Hasil pencarian
9807 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Antara Habib Rizieq Shihab dan Ayatullah Khomeini
Kehadiran kembali Habib Rizieq Shihab (HRS) di Indonesia pada 10 November 2020 menyedot perhatian masyarakat. Nikita Mirzani, salah satu selebritas, menyebut kedatangan HRS disambut gila-gilaan. Dia juga menyebut Habib sebagai tukang obat. Karuan aksinya beroleh tanggapan lebih keras dari pendukung HRS seperti Maaher at-Thuwailib. Maher mengatakan Nikita menghina Habib. Dia berjanji akan mengerahkan 800 orang untuk mengejar Nikita. Orang ini jugalah yang menyamakan HRS dengan Ayatollah Khomeini, pemimpin Revolusi Iran pada 1980-an. Di twitter -nya, dia bilang perbedaan HRS dan Khomeini hanya terletak pada Syiah dan Sunni. Benarkah begitu? Lahir 24 September 1902 di Khomein, Persia Tengah, Khomeini bernama lengkap Ruhollah Musavi Khomeini. Dia putra dari Mostafavi Musavi, seorang penentang Dinasti Qajar yang berkuasa ketika itu di Persia. Saat berumur lima bulan, Khomeini kehilangan ayah. Orang-orang bayaran dari Dinasti Qajar membunuhnya. Khomeini kecil telah terbiasa dengan hidup keras. Dia terbiasa dengan perang dan mempertahankan wilayahnya dari serangan orang-orang bayaran Dinasti Qajar. “Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan perang… Saat saya masih anak-anak atau kira-kira di masa-masa awal baligh (dianggap mampu bertanggung jawab, red .), saya mengawasi kantong-kantong perlindungan di kampung kami,” kata Khomeini seperti tersua dalam Imam Khomeini dari Lahir hingga Wafat terbitan Islamic Culture and Relations Organization. Khomeini remaja kemudian hijrah ke kota Qom untuk mendalami ilmu agama pada 1921. Kota Qom adalah kota intelektual bagi orang-orang Syiah di Persia. Di sini para murid juga mempelajari filsafat dan irfan atau pengetahuan kebatinan tentang Islam. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Khomeini mengajar di Najaf, sekarang menjadi bagian Irak. Selama menjadi pelajar di Qom dan pengajar di Najaf, Khomeini menyaksikan sejumlah perubahan politik dan sosial di negerinya. Kerajaan Rusia runtuh pada 1917 oleh Revolusi Bolshevik. Padahal kerajaan itu pendukung kuat Dinasti Qajar. Akibatnya, Dinasti Qajar kehilangan sokongan dan jatuh pada 1925. Reza Khan tampil menggantikan penguasa sebelumnya. Dia mendirikan dinasti baru bernama Pahlevi dengan sokongan Inggris. Reza Khan memimpin Persia dengan cara-cara tiran. Dia mirip pendahulunya, memberangus lawan-lawan politiknya. Termasuk pula kalangan agamawan. Protes menguar. Reza Khan mengeluarkan Revolusi Konstitusional yang membagi kekuasaan dalam tiga bidang: yudikatif, eksekutif, dan legislatif. Langkah ini dinilai mampu membuat protes mereda. Tapi sebenarnya gerakan oposisi yang digalang kaum agamawan masih bergerak di bawah tanah. Pada 1935, Reza Khan mengubah nama Persia menjadi Iran. Menjelang Perang Dunia II, Reza Khan menjalin hubungan dengan Jerman. Kedekatan ini mengganggu hubungan Iran dengan Inggris dan Rusia. Keduanya memiliki sejumlah konsesi minyak di Iran dan berseberangan dengan Jerman. Karena kedekatan itu, Inggris dan Rusia bertindak menyingkirkan Reza Khan. Raja itu pun jatuh dan diganti oleh anaknya, Reza Pahlevi. Reza Pahlevi menginginkan Iran yang maju dan setara dengan negara-negara Barat. Dia sangat dekat dengan Amerika Serikat. Selama memerintah pada 1960-an, dia mendatangkan 60.000 orang Amerika Serikat. Terdiri dari ahli dan tenaga kerja asing. “Kedatangan mereka menyebabkan benturan kebudayaan yang terlalu brutal,” catat Nasir Tamara dalam Revolusi Iran . Reza Pahlevi juga menempuh cara-cara tiran dalam memerintah. Dia menutup sekolah dan universitas di Teheran. Tapi justru membangun kekuatan teror lewat polisi rahasia bernama SAVAK untuk menculik, menyiksa, dan membunuh lawan politiknya. Amnesti International mencatat setidaknya 100 ribu orang menjadi tahanan politik sepanjang pemerintahan Reza Pahlevi. Khomeini telah mengamati perubahan itu sejak dia masih remaja. Dia kerap berdiskusi dengan teman-temannya tentang kerusakan-kerusakan negerinya dan bagaimana memperbaikinya. “Imam Khomeini melihat bahwa satu-satunya harapan untuk melepaskan bangsa Iran dari jeratan penguasa diktator dan konspirasi asing, pasca kegagalan Revolusi Konstitusional dan berkuasanya Reza Khan adalah kebangkitan para ulama Hauzah (perguruan tinggi, red .),” ungkap tim Islamic Culture and Relations Organization. Nama Khomeini telah dikenal luas di kalangan kaum agamawan Iran sejak naiknya Reza Pahlevi sebagai penguasa pada 1940-an. Dari kaum agamawan, Khomeini turun membangun jaringan dengan masyarakat luas. Dia percaya sebelum membangkitkan peran ulama, hubungan spiritual ulama dan masyarakat harus kuat. Selain itu, Khomeini mulai rajin menulis buku dan artikel untuk membangun jiwa masyarakat. Beberapa buku dan artikelnya juga berisi kritik dan tinjauan atas Dinasti Pahlevi. Karena kritiknya, dia ditangkap dan ditahan rezim Reza Pahlevi selama delapan bulan pada 1964. Selepasnya dari tahanan, kritik Khomeini pada rezim Reza Pahlevi makin keras. Rezim menangkapnya lagi dan membuangnya ke Turki dan Irak. Selama masa pembuangan ini, Khomeini memberikan dukungan berupa uang dan pikirannya untuk orang-orang Palestina. Dari Irak pula, Khomeini tetap mengamati perkembangan di Iran. Rezim Reza Pahlevi makin menindas. Ratusan orang tewas setiap tahunnya karena menentang rezim Reza Pahlevi. Kritik-kritik Khomeini terungkap dalam kaset-kaset ceramahnya. Kaset-kaset itu tersebar luas di Iran dan mendapat tempat di kelompok opisisi, di luar kalangan Islam seperti anggota partai komunis Iran dan orang-orang nasionalis sekuler. Seluruh kelompok oposisi berbagai aliran berada di belakang Khomeini. Karena sepak terjangnya, nyawa Khomeini di Irak terancam. Tentara Irak mengepung rumahnya di Irak. Tapi dia berhasil lolos dan tinggal di sebuah wilayah pinggiran Paris, Prancis, sejak 14 Mei 1978. Pemerintah Prancis meminta Khomeini menghentikan segala aktivitas politik. Tapi Khomeini tetap melancarkan ceramah-ceramahnya. Orang-orang di Iran mulai bergerak. Mereka turun ke jalan dan berteriak, “Hidup Khomeini, Mampuslah Shah.” Militer menembaki pemrotes. Banyak orang gugur, tapi benih-benih perlawanan malah tumbuh lebih banyak. Buruh, dokter, wartawan, petani, pelajar, dan mahasiswa mogok nasional. Amerika Serikat mulai mengendurkan dukungannya pada Reza Pahlevi. Menteri-menterinya juga mulai mengundurkan diri. Reza Pahlevi kehilangan dukungan. Dia pergi dari Iran pada 16 Januari 1979. Orang-orang Iran bersuka-cita atas kepergian itu. Mereka juga berharap Khomeini bisa segera kembali ke Iran. Pada 1 Februari 1979, Khomeini menjejakkan kakinya kembali di Iran. Dia disambut luas oleh gerakan perlawanan yang digalang sejak lama dan melibatkan berbagai kelompok. Nasir Tamara, wartawan Indonesia satu-satunya yang menyaksikan langsung peristiwa itu, sampai susah mengungkapkannya, “Penyambutannya sulit digambarkan dengan kata-kata… Betapa populernya Khomeini dan bahwa tak mungkin bagi orang lain untuk memerintah Iran tanpa persetujuannya.” Sementara itu, sepak terjang HRS muncul justru setelah jatuhnya rezim diktator Soeharto. Dia mendirikan Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta, pada 17 Agustus 1998. FPI bergerak sebagai “hakim jalanan” dengan mengubrak-abrik tempat hiburan malam yang dianggap sarang maksiat. “FPI muncul sebagai kekuatan baru di jalanan, dengan citra berjuang bukan demi uang, wilayah kekuasaan, atau patronase politik, melainkan membela Islam,” sebut Ian Wilson dalam Politik Jatah Preman. Sebagai ketua umum, nama HRS mulai kesohor. Tapi dia baru mendapatkan momen politiknya sejak kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama pada 2016. HRS juga belum banyak membuat buku. Selain itu, tak semua kelompok oposisi di Indonesia berada di belakangnya. Dari sini, orang bisa melihat perbedaan besar antara sepak terjang HRS dan gerakan perlawanan Khomeini. Begitu pula dengan gambaran penyambutan keduanya.
- Ketakutan Bung Karno
LETNAN J.B. Schussler masih ingat wajah Sukarno saat pertama kali melihatnya sebagai penawannya di serambi Istana Presiden Yogyakarta. Kendati berusaha tenang, namun komandan peleton Korps Pasukan Khusus (KST) KNIL itu menangkap kegelisahan dari bahasa tubuh pimpinan kaum republiken tersebut. “Yang pertama-tama ditanyakan oleh Sukarno dengan nada khawatir adalah apakah Kapten Westerling yang ditakuti itu adalah komandan kami?” kenang Schussler seperti dikutip Lambert Giebels dalam bukunya, Soekarno: Biografi 1901-1950.
- Soebandrio, CIA, dan BVD
PRESIDEN Sukarno memberikan amanat kepada para pemimpin dari tujuh partai politik di Guest House Istana Merdeka, Jakarta pada 27 Oktober 1965. Dia mengajak untuk menjaga keselamatan negara dan revolusi dengan mengawasi segala usaha dari nekolim (neo kolonialisme dan imperialisme) dan CIA.
