yang jadi tawanan hidup bak di neraka. Jepang memang tak pandang bulu. Tak hanya laki-laki, “Neraka Cideng” menjadi tempat interniran khusus bagi perempuan dan anak-anak Belanda maupun Eropa. Sogokan uang dari para interniran kaya tak berlaku untuk membayar kebebasan mereka di luar kamp interniran. “Bagi Jepang tidak ada salam tempel. Yang ada ditempeleng,” ujar Nunus Sapardi dalam bedah bukunya di Galeri Cemara 6–Toety Heraty Museum, Jakarta Pusat, 1 April 2026. Nunus Supardi, pakar cagar budaya, menulis dua buku tentang kamp interniran Jepang: Documenta Historica Kamp Interniran: Masa Pendudukan Jepang hingga Revolusi di Indonesia dan Beragam Segi Kehidupan di Balik Kamp Interniran . Buku pertama berisi riset mendetail mengenai ratusan kamp interniran bentukan Jepang di seluruh Indonesia. Sementara buku kedua berkisah tentang kehidupan para interniran dan dinamika sosial yang terjalin antara sesama interniran maupun dengan serdadu Jepang penjaga kamp. Dari 864 kamp interniran, menurut Nunus, kamp interniran yang paling keras bagi para interniran adalah kamp Cideng. “ Di Cideng itu, di Jati Baru, ada 200 perumahan orang Belanda kemudian dipagari dengan kawat berduri dan gethek (anyaman bambu). Jadi, mereka dibatasi tidak boleh keluar,” terang Nunus. Di kamp Cideng, para interniran harus berebut tempat tidur. Mereka hidup berdesak-desakan dalam hunian padat dan sempit. Untuk makan pun mesti berebut karena jatah yang terbatas. Begitu pula dengan sistem sanitasi yang kurang memadai, para interniran harus mengeluarkan kotoran dari ember-ember di tempat tidur. Seorang kapten Jepang bernama Kenichi Sonei menjadi penguasa di kamp Cideng. Sonei  terkenal dengan tindakannya yang kejam dan bengis terhadap para interniran. Sonei disebut tak segan-segan untuk menghajar penghuni kamp bahkan sampai mati. “Kalau diceritakan seram juga gitu ya,” kata Nunus. Menurut Dwi Mulyatari, sejarawan Universitas Indonesia yang mendalami studi masa pendudukan Jepang, para interniran yang masuk ke dalam kamp harus melalui proses pendaftaran terlebih dahulu. Selain untuk klasifikasi gender dan rasial, Jepang ternyata meraup keuntungan dari pendataan interniran. Bagi laki-laki dari ras Eropa dan Amerika dikenai biaya sebesar 150 gulden dan 80 gulden bagi perempuan. Sementara itu, dari kalangan Asia lainnya sebesar 100 gulden untuk laki-laki dan 50 gulden untuk perempuan. “Jadi selain pendaftaran, mendata berdasarkan gender dan ras untuk kemudian dikelompokkan mereka akan ditawan di kamp-kamp tertentu. Lalu dipungut juga biaya untuk itu,” kata Mulyatari. Tokoh-tokoh Belanda yang pernah mendekam dalam kamp interniran antara lain Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Stakenborgh dan Panglima Angkatan Perang KNIL Jenderal Hein ter Poorten. Mereka diinternir di Perkemahan Batalion 10 di Batavia. Begitu pula dengan Alberta Erika Maureau, istri dari Hubertus van Mook, gubernur jenderal setelah Stakenborgh. Dari kelompok ilmuwan tersebut nama Roolof Goris, ahli epigrafi naskah kuno Bali, dan kurator Museum Batavia Genootschap (kini Museum Nasional) Adriaan van der Hoop. Mereka diinternir di Cimahi dan setelah bebas pada 1946 kembali ke Belanda. Beberapa tokoh lain di luar orang Belanda juga ada yang turut diinternir. Muriel Stuart Walker, jurnalis perempuan kebangsaan Skotlandia yang kemudian dikenal dengan nama K’tut Tantri, diinternir di penjara Kediri. Ia sempat mengalami siksaan dan pelecehan seksual. Di kemudian hari, K’tut Tantri dikenal sebagai sahabat Presiden Sukarno. Selain itu, Lauren van der Post, seorang perwira Inggris kelahiran Afrika Selatan yang bertugas di Hindia Belanda, diinternir tahun 1942–1945. Beberapa tokoh pemuka Indonesia juga mengalami interniran di masa pendudukan Jepang, antara lain K.H. Hasyim Asy’ari, Oerip Soemoardjo, Pramoedya Ananta Toer, Gusti Sulung Lelanang, dan lain-lain. Menurut Teuku Reza Fadeli, sejarawan Universitas Indonesia, praktik kamp interniran tak lantas berhenti meski Jepang angkat kaki dan Indonesia telah merdeka pada 1945. Praktik pemenjaraan semacam kamp interniran masih terus berlanjut dalam konteks revolusi. Setelah Perang Dunia II, sebanyak 46.000 orang Belanda di Indonesia masih diinternir. Mereka secara berangsur dipulangkan ke Singapura kemudian Belanda. Sebaliknya, tentara Belanda yang kembali ke Indonesia untuk menegakkan kekuasaan juga menginternir orang-orang pejuang yang dianggap ekstremis atau pemberontak. “Praktik kamp interniran ini tidak berhenti di masa Jepang. Orang-orang pribumi terutama di masa Republik berdiri itu juga melakukan interniran,” terang Reza, “Pada masa revolusi kekerasan itu terjadi dari dua belah pihak, dari pihak Republik maupun Belanda. Revolusi yang sering kali tidak terkoordinasi dan carut-marut, serta kontrol pusat yang hampir tidak ada, tapi tetap bisa menghasilkan sistem kamp. Ini jadi suatu paradoks.” Ketika Belanda kembali ke Indonesia, opsir-opsir Jepang yang menangani kamp interniran ditangkap dan diadili. Mereka didakwa sebagai pelaku kejahatan perang. Kenichi Sonei, pemimpin kamp interniran Cideng, termasuk salah satu dari 200 perwira Jepang yang dieksekusi atas kekejaman perang di Hindia Belanda. Pada akhir 1946, Sonei dihadapkan ke regu tembak di penjara Glodok yang sekaligus mengakhiri hidupnya.*

