Hasil pencarian
9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Agus Salim Bicara Islam di Negeri Paman Sam
PADA 1953, Haji Agus Salim menerima undangan dari Cornell University, Ithaca, New York, Amerika Serikat. Dia diminta menjadi guru besar tamu selama semester perkuliahan musim semi (Januari-Juni). Di salah satu universitas bergensi negeri Paman Sam itu, Agus Salim banyak berbicara soal Islam, agama yang masih sangat asing di kalangan orang-orang AS kala itu. Menurut Kambiz Ghanea Bassiri dalam A History of Islam in America: From the New World to the New World Order, keberadaan Islam sebenarnya sudah cukup lama di AS. Namun baru benar-benar mendapat perhatian dari pemerintah setelah Perang Duni II berakhir. Pada periode 1950-an AS tengah berusaha mendekati negara-negara Islam, baik secara politik maupun ekonomi. Pengetahuan dari Agus Salim inilah yang diharapkan dapat memberi gambaran tentang Islam secara jelas. Berbagai hal diangkat oleh The Grand Old Man di dalam mengisi perkuliahannya. Mulai dari hal yang mendasar, seperti rukun iman dan rukun Islam; hingga soal perkembangan dunia Islam sejak zaman Nabi Muhammad SAW sampai muculnya negara-negara Islam. “Dia menyatakan keyakinannya bahwa Islam berisi pesan ke seluruh alam semesta, tetapi bukan berarti bahwa Islam bermaksud menghapuskan agama lain. Faktanya, Islam memadukan mereka. Tidak hanya itu, bagi Salim agama dimaksudkan untuk berbuat baik,” tulis Purwanto Setiadi dalam Agus Salim: Truth and Nationalism. Kewajiban Seorang Muslim “ Bismillahirrahmanir Rahim. Saya mulai kuliah ini dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” Kalimat inilah yang dilafalkan Agus Salim ketika membuka kuliahnya. Sebagaimana terangkum dalam Pesan-Pesan Islam: Rangkaian Kuliah Musim Semi 1953 di Cornell Uniersity , Agus Salim memilih tema “Rukun Iman dan Islam” pada kesempatan pertamanya menjadi dosen tamu di Negeri Paman Sam ini. Sebagai permulaan, dia menerangkan tentang adanya lima kewajiban beribadah seorang muslim: Rukun Islam. Itu mencakup lima ibadah “fardu” yang harus dilakukan orang Islam selama hidupnya. Menurut Agus Salim, fardu di sini bukan wajib; makna yang lebih tepat adalah bagian atau jatah. Sehingga fardu dapat diartikan sebagai karunia dari Tuhan kepada manusia. “Penunaian kewajiban itu bukanlah diperlukan bagi Tuhan, melainkan diperlukan bagi manusia. Jika kita ingin hidup beribadah, hidup secara saleh, maka kita mutlak perlu untuk mematuhi suatu ketertiban, suatu disiplin tertentu,” tutur Agus Salim. Ibadah fardu ada lima jenis. Pertama adalah pemurnian atau menyucikan diri. Selain melafalkan kalimat syahadat –sebagai syarat sah menjadi Muslim– memurnikan tubuh lima kali sehari, melalui wudhu , menjadi kewajiban seorang Muslim. Pemurnian ini dilakukan guna menghilangkan semua benda asing yang melekat pada tubuh, seperti lumpur, kotoran, bau, dan sebagainya. Kedua , mengerjakan ibadah shalat. Jumlah wajibnya lima kali dalam sehari. Agus Salim lalu menceritakan bagimana pembagian waktu shalat dari mulai fajar hingga malam tiba, sesuai dengan teladan Nabi Muhammad Saw. Mengenai ibadah yang kedua ini, Agus Salim menerangkan jika setiap tempat mempunyai waktu yang berbeda karena mengikuti pergerakan bumi. Kepada para mahasiswa di Cornell, Agus Salim mengemukakan pandangan modern soal shalat yang disesuaikan dengan kegiatan sehari-hari. Menurutnya, setiap orang harus menyisihkan sejenak waktunya untuk beribadah. Meski kegiatan dari pagi hingga malam begitu padat, selalu ada waktu di sela-sela jadwal itu yang bisa digunakan untuk shalat. “Setiap kali, kita kesampingkan segala pikiran, suka duka, kecemasan, dan harapan dari kehidupan keseharian, untuk menghadapkan wajah kita dan memusatkan jiwa raga kita kepada Tuhan,” kata Agus Salim. Ketiga , menjalankan puasa selama bulan Ramdhan , yakni bulan kesembilan menurut tahun takwim Islam. Akhir dari kewajiban ibadah yang ketiga ini adalah Hari Raya pada 1 Syawwal, bulan kesepuluh dalam tahun takwim Islam. Lalu kapan puasa ini dijalankan jika melihat tahun masehi? Dikatakan oleh Agus Salim, di negara empat musim ibadah puasa bisa jatuh pada musim yang berbeda tiap tahunnya. Sementara di zone khatulistiwa, termasuk Indonesia, perbedaan ini tidak terlalu terlihat. Keempat, kewajiban mengeluarkan zakat, sejenis pajak kekayaan. Besarannya 2,5% atas kekayaan pada suatu batas tertentu. Ada banyak jenis zakat. Tiap-tiap jenis memiliki besaran pengeluaran yang berbeda. “Bayaran ini tidak dipandang sebagai sedekah, pemberian amal, tapi dipandang sebagai pajak penyucian. Maka itu disebut zakat, artinya pemurnian, penyucian”. Kelima , menunaikan ibadah Haji bagi yang mampu memikul biayanya dan cukup sehat secara jasmani, dengan syarat bahwa situasi untuk menjalankan perjalanan itu sedang aman. “Masing-masing kewajiban itu disebut rukun atau sendi agama Islam. Boleh pula kita menyebutnya sokoguru atau batu-alas agama Islam,” kata Agus Salim. Pondasi Keimanan Setelah menjabarkan tentang Rukun Islam sebagai kewajiban ibadah seorang Muslim, Agus Salim mulai berbicara tentang pondasi seorang muslim: Rukun Iman. Jumlahnya ada enam, yakni iman kepada Allah sebagai Tuhan tunggal, tiada yang lain; iman kepada Malaikat-Nya sebagai pesuruh Allah; iman kepada kitab-kitab, yang di dalamnya mengandung firman Allah dan disampaikan kepada para Nabi dan Rasul-Nya; iman kepada Rasul sebagai duta Allah di dunia; Iman kepada Hari Akhir; dan iman kepada Qada dan Qadar , yang secara harfiah berarti ukuran baik dan buruk ditentukan oleh Allah. Menurut Agus Salim, empat rukun permulaan masuk akal dan jelas. Pengetahuan tentang kehendak Tuhan dari para Nabi, serta tentang kitab berisi firman Allah dan kisah hidup Nabi, bahkan perjalanan hidup Nabi dan Rasul-Nya dari orang-orang yang pernah hidup sezaman merupakan suatu mata rantai yang jelas. Sementara rukun kelima, iman kepada hari akhir (kiamat) sebagai hari diputuskannya amal manusia oleh Allah, menjadi sesuatu yang belum tampak. Banyak orang (ahli agama) mengartikan pesan Nabi Muhammad SAW seakan-akan hari kiamat itu sudah dekat sekali di depan mata. Mereka akhirnya menyangka bahwa kiamat akan melanda manusia pada masa hidup mereka. “Namun itu bukan cara pandang yang tepat menurut saya. Pesan yang dibawa oleh Nabi ditujukan kepada setiap orang, kepada kita masing-masing. Dan, masing-masing dari kita hanya dapat bersiap-siap berusaha dan berikhtiar menjelang kiamat itu, hanya semasa hidup kita yang tidak seberapa lama ini. Setelah tiba ajal, habislah segala ikhtiar, habislah usaha dan kegiatan kita, kita tinggal menantikan kiamat saja,” tutur Agus Salim. “Oleh karena itu, Nabi Muhammad telah memberi peringatan, dan sungguh benar peringatannya bahwa bagi kita masing-masing saat perhitungan itu sudah dekat sekali”. Mengenai rukun keenam, iman kepada Qada dan Qadar , Agus Salim menjelaskan jika Tuhan sebenarnya tidak pernah menciptakan suatu keburukan. Manusialah yang pada akhirnya menentukan ukuran kebaikan dan keburukan itu. Manusia bisa saja membawa kebaikan kepada keburukan, ataupun sebaliknya. Semua itu hanyalah tentang cara memanfaatkan ciptaan Tuhan dengan sebaik-baiknya. "Anda tahu bahwa udara adalah suatu syarat kehidupan manusia. Udara itu terdiri atas suatu campuran senyawa. Jika anda mengatakan dari campuran itu hanya oksigenlah yang berkhasiat bagi kesehatan, maka anda pun tidak seluruhnya benar. Sebab, jika udara yang kita hirup hanya terdiri atas oksigen murni, maka segera tamatlah riwayat kita. Tiada sebagian kecil pun dari udara itu yang tidak berfaedah," kata Agus Salim.*
- Gurauan Sukarno untuk Kennedy dan Khrushchev
MEMASUKI dekade 1960, ketegangan Perang Dingin memuncak. Kala itu, Amerika Serikat (AS) dipimpin Presiden Kennedy sedangkan Uni Soviet oleh Nikita Khrushchev. Krisis di antara Kennedy dan Khrushchev ditandai dengan perlombaan senjata dan eksplorasi luar angkasa. Ketegangan ini membagi dunia atas dua kubu Blok Barat (AS) dan Blok Timur (Uni Soviet). Di tengah persaingan AS dan Uni Soviet, Presiden Sukarno tampil membawa Indonesia sebagai negara non blok. Meski demikian, Sukarno ikut aktif menjalin persahabatan baik terhadap Kennedy maupun Khrushchev. Sukarno lebih dahulu menggaet Khrushchev dengan mengundang sang kamerad berkunjung ke Indonesia.
