top of page

Hasil pencarian

9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Nasib Nahas Lukisan Vincent van Gogh

    BUKAN hanya warga Belanda yang menjadi korban pandemi virus corona  (SARS-COV-2) dengan di- lockdown , sebuah lukisan berharga karya pelukis Vincent van Gogh pun turut jadi “korban”. Lukisan yang dipajang di Museum Singer Laren itu hilang dicuri pada Senin (30/3/2020) dini hari waktu setempat atau tepat di peringatan ke-167 kelahiran sang seniman. “Saya merasa marah dan sedih. Utamanya di masa-masa sulit seperti ini, saya merasa bahwa benda seni bisa jadi penenang untuk menginspirasi dan menyembuhkan kami,” tutur Direktur Museum Jan Rudolph de Lorm kepada The New York Times , Senin (30/3/2020). Lukisan karya Van Gogh yang dicuri itu bertajuk De pastorie in Nuenen in het voorjaar  atau Taman Pendeta di Musim Semi. Lukisan berdimensi 25 cm x 57 cm itu tengah dipinjam Museum Singer Laren sejak 14 Januari dalam rangka pameran “Mirror of the Soul” yang mestinya bergulir hingga 10 Mei 2020. Pameran dan museum itu terpaksa ditutup menyusul kebijakan lockdown  dikeluarkan pemerintah Belanda sejak 13 Maret 2020. Lukisan The Parsonage Garden at Neunen in Spring itu dipinjam Museum Singer Laren dalam rangka pameran dari Museum Groninger sebagai pemiliknya sejak 1962. Lukisan itu dikembalikan pada 2023 dalam sebuah tas terpal IKEA. Lukisan di Awal Kiprah Van Gogh The Parsonage Garden at Neunen in Spring  yang dibuat dengan pena dan cat minyak di atas kertas pada papan kayu itu dikerjakan pada medio Mei 1884. Saat itu merupakan masa awal karya Van Gogh dikenal publik sejak ia menekuni seni rupa tiga tahun sebelumnya. “Lukisannya berasal dari masa-masa awal, sebelum ia berperjalanan ke Arles dan Paris. Jadi lukisannya memang lebih gelap dan belum terlalu dikenal sebagai salah satu mahakarya Van Gogh,” sambung Direktur Museum Groninger, Andreas Blühm, dikutip The New York Times. Van Gogh membuat The Parsonage Garden at Neunen in Spring  setelah pindah dari Den Haag, Sien Hoornik, Drenthe, dan tinggal bersama orangtuanya di Neunen, dekat Hervormde Kerk (Gereja Reformasi) tak jauh dari kota Eindhoven pada Desember 1883. Usianya baru 30 tahun ketika Van Gogh pindah. Ayahnya merupakan pendeta di gereja tersebut. Sejak tinggal di Neunen, Van Gogh banyak menciptakan lukisan bertema taman. Salah satunya,  The Parsonage Garden at Neunen in Spring  yang ia buat sekira Mei 1884 atau enam bulan sejak pindah ke Neunen. Van Gogh merupakan sosok penyuka taman dan hobi berkebun. “Dia sangat menyukai taman pendeta di tempat ayahnya dan ketika ia hanyut dalam pengaruh impresionisme, dia menuliskan dalam catatannya betapa banyaknya taman yang dia kunjungi selama 10 tahun masa-masa produktifnya. Termasuk juga taman rumahsakit Arles, taman pertanian Provençal dekat Arles, Taman Puisi di Arles, taman rumahsakit jiwa Saint-Paul, taman bunga milik Dr. Paul Gachet di Auvers, dan taman mawar milik seniman Charles Daubigny di Auvers,” tulis Derek Fell dalam Van Gogh’s Gardens. Vincent Willem van Gogh di usia antara 17-19 tahun (Foto: Van Gogh Museum) Lukisan  The Parsonage Garden at Neunen in Spring  hanya satu dari sedikitnya empat lukisan bertema taman dekat gereja tempat ayahnya menjadi pendeta di Neunen yang ia buat. Pasalnya Van Gogh melukiskan taman itu di masing-masing musim sepanjang tahun. “Salah satunya menggambarkan taman yang tertutup salju, menegaskan garis perspektif yang diciptakan oleh dinding yang membatasi taman dan lingkungan sekitarnya. Latar belakangnya terdapat menara gereja berwarna gelap yang menyembul dari lanskap yang datar di bawah langit berwarna gradasi biru dan kuning terang,” lanjut Fell menerangkan karya Van Gogh bertajuk The Parsonage Garden at Neunen in the Snow  (1885). Dalam The Parsonage Garden at Neunen in Spring, Van Gogh mendeskripsikan seorang wanita berpakaian gelap di tengah taman yang di belakangnya terdapat sisa bangunan menara gereja tua. Van Gogh melukiskannya dengan palet hijau dan coklat gelap, serta sedikit sentuhan gradasi warna merah, sebagai indikasi bahwa musim semi telah tiba menggantikan musim dingin. Selama dua tahun tinggal di Neunen, Van Gogh menciptakan delapan lukisan bertema taman gereja itu, termasuk The Parsonage Garden at Neunen in Spring  yang jadi karya ketiga sejak pindah pada Desember 1883. Di masa itu, ia mendapat tekanan emosional lantaran dalam kurun dua tahun itu, sering tercipta tensi tinggi antara dirinya dengan sang ayah dan sang adik, Theo, yang tinggal di Paris. “Sejak 1884 ia sering bersurat kepada Theo, bahwa dia akan mengirimkan lukisan-lukisannya untuk menebus pinjaman uang sebelumnya. Dia berharap Theo mau menjualkan lukisan-lukisannya di Paris dan hasilnya untuk membayar pinjaman uang, serta berharap ada keuntungan lebih yang juga bisa didapat Van Gogh,” tulis Susie Hodge dalam The Great Artists: Vincent van Gogh. Nahas, lukisan-lukisan Van Gogh itu tak laku. Para pedagang barang seni enggan membelinya lantaran belum terlalu mengenal nama Van Gogh. Sayangnya riwayat lukisan The Parsonage Garden at Neunen in Spring  di kemudian hari tak begitu terang. Hanya disebutkan pada 1927, lukisan tersebut dimiliki seorang kolektor J.A. Fruin dan dipajang di Galeri Seni Oldenzeel, Rotterdam, sebelum dibeli Museum Groninger pada 1962. Lukisan yang nilainya berkisar 1-6 juta euro (Rp18-108 miliar) itu kemudian dicuri orang atau kelompok tak dikenal tepat di peringatan ulang tahun ke-167 Van Gogh. Itu bukan kali pertama terjadi pencurian terhadap lukisan Van Gogh. Pada 1991, Museum Van Gogh di Amsterdam dibobol maling yang membawa kabur 20 lukisan sang seniman. Total kerugiannya mencapai sekira USD500 juta (Rp8,3 triliun). Hingga kini, kabarnya masih gelap. Lalu pada 2002, museum yang sama kecolongan lagi dua lukisan, namun kemudian ditemukan di Napoli setelah kepolisian Italia menggerebek sarang pengedar narkoba.

