top of page

Hasil pencarian

9753 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mantan Agen CIA Gagal Jadi Duta Besar di Indonesia (2)

    AMERIKA Serikat pernah menghadapi masalah dalam memilih duta besar untuk Indonesia. Akibatnya, kursi duta besar kosong selama setahun. Setelah Duta Besar Edward E. Masters menyelesaikan tugasnya pada November 1981, Michael Hayden Armacost disebut sebagai penggantinya.

  • Relief Sarinah dan Narasi Perjuangan Wong Cilik

    Perempuan dan perjuangan yang dimainkannya merupakan bagian penting dalam kehidupan Sukarno. Pada 1947, Sukarno menerbitkan buku berjudul Sarinah , yang berisi buah pikirnya tentang perempuan, tentang matriarki dan patriarki, hingga kaitanya dengan evolusi dan revolusi manusia. Dalam berbagai kesempatan, Sukarno kerapkali menegaskan tentang perjuangan dan peran perempuan dalam peradaban manusia dan Republik secara khusus. Dalam Bab III Dari Gua ke Kota, misalnya, Sukarno menjelaskan bahwa perempuanlah yang mengawali pertanian. Ketika para lelaki berburu, terangnya, perempuan yang awalnya hanya mencari tumbuh-tumbuhan, lambat laun mulai menanam benih-benihnya. Inilah awal mula ilmu bercocok tanam dan perempuanlah petani yang pertama. “Buat jasa ini saja kemanusiaan pantas mendirikan patung-terima-kasih bagi perempuan itu!” tulisnya. Bung Karno barangkali tak pernah benar-benar membangun patung itu. Tapi, nama Sarinah sebagai representasi perempuan hebat itu kemudian diabadikan sebagai nama toserba pertama di Indonesia. Dan di dalamnya, ternyata dibangun relief yang menarasikan Sarinah itu sendiri. Perjuangan Wong Cilik Gedung Sarinah mulai dibangun pada 1963 dan diresmikan pada 15 Agustus 1966. Gedung 14 lantai ini awalnya direncanakan sebagai department store untuk mengatur harga pasar dan menjual barang-barang hasil berdikari rakyat Indonesia. Namun, ide untuk menyokong ekonomi sosialis itu gagal. Sementara itu, relief di lantai dasarnya tak banyak diketahui publik hingga belakangan dibuka kembali dalam rangka renovasi. Relief berukuran sekitar 12 x 3 meter itu menampakkan sosok laki-laki dan perempuan berskala gigantik. Ada yang memakai caping, ada yang membawa bakul, ada yang menyunggi dagangan. Yuke Ardhiati, arsitek sekaligus sejarawan yang turut dalam konservasi, menyebut dalam makalahnya, “Bung Karno dan ‘Sarinah’”, bahwa relief Sarinah merepresentasikan “The Struggle for Life of ‘Wong Cilik’”. Yuke juga menyebut, sosok-sosok dalam relief menggambarkan kaum kuli dan penjaja keliling, terutama perempuan, yang banyak ditemui pada masa kolonial Belanda. “Litografi banyak banget saya temukan. Orang-orang Indonesia di masa kolonial itu dijabarkan sebagai ya kuli tadi. Terus sama di foto-foto keluaran Tropen (Tropenmuseum –red. ), itu kan juga orang yang lagi bawa barang-barang berat. Itu kan perempuan semua. Sambil bawa anak kalau perlu,” kata Yuke kepada Historia . Yuke yang juga penulis buku Bung Karno Sang Arsitek ini menjelaskan bahwa para perempuan inilah yang seringkali disebut Sukarno sebagai penyangga beban kehidupan bangsa sekaligus representasi perjuangan wong cilik . “Nah di situ Bung Karno melihat bahwa the struggle for life itu perempuan yang memikulnya. Dengan perempuan yang memikulnya tadi, Bung Karno pengen memberikan satu fasilitas untuk meringankan dia,” jelas Yuke. Menurut Yuke, dibangunnya gedung Sarinah merupakan bentuk kehadiran negara untuk memfasilitasi kaum penjaja keliling tersebut. Sarinah dibangun agar penjaja keliling bisa mendapat tempat layak sehingga dapat menaikkan nilai barang dagangannya. Dalam relief Sarinah, wong cilik tidak digambarkan kecil, kurus, dan lemah. Sebaliknya, laki-laki digambarkan gagah dan menantang, sedangkan perempuan dilukiskan cakap dan elok. Mereka ditampilkan tengah bekerja dengan percaya diri. “Itu semua bekerja itu, nggak ada yang tidur. Menunjukkan apa? Orang Indonesia itu gigih lho, struggle lho, elok lho, meskipun dia orang kecil,” ungkap Yuke. Secara keseluruhan, Yuke melanjutkan, gaya relief Sarinah membentuk gambaran ideal bagi sosok wong cilik Indonesia. Selain memberi sugesti positif dan kebanggaan bagi rakyat kecil, relief ini kemungkinan dipakai juga untuk memberikan kesan baik pada pandangan politik dunia. Yuke menambahkan, ketika proses pembangunan Sarinah masih berlangsung, Indonesia juga mendirikan Patung Pahlawan (Tugu Tani). Patung garapan seniman Uni Soviet itu juga memiliki semangat yang sama dengan relief Sarinah: penghormatan kepada rakyat kecil. Sukarno sendiri, jelasnya, memang banyak menyebut dalam pidatonya bahwa ia lebih senang membangun monumen bagi rakyat kecil ketimbang untuk tokoh-tokoh besar seperti di negara lain. Narasi tentang Sarinah dan wong cilik ini nampaknya sesuai dengan apa yang dikatakan Sukarno dalam kata pendahuluan Sarinah. “Ia ‘ mBok’ saya. Ia membantu Ibu saya, dan dari dia saya menerima banyak rasa cinta dan rasa kasih. Dari dia saya mendapat banyak pelajaran mencintai ‘orang kecil’. Dia sendiripun ‘orang kecil’. Tetapi budinya selalu besar! Moga-moga Tuhan membalas kebaikan Sarinah itu!” tulis Sukarno. Seniman Penganggit Sejauh ini, belum ditemukan prasasti yang menjelaskan siapa saja seniman yang mengerjakan relief tersebut. Berdasarkan catatan dan arsip yang ditelusuri Yuke, relief Sarinah kemungkinan dikerjakan oleh kelompok seniman Sanggar Pelukis Rakyat. Dalam catatan pematung Edhi Sunarso, misalnya, disebutkan bahwa ketika ia membuat Monumen Pembebasan Irian Barat, Bung Karno mengirim 18 orang yang belajar ke Korea, Jepang, Italia, Belanda, Prancis, dan Meksiko. Para seniman itu diminta belajar membuat diorama sejarah untuk nantinya bekerja membuat diorama Monumen Nasional. “Sepulangnya belajar diorama sejarah dari luar negeri, mereka diberi pekerjaan di lantai dasar gedung Sarinah, dengan peralatan sangat cukup dan tenaga sekitar 30 orang. Semua diasramakan, dan mereka mendapatkan uang saku sebagaimana umumnya tenaga ahli yang dipekerjakan di pemerintahan,” sebut Edhi. Dalam penelusurannya, Yuke juga membandingkan beberapa karya patung dan lukisan kelompok seniman Pelukis Rakyat dengan relief Sarinah. Seniman Sudarso dan Trubus Soedarsono misalnya, beberapa kali melukis perempuan berkebaya dan berkonde yang dianggap merepresentasikan Sarinah. Hal serupa juga ditemukan ketika membandingkan relief Sarinah dengan patung-patung karya Trubus, Djoni Trisno dan Batara Lubis. Selain itu, Yuke juga menemukan spirit yang sama dalam karya-karya Rustamadji, seniman yang juga menggarap detil relief Tugu Muda Semarang. Mereka adalah anggota Sanggar Pelukis Rakyat. Namun, sementara ini belum ada catatan otentik yang menuliskan nama-nama pasti seniman pembuat relief Sarinah. Di sini, arsip mengenai karya seni menjadi penting dalam penelusuran sejarah. Yuke berharap, ke depan para seniman menyimpan arsip dari karya-karya mereka di Arsip Nasionasi Republik Indonesia (ANRI) agar lebih terawat.

  • Peluang Emas Pasukan Baret Merah Seketika Musnah (Lanjutan)