- Saran Para Ulama dalam Menghadapi Wabah
DUNI tengah berjuang melawan pandemi virus corona. Pemeritah Indonesia telah mengeluarkan protokol kesehatan menghadapi Covid-19. Begitu pula Majelis Ulama Indonesia pun telah mengeluarkan fatwa agar umat Islam menjaga kesehatan diri dan berperan dalam memutus penyebaran virus corona, di antaranya dengan beribadah di rumah. Dalam sejarah Islam, para ulama telah menghasilkan karya-karya tentang wabah dan cara menghadapinya. Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah, menjelaskan bahwa para sarjana muslim biasanya mengawali penjelasannya dengan hadis. “Kalau ada wabah di suatu daerah kamu jangan masuk ke situ, dan jangan lari dari situ karena akan menularkan. Ini kejadiannya dalam wabah amwas pada masa Sayyidina Umar,” kata Oman dalam seminar daring lewat aplikasi zoom tentang “Wabah dalam Lintasan Sejarah Umat Manusia” yang diselenggarakan Museum Nasional pada Selasa, 21 April 2020 . Memanjatkan Doa Ibnu Abi Hajalah menulis Daf’an-niqmah ketika wabah melanda Kairo pada 1362. Saat itu Maut Hitam merebak di Eropa dan Timur Tengah. Ia mengisahkan pengalamannya dalam menghadapi wabah. Michael Walters Dols, sejarawan Amerika Serikat, dalam The Black Death in the Middle East menjelaskan bahwa menurut Abi Hajalah pertahanan terbaik menghadapi wabah adalah berdoa. Salah satunya dengan memperbanyak membaca salawat nabi. "Ini menghiasi beberapa karya ulama pada masa itu (abad ke-14, red .)," kata Oman. Dols mencatat, risalah ini juga mencakup diskusi tentang tiga kepercayaan muslim terkait wabah, yaitu kematian oleh wabah adalah syahid untuk muslim yang setia, hadis mengenai seorang muslim tidak boleh masuk dan melarikan diri dari daerah yang dilanda wabah, dan bagaimana sifat wabah itu sendiri. Abi Hajalah menyebut kematian anaknya oleh wabah sebagai mati syahid. Ia menguburkannya berdekatan dengan makam seorang wali. "Sebagaimana hadis nabi, kematian sang putra, ia sebut sebagai kematian syahid," kata Oman. Ibnu Hajar al-‘Asqalani (1372-1449), ahli hadis mazhab Syafi’i yang terkemuka, juga termasuk yang memakai penjelasan teologis. Ia meyakini bahwa penyakit lahir karena kehendak Tuhan, hukuman, rahmat, atau dosa. Menurut Oman, di antara ulama-ulama yang memakai penjelasan serupa, mereka percaya penyakit menular itu tak ada. Bagi mereka, penyakit datang langsung dari Tuhan. "Al-‘Asqalani juga menulis doa supaya sehat, lalu agar bersabar dan berbaik sangka, plus di rumah saja saat ada tha’un ," kata Oman. Mencari Ketenangan Muhammad al-Manjibi al-Hambali, cendekiawan dari Suriah Utara abad ke-14, menulis kitab saat wabah merebak pada Rajab 775 H (1373). Penyebaran wabah meningkat menjelang akhir Syawal, Dzulka’dah, dan Dzulhijah, kemudian menurun pada Muharram tahun berikutnya. Kitab karya Al-Manjibi itu diterjemahkan oleh Avner Giladi, profesor sejarah Timur Tengah di University of Haifa, dalam "'The Child Was Small... Not So the Grief for Him': Sources, Structure, and Content of Al-Sakhawi's Consolation Treatise for Bereaved Parents" yang terbit di jurnal Poetics Today. Wabah itu mengakibatkan banyak rumah dikosongkan dan ribuan orang meninggal dunia. "Karena begitu banyak orang beriman yang meninggal, saya menyebut wabah ini 'wabah orang-orang saleh' ( ta’un al-akhyar )," kata Al-Manjibi. Namun, mayoritas yang tewas adalah anak-anak. "Sangat parah sehingga keluarga teman-teman kami kehilangan semua anak-anak mereka, tidak ada yang selamat," kata Al-Manjibi. Menurut Oman, Al-Manjibi menulis karya itu untuk menghibur orang yang sedang bersedih karena tertimpa wabah. Karya itu diharapkan memberikan rasa tenang kepada orang-orang yang panik. "Saya ingin menghibur supaya mereka rileks, tidak stres, maka aku karanglah kitab ini. Ini untuk menghibur mereka yang terkena wabah," kata Al-Manjibi dikutip Oman. Ibnu Khatimah, ulama sekaligus ahli medis, sejarawan, dan penyair dari Andalusia, juga menyaksikan wabah Maut Hitam merebak di Eropa. Menurutnya, ketika wabah merebak, penting untuk menjaga moral dan jiwa agar terus merasa gembira, tenang, rileks, dan penuh harapan. "Masyarakat harus mencari pendamping yang menyenangkan, pendamping yang terbaik adalah Alquran," kata Ibnu Khatimah dikutip Dols. Masyarakat yang berada di tengah wabah juga bisa mencari ketenangan lewat buku sejarah, humor, dan kisah cinta untuk mengisi pikiran. Mereka harus mengindari berbicara tentang apapun yang bisa membangkitkan kesedihan. "Intinya Anda harus ceria, harus rileks, jaga asa, di sini contohnya jangan bicara yang sedih-sedih, baca buku sejarah, humor, dan kisah cinta," kata Oman. Ibnu Khatimah juga menyarankan untuk mengurangi pergerakan supaya menghindari penularan lewat pernapasan. Mengisolasi Diri Banyak ulama dan cendekiawan muslim mendukung hadis yang melarang tidak masuk dan melarikan diri dari wilayah terkena wabah. Salah satunya Ibnu al-Khatib (1313–1375) yang lahir di Loja, Granada (sekarang masuk wilayah Spanyol). Al-Khatib banyak menulis tentang sejarah, filsafat, mistisisme, kedokteran, dan puisi. Risalahnya yang penting tentang wabah pes (Maut Hitam) berjudul Muqni’at as-sa’il ‘an marad al-ha’il. Menurut William B. Ober dan Nabil Alloush dalam "The Plague at Granada 1348–1349: Ibn Al-Akhatib and Ideas of Contagion" yang terbit dalam Bulletin of the New York Academy of Medicine , karya itu ditulis setelah tahun 1352 karena Al-Khatib juga menyebut kisah Ibnu Battutah tentang wabah di Timur Tengah. Pengelana asal Maroko itu sempat mengunjungi Granada pada 1349–1352. Al-Khatib merekomendasikan sejumlah tindakan pengobatan yang tak banyak berbeda dengan ulama lainnya. Namun yang menarik, ia menekankan adanya penularan. Penyebaran penyakit terjadi melalui kontak antarmanusia. Menurutnya orang yang kontak dengan korban wabah akan mati. Sedangkan orang yang belum terpapar akan tetap sehat. Pakaian mungkin salah satu yang bisa membawa penyakit masuk ke rumah. Bahkan anting-anting yang dipasang di telinga pun bisa berakibat fatal. "Penyakit ini bisa muncul pertama kali dalam satu rumah di kota tertentu, lalu menyebar dari sana ke tetangga, kerabat, atau pengunjung," kata Al-Khatib dikutip Ober dan Alloush. Wabah dapat merebak ke kota pantai karena seseorang yang mengidapnya datang dari seberang lautan yang wilayahnya terjangkit penyakit. "Banyak orang tetap dalam kondisi sehat jika menjaga diri mereka terisolasi dari dunia luar," kata Al-Khatib. Al-Khatib mencontohkan, seorang saleh bernama Ibnu Abi Madyan dari wilayah Salé, Maroko, percaya adanya penularan. Karenanya ia menyiapkan perbekalan, membangun rumah dengan bata, dan mengisolasi keluarga besarnya. " Kota itu sangat terdampak, tapi tak ada seorang pun dari keluarganya yang terjangkit," kata Al-Khatib. Ada banyak komunintas yang tinggal jauh dari jalan raya dan jalur perdagangan tetap sehat. "Contoh lain adalah para tahanan di Sevilla, mereka tak terdampak. Padahal kota itu sangat terpukul akibat wabah," kata Al-Khatib. Menjaga Imunitas Ibnu Khatimah menganjurkan untuk menjaga imunitas saat menghadapi wabah. Dalam karyanya, ia menjelaskan ada orang yang punya imun baik dan tidak. Oman mengatakan Ibnu Khatimah memberikan berbagai tips untuk memperkuat ketahanan tubuh. "Ulama sekaliber Ibnu Khatimah menjelaskan dari herbal. Logikanya seperti sekarang," kata Oman. Misalnya, mengolesi muka, tangan, dan tubuh dengan sitrun, kandungan dalam jeruk, atau bunga segar. Ia juga menyebutkan buah-buahan untuk diminum. "Seseorang harus menggosok wajahnya dan tangannya dengan aroma lain seperti serai, lemon, dan bunga segar seperti mawar dan violet," kata Oman. Ibnu Khatimah juga menyarankan agar banyak menghirup udara segar, tinggal di rumah yang menghadap ke utara, dan menjaga tetap terkena sinar matahari dan angin hangat. Ia juga menganjurkan agar memenuhi rumah dengan wangi-wangian, seperti membakar kayu cendana dan kayu gaharu; merendam mawar dan memercikan air mawar di rumah dan penghuninya. "Karena diyakini penyakit muncul dari tempat kotor dan bau. Campuran kayu gaharu dengan air mawar juga bisa diminum," kata Oman. Menurut Oman, kebanyakan naskah terkait wabah dihasilkan oleh para ulama yang hidup saat Maut Hitam menyergap. Wabah ini dengan dahsyat menyebar melintasi padang rumput Asia Tengah ke pantai-pantai Laut Hitam. Tak terkecuali kota-kota besar dan kecil Islam juga terdampak. "Dalam tradisi Islam, dari Alquran dan Injil dilihat secara bersama-sama, ketemu titik temunya bahwa ini wabah kemanusiaan. Sama seperti sekarang, etnis apapun, agama apapun bersama menangani wabah ini," kata Oman.*
