top of page

Hasil pencarian

9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kisah Panglima Pasukan Diponegoro dalam Perang Paderi

    TAHUN 1830-an, suasana persatuan di kalangan kaum Paderi dan kaum adat mulai terasa. Antara kaum ulama dengan kaum adat mulai saling berkompromi. Kedua kubu sebelumnya terlibat perang saudara akibat perbedaan pendapat dalam proses penerimaan Islam. Kaum ulama (kaum Paderi) menginginkan penerapan ajaran Islam yang sesuai Al-Qur’an dan Hadits, sementara kaum adat merasa perlu menjaga tradisi leluhur tetap hidup. Di tengah perpecahan itu Belanda ikut campur dan membuat keadaan semakin rumit. Perlahan masyarakat sadar bahwa Belanda hanya memanfaatkan mereka untuk kepentingan kolonialisasi di Sumatera. Peperangan pun akhirnya berubah menjadi upaya mengusir pemerintah Belanda dari Tanah Minang. Kedua kelompok sepakat menghentikan perang dan bersatu menghilangkan kolonialisme dari wilayahnya. Di lain pihak, kekhawatiran mulai menyelimuti pihak Belanda. Bersatunya dua kekuatan itu memunculkan trauma jika kerugian yang mereka alami dalam Perang Jawa akan terulang di Sumatera. Maka satu-satunya jalan agar kerugian itu tidak terjadi, pihak Belanda  harus mendatangkan bala bantuan dari Batavia.

  • Metamorfosis Hadrah Kuntulan

    DI sebuah panggung, dengan latar mirip gapura besar, sembilan lelaki berdiri berjajar sembari membawa rebana. Dalam hitungan detik, mereka menepuk rebana dengan tertib. Di sisi lainnya, ada pula iringan alat musik tambahan seperti tambur. Duduk di bagian ini pula penyanyi perempuan dan lelaki. Kurang dari setengah menit, muncul dari belakang panggung tujuh penari perempuan. Mereka mengenakan baju seragam dominan putih, omprok (mahkota) yang sudah dimodifikasi menjadi satu dengan jilbab, sarung tangan, dan kaos kaki. Para penari membawakan tari rodat sembari melantunkan bait-bait pujian Islami. Mereka unjuk gigi dalam acara Festival Kuntulan Caruk yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi di Taman Blambangan pada Oktober 2019. Festival ini diikuti puluhan grup kuntulan tingkat SLTA se-Banyuwangi. Gema syair-syair islami, rancak tabuh hadrah, dan aksi para penari menimbulkan decak kagum ratusan penonton yang hadir. “Semoga ini bisa menjadi panggung bagi anak-anak muda untuk ambil bagian dalam pelestarian budaya lokal. Kami berharap agar anak-anak Banyuwangi tetap mencintai budaya daerahnya di tengah gempuran budaya asing yang kian kuat,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas . Sejak tahun lalu Festival Kuntulan Caruk telah masuk dalam agenda resmi Banyuwangi Festival (B-Fest). Ini sebagai upaya Pemkab Banyuwangi untuk terus merawat dan melestarikan tradisi Banyuwangi. Tumbuh dari Pesantren Kemunculan kuntulan tak bisa dilepaskan dari perkembangan agama Islam di Blambangan, nama lama Banyuwangi. Ia merupakan perkembangan dari hadrah atau terbangan , aktivitas seni yang tumbuh di kalangan pesantren dalam rangka dakwah. Bentuknya berupa selawatan yang bersumber dari kitab al-Barzanjiy yang berisikan kisah perjalanan Rasulullah, pujian-pujian kepadanya, dan doa-doa. Kesenian hadrah sudah dikenal lama dalam masyarakat Islam di Indonesia. Belum jelas kapan hadrah dikenal di Banyuwangi. Namun John Scholte dalam “Gandroeng van Banjoewangi” (1927) sudah menyebut keberadaan sebuah kesenian bernama “ajrah”, yakni seni dakwah yang menyajikan nyanyian Islami. Menariknya, ajrah disebut mempengaruhi lagu-lagu dalam kesenian gandrung. Banyak pemerhati seni meyakini ajrah yang dimaksud Scholte adalah hadrah. Kristina Novi Susanti dalam “Kesenian Kuntulan Banyuwangi: Pengamatan Kelompok Musik Kuntulan Mangun Kerto”, skripsi pada Program Studi Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 2008, menyebut saat itu sudah ada kesenian islami yang menyajkan nyanyian sekaligus tarian sederhana, dengan seorang penari laki-laki yang disebut rudat . Kesenian ajrah dengan penari rudat inilah yang diangap sebagai bentuk awal dari hadrah yang tumbuh di pondok pesantren. Dalam hadrah, instrumen musik yang mengiringinya adalah rebana dan kendang. Gerakan tari, yang dibawakan laki-laki, umumnya menirukan gerakan wudhu, adzan, sholat, dan sebagainya. Pakaiannya serba putih, baik baju, sarung atau celana panjang, maupun peci atau ikat. Sayangnya, hadrah kurang berkembang dan perlahan memudar. Ia kemudian bermetamorfosis jadi kesenian hadrah kuntul atau kuntulan yang lebih menarik. Hal ini tak lepas dari kreativitas seniman Sumitro Hadi untuk kepentingan festival seni di Surabaya tahun 1977. Sumitro Hadi menggunakan penari perempuan dengan kostum berwarna kuning dan warna lain, omprok (penutup kepala) ala penari gandrung, kaos kaki dan kaos tangan. Sumitro Hadi lalu melakukan pengembangan lagi dengan menggabungkan penari laki-laki dan perempuan dalam satu sajian. Kreasi ini sempat populer hingga akhir 1980-an. “Perbedaan wujud yang mendasar yaitu, jika dalam hadrah unsur teks adalah unsur utama sajian dengan musik sebagai iringan, tetapi dalam kuntulan musik dan tarian adalah unsur utama sajian. Bahkan dapat dikatakan sajian tarian lebih dominan,” tulis Ciptono Hadi dalam “Perubahan Hadrah ke Kuntulan: Kajian Aspek Tekstual dan Kontekstual”, skripsi pada Jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 2013. Pengembangan lebih lanjut dilakukan seniman Sahuni. Dia mengambil unsur musik, tari, dan tembang dalam kesenian tradisi Banyuwangi lainnya, termasuk gandrung. Pengembangan ini diberi nama kundaran ; akronim dari “kun” yang merujuk pada kuntulan dan “daran” yang berarti pengembangan. Nama baru itu populer dan bersanding dengan nama lain seperti kuntulan, kuntari (kuntulan tari), atau hadrah kuntulan. Proses perubahan itu membuat hadrah kuntulan menjadi lebih hidup dan menarik. Sajian hadrah Banyuwangi pernah tampil di TVRI Surabaya pada 28 Januari 1985. Munsief KH dalam “Diperlukan Kreativitas dalam Seni Hadrah”, dimuat majalah Amalbhakti , mengapresiasi kesenian ini. Menurutnya, “jika kita tonton sepintas nampak adanya suatu upaya untuk mendinamisir pola seni hadrah sesuai dengan tuntutan zaman.” Selain itu, jika dibandingkan pola seni hadrah di Surabaya dan sekitarnya, “nampak hadrah dari Banyuwangi lebih dinamis dan beraneka gerak dan langgamnya.” Festival Kuntulan di Taman Blambangan tahun 2016. (Twitter @infobwi). Pesan Islam Selain penyajian secara sendiri, berkembang pula kuntulan caruk – caruk dalam bahasa Osing berarti pertemuan atau bertemu. Dua kelompok kuntulan dihadirkan dalam satu pementasan untuk berkompetisi. Penilaian ditentukan penonton. Akibatnya saling dukung kerap menimbulkan ketegangan. “Pada dekade 1980 hingga 1990-an, Kuntulan caruk merupakan pertunjukan yang selalu menghadirkan suasana ketegangan pertunjukan,” tulis Karsono dalam “Seni Kuntulan Banyuwangi: Keberlanjutan dan Perubahannya”, dimuat jurnal Ikadbudi , Oktober 2014 . Saat ini ketegangan suasana pertunjukan dalam Kuntulan Caruk sudah jarang ditemui. Hingga kini, kuntulan caruk menjadi pertunjukan yang menarik penonton. Setiap tahun digelar Festival Kuntulan Caruk yang mempertemukan berbagai kelompok musik Islami dari seluruh Banyuwangi. Islam yang Santun Di Banyuwangi, pertunjukan kuntulan biasanya tampil pada acara-acara perkawinan, bersih desa, hingga peringatan hari besar keagamaan. Dalam pementasan kuntulan, terdapat sembilan pemain terbang yang terbagi dalam tiga kelompok dan repertoarnya mencakup nyanyian bernapaskan Islam ( qasidah ), lagu-lagu dalam bahasa Osing, dan terkadang lagu pop yang tengah populer. Sejumlah upaya dilakukan Pemkab Banyuwangi untuk merawat kesenian ini. Pada 2011, misalnya, Pemkab Banyuwangi menggelar pagelaran terbangan yang berkolaborasi dengan hadrah kuntulan yang dilakukan 232 orang. Pagelaran ini meraih rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai “Pementasan Terbangan dengan Peserta Terbanyak”. Hadrah kuntulan khas Banyuwangi pun tetap bertahan. Bahkan mengharumkan nama Banyuwangi. Di pentas nasional, kuntulan pernah juara lomba festival di Masjid Istiqlal Jakarta. Kuntulan juga kerap tampil di luar negeri. Awal tahun 2019, 20 seniman muda Banyuwangi tampil membawakan hadrah kuntulan di Festival Janadriyah di Riyadh, Arab Saudi, festival terbesar di kawasan Timur Tengah. Daya tarik kuntulan bisa dilihat pada Festival Hadrah Pelajar Nasional yang digelar di Banyuwangi, Mei 2019. Tampil 13 mahasiswa dari 12 negara peserta program Beasiswa Seni Budaya Indonesia (BSBI). Salah satunya Irati Gutierrez Ugarte asal Bilbao, Spanyol. Dia mengatakan berlatih tari kuntulan merupakan kesempatan baginya untuk mengenal Islam di Indonesia. “Festival ini akan menjadi media untuk merajut silahturahmi dan konsolidasi antar pelajar dan santri dari seluruh nusantara. Sekaligus, lewat festival hadrah dan sholawat ini kami ingin mengirim pesan tentang budaya Islam di Indonesia yang santun, toleran, dan inklusif, dan yang tentunya cinta damai,” ujar Bupati Anas . Festival Hadrah dan Festival Kuntulan Caruk masuk dalam agenda Banyuwangi Festival. Untuk tahun ini semestinya masing-masing akan digelar 9 Mei dan 3 Oktober 2020

