top of page

Perkara Babi di Medan Merentang Zaman

Babi telah menjadi bagian dari budaya suku dan etnis tertentu di Medan. Hanya saja babi yang diternakkan di tengah permukiman warga selalu menjadi masalah bagi warga lain.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Wanita Batak Karo sedang memberi makan ternak babinya. (KITLV).

27 Feb
4 menit membaca

Diperbarui: 6 Apr

WARGA Kota Medan tengah diliputi ketegangan menyusul surat edaran dari Wali Kota Rico Waas terkait penertiban perdagangan daging non halal. Kebijakan ini diberlakukan untuk mengatur lokasi penjualan bahan makanan yang mengandung kontaminasi seperti daging babi. Dengan pengaturan demikian, aktivitas jual-beli tidak menimbulkan gangguan lingkungan, risiko kesehatan, maupun ketidaknyamanan warga di sekitar fasilitas umum.  


Namun, bagi sebagian warga yang menggantungkan hidupnya sebagai pedagang babi, kebijakan tersebut mengancam mata pencaharian mereka. Menyambut surat edaran wali kota, sejumlah ormas Batak melayangkan protes dan merencanakan aksi unjuk rasa. Bagi sebagian warga lainnya, khususnya yang mengharamkan, perdagangan babi di tempat terbuka dinilai meresahkan dan mengganggu lingkungan.  


Begitulah, permasalahan babi di Kota Medan telah merentang lama dari masa ke masa. Beberapa tahun silam, muncul gerakan #savebabi sebagai reaksi pro-kontra atas merebaknya virus kolera yang menjangkiti babi. Kota Medan yang masyarakatnya plural dari berbagai suku dan etnis menanggapi dengan beragam persepsi soal binatang yang satu ini.  

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page