- Ahmadiyah dan Sukarno
ENDEH, 25 November 1935, rasa gundah datang menyelimuti Sukarno. Sudah beberapa hari pikirannya begitu terbebani oleh sebuah surat dari kawannya, A. Hassan, di Bandung. Pasalnya, ia dituduh telah mendirikan cabang Ahmadiyah di Sulawesi. Bahkan menjadi propagandis untuk penyebaran Ahmadiyah di wilayah itu. Menurut sang kawan, berita tentang hubungan dirinya dan Ahmadiyah pertama kali tersebar di surat kabar Pemandangan , pada sebuah kolom berita singkat. Mengingat surat kabar yang dimaksud baru sampai di Endeh tiga sampai empat hari, Sukarno belum sempat membacanya. Namun ia sangat yakin dengan kabar dari kawan yang dipercayainya itu. Kerisauan Bung Karno kemudian dituangkan di dalam sebuah surat berjudul “Tidak Percaya Bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi” (dimuat dalam bukunya, Di Bawah Bendera Revolusi Jilid Pertama) . Sukarno tidak habis pikir bagaimana bisa tuduhan sebagai propagandis Ahmadiyah di Sulawesi ini dialamatkan kepadanya, sedangkan di dalam pengasingan ia tidak bisa begerak secara bebas. Sukarno lalu meminta kepada A.Hasan untuk membantunya membantah segala berita tentang dirinya di surat kabar Pemandangan . “Saya bukan anggota Ahmadiyah. Jadi mustahil saya mendirikan cabang Ahmadiyah dan menjadi propagandisnya, apalagi buat bagian Celebes! Sedang plesir ke sebuah pulau yang jauhnya hanya beberapa mil saja dari Endeh, saya tidak boleh!” kata Sukarno. Diakui Sukarno, jika di Endeh dirinya memang menjadi lebih memperhatian urusan-urusan agama dibandingkan sebelumnya. Selain karena studi ilmu sosial yang mulai didalami, ia juga banyak membaca buku-buku soal agama. Tapi ditegaskan oleh Sukarno bahwa ia tidak pernah terikat oleh suatu golongan agama tertentu. Ia lebih suka disebut sebagai penganut Islam. “Dari Persatuan Islam Bandung, saya banyak mendapat penerangan; terutama personnya tuan A. Hassan sangat membantu penerangan bagi saya itu. Kepada tuan Hassan dan Persatuan Islam saya di sini mengucapkan saja punya terima kasih, beribu-ribu terima kasih,” ucapnya. “Kepada Ahmadiyah pun saya wajib berterima kasih.” Tentang Ahmadiyah Kendati menolak jika dikaitkan dengan Ahmadiyan, Sukarno mengagumi beberapa hal yang terdapat di dalam ajaran Ahmadiyah. Ia bahkan membaca beberapa buku keluaran Ahmadiyah, yang menurutnya memberi banyak pelajaran, di antaranya: “ Mohammad the Prophet ”, dan “ Inleiding tot de Studie van den Heiligen Qoer’an ” karya Mohammad Ali; ” Het Evangelie van den daad ”, dan “ De bronnen van het Christendom ” karya Chawadja Kamaloedin; serta kumpulan artikel di dalam “ Islamic Review ”. “Mengenai Ahmadiyah, walaupun beberapa pasal di dalam mereka punya visi saya tolak dengan yakin, toh pada umumnya ada mereka punya features yang saya setujui: mereka punya rasionalisme, mereka punya kelebaran penglihatan ( broadmindedness ), mereka punya modernism, mereka punya hati-hati terhadap kepada hadist, mereka punya striven Qur’an saja dulu, mereka punya systematische aannemelijk maken van den Islam ,” ujar Sukarno. Menurut Lukman Surya dan Nur Kholik dalam Manifesto Modernisasi Pendidikan Islam: Ulasan Pemikiran Soekarno , tidak hanya mengungkapkan kekagumannya, Sukarno juga menolak dan tidak menyetujui beberapa uraian yang ada di dalam buku-buku Ahmadiyah. Misalnya menjadikan tokoh Mirza Ghulam Ahmad sebagai seorang yang dikeramatkan, dan kecintaan kepada imperialisme Inggris. Jadi Sukarno menempatkan dirinya pada posisi yang relatif netral. Ada beberapa soal di dalam ajaran Ahmadiyah yang dia terima sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang rasionil. Tapi ada pula bagian-bagian ajaran itu yang ia tolak mentah-mentah. “Toh saya merasa wajib berterima kasih atas faedah-faedah dan penerangan-penerangan yang telah saya dapatkan dari mereka punya tulisan-tulisan yang rasionel, modern, broadminded dan logis itu,” ucap Sukarno. Namun ditegaskan juga oleh Sukarno bahwa ia mempelajari agama Islam tidak hanya dari satu sumber saja. Karena bagi Sang Proklamator, agama Islam adalah satu agama yang luas, yang menuju kepada persatuan manusia. Untuk itu telah begitu banyak buku “yang saya datangi dan saya minum airnya”. “Buku-buku Muhammadiyah, buku-buku Persatuan Islam, buku-buku Pelajaran Islam, buku-buku Ahmadiyah, buku-buku dari India dan Mesir, dari Inggris dan Jerman, tafsir-tafsir bahasa Belanda dan Inggris, buku-buku dari lawan-lawan Islam (Snouck Hurgronje, Arcken, Dozy Hartmann, dan lain sebagainya), buku-buku dari orang bukan Islam tapi yang simpati dengan Islam, semua itu menjadi material bagi saya. Ada beberapa ratus buku yang saya pelajari itu. Inilah satu-satunya jalan yang memuaskan kepada saya di dalam saya punya studi itu,” kata Sukarno.*
- Gebrakan Anti Korupsi Ala Jenderal Jusuf
JENDERAL TNI Mohammad Jusuf masuk gelanggang baru usai purna tugas sebagai Panglima ABRI. Presiden Soeharto menunjuk bangsawan Makassar itu untuk memimpin Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menggantikan Jenderal TNI (Purn.) Umar Wirahadikusumah. Umar berhenti sebagai Ketua BPK karena harus mendampingi Soeharto sebagai wakil presiden. Pada 29 Maret 1983, Jusuf resmi menjadi ketua BPK. Dari Istana setelah serah terima jabatan, Jusuf langsung menuju kantor BPK yang terletak di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Hari itu, semua staf BPK telah menanti bos baru mereka dengan harap-harap cemas. Ketika Jusuf memperkenalkan diri, sepatah amanat terlontar. “Yang memeriksa harus lebih bersih sebelum melakukan pemeriksaan,” kata Jusuf dicatat dalam Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia: 1983—1984 . “Tidak ada bangsa di dunia ini dapat menjadi besar apabila apabila tidak memiliki harga diri dan kehormatan.” Itulah amanat perdana Jusuf yang disampaikan dihadapan seluruh jajaran BPK. Jusuf berupaya menegakkan wibawa lembaga yang saat itu dipandang sebelah mata. Memangggil Pejabat Negara Sebagai ketua BPK, Jusuf tidak begitu sering muncul ke muka publik sebagaimana waktu menjabat panglima ABRI. Penampilan pertama Jusuf di depan umum terjadi ketika Menteri Dalam Negeri Soepardjo Rustam mengundangnya pada 12 Oktober 1983. Menteri Rustam meminta Jusuf memberikan presentasi dalam rapat kerja gubernur se-Indonesia. Dalam pertemuan itu, Jusuf berbicara blak-blakan mengemukakan berbagai penyimpangan yang terjadi di pemerintahan. Temuan penyimpangan itu diteruskan BPK dalam Hasil Pemeriksaan Tahunan (Haptah). Laporan tersebut kemudian diserahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam bentuk buku tebal. Walau demikian, Jusuf masih geregetan lantaran Haptah hanya dianggap sebagai angin lalu belaka oleh DPR. Di sisi lain, BPK tidak punya kewenangan untuk menindaklanjuti saran-saran yang diberikan oleh Tim Auditor BPK kepada DPR. Pada akhir 1984, Jusuf berdasarkan kewenangan yang