  • Empat Penyebar Islam Pra Wali Songo

    PADA abad ke-15, keberadaan agama Islam mulai kuat di Pulau Jawa. Kehadirannya sedikit demi sedikit menggerus eksistensi Hindu-Budha yang telah hadir berabad-abad lamanya. Dianggap lebih mudah diikuti ketimbang ajaran-ajaran sebelumnya, masyarakat pun berbondong-bondong mengikrarkan diri sebagai seorang muslim. Kemunculan Wali Songo (Sembilan Wali) juga turut menguatkan proses islamisasi kala itu. Para alim –seorang berilmu dalam agama Islam– itu menjadi ujung tombak dalam penyebaran ajaran Islam. Sunan Gersik, Sunan Bonang, hingga Sunan Gunung Jati, membangun daerah penyebarannya masing-masing. Mereka menjadi salah satu pembuka jalan era kerajaan Islam di Pulau Jawa. Namun sebelum masa Sembilan Wali, masyarakat di Pulau Jawa telah mengenal tokoh-tokoh penyebar Islam. Syekh Jumadil Qubro misalnya, menjadi leluhur sebagian besar Wali Songo. Di antara ulama-ulama tersebut, berikut empat tokoh yang berhasil dirangkum Historia . Syekh Datuk Kahfi Syekh Datuk Kahfi –nama lainnya Syekh Nurjati atau Syekh Idhofi– dikenal sebagai perintis penyebaran Islam di barat Pulau Jawa, khususnya wilayah Cirebon dan sekitarnya. Lahir di Semenanjung Malaka sekitar abad ke-14, Syekh Datuk Kahfi merupakan putra seorang ulama besar Malaka yakni Syekh Datuk Ahmad. Disebutkan di dalam beberapa naskah, salah satunya Naskah Purwaka Caruban Nagari , Syekh Datuk Kahfi adalah keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Zaenal Abidin. Syekh Datuk Kahfi pernah menuntut ilmu di Makkah sekitar pertengahan abad ke-14. Dari Tanah Suci, dia pergi ke Baghdad, Irak. Di wilayah kekuasaan Persia itu, Syekh Datuk Kahfi memperdalam keilmuannya. Banyak pemikir-pemikir Muslim Persia yang turut mempengaruhi jalan dakwah Syekh Datuk Kahfi ketika berada di Jawa. Di Baghdad ini juga Syekh Datuk Kahfi menikah dengan Syarifah Halimah, adik penguasa Baghdad Syarif Sulaiman. Kedunya dikaruniai empat orang anak, yang kelak mengikuti jejak ayahnya di Cirebon. Syekh Datuk Kahfi lalu diutus oleh Raja Baghdad menyiarkan Islam ke wilayah Nusantara, yang ketika itu menjalin hubungan dagang dengan Persia. Setelah melalui perjalanan yang panjang, Syekh Datuk Kahfi akhirnya sampai di Nusantara, tepatnya Pulau Jawa. Menurut sejarawan Uka Tjandrasasmita dalam Arekologi Islam Nusantara , Syekh Datuk Kahfi dan rombongannya tiba di Pelabuhan Muara Jati, Cirebon pada 1420. Dia diketahui membawa serta 20 laki-laki, dan dua perempuan dalam perjalanan dakwahnya ini. Syekh Datuk Kahfi langsung diterima baik oleh Juru Labuhan Ki Gedeng Jumajanjati (sumber lain menyebut Ki Gedeng Tapa). Dia diberi tempat bermukim di Giri Amparan Jati. “Mereka diterima dengan baik, diberikan tempat, dan dimuliakan oleh Ki Gedeng Jumajanjati,” tulis Uka Tjandrasasmita. Di Amparan Jati, Syekh Datuk Kahfi giat berdakwah. Dia mengenalkan tentang agama Islam di sekitar masyarakat yang masih menganut ajaran Hindu-Budha. Banyak orang dari berbagai daerah yang kemudian berdatangan untuk belajar tentang Islam. Namun jalan dakwahnya ini tidak selalu mulus. Syekh Datuk Kahfi banyak mendapat tantangan, terutama dari Kerajaan Galuh sebagai penguasa Cirebon kala itu. Syekh Datuk Kahfi diketahui menjadi guru bagi putra-putri Raja Sunda Prabu Siliwangi, yakni Raden Walasungsang dan Nyai Rara Santang. Keduanya memilih memeluk Islam setelah memperdalam tentang ajaran tersebut di bawah asuhan Syekh Datuk Kahfi. Raden Walasungsang (bergelar Syekh Duliman) lalu mendirikan tempat dakwah lain di Caruban Larang, tempat berdirinya Kesultanan Cirebon. Walasungsang membantu Syekh Datuk Kahfi dalam penyebaran Islam di Jawa Barat, dan wilayah lainnya. Syekh Maulana Akbar Ulama lain yang menyebarkan ajaran Islam di barat pulau Jawa adalah Syekh Maulana Akbar –nama lainnya Syekh Bayanullah. Adik Syekh Datuk Kahfi ini banyak melakukan dakwah di wilayah Kuningan, Jawa Barat. Tercatat di dalam Naskah Pangeran Wangsakerta , Syekh Maulana Akbar adalah putra dari Syekh Datuk Ahmad, dan cucu Syekh Datuk Isa. Keduanya dikenal sebagai ulama besar Malaka. Syekh Maulana Akbar datang ke Jawa setelah Syekh Datuk Kahfi membangun pusat dakwah di Amparan Jati, Cirebon. Sama seperti kakaknya, Syekh Maulana Akbar juga lahir di Malaka sekitar abad ke-14. Menurut cerita di dalam Naskah Pangeran Wangsakerta , dia menimba ilmu di Makkah sejak usia remaja. Diketahui, Syekh Maulana Akbar lebih dahulu tinggal di Makkah ketimbang Syekh Datuk Kahfi. Di sana dia mendirikan pondok, dan dikenal masyarakat sebagai guru agama sekaligus saudagar. Menurut Bambang Irianto dan Siti Fatimah dalam Syekh Nurjati (Syekh Datul Kahfi): Perintis Dakwah dan Pendidikan, kedatangan Syekh Maulana Akbar di Kuningan bermula dari kunjungan murid Syekh Datuk Kahfi, Walasungsang dan Rara Santang ke Makkah. Dari interaksi itu, dan berbagai cerita yang disampaikan Walasungsang terkait situasi di Nusantara, Syekh Maulana Akbar mulai memiliki keinginan untuk berdakwah ke Jawa, mengikuti jejak kakaknya. Syekh Maulana Akbar juga sempat pergi ke Persia. Sehingga banyak orang yang mengira kalau Syekh Maulana Akbar berasal dari Persia. Syekh Maulana Akabr tiba di Kuningan sekitar tahun 1450. Dia sempat tinggal di Cirebon bersama Syekh Datuk Kahfi. Kemudian memutuskan membangun