top of page

Hasil pencarian

9735 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Burung Besi Pertama Buatan Hindia Belanda

    SEBAGAI pewaris NV Merbaboe, perusahaan pemotongan sapi, Khouw Ke Hien ingin mengembangkan usahanya. Dia merasa transportasi darat dan laut kurang efisien. Di sisi lain, dia butuh mengunjungi dan mengawasi cabang-cabang perusahaan di sejumlah kota dalam waktu singkat. Setelah putar otak, dia memutuskan harus punya pesawat sendiri. Pada Maret 1934, dia menghubungi Achmad bin Talim, teknisi pesawat dari Luchtvaart Afdelling, unit Militaire Luchtvaart Dients. Dia pesan pesawat. Kriterianya lumayan berat. Pesawat itu harus mampu terbang jarak jauh dengan kargo seberat 130 kilogram plus dua penumpang. Ia juga mesti bermesin ganda sehingga bisa tetap terbang bila satu mesin mati. Talim mendiskusikan pesanan tersebut dengan kawan-kawannya. Termasuk dengan Laurents Walraven, desainer teknik di Militaire Luchtvaart-Koninklijke Nederlandsch Indische Leger, yang juga punya design workshop sendiri. Keputusannya: mereka terima pesanan itu. Walraven dan Kapten MP Pattist membuat cetak-biru dan desainnya, sementara Talim dan kawan-kawan lainnya yang mengerjakannya. Walraven mendesain pesawat itu dengan performa apik, yang dia namakan Walraven-2. Dua mesin Pobjoy (ada yang menulis Pobyo) Niagara 7 silinder berkekuatan masing-masing 90 tenaga kuda terpasang di kedua sayap. Menurut artikel “Built in the Dutch East Indies” dalam majalah Flight , 28 Februari 1935, dengan mesin itu “pesawat didesain untuk penerbangan jarak jauh –berkisar 1.100 mil di udara.” Aerodinamika mendapat perhatian penting. Walraven-2 berbeda dari kebanyakan pesawat kala itu yang desainnya belum compact dan rendah nilai estetis. Selain bodi ramping, Walraven-2 bersayap tunggal dan rendah –kala itu umumnya pesawat yang ada bersayap ganda dan letak sayapnya tinggi; mesinnya kebanyakan tunggal. Walraven-2 juga dilengkapi cowl (penutup) mesin dan roda dengan bentuk aerodinamis. “Memang baru pertama kali itulah saya membuat penutup mesin bulat begitu,” kenang Talim, sebagaimana ditulis Cartono Soejatman dan Duni Sudibyo, “Made In Bandung Menggegerkan Eropa”, dimuat dalam Kisah Hebat di Udara I . Talim dan kawan-kawannya mengerjakan pembangunan Walraven-2 di bengkelnya, Jalan Pasir Kaliki (Bandung) saban sore sepulang kerja lantaran pesawat tersebut merupakan proyek sampingan. Setelah selesai, giliran Walraven dan Pattist melengkapi pesawat itu dengan komponen-komponen seperti roda pendarat, pipa besi, kabel, dan sebagainya. “Akhirnya pesawat dapat diselesaikan dan kemudian dilakukan uji terbang oleh pilot Belanda, Kapten C Terluin,” tulis majalah milik TNI AU, Suara Angkasa , Januari 2012. Walraven-2 rampung pada akhir 1934 dan menjalani uji terbang perdana pada 4 Januari 1935. Letnan Cornelis Terluin, yang dipercaya mempiloti, mengatakan dalam evaluasinya bahwa hasil uji baik semua. Di pengujung bulan, Walraven-2 mendapatkan registrasi penerbangan PK-KKH. Hien, yang menyukai dunia penerbangan, senang bukan kepalang. “Dia peranakan pertama yang mendapat diploma pilot dari Depertemen Penerbangan Hindia Belanda,” tulis Sam Setyautama dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia . Rencana gila langsung dibuat Hien: terbang ke Eropa (Amsterdam dan London). Banyak orang tak percaya. Walraven-2 belum pernah uji terbang jarak jauh. Tapi Hien bergeming. Pada September 1935, Walraven-2 lepas landas dari Bandara Andir –sekarang Husein Sastranegara. Hien dan Terluin yang memilotinya. Sekira 20 hari kemudian, Walraven-2 mendarat mulus di Bandara Schipol, Amsterdam. Direktur Maskapai Penerbangan Belanda (KLM) Plesman dan Laurents Walraven, yang sudah terbang lebih dulu, ikut menyambut. Plesman sangat tertarik untuk mengoperasikan Walraven-2 ke dalam armada KLM. Dia meminta Walraven memproduksinya dalam jumlah banyak –dengan penambahan kapasitas angkut dan beberapa modifikasi– untuk dijadikan taksi udara. “Pesawat ini adalah mesin yang sangat menarik, dan, jika diproduksi banyak, akan cocok bukan hanya untuk kepentingan pribadi tapi juga untuk tujuan bisnis,” tulis majalah Flight. Namun, rencana produksi massal –yang rencananya akan dibuat perusahaan patungan antara Hien dan Walraven– tak pernah terlaksana akibat kematian Hien dalam kecelakaan pesawat pada 1938. NV Merbaboe kemudian diteruskan adiknya, Khouw Keng Nio, yang juga mengantongi izin pilot.