diatur undang-undang memulai gebrakannya. Dia memanggil pejabat tingkat menteri untuk datang ke kantornya. Tindakan Jusuf terbilang berani. Pada masa itu, tidak sembarang orang biasa memanggil menteri selain presiden dan wakil presiden. Jusuf mula-mula memanggil empat menteri. Kemudian pada 11 Desember 1984, Jusuf memanggil Menteri Pekerjaan Umum Suyono Sosrodarsono, Menteri Kesehatan Suwardjono Suryaningrat, dan Menteri Pertambangan dan Energi Dr. Subroto. Pemanggilan mereka berhubungan dengan hasil auditor BPK menyangkut keuangan negara. “Pokoknya, semua pihak yang kita perlukan untuk dipanggil, ya kita panggil,” ujar Jusuf seperti terkisah dalam biografinya Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit karya Atmadji SumarkidjoSewaktu memanggil Menteri Transmigrasi Martono, Jusuf mengemukakan banyaknya penyelewengan. Diantaranya soal pemberian hak transmigran di daerah baru. Ketika keluar dari kantor BPK, Martono mengatakan bahwa Ketua BPK mengingatkan dirinya agar hak para transmigran “jangan dilipat-lipat”. Hal yang sama terjadi kepada Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bapennas J.B Sumarlin. Dari Jusuf, Sumarlin mendapat informasi mengenai bentuk-bentuk penyelewengan yang ditemukan di kementeriannya. Tidak hanya menteri, Jusuf juga tidak segan memanggil pejabat level di bawah menteri bila diperlukan. Ini terjadi kepada Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Bustanil Arifin yang tergolong kerabat "keluarga Cendana" dari pihak Ibu Tien Soeharto. Bustanil dipanggil karena adanya temuan auditor BPK bahwa beras yang dibagikan kepada pegawai negeri tidak sesuai dengan mutu yang ditentukan. Hingga akhir tahun 1985, Jusuf telah memanggil dan bertemu dengan hampir semua Menteri Kabinet Pembangunan IV, kecuali Menteri Pertahanan dan Panglima ABRI. Bagi Jusuf setiap warga negara menurut ketentuan undang-undang harus mau memberikan keterangan kepada BPK. “Kalau tidak, orang itu bisa aku ajukan ke pengadilan!” katanya seperti dicatat Atmadji. Ketua Dua Periode Sorotan atas Kinerja BPK di bawah kepemimpinan Jusuf terbilang positif. Tajuk rencana Suara Pembaruan , 9 Februari 1987 mengungkapkan temuan-temuan BPK atas penyalahgunaan uang negara. Kerugian negara dari Pemilu 1987 mencapai Rp1,8 milyar. Piutang Bulog di berbagai perusahaan rekanannya sebesar Rp300 milyar. Sementara itu, kredit macet di Koperasi Unit Desa (KUD) juga mencapai belasan milyar rupiah. Meski kebijakannya memanggil menteri agak kontrovesial, Presiden Soeharto tampaknya sepaham dengan Jusuf. Hal ini dibuktikan dengan dipilihnya kembali Jusuf sebagai ketua BPK. Pada 9 Agustus 1983, Soeharto melalui surat keputusannya menetapkan Jusuf menjadi ketua BPK untuk periode kedua. Kebiasaannya memanggil menteri pun tetap diteruskan. Pada 1990, Jusuf menyerahkan hasil pemeriksaan tahunan BPK kepada DPR. Dalam laporannya, Jusuf menyebut betapa banyaknya pemakaian dana-dana pembangunan yang menyimpang. Misalnya, BPK menemukan penyertaan modal pemerintah dalam BUMN yang tidak jelas statusnya. Jusuf juga melaporkan penemuan penanganan kredit macet yang tidak didasarkan atas ketentuan-ketentuan yang berlaku. Berbagai proyek Pemerintah Daerah yang tidak efektif dan efisien menjamur dimana-mana. Juga ditemukan instansi-instansi yang melakukan pengeluaran tidak pada tempatnya, seperti pembelian barang untuk jangka waktu panjang. “Sayang laporan BPK itu tidak disiarkan seluruh isinya dari tahun ke tahun untuk diketahui masyarakat. Dan pers Indonesia sendiri kelihatannya cukup lama tidak lagi bersemangat untuk membongkar kasus korupsi, kecuali pernyataan-pernyataan dari sumber resmi,” tulis Mochtar Lubis dalam Korupsi Politik . Cara kerja Jusuf melaporkan hasil temuan BPK pernah ditanyakan oleh Ben Mboi, gubernur Nusa Tenggara Timur. Menurut Mboi, Jusuf selalu membuat dua laporan temuan BPK. Laporan sesuai dengan realitas temuan diberikan kepada Presiden Soeharto agar dia mengetahui kondisi birokrasi negara yang sebenarnya. Sementara kepada DPR hanya laporan yang memperhatikan dampak-dampak poltik saja. “Hal-hal yang berdampak politik secara kualitatif saja dan bukan kuantitatif saya kirim ke DPR. Tapi Presiden harus tahu yang kualitatif dan kuantitatif,” kata Jusuf kepada Mboi dalam memoar Ben Mboi: Memoar Seorang Dkoter, Prajurit, Pamong Praja . Dengan demikian, aksi lanjutan pemberantasan korupsi terpulang kembali kepada Soeharto sendiri. Pada 1993, Jusuf mengakhiri periode keduanya sebagai ketua BPK. Kedudukan itu pula yang menjadi jabatan terakhirnya dalam pemeritahan. Setelah 45 tahun mengabdi negara yang dirintis dari prajurit hingga pejabat sipil, maka purnabaktilah Jenderal (Purn.) M. Jusuf.*
- Pesona Braga Tak Pernah Usai
Jika berkunjung ke Bandung, tentu saja tak akan melewatkan untuk jalan-jalan di sepanjang Braga. Di sana berjajar bangunan berarsitektur Eropa yang masing-masing memiliki kisah masa lalu. Sudah lama Braga menjadi destinasi wisata. Setiap hari, ada saja pelancong berlalu-lalang. Apalagi jika hari libur, pejalan kaki di Braga menyemut. Entah sekadar cuci mata atau melampiaskan hasrat berbelanja. Pengunjung menikmati Braga di kota Bandung. (Fernando Randy/Historia). Seorang anak kecil saat bermain di depan toko zaman dulu di Braga. (Fernando Randy/Historia). Para pengunjung di antara lukisan kawasan Braga. (Fernando Randy/Historia). Namun siapa sangka jika dahulu kawasan Braga adalah salah satu kawasan yang dihindari oleh masyarakat. Awal abad ke-19, Jalan Braga berjuluk Jalan Culik karena hanya jalan kecil dengan permukiman penduduk yang sunyi. Seiring berjalannya waktu kawasan tersebut mulai bersolek. Para usahawan yang rata-rata berkebangsaan Belanda mulai membangun toko, bar, tempat hiburan dengan konsep Eropa. Braga makin moncer dengan adanya gedung Societeit Concordia. Di gedung inilah sosialita dan kaum elite kota Bandung berkumpul. Mereka rajin menggelar berbagai pertunjukan kesenian seperti musik dan tari. "Pesta yang pernah usai" di Concordia ini turut merangsang beberapa pertokoan di Jalan Braga menyediakan keperluan pesta. Salah satu bangunan lama di kawasan Braga. (Fernando Randy/Historia). Braga yang berusia dua abad tetap menjadi pesona bagi wisatawan. (Fernando Randy/Historia). Seorang wisatawan berfoto di kawasan Braga. (Fernando Randy/Historia). Braga yang sudah berusia dua abad seperti tak kehilangan pesonanya. Arsitektur khas Eropa tetap dipertahankan. Pertokoan yang menjual pernak-pernik antik, lukisan hingga wayang masih bisa ditemui. Toko roti Sumber Hidangan sejak 1929 juga masih melayani pembeli. Bahkan penjual jamu gendong juga masih sesekali ditemukan. Kini bisa dibilang Braga makin "modis" dengan hadirnya berbagai kedai-kedai kopi kekinian. Ramdan Kosasih salah satu penjual wayang di Braga. (Fernando Randy/Historia). Toko roti dari jaman Belanda, Sumber Hidangan. (Fernando Randy/Historia). Salah satu toko yang menjual pernak-pernik dari zaman dulu. (Fernando Randy/Historia). Salah satu toko di kawasan Braga. (Fernando Randy/Historia). Pedagang jamu tradisional turut menambah kesan zaman dulu di Braga. (Fernando Randy/Historia). Kehidupan di sekitar kawasan Braga. (Fernando Randy/Historia). Seorang anak memakai jersey Persib Bandung, klub sepakbola dengan pendukung terbanyak di Jawa Barat. (Fernando Randy/Historia). Seorang kasir di toko roti Sumber Hidangan di Braga. (Fernando Randy/Historia). Di malam hari, Braga tak pernah sunyi karena banyak bermunculan tempat hiburan malam. Itulah Braga dengan segala daya pikatnya. Ia menjadi tujuan orang melepas penat sekaligus menjadi tumpuan banyak orang untuk bertahan hidup. Centre Point salah satu bangunan bersejarah di Braga. (Fernando Randy/Historia).