lingkungan dakwahnya sendiri di Kuningan. Syekh Maulana Akbar mendirikan pondok di Desa Sidapurna, Kuningan. Diceritakan sejarawan Edi S. Ekadjati dalam Sejarah Kuningan: Dari Masa Prasejarah hingga Terbentuknya Kabupaten , Syekh Maulana Akbar menikah dengan Nyi Wandasari, cucu Raja Sunda Prabu Dewa Niskala di Kawali. Dari pernikahan itu lahir seorang putra berama Maulana Arifin. Putranya inilah yang nantinya menggantikan peran Syekh Maulana Akbar dalam menyiarkan Islam di Kuningan setelah dirinya wafat. “… Penduduk setempat mulai banyak masuk Islam atas upaya Syekh Maulana Akbar,” kata Ekadjati. Syekh Jumadil Qubro Syekh Jumadil Qubro dikenal sebagai guru para Wali di Tanah Jawa. Keturunannya kelak banyak yang memangku gelar Wali Songo (sembilan wali), sebagai para pendakwah Islam di Pulau Jawa. Dalam Atlas Wali Songo disebutkan bahwa Syekh Jumadil Qubro merupakan ayah dari Sunan Gresik; kakek dari Sunan Ampel; dan kakek buyut dari Sunan Bonang, dan Sunan Drajat. Syekh Jumadil Qubro lahir di sebuah desa di Samarkhand, Uzbekistan pada pertengahan abad ke-14. Syekh Jumadil Qubro terlahir dengan nama Syekh Jamaluddin al-Husain al-Akbar. Sejak kecil, dia telah mendapat pendidikan agama Islam yang baik dari ayahnya Sayyid Zainul Khusen. Beranjak dewasa, Syekh Jumadil Qubro pergi ke India untuk belajar Tasawwuf dan ilmu agama lainnya. Kemudian Syekh Jumadil Qubro melanjutkan pencarian ilmunya ke Makkah. Berbagai ilmu keislaman diterimanya dari sejumlah ulama besar Makkah dan Madinah. Dalam buku Sejarah Islam Nusantara , Syekh Jumadil Qubro menikah dengan seorang putri dari Uzbekistan dan dikaruniai tiga putra: Maulana Malik Ibrahim, Ibrahim Asmaraqandi, dan Maulana Ishaq. Selain dikenal sebagai pendakwah, Syekh Jumadil Qubro juga seorang saudagar. Ketika sedang berada di Champa, dia berhasil mengislamkan penguasa di wilayah yang sangat kental dengan ajaran Hindu-Budha tersebut. Di sana, Syekh Jumadil Qubro menikahkan Ibrahim Asmaraqandi dengan putri Raja Champa Dewi Candrawulan. Perjalanan lalu berlanjut ke wilayah Samudera Pasai di Aceh. Syekh Jumadil Qubro didampingi oleh putra-putranya saat berdakwah dan berdagang di Nusantara. Syekh Jumadil Qubro tiba di Jawa pada 1399. Dia langsung dihadapi dengan situasi politik kerajaan Majapahit. Ajaran Hindu Budha saat itu pun masih sangat kuat di wilayah Jawa. Untuk beberapa waktu, Syekh Jumadil Qubro melakukan pengenalan ajaran Islam secara perlahan, dan sembunyi-sembunyi. Dia mengalami berbagai kesulitan dalam upaya Islamisasi tersebut, mengingat pengaruh Majapahit. “Kegiatan dakwah secara terang-terangan tidak memungkinkan beliau lakukan, karena hal tersebut tentu akan mengundang kemurkaan kerajaan,” tulis Cholil Nasiruddin dalam Punjer Wali Songo: Sejarah Sayyid Jumadil Kubro . Meski begitu, banyak orang, termasuk kalangan bangsawan, yang akhirnya memilih memeluk Islam dan menjadi murid Syekh Jumadil Qubro. Perlahan upaya Islamisasi di sekitar kekuasaan Majapahit semakin kuat. Banyak masyarakat yang meninggalkan ajaran Hindu-Budha, sehingga pengikut Syekh Jumadil Qubro semakin besar. Pada masa ini juga mulai bermunculan ulama-ulama lain yang melakukan dakwah ke seluruh penjuru Jawa. Syekh Quro Ulama lain yang memberi pengaruh besar kepada penyebaran Islam di Pulau Jawa adalah Syekh Quro –nama lainnya Syekh Mursyahadatillah, atau Syekh Hasanuddin. Syekh Quro berasal dari Champa, putra seorang ulama besar bernama Syekh Yusuf Siddik. Dia mendapat pengetahuan Islam dari ulama-ulama besar Makkah. Peneliti Atja dalam Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari , menyebut jika Syekh Quro pergi ke Nusantara dalam perjalanan dakwahnya. Dia ikut di dalam rombongan orang-orang Cina yang datang ke Champa. Syekh Quro sempat mengajar keislaman di Kesultanan Malaka pada permulaan abad ke-15. Dari sanalah dia melanjutkan dakwahnya ke Pulau Jawa. Menurut Uka Tjandrasasmita, daerah pertama yang disinggahi Syekh Quro adalah Pelabuhan Cirebon, di wilayah Kerajaan Galuh-Sunda. Kedatangannya pada 1418 itu disambut Syahbandar Muara Jati Ki Gedeng Tapa. Di sana, Syekh Quro melanjutkan syiar agamanya. Banyak masyarakat di sekitar pelabuhan yang akhirnya memeluk Islam setelah menerima ajaran Syekh Quro, termasuk Ki Gedeng Tapa sendiri. Syekh Quro tidak lama tinggal di Cirebon. Halangan dari para penguasa membuat dia terpaksa pergi dan melanjutkan dakwahnya di Karawang. Di tempat baru ini, Syekh Quro membangun sebuah pondok sebagai tempat dakwah dan penyiaran agama Islam. Diketahui, Syekh Quro memiliki suara yang merdu ketika membaca Al-Qur’an. Hal itu menjadi daya tarik yang membuat banyak orang tertarik mempelajari Islam. Melalui penelitian Ading Kusdiana dalam Sejarah Pesantren: Jejak Penyebaran, dan Jaringannya di Wilayah Priangan , diketahui bahwa Ki Gedeng Tapa menyuruh putrinya Nyai Subang Larang pergi ke Kerawang guna menuntut ilmu agama di bawah asuhan Syekh Kuro. Di sinilah Nyai Subang Larang memeluk Islam dan mulai mengajarkan pengetahuan Islam kepada anak-anaknya: Raden Walasungsang dan Nyai Lara Santang. Keduanya kemudian menjadi murid Syekh Datuk Kahfi. “Ada beberapa indikasi bahwa penyebaran Islam dan kegiatan pendidikan pesantren masuk ke wilayah Priangan dari Cirebon dan dari Karawang,” tulis Ading.*