  • Mat Depok, Sekondan Menteri Keamanan Rakyat

    Nama aslinya Daeran. Lahir tahun 1910. Pernah ditahan Belanda di Pulau Onrust karena merampok. Pada 1935, bebas dari Onrust, dia ke Berland, Matraman. Di sana Daeran bertemu Nyai Emah, perempuan cantik dari Karawang yang jadi “nyainya” orang Belanda. Dengan kepandaiannya, Daeran berhasil mencuri hati Nyai Emah. Si Nyai dibawa kabur ke kampong halamannya di Tanah Baru (kini masuk wilayah Depok –berbatasan langsung dengan Ciganjur, Jakarta Selatan). Jadilah Daeran buronan kompeni. Agar aman, Nyai Emah dititipkan di Pengasinan, Sawangan, di rumah guru silatnya. Pada masa perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Daeran berada di garis depan. Dia berkawan dengan Imam Syafe’i alias Bang Pi’ie, pemimpin para jago di Pasar Senen dengan organisasinya Oesaha Pemoeda Indonesia. Selain di kancah perjawaraan, Daeran dan Bang Pi’ie kawan seperjuangan di Karawang. Para laskar rakyat di Karawang menjuluki Daeran; Mat Depok. Julukan itu dialamatkan kepadanya karena aksi heroik Daeran dalam Peristiwa Gedoran Depok. Pentolan Banteng Merah itu pernah memimpin pemuda menyerbu dan merebut Depok yang tidak mau mengakui proklamasi 17 Agustus 1945. “Sebelum menyerbu Depok (11 Oktober 1945 – red ), orang-orang ngumpul di rumah. Saking ramenya , itu perapatan sampai penuh,” kata Engkong Misar, anak kandung Daeran berbagi kisahke pada Historia . Kini, rumah itu di perempatan tugu Gong Si Bolong, Tanah Baru, Beji, Depok. Dulu, wilayah itu belum masuk Depok. Menurut laporan intelijen Belanda di arsip Algeemeen Secretarie, hari itu orang Depok dipaksa oleh ekstrimis dan rampokkers – begitu bahasa dokumen tersebut–mengibarkan merah putih dan teriak merdeka. Bagi yang melawan dibunuh. Ketika Jakarta dijadikan kota diplomasi menyusul kesepakatan yang diambil Sutan Sjahrir, Daeran ikut hijrah ke Karawang bersama laskar-rakyat di Jakarta dan sekitarnya. Di Karawang, Daeran alias Mat Depok cukup dikenal. “Dulu, di semua daerah yang kita lewati ada aja yang kenal bapak. Walau satu dua orang. Biasanya yang kenal dia itu orang yang berpengaruh di kampong tersebut,” kata Engkong Misar yang saat itu berusia 15 tahun (lahir tahun 1930) dan ikut serta berperang di Karawang. Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949 beberapa kali menyebut-nyebut nama Camat Nata dan Usman Debot, jawara yang tampil memimpin laskar. Ternyata nama itu dikenal baik oleh Misar. “Itu kawan bapak. Saya kenal. Bahkan saya pernah disuruh mengantar surat oleh Camat Nata.” Suatu hari, dalam sebuah pertempuran, Mat Depok bersama beberapa gerilyawan tertangkap Belanda. Mereka ditahan di penjara Nusa Kambangan. Ketika bebas setelah perang usai, Daeran pulang ke Tanah Baru, hidup bersama pujaan hati, Nyai Emah. Dan kini di dadanya sudah ada tato besar bertuliskan: MAT DEPOK. “Siapa pun yang pernah jumpa Pak Daeran pasti tahu tato itu. Pak Daeran suka pakai jas warna hitam tanpa dalaman. Jadi, tatonya kema-mana,” ungkap Buang Jayadi, Ketua Gong Si Bolong, kelompok kesenian tertua di Depok ketika dijumpai Historia di kediamannya. Tahun 1950-an, sebagaimana dikisahkan Engkong Misar, datang utusan Bang Pi’ie ke rumahnya di Tanah Baru, Depok. Mat Depok diajak berunding oleh Bang Pi’ie untuk sama-sama membantunya di Komando Militer Kota Besar Djakarta Raya. “Dulu bapak ditugaskan Bang Pi’ie menjaga keamanan.” Belakangan, Bang Pi’ie diangkat menjadi Menteri Negara Keamanan Rakyat dalam Kabinet Dwikora oleh Bung Karno. Dan sebagai sekondan lama, Mat Depok lagi-lagi diajak serta. Kini, Mat Depok telah tiada, namun lakon hidupnya masih jadi buah bibir. Setidaknya di kampung halamannya: Tanah Baru, Depok.