- Kawanan Serigala Berburu Mangsa
““YA Tuhanku, biarkanlah malaikat kudus-Mu membimbing dan menyertaiku,” tutur Kapten Ernest Krause (diperankan Tom Hanks) dalam doanya di atas kapal perusak USS Keeling . Doa itu sebagai penguat batinnya lantaran nantinya ia bakal dihadapkan pada marabahaya pertempuran dahsyat yang belum pernah ia alami sebelumnya. Kisahnya diangkat ke layar perak bertajuk Greyhound. Film yang disutradarai Aaron Schneider itu merupakan adaptasi dari novel The Good Shepherd karya CS. Forester, nama pena novelis Inggris Cecil Louis Troughton Smith, yang terbit 1955. Kisahnya berpusar pada epik Kapten Krause yang bertugas melindungi konvoi Sekutu berisi 37 kapal logistik dan kapal dagang melintasi Samudera Atlantik Utara, demi menyokong Inggris dan Uni Soviet di awal 1942 di tengah Perang Dunia II. Meski sang kapten merupakan perwira senior, itu jadi penugasan lapangan pertamanya. Kala langit mulai dibalut awan gelap dan ombak mulai mengganas, alarm dan sirine tanda bahaya kapal meraung-raung. Benar saja, sebuah Unterseeboot atau yang dikenal U-Boat di kalangan Sekutu alias kapal selam Kriegsmarine (AL Jerman) menampakkan bagian sail -nya. USS Keeling segera mengejar untuk melepaskan belasan depth-charge (peledak kedalaman). U-Boat Jerman itu pun hancur dalam sekali hantam. Krause dan para krunya masih larut dalam euforia ketika tanpa dinyana kemudian sirine dari salah satu kapal dagang meraung-raung lagi. Satu kapal lainnya pun terbakar dan karam. Krause segera insyaf. Ia terhenyak ketika menyalakan radar dan mendapati belasan titik di sekitar posisi kapalnya. Itu artinya konvoi mereka tengah dikepung belasan U-Boat yang bersiap menyerang mangsanya dalam formasi wolfpack (kawanan serigala). Lantas, apa yang terjadi? Anda mesti bersabar. Jadwal tayang film yang tadinya akan dirilis pada 12 Juni 2020 ini diundur ke waktu yang belum ditentukan. Apa lagi penyebabnya kalau bukan gara-gara pandemi virus corona . Namun sepertinya tak sia-sia menunggu, mengingat di belakangan ini jarang film mengangkat epik tentang wolfpack di front Atlantik sebagaimana Das Boot (1981), U-571 (2000), atau In Enemy Hands (2004). Tom Hanks (kanan) sebagai Kapten Krause di atas kapal perusak USS Keeling menghadapi kawanan U-Boat Jerman. (Sony Pictures). Mula Kawanan Serigala Bila di darat Jerman-Nazi gilang-gemilang pada awal Perang Dunia II berkat taktik blitzkrieg dengan pasukan lapis baja sebagai ujung tombaknya, di laut, Kriegsmarine dengan tulang punggung sejumlah U Boat mengembangkan pola berbeda tapi memiliki kesamaan esensi dalam “sengatan” terkonsentrasi dan terkoordinir pada kubu musuh yang lemah. “Menurut saya tetap beda konteksnya. Wolfpack hanya pengembangan strategi kapal selam Jerman dalam Perang Dunia II yang pada intinya adalah mengeroyok konvoi. Awalnya strategi ini dari zaman Perang Dunia I. Populer diterapkan di Perang Dunia hasil buah pikir (Panglima Kriegsmarine, großadmiral ) Karl Dönitz,” ujar peneliti sejarah Perang Dunia II cum penulis buku 1000+ Fakta Nazi Jerman Alif Rafik Khan kepada Historia . Adalah Laksamana Hermann Bauer, Führer der Unterseeboote (FdU) atau Panglima Unit U-Boat Jerman di Perang Dunia I, yang disebut-sebut membidani embrio taktik kawanan serigala. Pada awal 1917, ia menggagas garis patroli U-Boat secara terkoordinir dan disokong kapal logistik Kriegsmarine di Atlantik Utara dengan tujuan menerkam konvoi Sekutu. Percobaannya pada Mei 1918 gagal. Banyak dari enam U-Boat dalam operasi perdana di Selat Inggris itu malah tumbang tertabrak kapal-kapal tempur dalam konvoi Sekutu. Penyebab utamanya soal komunikasi. Baru pada 1935 ketika Kriegsmarine mulai membangun lagi kekuatannya, sejumlah taktik eksperimental sebagai revisi strategi Bauer dilancarkan Dönitz yang saat itu komandan sebuah armada kapal torpedo. Dalam penilaian Dönitz, kapal selam mesti jadi tulang punggung baru bagi Kriegsmarine. Großadmiral Karl Dönitz di salah satu pangkalan U-Boat di St. Nazaire, Prancis, medio 1941. (Bundesarchiv). Pokok dari revisi Dönitz adalah pendekatan koordinasi dan komunikasi yang lebih canggih menggunakan mesin kode enkripsi Enigma. Kode yang biasanya berisi perintah ini datang dari stasiun komando BdU di Kerneval menginformasikan posisi-posisi konvoi yang bisa diterkam. Ketika formasi kawanan serigala itu sudah siap, setiap komandan U-Boat diberi keleluasaan memilih mangsanya satu per satu. Konsep Dönitz itu mulanya menuai penolakan, salah satunya dari Panglima Kriegsmarine Großadmiral Erich Raeder . Namun, gagasan Dönitz justru didukung Adolf Hitler. “Ia mengembangkannya menjadi konsep Rudeltaktik ( wolfpack /kawanan serigala). Gagasan yang kemudian diapresiasi Kanselir Adolf Hitler dan membuahkan promosi menjadi Befehlshaber der Unterseeboote/BdU (komandan unit kapal selam) di tahun yang sama,” ungkap David T. Zabecki dalam The German War Machine in World War II: An Encyclopedia. Dönitz pun memberi bukti di awal-awal Perang Dunia II. Buah pikirannya kemudian bikin keringat dingin para pembesar Sekutu di fase Pertempuran Atlantik (3 September 1939-8 Mei 1945). Pasalnya, sebelum 1943 konvoi Sekutu minim pengawalan kapal perang. “Satu-satunya yang membuat saya benar-benar ketakutan selama perang adalah bahaya U-Boat… Saya merasa lebih gelisah terkait pertempuran ini ketimbang Battle of Britain (pertempuran udara Inggris, 10 Juli-31 Oktober 1940),” kata Perdana Menteri Inggris Winston Churchill, dikutip Jonathan Dimbleby dalam The Battle of the Atlantic: How the Allies Won the War. Kapitänleutnant Günther Prien dan U-Boat yang dipimpinnya, U-47. (Bundesarchiv). Pemburu Berbalik Diburu Dalam catatan sejarawan Bernard Edwards yang dituangkannya dalam Dönitz and the Wolfpacks: The U-Boats at War , sepanjang Perang Dunia II Kriegsmarine mengerahkan 248 kawanan serigala. Wolfpack merupakan gugus tempur kecil yang kekuatannya minimal dua atau tiga U-Boat. Jika di darat perwira yang mengukir prestasi pertama menggunakan blitzkrieg adalah Jenderal Heinz Guderian dan Erwin Rommel, di laut dengan wolfpack perwira kondangnya adalah Korvettenkapitän (setara mayor) Gunther Prien. Wolfpack Prien, gugus tempurnya berkekuatan tujuh U-Boat yang berburu dalam kurun 12-7 Juni 1940, sukses memangsa lima kapal (40.949 ton) dalam Konvoi Sekutu HX 47. Kendati Wolfpack Prien lebih tenar di kalangan Kriegsmarine, catatan lebih fenomenal digoreskan Wolfpack West. Dengan kekuatan 23 U-Boat, kawanan yang berburu sepanjang 8 Mei-20 Juni 1941 itu menelan mangsa 33 kapal logistik/kapal dagang (191.414 ton) dan empat kapal tempur (33.448 ton) dari 10 konvoi yang diterkamnya. Namun, taktik wolfpack nan moncer itu seketika berbalik. Mulai akhir 1942 hingga akhir Perang Dunia II, kawanan serigala yang menjadi pemburu malah balik diburu gugus-gugus tempur Sekutu. Ini berkat keberhasilan Sekutu memecahkan kode-kode Enigma andalan kawanan serigala U-Boat dan mengembangkan alat pencegat transmisi komunikasi U-Boat, Huff-Duff (High Frequency Direction Finder). Alat itu membuat Sekutu tahu isi perut musuh. Mereka bisa melacak posisi-posisi musuh untuk kemudian mengerahkan gugus tempur pemburu U-Boat dari mulai kapal perusak hingga pesawat anti-kapal selam. “Ya, faktor kemunduran prestasi wolfpack karena Sekutu kemudian mengembangkan pertahanan yang lebih maju untuk menangkal serangan keroyokan dari U-Boat. Di antaranya adalah mengawal konvoi kapal dagang mereka dengan banyak destroyer (kapal perusak) dan mempersenjatai setiap kapal dagangnya,” tandas Alif.