- Gerakan Kaum Intelektual di Ranah Minang
Permulaan abad ke-20, kekuasaan Belanda masih mengakar kuat di seluruh wilayah Sumatra Barat. Kendati demikian, perlawanan rakyat pun tidak henti-hentinya dilakukan, baik oleh kaum tua maupun oleh kaum muda. Meski keduanya sama-sama bergerak untuk kebebasan ranah MInang dari belenggu penjajahan, ada perbedaan mendasar yang menghalangi kedua kelompok untuk bersatu, yakni pandangan tentang Islam. Kondisi itu tentu merugikan karena kekuatan rakyat untuk berjuang menjadi terpecah. Dituturkan Jajat Burhanuddin dalam Islam dalam Arus Sejarah Indonesia , kaum tua dikenal sebagai golongan Islam-Tradisionalis, sementara golongan muda acap dikaitkan dengan kelompok Islam-Reformis. Kaum tua percaya bahwa Islam sebagai agama tidak bisa dilepaskan dari pengaruh adat istiadat. Sehingga dalam prakteknya, kelompok ini sering menggabungkan kepercayaan kepada Tuhan dengan kepercayaan kepada roh nenek moyang. Di sisi lain, kaum muda memisahkan kedua nilai tersebut. Mereka percaya bahwa Islam harus dijalankan sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, tanpa sedikitpun memasukkan unsur adat di dalamnya. Gerakannya hampir serupa dengan kaum Padri. Mereka juga meyakini bahwa perubahan ke arah kemajuan di berbagai sektor kehidupan perlu dijalankan. Masyarakat tidak bisa hanya terkurung di dalam keyakinan adat istiadat semata. Keyakinan kaum muda itulah yang kemudian selalu dikaitkan dengan kemajuan intelektual di Minangkabau pada abad ke-20. “Di Minangkabau, gagasan tentang kemajuan adalah inti dari konflik-konflik kaum cendekiawan dalam beragam pokok masalah seperti adat dan agama. Retorika selama dua puluh tahun pertama abad kedua puluh membandingkan yang “muda” yang didefinisikan sebagai simbol kemajuan, dengan yang “tua” yang dipandang sebagai terbelakang dan konservatif,” kata Yuliandre Darwis dalam Sejarah Perkembangan Pers Minangkabau (1859-1945) . Gesekan antara kaum muda dan kaum tua juga tidak hanya terjadi di ranah agama saja, tetapi sudah merambah kepada urusan sosial-politik di masyarakat. Alam pikir golongan tua oleh kaum muda dianggap sebagai kemunduran intelektual. Mereka yang masih memisahkan satu kelompok dengan kelompok lain atas dasar status sosial, serta berpikir bahwa kekuasaan didapat secara turun temurun berdasarkan garis keluarga, dinilai dapat merusak tatanan kehidupan di Sumatra Barat. Untuk itu, kaum muda menyerukan berbagai gerakan pembaharuan, di antaranya dengan membangun sekolah dan menyebarkan dakwah melalui media massa. Sekolah Kaum Muda Gerakan untuk melakukan perubahan dari kaum muda diyakini sebagai gerakan Islam modern di Minangkabau. Ada begitu banyak tokoh yang terlibat di dalam gerakan reformis tersebut. Beberapa di antaranya merupakan murid-murid Syekh Ahmad Khatib, seperti Syekh Djamil Djambek, Abdul Karim Amarullah (Haji Rasul), Haji Abdullah Ahmad, dan Syekh Thaib Umar. Di antara tokoh-tokoh tersebut, ada yang sampai membuat sebuah sekolah untuk mempermudah penyampaian gagasan-gagasan reformis yang diyakini para kaum muda, seperti perlawanan, perjuangan, kebebasan, dan kemerdekaan. Abdul Karim Amarullah misalnya, mendirikan perguruan Sumatra Thawalib di Padang Panjang. Sekolahnya itu merupakan kelanjutan dari lembaga pendidikan di Surau Jembatan Besi, yang mulanya mengajarkan pelajaran fiqih dan tafsir Al-Qur’an dengan cara-cara tradisional. Ketika Haji Rasul masuk sebagai pengajar, kurikulum yang ditekankan di sana berubah menjadi ilmu aplikatif. Para santri harus memiliki kemampuan menguasai bahasa Arab dan percabangannya. Hal itu dimaksudkan agar mereka mampu mempelajari sendiri kitab-kitab yang lambat laun akan mendekatkan mereka kepada dua sumber dalam Islam: Al-Qur’an dan Hadits. Perubahan-perubahan di dalam Sumatra Thawalib terus dilakukan. Bahkan dicatat Darwis, perubahan sistem pendidikan di sana memerlukan waktu kurang lebih 10 tahun. Sistem pembagian kelas, penggunaan buku pelajaran, sarana dan prasarana sekolah, hingga kurikulum pendidikan, membuat Thawalib menjadi lembaga pendidikan yang berpengaruh di Minangkabau. “Sekolah Thawalib khusus mengajarkan teori dan aspek filosofi dalam Islam. Tujuannya adalah untuk menghasilkan lulusan yang mampu berpikir mandiri dan bertindak sebagai pembaharu agama di masyarakat,” kata Sally White dalam Rasuna Said: Lioness of the Indonesian Independence Movement . Selain Thawalib, sekolah lain yang dinilai melambangkan kemajuan pendidikan modern di Minangkabau adalah Sekolah Diniyah. Lembaga pendidikan yang telah ada sejak 1915 di Padang Panjang itu didirikan oleh Zainuddin Labai El Yunus. Sekolah Diniyah ini mengenalkan sistem pendidikan modern di Sumatra Barat. Menurut Sally, mereka mempelopori penggunaan buku teks, dan jenjang kelas untuk berbagai tingkatan usia. Sekolah Diniyah juga membuka cabang sekolah khusus untuk perempuan. Dikelola oleh Rahmah El Yunusiah, sekolah ini mengajarkan agar perempuan tidak kalah dari kaum pria dalam urusan pendidikan. Motto sekolah itu adalah “menjadikan perempuan pengajar di rumah, di sekolah, dan di masyarakat”. Mereka juga mengajarkan keterampilan untuk kaum putri. “Lembaga pendidikan yang dimotori oleh kaum muda ini mengembangkan cara belajar dan mengajar dengan meniru metode pendidikan modern. Metode pengajaran seperti ini tidak lagi hanya mengandalkan penjelasan dari guru melainkan juga menyebarluaskan penggunaan buku bacaan sebagai sumber ilmu yang lebi penting,” ungkap Sastri Sunarti dalam Kajian Lintas Media: Kelisanan dan Keberaksaraan dalam Surat Kabar Terbitan Awal di Minangkabau . Majalah Pergerakan Tidak hanya membangun sekolah, para kaum muda ini juga menggunakan media yang sedang populer digunakan kelompok-kelompok pergerakan kala itu, yakni surat kabar dan majalah, sebagai sarana pembaharuan di Minangkabau. Mereka banyak menuangkan gagasan-gagasan tentang kemajuan, serta ilmu agama Islam di sana. Pada 1911, terbit majalah Islam pertama di Minangkabau, yaitu Al-Munir . Pelopornya adalah Haji Abdullah Ahmad. Al-Munir banyak menerbitkan berita, opini, serta tulisan-tulisan pendek dari tokoh-tokoh kaum muda. Majalah itu menjadi sarana pertama mereka menyebarluaskan ide-ide tentang kemajuan di ranah Minang. Al-Munir juga banyak menyadur analisis sejumlah tokoh besar Timur Tengah, termasuk tentang kemunduran agama dan dunia Islam yang mengakibatkan dunia Barat mendominasi. “Artikel di majalah ini cukup beragam. Antara lain mencakup masalah-masalah duniawi sampai artikel-artikel yang bersifat filosofis tetapi masih berkaitan dengan masalah agama. Sebagai contoh adalah pengajian masalah-masalah tauhid,” tulis Darwis. Namun usia Al-Munir rupanya hanya seumur jagung. Pada 1916, penerbitannya terpaksa dihentikan karena kurangnya biaya produksi. Selain itu, masih banyak tokoh pergerakan Minang yang tidak maksimal memanfaatkan sarana media massa ini. Sebagai penggantinya, dua tahun kemudian terbit majalah lain, yaitu Munirul Manar , yang penerbitannya dipimpin Zainuddin Labai El Yunusi. Serupa dengan Al-Munir , majalah Munirul Manar juga isinya tidak jauh dari ide ide pembaruan. Bahkan dari tataletak, corak, dan konten dalam majalah hampir seluruhnya sama. Perbedaan yang terlihat hanya pada isi mazhab yang dipakai ketika menjawab soal-soal agama. Jika Al-Munir hanya berlandaskan mazhab Syafi’I, Munirul Manar menjawabnya dengan hampir semua mazhab yang terdapat dalam Islam. Majalah Islam lain yang cukup berpengaruh di Minangkabau adalah Al-Bayan . Majalah ini diterbitkan pertama kali pada 1919 di Bukittinggi di bawah pimpinan Syekh Ibrahim Musa Parabek. Majalah ini selanjutnya berada di bawah naungan Sumatra Thawlib, bersama majalah-majalah Islam lainnya seperti Al-Iman , Al-Ittiqan , Doenia Achirat , Al-Basyir , dan sebagainya. “Masyarakat pendukung majalah-majalah Islam yang terbit di Minangkabau ternyata cukup banyak dan beragam. Masyarakat pembacanya tidak hanya terbatas pada lingkungan Minangkabau sendiri, tetapi jauh lebih luas dari daerah itu. Para pendukung pers Islam ini bukan semata-mata orang-orang ahli dalam bidang agama tetapi juga berasal dari lapisan masyarakat yang awam tentang agama,” ungkap Darwis.
