top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Kisah Hanoman dari Kota Lama

Kisah legenda dunia pewayangan yang hadir di tengah ramainya Kota Lama Semarang. Menunggu para generasi muda untuk melestarikannya.

28 Mar 2020

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Sang Hanoman beraksi di Kota Lama Semarang. (Fernando Randy/Historia).

  • 29 Mar 2020
  • 2 menit membaca

Kawasan Kota Lama Semarang menyimpan daya tarik untuk dikunjungi. Banyak bangunan peninggalan Belanda masih berdiri kokoh. Sebagian dimanfaatkan menjadi kedai-kedai minuman atau makanan dengan interior yang menarik. Tempat ini ramai saban akhir pekan atau musim liburan sebelum pandemi Covid-19 melanda.


Salah satu bangunan bersejarah di Kota Lama Semarang. (Fernando Randy/Historia).
Salah satu bangunan bersejarah di Kota Lama Semarang. (Fernando Randy/Historia).

Karena ramai pengunjung, Kota Lama juga menjadi tempat mengais rezeki bagi penampil jalanan. Salah satunya Heri Sudron (46). Dia biasa tampil sebagai Hanoman, salah satu tokoh dalam wiracarita Ramayana. Dia mengenal perwayangan sejak kecil sehingga tidak asing lagi dengan berbagai tokoh wayang. Dia tampil sebagai Hanoman karena menurutnya tokoh ini menarik.


Heri merias wajahnya untuk menjadi Hanoman di Kota Lama. (Fernando Randy/Historia).
Heri merias wajahnya untuk menjadi Hanoman di Kota Lama. (Fernando Randy/Historia).

“Sejak usia 9 tahun di Banyuwangi saya sudah sering menonton wayang, hingga akhirnya saya bergabung dengan grup kesenian yang memainkan seni Janger,” ujar Heri.


Janger adalah kesenian asal Banyuwangi yang memadukan tarian, kostum, dan gamelan Bali yang mengambil cerita rakyat Jawa sebagai lakonnya. Heri mengaku kecintaanya terhadap seni peran dan Hanoman membuat dirinya melakoni peran sebagai seorang performance art hingga kini. Dia memperoleh sedikit rupiah dari orang yang berfoto bersama dirinya.


Heri bersiap dengan kostum Hanomannya. (Fernando Randy/Historia).
Heri bersiap dengan kostum Hanomannya. (Fernando Randy/Historia).
Hal-hal detail seperti gelang dan lainnya juga dipersiapkan oleh Heri. (Fernando Randy/Historia).
Hal-hal detail seperti gelang dan lainnya juga dipersiapkan oleh Heri. (Fernando Randy/Historia).
Menurut Heri Hanoman adalah karakter yang sudah melekat pada dirinya. (Fernando Randy/Historia).
Menurut Heri Hanoman adalah karakter yang sudah melekat pada dirinya. (Fernando Randy/Historia).

“Setelah menikah, saya pusing mikir mau kerja apa. Hingga akhirnya saya kembali teringat akan sosok Hanoman. Akhirnya saya merantau dan kembali menjadi Hanoman hingga saat ini," lanjut pria berambut gondrong ini. 


Selama menjadi Hanoman, Heri mengalami banyak suka dan duka. Saat Kota Lama sedang ramai pengunjung, dompetnya ikut ramai. Tapi saat sepi, dompetnya sering tak berisi. "Menjadi Hanoman harus mengerti berbagai karakter masyarakat yang ingin berfoto. Ada yang hanya foto bersama, ada yang sampai naik pundak saya. Namun ya itu tadi saya adalah Hanoman yang bertugas melayani dan melindungi masyarakat,” kata Heri.


Para pengunjung saat berfoto bersama sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia).
Para pengunjung saat berfoto bersama sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia).
Para pengunjung menyaksikan sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia).
Para pengunjung menyaksikan sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia).
Sang Hanoman di Kota Lama Semarang. (Fernando Randy/Historia).
Sang Hanoman di Kota Lama Semarang. (Fernando Randy/Historia).
Seorang pengunjung mengajak sang hanoman untuk berfoto bersama. (Fernando Randy/Historia).
Seorang pengunjung mengajak sang hanoman untuk berfoto bersama. (Fernando Randy/Historia).

Heri sendiri tidak mematok berapa bayaran bagi pengunjung Kota Lama Semarang yang sekadar ingin berfoto bersama dirinya. Semuanya suka rela. “Berapa saja bayarannya. Saya tidak pernah mematok harga untuk berfoto bersama saya. Yang penting ikhlas saja,” lanjut Heri.


Ikhlas adalah bayaran yang didapat oleh Heri sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia).
Ikhlas adalah bayaran yang didapat oleh Heri sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia).
Sang Hanoman beraksi di tengah Kota Lama. (Fernando Randy/Historia).
Sang Hanoman beraksi di tengah Kota Lama. (Fernando Randy/Historia).

Puluhan tahun memerankan Hanoman, Heri mempunyai harapan bagi kesenian wayang. Dia berharap semua generasi turut andil merawat kesenian ini. “Pesan saya untuk semua, bukan hanya anak-anak, warisan leluhur seperti ini jangan sampai terlupakan. Jangan sampai tersaing dengan musik-musik Barat. Jangan sampai kita melupakan dan meninggalkan kesenian tradisional,” kata Heri.


Sang Hanoman berharap kesenian tradisional seperti wayang terus dijaga oleh generasi muda. (Fernando Randy/Historia).
Sang Hanoman berharap kesenian tradisional seperti wayang terus dijaga oleh generasi muda. (Fernando Randy/Historia).

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page