  • Ideologi Juche Korea Utara

    JIKA Sukarno menggagas Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia, sahabatnya, Kim Il-sung juga merumuskan sendiri ideologi Korea Utara yang bernama Juche . Dan pada 1965, Juche  diumumkan secara internasional di Akademi Ilmu Sosial Aliarcham, Jakarta. Juche  atau chuch’e (bisa diartikan sebagai berdikari) merupakan ideologi resmi Korea Utara. Menjadi pandangan hidup orang Korea Utara serta digunakan sebagai identitas politik negeri itu. Gagasan politik Juche  secara bertahap memasukan empat konsep yakni chuch’e , chaju , charip , dan chawi . Keempat konsep tersebut dikembangkan sejak 1950 hingga 1960-an. Konsep “ chuch’e  dalam pemikiran” muncul pertama kali pada Desember 1955 dalam pidato Kim Il-sung tentang “Menghilangkan dogmatisme dan formalisme dan membangun juche  [ chuch’e ] dalam kerja ideologis”. Ia menyebutkan istilah chuch’e  untuk pertama kalinya dan menunjukan perlawanannya pada kebijakan Soviet yang dipimpin Nikita Khrushchev. “Ia menggunakan chuch’e  sebagai konsep untuk melawan hegemoni Soviet. Dengan kata lain, benih ide chuch’e  ditanam selama perpecahan Soviet-Korea Utara,” sebut Jae-Cheon Lim dalam Kim Jong Il’s Leadership of North Korea. Konsep chuch’e  digunakan untuk menghilangkan budaya Soviet yang membanjiri Korea Utara sejak 1945. Juga diharapkan dapat membangkitkan kesadaran identitas nasional Korea Utara. Kim Il-sung juga memanfaatkan gagasan chuch’e  untuk membersihkan lawan-lawan politiknya yang ia cap dogmatis atau kutu busuk. Pada 1956, pemerintah Korea Utara mengangkat slogan “Mari wujudkan Chuch’e !”. Rakyat Korea Utara didorong untuk tidak bergantung pada pengalaman revolusi negara lain tetapi atas dasar sejarah revolusioner Korea Utara sendiri, prinsip-prinsip Marxisme-Leninisme, dan kebijakan partai yang dikembangkan secara kreatif. “Substansi utama ‘ chuch’e  dalam pemikiran’ pada saat itu adalah untuk merebut kembali Korea dan menerapkan prinsip-prinsip Marxisme-Leninisme ke realitas Korea dengan cara yang kreatif,” tulis Lim. Konsep chaju  (penentuan nasib sendiri) muncul berikutnya. Konsep ini terkait dengan urusan luar negeri Korea Utara. Kim mulai menggunakan chaju  dalam hubungan diplomatik setelah menghadiri peringatan 40 tahun revolusi Soviet pada Desember 1957. Prinsip-prinsipnya antara lain kesetaraan, penghormatan terhadap integritas wilayah, kemerdekaan nasional, dan non-intervensi. Kemudian dalam pidato peringatan ulang tahun ke-15 Tentara Rakyat Korea pada 1963, Kim Il-sung secara khusus berbicara tentang chaju . Ia mengatakan bahwa tanpa chaju , seorang politisi tidak dapat bekerja untuk rakyat, melainkan hanya menjilat orang lain dan menjadi tangan negara-negara besar serta menjadi konspirator dengan menjual negaranya. Elemen ketiga yakni charip  (kemandirian) dalam ekonomi. Konsep ini berkaitan dengan strategi yang memprioritaskan industri militer. Menurut Kim, intervensi Krushchev dalam perekonomian Korea Utara telah mendorong perlunya charip  ekonomi. Sebelumnya, pada Konferensi Partai Pertama 1958, Kim telah menyinggung bahwa charip  ekonomi bertujuan untuk membangun ekonomi mandiri, di mana Korea Utara dapat mencari nafkah sendiri dan mendukung diri sendiri. “Belakangan, Kim merinci hubungan antara chaju  politik dan charip  ekonomi. Tanpa charip  ekonomi, chaju  politik tidak dapat dipertahankan –hanya keduanya yang bisa menjamin kemerdekaan nasional,” jelas Lim. Konsep terakhir yang diperkenalkan namun tak kalah penting adalah chawi (pertahanan diri) dalam pertahanan nasional. Kim mengembangkan kebijakan baru pasca pengurangan bantuan militer Soviet di awal 1960-an. Pada Oktober 1963, chawi  dalam pertahanan nasional diumumkan melalui pidato upacara wisuda ketujuh Akademi Militer Kim Il-sung. Akhirnya, jelas Lim, gagasan chuch’e  yang berisi empat konsep yakni chuch’e , chaju , charip  dan chawi  diumumkan secara internasional di Akademi Ilmu Sosial Aliarcham, Jakarta pada April 1965. Pada kesempatan itu, Kim Il-sung menjelaskan bahwa “mendirikan chuch’e ” adalah prinsip “pemecahan bagi semua masalah revolusi dan konstruksi sesuai dengan kondisi suatu negara dan terutama dengan upaya sendiri”. Kuliah Kim Il-sung yang disampaikan di akademi yang didirikan Partai Komunis Indonesia (PKI) itu berjudul On Socialist Construction and the South Korean Revolution in the Democratic People’s Republic of Korea.   Kim Il-sung menyebut bahwa chuch’e  telah ditetapkan sejak 1955 dan terus menerus diperjuangkan secara enerjik agar terwujud. Sejak itu pula, ia mengklaim telah memulai pertarungan melawan revisionisme modern yang muncul dalam kubu sosialis. “Kami telah dengan penuh semangat melakukan pekerjaan ideologis di antara para kader dan anggota partai sehingga mereka semua dapat berpikir sehubungan dengan niat partai, membuat studi mendalam tentang kebijakan partai, bekerja sesuai dengan kebijakan ini dan dengan penuh semangat berusaha untuk penerapannya,” jelas Kim Il-sung dalam kuliahnya seperti termuat dalam Juche! The Speeches and Writings of Kim Il Sung. Kim Il-sung juga berulang kali mempertegas ajakan persatuan di antara negara-negara sosialis, negara-negara yang baru merdeka serta negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin untuk menyingkirkan imperialisme. “Perjuangan Komunis dan rakyat Indonesia yang anti-imperialis, anti-kolonialis konduktif bagi perjuangan bersama rakyat Asia. Rakyat Korea sangat menghargai ikatan dan persatuan mereka dengan Komunis Indonesia dan rakyat Indonesia, dan secara aktif mendukung perjuangan revolusioner mereka,” ujarnya. Dengan mengibarkan panji revolusi, kata Kim Il-sung, “kaum Komunis dan rakyat kedua negara kita akan setiap saat bertarung dalam persatuan yang teguh untuk kemerdekaan nasional, sosialisme, dan perdamaian, melawan kekuatan agresi imperialis yang dipimpin oleh imperialisme A.S.”*

