Hasil pencarian
9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Melawan Wabah El Tor
El Tor. Anda pernah mendengarnya? Mungkin sekarang tak pernah. Tapi pada dekade 1930-an dan 1960-an, El Tor sempat menjadi nama paling ditakuti di Sulawesi Selatan, Semarang, dan Jakarta. El Tor adalah penyakit menular. Gejalanya mirip kolera. Bahkan penyebabnya serupa dengan penyakit kolera. Masih satu keluarga dengan bakteri kolera. El Tor kali pertama ditemukan oleh Felix Gotschlich, dokter dari Jerman, di pusat karantina El Tor, tak jauh dari Terusan Suez, Mesir, pada 1905. Karena itu, bakteri termaksud disebut El Tor. Gotshlich menyatakan El Tor terdapat di feses sejumlah jamaah calon haji. Meski menyerupai vibrio cholerae (bakteri penyebab kolera), El Tor justru bersifat apatogen atau tidak merugikan inangnya. Jamaah calon haji tetap sehat dan tak muncul gejala sakit apapun pada mereka. Kesimpulan Gotschlich bertahan selama 32 tahun. Kesimpulan Gotschlich berubah pada September 1937. El Tor mulai jadi patogen (merugikan inangnya). Kasus pertama muncul di Pangkajene, sekira 60 kilometer dari utara Makassar. Orang terinfeksi El Tor akan menampakkan gejala sakit menyerupai pasien kolera. “Mula-mula penderita muntah, diikuti dengan berak-berak yang berupa air beras (cair, keruh putih disertai sedikit lendir) dengan frekuensi lebih dari 10 kali,” catat Djaja dalam “Usaha Memberantal El Tor”, 7 Maret 1964. Dalam waktu hampir tiga bulan, infeksi El Tor menyebar ke beberapa wilayah Sulawesi lainnya. Dari 26 September hingga 11 Desember 1937 terdapat 37 kasus dengan 11 orang meninggal . Persebaran El Tor menjangkau 14 desa sehingga menjadikannya epidemi. Media penyebarannya melalui liur atau feses penderita, air yang terkontaminasi, dan lalat yang membawa bakteri itu lalu hinggap di makanan. Epidemi ini cepat menyebar, lekas pula mereda. Tidak seperti dalam kolera, penanganan terhadap penderita tak perlu ada isolasi khusus. Sekian tahun menghilang, El Tor muncul lagi pada 1958 di Jakarta. “Pertama kali muncul empat kasus parakolera El Tor di Jakarta Raya,” ungkap Soe Khie Tjia dalam Penjelidikan Vibrio El Tor Jang Diasingkan di Djakarta dan Tjara Baru Untuk Membedakan Antara Vibrio El Tor dan Vibrio Cholerae , tesis pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1967. Lantaran kasusnya sedikit, kebanyakan orang menganggap biasa kabar ini. Tetapi dunia kedokteran justru bingung, bagaimana El Tor ini muncul di Jakarta setelah sekian tahun hilang dari Makassar. Penelitian digelar selama tiga tahun. Tapi para dokter tak berhasil menemukan jawabannya. Tiga tahun setelah kasus di Jakarta, El Tor tiba-tiba merebak di Semarang. Tercatat ada 250 penderita terinfeksi El Tor. Dalam waktu bersamaan pula, El Tor menyerang Hongkong, Bangkok, Manila, Makau, dan Serawak. Orang-orang mulai khawatir. “Sejak 1961 kolera El Tor telah menjangkiti sepanjang wilayah Timur Jauh (Asia Timur) dan menarik perhatian WHO (Badan Kesehatan Dunia),” catat Jeni Iswandari dan Shinta Njotosiswojo dalam “Cholera El Tor Enteritis in Jakarta”, termuat di jurnal Paediatrica Indonesiana , Februari 1973. Para dokter berkesimpulan El Tor tak bisa lagi dibedakan secara epidemologis, klinis, dan patologis dari kolera. “Perbedaannya hanya terletak pada dua hal: karekteristik fisik dan biokimia (reaksi kimia yang terjadi dalam sel atau organisme hidup) bakterinya,” lanjut Jeni. Seiring pendefinisian El Tor, dokter C.E. De Moor menyarankan penanganan terhadap penderitanya ikut berubah. Mereka harus menjalani isolasi sebagaimana penderita kolera. “Pandangan mengenai vibrioEl Tor kini adalah sebagai kuman yang dapat menyebabkan wabah dengan mengakibatkan kematian sehingga oleh karenanya De Moor memasukkannya dalam daftar kuman-kuman yang dapat menimbulkan penyakit-penyakit karantina,” ungkap Djaja dalam “El Tor dan Cholera”, 26 Oktober 1963. Menyikapi penyebaran El Tor, pemerintah Indonesia menggunakan data penelitian tenaga kesehatan ketika El Tor berjangkit di Jakarta pada 1958 untuk mengambil tindakan. “Tidak banyak orang tahu bahwa semenjak kurang lebih dua tahun berselang, tenaga-tenaga kesehatan kita dan bagian public health Fakultas Kedokteran bertindak dalam bidang epidemiologis,” catat Djaja . Data penelitian tadi meliputi anggota keluarga penderita El Tor, pekerjaan penderita, makanan dan minuman, keadaan rumah, dan kondisi lingkungan. Melalui data itu, pemerintah mengambil langkah pencegahan penyebaran El Tor. Antara lain dengan mengeluarkan maklumat tentang El Tor. Isinya berkisar informasi El Tor, rumah sakit rujukan, dan tindakan orang jika menemukan penderita El Tor. Setelah maklumat keluar, Undang-Undang No. 6 Tahun 1962 tentang Wabah terbit pada 5 Maret 1962. UU termaksud menyuguhkan senarai delapan penyakit menular dan dapat menimbulkan wabah. El Tor termasuk satu di antaranya. Ini berarti “penyakit tersebut harus diberantas dengan segera bila terjadi wabah,” catat Almanak Pembangunan Kesehatan . UU juga memaklumatkan wewenang kepada Menteri Kesehatan untuk menetapkan suatu daerah sebagai daerah wabah setelah pemeriksaan yang teliti. Jika Menkes sudah menetapkan satu daerah sebagai daerah wabah, penguasa tempatan dapat menutup daerah tersebut untuk mencegah wabah meluas. Selain memaklumatkan tindakan bagi pemerintah, UU juga membuka pelibatan masyarakat untuk melaporkan adanya wabah di daerahnya. Para penderita penyakit dikenakan ketentuan isolasi dari orang lain di sekitarnya. “Peraturan ini dijalankan dengan keras karena terjadinya beberapa wabah di Makassar… Dan El Tor yang sudah endemis,” tulis Pedoman dan Berita , 1968. Setelah mengeluarkan maklumat tentang El Tor dan UU tentang wabah, langkah selanjutnya adalah pembuatan vaksin. Hingga 1970-an, vaksin El Tor belum juga ditemukan. Sebagai gantinya, pemerintah menggunakan vaksin kolera. Penderita El Tor mengeluarkan reaksi beragam setelah mendapat vaksin kolera. Ada yang sembuh, ada juga yang tak tertolong. Tapi ketiadaan vaksin khusus itu tertolong oleh perubahan perilaku menuju hidup bersih, pembangunan sanitasi di permukiman, dan kesadaran masyarakat memasak air lebih dulu. Dengan cara demikian, penderita El Tor di Indonesia menurun secara bertahap.