- Kode Bahaya Masa Perang Kemerdekaan
SUKANAGARA, Cianjur Selatan pada 1947. Soma baru saja melantunkan azan ashar saat sudut matanya menangkap gerakan beberapa serdadu Belanda di jalanan kampung. Tetiba dia ingat beberapa gerilyawan Republik yang sedang mandi di sungai belakang surau. “Saya yang tadinya mau teriak hayya’ ala shalah, ku bakat geumpeur (karena saking gugup) dan takutnya, jadi teriak aya walandaaa (ada Belandaaa),” kenang lelaki berusia 92 tahun itu. Namun, lantunan azan Soma yang tak lazim itu, lekas ditangkap oleh para gerilyawan dan penduduk kampung. Secepat kilat mereka langsung menghindar dari kawasan itu. Ada yang langsung masuk hutan, ada juga yang pura-pura mengerjakan sesuatu. Kelompok terakhir itu adalah orang-orang kampung yang tak sempat menyelamatkan diri. Kode di masa Perang Kemerdekaan (1946-1949) memang bisa bermacam-macam. Umumnya di kampung-kampung, tanda bahaya atau informasi datangnya tentara Belanda disebarkan dengan bunyi kentongan yang dilakukan secara estafet dari kampung ke kampung. Namun menurut eks pejuang di wilayah Banyumas Iman Sardjono (91), cara itu terlalu “berisik” dan mudah didentifikasi musuh. Tak jarang akibat bunyi kentongan itu, tentara Belanda justru bisa tahu mana saja kampung yang berpihak kepada kaum Republik. “Mereka memang tidak menemukan siapa pun di kampung-kampung itu, tetapi sebagai penumpah rasa kesal, para serdadu itu tak jarang membakar seisi kampung. Itu kan merugikan rakyat juga,” tutur eks anggota Tentara Pelajar (TP) itu. Untuk memelihara kesenyapan, maka para pejuang di kaki Gunung Sumbing menciptakan sistem geplak . Sistem kode bahaya tradisional itu dalam prakteknya memang termasuk sangkil dan tidak mengeluarkan suara. Geplak terdiri dari sebuah tiang bambu yang tingginya kurang lebih 8-10 meter. Alat ini dilengkapi dengan sejenis bendera yang dibuat dari gedeg (anyaman bambu) berukuran kurang lebih 1x1 meter. Bentuknya menyerupai pemukul lalat dalam ukuran yang lebih besar. Setiap geplak didirikan tegak lurus di atas sebuah bukit yang menjadi pembatas desa. Jika bahaya datang (patroli tentara Belanda) maka tiang tersebut langsung dijatuhkan. Begitu pula hal yang sama dilakukan jika seorang pengawas (atau siapa pun warga yang melihat) mengetahui geplak di desa tetangga sudah dijatuhkan. Sistem geplak ini sempat membuat para serdadu Belanda patah arang. Dalam buku Met de TNI op Stap karya (veteran Perang Kemerdekaan) Ant. P. de Graaf mengisahkan mereka kerap jengkel jika akan menyasar sebuah tempat ternyata sesampai di sana tak ditemukan apapun. “Padahal orang intelijen sebelumnya sudah bilang bahwa di kampung itu ada konsentrasi pasukan TNI,” ungkap de Graaf, yang waktu masa perang ditugaskan di wilayah Banyumas. Sebaliknya, mereka pun tak jarang sering merasa kewalahan jika ketika suatu patroli belum mencapai tempat yang menjadi target, tetiba di tengah jalan, sekelompok pasukan TNI menghadang kedudukan mereka. Itu pernah terjadi di Desa Banaran, Wonosobo, saat sistem gedek berhasil menghancurkan satu unit patroli pasukan KL (Angkatan Darat Kerajaan Belanda). Juli 1949. Siang itu Letnan Muda Aman Sujitno dari Pasukan Tjadangan Ronggolawe tengah mendaki sebuah puncak bukit di Desa Banaran. Dia disertai oleh Letnan Satu Suhadi dari Kompi Leman. Mereka berdua tengah mencari posisi yang cocok guna memasang pertahanan mitralyur berat 12.7 mm. Setelah beberapa saat mengubek-ubek puncak bukit tersebut, mereka akhirnya menemukan tempat yang baik dengan bidak tembakan pertigaan Banaran. Mitralyur berat dipasang dan bidang tembakan dinyatakan sudah tepat. Baru beberapa menit selesai memasang senjata, Sujitno menyaksikan gedek di bukit desa sebelah tetiba dijatuhkan. Mereka pun bersiap. “Beberapa saat kemudian datang beberapa orang kampung, mereka memberitahu bahwa Patroli KL sedang bergerak menuju Banaran dari Sapuran," kenang Suhadi seperti pernah dikisahkan kepada Hardijono dalam Pasukan "T" Ronggolawe . Pertahanan pun disusun di bukit-bukit yang terletak di atas jalan dekat pertigaan Banaran. Pasukan yang dipimpin Suhadi berada di sisi utara, sedangkan Pasukan T berada di timur laut jalan. Sambil menunggu sasaran, mereka terdiam dalam lamunannya masing-masing. Ketegangan mewarnai suasana tempat itu. Sekitar 15 menit kemudian, terdengar suara derap sepatu lars diiringi suara-suara perbincangan dalam bahasa Belanda. Nampak sekitar satu seksi (60 personil) tentara Belanda (sebagian besar bule) tengah berbaris dalam posisi berbanjar namun tak beraturan. Sebagian di antara mereka memikul brengun. "Dor!" Aksi penghadangan dibuka dengan sebuah tembakan jitu yang menyasar pemegang brengun. Sang serdadu pun langsung terjungkal. Bersama dengan itu, hujan peluru berhamburan dari ketinggian bukit-bukit yang ada di sekitar pertigaan Banaran. Patroli militer Belanda itu pun panik. Tidak perlu waktu setengah jam, pertahanan mereka pun sudah hancur lebur. Suara desing peluru bersanding dengan suara teriakan ketakutan dan teriakan kesakitan akibat terhantam peluru Pasukan T dan Kompi Leman. Kendati persenjataan pasukan KL lebih unggul, namun karena posisi pasukan TNI lebih baik, patroli tentara Belanda itu semakin tak berdaya. Sebagai jalan keluar, pimpinan pasukan KL hanya bisa menyuruh anak buahnya untuk kembali mundur ke arah Sapuran dengan membawa korban tewas dan luka-luka yang sangat banyak. Setelah palagan ditinggal pasukan KL, secara bertahap pasukan TNI turun dan memeriksa bekas tempat pertempuran. Suasana mencekam mewarnai kawasan tersebut. Di sela-sela asap mesiu yang masih mengepul, mereka menemukan jejak-jejak darah berceceran dan sepasang sepatu lars yang nyaris tak berbentuk karena terhantam peluru. Di sisi lain dari bekas palagan itu, anak-anak Pasukan T menemukan sebuah helm tempur yang dipenuhi lubang peluru dan darah. Di helm itu tertera ukiran nama seorang perempuan Belanda bernama "Wies". Mungkin nama anak atau istri dari sang empunya helm tersebut. Demi melihat helm itu, anak-anak Pasukan T sejenak terdiam. Mereka sadar, seperti mereka, para prajurit KL pun datang bertarung ke tanah Hindia tentunya dengan meninggalkan orang-orang yang dicintainya. Bagaimana perasaan anak, istri dan handai taulan mereka begitu tahu bahwa orang yang dicintainya saat ini sudah tak bernyawa lagi? "Mengingat itu, hati kami terasa sedih, hampa dan sepi. Perang memang selalu memunculkan kenestapaan, yang sebenarnya kami pun tak menginginkannya," ujar Letnan Suhadi. Militer Belanda sendiri tak tinggal diam terhadap kejadian di Banaran tersebut. Seminggu kemudian, satu kesatuan besar pasukan mereka menyebu Desa Marongsari (desa terdekat dari Banaran yang dianggap berpihak kepada TNI). Menurut de Graaff, mereka menghajar Marongsari tanpa ampun. “Sekitar 10 rumah penduduk dibakar hingga menjadi abu,” ungkapnya. Kendati sangkil dan mangkus sebagai tanda bahaya, namun sistem gedek kadang menimbulkan cerita lucu juga. Pernah suatu hari, ketika beberapa serdadu KL terlihat keluar dari pos-nya, sistem gedek pun bergerak, menjalar hingga ke desa-desa tertinggi di Gunung Sumbing. Semua gerilyawan pun bersiap di posisi masing-masing “Padahal para serdadu itu keluar cuma sebentar, mungkin mereka mau mandi atau buang hajat saja,” pungkas Iman Sardjono.*
- Setelah Sukarno Melarang Freemason
FREEMASON telah hadir di Hindia Belanda sejak tahun 1760 dengan tercatatnya seorang anggota bernama J.L. van Schevichaven. Dua tahun kemudian, J.C.M. Radermacher, pegawai VOC, mendirikan loji pertama bernama La Choisie di Batavia. Ayahnya adalah Grand Master (Suhu Agung) Freemason pertama di Belanda pada 1730-an.