  • Kejenakaan Haji Agus Salim

    DIKENAL sebagai seorang intelektual dan diplomat handal, tidak menjadikan Haji Agus Salim melulu berurusan dengan hal-hal serius. Bahkan bisa dikatakan keseharian mantan menteri luar negeri Republik Indonesia itu sejak mudanya memang selalu dipenuhi kisah-kisah jenaka. Almarhumah Bibsy Soenharjo (Siti Asia), salah satu putri Haji Agus Salim, mengakui kebiasaan melucu dari sang ayah. Selain itu hal yang disenangi Bibsy dari Haji Agus Salim adalah kebiasaanya untuk memberikan kebebasan berkespresi kepada anak-anaknya. Kendati sebagian besar putra dan putri Haji Agus Salim tidak pernah mengeyam bangku sekolah formal, namun  itu tidak menjadikan mereka kuper. Bahkan sebaliknya, di bawah didikan langsung sang ayah mereka justru tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan berpengetahuan terutama dalam penguasaan bahasa asing.  “ Patjee  (panggilan akrab keluarga untuk Haji Agus Salim) tak pernah memerintahkan atau memaksa kami untuk belajar. Kalaupun ia ingin memberitahu sesuatu, pasti dilakukannya dalam suasana santai dan penuh jenaka,” ujar perempuan sepuh yang menguasai secara baik beberapa bahasa Inggris, Belanda dan Jepang tersebut. Mantan diplomat sekaligus tokoh Masyumi Mohamad Roem, mengakui asyiknya belajar dari Haji Agus Salim. Berbeda dengan guru-guru pada umumnya, Haji Agus Salim selain jenaka juga selalu tak menampilkan dirinya sebagai seorang yang paling tahu. Materi pengajaran pun akan mengalir begitu saja laiknya momen obrolan biasa. “Dia selalu tanamkan kemauan untuk mencari sendiri pengetahuan lebih lanjut,” ungkap Roem dalam Manusia dalam Kemelut Sejarah . Ada kejadian lucu yang selalu dikenang oleh Roem dari Haji Agus Salim. Ketika tinggal di Tanah Tinggi, Jakarta, jalan menuju rumah Haji Agus Salim selalu becek jika turun hujan. Situasi tersebut tak jarang  menjadikan para pemuda pergerakan yang kerap mengunjungi rumah Haji Agus Salim harus turun dari sepeda dan mengangkatnya ke atas guna menghindari lumpur yang memenuhi ban sepeda. Kondisi itu kadang menjadi bahan ejekan Haji Agus Salim jika para pemuda itu datang dalam kondisi sangat payah dan kotor karena harus menangani sepedanya. Dalam suatu pertemuan dengan Mohamad Roem dan kawan-kawan, Haji Agus Salim sempat melontarkan leluconnya tentang itu: “Hari ini anda datang secara biasa. Kemarin peranan sepeda dan manusia terbalik: manusia justru yang ditunggangi sepeda.” Bukan hanya orang Indonesia saja yang merasakan hal tersebut. Jeff Last, salah satu tokoh sosialis Belanda, termasuk manusia yang sangat mengagumi Haji Agus Salim. Jeff mengakui dari Haji Agus Salim bahwa ia mendapatkan penjelasan yang mengesankan tentang Islam. “Dalam kebijaksanaannya yang riang, beliau telah berhasil menghilangkan prasangka-prasangka yang bukan-bukan mengenai Islam yang saya peroleh ketika menjadi murid HBS Kristen,” tulis Jeff Last dalam buku  Seratus Tahun Haji Agus Salim . Begitu kagumnya Jeff kepada Haji Agus Salim hingga seusai orang tua tersebut menyampaikan ceramahnya di depan anak-anak muda marxis Belanda di Kijkduin pada 1929, ia nekat mengajak Haji Agus Salim untuk mengunjungi rumahnya di Jalan Baarsjes. Tanpa diduga Haji Agus Salim menyambut baik ajakan Jeff itu. Hanya dalam waktu semalam saja, Haji Agus Salim telah berhasil menarik hati seluruh keluarga Jeff. Haji Agus Salim dengan gayanya yang santai berbicara akrab dengan seluruh anggota keluarga Jeff dan bercanda dalam cerita-cerita jenaka dengan anak-anaknya Jeff. “Dalam waktu satu jam, ia telah berhasil menarik hati anak-anak saya,” kenang Jeff. Femke, salah satu putri Jeff sangat menyukai Haji Agus Salim. Begitu berkesannya Femke kepada Haji Agus Salim sampai dalam suatu kesempatan ia bertanya kepada ayahnya apakah Haji Agus Salim merupakan sinterklaas dari Indonesia? Kedekatan jiwa Haji Agus Salim dengan anak-anak menjadikan ia mudah sekali mengajarkan apapun kepada putra-putrinya. Ketika Jeff mengungkapkan rasa herannya atas kefasihan Islam (nama salah satu putra Haji Agus Salim) dalam berbahasa Inggris, ia bertanya kepada Haji Agus Salim: “Bagaimana mungkin anak itu menguasai bahasa Inggris begitu bagus tanpa bersekolah?” Menjawab pertanyaan itu, dalam nada santai seperti biasa, Haji Agus Salim menyatakan kepada Jeff: “Apakah kamu pernah dengar tentang sebuah sekolah di mana kuda diajari meringkik? Kuda-kuda tua meringkik sebelum kami, dan anak-anak kuda tentunya akan ikut meringkik. Begitu pun saya meringkik dalam bahasa Inggris dan otomatis si Islam pun ikut meringkik juga dalam bahasa Inggris.” Haji Agus Salim memang selalu istimewa di mata siapa pun. Uniknya, kendati dia seorang diplomat, sesepuh bangsa dan tentunya seorang yang sangat cerdas, tidak menjadikannya silau terhadap materi.  Sampai akhir hayatnya, mantan jurnalis itu tetap memilih kesederhanaan sebagai jalan hidupnya.*

  • “Raja Hutan” Bob Hasan Pulang ke Haribaan Tuhan

    MOHAMMAD ‘Bob’ Hasan berpulang ke haribaan Illahi pada Selasa (31/3/2020) di usia 89 tahun. Taipan kayu yang intim dengan Soeharto sang penguasa Orde Baru   itu   meninggal di RSPAD Gatot Subroto setelah lama menderita kanker paru-paru. Siapa tak kenal Bob Hasan? Ia salah satu pengusaha dan kroni Soeharto paling berpengaruh sepanjang Orde Baru. Kedekatan itu membuat ia leluasa berbuat, termasuk memberi perhatian terhadap olahraga atletik di Indonesia.   Terlebih, setelah ia menjabat ketua   PB PASI sejak 1978. Pada cabang-cabang lain, ia   juga bersumbangsih di Percasi, PB PABBSI, dan PB Persani. Bob Hasan lahir di Semarang pada 24 Februari 1931 dengan nama The Kian Seng. Identitas orangtuanya tak jelas. Banyak sumber menyebutkan Bob menjadi mualaf dan berganti nama menjadi Mohammad ‘Bob’ Hasan setelah diangkat anak oleh Gatot Soebroto, perwira TNI yang dihormati banyak perwira muda   macam Ahmad Yani dan Soeharto semasa revolusi fisik hingga Orde Lama. Namun,   Raden Eddy Soeroto Koesoemonoto dan Muhammad Salim Jamaleng dalam studi tentang analisa logika Gerakan 1 Oktober 1965 yang dibukukan bertajuk Jaringan Zionis Van der Plas Jatuhkan Bung Karno, menyebut Bob Hasan bukan anak angkat   Gatot. “Ternyata Bob Hasan adalah anak kandung Gatot Soebroto dengan wanita keturunan Cina, nama kecilnya The Kian Seng, lahir di Semarang dan ikut ibunya. Setelah umur 10 tahun baru ikut Gatot Soebroto, diakui anak angkat,” sebut Raden Eddy Soeroto dan Jamaleng. Masa depan gemilangnya bermula dari perkenalannya dengan Soeharto ketika Gatot masih menjabat komandan TT IV/Jawa Tengah (kini Kodam IV Diponegoro). Hubungan Bob Hasan dan Soeharto kian erat saat Soeharto naik menjadi komandan TT IV/Jawa Tengah menggantikan Kolonel Moch. Bachrum   pada 1956. Bob Hasan (tengah) wafat di usia 89 tahun karena kanker paru-paru (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Bob Hasanlah yang dilibatkan Soeharto dalam sejumlah aktivitas perdagangan. Dalam Asian Godfathers: Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan Penguasa,   Joe Studwell menyebut, selama Soeharto menjabat komandan kodam, Bob Hasan “diberi” keleluasaan menggulirkan aktivitas perdagangan monopoli bersama kolega Tionghoanya, Liem Sioe Liong. “Soeharto menghadapi ancaman pengadilan karena penyelundupan pada 1959, namun berkat dukungan ayah angkat Bob Hasan, Jenderal Gatot Soebroto, ia hanya dipindahkan ke Sekolah Staf Angkatan Darat di Bandung,” ungkap Studwell. Penyelundupan yang   melibatkan Bob Hasan dan Liem Sioe Liong itu adalah penyelundupan dan korupsi gula dan beras. Kasusnya ditangani tim inspeksi TNI AD   pada 18 Juli 1959 yang berbuntut pada pencopotan Soeharto dari jabatan pangdam. Soeharto berkilah bahwa ia sengaja melakukan penyelundupan beras dari Singapura itu demi kebutuhan beras di Jawa Tengah yang kala itu tengah gagal panen. “Sebagai Penguasa Perang, saya merasa ada wewenang mengambil keputusan darurat untuk kepentingan rakyat, ialah dengan barter gula dengan beras. Saya tugasi Bob Hasan melaksanakan barter ke Singapura, dengan catatan beras harus datang lebih dahulu ke Semarang,” ujar Soeharto dalam otobiografinya yang ditulis Ramadhan KH Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya . Dewi Soekarno dan Raja Hutan Di masa transisi   dari Orde Lama ke Orde Baru, nama Bob Hasan disebut-sebut berinisiatif ingin meredakan ketegangan antara Sukarno dan Soeharto. Menurut Probosutedjo, adik tiri Soeharto, dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Memoar Romantika Probosutedjo: Saya dan Mas Harto , cara yang digunakan Bob Hasan adalah mengundang Naoko Nemoto alias Ratna Sari Dewi Sukarno, istri resmi keenam Sukarno, untuk bermain golf di Rawamangun. “Nah pada saat yang sama ia juga mengundang Mas Harto bermain golf di lokasi yang sama. Niat Bob Hasan baik, barangkali melalui lobi pada Dewi, hubungan Mas Harto dan Bung Karno bisa lumer kembali,” ungkap Probo. Namun apa lacur, Ibu Tien yang lantas mengetahuinya malah murka. Kemarahan Ibu Tien berdampak pada   Soeharto yang didiamkan berhari-hari. “Kasihan sekali Mas Harto. Melihat ini saya jadi prihatin. Saya datangi Bob Hasan dan saya tegur. ‘Aduh, buat apa sih dipertemukan segala. Itu Bu Harto jadi marah.’   Bob minta maaf karena ia tidak mengira akan terjadi konflik antara Mas Harto dan Mbakyu  Harto,” lanjutnya. “Di rumah, saya segera temui Mbakyu Harto dan menjelaskan maksud baik Bob Hasan mempertemukan Mas Harto dan Dewi. Mbakyu Harto akhirnya bisa mengerti dan mau bicara lagi dengan suaminya,” sambung Probo. Kisah tersebut kemudian dibantah Bob Hasan lewat memoarnya yang terbit pada 2010.   “ Ndak  ada itu (main) golf dengan Dewi Sukarno. Dewi tidak pernah main golf. Dia orang night club , bar girl  di Tokyo. Waktu itu saya juga masih muda, ndak  ada soal golf dengan Pak Harto,” kata Bob Hasan, dikutip   detik.com , 8 Juni 2018. Bob Hasan jadi salah satu kroni paling setia rezim Soeharto (Foto: antikorupsi.org ) Semenjak Soeharto resmi menjadi presiden Indonesia kedua pada 1968, geliat Bob Hasan dalam bisnis kian menggurita. Bob memulainya dengan mendorong Soeharto menengok bisnis kehutanan di dua pulau terbesar di barat Indonesia: Sumatera dan Kalimantan. “Pada 1971 Bob Hasan diberi kepercayaan Soeharto untuk menjadi agen tunggal bagi perusahaan-perusahaan asing yang mau menanam modalnya di bidang kehutanan di Kalimantan dan tempat-tempat lain. Dalam kesempatan itu Bob menjadi mitra patungan perusahaan Amerika Serikat Georgia Pacific; Bob pun menjadi perantara mempertemukan perusahaan-perusahaan asing dengan mitra patungannya di Indonesia,” tulis Sri Bintang Pamungkas dalam Ganti Rezim Ganti Sistim: Pergulatan Menguasai Nusantara . Namun ketika pemerintah mulai melarang ekspor kayu gelondongan pada 1981, Georgia Pacific terpaksa dijual dan dibeli Bob Hasan dengan perusahaannya, Kalimanis Group. Sejak saat itu Bob yang memimpin Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) sekaligus APHI (Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia), dijuluki “raja hutan” karena menguasai pemasokan dan pasar kayu lapis terbesar di dunia dengan memegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) seluas dua juta hektar. Karena itulah maka   Majalah Forbes  edisi 28 Juli 1997   mendaulatnya sebagai salah satu dari 500 orang paling tajir di dunia dengan kekayaan USD3 miliar. Setahun berikutnya, konglomerat yang juga melebarkan sayap bisnisnya ke bidang media (pendiri Majalah Gatra ), asuransi, otomotif dan keuangan itu diangkat Soeharto menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan di Kabinet Pembangunan VII. Jabatan yang jadi “kado” ultah Bob Hasan dari Soeharto itu diberikan pada Maret 1998 atau beberapa hari setelah beranjak usia ke-67. Namun seiring jatuhnya Soeharto, mulai rontok pula hegemoni Bob Hasan sebagai salah satu kroni paling setia. Ia tak lagi kebal hukum. Pada Februari, Bob Hasan 2001 sebagai direktur utama PT Mapindo Pratama diseret ke meja hijau atas korupsi pemetaan hutan senilai Rp2,4 triliun.   Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memvonisnya hukuman dua tahun penjara dipotong masa tahanan, ditambah denda Rp15 juta, dan mewajibkan melakukan ganti rugi Rp14 miliar. Menganggap vonis itu terlalu lembek, jaksa menuntut lagi kasusnya ke Pengadilan Tinggi, yang kemudian   menelurkan keputusan baru berupa vonis penjara delapan tahun.   Tapi Bob kemudian bebas bersyarat pada Februari 2004   setelah menjalani masa tahanan berpindah-pindah dari LP Salemba, Cipinang, Batu, dan Nusakambangan.