  • Iklan Michael Jackson Menembus Tirai Besi Uni Soviet

    MICHAEL Jackson seolah tak pernah kapok bekerjasama dengan Pepsi, brand minuman ringan berkarbonasi yang jadi rival Coca-Cola. Padahal, pada 1984 sempat terjadi insiden saat syuting iklan Pepsi yang membuatnya dilarikan ke rumah sakit. Kendati begitu, empat tahun berselang iklan Pepsi pula yang membawanya menembus pasar Uni Soviet. Menukil kolom “The King of Soda Pop: How Pepsi And Michael Jackson Made Branding History” oleh Monica Herrera dalam majalah Billboard edisi 11 Juli 2009, sedianya Coca-cola sudah lebih dulu ingin membajak Michael Jackson dengan menawarkan kerjasama iklan senilai 1 juta dolar, medio 1983. Namun, tawaran itu ditolak manajemen Michael Jackson. “Pada November 1983, setahun setelah ‘ Thriller’ dirilis, Jackson (bersama para saudaranya) dan PepsiCo mengikat kemitraan senilai 5 juta dolar yang mengguncang rekor kesepakatan endorsement selebriti,” ungkap Herrera.

  • Gara-gara Iklan Pertunangan Palsu

    SEIRING terbitnya berbagai surat kabar di Indonesia, biro iklan pun bermunculan. Gambaranpekerjaan dan suka duka bekerja sebagai tukang cari advertensi ini pernah dikisahkan dalam majalah Minggu Pagi edisi 11 April 1954. Hamid mengisahkan, pada suatu hari dia dimintai tolong oleh pamannya untuk memasangkan iklan perkawinan anaknya di surat kabar. “Aku tidak tahu berapa biayanya. Tapi bawa saja ini uang seratus rupiah. Kalau masih kurang, tolong ditambah dulu,” kata pamannya. Hamid menghubungi surat kabar untuk memasang iklan pengumuman perkawinan tersebut. Rupanya biayanya sekitar 65 rupiah. Hamid mengembalikan sisanya, 35 rupiah kepada pamannya. Namun, sang paman memberikan sisa uang tersebut kepada Hamid.

  • Awal Mula Biro Iklan

    IKLAN menjadi salah satu strategi andalan dalam memasarkan produk atau jasa. Iklan dapat ditemukan di mana saja mulai dari televisi, radio, koran, hingga media sosial. Tak heran bila agen periklanan atau biro iklan bermunculan sebagai perantara bagi para pengiklan dan media massa. Persaingan sengit membuat biro-biro iklan berlomba-lomba menawarkan strategi dan kampanye pemasaran yang kreatif dan inovatif untuk menarik minat para pengiklan. Bagaimana kisah di balik kemunculan para agen periklanan ini? Menurut Fred K. Beard, profesor periklanan di University of Oklahoma dalam “A History of Advertising and Sales Promotion” yang termuat di The Routledge Companion to Marketing History , ditemukannya mesin cetak oleh Johannes Gutenberg membuka peluang bagi para penyedia barang maupun jasa untuk beriklan di media cetak. Di London misalnya, William Caxton disebut sebagai orang pertama yang mencetak apa yang kini diyakini sebagai iklan berbahasa Inggris pertama di Eropa. Iklan itu berisi promosi buku pertamanya. Sementara itu, iklan pertama yang diketahui dalam surat kabar, mengenai khasiat penyembuhan suatu tanaman, muncul di sebuah buku berita di Jerman pada 1591.

bottom of page