- Ulama Tetap Berkarya di Tengah Wabah
DI BALIK nestapa karena wabah, para ulama berusaha menafsirkan penyebabnya berdasarkan pendekatan medis, teologi, atau magis. Bahkan, banyak ulama dan keluarganya juga terkena wabah. Namun, keadaan itu tak melemahkannya malah mereka mencatat pengalamannya dalam menghadapi wabah. “Sebelum menemukan catatan wabah dalam kronik Tiongkok misalnya, Islam sudah melahirkan karya-karya tentang wabah karena sudah terjadi sejak masa Nabi Muhammad Saw.,” kata Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus staf ahli menteri agama, dalam seminar daring lewat aplikasi zoom bertema “Wabah dalam Lintasan Sejarah Umat Manusia”, yang diselenggarakan Museum Nasional pada Selasa, 21 April 2020. Catatan tentang wabah itu di antaranya karangan penting dari sejarawan Arab, Ibnu al-Wardi (1291/1292–1348/1349). Sayangnya, karyanya sudah tak ditemukan lagi. “Saya beruntung menemukan karya filologi dari Palestina yang sudah menyuting naskah ini. Naskah ini bentuknya puisi,” kata Oman. Dalam catatannya, al-Wardi mengungkapkan bahwa ia termasuk korban wabah bahkan wafat karenanya. Karya lain, Daf’al-niqmah ditulis oleh Ibnu Abi Hajalah ketika wabah melanda Kairo pada 1362. Artinya, Maut Hitam sudah merebak di Eropa dan Timur Tengah. Dalam karya lain, Abi Hajalah mengisahkan bagaimana menghadapi wabah berdasarkan pengalamannya. Putranya meninggal karena wabah itu. Sesuai hadis nabi, ia menyebut putranya mati syahid. “Aku menguburkannya di dekat seorang wali,” kata Oman mengutip catatan Abi Hajalah. “Kemudian dia menjelaskan bagaimana menghadapi orang yang meninggal dan bagaimana menguburkannya.” Ibnu Hajar al-Asqalani kehilangan tiga putrinya. Putrinya yang paling besar tengah hamil ketika meninggal karena wabah. Dalam Badrul ma'un , al-Asqalani menjelaskan bedanya wabah dengan tha’un . Wabah adalah penyebutan secara umum, sedangkan tha’un lebih spesifik merujuk pada penyakitnya. “Wabah yang berulang di Eropa dan Timur Tengah menghasilkan banyak karya yang betul-betul sudah dikenal,” kata Oman. Itulah mengapa menurut Oman, wabah penyakit kemudian membangkitkan gairah keilmuan dan riset di bidang medis. Khususnya yang terkait penyakit dan wabah. “Ahli medis waktu itu para ulama juga,” kata Oman, “maka kemudian lahir pula karya-karya di bidang medis.” Karya-karya itu menginspirasi generasi berikutnya dalam menghadapi wabah penyakit. Seperti dalam kondisi sekarang. “Kita harus selalu berprasangka baik. Pandemi sudah terjadi berulang. Dalam konteks budaya Islam sejak abad ke-6, tapi selalu ada hikmahnya,” kata Oman. Maka, menurut Oman, tidak produktif jika hanya menafsirkan wabah penyakit atau bencana alam sebagai wujud siksaan Tuhan. “Saya bukannya ingin bilang itu tak berdasar karena memang ada interpretasi soal itu. Tapi tidak produktif. Kalau memang siksaan, mengapa ulamanya, keluarganya ulama disiksa atau wafat? Logikanya begitu,” kata Oman. Menurut Oman, karena peristiwa wabah sudah berulang kali terjadi, seharusnya ada yang bisa dipelajari. Cara penanganan wabah bisa ditemukan dari catatan-catatan masa lalu. “Meski kita ini, orang-orang di naskah (filolog, red .), masih dipinggirkan dalam mencari solusi,” kata Oman. “Kita ini memang suka melupakan sejarah.”*
- Wabah Sejak Zaman Rasulullah
IBNU Battuta, pelawat muslim asal Maroko, sedang berlayar ke arah barat dari Tiongkok. Sementara itu, Maut Hitam, malapetaka pandemik terbesar sejak abad ke-6, menempuh perjalanannya melintasi padang rumput Asia Tengah ke pantai-pantai Laut Hitam. Wabah itu menyerang kota-kota besar dan kecil Islam dengan mengejutkan bagai serangan Mongol. Wilayah-wilayah pedalaman di Eropa, Afrika Utara, Timur Tengah, Paris dan Bourdeaux, Barcelona dan Balencia, Tunis dan Kairo, Damaskus dan Aleppo, menderita kematian besar-besaran akibat wabah itu. Orang-orang pun menghentikan kebiasaan sehari-hari. Mereka lebih memilih salat dan berdoa. Kebanyakan muslim menerima wabah itu sebagai rencana Tuhan yang tak diketahui ciptaan-Nya. Masjid-masjid ditutup. Khususnya saat para petugas dan anggota pengurusnya menjadi korban. Pengalaman Ibnu Battuta itu dituliskan kembali oleh Ross E. Dunn, sejarawan San Diego State University, dalam Petualangan Ibnu Battuta, Seorang Musafir Muslim Abad 14. Maut Hitam atau Black Death merupakan salah satu wabah yang pernah terjadi di negara-negara Islam di kawasan Timur Tengah. “Wabah pandemi adalah sejarah kelam yang berulang,” kata Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus staf ahli menteri agama, dalam seminar daring lewat aplikasi zoom bertema “Wabah dalam Lintasan Sejarah Umat Manusia”, yang diselenggarakan Museum Nasional pada Selasa, 21 April 2020. Jauh sebelum Maut Hitam, pandemi paling awal adalah wabah Justinian pada 541–542 yang merebak di wilayah Kekaisaran Romawi Timur pada masa Kaisar Justinian (527–565). Wabah penyakit berikutnya secara beruntun menyerang negeri-negeri Islam. Pada era Nabi Muhammad Saw. ada wabah Shirawayh . Wabah pertama pada awal sejarah Islam ini terjadi di Al-Mada’in (Ctesiphon), pusat pemerintahan Persia, pada 627–628 M. Wabah berikutnya adalah Amwas . Michael Walters Dols, sejarawan Amerika Serikat, dalam “Plague in Early Islamic History” termuat di Journal of the American Oriental Society menjelaskan, wabah ini dinamai demikian karena menyerang tentara Arab di Amwas, Emmaus, sebuah wilayah di Jerusalem. Peristiwa ini terjadi pada masa Kekhalifahan Umar bin Khathab tahun 638/639. Wabah Amwas mungkin menyerang dua kali pada Muharram dan Safar. Wabah ini menelan korban jiwa 25.000 tentara muslim, yang meluas ke seluruh Suriah, Irak, dan Mesir. Wabah Al-Jarif (688–689) dan Al-Fatayat (706) menyerang Basrah, kota terbesar kedua di Irak. Wabah Al-Jarif menelan korban jiwa dalam tiga hari berturut-turut sebanyak 70.000, 71.000, dan 73.000 orang. “Kebanyakan pria meninggal pada pagi hari keempat setelah terinfeksi,” tulis Dols. Sedangkan Al-Fatayat disebut penyakit para gadis karena kebanyakan korbannya perempuan muda. Selanjutnya, wabah Al-Asyraf pada 716–717 terjadi di Irak dan Suriah. Di Suriah, penyakit ini menewaskan putra mahkota, Ayyub bin Sulaiman bin Abdul Malik. Ayahnya, Khalifah Sulaiman, melarikan diri dari wabah, tetapi tewas di Dabiq, wilayah di utara Aleppo. Kemungkinan khalifah dari Bani Umayyah itu juga wafat akibat wabah penyakit. Saking kejamnya, epidemi ini sampai dibandingkan dengan penindasan Al-Hajjaj, gubernur Irak yang terkenal dari masa kekhalifahan Umayyah. “Beberapa wabah lain juga terjadi pada era kekhalifahan Umayyah,” kata Oman. Di luar itu, beberapa pandemi yang menelan banyak korban jiwa terjadi pada masa yang lebih modern. Di antaranya Maut Hitam pada 1347–1353, sebagaimana disaksikan Ibnu Battuta di tengah penjelajahannya. Lalu wabah Bombay pada 1896–1897 dan flu Spanyol pada 1918. “Dari wabah yang pernah terjadi ada yang lamanya sampai satu tahun, tiga tahun, bahkan 15 tahun, jadi sangat panjang,” kata Oman. Tafsir Musabab Wabah Umat Islam berulang kali mengalami wabah. Para ulama pun berusaha menafsirkan penyebabnya. Pertama, ulama yang menulis tentang wabah berdasarkan penjelasan medis, bahwa penyakit datang akibat polusi udara, kutu, tikus, dan darah kotor. Maka, manusia harus hidup sehat dan memakai wangi-wangian. Kedua, ulama yang menulis tentang wabah menggunakan penjelasan teologis. Mereka percaya penyakit menular itu ada dan datang langsung dari Tuhan. Salah satu ulama itu adalah Ibnu Hajar al-Asqalani (1372–1449), ahli hadis mazhab Syafi’i yang terkemuka. Menurut Oman, pada abad ke-14 literatur yang menjelaskan bahwa pademi adalah hukuman Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh teologi Kristiani. Sementara dalam tradisi Islam, ini tak terlalu kuat. “Memang itu ada. Ini kan intepretasi yang harus dikontekstualisasi,” kata Oman. Ross E. Dunn menyebut bahwa doktrin Kristiani mengundang kesimpulan bahwa dosa manusia telah bertumpuk sampai titik di mana Tuhan memberikan pelajaran. Banyak yang percaya wabah ini, Maut Hitam, adalah pelajaran Tuhan yang terakhir. Dengan kata lain mereka percaya saat itulah akhir dunia. “Menghasilkan keasyikan obsesif dengan bayang kematian, gerakan penyiksaan diri untuk menebus dosa, pembunuhan massal orang Yahudi, sebagai sasaran tradisional permusuhan dan rasa takut,” jelas Dunn. Ketiga, ulama yang memakai penjelasan magis tradisional. Dengan interpretasi ini, lahirlah pengobatan tradisional. Interpretasi itu berdasarkan penyebutan wabah penyakit dalam bahasa Arab, yakni tha’un, yang arti harfiahnya adalah jin. Ada beberapa hadis yang menyebut bahwa wabah penyakit ( tha’un ) tak akan bisa memasuki Madinah. Sampai abad ke-14 Madinah memang tak tersentuh wabah, sedangkan Makkah terjangkit. “Tapi sekarang kita tahu di Madinah juga ada yang positif (Covid-19, red. ), jadi ini perlunya reinterpretasi teks keagamaan,” kata Oman. “Apa berarti hadis Nabi keliru? Saya percaya tidak, yang belum sampai itu penafsiran kita.”*