  • Jalan Panjang Menghubungkan Sumatra

    Pulau Sumatra telah menjadi primadona sektor ekonomi sejak dulu kala. Beberapa wilayah di pulau itu merupakan sentra perkebunan tanaman keras, pertambangan, hingga destinasi wisata. Dengan sumber daya tersebut, Sumatra menjadi penghasil devisa negara terbesar setelah Jawa. Itulah sebabnya, pemerintah saat ini sedang menggencarkan pembangunan infrastruktur di Sumatra dengan mengembangkan Jalan Tol Trans Sumatra. Menurut proyeksinya , Jalan Tol Lintas Sumatra akan membentang dari Lampung sampai Aceh sepanjang 2700 km yang terdiri dari 24 ruas jalan. Untuk mengerjakannya, PT Hutama Karya – BUMN yang bergerak di bidang infrastruktur – ditunjuk sebagai pelaksana proyek bernilai investasi 206 trilyun  ini. Dimulai pada 2014, pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra diperkirakan akan rampung pada 2024 mendatang. “(Jalan Tol) Trans Sumatra penting sekali untuk menghubungkan wilayah Sumatra yang sebelumnya seperti kantung-kantung ekonomi yang berdiri sendiri,” kata Bondan Kanumoyoso. Menurut  sejarawan dari Universitas Indonesia itu, Jalan Tol Trans Sumatra merupakan kesinambungan sedari zaman kolonial. Masa Hindia Belanda Seturut dengan Bondan, sejarawan pakar Asia Tenggara Anthony Reid dalam Menuju Sejarah Sumatera: Antara Indonesia dan Dunia mencatat “jalan Trans Sumatra dibahas untuk pertama kali pada 1916, tetapi baru selesai pada 1938”. Pada masa itu, pemerintah kolonial hendak menghubungkan kota-kota penting di Sumatra: Medan, Padang, dan Palembang. Masing-masing dari ketiga kota besar ini merupakan pusat jaringan kereta dan jalan raya. Maka tidak heran bila roda perekonomian Sumatra pada awal abad ke-20 digerakkan dari trio kota tersebut. Kota Medan di utara merupakan pusat perdagangan yang hiruk pikuk. Warna Eropanya sangat kuat berkelindan dengan karakter orang Tionghoa: lekat dengan bisnis. Jaringan perdagangan Medan lebih erat interaksinya dengan Malaya Inggris ketimbang pusat-pusat dagang Belanda. Padang yang terletak di tengah adalah kota kolonial tertua tetapi paling terlelap dari antara kota-kota kolonial. Palembang menjadi kota tua dengan kekayaan baru berupa minyak bumi dan yang paling dekat ke Jawa. Pada 1917, pemerintah kolonial membangun jalan raya yang menghubungkan Kota Medan dan Pematang Siantar. Kemudian, dari Pematang Siantar disambung lagi ke Prapat, kawasan sejuk di pesisir Danau Toba. “Jalan itulah rintisan pertama dari jaringan yang belakangan disebut jalan Trans-Sumatra,” tulis budayawan Sitor Situmorang dalam Toba Na Sae: Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII-XX . Dari Prapat, pemerintah meneruskan pembangunan jalan ke Tarutung dan menghubungkannya dengan Teluk Tapiannauli di Sibolga. Mulai 1920-an, jantung Tanah Batak yaitu daerah sekitar Danau Toba, telah terbuka untuk lalulintas modern dengan angkutan bus. Lalulintas perdagangan dan penggunanaan mata uang pun meningkat. Terbukanya Toba oleh jalan raya Trans Sumatra mempercepat modernisasi di kawasan itu. Danau Toba mulai ramai dikunjungi sebagai tempat tujuan wisata. Antara Prapat dan Tarutung tumbuh perkotaan berbentuk pasar menggantikan peranan onan (pasar tradisional Batak). Porsea, Balige, dan Tarutung muncul sebagai kota kecil yang sebelumnya tidak pernah ada. Selain itu, rakyat di desa-desa terpencil dapat mengakses pendidikan maupun layanan kesehatan yang dipelopori misi z ending . Jalan raya Trans Sumatra pun disambung dengan jalan-jalan yang mencapai berbagai pelosok Toba. Pola yang sama tadinya akan dikembangkan di kota-kota lain. Namun pada 1942, balatentara Jepang keburu datang mengobarkan Perang Asia Timur Raya. Pulau Sumatra menjadi basis bagi tentara ke-25 Angkatan Darat Jepang ( Rikugun ) dengan markasnya di Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Pembangunan jalan Trans Sumatra pun terhenti untuk sementara waktu. Proyek Lanjutan Hingga dekade 1950-an, pembangunan jalan Trans Sumatra masih tersendat. Situasi keamanan dalam negeri tidak mendukung pemerintah oleh sebab pemberontakan di sejumlah daerah. Di Sumatra berdiri Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang menentang pemerintah pusat di Jawa. Akibatnya, proyek pembangunan jalan di Sumatra terkendala karena sepinya minat investor. Agenda untuk melanjutkan kembali pembangunan Trans Sumatra baru mendapat tempat memasuki awal 1960. Adalah Adnan Kapau Gani – anggota MPRS dan ketua Front Nasional Sumatra Selatan – yang mengusulkannya kepada Presiden Sukarno. Disebutkan dalam biografi Dr. A.K. Gani: Pejuang Berwawasan Sipil Militer yang disusun Ruben Nalenan dkk, Gani gigih memperjuangkan terlaksananya pembangunan jalan raya Poros Sumatra ( Central Trans Sumatra Highway ). Proyek ini kemudian masuk dalam cetak biru program Pembangunan Nasional Semesta berjangka delapan tahun. Pada 1964, Presiden Sukarno membentuk  penyelenggara pembangunan “Otorita Jalan Raya Lintas Sumatra”. Setahun kemudian dimulai pembangunan. Sumatra kawasan tengah dan selatan menjadi fokus perambahan jalan. Sementara Sumatra kawasan utara memasuki proses pengaspalan. Meski pada paruh kedua 1960 rezim Sukarno berakhir, program pembangunan Trans Sumatra tetap dilanjutkan oleh Presiden Soeharto. Di masa Orde Baru, proyek jalan Trans Sumatra telah masuk dalam rencana Pembangunan Lima Tahun (Pelita) 1 (1969—1974). Pembangunannya meliputi tiga jalur sekaligus: Jalur Tengah, Jalur Timur, dan Jalur Barat. Jalur Tengah lebih dahulu dieksekusi, melintasi Sumatra Barat dari Sungai Dareh ke Jambi dan Sumatra Selatan. Sejak jalan lintas itu beroperasi, sarana transportasi darat jadi pilihan para perantau.   “Dari Sumatra Barat orang lebih suka ke Jakarta naik bus karena sehari lebih cepat dibandingkan dengan angkutan kapal sehingga para pengusaha angkutan bus penumpang naik daun,” ujar Azawar Anas, Gubernur Sumatra Barat periode 1977—1987 dalam biografi Azwar Anas: Teladan dari Tanah Minang karya Abrar Yusra. Selama tiga dekade kekuasaan Orde Baru, setiap provinsi di Sumatra telah terhubung lewat jalan Trans Sumatra. Meski demikian, dalam perkembangannya muncul sejumlah tantangan di jalur lintas tersebut. Mulai dari tambal sulam jalan rusak, kemacetan kala masa mudik, hingga praktek pungutan liar. Belum lagi ancaman dari para penjarah “Bajing Loncat” yang kerap mengganggu pengemudi, terlebih rentan bagi sopir truk muatan. Sebagai solusi mengatasi masalah di jalur lintas Trans Sumatra, pemerintah pada 2012 mencanangkan Jalan Tol Trans Sumatra. Pada 17 September 2014, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 100 tentang “Percepatan Pembangunan Jalan Tol di Sumatra”. Peraturan tersebut kemudian direvisi oleh Presiden Joko Widodo lewat Perpres No 117/2015 dengan penambahan ruas Jalan Tol Trans Sumatra dari 4 menjadi 24.   “Hasilnya dalam jangka panjang adalah terintegrasinya ekonomi Sumatra sebagai satu kesatuan yang tentu akan menjadi kekuatan pendorong ekonomi Sumatra dan Indonesia secara keseluruhan,” pungkas Bondan.