- Intel Kolera di Batavia
Jumlah pasien positif virus Covid-19 terus meningkat sejak dua pasien pertama diumumkan pemerintah pada 2 Maret 2020. Untuk melacak persebarannya, pemerintah kemudian menggandeng Badan Intelijen Nasional (BIN) dan intelijen Polri. Presiden Joko Widodo melalui akun Twitter resminya menyebut bahwa pemerintah berusaha menangani wabah ini tanpa menimbulkan kepanikan di masyarakat. ”Pemerintah terus berusaha keras menangani wabah virus korona, dengan tanpa menimbulkan kepanikan masyarakat. Penelusuran terhadap siapa pun yang melakukan kontak dengan pasien positif Covid-19 misalnya, dilakukan Kementerian Kesehatan dengan bantuan dari intelijen BIN dan Polri,” cuitnya, 13 Maret 2020. Dilibatkannya intelijen dalam menangani wabah ternyata pernah dilakukan pemerintah kolonial Belanda ketika Kota Batavia diserang kolera. Wabah kolera telah dikenal sejak 1821 dan terus terjadi hingga awal abad 20. Di Batavia, dinas intelijen kemudian dibentuk pada 1909 untuk melacak penyebarannya. Pembentukan dinas intelijen diprakarsai oleh Cornelis Dirk Ouwehand, dosen di STOVIA sekaligus dokter kota di Batavia. Dokter yang kemudian menjadi inspektur Dinas Kesehatan Sipil ini menyebut bahwa data kasus kolera dalam statistik resmi yang dilaporkan oleh rumah sakit selama masa kolera tidak dapat diandalkan. Menurut Ensiklopedia Jakarta: Volume 2, pada 1910 dan 1911 tercatat sebagai tahun kolera. Rata-rata tiap 1.000 orang bumiputra yang tinggal di hulu kota meninggal dunia dalam kurun itu. Sementara di kota hilir (Batavia Lama) jumlah korban meninggal mencapai 148 orang. Hingga mendekati akhir, total warga Batavia yang meninggal diperkirakan sebanyak 6.000 orang. Patrick Bek dalam "Fighting an (In)visible Enemy: Cholera Control in Jakarta" yang termuat dalam The Medical Journal of The Dutch Indies 1852-1942 menyebut dinas intelijen bertugas memantau kasus kolera secara independen. Dinas ini mengumpulkan data di kampung-kampung, termasuk korban kolera yang tidak berhasil sampai ke rumah sakit. Intelijen lalu melaporkan apa yang kemudian disebut "kasus sporadis" pada periode antara dua wabah kolera. Mereka menunjukkan bahwa di antara dua epidemi, kolera tidak pernah sepenuhnya hilang dari Batavia. Daerah-daerah yang paling sering terkena dampak dan paling parah oleh penyakit ini juga telah ditemukan. "Badan intelijen memetakan fokus wabah baru-baru ini, yang disebut 'kampung kolera', di tepi sungai Ciliwung dan sungai Krukut, tempat tinggal kuli miskin dan Tionghoa miskin,” tulis Bek. Pada 1911-1912 dinas intelijen beroperasi penuh di bawah naungan Dinas Medis Sipil yang baru didirikan, yang bertugas memantau kesehatan masyarakat dan bertujuan mengendalikan penyakit-penyakit umum dan infeksi. Meski tak ada studi ekstensif mengenai dinas intelijen ini yang diterbitkan jurnal medis Hindia Belanda, para kontributor jurnal memuji didirikannya dinas ini. Mereka mengklaim bahwa dinas intelijen sangat penting dalam pengendalian kolera di Batavia. Angka-angka dari dinas intelijen kemudian juga digunakan oleh P.C. Flu (1884-1945), asisten direktur Laboratorium Medis di Batavia, dalam sebuah studi menyeluruh tentang kolera di Batavia, pada 1915. Dari studi tersebut, P.C. Flu mempresentasikan temuannya tentang pengaruh hujan terhadap epidemi kolera di Batavia dalam angka dan tabel. Ia menyimpulkan bahwa, seperti yang sudah diduga, hujan memiliki efek menguntungkan pada jumlah kasus kolera. Kemudian ketika mempelajari angka-angka dari dinas intelijen, ia juga menemukan bahwa di musim hujan dan masa di antara dua epidemi kolera, kolera tidak pernah benar-benar hilang. Kolera tetap bertahan namun dalam bentuk yang ringan. “Ini adalah penemuan penting, yang akan digunakan oleh dinas intelijen yang baru didirikan. Selain itu, penemuan ini juga disajikan dalam GTNI (jurnal medis Hindia Belanda) sebagai argumen untuk vaksinasi massal di Hindia Belanda, yang diperkenalkan di koloni sekitar waktu yang sama,” sebut Bek. Meski demikian, wabah kolera di Batavia nyatanya masih merebak tiap tahun hingga 1920. Hal ini berkaitan dengan sanitasi lingkungan dan kebersihan perorangan penduduk Batavia yang rendah.
