top of page

Metamorfosis Hadrah Kuntulan

Kesenian bernapaskan Islam berpadu dengan kesenian tradisi. Lebih hidup dan dinamis.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 4 Mei 2020
  • 4 menit membaca

DI sebuah panggung, dengan latar mirip gapura besar, sembilan lelaki berdiri berjajar sembari membawa rebana. Dalam hitungan detik, mereka menepuk rebana dengan tertib. Di sisi lainnya, ada pula iringan alat musik tambahan seperti tambur. Duduk di bagian ini pula penyanyi perempuan dan lelaki.


Kurang dari setengah menit, muncul dari belakang panggung tujuh penari perempuan. Mereka mengenakan baju seragam dominan putih, omprok (mahkota) yang sudah dimodifikasi menjadi satu dengan jilbab, sarung tangan, dan kaos kaki. Para penari membawakan tari rodat sembari melantunkan bait-bait pujian Islami.


Mereka unjuk gigi dalam acara Festival Kuntulan Caruk yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi di Taman Blambangan pada Oktober 2019. Festival ini diikuti puluhan grup kuntulan tingkat SLTA se-Banyuwangi. Gema syair-syair islami, rancak tabuh hadrah, dan aksi para penari menimbulkan decak kagum ratusan penonton yang hadir.


“Semoga ini bisa menjadi panggung bagi anak-anak muda untuk ambil bagian dalam pelestarian budaya lokal. Kami berharap agar anak-anak Banyuwangi tetap mencintai budaya daerahnya di tengah gempuran budaya asing yang kian kuat,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.


Sejak tahun lalu Festival Kuntulan Caruk telah masuk dalam agenda resmi Banyuwangi Festival (B-Fest). Ini sebagai upaya Pemkab Banyuwangi untuk terus merawat dan melestarikan tradisi Banyuwangi.


Tumbuh dari Pesantren


Kemunculan kuntulan tak bisa dilepaskan dari perkembangan agama Islam di Blambangan, nama lama Banyuwangi. Ia merupakan perkembangan dari hadrah atau terbangan, aktivitas seni yang tumbuh di kalangan pesantren dalam rangka dakwah. Bentuknya berupa selawatan yang bersumber dari kitab al-Barzanjiy yang berisikan kisah perjalanan Rasulullah, pujian-pujian kepadanya, dan doa-doa.


Kesenian hadrah sudah dikenal lama dalam masyarakat Islam di Indonesia. Belum jelas kapan hadrah dikenal di Banyuwangi. Namun John Scholte dalam “Gandroeng van Banjoewangi” (1927) sudah menyebut keberadaan sebuah kesenian bernama “ajrah”, yakni seni dakwah yang menyajikan nyanyian Islami. Menariknya, ajrah disebut mempengaruhi lagu-lagu dalam kesenian gandrung. Banyak pemerhati seni meyakini ajrah yang dimaksud Scholte adalah hadrah.


Kristina Novi Susanti dalam “Kesenian Kuntulan Banyuwangi: Pengamatan Kelompok Musik Kuntulan Mangun Kerto”, skripsi pada Program Studi Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 2008, menyebut saat itu sudah ada kesenian islami yang menyajkan nyanyian sekaligus tarian sederhana, dengan seorang penari laki-laki yang disebut rudat. Kesenian ajrah dengan penari rudat inilah yang diangap sebagai bentuk awal dari hadrah yang tumbuh di pondok pesantren.


Dalam hadrah, instrumen musik yang mengiringinya adalah rebana dan kendang. Gerakan tari, yang dibawakan laki-laki, umumnya menirukan gerakan wudhu, adzan, sholat, dan sebagainya. Pakaiannya serba putih, baik baju, sarung atau celana panjang, maupun peci atau ikat.


Sayangnya, hadrah kurang berkembang dan perlahan memudar. Ia kemudian bermetamorfosis jadi kesenian hadrah kuntul atau kuntulan yang lebih menarik. Hal ini tak lepas dari kreativitas seniman Sumitro Hadi untuk kepentingan festival seni di Surabaya tahun 1977.


