top of page

Baret Merah Bikin Inggris Berdarah-darah

Pertempuran berdarah antara pasukan Baret Merah melawan pasukan Inggris semasa Konfrontasi Indonesia-Malaysia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, perwira di balik serangan yang memporak-porandakan pos pasukan Inggris di Sarawak. (Repro Jenderal TNI Sarwo Edhie Wibowo: Hidupku untuk Negara dan Bangsa).

2 Mei 2020
5 menit membaca

Diperbarui: 20 Jun

SETELAH pertempuran salah paham antara Yon 1/RPKAD melawan Yon 454/Diponegoro di luar PAU Halim Perdanakusuma pada pagi 2 Oktober 1965 mereda, Sersan mayor (Serma) Soediono mendapat perintah dari Kapten Oerip, atasannya di Kompi Ben Hur. Soediono diperintahkan sang komandan masuk ke Halim untuk menemui Komandan RPKAD (kini Kopassus) Kolonel Sarwo Edhie Wibowo guna melaporkan perkembangan situasi dan minta arahan lebih lanjut.


Ditemani Kopral Miptah, Serma Soediono lalu berjalan kaki masuk ke Halim. Sempat salah masuk ke markas Kolaga, Soediono dan Miptah berhasil menemui Sarwo Edhie di Makoops AURI. Sarwo Edhie berada di Makoops AURI ditemani sejumlah petinggi AURI seperti Laksda Udara Sri Mulyono Herlambang. Di sana, Sarwo Edhie mendapatkan penjelasan bahwa AURI tidak punya rencana membombardir titik-titik vital AD sebagaimana diyakini Pangkostrad Mayjen Soeharto dan pimpinan AD.


Maka begitu berhasil menemui sang kolonel, Soediono langsung menjalankan tugasnya. Dia diterima dengan baik oleh Sarwo Edhie. “Kolonel Sarwo Edhie mengenalnya dengan baik, karena dialah yang memberikan kenaikan pangkat luar biasa, menjadi Sersan Mayor di perbatasan Kalimantan Barat, berkat keberhasilannya menghancurkan perkubuan Inggris di Mapu, Sarawak,” tulis Aristides Katoppo, dkk. dalam Menyingkap Kabut Halim 1965.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page