- Senja di Atas Bukit Kapur
MATAHARI sudah condong ke barat. Beberapa menit lagi senja tiba. Muda mudi telah bersiap dengan lensa kameranya. Lalu membidik siluet empat bangunan candi diterpa semburat jingga langit senja. Begitu mempesona dan memanjakan mata. Berdiri pada ketinggian 425 m di atas permukaan laut, kawasan Candi Ijo memang menawarkan panoroma yang indah. Pemandangan sawah. Barisan pegunungan kapur di kejauhan. Langit biru yang luas. Candi Ijo, kompleks percandian bercorak Hindu, berada di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Akses menuju candi ini tak mudah-mudah amat. Cukup curam. Tapi jangan khawatir. Jalannya sudah mulus beraspal. Lahan parkir juga sudah tersedia. Bahkan sudah ada beberapa tempat ngopi di dekat pintu masuk Candi Ijo. Candi ini dinamakan “Ijo” karena berada di atas bukit yang disebut Gumuk Ijo. Puncak Gumuk Ijo berada seratus meter di belakang candi dan jauh lebih tinggi sehingga puncaknya terlihat jelas di belakang candi. Sebuah tempat yang tepat untuk menikmati Senja. Semakin petang angin semakin kencang. Senja mulai menghilang. Muda mudi pun kembali pulang. Di atas bukit kapur itu, kompleks Candi Ijo kembali sunyi. Bukan Poros Alam Semesta Berdasarkan data prasasti yang ditemukan, para ahli memperkirakan Candi Ijo didirikan tahun 850 hingga 900. Entah siapa inisiator pembangunan kompleks bangunan suci ini. Dalam jangka waktu itu di sebuah negeri bernama Mataram telah terjadi beberapa kali pergantian kekuasaan, dari Rakai Pikatan ke Rakai Kayuwangi, lalu Dyah Tagwas, Rakai Panumwangan, Rakai Gurunwangi, Rakai Limus Dyah Dewendra, Rakai Watuhumalang, hingga Rakai Watukara Dyah Balitung. Keberadaan candi di atas bukit kapur dan jauh dari sungai juga terbilang kurang populer kala itu. Mundardjito, arkeolog Universitas Indonesia, dalam disertasinya berjudul “Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Budha di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi-Ruang Skala Makro”, menyebut kebanyakan candi di wilayah Yogyakarta berdiri di daerah yang datar dan landai. Di daerah-daerah semacam itu keleluasaan orang untuk bergerak mudah diperoleh dibanding daerah-daerah yang memiliki lereng miring, agak curam, curam, dan sangat curam. Candi Ijo bersama Situs Ratu Boko, Candi Barong, dan Candi Miri menempati wilayah yang disebut Batur Agung. Wilayah ini termasuk dalam kawasan purbakala Siva Plateu yang merupakan bagian dari rangkaian pegunungan kapur Gunung Kidul. Sementara di dataran rendah, tak jauh dari aliran Kali Opak yang subur, ada Kompleks Candi Prambanan, Sewu, Bubrah, Lumbung, Plaosan, Sojiwan, dan Kalasan. Kata Mundarjito, makin tinggi kedudukan tempat makin sedikit terdapat situs. Sebaliknya,makin rendah ketinggiannya makin banyak terdapat situs. Besar kemungkinan hal itu berkaitan erat dengan jumlah keragaman vegetasi. Sejak dulu orang cenderung memilih kawasan dataran rendah yang memiliki jenis tanaman lebih bervariasi. “Daerah-daerah semacam itu potensial untuk bermukim dan bercocok tanam dengan baik seperti juga terjadi pada masa sekarang,” catatnya. Veronique Myriam Yvonne Degroot, arkeolog dari lembaga penelitian Prancis Ecole Francaise d'Extreme-Orient (EFEO), berpendapat serupa. Dalam disertasinya di Universitas Leiden berjudul “Candi, Space, and Landscape: a Study on the Distribution, Orientation, and Spatial Organization of Central Javanese Temple Remains”, Degroot menyebut lokasi Candi Ijo yang jauh dari dataran subur membedakannya dari banyak peninggalan candi di Jawa Tengah lainnya. Di sisi lain, keberadaan Candi Ijo di punggung bukit menyampaikan kesan yang berbeda dari candi-candi di puncak bukit. Candi Ijo bukanlah puncak Gunung Meru, gunung suci dalam kosmologi Hindu dan dianggap sebagai pusat alam semesta. Gunung ini merupakan tempat bersemayam para dewa. Sama seperti Ratu Boko, Dieng atau Gedong Songo, kata Degroot, “ada kemungkinan tempat ini mungkin merupakan tempat ziarah atau situs yang didedikasikan untuk praktik pertapaan.” Tata ruang Candi Ijo pun sama sekali berbeda. Kalau kata arkeolog Edi Sedyawati dkk dalam Candi Indonesia : Seri Jawa pola dan tata letak kompleks Candi Ijo mengingatkan pada pemujaan tradisi megalitik, jauh sebelum masuknya pengaruh India. Dibanding Candi Prambanan dengan tata letak konsentris, Candi Ijo tersusun pada 11 halaman berbentuk teras berundak dari barat ke timur. Di dalamnya ada 17 struktur bangunan. Teras paling suci sekaligus paling tinggi berada paling timur. Di sini terdapat empat candi yang biasa menjadi tempat wisatawan berfoto. Satu candi yang paling besar disebut candi induk. Napas Hindu terlihat pada keberadaan arca Agastya, Ganesa, dan Durga di dalam relung dindingnya. Sementara kalau masuk ke dalam bilik, terdapat sepasang lingga-yoni yang menjadi lambang Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Di hadapan candi induk, berjajar tiga candi perwara yang berukuran lebih kecil dan diduga dibangun untuk memuja Trimurti: Brahma, Wisnu, dan Siwa. Candi perwara yang berada di tengah melindungi arca lembu Nandini, kendaraan Dewa Siwa. Berdasarkan peninggalan-peninggalannya, Edi Sedyawati dkk memastikan bahwa kompleks Candi Ijo merupakan bangunan suci untuk pemujaan yang berlatar agama Hindu. Penanaman ribuan pohon di area Candi Ijo. (Dok. Bakti Lingkungan Djarum Foundation). Gerakan Candi Darling Dari kejauhan, Candi Ijo dikelilingi pepohonan hijau. Tapi begitu memasuki areal kompleks candi, yang terlihat bangunan candi berdiri di tanah yang gersang. Apalagi jika musim kemarau. Hanya sedikit pepohonan rindang tumbuh di area ini, yang dimanfaatkan pengunjung untuk berteduh dan beristirahat. Candi Ijo butuh penghijauan. Namun pemilihan tanamannya pun harus tepat. Menurut Bernadus Punta Patria Saksono dalam tugas akhirnya di Universitas Gadjah Mada berjudul “Komposisi Jenis Tingkat Tiang dan Pohon Penyusun Hutan Rakyat di Sekitar Kawasan Candi Ijo Yogyakarta”, pemilihan jenis tanaman harus memperhatikan jenis perakarannya agar tidak merusak situs tersebut. Tanaman hias yang punya nilai estetika bisa dipilih untuk memperindah sekaligus meningkatkan daya tarik dari candi tersebut. “Adapun tanaman penghias yang dapat ditanam dengan kondisi topografi miring serta untuk mempertahankan tapak agar tidak tererosi maka diberikan tanaman yang mampu menahan dan memperkokoh tanah. Tanaman tersebut dapat berupa angsana, flamboyan, bungur, johar, kupu-kupu, sikat botol, dan asoka,” catat Bernadus. Seribu tanaman perdu dan semak berbunga pun telah ditanam tahun lalu untuk mempercantik kawasan Candi Ijo. Di antaranya soka, ruellia, dan melati. Penanaman dilakukan melalui Gerakan Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan) atas inisiasi Bakti Lingkungan Djarum Foundation dengan menggandeng ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di wilayah Yogyakarta. “Selain akan mempercantik wilayah Situs Ratu Boko dan Candi Ijo, gerakan ini diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk semakin mencintai dan mempelajari warisan sejarah yang ada di Indonesia,” ungkap Tri Hartini, ketua unit kerja situs Ratu Boko dan Candi Ijo Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY, yang ikut mengapresiasi kegiatan ini.
- Sharon Stone dalam Bayang-bayang Simbol Seks
FOUNDATION memang bisa sedikit menutupi kerut-kerut di wajahnya. Namun, tulang pipinya yang begitu menonjol menunjukkan usianya sudah tak lagi muda, 62 tahun. Begitulah Sharon Stone kini, yang masih tetap cantik dan ceria. Lama menghilang dari dunia entertainment , Sharon masih dilekati citra sebagai simbol seks. Itu diakuinya ketika berbincang secara daring di program “Mola Living Live” yang dipandu aktor Reza Rahadian dan sineas Rayya Makarim di Mola TV , Sabtu, 7 November 2020. Sharon tak kuasa menghindari citra tersebut meski sekarang tampak kurang nyaman dengannya. Itu diperlihatkannya ketika menjawab pertanyaan Rayya, bagaimana sulitnya mendapat peran lain yang tidak mendefinisikan dia sebagai simbol seks dan berapa lama imej itu mengikuti kariernya. “Selamanya, hahahaha…,” cetus Sharon. Citra simbol seks Sharon muncul setelah dia memerankan tokoh Catherine Tramell di Basic Instinct (1992). Peran itu pula yang membuat namanya meroket.. Sharon Stone berbagi kisah via daring. (Tangkapan layar Mola TV). Tak Disetujui Orangtua Lahir di Meadville, Pennsylvania, 10 Maret 1958, Sharon Vonne Stone merupakan anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Joseph William Stone II dan Dorothy Marie Lawson. Sharon tumbuh sebagai anak yang cerdas secara akademik. “Saya sudah bisa duduk di kelas dua sekolah dasar pada usia lima tahun. Pada umur 15, saya kuliah di perguruan tinggi (Tes IQ: 154).” kenang Sharon yang berkuliah di jurusan Seni dan Sastra Universitas Edinboro berkat beasiswa itu. Sebagai anak yang membanggakan kedua orangtuanya, Sharon membuat mereka terkejut ketika mulai terjun ke dunia hiburan sebagai model usai menjuarai kontes kecantikan Miss Crawford County, Pennsylvania saat masih berkuliah. Ayahnya yang seorang manajer pabrik dan ibunya yang seorang akuntan menyayangkan keputusan Sharon itu. “ Mereka (orangtua) sangat cemas dan takut. Mereka enggak bisa terima dengan baik keputusan saya. Menurut ayah saya, itu hanya menyia-nyiakan bakat dan kecerdasan saya, ” sambungnya. Potret-potret masa kecilnya bersama sang ibu, Dorothy Marie Lawson. (Instagram @sharonstone). Namun, orangtua Sharon pada akhirnya dengan berat hati menerima keputusan anaknya. Terlebih, keluarganya tengah diterpa prahara.Michael Stone, kakak Sharon, dipenjara akibat kasus narkoba. “Menurut ayah saya, saya dibolehkan pergi agar saya bisa ganti suasana dan keluar dari masalah keluarga. Kakak saya menjadi bandar kokain dan ditangkap. Jadi orangtua saya merasa karena krisis di keluarga itulah mereka mengizinkan saya pergi ke New York untuk mencari pekerjaan sembari tetap kuliah,” sa mbu ng nya. Di New York petualangan Sharon di dunia fesyen dimulai dengan bergabung di Ford Modeling Agency pada 1977. Sharon mulai sering menjadi bintangiklan. Beragam produk, mulai sampo hingga berlian, iklannya dia bintangi. Kemampuan ekonomi yang terus membaik seiring naiknya reputasi Sharon sebagai model juga mendorong Sharon sering berpindahtempat tinggal.Dari New Jersey, Sharon pindah ke New York, lalu Milan (Italia), dan akhirnya Paris (Prancis). Kolase masa ke masa Sharon Stone hingga terjun ke dunia modeling. (Instagram @sharonstone). Akan tetapi, capaian itu tak membuat Sharon puas. Sebab, satu impiannya, yakni dunia seni peran, belum berhasil digapainya. “Walau dia mulai terkenal di modeling dan punya bayaran besar dari agensi-agensi model, Sharon Stone memutuskan berhenti jadi model di usia 22 tahun dan mengejar karier yang selalu diimpikannya: akting. Faktanya keputusan itu diambil tiba-tiba setelah mengambil pekerjaan modeling di Paris,” tulis Brad Dunn dalam When They Were 22: 100 Famous People at the Turning Point in Their Lives. Setelah mengepak koper dan kembali ke New York, Sharon mendapat kesempatan mewujudka n mimpin ya dengan menjadi pemeran ekstra dalam film garapan Woody Allen, Stardust Memories . D i d ua film berikutnya, Deadly Blessing dan Les Un et les Autres , Sharon juga masih jadi figuran yang namanya ta k dicantumkan dalam credit . “Saya akui saat saya muda, saya tidak memilah-milah pekerjaan. Saya menemukan nilai-nilai dalam setiap pekerjaan. Saya hanya ingin bekerja dan bersyukur punya pekerjaan. Memang tidak semuanya bagus. Tapi kemudian butuh waktu lama untuk memvalidasi dan melindungi diri saya sebagai seorang profesional. Terlebih, sulit bagi perempuan saat itu untuk menolak tawaran apapun, ketika kita sangat mengharap mendapat peran,” aku Sharon. Berkatkerja kerasnya,perlahan nama Sharon mulai dikenal.Selangkah demi selangkah dia mendapat peran pendukung yang namanya mulai dicantumkan dalam credit film. Seperti di Irreconcilable Differences (1984), Police Academy 4: Citizens on Patrol (1987), dan Total Recall (1990) yang dibintangi Arnold Schwarzenegger dan disutradarai Paul Verhoeven. Melejit Berkat Basic Instinct Duabelas tahun berkarier di Hollywood, nama Sharon belum benar-benar populer. Kesempatan untuk mendongkrak popularitasnya diperoleh Sharon ketika dia dipilih Verhoeven untuk memerankan Catherine Tremmel, tokohdalam film Basic Instinct yang disutradarainya. Jalan yang dilalui Sharon untuk bisa memerankan tokoh sosiopat atau antisosial yang kemudian menjadi pembunuh berantai itu bukanlah jalan yang mulus. Aktor utama lainnya, Michael Douglas, yang memerankan Detektif Nick Curran, sempat mengusulkan kepada sutradara dan produser agar memilih aktris lainyang namanya sudah populer ketimbang Sharon. Kim Basinger, Julia Roberts, Greta Scacchi, hingga Meg Ryan merupakan nama-nama yang direkomendasi Douglas. “Saya butuh seseorang (aktris, red .) yang mau berbagi risiko dalam film ini. Saya tidak ingin sendirian membintanginya. Karena pasti akan ada banyak hal yang terjadi,” kenang