  • Orang Dayak Menghadapi Wabah Penyakit

    PENYAKIT menular mulai muncul pada masyarakat prasejarah yang menetap, bertani, dan beternak. Sebagian besar hidup dalam permukiman permanen. Permukiman yang padat dan tak higienis menjadi sarang bagi munculnya wabah. “Sebagian besar penyakit menular, seperti campak, cacar, kolera, TBC, dan sebagainya, ditularkan dari hewan yang didomestikasi oleh umat manusia sendiri,” kata Muslimin A.R. Effendy, kepala BPCB Kalimantan dalam diskusi daring lewat aplikasi  zoom  tentang “Wabah Penyakit Menular dan Bencana Kemanusiaan Perspektif Sejarah dam Budaya” pada Kamis 30 April 2020. Di Indonesia, penyakit menular muncul sejak akhir masa neolitik 2.000 tahun lalu. Di Lambanapu dan Melolo, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, ditemukan rangka manusia dalam jumlah banyak dan betumpuk. “Kesimpulannya kematian dalam jumlah banyak ini diduga karena epidemi wabah penyakit yang menyerang wilayah itu,” kata Muslimin. “Dari hasil ekskavasi peneliti menemukan rangka dan temuan lain berada di lapisan yang sama, jadi diduga berasal dari periode sama.” Ekskavasi di Jembrana, Gilimanuk, tahun 1963 ditemukan wadah kubur yang sebagian besar berisi rangka anak-anak muda berusia 21–30 tahun. Diduga bukan sekadar penyakit tulang, tetapi juga disebabkan oleh pengaruh lingkungan berbatu gamping. Akibatnya, banyak penyakit epidemi menyerang masyarakat Jembrana. “Rangka di Jembrana ini kesimpulannya ada pelapukan pada tulang akibat mengkonsumsi bahan makanan dan sumber air yang tak higienis. Penyakit ini berlangsung cukup lama sehingga masih ditemukan pada orang-orang dari masa berikutnya,” kata Muslimin. Memasuki masa sejarah, pada Oktober 1880, berawal dari Kalimantan Barat, kolera dan cacar menyebar ke Banjarmasin, Martapura, Amungtai, Sampit, Samarinda, dan Kutai. Banyak korban jiwa berjatuhan. Namun, wabah itu tidak menyebar di pedalaman Dayak. Menurut Muslimin karena pemimpin adat mampu melakukan isolasi dan mendata orang-orang yang masuk ke lingkungannya. Namun, isolasi itu tak bertahan lama. Muncul pula pemikiran kalau penyakit itu datang dari Tuhan, bukan ditularkan antarmanusia. “Lambat laun wabah penyakit yang diproteksi oleh tokoh-tokoh adat itu kembali mewabah di daerah itu. Akibatnya jumlah korban makin banyak. Di Kutai pada 1882, korban makin banyak,” kata Muslimin. Kolera dan cacar muncul di Muara Teweh dan Martapura pada Juni 1884. Untuk menghadapinya, pemerintah kolonial memerintahkan sekolah untuk menyusun protokol kesehatan, di antaranya membersihkan lingkungan sekolah dan rumah, membiasakan siswa minum air matang, menghindari mandi di sungai yang tercemar bakteri kolera, tak mengkonsumsi ikan di sungai tercemar, dan mandi minimal sekali. “Menariknya dalam laporan kolonial ternyata masyarakat di sana jarang mandi, jadi wabah kudis, disentri, kolera mudah menyerang,” kata Muslimin. Protokol kesehatan lain yang diterapkan adalah rajin mencuci pakaian, alat makan, dan bahan makan yang akan diolah. Mereka juga harus menghindari kontak fisik dengan orang yang sudah tertular. “Kalau dibandingkan dengan kondisi sekarang, walaupun tak selalu sama karena waktunya cukup jauh, sebetulnya masyarakat kita dulu sudah melakukan protokol kesehatan,” kata Muslimin. Hingga tahun 1910, korban meninggal dunia karena kolera dan cacar di Kutai, Banjarmasin, Amungtai, Sampit, berjumlah 1.940 orang. Sedangkan korban meninggal dunia karena cacar di seluruh Kalimantan mencapai 2.000 orang. Jumlahnya meningkat sebagaimana tercatat dalam laporan kolonial ( Kolonial Verslag ) tahun 1919. Penderita kolera di Banjarmasin berjumlah 5.191 orang dan 316 orang meninggal; Hulu Sungai (penderita 11.907 orang dan 1.131 orang meninggal); Kuala Kapuas (penderita 1.184 orang dan 75 orang meninggal); Tanah Dusun (316 orang meninggal); serta Samarinda dan sekitarnya termasuk Kutai (penderita 2.900 orang dan 212 orang meninggal). “Jadi pada 1919 saja total yang meninggal karena penyakit kolera berjumlah 2.050 orang,” kata Muslimin. “Saya belum menemukan sumber lokal yang memadai, seperti manuskrip yang bisa mendokumentasikan wabah itu.” Kolera juga menyebar ke area pertambangan batu bara di wilayah Prapatan, Berau, dan area pengeboran minyak di Balikpapan. Wabah itu mengakibatkan 85 pekerja meninggal. Wabah yang tak kunjung teratasi menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Pada 1910, kepala suku Dayak yang tinggal di perbatasan Dusun Tengah dan Kutai berusaha menghimpun masyarakat untuk mengadakan upacara adat  berejo . Penduduk yang ikut membawa sesaji agar terbebas dari wabah. Upacara adat  berejo  ini diyakini dan diteruskan oleh pengikutnya. Menurut Muslimin, upacara adat itu semacam gerakan kebatinan yang mencoba mengumpulkan pengikut dan memberikan suatu mantra dan jimat agar mereka kebal penyakit.  “Sebetulnya gerakan keagamaan ini dalam tataran tertentu karena ketidakmampuan mereka menjelaskan secara logika dan mencegah tersebarnya wabah, mereka lalu melakukan kontemplasi dengan membuat gerakan spiritual keagamaan,” kata Muslimin. Kearifan Lokal Masyarakat Dayak sebenarnya telah memiliki kearifan lokal dalam menghadapi wabah. Menurut Nasrullah Mappatang, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur, orang Dayak memiliki pandangan kosmologis bahwa wabah datang karena keseimbangan alam rusak. Mereka percaya penyakit bisa diobati dengan ritual dan pantangan makanan dan aktivitas fisik lain. Pada 1894, orang Kayan di Borneo Tengah dan Bahau di Kalimantan Timur selain melakukan ritual juga memiliki ramuan untuk mengobati penyakit. Mereka menerapkan pantangan terhadap setiap penyakit. Ritual-ritual yang dilakukan antara lain ritual mencari penyebab penyakit ( senteau );   ritual penyembuhan   ( balian bawo ) dilakukan masyarakat Dayak Benuaq dan Tunjung di Kalimantan Timur; ritual meminta perlindungan kepada para leluhur ( manggatang sahur lewu );   dan   ritual   bersih kampung dari pengaruh jahat akibat ulah manusia ( Amapas Lewu ). Orang Dayak Badamea, Sambas, Kalimantan Barat, melakukan ritual  basaman.  Doa dan ritual  Parauh/Paramak  dengan memasang tabit ayar dan berdoa kepada Jubata (Tuhan) agar dijauhkan dari wabah penyakit dan roh-roh jahat. Ketika wabah merebak, ada beberapa pantangan yang harus dijalani, seperti dilarang mangas  (membunuh binatang dan memotong hewan ternak),  ngingso  (menebang pohon),  bahanyi  (panen), dan keluar kampung selama dua hari ( lockdown  atau karantina wilayah). Selain ritual, ada perilaku pencegahan seperti  pungan bengan, yaitu mengisolasi diri dari orang lain untuk mencegah penularan penyakit. Tindakan ini seperti pembatasan jarak dan isolasi mandiri. Misalnya dalam pencegahan cacar, orang Dayak di Borneo percaya cacar dapat dihindari dengan melarang orang pergi ke dataran rendah dan berada di sekitar “orang asing”. Mereka melakukan transaksi dengan cara barter bisu, lewat jarak jauh, dan menghindari dataran rendah. “Cacar dikenal sejak abad ke-16 di Asia dan muncul kembali sekira abad ke-18,” kata Nasrullah. Menurut Nasrullah, masyarakat tradisional di Kalimantan melihat penyakit lebih kepada relasi mereka dengan lingkungan dan alam. Mereka melakukan ritual karena menganggap roh jahat adalah penyebab orang terkena penyakit atau merebaknya wabah.  “Makanya penyakit tidak dibunuh, tapi dikembalikan ke tempatnya. Salah satu cara pandang yang relevan sampai hari ini, yakni bagaimana relasi kerusakan habitat hidup menyebabkan lahirnya penyakit,” kata Nasrullah. Cara pandang itu, kata Nasrullah, secara simbolik menunjukkan betapa berjaraknya manusia dengan alam. Ketika alam dirusak, maka “roh” hutan atau lingkungan yang marah pun mengganggu manusia.  “Jadi manusia itu selalu reflektif, kita sakit, kita diserang penyakit itu karena ada kerusakan di sekitar kita. Karena sangat menyatu manusia dengan alam,” ujar Nasrullah. Kendati begitu, karena melihat kurangnya pengetahuan tentang penyakit menular di tengah masyarakat adat, Nasrullah menilai edukasi dan sosialisasi cara-cara pencegahan dan pengendalian wabah penyakit masih dibutuhkan. “Pendekatan dialogis antara paradigma kesehatan secara tradisional dan modern,” ujarnya. Muslimin pun mengatakan, mewabahnya penyakit diakibatkan karena ada pengabaian. Seperti dalam sejarah terjadinya wabah kolera pada masa kolonial. Pemerintah Hindia Belanda mengabaikan peringatan pada 1819 ketika penyakit ini sudah menyerang Penang dan Malaka. Peringatan ini tak diindahkan karena pemerintah Hindia Belanda percaya penyakit akan dengan sendirinya mati di tengah iklim tropis di Nusantara. “Nyatanya penyakit ini menyerang semua kalangan, yang paling terdampak adalah kaum pribumi miskin, gizi di bawah standar, dan mengkonsumsi makanan tak sehat, inilah yang membuat mereka rentan terserang penyakit,” ujarnya.*

  • Kisah Dewa dari Korea Utara

    SENO Gumira Ajidarma mengisahkan suatu kejadian tak mengenakan saat dirinya berkunjung ke Korea Utara pada 2002. Sebagai tamu resmi pemerintah negera komunis itu, Seno yang seorang kritikus film sekaligus fotografer, suatu hari berkesempatan mengambil gambar patung Kim Il-sung, Bapak Pendiri Korea Utara. Saat tengah asyik memotret bagian-bagian patung itu secara rinci dari jarak dekat, tetiba seorang petugas mendekatinya. Dengan ketus dia melarang Seno untuk mengambil gambar patung tersebut secara tidak utuh. “Kalau memotret pemimpin kami, tolong jangan dipotong-potong!” katanya seperti dituturkan oleh Seno dalam bukunya Jejak Mata Pyongyang.