  • Mengilik Sejarah Adu Jangkrik

    ADU jangkrik sebagai permainan rakyat sudah dikenal lama di Indonesia. Adu jangkrik dimainkan seluruh lapisan masyarakat, terutama anak-anak. Dulu mereka mencari sendiri, kini membeli dari penjual yang biasa mangkal di sekolah-sekolah. Menurut buku Permainan Tradisional Indonesia , terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1998), permainan ini biasanya muncul secara musiman, khususnya pada musim gadon yaitu saat sawah ditanami palawija untuk menyelingi tanaman padi. Jenis jangkrik yang diadu adalah jangkrik kalung jantan, berwarna hitam legam, dan ada hiasan kalung pada lehernya. Jangkrik ini digemari anak-anak karena suaranya nyaring dan gerak-geriknya lincah. Menurut Denys Lombard, adu jangkrik tampaknya merupakan kegemaran khas masyarakat Jawa namun juga didapati di kalangan orang Tionghoa; dan kaum peranakan memudahkan penyebarannya. “Itulah yang terjadi pada adu jangkrik yang dewasa ini sudah langka, namun pada zaman Hamengku Buwono VII (1877-1921) telah merasuki seluruh kraton Yogyakarta,” tulis Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid 2, Jaringan Asia . Para bangsawan dan pedagang kaya di Kota Gede mengadakan pertandingan setiap Selasa dan Jumat. Adu jangkrik lebih dikenal di Jawa Tengah, sedangkan di Bali terkenal adu ayam, Jawa Barat adu domba, dan Toraja adu kerbau. Kendati demikian, di Bali juga ada adu jangkrik, disebut maluan ; dan di Aceh disebut daruet kleng. Adu jangkrik dianggap sebagai hiburan anak kecil. Ini tidak berarti orang dewasa menampik permainan itu. “Konon calon Sultan adalah seorang penggemar daruet kleng dan kadang-kadang memasang taruhan besar,” tulis Snouck Hurgronje dalam Aceh: Rakyat dan Adat Istiadatnya Volume 2. “Konon kegemaran bertaruh itu karena pertarungan diadakan di kalangan terbatas.” Permainan maluan memiliki sifat sekuler (keduniawian) sekaligus sakral karena “si pemain (seorang anak berumur tujuh tahun), sewaktu hendak menggalakkan jangkriknya, akan mengucapkan mantra dengan suara seperti yang dikeluarkan oleh seorang balian,” tulis James Danandjaja dalam Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali. Bacaan mantra agar jangkrik kuat dan menang, juga disinggung Tjan Tjoe Siem dalam artikelnya “Adoe Jangkrik” yang dimuat majalah Djawa tahun 1940. Sebelum masuk arena, jangkrik biasanya diberi mantra (dijantur) : Jantur, jantur, musuhmu gedhe dhuwur, cokoten ngasi anjur. Janti, janti, musuhmu kecil belaga, gigitlah sampai mati. Setelah dijantur , jangkrik lantas lebih berani menghadapi lawannya. Bahkan dengan menggunakan obat-obatan Tionghoa, jangkrik aduan menjadi perkasa dan senantiasa menang. Peristiwa itu terjadi pada pertandingan besar di Semarang pada 1901. Ampuhnya ramuan itu diungkapkan Siem dengan “sekali gigit akan lekas lari tiada mau berhadapan lagi.” Seperti halnya adu ayam, adu jangkrik pun menjadi ajang judi. Menurut Siem, adu jangkrik sebagai praktik perjudian ramai dilakukan di Jawa Tengah, dan tidak sedikit orang Tionghoa ikut pat-sik-soet (adu jangkrik) pada musim jangkrik. “Pusat-pusat aduan jangkrik yang taruhannya tiada kecil adalah kota Magelang, Yogyakarta, dan Solo,” tulis Siem. Menurut Permainan Tradisional Indonesia , cara taruhannya tak jauh berbeda dengan taruhan adu ayam. Ada satu lawan satu, satu lawan dua (apit), dua lawan tiga dan sebagainya. “Di samping mati, ada jangkrik yang putus giginya, perutnya yang keluar, sayapnya putus, kakinya putus akibat gigitan lawan.”