Douglas saat diwawancara Jane Warren untuk The Express , 29 Maret 2011. Namun semua aktris rekomendasi Douglas itu menolak setelah melihat naskah film. Pun dengan Michelle Pfeiffer, Demi Moore dansederet nama lain yang diajukan pihak produser. Penolakan terjadi karena karakter Catherine sangat kontroversial dan akan banyak melakukan adegan “panas”. Maka meski telah menggelar serangkaian audisi panjang, Verhoeven akhirnya tetap menjatuhkan pilihan pada Sharon untuk film bergenre erotic thriller itu. “Saya menjalani audisi untuk peran itu selama delapan sampai sembilan bulan. Jadi ketika mendapatkan perannya, saya sudah sangat siap. Karena saya membongkar naskahnya ribuan kali. Saya simpan naskahnya di kulkas. Jadi ketika ingin ambil makanan, naskah itu seolah berkata: ‘Tidak! Kamu tidak boleh makan karena kamu harus membuka pakaian di film itu. Jadi tutuplah kulkasnya dan pergi ke (olahraga) treadmill,’ ” kata Sharon. Selain bolak-balik membuka naskah, Sharon juga mendalami perannya dengan berinisiatif melakukan observasi dan investigasi sendiri. “Saya mewawancara para pelaku (pembunuh berantai) di penjara. Saya juga menonton kembali film-film tentang pembunuhan berantai. Lalu saya banyak membaca tentang Joan of Arc dari buku Bernard Shaw dan karakter lain di (buku Darkness Visible ) William Styron. Saya ingin melihat hal-hal apa saja yang mendorong karakter-karakter di buku itu dalam segala tindakannya. Apa yang dilakukannya demi tujuan yang lebih besar atas restu kekuatan yang juga lebih besar di atas sana,” tambahnya. Ketenaran Sharon Stone yang melejit lewat film Basic Instinct. (TriStar Pictures). Lebih lanjut Sharon mengatakan, “Saya juga ingin membangun trauma dalam karakternya (Tramell). Karena ketika melihat karakternya sangat halus, tak bercela, pasti sebenarnya mereka menutupi sesuatu. Tiada manusia yang sempurna. Jadi saya mencari pendalaman untuk karakter itu mengintimidasi lawannya,” lanjut Sharon. Terlepas dari kontroversi akibat adegan-adegan syur dan vulgar, Basic Instinct meledak di pasaran. Sharon sendiri mendapat nominasi Golden Globe sebagai aktris utama terbaik.Reputasi Sharon seketikameroket. Diajadi pujaan, bahkan simbol seks di mata publik. “Efeknya besar sekali dalam karier saya. Karena pada satu hari saya hanya aktris yang sedang berjuang, tiba-tiba, boom , jadi box office . Film itu jadi perubahan besar dalam hidup saya. Sebelumnya saya berperan di Total Recall tapi tidak ada yang ingat saya. Tapi setelah Basic Instinct , orang baru ingat kembali,” ujarnya. Setelah itu, Sharon merasa seperti terpenjara popularitas. Selama 10 tahun berikutnya ia sampai tak bisa ke mana-mana tanpa dikenali orang awam. Label sebagai simbol seks telah melekat pada dirinya, bahkansampai saat ini. “Saya 62 (tahun)! Orang-orang masih ingin melihat payudara saya. Benar-benar deh. Dewasalah! Saya sendiri tak pernah menganggap diri saya seksi. Saat berperan di Basic Instinct , saya mengeksplorasi dan bahkan berteman dengan sisi gelap saya. Saya menjadi pemberani terhadap diri saya sendiri. Saya pikir itu yang membuat orang melihat saya seksi,” cetusnya kepada Hollywood Unlocked , 16 September 2020. Sharon Stone turut membintangi film The Quick and the Dead. (Instagram @sharonstone). Imej simbol seksitu merugikan Sharon. Publik selalu menginginkan karakter lebih vulgar dari Sharon. Imej itu juga menimbulkan kritik bagi para feminis. Akibatnya, beberapa film Sharon berikutnya gagal di pasaran.Publik seolah tak puas dengan karakter-karakter yang dimainkan Sharondi film Sliver (1993), Intersection (1994), The Quick and the Dead (1995), dan bahkan sekuel Basic Instinct 2 (2006).Di Intersection , Sharon bahkan dianugerahi Golden Raspberry Award untuk kategori Aktris Terburuk. “Publik tidak tertarik dengan Sharonsebagai seorang aktris, namun sebagai sesosok karakter. Lalu Sharon kembali mendaratkan pukulan bagi kaum perempuan dengan menembaki seorang pria chauvinis dengan pistol besarnya,” tulis Ben Thompson dalam ulasannya mengenai film The Quick and the Dead dalam majalah Sight & Sound edisi September 1995. Sharon menjadi bagian dari aktris yang dikiritik jurnalis cum feminis Suzanne Moore sehubungan dengan bermunculannya film-film yang menghadirkan simbol seks untuk mendongkrak imej perempuandi era 1990-an.Selain film yang dibintangi Sharon, film-film yang dikritik itu antara lain Pretty Woman (1990), yang dibintangi Julia Roberts; Batman Returns (1992), di mana Michelle Pfeiffer berperan sebagai Catwoman; Indecent Proposal (1993) yang dibintangi Demi Moore dan Robert Redford . Menurut Suzanne, film-film itu justru bertolak-belakang dengan nilai-nilai feminisme itu sendiri. “Apa maksudnya yang dilakukan simbol seks di era 1990-an, saya bertanya-tanya? Menjual diri kepada Robert Redford seharga sejuta dolar? Merangkak dengan kostum lateks ala Pfeiffer atau menyerahkan diri kepada klien terkaya seperti Julia Roberts di Pretty Woman ? Dalam konteks ini, tak diragukan lagi Stone berhasil hanya berdasarkan satu film. Apa yang ia jual kepada kita jauh lebih seksi daripada seks itu sendiri. Lebih seperti zat perangsang, sebuah fantasi akan suatu kekuatan,” kata Suzanne dikutip Jacinda Read dalam The New Avengers: Feminism, Feminity and the Rape-Revenge Cycle. Sosok filantropis Terlepas dari kariernya di dunia peran yang sudah membintangi 65 film, termasuk What About Love yang masih dalam tahap pascaproduksi (rencana rilis 2021) serta 29 drama seri televisi, Sharon merupakan sosok filantropi.Pada 2005,saat malaria merebakdi Tanzaniahingga UNICEF turun tangan, Sharon turut membantu dengan menggalang dana untuk membantu penyediaan jaring-jaring nyamuk rakyat Tanzania. Upayanya berhasil mendapatkan USD 250 ribu. Sharon juga vokal terhadap sejumlah isu HAM dunia.Pada Maret 2006, ia aktif mempromosikan perdamaian di Timur Tengah, khususnya terkait konflik Palestina-Israel.Sharon juga lantang memprotes China ketika pemerintah negeri itu melancarkan aksi-aksi persekusi, kekerasan, hingga penculikan menyusul demonstrasi besar di Tibet. Pada 2013, Sharon menerima Peace Summit Award di World Summit of Nobel Peace Laureates XIII setelah berhasil menggalang dana ratusan juta dolar bersama American Foundation untuk proyek riset AIDS. D u a tahun berikutnya dia menerima Pilosio Building Pace Award akibat berhasil menggalang dana p embangun an 28 sekolah di Afrika. Tak jarang Sharon Stone memanfaatkan ketenarannya untuk kemanusiaan. (Instagram @sharonstone). Proyek itu gagasannya datang tiba-tiba. Menurut Grant Schreiber dalam Real Leaders , pada 17 September 2015, sebelum penganugerahan Sharon di KTT Nobel 2013, Sharon didatangi seorang pengusaha di belakang panggung untuk diminta foto bersama. Sharon lantas menyatakan bersedia dengan syaratsi pengusaha mau membangun dua sekolah di Afrika. Pengusaha itu setuju. “Saat dia bilang bahwa namanya Joe, hal itu sangat dalam mem p engaruhi saya karena itu nama dari mendiang ayah saya dan saya tahu bahwa dia ingin saya datang malam ini dan mengatakan bahwa Joe akan membangun dua sekolah,” ujar Sharon dikutip Schreiber. Sharon langsung mengumumkannya di atas panggung usai menerima penghargaan Peace Summit Award.Dia juga menawarkan kepada pihak lain untuk berbuat serupa Joe. “Siapa lagi yang mau membangunkan sebuah sekolah bersama saya? Siapapun yang berjanji mau membangunkan sebuah sekolah, nantinya akan makan malam bersama saya,” kata Sharon di atas panggung. Dalam lima menit, sejumlah hadirin pun bersedia berdonasi.Alhasil, 28 sekolah baru dibangun di Afrika dan rampung pada 2015 sebelum Sharon menerima penghargaan Pilosio.
- Arnold Mononutu, Putra Minahasa jadi Pahlawan Nasional
“Tulis, tulis di situ, pada biografiku, bahwa aku betul-betul bermental kolonial,” kata Arnold Mononutu kepada Ruben Nalenan ketika hendak menulis biografinya. Biografi berjudul Arnold Mononutu, Potret Seorang Patriot itu kemudian terbit pada 1981 dan Nalenan menuliskan dengan jujur siapa Mononutu. Tanpa menutupi bagian-bagian minus dari sang tokoh, sesuai keinginan Mononutu sendiri. Begitulah Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu. Pria kelahiran Manado, 4 Desember 1896 ini menyadari bahwa ia pernah menjadi seorang yang sangat bermental kolonial. Ayahnya adalah elite Minahasa yang bekerja sebagai pegawai keuangan pemerintah Hindia Belanda. Beragam keistimewaan bisa dinikmatinya. Terutama soal pendidikan, Mononutu mendapat jalan yang lebar. Tamat dari Hollandsch-Inlandsche School (HIS), ia melanjutkan ke Middelbare Handels School di Jakarta hingga 1920. Ia kemudian ke Belanda untuk studi perbandingan kesusastraan Inggris, Belanda dan Prancis (1920-1924). Menurut Sunario dalam Arnold Mononutu, Ayam Jantan dari Indonesia Timur , Mononutu suka bergaul dengan orang-orang Belanda serta dansa-dansi dengan noni-noni. Kehidupan di Belanda awalnya memang membuai Mononutu. “Bahkan ia suka hidup ‘parlente’ seperti Alex Maramis, Latuharhary, yang di antara kami dapat julukan boulevardier (yang suka melancong sepanjang trotoar jalan raya), selalu memakai kaus tangan sambil memegang tongkat di tangannya,” tulis Sunario. Namun, lambat laun ia mulai memiliki perhatian terhadap politik. Selain mulai sering mengunjungi ceramah dan kuliah Akademi Hukum Internasional di Vradespaleis, Den Haag, Mononutu bergaul dengan para pelajar seperti Ahmad Subardjo, Hatta, hingga Cipto Mangunkusumo. Mononutu juga sempat kuliah hukum internasional di Ecole Libre des Sciences Politique et Morales, Paris. Selama kuliah di Paris, ia menjabat sebagai wakil ketua Perhimpunan Indonesia (PI) cabang Paris. Peran penting yang dimainkannya selama periode ini adalah berusaha menjalin komunikasi dengan pelajar-pelajar Asia lain. Pasalnya, di Prancis mereka tidak menggunakan bahasa Inggris. Sementara, Mononutu menguasai tiga bahasa: Inggris, Belanda, dan Prancis. Setelah kembali ke Indonesia, pada 1927 Mononutu menjadi anggota Partai Nasional Indonesia. Ia turut bicara dalam rapat terbuka di Logegebouw yang dipimpin HOS Tjokroaminoto. Mononutu mengecam Belanda karena menahan empat mahasiswa Indonesia di Den Haag. Ia kemudian juga mengumpulkan bantuan dana untuk para mahasiswa di Belanda. Dalam Kongres Pemuda II, Mononutu turut dalam braintrus yang diadakan sebelum kongres. Sebagai tokoh Minahasa, Mononutu mewakili Persatuan Minahasa dalam kongres yang melahirkan Sumpah Pemuda itu. Pasca-kemerdekaan, Mononutu memimpin redaksi Menara Merdeka di Ternate sambil memimpin Gabungan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Indonesia Timur. Dalam Konferensi Meja Bundar, ia hadir sebagai Wakil Ketua Parlemen Negara Indonesia Timur (NIT) dan wakil dari Fraksi Progresif. Pada 18 Februari 1948, sebagai Ketua Misi Muhibah Parlemen NIT ke Yogyakarta, Mononutu menyatakan bahwa NIT berbulat tekad untuk bergabung dengan Republik Indonesia. Menteri Penerangan RIS Arnold Mononutu (kiri) menyampaikan ucapan selamat kepada Moh. Roem yang dilantik sebagai perwakilan RIS di Komisaris Tinggi Belanda, 22 Januari 1950. (ANRI). Setelah Republik Indonesia Serikat berdiri, Mononutu dipercaya menjadi menteri penerangan Kabinet RIS. Peran Mononutu semakin penting mengingat Republik tengah menghadapi Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), pemberontakan Andi Aziz, dan Republik Maluku Selatan pimpinan Dr. Soumokil. Ia kembali diangkat menjadi menteri penerangan dalam Kabinet Sukiman dan Kabinet Wilopo sebelum diangkat menjadi Duta Besar RI di RRT Pada 1953. Setelah itu, Mononutu menjadi anggota Konstituante. Di Konstituante, Mononutu aktif memperjuangakan hak-hak agama minoritas. Mohammad Natsir menyebutnya seorang Kristen yang nasionalis. Natsir sepaham dengan Mononutu mengenai desekulerisasi Pancasila. Sila pertama mesti sebagai dasar dari sila-sila yang lain sehingga membuat Pancasila tidak hanya bersifat materialistis. “Natsir menganggap tafsir Mononutu itu sebagai tafsir dan penilaian baru –malah yang paling terbaru– terhadap Pancasila, setelah berbagai penafsiran sejak tahun 1945,” tulis Lukman Hakiem dalam Biografi Mohammad Natsir. Namun, Mononutu dan Natsir bersilang pendapat terkait Islam sebagai dasar negara. Jika Islam menjadi dasar negara, Mononutu sangat khawatir hak-hak agama minoritas akan hilang. Diskriminasi juga akan terjadi terutama terkait kepemimpinan maupun jabatan di pemerintahan. Di masa Demokrasi Terpimpin, Mononutu menjadi anggota MPRS (1962) dan Anggota Dewan Pertimbangan Agung (1964-1966). Sempat menjadi rektor Universitas Hasanuddin (1960-1965), Mononutu terakhir menjabat sebagai Pegawai Tinggi Utama Madya yang diperbantukan pada Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP). Mononutu meninggal dunia pada 5 September 1983 dan dimakamkan di TMP Kalibata. Ia menjadi salah satu yang terakhir dari generasi Hatta dan kawan-kawan. Pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2020, Almarhum Mononutu mendapat gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Joko Widodo.