  • Islamisasi Minangkabau

    PROSES Islamisasi di Minangkabau –mencakup wilayah Sumatera Barat, sebagian Riau, Bengkulu, Jambi, sebagian Sumatera Utara, dan sebagian Aceh– terjadi pada kurun masa yang sangat panjang. Banyak bukti yang menjelaskan keberadaan ajaran tersebut. Namun mengenai kapan dan dari mana pertama kali ajaran tersebut masuk, banyak ahli yang kesulitan untuk merekonstruksinya. Keterbatasan informasi menjadi kendala utama. Menurut sejarawan Taufik Abdullah sumber-sumber tentang Islam di Minangkabau belum terekam secara baik. Di dalam tulisannya “Adat and Islam: An Examination of Conlict in Minangkabau” dimuat Readings on Islam in Southeast Asia  karya Yasmin Hussein, Taufik Abdullah menyebut jika pengetahuan pertama tentang Islam di wilayah itu datang dari Ulakan, Padang, Sumatera Barat. Tokoh utamanya adalah Syekh Burhanuddin. Syekh Burhanuddin dianggap sebagai ulama pertama yang menyebarkan Islam di antara masyarakat Minangkabau. Dia merupakan murid dari ulama terkenal Aceh, Syekh Abduurauf Singkel. Tetapi, kata Taufik Abdullah, banyak bukti yang mengindikasikan bahwa Syekh Burhanuddin bukan yang pertama memperkenalkan Islam di sana. “Meski begitu, ia tampaknya menjadi ulama penting pertama yang mendirikan pusat keagamaan di Minangkabau. Dia menjadi satu-satunya ulama yang memiliki wewenang dalam urusan agama,” kata Taufik Abdullah. Syekh Burhanuddin diketahui membangun sebuah surau di Ulakan. Surau itu menjadi tempat pertama ulama-ulama Minangkabau belajar soal agama Islam secara lebih dalam. Murid-murid Syekh Burhanuddin berasal dari berbagai daerah di Minangkabau. Setiap orang, baik muda ataupun tua, yang ingin memperdalam tentang Islam boleh belajar di sana. Menurut Mhd. Nur, dkk dalam Perjuangan Sultan Alam Bagagar Syah dalam Melawan Penjajah Belanda di Minangkabau pada Abad ke-19 ,   mereka yang telah belajar di Ulakan akan kembali ke daerahnya masing-masing dan membangun surau sendiri. Proses inilah yang mempercepat proses islamisasi. Bahkan pengaruh dari Ulakan itu sampai juga ke seluruh Nusantara, seperti yang dilakukan Datuk Ri Bandang dan Datuk Ri Patimang di Makassar, Sulawesi Selatan. “Para murid Syekh menyebarkan Islam di Minangkabau dengan jalan menanamkan budi dan memperlihatkan akhlak yang baik kepada masyarakat. Masyarakat Minangkabau cepat merespon Islam dan ikut menyebarkan Islam ke daerah-daerah lainnya di Nusantara,” tulis Mhd. Nur, dkk. Pada akhir abad ke-17, ulama-ulama besar bermunculan di Tanah Minang. Beberapa di antaranya: Tuanku Pamansiangan di Luhak Agam, Tuanku Koto Tuo, dan Tuanku Nan Tuo. Mereka adalah bekas murid-murid Syekh Burhanuddin. Di bawah pimpinan ulama-ulama ini, beberapa daerah menjadi pusat pengajaran fiqih Islam, serta Al-Qur’an dan Hadits. Permasalahan hukum, kepercayaan, dan seluruh aspek kehidupan sosial juga tidak lupa diajarkan. Perbedaan Pendapat Awal abad ke-19, setelah berjalan selama dua abad, proses Islamisasi di Minangkabau memasuki fase baru. Para ulama, dikenal sebagai “kaum Paderi”, mencoba melakukan pembaharuan Islam. Misi utamanya: pelaksanaan ajaran Islam yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits. Dengan kata lain, pemurnian terhadap Islam di Minangkabau. Tokoh utama dalam gerakan reformasi ini adalah para ulama yang baru saja kembali dari Makkah, yakni: Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang. Setelah melihat dan belajar Islam di Tanah Suci umat Islam itu, mereka merasa ada kekeliruan dalam praktek agama di Minangkabau. Utamanya pelaksanaan adat yang berlebihan. Meski mayoritas masyarakat Minangkabau telah memeluk Islam, tetapi tiga haji itu masih menemukan praktek-praktek keagamaan yang bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an dan Hadits. Seperti banyak guru agama masih berkhidmat kepada kuburan yang dianggap keramat, sabung ayam, berjudi, minum tuak, meninggalkan ibadah, dan pelanggaran agama lainnya. Kaum Putih (nama lain kaum Paderi) menentang seluruh sistem adat yang telah sejak lama menjadi bagian dari tradisi Minangkabau pra Islam. Mereka berusaha menghapusnya, dan menggantikan kebiasaan-kebiasaan di masyarakat tersebut dengan tradisi islami. Hal itu tentu mendapat pertentangan dari golongan adat yang ingin mempertahankan tradisi turun-temurun itu. “Kaum Paderi bukan saja mencela sistem adat, tetapi juga sekaligus menentang pelaksanaan tradisi adat yang bertentangan dengan Islam yang telah menjadi tradisi bagi kaum Adat di Minangkabau,” tulis Mhd. Nur, dkk. Pada 1803, suasana di Minangkabau semakin memanas. Berbagai perundingan dengan Kerajaan Pagaruyung, sebagai penggerak kaum adat, gagal mencapai kesepakatan. Puncaknya, kaum Paderi dan kaum adat terlibat pertikaian besar yang berujung kepada perang saudara. Di bawah komando Harimau Nan Salapan, kaum Paderi berhasil mendesak pasukan kaum adat pimpinan Sultan Arifin Muningsyah. Pagaruyung lalu meminta bantuan Belanda, yang kebetulan sedang mencari celah menguasai wilayah Sumatera. Kesempatan itu juga digunakan Belanda untuk melemahkan pengaruh kaum ulama Paderi. Merek sadar, setelah melihat kasus Aceh, bahwa kaum ulama militan bisa menjadi penghalang upaya kolonialisasi. Namun di tengah pertikaian besar itu, kaum adat mulai menyadari siasat Belanda yang hanya memanfaatkan mereka untuk kepentingan kolonial. Akhirnya kaum adat dan kaum Paderi setuju melakukan genjatan senjata demi mengusir Belanda dari Tanah Minang. “Dampak paling awal dari Islam tercermin di dalam formulasi baru sistem adat sebagai pola perilaku ideal. Hingga akhirnya elemen-elemen luar dapat diserap secara menyeluruh ke dalam tatanan yang ada sebagai bagian dari sistem yang koheren,” kata Taufik Abdullah.*