  • Lelaki Tak Dikenal Menyusup ke Pesawat Presiden

    SETELAH tujuh kali upaya pembunuhan terhadap Presiden Sukarno, akhirnya pada 6 Juni 1962 pemerintah membentuk Tjakrabirawa. Resimen khusus ini ditugaskan untuk menjaga keselamatan presiden. Tugas berat diemban oleh Tjakrabirawa agar tak kecolongan lagi. Ancaman pembunuhan Sukarno bukan berarti tak ada sama sekali. Itulah yang membuat Maulwi Saelan, wakil komandan Tjakrabirawa, tak mau lengah sedikit pun. Kalau perlu dia turun tangan untuk mengambil keputusan apapun demi keselamatan Presiden Sukarno. Misalnya pada saat Presiden Sukarno berkunjung ke Filipina untuk menghadiri konferensi Maphilindo (Malaysia, Philipina, Indonesia), 30 Juli–5 Agustus 1963. Konferensi tersebut membahas penyelesaian pembentukan federasi Malaysia yang bakal membuat Filipina kehilangan sebagian wilayahnya di Sabah. Delegasi Indonesia menggunakan dua pesawat. Satu pesawat Jetstar C-140 dan rombongan lain, termasuk pengawal presiden Tjakrabirawa, menumpang pesawat Garuda. Seminggu sebelum kedatangan Presiden Sukarno ke Manila, tim advance Tjakrabirawa telah lebih dulu tiba dan memastikan Manila aman untuk Presiden Sukarno. “Ketika tiba, tak sedikit pun permasalahan keamanan yang ditemui rombongan baik selama di perjalanan maupun setelah di Manila,” ujar Maulwi dalam bukunya Penjaga Terakhir Soekarno . Masalah baru muncul sesaat sebelum Presiden Sukarno pulang ke Jakarta. Pihak bandara Manila mengabarkan kepada Tjakrabirawa tentang seorang lelaki tak dikenal kepergok memasuki pesawat kepresidenan tanpa izin. Maulwi khawatir dan segera menghubungi Brigjen. Sabur, komandan resimen Tjakrabirawa, untuk meminta izin pemeriksaan langsung ke pesawat. Ketika pesawat diperiksa, lelaki misterius itu telah pergi. Belakangan petugas bandara Manila berhasil menangkapnya. Ternyata pria penyusup itu penderita gangguan jiwa. Cemas ada apa-apa, Maulwi tetap memutuskan untuk memeriksa secara teliti setiap bagian pesawat. “Saya nggak bisa percaya begitu saja. Kita kan nggak tahu apa yang dia taruh, apa yang dia lakukan,” kenang Maulwi. Dia pun mengambil keputusan agar Presiden Sukarno pulang ke Jakarta menggunakan pesawat Garuda. Sementara itu Maulwi, bersama beberapa anak buahnya, tetap tinggal di Manila. Memastikan pesawat kepresidenan steril dari ancaman apapun. “Kalau ada apa-apa, kita yang tanggung jawab,” kata Maulwi. Yakin tak ada hal mencurigakan, Maulwi dan pasukannya pulang keesokan harinya ke Jakarta dengan Jetstar C-140. Laporan utama upaya pembunuhan terhadap Sukarno: "Membidik Nyawa Sang Presiden" di majalah Historia No. 14 Tahun II, 2013.