- Riwayat Kedatangan Islam di Gowa
Wabah Covid-19 semakin meresahkan masyarakat Indonesia. Pemerintah pun akhirnya mengeluarkan imbauan agar masyarakat sebisa mungkin menghindari keramaian. Masyarakat diminta tidak berkumpul dalam jumlah besar di tempat tertentu. Hal itu dilakukan untuk memutus rantai persebaran virus yang semakin meluas. Di tengah upaya tersebut, masyarakat Indonesia malah dihebohkan dengan pemberitaan tentang kegiatan Tabligh Ijtima Dunia 2020 Zona Asia yang rencananya akan diselenggarakan di Gowa, Sulawesi Selatan pada 19-22 Maret. Diberitakan CNNIndonesia , Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo membenarkan keberadaan 8.000 anggota Jemaah tabligh di Gowa tersebut. Namun setelah pemerintah daerah Sulawesi Selatan bersama TNI dan kepolisian melakukan koordinasi dengan pihak panitia penyelenggara, acara tabligh itu resmi ditunda. Pangdam Hasanuddin Mayjen TNI Andi Simangaruka menyebut pihaknya berhasil meyakinkan panitia menunda acara di tengah pencegahan virus corona yang dilakukan pemerintah Indonesia. “Jadi rencana mereka akan membatalkan kegiatan itu. Ini kesepakatan dengan panitia karena kan progam pemerintah dalam rangka pencegahan penularan virus corona. Mereka mengerti itu,” ucap Andi Simangaruka. Banyak masyarakat yang bingung dengan pemilihan wilayah Gowa sebagai tempat penyelenggaraan acara tersebut. Dari sekian banyak wilayah di Indonesia mengapa Gowa yang dipilih untuk acara yang baru pertama kali terselenggara di Indonesia ini. Hal itu tentu tidak terlepas dari perkembangan ajaran Islam di Gowa yang telah terjadi sejakratusan tahun lalu. Lantas bagaimana Islam pertama kali masuk ke Gowa? Kedatangan Pertama Penyebaran Islam di Nusantara berlangsung tidak merata. Ajaran agama dari Jazirah Arab ini tidaklah masuk secara bersamaan ke seluruh penjuru Nusantara. Masuknya Islam ke Sulawesi Selatan, termasuk Kerajaan Gowa contohnya, bisa dikatakan terlambat dibandingkan dengan wilayah Sumatera dan Jawa. Jika di kedua wilayah tersebut Islam telah berkembang pesat sejak abad ke-10, pengaruh Islam di Sulawesi baru muncul sekitar abad ke-16. Penyebabnya adalah kegiatan dagang di sana baru ramai akhir abad ke-16 hingga permulaan abad ke-17. Dijelaskan Ahmad M. Sewang dalam Islamisasi Kerajaan Gowa: Abad XVI sampai Abad XVII , para pedagang Muslim dari berbagai daerah di Nusantara, serta pedagang Eropa baru ramai mengunjungi pelabuhan-pelabuhan di Sulawesi Selatan pada periode abad tersebut. Aktifitas dagang inilah yang mempengaruhi tumbuhnya Islam di Jawa dan Sumatera. Sehingga ketika Sulawesi mulai ramai dikunjungi, persebaran Islam di Gowa pun mulai meningkat. Menurut Mattulada dalam “Islam di Sulawesi Selatan” dimuat dalam Agama dan Perubahan Sosial karya Taufik Abdullah, keberadaan pemukiman Muslim pertama di Makassar diketahui pada masa pemerintahan Raja Gowa X Tonipalangga (1546-1565). Penduduk Muslim pertama di Sulawesi Selatan itu mayoritas berasal dari Campa, Patani, Johor, dan Minangkabau. Mereka adalah para pedagang yang melakukan aktifitas dagang di pelabuhan Makassar, yang ketika itu dikenal sebagai tempat singgah para pelaut yang ingin ke Maluku ataupun ke Sumatera. Pada masa kekuasaan Tonijallo (1565-1590) di tempat bermukim para pedagang Muslim di Mangallekanna itu telah