    Kendati temaram, cahaya bulan purnama cukup untuk menerangi malam di Desa Paloh, pedalaman Kalimantan Barat (Kalbar). Di tempat persembunyiannya di dekat rumah di pinggiran hutan Kalimantan, Kepala Seksi 1/Intelijen Satgas 42 Kopasandha (kini Kopassus) Kapten Hendropriyono tiduran santai sambil menunggu targetnya tiba. Dia ditemani lelaki bernama Cang Kim. Selagi asyik bersantai itulah tiba-tiba Hendro dikagetkan oleh suara ketukan kayu yang dibunyikan berulangkali. Sambil meraih senapan AK-47-nya Hendro langsung bangun dan melihat sekitar. Suara ketukan itu ternyata merupakan sandi yang dibunyikan oleh Then Bu Ket, komandan Kompi 2 Pasukan Gerilya Rakyat Kalimantan Utara (PGRKU). PGRKU merupakan pasukan gerilyawan bersenjata di Kalbar yang anggotanya terdiri dari bekas anggota Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS), Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku), dan Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU). Mereka merupakan pihak-pihak yang tak setuju dengan penggabungan Sarawak dan Sabah ke dalam Federasi Malaysia. Sikap mereka yang hendak merdeka dari Malaysia mengundang simpati dari Presiden Sukarno. Simpati itu diwujudkan dengan dukungan persenjataan, logistik, dan pelatihan oleh militer Indonesia kepada perjuangan mereka. Selepas G30S dan Sukarno terdepak dari kursi kekuasaannya, Jenderal Soeharto mengupayakan normalisasi hubungan Indonesia dengan Malaysia. Puncaknya adalah ditandatanganinya Jakarta Accord oleh Menlu Adam Malik dan Menlu Tun Abdul Razak. “Setelah dicapai persetujuan dan ditandatangani Jakarta Accord itu, maka permusuhan antara kedua negara itu mulai tanggal 11 Agustus 1966 telah berakhir. Kemudian dalam pelaksanaannya di bidang operasi militer Pangkolaga telah memerintahkan kepada semua komandan bawahannya untukmenghentikan kegiatan-kegiatan operasional. Untuk meletakkan dasar kerja sama sebagai realisasi dari Jakarta Accord itu, baik di bidang militer maupun non militer, maka pada tanggal 4 September 1966 diberangkatkan missi militer Indonesia di bawah pimpinan Brigjen TNI Sudarsono Prosuseno ke Malaysia,” tulis Dinas Sejarah TNI AD dalam Sejarah TNI-AD 1945-1973 . Akibat kerjasama militer Indonesia dan Malaysia itu, pasukan-pasukan gerilya di Kalimantan Utara yang tadinya merupakan sekutu Indonesia melawan Malaysia berubah menjadi lawan. Mereka menghadapi militer Indonesia dan Malaysia sekaligus. Kian hari posisi mereka kian terjepit. Meski mengandalkan dukungan hanya dari penduduk, mereka tetap bergerilya melawan. Mereka acapkali menyerang pos-pos militer kedua negara. Penduduk yang tak mendukung mereka kerap jadi korban.   “Kalau tentara kita diam, kita diganggu. Kalau tentara kita tidak ada, mereka melakukan teror terhadap rakyat. Kalau kita patroli, mereka bersembunyi. Kalau kita kuat mereka terus berlari, tetapi kalau kita sedang lemah atau lengah, kita diserang. Kita tidak dapat santai-santai,” kata Dan Satgas 42 Kopasandha Mayor Sintong Panjaitan, yang dikirim ke Kalbar untuk melanjutkan tugas operasi penumpasan gerombolan komunis bersenjata yang sebelumnya dilakukan Satgas 32, sebagaimana dikutip Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando . Satgas 42 lalu melancarkan Operasi Garu di sektor barat Kalbar. Dalam pertempuran di Gunung Kanyi, 3 Maret 1973, mereka menewaskan anggota gerombolan bernama A Fong yang mempertahankan sebuah bivak. Dari penelusuran terhadap mayat A Fong itulah Kapten Hendropriyono berhasil mengadakan kontak dan berhubungan baik dengan istri almarhum. Dari janda A Fong itulah Hendro kemudian mendapat informasi bahwa  dukungan logistik gerombolan dilakukan oleh mata-mata bernama Cang Kim. Setelah melaporkannya kepada Sintong, Hendro mendapat perintah untuk memutus dukungan logistik lawan itu. Dengan bantuan janda A Fong, Hendro pun mendekati Cang Kim dan keluarganya. Pola yang diterapkannya mirip dengan pola ketika mendekati janda A Fong. Pendekatan yang dilakukannya tak hanya dengan memberi uang, namun juga roti dan segala macam keperluan keluarga Cang Kim. Lagi-lagi upaya Hendro berhasil. Cang Kim menaruh kepercayaan padanya. Dari Cang Kimlah Hendro mendapat informasi bahwa gerombolan biasa mengambil logistik beras yang sudah dibagi-bagi ke dalam 25 sampai 30 kantong di halaman belakang sebuah rumah di pinggir hutan. Mereka biasa mengambilnya saat malam terang bulan lantaran mereka tak diizinkan menggunakan senter atau obor dalam perjalanan menuju lokasi pengambilan. Berbekal informasi itu, Hendro langsung melaporkan pada Sintong dan kemudian mengajak Cang Kim menjebak gerombolan. Skenario langsung dirancang Hendro. Dalam skenario itu, beras yang akan dibagikan kepada gerombolan sengaja tidak dibagi-bagi ke dalam kantong namun diwadahi dalam karung. Dengan begitu, para anggota gerombolan mesti membagi-bagi sendiri ketika mengambilnya. Saat gerombolan membagi-bagi beras itulah Hendro bersama pasukan penyergap dan pasukan penutup akan menjadikan mereka sebagai sitting duck . Setelah skenario dan persiapan selesai dibuat, saat yang dinanti pun tiba. Malam terang bulan itu dijadwalkan sebagai malam pengambilan beras oleh gerombolan. Sebelum gerombolan tiba, Hendro bersama pasukan penyergap dan pasukan penutup, berasal dari pasukan organik Kodam XII/Tanjungpura, telah bersiaga di sekitar rumah yang dijadikan titik pengambilan beras. Hendro menempati sebuah tempat tersembunyi tak jauh dari rumah itu. Beberapa saat kemudian, Then Bu Ket beserta sekira 24 anak buahnya tiba. “Then Bu Ket berjalan menuju tempat itu, kemudian ia memberi sandi kedatangannya dengan ketukan berunyi, ‘tek…tek…tek.’ Cang Kim bangun dan menjawab sandi itu dengan ketukan,” tulis Hendro Subroto. Cang Kim segera menyeret karung berisi beras dan meletakkannya di halaman belakang yang terbuka. Karena beda dari sebelumnya, upayanya itu membuat para anggota gerombolan marah karena mesti membagi-bagi beras itu terlebih dulu. Setelah mendengar jawaban Cang Kim bahwa belum dibagi-baginya beras itu karena dia belum mendapat info siapa saja yang akan datang mengambil, para anggota gerombolan sibuk membagi-bagi beras tadi ke dalam kantong-kantong. Saat itulah Hendro mengontak Sintong lewat radio bahwa target sedang sibuk dengan pembagian beras. “Kalau begitu mereka sudah dapat disiram dengan tembakan,” jawab Sintong singkat. Hendro segera memberi lampu hijau kepada pasukannya. Namun belum lagi perintah dikeluarkan Hendro, komandan pasukan penutup, yang posisinya di belakang pasukan penyergap, sudah mengeluarkan perintah tembak. Suara tembakan pun menguburkan kesunyian desa malam itu dan itu justru membuat para anggota pasukan penyergap bingung.   Akibat blunder itu, Satgas 42 gagal total. Dari 25 orang yang dijadikan target serangan, hanya satu yang berhasil ditewaskan. Sisanya berhasil melarikan diri lewat berbagai “jalur tikus” yang telah mereka kuasai. “Kasi-1/Intelijen (Hendropriyono, red .) tidak tahu bagaimana kronologisnya, sehingga Sintong memberikan tugas kepada pasukan Kodam XII/Tanjungpura bertindak sebagai pasukan penutup. Seharusnya perintah menembak dikeluarkan oleh pasukan para komando yang bertindak sebagai pasukan penyergap. Jalan panjang yang dirintis telah berhasil menuntun gerombolan masuk ke dalam killing ground , gagal akibat terjadinya kesalahan teknis dalam penyergapan,” tulis Hendro Subroto.