  • Calon Arang Memuja Durga Sang Penguasa Penyakit

    Hampir tengah malam. Calon Arang berjalan menuju kuburan. Ia diiringi murid-muridnya: Voksirsa, Mahisawadana, Lende, Guyang, Larung, dan Gandi. Mereka akan berdoa dan menari, menghormat pada Bhatari Durga. Kepadanya, Calon Arang akan menyampaikan permohonan agar kesumatnya bisa dibalaskan. Calon Arang adalah perempuan sakti ahli sihir dari Desa Girah. Ia sudah pada puncaknya merasa terhina karena tak ada yang mau menikah dengan putrinya yang cantik, Ratna Manggali. Semua lelaki takut menjadi menantu seorang Calon Arang. Di kuburan itu mereka pun menari sambil membunyikan alat musik. Tak lama Sang Durga pun menampakkan diri bersama para pengiringnya. “Tuanku, putera tuanku ingin mohon kehancuran penduduk seluruh negeri, demikian tujuan hamba,” kata Calon Arang sambil menyembah di hadapan Bhatari. “Baik, saya setuju, tetapi jangan sampai terlalu besar kemarahanmu hingga ke pusat negeri,” jawab sang Bhatari Bhagavati. Calon Arang menurut. Setelah menari sekali lagi mereka pulang ke Desa Girah. Tak lama kemudian banyak orang di desa-desa sakit hingga jatuh korban jiwa. Karena menyebabkan kekacauan, tentara raja mencoba memusnahkan Calon Arang. Calon Arang makin marah dan kembali mengajak murid-muridnya ke kuburan. Ia membaca mantra diiringi murid-muridnya. Alat-alat musik dibunyikan. Mereka menari. Ia mengirim kekuatan tenung hingga ke ibu kota dari empat arah mata angin. Calon Arang berjalan ke tengah kuburan, mencari mayat yang meninggal pada hari Sabtu Kliwon. Mayat itu diikatkan ke pohon kepuh lalu dihidupkannya kembali. Baru juga hidup, sang penyihir langsung memotong leher si zombie hingga kepalanya melesat. Darah yang memancar ia pakai untuk keramas. Ususnya dipakai untuk selempang dan kalung. Badannya dimasak untuk persembahan bagi Bhuta  dan semua yang ada di kuburan itu, terutama Bhatari Bhagavati. Maka, keluarlah Sang Bhatari. “Saya mohon izin kepada paduka Bhatari untuk membinasakan orang seluruh negara sampai di ibu kota sekalian,” kata Calon Arang. Permohonan Calon Arang diizinkan. Wabah penyakit yang hebat di seluruh negara mengakibatkan banyak orang mati. Mayat-mayat membusuk di rumah dan menumpuk di kuburan, ladang, dan jalan. Desa menjadi sepi, orang-orang menyelamatkan diri ke desa-desa lain. Begitulah dahsyatnya kutukan Calon Arang ke seluruh negeri. Kisah ini ditemukan dalam naskah berjudul Calon Arang . Filolog R.Ng . Poerbatjaraka menerjemahkannya dari bahasa Jawa Kuno ke dalam bahasa Belanda pada 1926 dalam tulisannya,  De Calon Arang . Poerbatjaraka menduga naskah Calon Arang ini mungkin menggambarkan peristiwa pada masa Raja Airlangga. Ia menghubungkannya dengan Prasasti Sanguran ( Calcutta Stone ) dari 982 M. Di dalamnya tertulis seorang raja perempuan yang sangat sakti seperti raksasi. Sihirnya telah dibinasakan oleh Airlangga, raja yang masyhur. Gambaran ini mengisahkan perseteruan antara Airlangga dan Calon Arang. Namun, Hariani Santiko, arkeolog Universitas Indonesia, dalam disertasinya “Kedudukan Bhatari Durga di Jawa pada Abad X-XV Masehi”, berpendapat bahwa cerita Calon Arang lebih pas jika ditempatkan pada masa Singhasari akhir atau Majapahit. Alasannya, nama Mpu Barada baru muncul pada prasasti Arca Joko Dolog dari masa Kertanegara tahun 1289. Terlebih lagi bukti-bukti adanya praktik upacara Tantra seperti dalam cerita Calon Arang  masih sangat jarang dijumpai pada abad-abad sebelum pemerintahan Kertanegara. “Sangat diragukan bahwa Calon Arang pertama kali disusun pada masa Airlangga,” katanya.   Dari kisah Calon Arang itu, menurut Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, yang menarik untuk dicermati bahwa akibat teluh seorang ahli sihir, penduduk Daha tertimpa wabah penyakit mematikan. Di luar persoalan teluh, kemungkinan wabah penyakit memang benar pernah terjadi. “Dalam kisah itu penyakit disebabkan karena teluh Calon Arang. Apakah ini simbolik gambaran tentang pagebluk yang terjadi?” ujar Dwi kepada Historia. Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin, berpendapat bahwa kisah-kisah lokal semacam itu terlalu kabur. Terutama cerita yang berkembang beberapa abad sebelum orang benar-benar mulai terbiasa mencatat. “Karena peninggalan-peninggalan tertulis yang ada hanya sampai pada kurun niaga, tidaklah bijaksana untuk terlalu mempercayai bukti-bukti mengenai parahnya wabah pada waktu itu,” tulis Reid. Kendati begitu, kata Hariani Santiko, pada masa lalu praktik memuja Durga untuk mengusir wabah penyakit memang pernah dilakukan. Masyarakat kuno pernah mengenal beberapa dewi yang dipercaya sebagai penguasa penyakit. Mereka mudah marah dan harus dijaga kepuasannya agar wabah penyakit tak menyerang. Menenangkan Bumi Di India, beberapa dewi dianggap sebagai pelindung manusia dari penyakit. Terutama dua penyakit yang sangat ditakuti: cacar dan kolera. Kendati dianggap pelindung, mereka terkadang juga bertindak sebagai penyebar penyakit. Terutama jika sang dewi murka dan tak puas terhadap manusia. Hariani menjelaskan, di India Utara sang penguasa penyakit dikenal dengan nama Sitala Dewi. Sementara di India Selatan dikenal beberapa nama dewi yang bertugas sama. Mariamma atau Mari dianggap sebagai dewi penguasa penyakit yang sangat ditakuti. Lalu ada anak-anak Durga, berjumlah tujuh dewi. Mereka dianggap sebagai penguasa penyakit yang mengancam anak-anak kecil. Ada juga para Gramadewata, yang di antaranya dianggap sebagai penguasa penyakit. Gramadewata adalah pelindung desa atau permukiman penduduk yang juga dikenal di India Utara. Khususnya di India Selatan pemujaan kepada Gramadewata ini sangat populer dan jumlahnya ribuan. “Setiap permukiman memiliki satu Gramadewata,” ujar Hariani. Hariani menjelaskan, munculnya dewi-dewi pelindung ini berhubungan dengan kepercayaan penduduk bahwa alam semesta penuh dengan kekuatan gaib. Kekuatan ini setiap waktu dapat mencelakakan manusia. Dewi pelindung, Gramadewata, diharapkan dapat menjaga mereka dari ancaman itu. Ini adalah upaya agar penduduk terhindar dari penyakit menular, gangguan makhluk jahat, penyakit ternak yang merugikan, kegagalan panen, kebakaran, atau tidak mempunyai keturunan. Namun, Gramadewata menuntut imbalan dari manusia. Penduduk harus memberi mereka persembahan yang memuaskan. Kalau kurang, Gramadewata akan berbalik mencelakakan penduduk. Karenanya setiap permukiman biasanya memiliki kuil sederhana. Tempat suci ini dikhususkan untuk Gramadewata. Di sana akan ditempatkan arca atau benda yang menjadi lambang dewi-dewi itu. Menurut I Wayan Redig, arkeolog Universitas Udayana, pemujaan terhadap dewi beralasan karena secara makrokosmis, bumi ini adalah ibu. Di bumi, segalanya dihidupkan, dipelihara, dan mati. Karenanya, untuk urusan memelihara, menyiapkan sumber kehidupan Ibu Pertiwi, seperti juga Durga menjadi Dewi Ibu yang akan selalu dipuja di banyak tempat. “Dewi Durga menjadi Dewi Ibu yang dipuja sepanjang masa karena selama manusia perlu hidup dan kehidupan ia tidak bisa lepas dari pangkuan sang Ibu ilahi ini,” jelas Redig dalam makalah “Durga Mahisasuramardini (Pemujaan Dewi Ibu Sepanjang Masa)” yang disampaikan pada Rembug Sastra (21 Mei 2016) di Pura Jagatnata, Denpasar, Bali. Durga Sang Penguasa Penyakit Di India Utara dan Selatan, Durga sama-sama dipuja sebagai dewi pelindung dari penyakit. “Durga dan Kali adalah dewi penting yang menguasai segala segi kehidupan manusia,” kata Hariani. “Di beberapa tempat Durga berbaur dengan Gramadewata dan akan menyebarkan penyakit kepada manusia dan ternak jika marah.” Durga memiliki berbagai aspek. Tiga di antaranya sering dibicarakan dalam kitab-kitab Purana  dan Tantra , yaitu Durga sebagai pembinasa asura , Durga sebagai penguasa tanam-tanaman dan kesuburan, dan Durga sebagai penguasa penyakit menular. Durga sangat ditakuti karena bisa menyebarkan penyakit sekaligus melindungi manusia dari wabah penyakit. Dalam kitab-kitab Purana, Durga seringkali dihubungkan dengan tujuh dewi pelindung anak-anak dari penyakit, yakni Kaki, Halima, Malini, Vrnila, Arya, Palala, dan Vaimitra. “Pemujaan tujuh ibu ini sangat penting di India Selatan, dan mereka dianggap sebagai saudara perempuan Durga,” kata Hariani. Karenanya, Durga Puja pun dilakukan. Menurut Hariani, berdasarkan Kitab Kalika Purana  apabila menjalankan Durga Puja pada tanggal 8 paro terang bulan Caitra  akan bebas dari segala kesusahan dan penyakit. Di Nusantara, khususnya di Jawa sedikit berbeda. Durga dikenal dalam dua aspek saja. Ia sebagai pembinasa asura  dan penguasa penyakit. Sementara penguasa tanaman dan kesuburan lebih dikenal sebagai Dewi Sri. Aspek Durga sebagai penguasa penyakit menular dalam sumber tertulis hanya ditemukan dalam kitab Calon Arang. Lebih banyak yang membicarakannya sebagai pembinasa asura . Sebagai aspek ini, ia dikenal dengan nama Durga Mahisasuramardini. Hariani mengatakan upacara yang dilakukan oleh Calon Arang dan murid-muridnya adalah upacara Tantra dengan mempergunakan ilmu gaib destruktif atau ilmu hitam. “Di sini yang dipuja adalah aspek Durga sebagai penguasa penyakit menular,” jelas Hariani. Kisah wabah penyakit akibat dendam Calon Arang itu pun berakhir setelah Mpu Bharadah membunuh dan meruwat sang ahli sihir dan Desa Girah.