  • Mephistopheles

    LELAKI kecil itu tertelungkup di tepi pantai Bodrum, Turki. Ia berkaos merah, lambang keberanian. Bercelana biru, simbol keteduhan. Pagi itu, di saat polisi Turki menemukannya, ombak datang silih berganti membasuh wajah mungilnya yang terbenam di hamparan pasir dari tanah harapan yang tak pernah berhasil digapainya. Aylan, tiga tahun, tak pernah mengerti apa yang terjadi pada hidupnya lantas tibatiba saja gelombang ganas Laut Aegea datang menjemput maut, menewaskan dia beserta ibu dan kakaknya, Rabu pagi, 2 September yang lalu. Abdullah Kurdi, lelaki malang yang kehilangan istri dan dua anaknya, hanya bisa meratapi kepergian orang-orang yang dicintainya. “Aku tak menginginkan apa-apa lagi di dunia ini. Semua mimpiku sudah sirna. Satu-satunya yang aku inginkan hanyalah menguburkan mereka di Suriah dan duduk di samping kuburan mereka sampai aku mati,” ujar Abdullah dengan sorot mata nanar. Abdullah Kurdi membawa serta keluarga kecilnya keluar dari Suriah yang dilanda perang sejak tiga tahun lalu. Tak ada yang mereka inginkan kecuali kehidupan yang jauh dari perang, yang telah menghancurkan segala yang mereka miliki, termasuk harapan. Di Kobani, tempat kelahiran Aylan, orang-orang berperang atas nama Tuhan. Mereka saling bunuh, silih berganti menghancurkan musuh yang mereka anggap berbeda. Mereka sama-sama punya alasan: bahwa keadilan harus ditegakkan di bawah kuasa Tuhan dan mereka menganggap diri mereka yang paling pantas mewakili kehendak Tuhan di muka bumi. Lantas Aylan kecil mati terbenam di tepi pantai. Mungkin dunia yang kita huni ini lebih membutuhkan makhluk bertabiat seperti Mephisthopheles ketimbang manusia yang selalu beriktikad baik namun mendatangkan kehancuran. Mephistopheles, makhluk yang dalam cerita rakyat Jerman digambarkan sebagai sosok penuh angkara murka, selalu menghendaki kehancuran namun ketika iktikad buruknya dijalankan justru menghasilkan kebaikan. Dengan menampilkan Mephistopheles dalam lakon Faust , Goethe seperti menggugat kemanusiaan kita. Mephistopheles, sosok iblis bersayap, terbang menebar ketakutan, berpikiran picik dan bernafsu menciptakan kerusakan. Sementara mereka yang berperang di Kobani, manusia-manusia menepuk dada ingin menciptakan keadilan atas nama Tuhan, menegakkan kebajikan di bawah hukum Tuhan, malah mendatangkan bencana tiada berkesudahan. Maka perahu yang ditumpangi keluarga kecil itu terbalik di Laut Aegea, menyeret Aylan kecil ke tepi pantai meregang nyawa. Aylan adalan korban “tujuan suci” manusia yang dilakonkan lewat perang. Tak hanya Aylan, ratusan ribu atau barangkali jutaan bocah telah jadi korban dalam perang sepanjang sejarah peradaban manusia. Mereka tidak layak mati untuk sebuah perang yang juga tak menghasilkan apapun kecuali bencana kematian. Seperti perang yang juga menghancurkan hidup Anne Frank, seorang gadis kecil yang tak pernah bisa memilih untuk dilahirkan sebagai seorang Yahudi atau yang lain. Sebelum tewas dibunuh Nazi, Anne meratapi perang yang mendatangkan kehancuran buat manusia melalui catatan hariannya. “Tak satu pun orang yang bisa menghindari pertikaian, seluruh dunia sekarang sedang dilanda perang, walaupun Sekutu sedang melakukan hal terbaik, akhir perang belum jua terlihat. Kami sedikit beruntung. Lebih beruntung dari jutaan manusia lain. Di sini cukup tenang dan nyaman, dan kami menggunakan uang untuk membeli makanan,” tulis Anne Frank dalam catatan harian yang ditulis pada sebuah kamar persembunyian di Amsterdam, di tengah kecamuk Perang Dunia Kedua. Buku harian Anne Frank dan foto Aylan adalah memorabilia tentang kekejaman perang yang meluluhlantakan kemanusiaan. Anak-anak tak berdosa adalah korban manusia-manusia yang berlaku seperti malaikat dengan rencana iblis di dalamnya. Mungkin benar: kita butuh Mephistopheles untuk hadir di Suriah, Palestina, Afganistan, dan berbagai belahan dunia lainnya. Karena iktikad baik saja belum cukup jika hanya mendatangkan kehancuran.* Majalah Historia Nomor 25, Tahun III, 2015