  • Konflik Kehidupan Roberto Durán dalam Hands of Stone

    GEMURUH di arena Madison Square Garden di New York, Amerika Serikat kian terdengar seiring pelatih gaek Ray Arcel (diperankan Robert De Niro) memasuki lorong arena menuju kursi di sisi ring. Malam itu, 13 September 1971, ia tergelitik memantau petinju potensial asal Panama , Roberto Durán (Édgar Ramírez), yang tengah menghadapi Benny Huertas di sebuah laga kelas ringan. “Insting ring (tinju) adalah seni. Sebuah anugerah dari Tuhan yang mengalir dalam diri petinju seperti halnya seorang seniman yang menghasilkan karya atau penulis yang menghasilkan buku hebat,” kata Arcel dalam monolog kala menggambarkan sosok Durán yang sedang fokus diperhatikannya. Arcel terkesan lantaran Durán hanya butuh satu menit enam detik di ronde pertama untuk menang TKO atas lawannya. Itu jadi kemenangan ke-25 petinju berjuluk Manos de Piedra alias Si Tangan Batu itu dalam karier profesionalnya. Pascalaga, Arcel dipertemukan dengan Durán oleh manajer Carlos Eleta (Rubén Blades) di ruang ganti. Eleta menganggap Arcellah yang bisa mengantarkan Durán merebut titel dunia yang hingga saat itu belum pernah dicicipi sang petinju. Butuh desakan keras dari Eleta agar Durán mau dilatih Arcel. Pasalnya sejak kecil Durán punya segudang kenangan pahit berurusan dengan orang Amerika. Begitulah adegan enam menit pertama film biopik olahraga bertajuk Hands of Stone yang dibesut sineas Jonathan Jakubowicz. Alur cerita lantas mundur ke adegan yang mendeskripsikan apa saja yang membuat Durán begitu alergi dengan banyak hal berbau Amerika. Tepatnya, ketika Durán berumur 13 tahun dan ikut unjuk rasa pelajar pada 9 Januari 1964 yang berujung ricuh di Terusan Panama. Durán yang sudah putus sekolah melihat sendiri bagaimana militer Amerika menghalau ratusan demonstran dengan cara-cara represif. Penembakan kepada para pelajar yang mencoba mengibarkan bendera Panama di zona yang masih dikuasai Amerika itu juga dilakukan. Potongan adegan Carlos Eleta (kanan) membujuk Ray Arcel untuk kembali dari masa pensiunnya sebagai pelatih. (The Weinstein Company). Sejak saat itu, Durán kecil berkeinginan untuk jadi petinju agar bisa melindungi ibunya yang jadi orang tua tunggal dan adik-adiknya. Selain bekerja serabutan membantu ekonomi keluarga, Durán sering jadi petinju jalanan untuk mendapatkan uang hasil taruhan. Suatu kali, ia bertemu pelatih tinju profesional Nestor ‘Plomo’ Quiñones (Pedro Pérez). Plomo lantas memungut Durán dari jalanan ke sasana tinju. Begitu Durán tumbuh dewasa, Carlos Eleta ikut andil membawa Durán ke tinju profesional. Namun untuk mewujudkan ambisi jadi juara dunia demi mengharumkan nama Panama, Durán butuh tangan dingin Ray Arcel. Bagi Arcel yang punya strategi bertarung di ring jempolan dan sudah mencetak 18 juara dunia selama 50 tahun kariernya, Durán petinju yang nyaris sempurna. Insting dan pergerakannya natural serta pukulannya sekeras batu sehingga dijuluki Manos de Piedras . Akan tetapi Durán kerap indisipliner. Soal ini Arcel jagonya dan dia berhasil menangani Durán. Hasilnya pun manis. Laga demi laga dengan mudah dilalui Durán dengan kemenangan telak. Termasuk ketika berhadapan dengan simbol tinju Amerika Sugar Ray Leonard (Usher Raymond) di Montréal, Kanada, 20 Juni 1980, yang mengantarkan Durán merebut gelar WBC kelas welter. Dari petinju medioker, Durán meroketkan kariernya di bawah asuhan Ray Arcel. (The Weinstein Company). Namun, Durán kemudian jadi arogan dan kedisiplinannya mulai kendor. Bahkan jelang rematch kontra Leonard lima bulan kemudian di New Orleans Superdome, Durán masih getol foya-foya. Akibatnya di ronde kedelapan Durán menyerah. Tak hanya kehilangan gelar akibat kekalahan TKO itu, Durán juga kehilangan muka lantaran diolok-olok media dan publik. Kehidupan rumah tangganya dengan Felicidad (Ana de Armas) pun mulai terguncang. Durán yang di negerinya hero seketika terjun menjadi zero. Masyarakat Panama yang saban hari berkutat dengan kemiskinan dibuat kecewa oleh Duran yang selama ini dijadikan harapan, kebahagiaan, dan kebanggaan mereka. Bagaimana perjuangan dan pergulatan mentalnya untuk bangkit dan seperti apa kerasnya usaha Ray Arcel dan istri Durán untuk membangunkan “Si Tangan Batu” dari keterpurukannya? Silakan ditonton sendiri Hands of Stone . Meski sudah dirilis pada 26 Agustus 2016, hingga saat ini masih bisa Anda saksikan di platform daring Mola TV. Drama Sarat Konflik Hands of Stone boleh jadi hiburan tersendiri buat para penikmat tinju dunia sekaligus wahana bernostalgia dengan era emas tinju pada 1980-an. Ia melengkapi deretan film bertema tinju, baik fiktif maupun biopik, yang bermunculan sejak Ali (2001), Million Dollar Baby (2004), Cinderella Man (2005), Rocky Balboa (2006), Ressurecting the Champ (2007), The Fighter (2010), Max Schmeling (2010), Creed (2015), Southpaw (2015), atau Bleed for This (2016). Dengan dibantu Miguel Ioann Littin dalam sinematografi, nuansa retro dan atmosfer “latino” cukup terasa dalam garapan Jakubowicz ini lewat tone film serta rangkaian music scoring yang dikomposeri Angelo Milli. Perpaduan itu cukup bisa membuat penonton merasakan nuansa 1970-an dan 1980-an, baik kala adegan masa kecil Durán di Panama maupun saat sudah berkarier di tinju pro di Amerika. Faktor-faktor teknis itu jadi penyokong penting dalam bab-bab kehidupan Durán yang melodramatik. Sosok Ray Arcel dan Roberto Durán yang diperankan Robert De Niro & Edgár Ramírez. (The Weinstein Company). Kehidupan Durán amat berwarna. Melarat di masa kecil, mendadak kaya setelah juara dunia, dan jatuh-bangun pasca-pertarungan dengan Leonard yang kondang dengan ucapan “ No Mas ”-nya kala menyerah dari Leonard. Semua fase kehidupan itu diangkat diceritakan Jakubowicz dalam Hands of Stone yang diadaptasi dari biografi karya jurnalis Christian Guidice, Hands of Stone: The Life and Legend of Roberto Durán . “Roberto Durán memiliki kombinasi antara heroisme dan cela dalam kehidupannya, di mana justru itu yang membuat saya jatuh hati pada kisahnya. Hubungannya dengan pelatih Yahudi dan perseteruannya dengan Leonard adalah salah satu sejarah olahraga yang paling menarik. Kisah Durán unik karena dia adalah pahlawan yang tak membosankan. Dia punya karakter yang menginspirasi. Namanya dikenal dunia namun cerita di balik itulah yang tak banyak diketahui,” terang Jakubowicz kepada Remezcla , 15 Juni 2016. Oleh karenanya, pendalaman karakter Durán dijalani sang aktor Edgár Ramírez dengan tak main-main. Ramírez melakukan transformasi fisik selama lima bulan jelang produksi, berlatih langsung di Panama, hingga bertemu anak-anak Durán demi mendapatkan gambaran lebih utuh akan kehidupan nyata petinju legendaris itu. “Petinju Panama punya gaya unik, pergerakannya sangat musikal, hampir seperti berdansa salsa. Selain ditemani pelatih merangkap terapis fisik, awalnya saya juga dilatih anak-anak Durán. Untuk memahami kehidupannya, saya harus berlatih di permukiman kumuh. Di mana saya melihat tinju adalah olahraga orang miskin. Mereka mencari nafkah dengan tangan kosong. Anda bertarung untuk makan dan itu kondisi yang sebenarnya alih-alih hanya kiasan,” ungkap Ramirez dalam wawancaranya dengan Esquire , 5 Agustus 2016. Aktor Edgár Ramírez menjalani latihan lima bulan di permukiman kumuh Panama untuk mendalami karakter Roberto Durán. (The Weinstein Company). Meski didukung dengan kisah kehidupan Durán dengan premis-premis yang menarik itu, ditambah akting solid aktor-aktor papan atas, Hands of Stone menuai banyak kritik miring usai dirilis 26 Agustus 2016. Dramatisasi yang diracik Jakubowicz dianggap justru membuat filmnya tak fokus. Jakubowicz memang banyak menambahkan percabangan cerita hingga “ tumplek-blek ” dalam 111 menit durasi film. Adegan konflik antara Amerika Serikat dan Panama yang berujung pada pembunuhan Presiden Omar Torrijos pada 1981, atau kisah tentang Ray Arcel yang acap diancam mafia Italia di New York, misalnya, lebih bagus dijadikan film tersendiri. Dramatisasi yang dilakukan Jakubowicz juga acapkali tak sesuai dengan fakta kehidupan Durán dan Arcel. Dalam Hands of Stone , Arcel digambarkan pertamakali comeback setelah 16 tahun pensiun dari dunia tinju akibat dibujuk Eleta untuk melatih Durán, pasca-pertarungan Durán vs Huerta pada 13 September 1971. Momen itu juga digambarkan jadi pertemuan awal Arcel dan Durán. Padahal, faktanya bukan seperti itu. Menurut Donald Dewey dalam Ray Arcel: A Boxing Biography , Arcel terlebih dulu melatih Alfonso Frazer baru melatih Durán. Frazer merupakan petinju kelas welter ringan asal Panama yang dimanajeri Eleta. Eleta berhasil membujuk Arcel untuk comeback dan melatih Frazer dua pekan sebelum Frazer naik ring menghadapi Nicolino Locche untuk memperebutkan gelar dunia versi WBA. Sosok asli Ramil 'Ray' Arcel & Nestor 'Plomo' Quiñones (baris kanan) yang berjasa dalam karier Roberto Durán. ( Ray Arcel: The Boxing Biography / panamaamerica.com.pa ). Dua pekan kemudian barulah Eleta membujuk Arcel untuk mau bertemu dan melatih Durán. Kala itu, Durán tengah menyiapkan diri untuk pertarungan pertamanya di kelas ringan memperebutkan gelar dunia (WBA) kontra Ken Buchanan, 26 Juni 1972. Nama Durán juga sudah didengar Arcel dari Eleta ketika masih melatih Frazer di Panama City. Saat bersedia melatih Durán, Arcel tetap minta Plomo jadi asistennya atau lebih tepat jadi penerjemahnya. Pasalnya, Arcel tak bisa bahasa Spanyol dan Durán tak bisa berbahasa Inggris. Sebagaimana diungkapkan Ronald K. Fried dalam Corner Men: Great Boxing Trainers , Arcel merasa harus sering bicara dari hati ke hati dengan Durán. Dengan begitu, diharapkan Durán bisa lebih disiplin, di mana itu jadi titik kelemahannya. “Durán tak harus diajari bertinju oleh siapapun. Hari pertama saya melihatnya berlatih di Panama saat sedang melatih Frazer, saya bilang ke semua orang: ‘Jangan ubah gaya bertarungnya. Biarkan saja dia bertarung dengan gayanya.’ Masalahnya ada pada komitmen. Dia harus bertarung tiga menit setiap ronde untuk merebut gelar juara dan komitmen bergantung pada kedisiplinan,” cetus Arcel dikutip Fried. Pertarungan Roberto Duran vs Sugar Ray Leonard jilid II dalam film (atas) & kejadian asli (bawah) jelang momen "No Mas!". (The Weinstein Company/The Ring Magazine). Dramatisasi lain yang tak sesuai fakta sejarah terjadi dalam adegan break pertarungan. Di sudut ring, Arcel acap menyisir rambut Durán sebelum mulai bertarung lagi. Itu dilakukannya sebagai strategi perang urat syaraf. Jika Durán bertarung lagi dengan penampilan tetap klimis, bakal turut menjatuhkan mental lawan. Hal itu tak pernah terjadi dalam kehidupan nyata Arcel dan Duran. Yang paling mendekati dengan dramatisasi itu, lanjut Dewey, adalah kebiasaan Arcel yang kerap menyeka keringat dari wajah Durán. Tidak lebih. Dramatisasi terakhir yang dipilih sutradara yang merangkap penulis skenario itu seolah mempertahankan enigma tentang benar-tidaknya “ No Mas ” (Inggris:  No More ) dikatakan Durán kepada Leonard dalam rematch , 25 November 1985. Padahal menurut biografi yang ditulis Guidice maupun biografi Arcel karya Fried, yang sama-sama memverifikasi pernyataan Durán lewat wawancara dengan Eleta, kisahnya bukan begitu. Durán mulanya mengeluh nyeri pada perutnya, namun keluhan itu justru jadi bahan ejekan Leonard untuk Durán di atas ring. “Dari keterangan manajer Carlos Eleta, Durán (faktanya) mengatakan: ‘Saya tidak mau melawan badut ini lagi.’ Akan tetapi Howard Cosell yang menyiarkan pertarungan itu, hanya menggaungkan perkataan ‘ No Mas ’ (tidak mau lagi, red. ) yang kemudian jadi tajuk berita utama di mana-mana dan sampai saat ini lestari dalam sejarah olahraga,” tulis Guidice. Data Film: Judul: Hands of Stone | Sutradara: Jonathan Jakubowicz | Produser: Jay Weisleder, Carlos Garcia de Paredez, Claudine dan Jonathan Jakubowicz | Pemain: Édgar Ramírez, Robert De Niro, Ana de Armas, Usher Raymond, Oscar Jaenada, Ellen Barkin, Rubén Blades, Pedro Pérez | Produksi: Fuego Films, Vertical Media, Panama Film Commission, Epicentral Studios | Distributor: The Weinstein Company | Genre: Biopik Olahraga | Durasi: 111 menit | Rilis: 26 Agustus 2016, Mola TV