  • Kisah Hanoman dari Kota Lama

    Kawasan Kota Lama Semarang menyimpan daya tarik untuk dikunjungi. Banyak bangunan peninggalan Belanda masih berdiri kokoh. Sebagian dimanfaatkan menjadi kedai-kedai minuman atau makanan dengan interior yang menarik. Tempat ini ramai saban akhir pekan atau musim liburan sebelum pandemi Covid-19 melanda. Salah satu bangunan bersejarah di Kota Lama Semarang. (Fernando Randy/Historia). Karena ramai pengunjung, Kota Lama juga menjadi tempat mengais rezeki bagi penampil jalanan. Salah satunya Heri Sudron (46). Dia biasa tampil sebagai Hanoman, salah satu tokoh dalam wiracarita Ramayana. Dia mengenal perwayangan sejak kecil sehingga tidak asing lagi dengan berbagai tokoh wayang. Dia tampil sebagai Hanoman karena menurutnya tokoh ini menarik. Heri merias wajahnya untuk menjadi Hanoman di Kota Lama. (Fernando Randy/Historia). “Sejak usia 9 tahun di Banyuwangi saya sudah sering menonton wayang, hingga akhirnya saya bergabung dengan grup kesenian yang memainkan seni Janger,” ujar Heri. Janger adalah kesenian asal Banyuwangi yang memadukan tarian, kostum, dan gamelan Bali yang mengambil cerita rakyat Jawa sebagai lakonnya. Heri mengaku kecintaanya terhadap seni peran dan Hanoman membuat dirinya melakoni peran sebagai seorang  performance art  hingga kini. Dia memperoleh sedikit rupiah dari orang yang berfoto bersama dirinya. Heri bersiap dengan kostum Hanomannya. (Fernando Randy/Historia). Hal-hal detail seperti gelang dan lainnya juga dipersiapkan oleh Heri. (Fernando Randy/Historia). Menurut Heri Hanoman adalah karakter yang sudah melekat pada dirinya. (Fernando Randy/Historia). “Setelah menikah, saya pusing mikir mau kerja apa. Hingga akhirnya saya kembali teringat akan sosok Hanoman. Akhirnya saya merantau dan kembali menjadi Hanoman hingga saat ini," lanjut pria berambut gondrong ini.  Selama menjadi Hanoman, Heri mengalami banyak suka dan duka. Saat Kota Lama sedang ramai pengunjung, dompetnya ikut ramai. Tapi saat sepi, dompetnya sering tak berisi. "Menjadi Hanoman harus mengerti berbagai karakter masyarakat yang ingin berfoto. Ada yang hanya foto bersama, ada yang sampai naik pundak saya. Namun ya itu tadi saya adalah Hanoman yang bertugas melayani dan melindungi masyarakat,” kata Heri. Para pengunjung saat berfoto bersama sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia). Para pengunjung menyaksikan sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia). Sang Hanoman di Kota Lama Semarang. (Fernando Randy/Historia). Seorang pengunjung mengajak sang hanoman untuk berfoto bersama. (Fernando Randy/Historia). Heri sendiri tidak mematok berapa bayaran bagi pengunjung Kota Lama Semarang yang sekadar ingin berfoto bersama dirinya. Semuanya suka rela. “Berapa saja bayarannya. Saya tidak pernah mematok harga untuk berfoto bersama saya. Yang penting ikhlas saja,” lanjut Heri. Ikhlas adalah bayaran yang didapat oleh Heri sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia). Sang Hanoman beraksi di tengah Kota Lama. (Fernando Randy/Historia). Puluhan tahun memerankan Hanoman, Heri mempunyai harapan bagi kesenian wayang. Dia berharap semua generasi turut andil merawat kesenian ini. “Pesan saya untuk semua, bukan hanya anak-anak, warisan leluhur seperti ini jangan sampai terlupakan. Jangan sampai tersaing dengan musik-musik Barat. Jangan sampai kita melupakan dan meninggalkan kesenian tradisional,” kata Heri. Sang Hanoman berharap kesenian tradisional seperti wayang terus dijaga oleh generasi muda. (Fernando Randy/Historia).