- Gubernur Soerjo di Palagan Surabaya
“Kita ini bangsa yang besar, tundukkan kompeni, kalahkan tentara Inggris. Kita harus menjaga kehormatan Bangsa Indonesia. Tunjukkan pada tentara Inggris bahwa kita bangsa Indonesia benar-benar ingin merdeka. Merdeka atau mati! ”. Penggalan kalimat itu, sebagaimana dikutip Abdul Waid dalam Bung Tomo , dibacakan Bung Tomo di hadapan ribuan rakyat Surabaya pada pidato 10 November 1945, kala perang melawan Inggris pecah di Kota Pahlawan itu. Kepiawaian Bung Tomo memimpin rakyat Surabaya terbukti mampu membakar semangat perlawanan terhadap kaum penjajah dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Dia juga dikenal sebagai pejuang terkemuka Surabaya, yang namanya kerap diidentikan dengan peristiwa 10 November 1945 di ibu kota Provinsi Jawa Timur tersebut. Namun perlu diketahui, tokoh penting di palagan Surabaya itu tidak hanya Bung Tomo seorang. Ada begitu banyak arek Suroboyo yang mencurahkan seluruh waktu, jiwa, dan raganya untuk memperjuangan kemerdekaan di tanah kelahirannya tersebut. Perjuangan mereka sama-sama besar nilainya. Dan di antara tokoh-tokoh itu, satu nama yang kiranya mesti diingat jasa-jasanya selama perang Surabaya adalah RMT. Ario Soerjo, atau sering juga dipanggil Gubernur Soerjo. Riwayat Perjuangan Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo lahir di Magetan, Jawa Timur, pada 9 Juli 1895. Ayahnya, Raden Mas Wiriosoemarto, menjabat jaksa di Magetan. Sementara ibunya, Raden Ayu Koestiah, merupakan adik bupati Madiun kala itu, Raden Ronggo Koesnodiningrat. Sebagai anak dari keluarga terpandang, sejak kecil Ario Soerjo telah mendapat pendidikan yang baik. Pendidikan formal tingkat dasarnya dimulai di Tweede Indlandsche School di Magetan, dan HIS. Soerjo lalu melanjutkan sekolah ke pendidikan pamongpraja (OSVIA) di Madiun. Setelah lulus tahun 1918, ia ditempatkan di Ngawi sebagai pegawai pemerintahan untuk urusan pribumi. Pada 1923, Soerjo mendapat tawaran pendidikan di Sekolah Polisi di Sukabumi, Jawa Barat. Setelah kurang lebih tujuh tahun mengenyam pelatihan kepolisian, Soerjo lanjut menimba ilmu pemerintahan dan kepamongprajaan, selama dua tahun, di Bestuuracademie di Batavia. Selepas pendidikan di Batavia, Soerjo ditempatkan di Mojokerto. Kemudian tahun 1933, ia diangkat menjadi wedana di Porong, Sidoarjo. Setelah menjabat wedana selama lima tahun, pada 1938 Soerjo menduduki jabatan bupati di Magetan. “Sorjo dikenal sebagai seorang bupati yang berani dan tegas. Sikapnya selalu terbuka dan bersifat melindungi sehingga ia sangat dicintai oleh rakyat Magetan. Rakyat juga menaruk kepercayaan kepada tokoh ini sebagai bupati mereka yang terkenal berani membela rakyatnya,” ungkap Susanto Zuhdi, dkk dalam Tokoh-tokoh Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia Vol. 1 . Sewaktu pendudukan tentara Jepang terjadi pada 1942, ia diberi jabatan syucokan atau residen di Bojonegoro. Jabatan itu, kata Susanto, kekuasaannya setara dengan gubernur, tetapi daerah pemerintahannya hanya sebatas keresidenan. Selain itu, hanya sedikit orang Indonesia saja yang dipercaya oleh Jepang memangku jabatan seperti Soerjo itu. Pada saat pemerintah pendudukan Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Soerjo terpilih sebagai anggota yang diangkat langsung pemerintah Jepang. Setelah proklamasi, Soerjo diberi jabatan gubernur Jawa Timur. Ia tercatat sebagai tokoh yang turut berjuang menggelorakan semangat rakyat Surabaya pada peristiwa 10 November 1945. Sebagai Gubernur Usai pernyataan kemerdekaan oleh Sukarno-Hatta di Jakarta pada 17 Agustus 1945, Soerjo diangkat menjadi gubernur Jawa Timur pertama. Banyaknya penglaman di pemerintahan, sebagai wedana dan bupati, membuat pengangkatan Soerjo dianggap tepat untuk menjaga kondisi tetap aman di sisi Timur pulau Jawa. Segera setelah memangku jabatan gubernur, Soerjo membersihkan sisa-sisa pasukan Jepang di Surabaya. Sekira bulan September, gubernur Soerjo mendengar kabar akan kedatangan pasukan Inggris (Sekutu), sebagai pemenang perang, ke Indonesia dalam rangka pelucutan persenjataan milik tentara Jepang, serta pembebasan tahanan perang, sekaligus mengembalikan pemerintahan ke tangan kolonial Belanda. Diceritakan Frank Palmos dalam Surabaya 1945: Sakral Tanahku , kabar itu membuat gubernur Soerjo tidak senang. Ia tidak ingin terjadi konflik di wilayahnya. Untuk itu, selama masa persiapan menghadapi Inggris, gubernur Soerjo berusaha mengumpulkan senjata bekas tentara Jepang dan menampung bekas tahanan dalam keadaan siap dipulangkan. Ia sekuat tenaga mencegah kemungkinan masuknya tentara Inggris ke dalam kota Surabaya. Sang gubernur bertekad meyakinkan petinggi Inggris bahwa pasukan republik di Surabaya telah melaksanakan tugas melucuti persenjataan Jepang. “Karena itu, Pak Soerjo tidak berusaha menghalang-halangi mendaratnya Inggris. Sebuah rombongan penyambutan bahkan dikirim untuk mengalungkan rangkaian bunga pada sejumlah petinggi militer Inggris. Namun rupanya petinggi senior Inggris seperti Jenderal Christison, Hawtorn, dan Brigadir A.W.S. Mallaby yang baru ditunjuk memiliki rencana lain,” tulis Palmos. Rencana para jenderal Inggris itu membuat usaha gubernur Soerjo mencegah pertempuran menjadi percuma. Sejak awal para Sekutu memang sudah merencanakan pendudukan di Surabaya. Bahkan pada 8 November, Mayor Jenderal E.C. Mansergh menyatakan bahwa Inggris tidak mengakui jabatan Ario Soerjo sebagai gubernur Jawa Timur. Sang jenderal juga menuduh gubernur Soerjo dan jajarannya gagal menjalankan kesepakatan pusat, yakni menghalang-halangi tugas Sekutu melucuti senjata Jepang dan mengevakuasi warga Eropa. Sejak itu, ditambah penolakan atas panggilan Mallaby, hubungan gubernur Soerjo dan petinggi Inggris di Surabaya semakin memburuk. Inggris bersikeras menuduh rakyat Surabaya telah melakukan kekerasan dan berbuat onar. Tuduhan itu membuat berang gubernur Soerjo. Maka di dalam sebuah pidato, Ario Soerjo mengajak rakyat Surabaya untuk bersatu dan berani menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi dengan pihak Inggris. “Semua usaha kita untuk berunding senantiasa gagal. Berulang-ulang telah kita kemukakan bahwa sikap kita ialah: lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris kita akan memegang teguh sikap ini. Kita tetap menolak ultimatum itu. Dalam menghadapi segala kemungkinan besok pagi, mari kita semua memelihara persatuan yang bulat antara pemerintah, rakyat, TKR, polisi, dan semua badan-badan perjuangan pemuda dan rakyat kita,” kata Ario Soerjo. Pidato gubernur Soerjo, kata Palmos, disampaikan dalam nada seirus mirip gaya berpidato PM Inggris Churchill semasa Perang Dunia II. Penyampaiannya terdengar terhormat dan berwibawa. Setiap tutur katanya pun teratur, serta mudah ditangkap maknanya. Berbeda jauh dengan pidato Bung Tomo yang berapi-api dan berdarah-darah. Sebagaimana diketahui pertempuran di Surabaya baru berakhir pada 20 November 1945. Gubernur Soerjo kala itu masih memimpin Jawa Timur dan turut membantu membersihkan kekacauan pasca perang besar di daerahnya. Selepas dari jabatannya, Ario Soerjo ditunjuk Presiden Sukarno menjadi Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada Juni 1947. Namun nahas, pada November 1948, Ario Soerjo tewas dibunuh di Kali Kakah, Ngawi, oleh para simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan Moeso.