  • Ketika Baret Merah Berhasil Mengorek Informasi Gerombolan Bersenjata

    Enam hari setelah tiba di Pontianak pada 15 November 1972, Komandan Satgas 42/Kopassandha Mayor Sintong Panjaitan mengambil-oper tugas dari Satgas 32. Sebagaimana satgas yang digantikannya, Satgas 42 ditempatkan di bawah Kodam XII/Tanjungpura untuk tugas operasi penumpasan gerombolan komunis bersenjata –Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) maupun Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku)– yang semasa Dwikora merupakan sekutu militer Indonesia dalam menghadapi Malaysia. “Sejak tahun 1965, Mako RPKAD telah menempatkan pasukannya di Kalimantan Barat secara bergantian. Setelah terjadinya peristiwa penyerangan gudang senjata di Pangkalan Udara Sintang II, operasi penumpasan gerombolan komunis di Kalimantan Barat semakin ditingkatkan,” tulis Hendro Subroto dalam  Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando. Sintong segera putar otak mencari konsep operasi yang tepat agar operasinya tidak berlarut-larut. Dia merapatkannya dengan jajaranya. Upaya mereka makin keras lantaran dia tak mendapat informasi memadai mengenai kekuatan lawan. Alhasil, mereka terpaksa memulai semua perencanaan operasi tempur dari nol. Dari pembelajaran terhadap fakta-fakta yang ada, Sintong menyimpulkan berlarut-larutnya operasi sebelumnya  karena beberapa kelemahan. Salah satu yang terpenting yakni operasi terbentur pada garis batas negara Indonesia-Malaysia. Akibatnya, pengejaran yang dilakukan terhadap lawan acapkali gagal karena lawan berhasil menyeberang ke wilayah Malaysia –begitupun sebaliknya, militer Malaysia kerap gagal menangkap buruannya karena keburu menyeberang ke wilayah Indonesia. Bertolak dari situ, Sintong  mengubah konsep daerah operasi dari yang awalnya sejajar dengan garis batas negara menjadi tegak lurus. Untuk itu, kerjasama dengan Tentera Diraja Malaysia tetap dilanjutkan. “Kerjasama di bidang operasi keamanan sepanjang daerah perbatasan ini telah terjelma sejak permulaan tahun 1967 yang dirintis oleh Pangdam XII Brigjen Ryacudu dan dilaksanakan dengan baik dan berhasil sekali oleh Panglima Brigjen A.J. Witono. Panglima Brigjen Soemadi yang sekarang, lebih memperluas serta mengintensifkan kerjasama operasi pemulihan keamanan perbatasan ini dengan pihak Malaysia,” tulis Dinas Sejarah Militer Kodam Tanjungpura dalam Tandjungpura Berdjuang: Sedjarah Kodam XII/Tandjungpura . Dengan kesepakatan yang diambil bersama komandan BIM 3 Brigadir Tunku Nazaruddin, pasukan Sintong maupun pasukan Nazaruddin dapat bebas melintasi batas negara ketika mengejar buruan sekalipun mereka menyeberangi batas kedua negara. Sebagai lanjutan dari kesepakatan itu, Satgas 42 dan BIM 3 menggelar Operasi Garu. “Pengendalian operasi berada di bawah satu tangan, yaitu di tangan Sintong sebagai Komandan Operasi Garu dengan nama sandi Rajawali 1,” tulis Hendro.   Dalam pertempuran di Gunung Kanyi, 3 Maret 1973, Kompi Para-Komando (Parako) yang dipimpin Kapten Muryono menewaskan anggota gerombolan bernama A Fong. Jasad A Fong, yang tewas mempertahankan bivak, tak sempat dibawa teman-temannya karena kondisi mereka terdesak. Informasi tersebut meyakinkan Sintong bahwa ada hal penting di balik bivak itu sehingga dipertahankan mati-matian oleh lawan. Dia segera memerintahkan Kepala Seksi 1/Intelijen Kapten Hendropriyono mendatangi bivak itu untuk mencari hal-hal penting. Benar saja. Hendro berhasil menemukan sebuah surat berbahasa Tiongkok yang dibungkus kantong plastik di salah satu tiang bivak. Surat itu ternyata berisi pertanyaan A Fong kepada istrinya soal kabar kedua anak lelaki dan kedua anak perempuannya. Berbekal informasi itu, Hendro segera menuju Desa Paloh guna mencari janda A Fong. Dia lalu mendapati janda beranak empat kendati belum tahu pasti itu orang yang dicarinya atau bukan. Setelah melaporkan pada Sintong dan mendapat restu, Hendro melakukan pendekatan pada perempuan itu. Kendati hubungan keduanya kian hari kian dekat, perempuan itu masih belum terbuka kepada Hendro, terutama soal suaminya. Jika ditanyakan keberadaan suaminya, perempuan itu hanya hanya menjawab bahwa suaminya merantau ke Pontianak. Hendro tak patah arang. Hubungan baik tetap dia jaga. Terlebih Sintong telah memerintahkan agar tidak menggunakan kekerasan dalam mengorek informasi agar tidak menyesatkan. Perhatian lebih pun diberikan Hendro kepada perempuan itu. Hendro bahkan sampai meminta Wa-Dan Satgas 42 Mayor Justam memberi santunan kepada perempuan tersebut. Perhatian berlebih itu tentu membuat si perempuan menjadi kian dekat dan terbuka. Saat itulah Hendro mengeluarkan “jurus” untuk mengorek identitas pasti si perempuan. Dia menceritakan kepada si perempuan bahwa ada seorang anggota gerombolan yang tewas di hutan ditembak kawan-kawannya karena hendak menyerah. Perempuan itu pun kaget dan penasaran mendengar cerita Hendro sehingga menanyakan siapa yang dimaksud. Dia lalu ditunjukkan sebuah foto oleh Hendro yang tak tahu pasti nama A Fong lantaran seringnya berganti nama. Si perempuan sontak menangis dan berteriak begitu melihat foto tadi. “Reaksi istri A Fong dapat memastikan bahwa janda beranak empat itu adalah istri gerombolan yang telah tertembak mati dalam pertempuran di Gunung Kanyi,” tulis Hendro Subroto. Hendro langsung melaporkan kepada Sintong bahwa orang yang dicarinya telah didapatkan. Setelah itu, dia terus membina hubungan baik dengan istri A Fong. Dari perempuan itulah Hendro kemudian mendapat banyak informasi berharga mengenai gerombolan. (Bersambung)

  • Di Balik Studi Hatta ke Belanda

    Pada 1921, Mohammad Hatta dinyatakan lulus dari Prins Hendrik Handels School di Batavia. Segera setelah itu, Hatta memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi. Dia merasa perlu mempersiapkan diri agar bisa membawa perubahan bagi bangsanya. Pilihan pun dijatuhkan ke Handels Hogeschool di Rotterdam, Belanda, mengambil jurusan ekonomi. Kepergian Hatta itu menimbulkan pertanyaan besar: mengapa harus ke tempat orang-orang yang menjajah negerinya? Terlebih hubungan Belanda dan Minangkabau (tempat kelahiran Hatta) bisa dikatakan tidak pernah baik. Apalagi ketika masih kecil Hatta melihat dan merasakan perlakuan yang tidak adil dari pemerintah Belanda terhadap pamannya, dan terhadap banyak orang di sekitarnya. Deliar Noer dalam Mohammad Hatta: Biografi Politik  menyebut kekhawatiran terbesar dari keputusan Hatta itu adalah kekhawatiran keluarganya andai arus sekularisasi, westernisasi, dan pengasingan terhadap budaya sendiri mempengaruhi pola pikir Hatta ketika kembali dari pengembaraannya di Belanda. Rupanya keputusan tersebut menimbulkan pertentang di dalam keluarga besar Hatta. Pihak ayah dan ibu memiliki pandangan berbeda tentang pendidikan lanjutan yang harus Hatta tempuh. Yang pertama ingin agar Hatta mendalami agama Islam. Malah sudah sejak lama mereka mempersiapkan segala kebutuhan untuk Hatta pergi ke Mekah dan Mesir. Sedangkan pihak ibu ingin agar dia melanjutkan pelajaran ke sekolah umum. Mulanya pihak keluarga ayah mengalah, membiarkan Hatta memasuki sekolah MULO. Alasannya karena sekolah itu dekat dari rumah. Sang ibu tidak tega jika anaknya yang masih kecil harus berjalan terlalu jauh. Kemudian pihak ayah kembali mengalah ketika Hatta memutuskan pergi ke PHS di Batavia, dengan alasan dasar pengajaran MULO lebih cocok diteruskan di tingkat menengah umum, dibanding pendiddikan agama di Mekah. “Seakan otomatis saja Hatta harus pergi ke Negeri Belanda, karena memang lanjutan studinya lebih tersedia di Rotterdam, bukan di Mekah, bukan pula di Mesir,” ungkap Deliar. Adanya sikap mengalah dari pihak ayah itu tidak berarti keluarga Hatta menerapkan sistem matrilineal. Malah sebaliknya, lingkungan hidup Hatta tidak terlalu menegakkan sistem berdasar garis ibu tersebut. Setiap membuat keputusan untuk tiap tingkat pendidikan, keluarga ayah di Batuhampar menerima dengan baik. Mereka mengakui bahwa ilmu pengetahuan, di mana pun dan apa pun yang dipelajari tidak akan membuat seseorang meninggalkan agama, asalkan dasar berpijaknya jelas. Malah mungkin saja ilmu pengetahuan itu menambah dalam rasa agamanya. Dari pihak ayah sebenarnya tidak semua mempersoalkan pendidikan apa yang ingin dia tempuh. Seperti pamannya, Haji Arsad bergelar Syekh Batuhampar, yang menyerahkan seluruhnya kepada minat Hatta. Dia hanya berpesan satu hal: jangan meninggalkan kewajiban agama Islam. Pamannya itu, disebutkan Bung Hatta dalam otobiografinya, Memoir , merupakan ulama terkemuka di Batuhampar, Sumatra Barat. “Yang menjadi masalah pokok baginya ialah agar Hatta, di mana pun ia berada, dan apa pun ilmu pengetahuan yang dituntutnya, tetap berdiri atas ajaran pokok Islam. Moral agama hendaknya mendasari jalan hidupnya. Tampaknya, inilah pula yang dijanjikan oleh Hatta kepada keluarga pihak ayahnya,” ungkap Deliar. Tentang westernisasi dan pengasingan budaya yang sempat menjadi kekhawatiran keluarganya tidak sepenuhnya terjadi. Kebiasaan sehari-hari, seperti makan dengan sendok dan garpu, berpakaian rapi di meja makan, atau bersepatu di dalam rumah, memang dilakukan Hatta. Tetapi itu lebih kepada kerapian dan kebersihan yang dia biasakan. Sekalipun tetap hidup di tanah air, kebiasaan seperti itu mungkin saja dikembangkan Hatta. Lagi pula hal-hal semacam itu hanya soal teknis saja, bukan merupakan prinsip hidup. “Bagi Hatta, pendiriannya beragama telah tidak memungkinkan ia menempatkan agama di luar kehidupan dunia. Pendiriannya ini pun telah tidak memungkinkan ia terpisah dari bangsanya yang memang sebagian besar menganut agama Islam. Maka dengan sendirinya pula ia tidak melepaskan diri dari pergolakan yang berkembang di Tanah Air,” tulis Deliar.