  • Baret Merah Bikin Inggris Berdarah-darah

    SETELAH pertempuran salah paham antara Yon 1/RPKAD melawan Yon 454/Diponegoro di luar PAU Halim Perdanakusuma pada pagi 2 Oktober 1965 mereda, Sersan mayor (Serma) Soediono mendapat perintah dari Kapten Oerip, atasannya di Kompi Ben Hur. Soediono diperintahkan sang komandan masuk ke Halim untuk menemui Komandan RPKAD (kini Kopassus) Kolonel Sarwo Edhie Wibowo guna melaporkan perkembangan situasi dan minta arahan lebih lanjut. Ditemani Kopral Miptah, Serma Soediono lalu berjalan kaki masuk ke Halim. Sempat salah masuk ke markas Kolaga, Soediono dan Miptah berhasil menemui Sarwo Edhie di Makoops AURI. Sarwo Edhie berada di Makoops AURI ditemani sejumlah petinggi AURI seperti Laksda Udara Sri Mulyono Herlambang. Di sana, Sarwo Edhie mendapatkan penjelasan bahwa AURI tidak punya rencana membombardir titik-titik vital AD sebagaimana diyakini Pangkostrad Mayjen Soeharto dan pimpinan AD. Maka begitu berhasil menemui sang kolonel, Soediono langsung menjalankan tugasnya. Dia diterima dengan baik oleh Sarwo Edhie. “Kolonel Sarwo Edhie mengenalnya dengan baik, karena dialah yang memberikan kenaikan pangkat luar biasa, menjadi Sersan Mayor di perbatasan Kalimantan Barat, berkat keberhasilannya menghancurkan perkubuan Inggris di Mapu, Sarawak,” tulis Aristides Katoppo dan kawan-kawan dalam Menyingkap Kabut Halim 1965 . Soediono merupakan anggota Kompi B “Ben Hur”, kompi yang dipilih untuk menjalankan tugas menghancurkan pos terdepan Inggris di Desa Plaman Mapu, Sarawak, sekira satu kilometer dari perbatasan Kalimantan Barat, pada 27 April 1965. “Plaman Mapu adalah serangan utama terhadap pangkalan Inggris dan dilakukan oleh pasukan berpengalaman sebagai bagian dari strategi eksperimental Indonesia bahwa pasukan kecil dapat mengalahkan pasukan gerilya yang lebih besar,” tulis Nicholas van der Bijl dalam Confrontation the with Indonesia, 1962-1966 . Serangan itu merupakan penjabaran lapangan dari keinginan politik Presiden Sukarno dalam Konfrontasi dengan Malaysia. Perang tanpa deklarasi itu tak kunjung menampakkan hasil gemilang bagi Indonesia setelah lebih dua tahun dijalankan. Sebaliknya, Konfrontasi semakin mempersulit posisi politik Sukarno di dalam negeri karena perekonomian terkesampingkan dan adanya penentangan dari angkatan darat. “Konfrontasi membantu menyulut masalah ekonomi Indonesia, menjadi semakin vital bagi masa depan politik Presiden Sukarno untuk membuat pasukannya harus mengamankan kemenangan militer yang menentukan. Inilah latar belakang Pertempuran Plaman Mapu,” ujar sejarawan Charles Allen dalam  The Savage Wars of Peace: Soldiers’ Voices, 1945-1989 .    Adanya keinginan untuk membuat satu serangan fenomenal itu bertemu dengan keinginan Sarwo Edhie yang ingin menguji konsepsinya. Saat mengikuti kursus Staff Queenschliff di Australia, sekutu Inggris dalam Konfrontasi, Sarwo Edhie pernah mendiskusikan konsep itu dengan rekannya asal Inggris, lawan Indonesia dalam Konfrontasi, Mayor Jeremy Moore. Edhie yakin pengerahan sedikit pasukan khususnya jauh lebih efektif untuk melumpuhkan lawan ketimbang menggunakan pasukan besar gerilyawan. Konsepnya terinspirasi dari pasukan Belanda ketika melakukan agresi di Perang Kemerdekaan. Meski jumlahnya kecil, mereka dapat mengalahkan pasukan gerilya yang jumlahnya jauh lebih besar. “Wibowo yakin bahwa para komandannya dapat melakukan hal yang sama. Wibowo memilih kompi FDL di Plaman Mapu untuk menguji teorinya,” sambung van der Bijl. Pos Plaman Mapu, yang terletak di atas sebuah bukit, dipilih sebagai sasaran karena sering digunakan untuk mendrop pasukan elit Inggris SAS sebelum melakukan patroli di hutan-hutan perbatasan atau penyusupan ke wilayah Indonesia. Selain itu, pos tersebut juga dipilih jadi sasaran karena pada awal 1965 dijaga Kompi B Batalyon Ke-2 Resimen Parasut (2 Para) AD Inggris yang personilnya minim jam terbang. Lima belas dari personil Kompi B masih berusia 18-19 tahun dan baru saja menyelesaikan pendidikan singkat jungle warfare  di hutan Semenanjung Malaya pada Februari. Untuk mewujudkan rencana itu, RPKAD mengirim satu batalyon dari Grup 2 pada Februari. Setelah mendarat di Pontianak, mereka berjalan kaki menuju pos di Balai Karangan. Dari sana, mereka terus melakukan pengintaian ke pos terdepan Inggris dan mengonsep serangan. Mereka mendapati ada hari-hari di mana pos Inggris hanya dijaga oleh satu pleton karena dua pleton lain berkeliling patroli. Setelah sebulan mengadakan pengintaian dan persiapan, pada 25 April Komandan Batalyon Mayor Sri Tamigen memutuskan tiga kompi, termasuk Kompi Ben Hur, sebagai pelaksana misi, sementara satu kompi lain bersiaga di wilayah Indonesia. Selepas magrib tanggal 26 April yang diiringi hujan, sekira 200 personil RPKAD itu berjalan menuju Mapu dengan bersenjatakan masing-masing senapan otomatis AK-47. Kompi itu juga membawa bren, mortir, peluncur roket serta Bangalore torpedo untuk menyingkirkan rintangan kawat atau ranjau. Saat itu, pos Mapu dijaga oleh 36 personil. Pos itu terbagi ke dalam empat seksi, masing-masing seksi dilengkapi senapan mesin, dengan pusat komando di tengah. Selain dilengkapi bungker dan parit perlindungan, pos itu dipagari kawat berduri, ditanami ranjau, dan dilindungi dua mortir 3 inci. “Pos ini bila dihujani peluru dari luar perimeter tidak akan menghasilkan apa-apa karena lubang-lubang di pos-Ubang sangat kuat perlindungannya. Satu-satunya cara untuk merebut pos ini adalah mendorong ke perimeter dan bertarung dari jarak dekat,” kata Mayor Sri Tamigen dalam laporannya, dimuat di  paradata.org.uk . Namun, suara hujan membuat suara langkah-langkah manusia atau suara lain tak terdengar dari pos itu ketika peluru-peluru pasukan RPKAD menghujani pos pukul 5 pagi. “Dalam kegelapan total dan hujan lebat, pasukan parasut Indonesia menyerang Plaman Mapu dengan kekuatan penuh senjata superior mereka, menembakkan artileri, mortir, senapan mesin, dan roket langsung ke salah satu segmen (pos, red .) Inggris, segera memangsa posisi dan salah satu mortir,” tulis buku terbitan RW Press   Paratroopers, Ready for Anything: From WWII to Afghanistan . “Dalam rentetan tembakan pertama, salah satu dari dua posisi mortir kami dihancurkan, bersama dengan setengah dari orang-orang yang memegang mortir. Mereka telah membunuh dua tentara dan melukai beberapa lainnya yang membuat jumlah kami turun menjadi delapan belas yang berdiri dan mampu bertempur,” kata Serma John Williams, dikutip Allen. Mayor Jon Fleming, komandan Kompi B, baru tahu jika posnya diserang setelah seorang petugas sinyal memberitahunya. “Sambil meletakkan kainnya di atas sarung yang ia kenakan, ia (Fleming) keluar ke malam yang basah diterangi ledakan, tracer , dan suar. Kedua tangki air tertembak, seperti juga area di sekitar menara penjaga. Meski personil para-nya berdiri dengan cepat, sebuah mortir membunuh Prajurit Smith dan melukai dua lainnya ketika mereka bergegas ke mortir di dekat gudang,” sambung Allen. Seluruh personil di pos Inggris kaget oleh serangan kilat RPKAD itu dan secepat mungkin meraih senjata untuk mengadakan perlawanan. Serma Williams langsung berlari menuju sektor tempat pertempuran berlangsung. “Ia bertemu Prajurit Kelly, seorang penembak mesin dari bunker yang telah diserang, linglung karena kepalanya tertembak dua kali dan terus mengacungkan pistol Browning 9mm-nya ke hampir semua yang bergerak. Williams dengan tenang melucuti dirinya dan menginstruksikan seorang prajurit untuk membawa Kelly ke Pos Komando tempat para korban sedang berkumpul,” sambung Allen. Mayor Fleming langsung melaporkan serangan itu ke atasannya, Letkol Ted Eberhardie. Karena setiap kali Fleming akan kembali ke lokasi pertempuran dia dipanggil kembali ke radio, dia lalu menyerahkan kepada Serma Williams. “Dia (Williams) berkeliaran, meraih sebanyak mungkin prajurit yang bisa dikerahkannya, dan berusaha membawa mereka ke posisi yang menguntungkan, tetapi, ketika dia melakukannya, pasukan Indonesia meledakkan mortir, menyebar prajurit dan hanya menyisakan lima kaki. Williams melesat ke salah satu posisi senapan mesin, dijaga Kopral Malcolm Baughan dan beberapa lainnya sementara mereka memaksa musuh kembali ke parit,” sambung Paratroopers, Ready for Anything. Pertempuran yang melibatkan pertarungan jarak dekat itu akhirnya berubah begitu fajar menyingsing dan pasukan Inggris mulai mendapatkan jarak pandang yang baik. Ketika pasukan Gurkha tiba untuk membantu pasukan pos jaga Inggris sekira dua jam dari awal pertempuran, pasukan Indonesia telah mundur. Pertempuran Plaman Mapu pun berakhir.*

  • Supeni, Kim Il-sung, dan Ganefo

    PRESIDEN Sukarno mengangkat Supeni, politisi perempuan PNI, sebagai duta besar keliling. Ia ditugaskan meyakinkan pemimpin negara-negara Asia-Afrika untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Non Blok pertama di Beograd, Yugoslavia, pada 1–6 September 1961. Di luar tugas resmi itu, saat diundang ke Korea Utara, Supeni sempat menyinggung soal pesta olahraga yang sedang dipersiapkan oleh Sukarno untuk menandingi Olimpiade, yaitu Games of The New Emerging Forces (Ganefo). "Meskipun Bu Peni tidak punya urusan kegiatan apa-apa dengan Ganefo, tapi dalam pembicaraan dengan Kim Il-sung, sepintas lalu disinggung juga masalah ini," tulis Paul Tista dalam Supeni, Wanita Utusan Negara .

  • Martir Anarkis pada Peristiwa Mei 1886

    1 MEI 1886. Puluhan ribu buruh di Chicago turun ke jalan. Mereka menuntut delapan jam kerja dalam sehari. Aksi itu disambut oleh senjata api polisi sehingga menggerakan aksi lebih besar lagi yang kemudian menjadi cikal bakal May Day atau Hari Buruh Internasional. Kala itu, Chicago menjadi pusat gerakan anarkis terutama di kalangan imigran Jerman dan Ceko. Pada Kongres Internasional Kedua 1883 di Pittsburgh, mereka mengirim lebih banyak delegasi daripada kota-kota lain. Jumlahnya bahkan mencapai setengah dari total keanggotaan Amerika Serikat. Tiga makalah anarkis juga diterbitkan di Chicago dan dibaca banyak kelas pekerja. “Agitasi mencapai puncaknya di Chicago pada tahun 1886. Pada 3 Mei polisi menembaki kerumunan di luar pabrik McCormick Reaper Works yang telah mengunci orang-orangnya, membunuh beberapa orang,” tulis Peter Marshall dalam Demanding The Impossible, A History of Anarchism.