  • D.I. Pandjaitan Bernatal di Tengah Hutan

    DI masa revolusi kemerdekaan, berada di rumah berkumpul bersama keluarga adalah kesempatan langka yang sangat mahal. Hal seperti inilah yang dialami Kapten Donald Isaac Pandjaitan ketika Belanda melancarkan agresi militer yang kedua. Waktu itu Pandjaitan menjabat sebagai kepala staf umum yang mengurusi logistik Komandemen Sumatra. Pada 24 Desember 1948, Pandjaitan mengadakan misi ke Riau. Panglima Komandemen Sumatra Kolonel Hidayat Martaatmadja menugaskan Pandjaitan mencari senjata untuk persiapan perang gerilya. Pandjaitan disertai beberapa orang stafnya. Mereka  antara lain Letnan Pieter Simorangkir, Letnan Sumihar Siagian, Sersan Mayor G.G. Simamora, dan Bustami -Wali Negeri Rao- sebagai penunjuk jalan. Pukul 06.25 pagi, rombongan Pandjaitan berangkat dari Rao, Pasaman, Sumatra Barat. “Mereka berlima menelusuri jalan tikus, memasuki rimba raya di lereng-lereng Bukit Barisan. Bustami yang mengenal wilayah gawat itu berjalan di depan,” tutur istri Pandjaitan, Marieke Pandjaitan br, Tambunan dalam D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran . Setelah lima jam menerobos hutan, menuruni lembah, dan mendaki bukit, perjalanan mendekati perkampungan. Setibanya di Kampung Pintu Padang, rombongan Pandjaitan singgah sebentar untuk makan siang. Penduduk menerima dan menjamu mereka dengan baik. Atas sambutan hangat itu, Pandjaitan sekalian mengajak rakyat setempat untuk ikut berjuang dalam perang gerilya. Diterangkannya bagi mereka yang tidak memanggul senjata, dapat menyiapkan makanan dan mengirimkannya ke garis depan. Ajakan Pandjaitan bersambut. istri pemuka setempat memberikan perhiasan miliknya untuk biaya perjuangan. Setelah minta diri dan mengucapkan terima kasih rombongan Pandjaitan melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya Desa Rumbai yang berjarak sekira 36 km dari Pintu Padang. Kurang dari lima jam, mereka sudah sampai. Karena hari telah petang, mereka beristirahat di sebuah kedai yang di atasnya difungsikan sebagai penginapan. Setelah berbaring hingga pukul 20.45, Pandjaitan belum dapat tertidur. Pandjaitan menyadari bahwa saat itu adalah malam Natal. Sebagai seorang Kristiani, saat demikian lazimnya mengadakan misa diikuti dengan kebaktian di gereja pada keesokan pagi bersama keluarga. Pandjaitan teringat pula dengan istri dan anaknya yang sedang mengungsi pasca agresi. Tetiba Pandjaitan bangkit dan mengambil dua buku bersampul hitam: Kitab Injil dan Kidung Pujian. Dia menatap Siagian, Simorangkir, Simamora yang masih terjaga. Ketiganya Kristen. Sementara Bustami yang beragama Islam, sudah tertidur pulas. “ Gentlemen ,” kata Pandjaitan, “Tidak seorang pun di antara kita yang menduga akan sampai di tempat ini. Hal ini disebabkan oleh panggilan tugas. Justru inilah yang saya sebut sebagai kehendak Tuhan.” Kendati jauh dari keluarga dan gereja, Pandjaitan membesarkan hati para stafnya. Sebagai wujud syukur, Pandjaitan memimpin mereka melantunkan kidung pujian. Dengan pelan-pelan namun khidmat, mereka melantunkan lagu Malam Kudus . Pandjaitan menutup ibadah itu dengan doa, selanjutnya mereka saling bersalaman. Selamat hari Natal! Pagi-pagi tanggal 25 Desember, rombongan Pandjaitan melanjutkan perjalanan menuju Riau. Mereka terjaga dengan tubuh yang lebih segar setelah berisitrahat semalam. Setelah sarapan, mereka berangkat pukul 06.20 pagi. Menurut Marieke perayaan Natal 1948  di desa kecil yang dikelilingi oleh hutan belantara itu sungguh amat terkesan di hati Pandjaitan. Dia selalu ingat peristiwa yang sangat mengharukan itu. Di tengah perjuangan gerilya, Pandjaitan menjalani kewajiban terhadap negara dan sekaligus terhadap Tuhan. “Hari yang suci itu dialaminya selagi bangsa dan negara dalam ancaman penjajahan, apalagi isteri dan anak-anak yang masih kecil tengah dalam pengungsian,” kenang Marieke.  Pandjaitan kelak menjadi Atase Militer Republik Indonesia untuk Jerman Barat. Dia mencapai puncak karier militernya sebagai Asisten IV/Logistik Menteri Panglima AD. Setelah gugur dalam Insiden 30 September 1965, namanya kemudian lebih dikenal sebagai salah satu dari pahlawan revolusi.*

  • Orang-orang Rawagede

    HAWA panas menyengat kawasan Pantai Sadari Karawang siang itu. Deretan pohon bakau melambai-lambai kala disapa angin. Suara debur ombak pantai utara terdengar lembut bersanding dengan bau anyir ikan dari arah kampung nelayan setempat. Di sebuah rumah usang yang terletak dekat pantai, kendaraan yang saya tumpangi berhenti. Dari dalam, seorang perempuan uzur muncul. Tertatih-tatih dia menyambut saya. Tubuhnya gemetaran karena pengaruh usia. “Kita bicara di luar saja ya, di dalam gelap,” jawabnya dalam bahasa Sunda berlogat pesisir. Wanti nama perempuan tua itu. Dia adalah salah satu janda korban pembantaian militer Belanda di Dusun Rawagede  pada 1947. Bersama seorang korban, anak korban dan tujuh janda korban Rawagede lainnya, pada 2011 dia menggugat pemerintah Belanda ke Pengadilan Tinggi di Den Haag. Setelah melalui jalan berliku, upaya mereka berhasil. Namun apakah itu menjadikan hidup mereka lebih baik? Selasa, 9 Desember 1947. Orang-orang Rawagede dikejutkan oleh suara  stengun  dan  brengun  yang menyalak tiba-tiba dari arah timur pagi itu. Demi mendengar tembakan-tembakan tersebut, kontan para laki-laki  yang belum sempat berangkat ke sawah berhamburan ke arah Kali Balong sedang kaum perempuan dan anak-anak justru memilih bertahan di rumah. Wanti yang saat itu tengah hamil tua memilih bersembunyi di bewak  (bekas lubang perlindungan zaman Jepang) yang ada di bawah rumah panggungnya. Begitu juga dengan nenek dan kakeknya. Saat berlindung tetiba dia teringat Sarman, suaminya yang beberapa jam lalu  sudah pergi sawah. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Dalam kondisi penuh ketegangan, tetiba seorang tentara Belanda berseragam loreng masuk ke lingkungan rumah Wanti. Sambil membawa senjata, dia langsung membuka pintu bewak dan membentak dalam bahasa Melayu: “Kemana laki-lakinya?” “Tidak ada Tuan,” jawab Wanti dalam nada gemetar. “Pergi ke mana?!” “Ke sawah, Tuan.” Serdadu bule itu kemudian menunjuk dua orang tua yang saat itu tengah sembunyi di kolong meja. “Ini siapa?” "Ini kakek saya, Tuan. Itu nenek saya, Tuan.” Setelah menggeledah seluruh sudut ruangan, sang serdadu pun berlalu. Sementara itu di tempat lain, Telan melakukan langkah seribu ke arah Kali Balong. Pemuda yang dikenal sebagai anggota Lasykar Hizbullah itu lantas berjalan menyisir tepi kali untuk mengamankan diri ke arah Desa Mekarjaya, yang bertetangga dengan Dusun Rawagede. “Suasana sangat mencekam kala itu. Suara tembakan terdengar diringi jeritan kaum perempuan dan anak-anak kecil,” ujar lelaki kalahiran Rawagede itu. Beberapa waktu kemudian, rombongan serdadu-Belanda berpakaian macan tutul memasuki Rawagede. Mereka adalah anggota Yon  3-9-RI Divisie 7 December , sebagian kecil prajurit   1e Para Compagnie  dan  12 Genie Veld Compagnie  (keduanya merupakan brigade cadangan dari pasukan parakomando  Depot Speciale Troepen ) pimpinan Mayor Alphons J.H. Wijnen. Begitu memasuki dusun, mereka langsung beraksi. Sebagian berjaga-jaga di mulut dusun, sedang sebagian lagi menyebar, mendobrak pintu rumah (termasuk rumah Wanti) dan memerintahkan secara kasar agar para penghuninya keluar. “Para perempuan dan anak-anak mereka biarkan begitu saja, tapi kaum lelaki yang tak sempat lari dikumpulkan dalam beberapa kelompok,” kenang almarhum Sai, salah seorang penduduk Rawagede yang belakangan lolos dari maut. Satu kelompok yang  yang berisi 15 laki-laki lantas dijejerkan. Seorang sersan berkulit putih lantas menanyai satu persatu orang-orang tersebut dalam nada membentak. "Ekstrimis ya?!”  “Bukan, Tuan.” “Kamu tahu di mana itu Laskar?! Kamu tahu Lukas?!” “Tidak tahu, Tuan." Mendengar jawaban kompak para lelaki yang tertangkap, tanpa banyak bicara lagi, seorang serdadu Belanda yang berdiri di bagian belakang para tawanan lantas mengokang senjatanya. Darah pun berhamburan, mengental merah mewarnai bumi Rawagede. Beberapa jam setelah pembantaian itu. Langit Rawagede dibekap mendung. Suara ratusan burung gagak mengoak, bersanding dengan teriakan pilu dan tangisan sekelompok perempuan yang kehilangan anak dan suami. Bau mesiu masih menyengat, bercampur dengan bau anyir darah yang tercecer di tanah, dedaunan dan sisa-sisa kayu bekas bangunan yang terbakar. Di beberapa sudut kaum perempuan mengorek tanah dengan golok. Sekuat tenaga, mereka berupaya memakamkan secara layak mayat suami, anak ataupun ayah mereka. Usai menguburkan jasad-jasad itu di dalam lobang yang dangkal, mereka lantas menumpuk makam-makam itu dengan daun jendela, kayu bakar, daun pintu yang merupakan sisa puing-puing rumah mereka yang dibakar militer Belanda. Wanti adalah salah satu dari ratusan perempuan tersebut. Bersama ayah dan ibu mertuanya, ia memakamkan jasad Sarman tepat di di halaman rumahnya. “Setelah mencari kesana kemari, saya menemukan tubuh kaku suami saya tertelungkup di daerah Sumur Bor dengan kepala dan tengkuk berlubang penuh darah,” kenangnya. Telan termasuk yang kehilangan keponakan dan kakak: Sewan dan Natta. Begitu juga ratusan orang Rawagede lainnya. Tidak saja di dalam dusun, di Kali Cibalong pun ratusan pemuda Karawang yang meregang nyawa terbawa hanyut. Telan, masih menyaksikan Tong Wan (pemuda Tionghoa yang bergabung dengan Hizbullah) sekarat lalu dibawa hanyut air Kali Balong yang saat itu tengah banjir. “Sebelum ditembak, ia sempat berteriak: merdeka!" ujar lelaki tua yang meninggal pada 2019. Hawa panas yang menyengat kawasan Pantai Sadari Karawang sudah mulai tak terasa. Tapi deretan pohon bakau masih  melambai-lambai disapa angin laut sore. Wanti tua kembali melangkah masuk diringi Sopia, salah satu putrinya yang tersisa. Dia kemudian duduk di kursi butut tanpa meja sambil menghadap saya. “Hingga sekarang, Emak tak pernah mengerti mengapa suami Emak dibunuh. Dia hanya seorang petani, bukan tentara atau laskar,” ujar Wanti dalam nada lirih. Sebagai konsekuensi dari kekalahannya di Pengadilan Tinggi Den Haag, Pemerintah Belanda akhirnya meminta maaf dan memberikan sejumlah uang kompensasi (jika dirupiahkan sebanyak Rp240.000.000,00) kepada para penggugat. Apakah uang kompesasi tersebut sampai kepada mereka? “Ya sampai. Walaupun saya hanya menerima uang utuhnya ke tangan sekitar 40 juta rupiah, tapi  Alhamdulillah  saya sendiri bisa membeli rumah ini dan satu televisi untuk hiburan,” kata nenek dari beberapa cucu itu. Wanti sendiri tidak pernah mempersoalkan haknya yang terpotong oleh berbagai pihak. Dia malah merasa bersyukur bahwa di masa tuanya bisa menerima kemurahan Tuhan dengan memiliki rumah sendiri, kendati kondisinya sangat memprihatinkan (ketika awal 2019 saya ke Pantai Sedari, rumah Wanti sudah hancur dimakan abrasi). Bagi  salah satu saksi sejarah yang masih tersisa ini, kehilangan suami dan dihantui rasa trauma sejatinya tak bisa terbayar oleh uang sebanyak apapun. “Saya selalu berusaha melupakan kejadian itu. Tapi kalau lagi sendiri kadang bayangannya muncul begitu saja, membuat saya kembali bersedih,” ujarnya dalam nada pelan. Setitik air bening meleleh di kulit pipinya yang keriput. Tulisan ini dibuat untuk mengenang Bu Wanti dan Pak Telan, yang beberapa waktu lalu baru saja mangkat.