- Sukarno, Pan Am, dan CIA (2)
TELEVISI ABC menayangkan film seri tentang maskapai penerbangan Amerika Serikat, Pan Am, tahun 1960-an . Fokus ceritanya pada para pramugari, yaitu Maggie Ryan (Christina Ricci), Kate Cameron (Kelli Garner), Laura Cameron (Margot Robbie), dan Collete Valois (Karine Vanasse). Masing-masing memiliki karakter dan peran berbeda. Bahkan, Kate Cameron bekerja pada CIA (Central Intelligence Agency atau Dinas Intelijen Amerika Serikat) untuk menyampaikan informasi atau barang rahasia kepada agen yang ditempatkan di berbagai negara termasuk Indonesia. Di salah satu episode, dia menyerahkan barang rahasia kepada agen CIA di Jakarta.
- Siapa Ayah dan Ibu Kamala Harris?
DENGAN mata berkaca-kaca terharu, Shyamala Gopalan tampak fokus memperhatikan kata per kata dari serangkaian kalimat sumpah yang diucapkan Hakim Agung California Ronald M. George. Di hadapan sang hakim, berdiri sosok putri sulungnya, Kamala Devi Harris, yang tangan kanannya diangkat dan tangan kirinya memegang sebuah Alkitab. Momen itu jadi kebanggaan besar terakhir yang disaksikan Shyamala atas pencapaian putrinya. Kala itu, awal Januari 2004, Kamala mengucapkan sumpah dalam pelantikannya sebagai jaksa Distrik San Francisco. “Kamala D. Harris adalah perempuan dan Afro-Amerika pertama yang terpilih menjadi jaksa distrik di San Francisco. Ibunya ikut mengamati saat upacara pelantikannya. Jaksa distrik yang baru ini adalah jaksa veteran dengan pengalaman 13 tahun. Sebelum momen bersejarah itu, sosok berusia 39 tahun tersebut memimpin Divisi Pelayanan Rumah Tangga dan Anak-anak di kantor kejaksaan kota,” tulis majalah Ebony edisi Maret 2004. Namun sang ibu tak lagi mendampingi ketika Kamala dilantik jadi Jaksa Agung California pada 2011, anggota Senat Amerika Serikat pada 2017. Pun nanti pada saat Kamala dilantik sebagai wakil presiden (wapres) Amerika. Shyamala wafat lima tahun setelah pelantikan Kamala jadi jaksa Distrik San Francisco. Kamala Harris (kanan) saat disumpah menjadi Kepala Jaksa Distrik San Fransisco. (Majalah Ebony edisi Maret 2004). Kamala tercatat jadi wapres Amerika perempuan keturunan Asia-Afrika pertama, setelah bersama Joe Biden memenangi Pilpres Amerika 2020. Pasangan Biden-Kamala dari Partai Demokrat unggul atas pasangan Donald Trump-Mike Pence dari Partai Republik dengan electoral votes 290 (batas pemenang 270) berbanding 214. “Saya berterimakasih kepada perempuan yang paling bertanggungjawab atas eksistensi saya di sini, ibu saya, Shyamala Gopalan Harris. Saat dia datang ke sini dari India di usia 19 tahun, mungkin dia takkan membayangkan momen ini. Namun dia sangat percaya pada Amerika di mana momen seperti ini adalah hal yang mungkin,” ujar Kamala, disitat NDTV , Minggu (8/11/2020). “Saya memikirkan dia dan generasi perempuan, perempuan kulit hitam, Asia, putih, Latin, perempuan pribumi Amerika sepanjang sejarah negeri ini yang telah membuka jalan untuk momen malam ini,” sambungnya dalam pidato pertamanya sebagai wapres terpilih. Sebagaimana Barack Obama, Kamala adalah representasi keragaman etnis dan ras yang bercampur-baur di negeri Paman Sam. Kamala yang lahir 57 tahun lampau adalah buah hati sejoli imigran yang punya asal-usul dari dua belahan bumi berbeda berjarak 15 ribu kilometer. Ibu dari Kasta Brahmana Shyamala merupakan satu dari empat bersaudara yang dilahirkan pasangan suami-istri (pasutri) Rajam Ayyar dan P.V. Gopalan pada 7 April 1938 di Madras (kini Chennai), ibukota Negara Bagian Tamil Nadu. Meski tumbuh di tengah keluarga Hindu berkasta Brahmana, ayah Shyamala tak pernah membelenggu pemikiran terbuka anak-anaknya. Mengingat ayahnya pegawai pemerintahan kolonial British India, Shyamala tak menyia-nyiakan kesempatan untuk sekolah hingga jenjang tinggi di Jurusan Kesehatan masyarakat di Lady Irwin College, kampus ternama di India untuk kaum perempuan di New Delhi. Ketika di usia 19 tahun Shyamala lulus dan berhasrat melanjutkan pendidikan ke Amerika, ayahnya tak melarang. Sikap itu melangkahi adat bahwa perempuan dari kasta Brahmana lazimnya dilarang pergi ke luar negeri sebelum menikah. Bahkan sang ayah mendukung penuh dengan membiayai kuliah Shyamala di Universitas California Berkeley dan biaya hidup pada tahun pertama dari tabungan pensiunannya. “Di masa itu (1950-an), jumlah perempuan lajang India yang pergi ke Amerika untuk kuliah – mungkin tak sampai dua digit. Tetapi ayah saya orang yang terbuka. Dia bilang, ‘jika kamu diterima masuk, maka pergilah,’” ungkap Balachandran Gopalan, adik Shyamala, kepada LA Times , 25 Oktober 2019. Dalam otobiografi Kamala Harris, The Truths We Hold: An American Journey , Kamala juga menceritakan bagaimana ibunya bertemu ayahnya, Donald Jasper Harris, di kampus yang sama. Perbedaan keyakinan, di mana Donald Harris seorang Nasrani, tak menghalangi keduanya bersatu ke jenjang pernikahan pada 1963. Shyamala dan Donald pertamakali bertemu dalam sebuah rapat Afro American Association di Berkeley pada musim gugur 1962. Saat itu Donald menjadi salah satu pembicaranya. Shyamala Gopalan (kiri) saat di Universitas California Berkeley. (Facebook Page Kamala Harris). Awalnya hubungan Shyamala-Donald tak disetujui karena Shyamala sudah dijodohkan. “Ibu saya diharapkan pulang ke India setelah lulus karena orangtuanya sudah mengatur perjodohannya. Diasumsikan ibu saya akan menurut. Namun takdir berkata lain. Ibu dan ayah saya bertemu dan jatuh cinta di Berkeley saat ikut pergerakan HAM. Pernikahan dan keputusannya tinggal di Amerika adalah puncak dari tindakan menentukan nasibnya sendiri atas nama cinta,” tulis Kamala. Orangtua Shyamala akhirnya memberi restu setelah Donald datang ke India untuk meminta izin menikahi Shyamala. “Saya membayangkan betapa sulit bagi orangtuanya merelakan ibu saya pergi, namun ibu saya mendapat restu pindah ke California dan kakek saya tak melarang. Dia masih remaja saat masuk Berkeley pada 1958 untuk mengejar gelar S-2 dalam bidang nutrisi dan endokrin, mengejar cita-citanya menjadi peneliti kanker payudara,” sambungnya. Shyamala tetap giat dalam perkuliahan dan aktivitasnya menyerukan HAM dan anti-Perang Vietnam kala kemudian mengandung Kamala. Gelar PhD-nya juga sukses diraihnya pada Februari 1964 dengan tesis “The Isolation and Purification of a Trypsin Inhibitor from Whole Wheat Flour”. Shyamala kemudian bekerja di Departemen Zoologi dan Laboratorium Riset Kanker Berkeley hingga punya anak kedua, Maya Lakhsmi Harris, yang lahir pada 1967. Namun biduk rumah tangga Shyamala-Donald retak pada 1969. Dua tahun berselang keduanya bercerai. “Mereka berpisah tak lama setelah ayah mengambil pekerjaan di Universitas Wisconsin. Mereka tak memperebutkan uang, melainkan buku-buku. Saya sering berpikir seandainya mereka saat itu sudah lebih matang secara emosional dan usia, mungkin pernikahan mereka akan bertahan,” kata Kamala yang tak pernah tahu penyebab perceraian kedua orangtuanya. Setelah bercerai pada 1971, Shyamala Gopalan berjuang membesarkan Kamala dan Maya sebagai ibu tunggal. (Facebook Page Kamala Harris). Shyamala pun menjadi ibu tunggal ketika membesarkan kedua putrinya di sebuah duplex di Bancroft Way, Berkeley. Namun, itu bukan satu-satunya beban berat yang dipikulnya. “Saya pikir, buat ibu saya perceraian merepresentasikan kegagalan yang tak pernah ia perkirakan. Pernikahannya saja sudah laiknya pemberontakan. Menjelaskannya kepada orangtuanya sudah sulit. Menjelaskan tentang perceraian, saya bayangkan, lebih sulit lagi,” tambahnya. Meski Kamala memeluk Nasrani mengikuti kepercayaan ayahnya, Shyamala tetap memperkenalkan budaya dan tradisi India kepada anak-anaknya. “Kamala mengenal semua mitos dan tradisi Hindu dan Kamala sama-sama nyaman berada di kuil maupun di gereja. Saya memberi nama Kamala terinspirasi dari Dewi Lakshmi. Sebuah budaya yang menyembah dewa-dewi menghasilkan para perempuan tangguh. Oleh karenanya Kamala juga sering mengunjungi Kuil Shiva Vishnu di Livermore. Keluarga saya selalu menginginkan anak-anak bisa belajar tradisi, terlepas di mana mereka lahir,” kata Shyamala, dikutip Peter Schweizer dalam Profiles in Corruption: Abuse of Power by America’s Progressive Elite . Shyamala kemudian memboyong dua putrinya ke Montreal, Kanada, lantaran menerima dua pekerjaan sekaligus di Lady Davis Institute for Medical Research dan Fakultas Medis Universitas McGill. Sepanjang karier penelitiannya yang berfokus pada pertautan hormon progesteron dan kanker payudara, Shyamala setidaknya berhasil menghasilkan tujuh laporan jurnal kesehatan. “Estrogenic of Murine Uterine 90-kilodaton Heat Shock Protein Gene Expression” sebagai jurnal pertamanya terbit pada Agustus 1989 dan “Cellular Expression of Estrogen and Progesterone Receptors in Mammary Gland: Regulation by Hormones Development and Aging” sebagai jurnal terakhirnya terbit pada 2002. Penelitian terakhirnya dilakoni Shyamala ketika sudah kembali ke Lawrence Berkeley National Laboratory, California seraya aktif di organisasi amal Breast Cancer Action. Pada 11 Februari 2009, Shyamala mengembuskan nafas terakhir di usia 70 tahun setelah menderita kanker usus besar. Jenazahnya dikremasi dan abunya dibawa Kamala untuk dilarung di pantai selatan Chennai sesuai tradisi Hindu. “Breast Cancer Action menyatakan penghormatannya kepada Shyamala G. Harris. Seorang ilmuwan terkemuka dunia yang juga sahabat baik Breast Cancer Action. Karya penelitian Harris dalam mengisolasi dan menggolongkan gen reseptor progesteron mengubah pemahaman medis akan respons hormon dalam jaringan payudara. Penemuannya memicu banyak kemajuan mengenai peran progesteron dan sel reseptornya dalam biologi dan kanker payudara,” demikian pernyataan Breast Cancer Action , 21 Juni 2009. Ayah Ekonom Marxis Sebagaimana ibundanya, ayah Kamala Harris, Donald Joseph Harris, juga bukan berasal dari keluarga sembarangan. Lahir Brown’s Town, Provinsi Saint Ann, Jamaika pada 23 Agustus 1938, Donald merupakan buah hati pasutri keturunan tuan tanah dan pemilik budak Oscar Joseph Harris dan Beryl Christie Finnegan. Lewat artikel bertajuk “Reflections of a Jamaican Father” yng dimuat laman diaspora