  • Gambar Cadas Tertua Ditemukan di Sulawesi Selatan

    Penelitian arkeologi terbaru di Sulawesi Selatan mengungkap temuan yang kemungkinan adalah gambar cadas tertua di dunia. Gambar cadas ini berumur 45.500 tahun.  Gambar cadas itu berupa penggambaran figuratif babi kutil Sulawesi ( Sus celebensis) . Babi kutil Sulawesi merupakan babi hutan endemik di Kepulauan Indonesia. Tim arkeolog dari Griffith University yang mengungkapkan temuan ini. Penemuannya berawal ketika penelitian lapangan yang dipimpin oleh lembaga penelitian arkeologi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas). “Lukisan babi kutil Sulawesi kami temukan di gua kapur Leang Tedongnge yang sekarang menjadi lukisan karya seni paling awal di dunia, sejauh yang kita ketahui,” ujar Adam Brumm, profesor dari Australian Research Centre for Human Evolution (ARCHE), melalui siaran pers yang diterima Historia  hari ini, Kamis (14/01/2021).   Babi dalam gambar itu memiliki jambul pendek dengan rambut tegak. Terdapat sepasang kutil wajah seperti tanduk di depan mata babi itu.  “Ciri khas babi kutil Sulawesi jantan dewasa,” kata Brumm. “Babi itu tampak mengamati perkelahian atau interaksi sosial antara dua babi kutil lainnya.” Gambar cadas yang berbentuk babi kutil Sulawesi. (Dok. Adhi Agus Octaviana). Menurut Maxime Aubert, spesialis pertanggalan dari Griffith Center for Social Science and Cultural Research, babi adalah hewan yang paling sering digambarkan pada gambar cadas zaman es di pulau ini. Mungkinmereka punya nilai penting, baik sebagai makanan, maupun ide kreatif dan ekspresi seni. “Manusia telah berburu babi kutil Sulawesi selama puluhan ribu tahun,” kata Basran Burhan, arkeolog dari Sulawesi Selatan dan mahasiswa PhD Griffith University, pemimpin survei yang kemudian menemukan gua itu. Gambar babi ini dilukis menggunakan pigmen oker merah. Ia merupakan bagian dari panil gambar cadas yang terletak di atas langkan tinggi di dinding gua Leang Tedongnge.  Temuan Langka Tak mudah sampai ke kawasan ini. Leang Tedongnge berjarak 64 km dari Kota Makassar. Letaknya di lembah yang dikelilingi tebing kapur terjal. Lokasi di mana gambar cadas ini berada hanya bisa diakses melalui gua sempit pada musim kemarau.  “Karena dasar lembah benar-benar tergenang air di musim hujan. Komunitas Bugis yang tinggal di lembah tersembunyi ini mengklaim bahwa tempat itu belum pernah dikunjungi oleh orang barat,” kata Brumm. Pada kesempatan itu, tim peneliti juga telah mengambil sampel pertanggalan dari salah satu gambar kaki belakang babi kutil. Maxime Aubert menjelaskan bahwa sampel pertanggalannya dianalisis menggunakan metode uranium series di Radiogenic Isotope Fasility, University of Quensland.   “Di Leang Tedongnge, sampel popcorn (kalsium karbonat) yang tumbuh diatas pigmen gambar cadas diambil dari salah satu kaki belakang babi kutil,” jelasnya. “Jadi, setelah dipertanggalkan itu memberi kita umur minimum dari lukisan tersebut.” Deposit mineral inilah yang telah diambil secara hati-hati oleh Aubert. Hasil pertanggalan uranium series menghasilkan umur 45.500 tahun. Itu menunjukkan kalau panil gambar cadas itu sudah dilukis sebelum deposit mineral tersebut terbentuk. Gua Leang Tedongnge. (Dok. Adhi Agus Octaviana). Sementara di gua lain pada kawasan itu, Leang Balangajia 1, juga terdapat gambar babi berkutil. Ini juga sudah dipertanggalkan dengan metode pertanggalan uranium series . Hasilnya gambar ini berumur 32.000 tahun yang lalu.  “Kami sekarang telah mengetahui beberapa contoh gambar cadas awal di Sulawesi,” ujar Aubert. Menurutnya, temuan gambar cadas kali ini sangat baik dari sisi kualitas. Pun luar biasa langka di dunia.  “Sebagai gambar cadas awal , penemuan gambar cadas ‘adegan’ atau gambar cadas yang bercerita dan dapat dikenali, sangat tidak umum,” kata Aubert.  Mulut Gua Leang Tedongnge. (Dok. Adhi Agus Octaviana). Pertanggalan gambar cadas beradegan tertua sebelumnya setidaknya berumur 43.900 tahun. Itu berupa penggambaran hibrid antara manusia-hewan yang berburu babi kutil Sulawesi dan anoa. Ditemukan oleh tim peneliti yang sama di kawasan gua gamping yang sama. Penemuan ini bahkan digolongkan oleh jurnal bereputasi Science sebagai salah satu dari 10 terobosan ilmiah 2020.  Adapun pakar gambar cadas Indonesia sekaligus peneliti Arkenas yang sedang menempuh PhD di Griffith University, Adhi Agus Oktaviana menjelaskan kalau pihaknya telah menemukan dan mendokumentasikan banyak motif gambar cadas di Sulawesi. Temuan-temuan itu masih menunggu penanggalan ilmiah.  “Kami berharap gambar cadas tertua di pulau ini menghasilkan penemuan-penemuan yang signifikan,” kata Adhi. Adhi menjelaskan pula kalau pertanggalan gambar cadas di Sulawesi kini merepresentasikan gambar cadas paling awal, jika bukan yang paling tua. Gambar-gambar ini mewakili tinggalan arkeologis sebagai bukti manusia modern di wilayah kepulauan Nusantara yang terletak di antara Asia dan Australia yang dikenal sebagai Wallacea.

  • Penerbang Amerika Pertama yang Hilang di Perang Pasifik

    SUDAH lebih dari sebulan kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat (AL-AS) USS Enterprise  (CV-6) berlayar di Samudera Pasifik Tengah   sejak pembokongan Jepang atas Pearl Harbor. Pada bulan pertama tahun 1942, USS Enterprise   –bertindak sebagai kapal komando Divisi Kapal Induk ke-2 AL   dengan panglima   Laksamana Madya William Halsey Jr.– sudah kesumat untuk membalas dendam. Di lambung kapal induk kelas   Yorktown itu dimuat senjata utama: 90 pesawat terbang. Salah satunya pesawat pembom torpedo Douglas TBD Devastator yang diawaki Aviation Chief Machinist Mate (ACMM, setara sersan mayor) Harold Dixon, penembak A. J. ‘Tony’ Pastula, dan opsir radio Gene D. Aldrich. Sejak USS Enterprise  melepas jangkar dari Pearl Harbor pada 8 Desember 1941, Laksdya   Halsey memimpin Divisi Kapal Induk ke-2 menjelang misi raid  ke Kepulauan Marshall dan Gilberts. Seperti biasa, pesawat-pesawatnya saban hari diterbangkan untuk misi anti-kapal selam dan patroli, termasuk yang dilakoni Dixon dan krunya yang ditugaskan di Skadron Torpedo VT-6. Menjelang misi rutin pada Jumat petang, 16 Januari 1942, Dixon punya perasaan tak enak. Perasaan tak   enak   itu baru   pertamakali dialaminya dalam 22 tahun masa tugasnya sebagai penerbang AL. “Kebanyakan pelaut percaya akan hal takhayul. Lucunya beberapa hari sebelum 16 Januari seiring kapal kami berlayar ke selatan Pasifik, saya memiliki perasaan aneh bahwa sesuatu akan terjadi. Sulit untuk mengabaikan perasaan itu karena beberapa hal kecil yang aneh juga terjadi kepada saya,” kata Dixon mengenang yang dituangkannya di Majalah Life , 6 April 1942. Saat Dixon makan siang menjelang misi pada petangnya, misalnya, ia mengaku muncul dorongan dari hatinya untuk makan dua atau tiga kali lebih banyak. Saat selesai makan dan melewati kabin medis,   tiba-tiba ia diajak masuk ke kabin oleh salah seorang petugas medis. Tetapi Dixon tak mengungkapkan semua itu kepada Aldrich dan Pastula yang masih “hijau”. Kala waktu   menunaikan misi patroli tiba, Dixon setenang mungkin memimpin keduanya naik ke pesawat TBD Devastator mereka yang bernomor ekor 0335. Pastula dan Aldrich tak pernah menduga bahwa itu akan jadi misi yang berujung petaka yang membuat mereka menjadi penerbang pertama yang hilang di Perang Pasifik. Petaka itu bermula setelah mereka sudah tinggal landas dari geladak USS Enteprise . Semakin lama mereka terbang, situasimakin pelik. Diperparah cuaca buruk, Dixon berkali-kali sibuk memerhatikan kompas dan petanya lagi, hingga akhirnya ia mengakui telah tersesat. “Patroli di hari itu benar-benar sarat kejadian. Selain harus terbang pada petang hari, kumpulan awan yang menurunkan hujan membuat kami sulit melihat lautan, hingga entah bagaimana pesawat kami tersesat. Selama berjam-jam saya mencari arah kembali ke kapal (induk) sampai bahan bakar hampir habis. Tiada lain saya harus membawa pesawat mendarat di air,” sambung Dixon. Kapal Induk USS Enterprise  (atas) & kumpulan pesawat TBD Devastator dari Skadron Torpedo VT-6 di geladaknya jelang misi terbang. (U.S. Naval History and Heritage Command). Bertahan Hidup Kendatiberhasil mengumpulkan perlengkapan survival dan bisa mendaratkan pesawat di laut dengan selamat, Dixon mengakui nasib sial mereka terjadijustrupasca-keluar dari pesawat.Mayoritas perlengkapan surival vital seperti makanan, persediaan air, dan pistol suar justru gagal terselamatkan. Pasalnya, ketika Dixon berupaya membuka kaleng CO2 yang macet demi mengembangkan perahu karet, Aldrich dan Pastula yang diperintah membawa perlengkapan itu justru bergulat maut. Pastula membantu Aldrich melepas sabuk pengamannya agartidak terbawa tenggelam bersama pesawat. Mereka akhirnya hanya bisa berharap pada hujan untuk mendapatkan air tawar untuk diminum. Di saatkritis itulah keyakinan mereka diuji. Selain kegigihan untuk bertahan hidup, nasib mereka bergantung pada belas kasih Sang Pencipta. Terlebih mereka hanya bertiga di lautan itu. Optimisme mereka meningkat tatkala melihat sebuah pesawat terbang di atas mereka. “Kami berteriak sebisanya. Namun ketika pesawat itu berlalu, hati saya ikut tenggelam ke dasar laut. Saya mengerti prosedur itu. Laksamana (William Halsey Jr., red . ) yang saya kenal takkan mengambil risiko mengerahkan segenap armada hanya untuk menyelamatkan satu pesawat , ” lanjutnya. Optimisme mereka seketika berubah jadi pesimisme.Sebagaimana dikisahkan dalam Fly Navy: Discovering the Extraordinary People and Enduring Spirit of Naval Aviation karya Alvin Townley, setelah mereka terpaksa menahan dahaga dan lapar hampir satu pekan, hujan deras akhirnya turun. Dixon, Aldrich, dan Pastula buru-buru merentangkan pakaianuntuk menampung air hujan yang kemudian mereka peras lalu airnya mereka tampung di kantung air. Air persediaan itu harus dijatah untuk minum bertiga. Mereka berharap hujan turun lagi hujan sebelum persediaanair tandas. ACMM Harold Dixon (kanan) dan dua anak buahnya, Tony Pastula & Gene Aldrich. (Majalah Life , 6 April 1942). Selain air, masalah yang membelit mereka adalah tempat untuk tidur. “Kami segera tersadar tak bisa tidur. Perahunya hanya delapan kaki. Dimensi di dalamnya lebih kecil, 80x40 inci. Mustahil cukup ruang untuk kami bertiga beristirahat dengan nyaman,” ujar Dixon dikutip Townley. Keputusan segera diambil Dixon sebagai solusi. Secara bergiliran satu dari mereka mesti melek setiap empat jam sekali g un a mendapatkan ruang untuk merebahkan diri dua rek annya . Untuk urusan perut, Aldrich menjadi andalan dua rekannya karena masih menyimpan pisau lipat di sakunya.Pisau itu lalu dimanfaatkannya untuk mencari ikan kendati sempat dikhawatirkan Dixon pisau itu akan mengenai perahu karetnya. Namun alih-alih mendapat ikan segar berukuran kecil, pisau Aldrich justru menghujamseekor hiu. “Dengan pisaunya, Gene (Aldrich) menusuk badan hiu yang menggelepar hingga melompat ke perahu. Tony (Pastula) ikut memeganginya hingga tikaman berikutnya yang membuatnya mati. Setelah 10 menit bergulat dengan hiu, akhirnya kami bisa memotong-motongnya,” sambung Dixon. Trio Dixon-Pastula-Aldrich yang bertahan hidup 34 hari di Samudera Pasifik sebelum akhirnya mencapai daratan (National Museum of the US Navy) Kendati hanya bisa disantap mentah-mentah, daging ikan hiu itu bisa memperpanjang hidup mereka. Beberapa bagian daging laludisimpan di dalam kaus kaki yang dibasahi air laut agar bisa awetselama beberapa hari. Selain daging hiu, menu lain yang sempat mereka nikmati adalah daging burung albatros. Pada suatu pagi, burung itu hinggap di salah satu ujung perahu. Burung malang itu segera dimangsa peluru pistol M-1911 yang ditembakkan Pastula. Begitu mati dan tercebur ke laut, burung itu diambil Dixon yang buru-buru nyemplung untuk menghindari jadi mangsa hiu yangmasih banyak di sekitar perahu mereka. Entah di hari ke berapa, Dixon tiba-tiba teringat pada skema peta sebelum pesawat mereka jatuh. Peta itu ikut hilang bersama persediaan makanan dan air, namun tidakdengan kompasyangmasih dikantongi Dixon. Lantaran mulaiingat skema peta yang didapat dari briefing sebelum misi, Dixon menggambarnya ulang dengan pensil di atas jaket pelampung. Ia pun mulai memperkirakan posisi mereka dan posisi kepulauan terdekat yang bisa mereka capai. “Saya sudah mempelajari peta-petanya dan kemudian ingatan saya kembali tentang di mana saja posisi-posisi pulau-pulau di peta itu. Ke arah barat dan utara dari posisi (jatuh) kami adalah Kepulauan Jepang. Tentu saya ingin menghindari mereka. Ke timur adalah kepulauan tak berpenghuni. Harapan kami hanya bermanuver ke arah selatan dan timur, letak kepulauan yang lebih bersahabat, sembari berharap kami berjumpa sebuah konvoi kapal Amerika,” imbuhnya. Dixon, Aldrich, dan Pastula lalu berusaha mengarahkan perahu dengan memanfaatkan angin. Mereka juga membuat jangkar darurat dari jaket pelampung dan kawat, dan menggunakan sol sepatu sebagai dayung. Mereka berusaha mengarungi 30-40 mil setiap harinya. Mereka terus berusaha meski berhari-hari menahan rasa lapar, haus, serta terik matahari saat siang dan badai tropis kala malam.Pada hari ke-34, Aldrich dengan tenaga tersisa berteriak kepada atasannya. “Pak, saya melihat ladang jagung yang indah. Saya melihatnya dengan jelas, Pak. Saya melihat sesuatu dari kejauhan!” teriak Aldrich, dikutip Stephen W. Sears dalam World War II: Carrier Way. Upacara penganugerahan medali Navy Cross kepada Harold Dixon oleh Panglima Armada Pasifik Laksamana Chester William Nimitz ( Life , 6 April 1942) Perjuangan mereka yang menguras tenaga, pikiran, dan perasaan itu akhirnya berbuah manis. Daratan yang dilihat Aldrich adalah Atol Pukapuka di gugusan karangKepulauan Cook, 750 mil dari lokasi jatuhnya pesawat mereka. Bagi mereka itu suatu mukjizat. Pasalnya di belakang mereka sudah berkerumun lagi awan hitam dan angin yang mulai berhembus kencang. Pertanda badai bakal kembali menerjang, seperti halnya beberapa hari sebelum mereka melihat daratan, di mana mereka nyaris mati dihempas badai tropis. “Kami melihat daratan itu di waktu yang kritis. Jika ditambah satu hari lagi (di laut) mungkin badai akan menuntaskan apa yang gagal dilakukan oleh rasa lapar, haus, angin, matahari dan hiu,” kenang Dixon lagi. Dengan tenaga tersisa, mereka mendayung perahu menuju Pukapuka.Ketika sampai di perairan dangkal, mereka turun dan dengan tertatih-tatih mencapai daratan. “Kemudian mereka ditemukan dan dirawat penduduk asli pulau itu. Setelah seminggu dirawat dan pulih, mereka bisa membuat isyarat untuk bisa dideteksi sebuah pesawat Amerika. Tak berapa lama, Dixon, Pastula, dan Aldrich dievakuasi oleh para kru kapal penyapu ranjau USS Swan ,” tandas Sears. Setelah pulih dan kembali ke USS Enterprise yang berlabuh di Pearl Harbor pada 17 Maret 1942, mereka disambut Laksdya Halsey dan Panglima Armada Pasifik Laksamana Chester Nimitz. Atasketeguhan jiwa dan fisik mereka, Nimitz menganugerahkan medali Navy Cross pada Dixon dan piagam Presidential Commendations pada Aldrich dan Pastula. Kisah mereka diangkat ke layar lebar pada 2014 oleh sineas Brian Falk bertajuk Against the Sun.