  • Antropolog Swiss dan Polisi RI Cincai

    SETELAH dua hari mengarungi pelayaran sulit, antropolog asal Swiss Reimar Schefold akhirnya sampai di rumah Helmut Buchholz, kawannya yang berkebangsaan Jerman dan berprofesi sebagai penginjil di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Selain untuk mengurus perpanjangan visa, kepergian Reimar dari pesisir barat ke Muara Siberut pada akhir dekade 1960-an itu adalah untuk membicarakan surat dakwaan yang diterimanya terkait dugaan pembelaannya terhadap masyarakat Sakuddei. “Aku langsung menemui dan berbicara kepada Helmut setelah kedatanganku di pos penginjilan itu. Selain itu ia juga ingin mengetahui apa makna sebenarnya dari: tindakanku sebagai ‘kepala suku orang-orang kafir.’,” ujar Reimar dalam memoar berjudul Aku dan Orang Sakuddei: Menjaga Jiwa di Rimba Mentawai. Kepolisian setempat mendakwa Reimar karena menganggap riset Reimar di pedalaman Mentawai dengan tinggal bareng masyarakat Sakuddei sejak 1967 sebagai dukungan terhadap masyarakat itu dalam melawan “modernisasi” yang digulirkan pemerintah sejak era Presiden Sukarno dan dilanjutkan pada era Soeharto. Dalam “modernisasi” itu, pemerintah memperkenalkan dan mengajak suku-suku terbelakang untuk mengadaopsi hal-hal modern dan meninggalkan hal-hal “primitif” seperti kehidupan berburu, bertato, berambut gondrong, dan lain-lain. “Di Mentawai, pamongpraja menyuruh cukur rambut orang lelaki yang panjang, demi moderninsasi suku Mentawai, sedang di Jakarta dan kota-kota besar, laki-laki, tua dan muda memangjangkan rambut mereka! Di Pulau Fiki orang setengah telanjang ke sekolah itu modernisasi! Di Irian Jaya koteka dibuang, di Jakarta tari telanjang di nightclub.  Sikap feodal ini juga langsung berakar pada sikap manusia Indonesia terhadap kekuasaan,” kata Mochtar Lubis dalam Manusia Indonesia . Modernisasi yang dilancarkan pemerintah itu pula yang kerap menimbulkan gesekan dengan orang-orang Mentawai, terutama masyarakat Sakuddai tempat Reimar menumpang. Lantaran mendukung prinsip hidup masyarakat Sakuddai untuk melestarikan hutan tempat hidup mereka dan budaya leluhurnya, Reimar dicap melawan modernisasi oleh pemerintah. Hal inilah yang coba dinselesaikannya dengan Nico, kepala polisi RI setempat. Saat Helmut esoknya memimpin misa Minggu di gereja penginjilannya, Reimar melihat Nico duduk di barisan depan. Dia langsung mengampirinya dan meminta membicarakan surat dakwaannya secara empat mata di kantor polisi. Keduanya pun sepakat untuk membicarakannya pada keesokan harinya di tempat penginjilan itu sesuai permintaan Nico. Keduanya langsung masuk ke pokok pembicaraan ketika keesokan harinya bertemu. “Anda mungkin sudah mendengar cerita yang mereka katakan tentang Anda. Aku ingin sekali mendengar sendiri dari Anda tentang kebenarannya,” kata Nico, dikutip Reimar. Setelah Reimar menjelaskan pandangannya, keduanya pun terlibat dalam perdebatan. Nico bertahan pada pendapatnya yang mendukung pandangan pemerintah Indonesia. “Ide-ide primitif seperti itu harus dilarang. Dan bila Anda ingin tahu kenapa: mereka menghambat kemajuan. Aku tidak akan menghalangi Anda untuk itu. Akan tetapi apabila ini berakibat membuat orang-orang berpaling dari kemajuan, maka aku akan tampil dan melawannya. Itulah mengapa aku memintamu datang kemari,” kata Nico.  Perdebatan itu akhirnya selesai dengan pandangan solutif yang dikeluarkan Reimar. “Orang-orang seperti orang-orang Sakuddei itu pertama-tama harus mendapatkan kesempatan untuk mengerti mengapa mereka harus berubah dan kemudian ikut menentukan apa yang ingin mereka ambil alih. Bila tidak maka mereka diperlakukan sama saja seperti di bawah kekuatan kolonialisme.” Suasana persahabatan kembali melingkupi keduanya. Nico menutup pertemuan dengan perintah agar Reimar melihat arloji Rolex yang dipakainya. Arloji itu rusak dan karena tak ada orang di sana yang bisa memperbaikinya, arloji itu terus dipakainya dalam keadaan mati. “Aku akan dengan senang hati menolong Anda, tetapi barangkali Anda juga bisa menolongku. Kulihat Anda memakai Omega. Jadi begini: kuberikan Anda Rolex-ku; yang akan Anda bawa pulang untuk diperbaikin dan Anda memberikanku Omega itu sebagai gantinya,” kata Nico. Keduanya pun sepakat. “Anda adalah teman orang Indonesia. Aku akan menolong Anda selama Anda ingin tinggal di sini,” sambungnya. Ketika Helmut masuk ke ruangan sesaat kemudian, pembicaraan sudah selesai. “Ketika aku bercerita kepadanya bahwa Niko akan menolongku dalam memperpanjang visaku, Helmut terbelalak,” kata Reimar.