  • Dari Lisensi Benteng ke Main Sapi

    PENANGKAPAN Ahmad Fathanah di Hotel Meridien, Jakarta Pusat, yang kedapatan membawa uang suap kongkalikong kuota impor sapi pada 29 Januari 2013 membuat banyak orang kaget. Terlebih melibatkan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq, yang selama ini mencitrakan diri sebagai partai Islami yang bersih dari tindak korupsi.

  • Saat Soeharto Bicara Sejarah

    KECUALI menyampaikan nilai-nilai falsafah Jawa yang dianutnya dan menjabarkan persoalan teknis dalam beberapa urusan, Soeharto jarang terdengar melontarkan gagasan yang berpijak pada konsep-konsep ilmu pengetahuan. Namun, sebuah video yang dimuat di laman Youtube berjudul “Pekan Tabungan Nasional” menunjukkan Soeharto yang menafsir dan membagi babak sejarah Indonesia berdasarkan sudut pandangnya sendiri.

  • Tanzania Pernah Tak Akui Soeharto Sebagai Presiden Indonesia

    PRESIDEN Sukarno mengangkat Moehammad Jasin sebagai duta besar luar biasa dan berkuasa penuh untuk Mesir. Namun, pimpinan Angkatan Darat memohon agar posisi tersebut diberikan kepada Letnan Jenderal Mokoginta. Pihak kepolisian tak keberatan. Sebagai gantinya, Jasin yang saat itu menjabat ketua umum DHN Angkatan ’45, ditempatkan sebagai duta besar luar biasa dan berkuasa penuh di Tanzania.

  • Soeharto-Hartinah, Kisah Romansa Anak Desa

    SUATU hari di tahun 1947, Prawirohardjo dan istrinya datang ke Wuryantoro, Wonogiri, 40 kilometer ke arah tengara Solo untuk mengunjungi sanak saudaranya di sana. Keponakan sekaligus anak angkat mereka, Soeharto, datang menemuinya. Membincangkan berbagai hal, termasuk menanyakan rencana apa yang akan dilakukan Soeharto ke depannya.

  • Zaman Orba, Calonkan Diri Jadi Presiden Langsung Ditangkap Polisi

    INI bukan dongeng ajaib yang mungkin terdengar aneh di zaman demokrasi seperti sekarang, di mana setiap orang bebas mencalonkan dirinya jadi presiden. Urusan terpilih atau tidak, itu belakangan. Namun di zaman Orde Baru, bercita-cita jadi presiden bisa jadi perkara serius.

  • Mencari Candi Pemujaan Ken Angrok

    DALAM sejarah Singhasari dan Majapahit, raja yang mangkat biasanya didarmakan dalam bentuk arca dewa. Mereka akan terus dikenang dengan dibuatkan sebuah candi pemujaan. Berdasarkan Nagarakretagama , jumlah candi yang difungsikan sebagai pendarmaan arwah raja mencapai 27 pada tahun 1365. Dari jumlah itu tidak semua masih berdiri utuh. Di antaranya candi di Kagenengan yang disebut sebagai pendarmaan Rangga Rajasa, gelar Ken Angrok.

  • Siapa Sebenarnya Ayah Ken Angrok?

    SUATU hari, Ken Endok mengantarkan makanan untuk suaminya, Gajah Para, di ladang. Di tengah jalan, dia dihadang dewa Brahma dan disetubuhi. Suaminya tahu dan menceraikannya namun lima hari kemudian dia meninggal dunia. Karena malu, Ken Endok membuang bayinya, Ken Angrok, yang mengeluarkan sinar di malam hari.

bottom of page