- Rupa-Rupa Perjalanan Rombongan Piala Dunia Pertama
NEGARA mana yang tak ingin ikut serta dalam Piala Dunia? Tingginya prestise event sepakbola empat tahunan itu membuat hampir tiap negara rela melakani tahap demi tahap kualifikasi untuk bisa mengikutinya. Padahal, ketika Piala Dunia pertama dihelat di Uruguay pada 13-30 Juli 1930, banyak negara, khususnya asal benua Eropa, ogah berpartisipasi. Selain alasan jarak yang terpisah bentangan Samudera Atlantik, perkara finansial jadi pengganjal lantaran masih terdampak depresi ekonomi. Hanya empat negara Eropa yang ikut serta: Prancis, Rumania, Yugoslavia, dan Belgia. Selain berkat jasa lobi-lobi Presiden FIFA Jules Rimet, keempat negara itu berkenan datang karena akomodasinya, mulai dari perjalanan sampai kebutuhan mereka di Uruguay, ditanggung panitia pelaksana tuan rumah. Ketiga tim itu, termasuk Rimet dan tiga ofisial pertandingan, menyeberangi Atlantik dengan kapal pesiar SS Conte Verde yang dicarter panitia pelaksana tuan rumah. Saat SS Conte Verde berangkat dari Genoa, Italia pada 20 Juni 1930, baru timnas Rumania yang dibawa. Mengutip Clemente A. Lisi dalam A History of the World Cup: 1930-2010 , tim yang dikapteni Rudolf Wetzer dan ditukangi Costel Rădulescu itu tetap enggan berangkat dengan alasan tak ingin meninggalkan pekerjaan tetapnya. Kebanyakan pemain saat itu hanya menjadikan sepakbola sebagai hobi atau profesi “sampingan”. Mereka baru manut setelah mendapat titah Raja Carol II yang juga gila bola dan memberi jaminan mereka tetap akan mendapat pekerjaan selepas Piala Dunia 1930. “Kami lebih dulu berperjalanan selama dua malam dengan keretaapi ke Genoa. Kursinya sangat tak mengenakkan, membuat tulang-tulang kami kesakitan, tetapi semua itu setimpal,” ungkap Wetzer, dikutip Lisi. Timnas Belgia menumpang SS Conte Verde dari Barcelona (Foto: Repro "La Glorieuse Epopee De la Coupe Du Monde") Conte Verde yang membawa tim Rumania keesokannya merapat di Villefranche-sur-Mer, Prancis untuk mengangkut Rimet, trofi Piala Dunia, tiga ofisial, dan timnas Prancis. Sebelum masuk Samudera Atlantik, Conte Verde mampir lagi di Barcelona pada 22 Juni untuk menjemput timnas Belgia. Kapal pesiar itu sudah ditambahi fasilitas olahraga seperti ruang fitness dan kolam renang. Untuk menjaga kebugaran sepanjang perjalanan, para pemain memanfaatkan fasilitas tersebut. Tak jarang pula geladak dan tangga kapal serta beberapa furnitur kapal dimanfaatkan untuk latihan fisik. “Tak pernah ada pembicaraan soal taktik. Latihannya lebih banyak lari di dek kapal. Berlari dan berlari sepanjang hari. Di dek bawah kadang kami stretching , melompat dengan kursi dan alat-alat kebugaran lain di ruang gym. Tapi kami saat itu masih sangat muda. Buat kami seperti petualangan. Perjalanan dengan Conte Verde memakan waktu 15 hari. Sungguh 15 hari yang menyenangkan,” kata striker Prancis Lucien Laurent mengenang perjalanannya. Selain menikmati akomodasi, timnas Prancis juga mengisi durasi perjalanan dengan latihan fisik (Foto: Repro "L’Equipe de France de Football, la Belle Histoire") Hal serupa dilakoni tim Rumania dan Belgia, termasuk saat kapal merapat di Rio de Janeiro pada 29 Juni untuk menjemput timnas Brasil. Conte Verde tiba di pelabuhan Montevideo, Uruguay pada 4 Juli. Ketika Rimet turun dari kapal disertai empat tim partisipan, sekira 15 ribu warga tuan rumah menyambut mereka sebagai bentuk apresiasi terhadap kehadiran di Piala Dunia 1930. Langit dan Bumi Pengalaman berbeda dialami timnas Yugoslavia. Mereka meminta akomodasi lebih dari kapal sekelas Conte Verde . Yugoslavia baru berkenan berangkat ketika tuan rumah menawarkan kapal pesiar yang lebih mewah, MS Florida. Dengan kapal itulah tim Yugoslavia berangkat ke Uruguay dari Marseille, Prancis. Sebelumnya, tim Yugoslavia menempuh tiga hari perjalanan darat dengan keretaapi dari Beograd ke Marseille. “Tim asuhan Boško Simonović yang berangkat dengan kapal pesiar MS Florida itu sungguh istimewa karena hanya orang-orang yang sungguh kaya bisa menikmati fasilitas mewah di kapal tersebut. Laiknya penumpang kapal pesiar, para pemain menikmati dolce far niente alias berleha-leha,” tulis Asep Ginanjar dan Agung Harsya dalam 100+ Fakta Unik Piala Dunia . “Mereka tak ubahnya sekumpulan orang kaya yang tengah berlibur. Itu jauh berbeda dengan tiga tim Eropa lainnya di atas Conte Verde yang selama perjalanan tak henti menjaga kondisi tubuh. Anehnya meski berleha-leha sepanjang perjalanan, Yugoslavia justru menjadi wakil Eropa tersukses dengan menembus semifinal,” lanjutnya. Timnas Yugoslavia di atas geladak kapal pesiar nan mewah MS Florida (Foto: fifa.com ) Sejatinya MS Florida mengangkut tim Yugoslavia dan tim Mesir sebagai undangan wakil Afrika. Namun, menurut Lisi, “Sayangnya ketika hendak berangkat ke Marseille untuk melanjutkan perjalanan dengan MS Florida , kapal yang mereka tumpangi dari Mesir mengalami penundaan jadwal pelayaran akibat badai. Jadilah MS Florida berangkat tanpa timnas Mesir. Pihak Mesir lantas mengirim kawat ke panitia tuan rumah untuk meminta maaf karena selain akomodasi mewah itu hangus, Piala Dunia 1930 berjalan tanpa wakil Afrika.” Kondisi bak langit dan bumi terkait akomodasi dialami timnas Amerika Serikat dan Meksiko. Jika Yugoslavia bisa menikmati akomodasi top MS Florida , Amerika dan Meksiko amat tidak nyaman dengan akomodasi yang mereka dapatkan: kapal SS Munargo . Rony J. Almeida dalam Where the Legend Began menguraikan, timnas Amerika berangkat dengan SS Munargo dari pelabuhan Hoboken, New Jersey pada 14 Juni. Kapal itu lantas merapat di pelabuhan New York untuk menjemput timnas Meksiko. Tim “Sombrero” justru harus mengarah ke utara dengan berlayar dari Veracruz ke Havana (Kuba), dilanjutkan lagi dengan perjalanan laut ke New York. Kapal SS Munargo yang ditumpangi timnas Amerika dan Meksiko menuju Piala Dunia 1930 (Foto: Repro "Where the Legend Began" Setelah bergabung dengan timnas Amerika di atas geladak kapal SS Munargo, pelayaran mereka menuju Uruguay baru dimulai. Kedua timnas tiba di Montevideo pada 1 Juli. Selain lamanya durasi perjalanan, timnas Meksiko dan Amerika mengeluhkan kondisi kapal yang tak memungkinkan mereka untuk menjaga kebugaran dengan maksimal. Jangankan ketersediaan dek yang luas atau ruangan fitness , kondisi kamar mandi dan toiletnya pun dinilai buruk oleh pelatih timnas Amerika Robert Millar. “Kami sebisanya berlatih di atas kapal karena kondisi yang buruk di atas (kapal) Munargo . Kapal uap yang tak hanya kecil tanpa dek terbuka untuk berlatih, namun juga kondisi kamar mandinya begitu busuk,” ujar Millar dikutip Almeida. Kendati begitu, timnas Amerika mencetak sejarah yang lumayan dengan menembus babak semifinal. Mereka akhirnya dikandaskan Argentina 6-1. Adapun Meksiko, tak berdaya dengan hanya menjadi juru kunci di penyisihan Grup 1. Dari tiga laga kontra Argentina, Cile, dan Prancis, tak sekalipun ia menang.





