Sumitro Hadi menggunakan penari perempuan dengan kostum berwarna kuning dan warna lain, omprok (penutup kepala) ala penari gandrung, kaos kaki dan kaos tangan. Sumitro Hadi lalu melakukan pengembangan lagi dengan menggabungkan penari laki-laki dan perempuan dalam satu sajian. Kreasi ini sempat populer hingga akhir 1980-an.


“Perbedaan wujud yang mendasar yaitu, jika dalam hadrah unsur teks adalah unsur utama sajian dengan musik sebagai iringan, tetapi dalam kuntulan musik dan tarian adalah unsur utama sajian. Bahkan dapat dikatakan sajian tarian lebih dominan,” tulis Ciptono Hadi dalam “Perubahan Hadrah ke Kuntulan: Kajian Aspek Tekstual dan Kontekstual”, skripsi pada Jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 2013.


Pengembangan lebih lanjut dilakukan seniman Sahuni. Dia mengambil unsur musik, tari, dan tembang dalam kesenian tradisi Banyuwangi lainnya, termasuk gandrung. Pengembangan ini diberi nama kundaran; akronim dari “kun” yang merujuk pada kuntulan dan “daran” yang berarti pengembangan.


Nama baru itu populer dan bersanding dengan nama lain seperti kuntulan, kuntari (kuntulan tari), atau hadrah kuntulan.


Proses perubahan itu membuat hadrah kuntulan menjadi lebih hidup dan menarik. Sajian hadrah Banyuwangi pernah tampil di TVRI Surabaya pada 28 Januari 1985. Munsief KH dalam “Diperlukan Kreativitas dalam Seni Hadrah”, dimuat majalah Amalbhakti, mengapresiasi kesenian ini. Menurutnya, “jika kita tonton sepintas nampak adanya suatu upaya untuk mendinamisir pola seni hadrah sesuai dengan tuntutan zaman.” Selain itu, jika dibandingkan pola seni hadrah di Surabaya dan sekitarnya, “nampak hadrah dari Banyuwangi lebih dinamis dan beraneka gerak dan langgamnya.”


Festival Kuntulan di Taman Blambangan tahun 2016. (Twitter @infobwi).
Festival Kuntulan di Taman Blambangan tahun 2016. (Twitter @infobwi).

Pesan Islam


Selain penyajian secara sendiri, berkembang pula kuntulan carukcaruk dalam bahasa Osing berarti pertemuan atau bertemu. Dua kelompok kuntulan dihadirkan dalam satu pementasan untuk berkompetisi. Penilaian ditentukan penonton. Akibatnya saling dukung kerap menimbulkan ketegangan.


“Pada dekade 1980 hingga 1990-an, Kuntulan caruk merupakan pertunjukan yang selalu menghadirkan suasana ketegangan pertunjukan,” tulis Karsono dalam “Seni Kuntulan Banyuwangi: Keberlanjutan dan Perubahannya”, dimuat jurnal Ikadbudi, Oktober 2014. Saat ini ketegangan suasana pertunjukan dalam Kuntulan Caruk sudah jarang ditemui.


Hingga kini, kuntulan caruk menjadi pertunjukan yang menarik penonton. Setiap tahun digelar Festival Kuntulan Caruk yang mempertemukan berbagai kelompok musik Islami dari seluruh Banyuwangi.


Islam yang Santun


Di Banyuwangi, pertunjukan kuntulan biasanya tampil pada acara-acara perkawinan, bersih desa, hingga peringatan hari besar keagamaan. Dalam pementasan kuntulan, terdapat sembilan pemain terbang yang terbagi dalam tiga kelompok dan repertoarnya mencakup nyanyian bernapaskan Islam (qasidah), lagu-lagu dalam bahasa Osing, dan terkadang lagu pop yang tengah populer.


Sejumlah upaya dilakukan Pemkab Banyuwangi untuk merawat kesenian ini. Pada 2011, misalnya, Pemkab Banyuwangi menggelar pagelaran terbangan yang berkolaborasi dengan hadrah kuntulan yang dilakukan 232 orang. Pagelaran ini meraih rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai “Pementasan Terbangan dengan Peserta Terbanyak”.