Jamaika, Jamaica Global , 14 Januari 2019, Donald menguraikan nenek moyang dari garis ayah dan ibunya lebih detail. “Akar keluarga, sepengetahuan saya, dari garis ayah ada sosok nenek, Miss Chrishy (Christiana Brown), keturunan Hamilton Brown yang dalam catatan sejarahnya adalah pemilik budak dan perkebunan serta pendiri kota Brown’s Town. Nenek dari ibu saya, Miss Iris (Finnegan), adalah petani dan pengajar dari Aenon Town dan Inverness,” terang Harris. “Nama Harris berasal dari kakek di garis ayah, Joseph Alexander Harris, seorang tuan tanah dan eksportir cengkeh dan rempah-rempah. Dia meninggal setahun setelah saya lahir (1939). Kedua nenek saya punya pengaruh besar dalam masa kecil saya. Miss Chrishy sosok yang disiplin, sementara Miss Iris adalah orang paling lembut yang pernah saya temui,” kenangnya. Donald Jasper Harris bersama Kamala yang masih bayi. ( The Truths We Hold: An American Journey ). Sang nenek Chrishy lebih senang berdagang dengan membuka toko. Sementara ayahnya mengurusi perkebunan keluarga. Dengan latar belakang keluarganya itu, Donald tumbuh dengan minat yang besar akan bidang ekonomi. Maka setelah lulus dari SMA di Titchfield High School, Donald melanjutkan studi ke University College of the West Indies untuk pendidikan strata-1 dan Universitas California Berkeley untuk strata-2 lewat program beasiswa. Donald bertemu Shyamala Gopalan di sebuah rapat asosiasi pelajar kulit hitam pada 1962 dan menikah setahun berikutnya. Biduk rumah tangganya tak bertahan lama, mereka bercerai pada 1971. Meski berpisah, Donald sebisa mungkin tetap mengunjungi Kamala dan Maya, dua buah hatinya hasil pernikahan dengan Shyamala. Ketidakmampuannya untuk sering menengok buah hatinya disebabkan karena kesibukannya sebagai profesor ekonomi di Universitas Wisconsin kemudian Universitas Stanford. Ia acap jadi dosen tamu di beragam kampus, bahkan hingga ke Meksiko, Brasil, dan Malaysia. Miss Iris, nenek Donald Harris saat menggendong Kamala. ( jamaicaglobalonline.com ). Disertasinya semasa di Berkeley, “Inflation, Capital Accumulation and Economic Growth: A Theoretical and Numerical Analysis”, merupakan pemikirannya tentang pembangunan ekonomi yang terinspirasi dari para pemikir ekonomi seperti Karl Marx hingga John Maynard Keynes. Lantaran banyak memakai metode Karl Marx saat mengajar, Donald dijuluki Suratkabar The Stanford Daily , 3 November 1976, sebagai akademisi “Marxis”. Penggunaan metode Marxis oleh Donald bahkan pernah bikin resah para koleganya di Stanford. “Sebuah argumentasi muncul dua tahun lalu di Departemen Ekonomi dalam oposisi terhadap penunjukan Prof. Donald Harris secara permanen, seorang akademisi Marxis, di mana keahliannya sebagai dosen menarik minat para mahasiswanya untuk mendalami pemikirannya,” tulis suratkabar itu. “Beberapa pengajar Fakultas Ekonomi memerhatikan efek pada sejumlah mahasiswa Harris: (1) adanya sebuah sinyal di mana mahasiswa tak mampu memilih mata kuliah-mata kuliah penting untuk pendidikannya dan (2) sebuah demonstrasi tentang bahayanya cara mengajar yang mengakibatkan melebarnya fokus mahasiswa,” lanjutnya. Donald Harris bersama putrinya, Kamala & cucunya, Meenakshi. ( jamaicaglobalonline.com ). Meski pemikirannya tak terlalu diterima di Amerika, pemikiran Donald bisa diterima baik di negeri asalnya, Jamaika. Pada 1990-an, Donald sempat pulang ke Jamaika untuk mengaplikasikan teorinya demi pembangunan. Sebelumnya, dia telah melakukan riset mendalam tentang ekonomi makro dan mikro di Jamaika. Hasilnya, pemerintah Jamaika menetapkan National Industrial Policy (NIP) pada 1996. Inti dari kebijakan itu adalah, dorongan inisiatif dan kerangka legalitas dari pemerintah kepada sektor-sektor swasta sebagai alat untuk bernegosiasi demi menarik investasi asing. Pada 2011, pemikiran Donald membuahkan Growth Inducement Strategy (GIS). Inti GIS adalah strategi proaktif pemerintah dan sektor swasta dalam kerjasama untuk membangun lingkungan investasi yang stabil dengan di -endorse IMF.
- Darah Aktivis Kamala Harris
PINTU menuju kursi penguasa negeri adidaya Amerika Serikat terbuka lebar buat Kamala Harris yang maju jadi calon wakil presiden Amerika bersama Capres Joe Biden dari Partai Demokrat. Pasangan Biden-Kamala unggul jauh dalam perolehan electoral votes dari duet petahana Partai Republik, Donald Trump-Mike Pence. Hingga kini, Sabtu (7/11/2020) pukul 23.00 WIB, Biden-Kamala memimpin jauh dengan perolehan 264 electoral votes (214) sejak digelarnya Pilpres Amerika empat hari lalu. Meski Trump ingin membawa hasilnya ke Mahkamah Agung Federal Amerika, Biden-Kamala sudah bersiap merayakan kemenangan yang tinggal menanti enam electoral votes (270) lagi untuk resmi jadi capres-cawapres terpilih. Jika begitu, sejarah akan kembali tercipta setelah Barack Obama jadi orang kulit hitam pertama yang menjabat presiden Amerika pada 2009. Kamala akan jadi wakil presiden perempuan dan berkulit hitam pertama Amerika. Catatan sejarah itu akan melanjutkan catatan yang dibuatnya pada 2017. Kala itu Kamala menjadi politikus perempuan keturunan Afro-Asia pertama yang menjadi senator (Negara Bagian California). Kamala Harris bersama Joe Biden di ambang sejarah baru Amerika Serikat ( joebiden.com ) Berdemonstrasi dengan Kereta Bayi Meski terpisah ribuan mil dari tempat Kamala mengikuti kontestasi pilpres, Masyarakat Tamil Nadu, terutama di Desa Thulasendhirapuram, berbondong-bondong mendatangi Kuil Dharmasastha. Mereka mendoakan Kamala menang di pilpres Amerika. Desa Thulasendhirapuram mempunyai kedekatan emosional dengan Kamala. Ia merupakan kampung kelahiran P.V. Gopalan, kakek Kamala dari garis ibu. “Pada 2014, ibunya, Shyamala, pernah memberikan sumbangan atas nama Kamala Harris, jadi para penduduk desa mengenalnya dengan sangat baik,” tutur Kepala Desa Thulasendhipuram Arulmozhi Sudhakar sebagaimana diberitakan Hindustan Times , Rabu, 4 November 2020. Orangtua Kamala Harris: Donald Jasper Harris & Shyamala Gopalan ( joebiden.com ) Kamala Harris lahir di Oakland, California pada 20 Oktober 1964 sebagai sulung dua bersaudari dari orangtua blasteran Tamil-Jamaika. Ibunya, Shyamala Gopalan, berasal dari Chennai di selatan India; sementara ayahnya, Donald Jasper Harris, merupakan imigran dari Jamaika. Dalam memoarnya, The Truths We Hold: An American Journey , Kamala mengisahkan ia dilahirkan oleh orangtua yang cemerlang secara akademik meski kehidupan masa kecil keduanya tak mudah. Donald Harris sejak muda tumbuh menjadi akademisi di bidang ekonomi sebagai lulusan Universitas London dan penyandang gelar PhD di Universitas Berkeley. Sementara, Shymala pada usia 19 tahun sudah lulus dari Lady Irwin College di New Delhi dan langsung mengejar gelar S-2, juga di Berkeley. Keduanya saling mengenal di kampus Berkeley lantas berpacaran. Pada 1963, keduanya menikah. “Hidup ibu saya dimulai ribuan mil dari asalnya di belahan timur, di selatan India. Ia merantau pada 1958 untuk mengejar gelar doktor dalam bidang nutrisi dan spesialis endokrin. Ayah dan ibu saya jatuh cinta saat ikut pergerakan HAM di Berkeley,” ungkap Harris. Kakek-nenek Kamala Harris dari garis ibu: P. V. Gopalan & Rajam Gopalan (Facebook Page Kamala Harris) Aktivis, itulah yang diturunkan ke dalam diri Kamala dari garis ibunya. Kakek dan neneknya dikenal sebagai dua dari segelintir tokoh masyarakat yang berpengaruh di wilayah Tamil. “Nenek saya, Rajam Gopalan, tak pernah sekolah sampai SMA, namun dia seorang yang terampil dalam sosial kemasyarakatan. Ia akan selalu menampung perempuan korban kekerasan suami dan selalu mengancam agar para suami mau mengurus istri dengan baik dan kalau tidak, dia yang akan mengurusnya di rumahnya. Dia juga sering mengedukasi perempuan di desanya tentang kontrasepsi,” tutur Kamala. Kamala melanjutkan, “Kakek saya P.V. Gopalan pernah menjadi bagian dari pergerakan untuk memenangkan kemerdekaan India. Pada akhirnya dia menjadi diplomat senior di pemerintahan. Dia dan nenek sempat menghabiskan waktu hidupnya di Zambia setelah India merdeka, untuk membantu para pengungsi.” Dari merekalah Shyamala belajar tentang kepedulian dan aktivisme yang lantas diturunkan ke Kamala. Menurut Kamala dari cerita ibunya, pernah suatu ketika Kamala yang baru berusia sekitar dua tahun (tahun 1966) sampai dibawa ikut berunjuk rasa dengan para aktivis Free Speech Movement (FSM) untuk menyuarakan HAM, anti-rasisme, dan anti-Perang Vietnam. “Ibu saya sangat paham dengan sejarah, kesadaran politik, dan kesadaran akan perjuangan dan persamaan. Maka orangtua saya sering membawa saya dengan kereta bayi bersama mereka ke aksi-aksi menyuarakan HAM. Sedikit yang saya ingat waktu itu hanya melihat lautan kaki bergerak ke sana-sini. Teringat akan energi di sekeliling dan teriakan-teriakan,” tambahnya. Sejak balita sudah diajak ikut unjuk rasa dan pada usia tujuh tahun sudah jadi korban broken home (Facebook Page Kamala Harris) Mereka saat itu bergerak di Sproul Plaza untuk memprotes dengan damai karena diserang polisi dengan selang air. “Mereka datang untuk bertemu Martin Luther King Jr. yang berbicara di Berkeley, di mana ibu saya berkesempatan bertatap muka. Dia menceritakan pada satu aksi protes anti-perang, massa dikonfrontir (geng motor) Hell’s Angels. Saat kerusuhan pecah, ibu saya dilindungi teman-temannya untuk membawa saya keluar dari situasi itu,” kata Kamala. Namun ketika Kamala baru berusia tujuh tahun dan Maya, adiknya yang masih balita, harus jadi korban broken home. Shyamala dan Donald bercerai. Sejak itu, Kamala dan Maya dibesarkan oleh ibunya. “Saya tahu mereka saling mencintai tapi kelamaan mereka menjadi seperti air dan minyak. Hubungan mereka sudah retak sejak saya berusia lima tahun. Setelah ayah saya mengambil pekerjaan mengajar di Universitas Wisconsin, mereka bercerai. Uniknya bukan uang yang mereka perebutkan, melainkan koleksi buku-buku. Ayah saya tetap jadi bagian hidup kami yang selalu datang pada akhir pekan,” ungkapnya. Pembela LGBT Meski dibesarkan di keluarga yang tak utuh, Kamala Harris tetap tumbuh jadi anak secemerlang kedua orangtuanya. Mereka sempat pindah untuk mengikuti aktivitas