  • Cerita Rombongan Presiden Soeharto Disuntik Vaksin

    Presiden Joko Widodo dan para pejabat negara serta figur publik menerima vaksinasi Covid-19 pada 13 Januari 2021. Vaksinasi ini untuk meyakinkan masyarakat agar bersedia divaksin yang akan diberikan dalam dua tahap. Tahap pertama (Januari–April 2021) vaksinasi diberikan kepada petugas kesehatan, petugas publik, dan lansia. Sedangkan tahap kedua (April 2021–Maret 2022) vaksinasi diberikan kepada masyarakat rentan dan masyarakat lainnya.

  • Pandemi Tuntut Pemaknaan Ulang Nasionalisme

    Nasionalisme bukanlah gagasan yang statis. Sepanjang sejarah, nasionalisme mengalami berbagai perubahan dan perkembangan makna. Dari satu gagasan abstrak yang dibayang-bayangkan para tokoh pergerakan, nasionalisme kini menuntut pemaknaan baru untuk menjawab tanda-tanda zaman yaitu pandemi. Ide tentang nasionalisme Indonesia muncul pada dekade 1920-an. Kala itu, orang Indonesia mulai memiliki kesadaran sebagai sebuah bangsa. Kesamaan nasib, musuh, bahasa, dan cita-cita kemudian menumbuhkan gerakan perjuangan kemerdekaan yang bersifat nasional, bukan lagi kedaerahan. Dari gerakan-gerakan nasional itu, ide untuk bersatu dalam sebuah negara muncul. Tonggaknya, Indonesia memproklamasikan diri pada 17 Agustus 1945. Namun setelah itu, Indonesia yang dibayang-bayangkan ternyata masih dinamis sebagai sebuah ide. Menurut sejarawan Andi Achdian, dalam Dialog Sejarah “Memaknai Ulang Nasionalisme di Era Pandemi” di kanal Youtube  dan Facebook Historia  pada Selasa, 12 Januari 2021, pada awal terbentuknya negara-bangsa Indonesia, nasionalisme bersifat progresif. “Dia maju. Dia merupakan sebuah antitesa terhadap kolonialisme dan imperialisme,” kata Andi. Memasuki dekade 1960-an, sambung Andi, nasionalisme berubah menjadi apa yang disebut sebagai office nasionalism atau nasionalisme resmi. Nasionalisme resmi ini seringkali diwujudkan pada upacara, baris-berbaris, dan hal-hal yang bersifat opresif atau menekan. “Menjadi mundur sebenarnya, dalam artian praktik dari nasionalismenya tidak membebaskan,” jelas Andi. Kemunduran makna nasionalisme makin jauh ketika Orde Baru berkuasa. Menyambung Andi, Ketua Umum Inovator 4.0 Indonesia Budiman Sudjatmiko menyatakan bahwa Orde Baru mengembalikan ciri pemerintahan kolonial Belanda. Bahkan, kolonialisme itu dikawinkan dengan feodalisme Nusantara sehingga melahirkan patrimonialisme, dan masih ditambah militerisme pada era Orde Baru. “Orde Baru itu selama 32 tahun mempraktikkan sisa-sisa kolonial, cara berpikir kolonial yang memanipulasi loyalitas tradisi dalam wadah birokrasi modern, namanya patrimonialisme, ditambah militerisme,” ujar mantan aktivis reformasi ini. Budiman mencontohkan, nasionalisme progresif yang seharusnya juga menghancurkan sisa-sisa struktur ekonomi feodalisme ternyata juga gagal menyusul lengsernya Sukarno. Sisa-sisa sistem ekonomi tradisional yang timpang itu justru dihancurkan oleh kapitalisme industri yang dibangun oleh Orde Baru. Orde Baru memang kemudian runtuh juga. Namun Indonesia memiliki segudang pekerjaan rumah untuk membersihkan warisan-warisannya. Kini, pandemi menambah tantangan itu. Bagaimana Indonesia bisa menggunakan modal nasionalisme untuk menghadapinya? Dalam sejarah nasionalisme Indonesia, Andi menyebut bahwa satu temuan paling mendasar adalah organisasi. Organisasi merupakan senjata utama bangsa Indonesia membebaskan diri dan mewujudkan ide tentang nasionalisme itu sendiri. Hal ini juga yang membedakan gagasan era Kartini, misalnya, dengan gagasan-gagasan dekade 1920-an yang melahirkan banyak organisasi dari serikat buruh, organisasi kemasyarakatan, hingga partai politik. Rezim Orde Baru, jelas Andi, memahami hal ini dan penghilangan hak-hak berorganisasi adalah hal pertama yang dilakukan untuk melanggengkan kekuasaan. Selama 32 tahun, tradisi berorganisasi bangsa Indonesia kemudian luntur. Kehilangan tradisi berorganisasi itu kemudian melemahkan bangsa Indonesia. Ide-ide besar muncul, tetapi mewujudkannya melalui kerjasama dalam organisasi tidak terjadi. Hal yang sama juga terjadi dalam masa-masa kritis seperti pandemi. “Kita bingung kan, gitu kan. Harus bagaimana untuk merespon ini? Bagaimana melakukannya? Beda dengan masyarakat yang punya tradisi berorganisasi yang lebih kuat ya,” jelasnya. Dalam pandangan Andi, bentuk-bentul lama berorganisasi itu kembali muncul ketika pada masa awal pandemi, warga mengisolasi kampung-kampung dari orang luar. Namun tindakan alamiah ini masih terbatas karena memang tidak memiliki sistem organisasi yang kuat. “Kenapa VOC yang cuma berapa gelintir orang bisa berkuasa di Nusantara? Satu jawabnya, mereka punya organisasi modern. Mereka membuat sebuah manajemen dalam menguasai imperium yang luas itu, di samping ada senjata dan lain sebagainya,” terang Andi. Tradisi organisasi inilah yang harus kembali dibangun untuk menjawab tantangan-tantangan baru di tengah pandemi, jelas Andi. Tanpa tradisi berorganisasi, bayangan tentang masyarakat yang lebih maju akan selalu rentan. Menimpali Andi, Budiman menekankan bahwa prinsip organisasi adalah kerjasama. Orang Indonesia, menurutnya, telah teruji selama ratusan tahun dalam kerjasama yang sifatnya tolong-menolong. Namun, Indonesia melum teruji dalam kerjasama untuk saling menguntungkan. Ini dapat dilihat dari gagalnya Indonesia membangun koperasi. Koperasi yang seharusnya menjadi wadah kerjasama produktif dan sama-sama menguntungkan, kini hanya menjadi bunyi-bunyian kosong. “Bangsa Indonesia belum cukup teruji untuk kerjasama berorganisasi, berkolaborasi, dan berkoperasi untuk sesuatu yang produktif dan menghasilkan keuntungan,” ungkap Budiman. Budiman mengingatkan bahwa generasi saat ini harus bisa berikir seperti Sukarno, Hatta hingga Tan Malaka dalam melihat tanda-tanda zaman. Untuk merdeka dari Belanda, mereka tidak berusaha untuk menghidupkan kembali Kerajaan Demak atau Kerajaan Majapahit, melainkan mengimajinasikan satu republik bernama Indonesia. “Bisakah kita sekarang ini bergotong royongnya itu bukan sekadar bergotong-royong kembali ke masa lampau, sekadar menolong orang supaya tidak mati, tapi juga bergotong royong supaya sama-sama waras bareng , pinter bareng , sugih bareng ?” Budiman melontarkan pertanyaan. Sampai kuartal kedua 2020, Budiman menambahkan, hanya ada dua sektor yang pertumbuhannya positif: sektor digital dan pertanian. Dua sektor inilah, desa dan data, yang harus dikonsolidasikan untuk menjawab tantangan pandemi. “Kalau kalangan startup digital ini menyatu dengan orang desa, merekalah pemilik masa depan peradaban. Pemilik masa depan negeri,” kata aktivis 1998 yang banyak memperhatikan sektor pedesaan itu.