Hadrah kuntulan khas Banyuwangi pun tetap bertahan. Bahkan mengharumkan nama Banyuwangi. Di pentas nasional, kuntulan pernah juara lomba festival di Masjid Istiqlal Jakarta. Kuntulan juga kerap tampil di luar negeri. Awal tahun 2019, 20 seniman muda Banyuwangi tampil membawakan hadrah kuntulan di Festival Janadriyah di Riyadh, Arab Saudi, festival terbesar di kawasan Timur Tengah.


Daya tarik kuntulan bisa dilihat pada Festival Hadrah Pelajar Nasional yang digelar di Banyuwangi, Mei 2019. Tampil 13 mahasiswa dari 12 negara peserta program Beasiswa Seni Budaya Indonesia (BSBI). Salah satunya Irati Gutierrez Ugarte asal Bilbao, Spanyol. Dia mengatakan berlatih tari kuntulan merupakan kesempatan baginya untuk mengenal Islam di Indonesia.


“Festival ini akan menjadi media untuk merajut silahturahmi dan konsolidasi antar pelajar dan santri dari seluruh nusantara. Sekaligus, lewat festival hadrah dan sholawat ini kami ingin mengirim pesan tentang budaya Islam di Indonesia yang santun, toleran, dan inklusif, dan yang tentunya cinta damai,” ujar Bupati Anas.


Festival Hadrah dan Festival Kuntulan Caruk masuk dalam agenda Banyuwangi Festival. Untuk tahun ini semestinya masing-masing akan digelar 9 Mei dan 3 Oktober 2020

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Istilah tante girang populer pada 1970-an kendati sudah menggejala dua dekade sebelumnya. Sastra populer merekamnya sebagai potret sosial.
bg-gray.jpg
Despite the mixed reactions, telenovelas continue to dominate Indonesian television. The heyday of these Latin American soap operas ultimately came to an end as viewers grew tired of them and switched to Mandarin and Korean dramas.
bg-gray.jpg
According to the Wangsakerta Manuscript, Tarumanagara was founded by refugees from India.
bg-gray.jpg
Prasasti Tugu turut meriwayatkan Kali Bekasi dan Kali Cakung Lama. Satu dari tujuh prasasti penting warisan Tarumanagara.
Sebagai ibukota Asia-Afrika, Bandung tak sekadar mencetuskan gerakan politik dan perdamaian, melainkan juga kedaulatan ekonomi.
Sebagai ibukota Asia-Afrika, Bandung tak sekadar mencetuskan gerakan politik dan perdamaian, melainkan juga kedaulatan ekonomi.
Setelah memberontak, pangkatnya  malah naik. Itulah pengalaman Alex Mengko si tentara berpengalaman.
Setelah memberontak, pangkatnya malah naik. Itulah pengalaman Alex Mengko si tentara berpengalaman.
K’tut Tantri dikenal sebagai penyiar asing yang membantu perjuangan Indonesia. Pengalaman di kamp interniran Jepang menjadi episode paling pahit dalam hidupnya.
K’tut Tantri dikenal sebagai penyiar asing yang membantu perjuangan Indonesia. Pengalaman di kamp interniran Jepang menjadi episode paling pahit dalam hidupnya.
Memanfaatkan kepercayaan orang Vietnam akan kematian, Amerika Serikat membuat operasi hantu untuk memanipulasi emosi dan persepsi tentara Viet Cong.
Memanfaatkan kepercayaan orang Vietnam akan kematian, Amerika Serikat membuat operasi hantu untuk memanipulasi emosi dan persepsi tentara Viet Cong.
Terinspirasi dari Festival Glastonbury. Konsisten memadukan para penampil beken dan para musisi dengan musikalitas tinggi lintas-genre.
Terinspirasi dari Festival Glastonbury. Konsisten memadukan para penampil beken dan para musisi dengan musikalitas tinggi lintas-genre.
Awalnya penyakit mematikan ini sulit diobati. Berkat penemuan insulin, diabetes tak lagi menjadi momok.
Awalnya penyakit mematikan ini sulit diobati. Berkat penemuan insulin, diabetes tak lagi menjadi momok.
transparant.png
bottom of page