sang ibu yang sambil mengajar di Montreal, Kanada juga melakukan banyak penelitian tentang hormon progesterone dan tentang kanker payudara . Selepas SMA, Kamala hidup mandiri di Washington DC sebagai mahasiswi jurusan Ilmu Politik dan Ekonomi Universitas Howard. Lulus pada 1986, ia melanjutkan studinya dengan mengambil jurusan Hukum di Hastings College of the Law, University of California berbekal beasiswa dari Legal Education Opportunity Program (LEOP). Pada 1988, Kamala ikut program magang di Pengadilan Tinggi Alameda County, Oakland, California. “Saya magang bersama sembilan mahasiswa lain di kantor jaksa distrik. Saya sudah lama memendam niat menjadi jaksa penuntut. Saya ingin berada di baris terdepan dalam reformasi pengadilan kriminal, di mana saya ingin melindungi yang lemah. Pekerjaan kami lebih kepada belajar dan mengamati segala kegiatan di sana, di mana kami masing-masing ditempatkan bersama para jaksa yang mengerjakan beragam kasus dari Driving under the Influence hingga pembunuhan,” terangnya. Di situ pula Kamala mengawali kariernya sebagai salah satu deputi jaksa Distrik Alameda County setelah lulus pada 1990. Kariernya melejit berkat otak encernya. Setelah berpacaran dengan Willie Brown, seorang duda yang juga ketua Majelis Negara Bagian California, Kamala melenggang jadi anggota Dewan Unemployment Insurance Appeals pada 1994, dan pada 1998 jadi kepala Divisi Karier Kriminal di Pengadilan Tinggi San Francisco. Saat itu Willie sudah menjabat walikota San Francisco (1996-2004). Sejak Agustus 2000, Kamala mengepalai Divisi Pelayanan Rumah Tangga dan Anak-Anak di Balai Kota San Francisco di bawah jaksa kota Louise Renne. Di sanalah Kamala menemukan passion -nya untuk membela orang lemah, terutama perempuan dan anak-anak. Kamala Harris semasa di Universitas Howard (kiri) & wisuda Hastings College of the Law (Facebook Page Kamala Harris) Namun ketika hendak mengajukan diri sebagai jaksa Distrik San Francisco pada November 2002, Kamala diserang saingannya, Terence Hallian dan Bill Fazio, dengan isu hubungannya dengan walikota yang memuluskan kariernya. Sebagaimana diungkapkan Peter Byrne dalam artikelnya yang dimuat San Francisco Weekly , 24 September 2003, “Kamala’s Karma”, Hallinan dan Fazio menyerang Kamala dengan isu nepotisme. Kamala pun membela diri bahwa apa yang dicapainya selama ini bukan berkat mantan pacarnya. “Saya menolak mendesain kampanye saya dengan mengelilingi kritik terhadap Willie Brown karena saya mengajukan diri secara independen. Tak diragukan lagi saya pribadi yang mandiri dan terlepas dari pengaruhnya dan faktanya dia tak bisa mengontrol saya. Kariernya sudah habis; saya masih akan hidup dan berjuang untuk 40 tahun ke depan. Saya tak berutang apapun kepadanya,” ujar Kamala, dikutip Byrne. Kamala akhirnya menang pada pemilihan jaksa distrik 2003. Setelah menjadi jaksa, ia tetap memegang janjinya semasa kampanye untuk tidak akan pernah mengajukan hukuman mati kepada terdakwa dengan kasus kejahatan apapun. Di jabatan itulah dia mulai menonjolkan diri sebagai jaksa pembela LGBT, dengan membentuk Unit Kejahatan (berdasarkan) Kebencian pada 2005. Unit ini memfokuskan diri pada kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) korban hate crime . Salah satu kasusnya yang terpenting adalah peninjauan kasus pembunuhan Gwen Araujo, remaja transgender 17 tahun yang dihabisi empat pelaku di Newark, California, 4 Oktober 2002. Kamala Harris kala menjadi Jaksa Agung (kiri) & Senator Negara Bagian California (Facebook Page Kamala Harris) Menurut The San Francisco Examiner , 5 Juli 2006, Kamala sampai menggelar konferensi selama dua hari untuk menghimpun 200 jaksa dan aparat penegak hukum guna membahas strategi hukumnya. Pasalnya, empat tersangka pelaku menggunakan hak “Gay Panic Defense”, aturan yang memungkinkan keempatnya membela diri dengan melukai atau membunuh sebagai reaksi atas provokasi yang timbul dari kepanikan terkait hubungan seks sesama jenis yang tak diinginkan. LGBT jadi salah satu isu yang disuarakan Kamala dalam kampanyenya sejak 2008 kala maju dalam pemilihan jaksa agung Negara Bagian California. Saat sudah menjadi jaksa agung California, Kamala mengajukan laporan amicus curiae (dasar hukum sahabat pengadilan, red. ) ke Ninth Circuit (Pengadilan Banding Federal). Dalam laporannya, Kamala menegaskan bahwa Proposition 8, yang mengatur hanya pernikahan beda jenis yang dilegalkan di California, tak punya dasar hukum kuat. Ninth Circuit akhirnya mencabut larangan pernikahan sesama jenis pada Juni 2013. Sejak saat itu kaum LGBT senantiasa berada di belakang Kamala. Termasuk saat Kamala maju menjadi Senat California pada 2017 dan mendampingi Joe Biden di Pilpres Amerika, 3 November 2020.
- Sejarah Laïcité, Dasar Falsafah Sekularisme Prancis
Sejak September lalu, setidaknya ada tiga insiden terkait terorisme di Prancis. Dua orang staf rumah produksi diserang di dekat kantor Majalah Charlie Hebdo pada akhir September. Pada 16 Oktober, seorang guru bernama Samuel Paty dipenggal setelah memperlihatkan kartun Nabi Muhammad di sekolah. Lalu pada 29 Oktober, tiga orang tewas dalam serangan di Nice. Situasi semakin memanas. Pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron terkait kebebasan berpendapat di negerinya dianggap sebagai sikap anti-Islam. Negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim mengecam Macron dan aksi boikot produk-produk Prancis dilakukan di berbagai tempat. Mengutip bbc.com , pada awal Oktober lalu, Presiden Macron mengatakan bahwa “sekularisme adalah dasar negara” dan “separatisme Islam harus ditangani.” Sekularisme yang hendak dipertahankan Prancis itu memang telah menjadi dasar falsafah Prancis selama lebih dari 100 tahun. Sekularisme atau yang dalam istilah Prancis disebut Laïcité, memiliki akar yang panjang dalam sejarah Prancis. Revolusi Prancis Revolusi Prancis (1789–1799) berdampak besar pada sejarah modern Prancis. Monarki runtuh dan rezim kuno gereja yang berperan penting melegitimasi kekuasaan raja digugat. Demokrasi liberal dan sekularisme kemudian tumbuh di negeri yang selalu gaduh dari revolusi ke revolusi ini. Dalam sejarah Prancis, gereja memegang posisi strategis dalam kekuasaan. Para pendeta mendapat hak-hak istimewa, prioritas sosial, menanggung pajak lebih ringan serta keuntungan-keuntungan terkait kepemilikan tanah. Gereja Katolik Roma juga menguasai urusan keagamaan dan memegang kendali terhadap pendidikan. “Gereja berusaha untuk mempertahankan keseragaman agama –gereja Katolik Roma adalah satu-satunya yang diizinkan mengadakan kebaktian– dan menikmati kekuatan penyensoran,” tulis Anne Stevens dalam The Government and Politics of France . Namun, periode awal revolusi mulai merontoki hubungan monarki dan gereja. Pada 1790, “Civil Constitution of the Clergy” melucuti hak-hak istimewa atas kepemilikan tanah gereja. Dua tahun kemudian, 1792, Republik Prancis Pertama berdiri dan menandai berakhirnya kekuasaan monarki. Pada ekspansi 1796-1797, pasukan Prancis yang telah menembus Jerman kemudian memasuki Semenanjung Italia dan menduduki Roma. Namun, pada 1801 Napoleon Bonaparte menjalin sebuah Konkordat atau perjanjian antara pemerintah Prancis dengan Vatikan. Konkordat 1801 Konkordat 1801 mengakui Katolik sebagai agama mayoritas penduduk Prancis dan mengesahkan dimulainya kembali ibadat umum. Pemeritah juga kembali membayar para imam dan uskup. Meski demikian, gereja harus menerima bahwa tanah-tanah mereka tak bisa kembali. Paus Pius VII dan umat Katolik Prancis menerima itu sebagai harga yang harus dibayar agar ibadat umum dapat kembali dilaksanakan. “Banyak mantan revolusioner terkemuka yang keberatan dengan Konkordat; mereka menyalahkan Napoleon karena meninggalkan kemenangan Revolusi yang diraih dengan susah payah atas apa yang mereka lihat sebagai takhayul kuno,” tulis Jeremy D. Popkin dalam A History of Modern France . Monarki yang pulih pada 1815 memang tidak mencabut Konkordat, tapi Revolusi 1830 mengaitkan gereja dengan ide-ide politik reaksioner. Sementara pada Revolusi 1848, pemerintah Kekaisaran Kedua mendukung gereja. Pada akhir abad ke-19, gereja secara jelas diidentifikasikan dengan kekuatan-kekuatan kaum kanan reaksioner dan kaum konservatif yang mendambakan kembali masyarakat hierarkis yang teratur. Pemisahan Gereja dan Negara Sikap gereja kemudian dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip revolusioner kaum republikan. Pada 1902, Prancis dipimpin oleh Emile Combes, seorang republikan anti-klerikal militan. “Jengkel oleh kebencian gereja, Combes akhirnya memutuskan untuk sepenuhnya mengubah aturan dasar hubungan gereja-negara,” tulis Popkin. Pemerintahan Combes memutuskan hubungan dengan Vatikan pada 1904. Setahun kemudian, Majelis membatalkan Konkordat 1801 yang telah mengatur hubungan gereja-negara sejak zaman Napoleon. Hukum pemisahan gereja dan negara ini disebut Loi concernant la Séparation des Eglises et de L'etat. Secara formal, negara tidak lagi mengakui agama apapun, tidak mensubsidi gereja, dan tidak membayar pendeta atau imam dari agama apapun. Dalam perjalannya, Prancis mengalami berbagai tantangan dalam penerapan hukum ini. Sepanjang abad ke-20, keberagaman Prancis bertambah dengan masuknya banyak pendatang. Termasuk di dalam pendatang itu mereka yang memiliki identitas agama yang sebelumnya tidak diatur maupun dipertimbangkan dalam hukum 1905. Menurut Stephen M. Davis dalam Rise of French Laicite , Prancis yang heterogen dan menerima beragam identitas itu dapat dilihat misalnya dari pengakuan penguburan menurut agama hingga makanan kosher dan halal yang disajikan di angkatan bersenjata. “Contoh-contoh ini sering ditawarkan untuk menunjukkan bahwa Laïcité bukanlah dogma yang tidak berwujud dan bahwa Republik telah mengetahui cara menyesuaikan praktiknya,” tulis Davis. Lebih dari 100 tahun berlalu dan hukum 1905 terus berada di tempat fundamental dalam hukum publik Prancis. Abad ke-21 juga memunculkan dinamika sendiri. Kini tantangan bergeser dari perlawanan terhadap pengaruh gereja ke separatisme agama seperti dikatakan Macron.





