  • Arus Sejarah Baterai Penopang Mobil Listrik

    EMBRIO mobil listrik sudah muncul berabad-abad lalu. Bahkan pernah meraih popularitas karena tidak berisik, handal, dan kemudahan menyalakan mesin. Namun ada satu kekurangan yang membuatnya tenggelam: belum bisa digunakan jarak jauh. Melalui Ioniq dan Kona, Hyundai ingin melibas mitos mobil listrik yang selama ini acap jadi kekhawatiran masyarakat: daya tahan baterai dan kesulitan mencari tempat pengisian daya baterai. Hyundai Ioniq dan Kona Electric bisa tembus ratusan kilometer sekali isi penuh daya baterainya. Selain itu, mobil bisa dicas dari colokan rumah menggunakan portable charger. “Hyundai juga membekali konsumen dengan portable charger  di kendaraan sehingga pemilik bisa melakukan pengisian ulang baterai mobil listrik Ioniq Electric dan Kona Electric milik mereka di rumah atau di mana saja, tidak perlu antri, bahkan bisa sambil melakukan aktivitas lain dengan nyaman. Charger yang kami sediakan menggunakan steker yang umum di   Indonesia sehingga pengisian daya semudah mengecas baterai smartphone ,” kata Makmur, managing director PT Hyundai Motors Indonesia dalam rilis persnya . Upaya Hyundai itu merupakan satu progres signifikan dalam perjalanan sejarah baterai listrik yang gagasannya sudah eksis sejak abad ke-18. Dua mobil listrik murni pertama di Indonesia, Ioniq (kiri) & Kona (kanan) yang ditenagai baterai lithium-ion polymer. ( hyundai.com ). Mengiringi Perkembangan Teknologi Battery yang diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi beterai istilahnya mengambil dari “Battery of Cannon” atau sekumpulan unit artileri. Thomas P. J. Crompton mengungkapkan dalam Battery Reference Book , kata “baterai” dipinjam negarawan sekaligus polymath Benjamin Franklin pada 1748 kala menamakan alat ciptaannya yang terbuat dari kaca yang bisa menampung listrik bertegangan tinggi, Leyden Jar. Alat yang memiliki konduktor di luar maupun di dalam wadah kaca bisa berfungsi itu mengingatkan Franklin pada baterai artileri yang berfungsi bersamaan. “Definisi baterai itu sendiri adalah alat yang memiliki satu atau lebih sel elektrokimia dengan sambungan-sambungan eksternal untuk membuat alat lain bekerja,” tulis Crompton. Sebelum adanya generator listrik dan electrical grids , baterai jadi satu-satunya sumber energi semua teknologi berbasis listrik yang mengiringi perjalanan sejarah penemuan yang mengubah dunia. Dari telegraf, telepon, komputer, hingga telepon seluler. Semua itu berhulu pada inovasi ilmuwan Italia Alessandro Volta yang menciptakan baterai pertama. Menukil S. V. Gupta dalam Units of Measurement: Past, Present and Future. International System of Units , pada 1700-an listrik masih jadi fenomena yang diperdebatkan para ilmuwan. Mereka terbagi antara yang mempertanyakan apakah listrik masih berkaitan dengan fenomena alam dan terhubung dengan kehidupan manusia sebagai makhluk biologis atau listrik muncul sebagai fenomena dari reaksi-reaksi kimia. Perdebatan itu juga dilakoni Volta. Dia berdebat dengan rekannya yang pakar biologi, Luigi Galvani. “Faktanya, pada 1799 Volta pernah berdebat dan tidak setuju dengan teori Galvani terkait teori bahwa jaringan organ hewan mengandung sebuah wujud listrik. Hal itu mendorong Volta membuat sebuah alat, voltaic pile (tumpukan volt) untuk membuktikan bahwa listrik tak berasal dari jaringan biologis hewan, melainkan dihasilkan dari kontraksi logam-logam seperti besi dan kuningan dalam sebuah lingkungan yang lembab,” tulis Gupta. Voltaic Pile (kiri), baterai pertama di dunia dan sempat dipamerkan Alessandro Volta kepada Kaisar Napoleon Bonaparte. (Tempio Voltiano/New York Public Library). VoltaicPile kemudian diakui sebagai baterai pertama di dunia. Bentuknya berupa susunan pelat tembaga, seng, dan lapisan kertas garam basah berselang-seling yang ditumpuk di sebuah wadah lonjong berbahan kayu.   Kendati telah menciptakan Voltaic Pile, Volta belum paham betul tegangan listrik yang dihasilkan dari reaksi kimiawi alatnya. Ia bahkan sempat kecele karena mengira alat ciptaannya akan jadi sumber energi yang takkan ada habisnya. Padahal, setelah beberapa lama energi baterai pertama itu tandas juga. Selain itu, penggunaan Voltaic Volta belum praktis untuk alat lain berbasis listrik. Pada 1836, perkembangan perbateraian memasuki tahap lebih maju. Kimiawan Inggris Profesor John Frederic Daniell berhasil menciptakan dan mematenkan Daniel Cell, baterai praktis pertama. Daniell Cell dibuat dari tabung tembaga yang di dalamnya diisi cairan senyawa CuSO4 (tembaga sulfat) dan di dalamnya lagi menampung tabung berbahan tembikar berisi cairan H2SO4 (asam sulfat) dan pelat seng. Tabung tembikar berpori itu berfungsi sebagai penyaring agar CuSO4 bisa tetap melepaskan ion-ionnya tanpa tercampur cairan lain. Alhasil, energi yang dihasilkannya lebih awet, andal, aman, dan tak cepat mengalami korosi. Keunggulan itu membuat Daniel Cell dijadikan standar industri. Daniel Cell inilah yang mengiringi perkembangan teknologi lain, mulai telegraf hingga bel pintu, sampai 100 tahun kemudian. Daniell Cell pula yang menginspirasi kemunculan inovasi-inovasi serupa, mulai dari Bird’s Cell ciptaan Golding Birt (1837), Poros Pot Cell karya John Dancer (1838), hingga Fuel Cell buatan William Robert Grove (1839). Baterai ‘Cas’ Betapapun, energi yang dihasilkan baterai ciptaan Daniell hingga Alfred Dun dengan Dun Cell (baterai bersel asam nitro-muriatic ) bakal tandas secara permanen tanpa bisa dipulihkan kembali alias “dicas”. Padahal, zaman menuntut kemampuan lebih. Para produsen mobil, baik konvensional maupun berbasis listrik, sangat membutuhkan baterai yang bisa di -charge atau diisi ulang. Tantangan itu berhasil dijawab ilmuwan Prancis Gaston Planté pada 1859 dengan menciptakan baterai bersel timbal-asam yang bisa diisi ulang. “Planté bereksperimen dengan sistem gulungan baterai timbal-asam, di mana sel-sel yang digunakannya adalah dua pelat timbal tipis dan dipisahkan dengan lembar-lembar karet. Saat sirkulasi, arusnya mengaliri pelat positif menuju timbal dioksidan sehingga kapasitas listriknya meningkat. Proses ini masih jadi aspek yang signifikan dalam industri baterai timbal-asam sampai hari ini,” ungkap tim riset Gates Energy Products dalam Rechargeable Batteries Applications Handbook. Gaston Planté dan baterai ciptaannya. (Linda Hall Library). Penemuan Planté mendorong pengembangan lanjutan baterai isi ulang oleh banyak ilmuwan. Baterai isi ulang menggunakan zinc anode-manganese dioxide, misalnya, diciptakan Georges Leclanché pada 1866, lalu baterai sel kering pertama dari sel karbon-seng diciptakan Carl Gassner pada 1886, dan pada 1899 Waldermar Jungner menciptakan baterai dengan elektrolit alkalin pertama. Aki ( accu) yang ada saat ini merupakan kelanjutan dari baterai temuan Planté. Pada 1912, Gilbert Newton Lewis memulai eksperimen baterai lithium. Menurut Akademisi Universitas Stanford Kyle Weikert dalam artikel berjudul “Lithium Battery Dangers: Past and Present”, Lewis mencoba menggantikan baterai nikel kadmium yang banyak digunakan untuk alat listrik dengan lithium, logam paling ringan saat itu. “Lithium bisa menyimpan potensi elektrokimia dalam jumlah besar karena kepadatan materialnya. Meski begitu, logamnya secara alamiah tidak stabil dan terbukti komponen penyimpan energinya selalu bermasalah ketika diisi ulang,” tulis Weikert. Masalah itu baru terpecahkan pada 1970-an lewat kombinasi lithium-ion (Li-ion) yang dikembangkan sejumlah ilmuwan seperti John Goodenough, M. Stanley Whittingham, Rachid Yazami, dan Koichi Mizushima. Baterai li-ion pertama yang masuk pasar komersil lahir dari eksperimen tim periset Asahi Kasei pimpinan Yoshio Nishi pada 1991. Sejak itu, baterai, baik yang bertipe lithium atau bukan , jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Berangkat dari perkembangan baterai itulah Hyundai menciptakan sejarah baru di Indonesia lewat Ioniq dan Kona. Sejarah Baru Di tahun baru ini, PT Hyundai Motor Indonesia menghadirkan sejarah baru dengan meluncurkan dua mobil bertenaga listrik murni pertama di Tanah Air: Ioniq Electric dan Kona Electric. Lewat kampanye “Be Bold. Be Electric”, raksasa otomotif Korea Selatan ini menghadirkan dua tipe mobil listrik yang dipasok baterai berteknologi mutakhir lithium-ion polymer . Sedan Ioniq Electric dipasok baterai lithium-ion polymer berkapasitas 38,3 kWh yang bisa melahirkan daya maksimal 100 kW/136 PS. Sementara SUV ( sport-utility vehicle ) Kona Electric ditenagai baterai dengan tipe serupa berkapasitas 39,2 kWh yang juga mampu mengeluarkan daya maksimal 100 kW. Tak hanya bisa mengisi ulang di SPKLU, Sedan Ioniq & SUV Kona bisa "dicas" di stop kontak rumahan. ( hyundai.com ). Langkah itu menjadi kunci sejarah baru. Dengan baterai lithium-ion polymer itu Hyundai menjadi game-changer pertama di Indonesia, satu langkah maju menuju era mobilitas masa depan. Selain lebih efisien, Ioniq dan Kona menjadi agen dalam mewujudkan kendaraan ramah lingkungan. Baterai lithium-ion polymer yang jadi sumber tenaga Ioniq dan Kona tak hanya bebas emisi sehingga ramah lingkungan namun juga dijamin keamanannya. Hyundai melengkapinya dengan tiga langkah pengamanan: desain rigid cell architecture untuk menahan benturan di bagian inti baterai, vehicle cooperative control untuk mencegah korsleting, dan active protection untuk mencegah gagal sistem kala mengisi ulang daya. Untuk lebih memudahkan pengisian ulang jika pengguna tak sempat mampir ke SPKLU (stasiun pengisian kendaraan listrik umum) atau dealer-dealer Hyundai, HMI menyediakan pengisi ulang portable ICCB ( in-cable control box ) pada setiap pengguna Ioniq dan Kona. Alat tersebut bisa membuat para pengguna mengisi daya listrik mobil menggunakan stop kontak standar rumah atau kantor.