  • Wabah Penyakit Kala Puasa Ramadan

    WABAH penyakit beberapa kali menyerang umat muslim saat Ramadan. Tak jarang pada bulan puasa itu wabah mencapai pucaknya. Para ulama pun mencatat wabah itu dalam karya-karyanya. Karya-karya itu lahir saat Maut Hitam (Black Death) menyergap. Wabah ini dengan dahsyat menyebar melintasi padang rumput Asia Tengah ke pantai-pantai Laut Hitam, tak terkecuali kota-kota besar dan kecil Islam. "Persebaran wabah ini sangat terkait dengan aktivitas keagamaan," kata Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah dalam seminar daring lewat aplikasi  zoom  tentang "Wabah dalam Lintasan Sejarah Umat Manusia" yang diselenggarakan Museum Nasional pada 21 April 2020.

  • Temu Legenda Banyuwangi

    IKON kesenian gandrung Banyuwangi, Jawa Timur, unjuk kebolehan. Meski usianya menua, gerakan tangan, pinggul, kaki, dan kepalanya masih lincah dan luwes. Mengikuti irama gamelan yang rancak. Sesekali, dengan cekatan, tangannya melempar sampur. Begitulah Temu menari kala mengisi acara Sarasehan Budaya “Masa Depan Kesenian Gandrung di Banyuwangi” yang merupakan bagian dari Festival Lembah Ijen, medio Februari lalu. Temu dikenal sebagai maestro gandrung Banyuwangi. Sebagai penari gandrung senior, Temu memiliki kemampuan dalam bernyanyi, menari, dan wangsalan . “Penari gandrung sekarang, ada yang bisa menyanyi tapi tak bisa menari, atau ada yang bisa menari tapi tak bisa menyanyi –sehingga yang menyanyi adalah orang lain,” ujar Temu dalam wawancara yang dimuat buku Perjalanan Kesenian Indonesia Sejak Kemerdekaan  suntingan Philip Yampolsky. Sang Primadona Nama kecil Temu adalah Misti. Dia lahir 20 April 1953 di Dusun Kedaleman, Desa Kemiren, sekira tujuh kilometer dari Kota Banyuwangi. Misti adalah anak kedua dari pasangan Mustari dan Supiah. “Darah seni Temu mengalir dari sang ayah yang merupakan pemain ludruk dan biasa membawakan lagu jula-juli yang disebut kidungan ludruk . Darah seni juga dimiliki sang kakek, yakni Samin. Beliau ahli dalam seni tradisi mocoan lontar ,” tulis Dwi Ratna Nurhajarini dalam artikelnya “Temu: Maestro Gandrung dari Kemiren Banyuwangi”, dimuat Patrawidya , Desember 2015. Misti kecil sering sakit. Karena khawatir, ibunya bernazar kalau sudah besar Misti menjadi gandrung. Mirip dengan kisah Semi yang dikenal sebagai penari gandrung pertama. Namun jalan Temu menjadi penari gandrung lebih berliku. Karena orangtuanya bercerai, Misti kecil tinggal bersama keluarga bude dan pakdenya. Karena sejak kecil sakit-sakitan, Misti dibawa dan diobati ke seorang dukun. Misti juga dibawa ke juragan gandrung bernama Mbah Ti'ah. Oleh Mbah Ti’ah, dia diharapkan menjadi gandung. “Kesembuhan Misti dari sakit menurut istilah dari juragan Ti'ah adalah nemu nyawa  (mendapatkan kehidupan lagi setelah sakit parah). Dari istilah nemu  kemudian berubah menjadi Temu,” tulis Dwi. Temu mulai intens belajar gandrung. Menginjak usia 15 tahun, dia manggung untuk pertama kali di Dusun Gadok, tak jauh dari tempat tinggalnya. Pementasan ini merupakan fase wisuda sebagai penari gandrung atau biasa disebut meras . Nama Gandrung Temu kemudian melekat padanya, kendati o rang Using sering menyebutnya dengan nama Gandrung Temuk atau Mak Muk. Dengan suara dan gerak khas yang tak dimiliki gandrung lain, Temu perlahan dikenal orang. Dia kerap ditanggap. Jadwal pentasnya padat; bisa sampai 20 kali dalam sebulan. Temu jadi primadona. Penari gandrung Banyuwangi, Jawa Timur. (@banyuwangi_kab) Album Rekaman Selain teknik menari yang bagus, Temu piawai melantunkan gending atau lagu gandrung. Dengan cengkok khas Osing, suara melengking tinggi dan jelas, keindahan suara Temu disebut-sebut sebagai eksotisme dari timur. “Memang sulit untuk mempelajari lagu-lagu gandrung, saya tak tahu kenapa,” ujar Temu dalam buku Yampolsky. Karena keindahan suaranya, Temu dilirik perusahaan rekaman. Sejumlah album lagu gandrung direkam dan dijual dalam bentuk kaset atau CD. Penjualannya lumayan laris di pasaran. Farida Indiriastuti dalam “Dari Kemiren ke Hollywood” di Kompas , 3 November 2007, mengambil sampel album kompilasi Temu Disco Etnik Banyuwangi yang direkam Sandi Record. Album ini mampu menembus angka penjualan fantastis: 50.000 VCD dan 10.000 kaset dengan distribusi meliputi Jawa, Madura, dan Bali. “Lagu bahasa Osing itu disenangi. Lagunya sendiri gak dimengerti. Tapi orang senang. Enak didengar,” ujar Hasnan Singodimayan, budayawan Banyuwangi, dalam tayangan berjudul “Bahasa Using (Osing) Banyuwangi” produksi Balai Pelestarian Nilai Budaya D.I. Yogyakarta yang beredar di YouTube .  Suara emas Temu bahkan melanglang hingga ke mancanegara. Pada 1980-an, Smithsonian Institution dari Amerika Serikat melakukan proyek pendokumentasian dan penerbitan musik rakyat bekerjasama dengan Masyarakat Musikologi Indonesia –kini, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. Mereka membuat 20 volume atau album yang dilabeli Music of Indonesia . Volume pertama adalah Gandrung Banyuwangi dengan judul Songs Before Dawn yang rilis tahun 1991. Gandrung Banyuwangi dibawakan oleh Temu dan direkam di sebuah kebun pada malam hari di Desa Kemiren. Rekaman dalam bentuk CD itu berisi 11 lagu gandrung. Di Indonesia, album ini rilis enam tahun kemudian dengan judul Nyanyian Menjelang Fajar . Seperti judul albumnya, 11 lagu itu biasa dibawakan kala seblang subuh atau bagian terakhir dari pertunjukan gandrung. Pada bagian ini, penari gandrung menari sendiri sambil melantunkan lagu-lagu gending untuk mengakhiri pertunjukan. Tujuannya mengingatkan penonton atau para tamu untuk kembali ke rumah, bertemu dengan keluarga, dan memenuhi kewajiban sebagai kepala rumah tangga. Dewasa ini seblang subuh jarang dipentaskan. Songs Before Dawn rupanya diperjualbelukan secara luas dan laku. Pada medio Juli 1992 saja, catat Farida, amazon.com (AS) mencatat angka penjualan sebanyak 284.999 keping CD dalam tempo 24 jam. Belum lagi kalau dihitung angka penjualan di negara-negara lain dalam format CD, kaset, dan unduhan via internet. Popularitas Temu tak berbanding lurus dengan penghasilan yang didapatkannya. Temu tetap hidup sederhana. Dengan kesederhanaan pula dia menjalani hidup sebagai seniman. Berkat Temu, gandrung Banyuwangi kian dikenal di dunia. Berkat dedikasi Temu pula, gandrung Banyuwangi tetap lestari dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Menurut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Temu menjadi salah satu inspirasi bagi Banyuwangi untuk menggelar Festival Gandrung Sewu. “Kami bangga memiliki Bu Temu yang tak pernah lelah dan bosan menguri-uri kesenian Gandrung. Festival Gandrung Sewu juga terinspirasi dari semangat Bu Temu,” ujar Anas dalam laman Pemkab Banyuwangi . Kini, di rumahnya yang sederhana, Temu masih berupaya melestarikan gandrung. Temu memiliki grup gandrung sekaligus sanggar di rumahnya yang diberi nama Sopo Ngiro. Salah satu yang nyantrik atau belajar kepadanya adalah Mudaiyah, yang kini dikenal sebagai penari gandrung muda Desa Kemiren. “Saya akan terus menari sampai saya tak laku lagi. Saya ingin terus menari sampai saya punya murid yang menekuni tradisi ini, sampai murid itu bisa menari semua tarian dan bisa menyanyi semua lagu. Baru saya bisa pensiun!,” ujar Temu dalam buku Philip Yampolsky.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page