  • Mitos dan Tetenger Wabah Penyakit

    Dahulu orang percaya ada hantu pembawa maut berwujud bola arwah. Terkadang ia muncul sebagai rombongan prajurit ganas yang bisa membunuh manusia ketika mereka tertidur. Hantu bernama Lampor itu kerap menimbulkan suara gaduh. Suaranya berasal dari iringan kereta kuda dan derap kaki pasukan. Beberapa masyarakat Jawa mempercayai kalau mereka adalah pasukan Nyi Roro Kidul yang tengah bergerak dari Laut Selatan ke Gunung Merapi atau Keraton Yogyakarta. Sementara masyarakat di Jawa Timur percaya kalau Lampor muncul bersamaan dengan wabah penyakit. Lampor mencari korbannya seringkali di bulan Sapar pada malam hari. Korban dicekik lalu dibawa dengan keranda. Jika itu terjadi, mereka bakalan mati seketika. Namun, Lampor punya kelemahan. Konon, ia tak bisa duduk atau jongkok. Jadi orang-orang akan memilih tidur di bawah dipan atau di lantai agar Lampor tak mencekik mereka. Dwi Cahyono, arkeolog yang mengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, mengatakan kalau isu setan Lampor semacam itu marak di Jawa Tengah dan Timur sampai pada 1960-an. Lambat laun cerita itu menghilang. Desas-desus seputar Lampor kemungkinan muncul manakala banyak terjadi wabah penyakit pada masa lampau. Jika ia datang orang bisa mati dalam tidurnya. "Wabah penyakit dalam konsepsi lama direlasikan dengan peristiwa mistis, seperti pada hantu Lampor," kata Dwi kepada Historia . Terkadang dalam percakapan, kata lampor disandingkan dengan kata pagebluk , menjadi pagebluk lampor . Lampor secara harfiah berasal dari kata Jawa Kuna, lampur . Artinya mengembara atau bepergian. Sementara pagebluk adalah istilah Jawa untuk menyebut wabah penyakit. Istilah pagebluk lampor kemudian memberi penegasan kalau pada masa lalu mungkin pernah terjadi pagebluk yang dahsyat dampaknya. Soal dahsyatnya pagebluk ini, ada perkataan dalam bahasa Jawa Baru yang populer. " Isuk loro, sore mati , ini kan memberi gambaran betapa ganas penyakitnya, dalam durasi sesingkat itu orang mati," ujar Dwi. Kata-kata itu dijumpai dalam kisah  Babad Tanah Jawi. Jadi, setelah Amangkurat I wafat, Mataram tertimpa musibah. banyak orang sakit. Negara rusak. Udara tidak baik. Makanan mahal. Hujan tak turun, sehingga udara begitu panas. Negara Mataram seperti terbakar. Banyak orang meninggal. Pengemis tersebar di sepanjang jalan atau sungai. Banyak penderita sakit borok, kudis,  pathek,  bubul, dan sejenisnya. Orang yang sakit di waktu pagi, sorennya meninggal.  "Jadi dari situ kita melihat bahwa pada masa lalu ada gambaran tentang bencana penyakit," lanjut Dwi. Lewat Tetenger Alam Mungkin saking menakutkannya dampak pagebluk, orang Jawa pun mulai mencari pertanda atau tetenger sebelum wabah datang. Pada zaman Mataram Islam misalnya, pagebluk dihubungkan dengan kemunculan bintang berekor atau komet. Orang Jawa menyebutnya lintang kemukus . Menurut tradisi mereka, kemunculan komet pada arah tertentu memiliki arti, di antaranya sebagai pertanda kemunculan pagebluk. "Memang umumnya penampakkan komet dimaknai sebagai membawa ‘hal yang kurang baik’, kecuali apabila muncul di arah barat," jelas Dwi. Berdasarkan buku Sejarah Kutha Sala: Kraton Sala, Bengawan Sala, Gunung Lawu yang ditulis R.M. Ng. Tiknopranoto dan R. Mardisuwignya, Dwi menjelaskan bila komet muncul di arah timur tandanya ada raja yang sedang berbela sungkawa. Lalu rakyatnya bingung. Desa pun banyak yang mengalami kerusakan dan kesusahan. Harga beras dan padi murah, tetapi emas mahal harganya. Bila bintang berekor muncul di tenggara menandakan ada raja yang mangkat. Orang desa banyak yang pindah. Hujan jarang. Buah banyak yang rusak. Ada wabah penyakit yang membuat banyak orang sakit dan meninggal. Beras dan padi mahal. Kerbau dan sapi banyak yang dijual. Apabila komet muncul di arah selatan tandanya ada raja mangkat. Para pembesar susah. Banyak hujan. Hasil kebun melimpah. Beras, padi, kerbau, dan sapi dihargai murah. Orang desa merana, karenanya mereka pun mengagungkan kekuasaan Tuhan Yang Maha Suci. Kalau komet muncul di barat daya artinya ada raja mangkat. Orang desa melakukan kebajikan. Beras dan padi murah. Hasil kebun berlimpah. Tapi kerbau dan sapi banyak yang mati. Jika komet muncul di barat tandanya ada penobatan raja. Para pembesar dan orang desa senang. Beras dan padi pun murah. Apa yang ditanam berbuah subur dan cepat menghasilkan. Hujan akan turun deras dan lama. Apapun barang yang dijual-belikan murah harganya, karena memperoleh berkah Tuhan. Lalu kalau bintang kemukus muncul di barat laut, itu pertanda ada raja yang berebut kekuasaan. Para adipati juga berselisih, berebut kekuasaan. Sementara warga desa bersedih hati. Kerbau dan sapinya banyak yang mati. Hujan dan petir terjadi di musim yang salah. Kekurangan makin meluas dan berlangsung lama. Beras dan padi mahal, namun emas murah. Apabila ada komet muncul di utara, maknanya ada raja yang kalut pikiran lantaran kekeruhan di dalam pemerintahannya. Timbul perselisihan yang semakin berkembang menjadi peperangan. Beras dan padi mahal. Namun harga emas murah. Selain tanda adanya wabah penyakit pada manusia, lintang kemukus juga memberi pertanda ada wabah penyakit yang akan menyerang hewan. Ada pertanda kalau kerbau dan sapi banyak yang mati. Itu disebutnya aratan . Bila lintang muncul di arah barat daya dan di barat laut. "Ada pertanda alam yang di masa lalu dipersepsi sebagai tengara tentang adanya kematian," jelas Dwi. "Lampor itu juga merupakan keyakinan lokal sebenarnya tidak secara langsung bicara tentang penyakit tapi ada dampak yang berhubungan dengan penyakit." Cara Memotong Rantai Penularan Karenanya musibah yang terjadi akibat wabah penyakit bisa disebut sebagai malapetaka. Dwi menjelaskan, secara harfiah, dalam konteks Jawa Kuno dan Jawa Tengahan kata mala berarti kotor, cabul, najis secara fisik dan moral, noda, cedera, cacat, dan dosa. Kata itu bisa juga berarti penyakit. "Terlihat bahwa pada mulanya malapetaka bertalian dengan bencana penyakit, yang kemudian diperluas artinya ke bermacam bencana," ujar Dwi. Dengan pengertian itu, seringkali wabah penyakit, yang termasuk ke dalam malapetaka tadi, disembuhkan tidak lewat penanganan medis. "Ini kan suatu isu penyakit kemudian membias ke hal yang di luar penyakit," kata Dwi. Misalnya, ada masyarakat yang membuat tumpeng untuk mengatasi serangan pagebluk. Seperti dijumpai pada masyarakat Tengger, suku asli yang mendiami wilayah Gunung Bromo dan Semeru, Jawa Timur. Mereka punya Tumpeng Pras. Namanya berkenaan dengan cara tumpeng itu diperlakukan. Setelah diupacarai, puncak tumpeng akan dikepras. Diyakini, pemotong ini salah satunya untuk menghilangkan penyakit. "Jadi secara simbol tumpeng dan praktik social distancing ini sama prinsipnya. Memotong rantai penularan," jelas Dwi. Ketika wabah terjadi biasanya di wilayah masyarakat Tengger terjadi penyimpangan yang bersifat makrokosmos. Tandanya seperti ada harimau yang masuk kampung. Ini menyimpang karena perkampungan penduduk bukanlah habitat harimau. "Ini isyarat akan ada penyimpangan di dunia manusia. Misalnya banyak anak mati secara beruntun. Pagebluk itu tadi. Menghilangkannya dengan membuat tumpeng pras. Memang digunakan untuk kepentingan ini,” jelas Dwi. Secara umum, menurut Bani Sudardi, dosen Jurusan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta, dalam "Konsep Pengobatan Tradisional Menurut Primbon Jawa", terbit di jurnal HumanioraVol. 14/2002 , orang Jawa percaya kemungkinan mereka sakit bergantung pada kualitas hubunganya dengan lingkungan. Mereka yakin bahwa manusia adalah bagian tak terpisahkan dari suatu tatanan kosmis. Itu mengapa, sebagaimana menurut sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa III: Warisan Kerajaan Konsentris, ritual-ritual pedesaan seperti oleh masyarakat Tengger tadi, banyak dilakuan demi menjaga keserasian semesta. Antara desa dan kosmos harus seimbang agar kehidupan tak bergoyang. Sementara wabah penyakit yang menimpa manusia ataupun binatang adalah pertanda tentang adanya kekacauan di mikrokosmos. Adapun kemunculan lintang kemukus merupakan pertanda adanya krisis pada makrokosmosnya. "Komet itu kan penyimpangan. Dalam kondisi normal komet akan tetap di garis orbitnya. Ini seringkali dipercayai akan diikuti dengan penyimpangan mikrokosmos, pagebluk,” jelas Dwi.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page