  • Vaksin Darurat Masa Revolusi

    Prof. Dr. Satrio. Nama ini sohor sebagai salah satu jalan utama di Jakarta. Tak banyak orang tahu siapa sosok ini dan apa yang telah dilakukannya sehingga namanya diabadikan. Dia seorang dokter tentara yang berjasa dalam memberikan vaksin cacar kepada penduduk Banten Selatan dan Bogor pada masa revolusi kemerdekaan. Cerita pemberian vaksin oleh dr. Satrio bermula pada Desember 1948. Kala itu, Belanda berupaya merebut sejumlah wilayah Banten seperti Serang, Pandeglang, dan Rangkasbitung dari Republik. Pejuang-pejuang Republik melawan upaya itu dengan perang gerilya. Dr. Satrio ikut bertugas membantu pejuang gerilya Republik sesuai surat kawat dari Markas Besar Tentara. Dia tergabung dalam Brigade Tirtayasa dan beberapa kali mengurus pejuang-pejuang yang terluka atau gugur. Tapi penugasannya di wilayah Gunung Karang, Banten Selatan, menggerakkan dirinya turut membantu rakyat. “Dalam perjalanan kembali ke daerah selatan, saya mendapat informasi dari penunjuk jalan bahwa diantara penduduk ada penyakit cacar,” kata dr. Satrio kepada Mona Lohanda dkk. dalam Perjuangan dan Pengabdian: Mosaik Kenangan Prof. Dr. Satrio 1916–1986. Baca juga:  Vaksin dan Harapan di Tengah Wabah Penyakit Dr. Satrio mendatangi kampung tersebut dan melihat fisik para penduduknya. “Bisul-bisul bernanah kecil-kecil tersebar di kulit. Tidak saya ragukan memang ini adalah vario vera menurut istilah kedokteran Latin dan bukan cacar air,” tutur dr. Satrio. Para penduduk di kampung tersebut menderita cacar lebih dari tiga tahun. Selama pendudukan Jepang, tak pernah ada vaksinasi cacar. Jika dibiarkan, cacar akan menjadi epidemi. Sebab cacar menular cepat. Masalahnya, dr. Satrio tak punya vaksin cacar sehingga tak bisa memberi penduduk vaksin cacar segera. Dia juga merasa tak mampu memisahkan para penderita cacar dengan penduduk yang masih sehat. “Dalam keadaan darurat gerilya, kedua-duanya tak mungkin,” kenang dr. Satrio. Baca juga:  Cerita Rombongan Presiden Soeharto Disuntik Vaksin Peristiwa ini terus membebani pikiran dr. Satrio hingga kembali ke markasnya. Dia berbagi cerita dengan rekan-rekannya. Menurut seorang rekannya, ada seseorang di Malingping, wilayah pantai di Banten Selatan, yang mungkin bisa membantu dr. Satrio. Orang itu bernama Suria dan pernah bekerja sebagai mantri cacar. Tak menunggu lama, dr. Satrio lekas menuju Malingping bersama tiga orang tenaga kesehatan. “Dr. Satrio menempuh perjalanan 4 hari mencari vaksin di tempat mantri cacar Suria,” catat Tim Departemen Kesehatan dalam Sejarah Kesehatan Nasional Jilid 1. Dokter Satrio semasa memberikan vaksin cacar di Banten dan Bogor 1948-1949. (Repro  Perjuangan dan Pengabdian ). Dr. Satrio berhasil menemui Suria. Dia mendapat 30 ampul (wadah gelas bening yang bagian lehernya menyempit) vaksin cacar dari Suria. Jumlah itu untuk menyuntik 100 orang. Tapi itu belum memecahkan masalah. Dr. Satrio memprediksi jumlah ampul tersebut masih kurang untuk penduduk Banten Selatan. Selain itu, mereka tak punya zat pelarut vaksin, yaitu gliserin. Mereka harus mencari pelarut ini. Tanpa pelarut, vaksin tak bisa digunakan. Dr. Satrio menanyakan ke Suria bagaimana kalau 30 ampul vaksin itu jadi modal untuk membuat vaksin sendiri. Suria bersedia membantu. Dia juga mengatakan pernah praktik membuat sendiri vaksin cacar dari kulit kerbau.   Baca juga:  Upaya Memberantas Cacar Dr. Satrio dan Suria mencatat kebutuhan mereka. Gliserin, kerbau, penggiling untuk bahan-bahan vaksin, dan botol-botol untuk menaruh vaksin. Ketika berembug tentang pelarutnya, Suria ingat sebuah apotek atau gudang obat di Bayah, Banten Selatan. Di sana mungkin tersedia gliserin. “Tulis saja nota, pasti akan diperoleh glycerin sebanyak yang diperlukan,” kata Pak Suria, seperti dikutip Matia Madjiah dalam Dokter Gerilya. Hasilnya dua botor gliserin datang dalam dua hari.  Masalah berikutnya mencari kerbau sehat. Dr. Satrio dan Suria sempat kesulitan. Tapi kabar bagus diperoleh dari seorang perwira daerah. Dia memastikan kerbau sehat tersedia. Kerbau sehat diperlukan untuk menularkan vaksin cacar ke kulitnya. Baca juga:  Sejarah Oeang Republik Indonesia Daerah Banten Dari penularan tersebut akan muncul bisul di kulit kerbau. Kemudian kerbau disembelih dan bisulnya dikerok untuk digiling agar menjadi seperti bubur. Setelah digiling kering, bahan itu dilarutkan dengan gliserin lalu dimasukkan ke wadah vaksin. Sisa daging kerbaunya dipastikan aman dan dibagikan ke penduduk. “Kerbau kita telah amat berjasa sebagai pembiak vaksin,” kata dr. Satrio. Setelah memperoleh gliserin dan kerbau, dr. Satrio dan Suria mencarialat penggiling bahan vaksin. Tak ada gilingan vaksin, gilingan kopi pun jadi. Untuk wadahnya, mereka menggunakan batang pohon pisang. Di dalam wadah demikian, vaksin akan bertahan tiga minggu. Semua tahap pembuatan vaksin mengambil tempat di Bojong Kirai. Semua proses berjalan sesuai rencana. Dari modal 30 ampul vaksin untuk 100 orang, dr. Satrio dan Suria berhasil melipatgandakannya menjadi untuk 20.000 orang. Mantri cacar Suria dari Malingping yang membantu membuat vaksin anti cacar. (Repro  Perjuangan dan Pengabdian ). Dr. Satrio dan Suria bersama timnya menjajaki tiap tempat di Banten Selatan sampai ke Bogor untuk memvaksin penduduk. Tujuannya agar penduduk yang sehat kebal terhadap penyakit cacar. Mereka sering melewati daerah rawa penuh lintah. Darah mereka terhisap oleh lintah. Tapi langkah mereka tetap mengalir. Mereka berhasil menemui penduduk di banyak desa. Tak ada penduduk menolak vaksin. Malah mereka senang dengan kedatangan dr. Satrio dan timnya. Mereka juga manut ketika tim meminta ada pemisahan antara penderita cacar dan penduduk yang sehat. Baca juga:  Penolakan Vaksin Dulu dan Kini Selama perjalanan itu, dr. Satrio dan timnya telah memvaksin hampir 300 ribu orang. Jika vaksin habis, mereka akan membuat vaksin baru di tempat tersebut selama bahan-bahannya tersedia. Sisa bahan vaksin dari kerbau dapat digunakan untuk bekal makanan di perjalanan. Misalnya paha kerbau yang diolah jadi dendeng. Sebenarnya memvaksin penduduk bukan tugas utama dr. Satrio sebagai dokter tentara. “Walaupun tugas utama saya melayani tentara, namun jika rakyat sekelilingnya menderita wabah cacar, tentu tentara juga dapat ketularan dan mati... Jika kami dapat menolong rakyat, hal itu berarti bahwa kami membantu pemerintah RI dalam menyelamatkan rakyat,” kata dr. Satrio.         Dr. Satrio dan tim menyebut pengalamannya itu sebagai “ long march memberantas cacar”. Berkat jasanya menyelamatkan ratusan ribu penduduk dari ancaman cacar, mereka mendapat penghargaan bintang gerilya dari pemerintah.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page