berdiri sebuah masjid. Memasuki abad ke-17 Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo mulai menerima keberadaan Islam di negerinya. Peristiwa besar penerimaan Islam tersebut ditandai dengan kedatangan tiga orang datuk ( datuk tallua ) dari Minangkabau ke wilayah kekuasaan raja Gowa. “Peristiwa masuknya Islam Raja Gowa merupakan tonggak sejarah dimulainya penyebaran Islam di Sulawesi Selatan, karena setelah itu terjadi konversi ke dalam Islam secara besar-besaran,” tulis Sewang. Berdasar peneltian etnolog Prancis Christian Pelras dalam “Religion, Tradition and the Dynamics of Islamization in South Sulawesi” dimuat Archipel , diketahui bahwa orang pertama di Gowa yang menerima Islam adalah mangkubumi Kerajaan Gowa, yang juga memegang kekuasaan tertinggi di Tallo, yaitu I Malingkang Daeng Manyonri. Ia kemudian memperoleh nama Islam Sultan Abdullah Awwalul-Islam. Pada waktu yang bersamaan, Raja Gowa XIV I Mangarangi Daeng Manrabia, juga mengikrarkan dirinya menjadi seorang Muslim. Ia kemudian mengganti namanya menjadi Sultan Alauddin. Keduanya tercatat menjadi Muslim pada 1605. Perubahan seluruh keyakinan di Gowa ke dalam Islam ditasbihkan dengan dikeluarkannya sebuah dekrit Sultan Alauddin pada 9 November 1607. Dalam dekrit itu, kata Sewang, Sultan menjadikan Islam agama resmi kerajaan dan agama yang perlu diyakini seluruh rakyat di wilayah kerajaan Gowa. Tidak ada pertentangan atas keputusan tersebut. Tetapi kemudian mulai timbul pertentangan manakala Gowa mulai menyerukan Islam ke kerajaan-kerajaan taklukannya yang mayoritas masih menganut kepercayaan di luar Islam. Pada perkembangan selanjutnya, ajaran-ajaran Islam yang disyiarkan oleh para ulama di Gowa mulai diterima secara luas oleh masyarakat. “Sejak semula, penyebaran Islam dilakukan atas prakarsa raja, serta atas kemampuan adaptasi yang diperlihatkan oleh para penyiar Islam. Akan tetapi bagaimana proses itu terjadi serta peranan yang dimainkan oleh raja di dalamnya, belumlah ada penelitian yang membahas secara khusus tentang itu,” ungkap Sewang. Datuk Tallua Tersebarnya Islam di kalangan penguasa Gowa tidak terlepas dari peran datuk tallua . Tiga datuk tersebut di antaranya: Abdul Makmur (Khatib Tunggal), dikenal juga dengan nama Datuk ri Bandang; Sulaiman (Khatib Sulung), dikenal juga dengan nama Datuk Patimang; Abdul Jawad (Khatib Bungsu), dikenal juga dengan nama Datuk ri Tiro. Begitu tiba di Makassar, ketiganya tidak langsung menjalankan misi agamanya. Mereka lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang Melayu dan pedagang Muslim yang sudah lebih dahulu tinggal di Sulawesi Selatan. Para mubalig ini berusaha mendekati para penguasa yang paling dihormati agar penyebaran ajaran Islam lebih mudah dilakukan. Dikisahkan dalam Lontara Pattorioloang dan Lontara Bilang, ketiga datuk kemudian pergi menuju Luwu untuk mendekati penguasa di sana. Berdasar informasi yang didapat, penguasa Luwu lebih terbuka terhadap keberadaan Islam. Akhirnya pada 1605, penguasa Luwu Daeng Parabung berhasil diislamkan. Ia mengganti namanya menjadi Sultan Muhammad. Sebagai raja Luwu, Sultan Muhammad cukup dihormati di kalangan raja-raja Sulawesi Selatan. Ia memiliki pengaruh yang besar. Sultan Muhammad lalu menyarankan agar datuk tallua pergi menemui Raja Gowa. Wilayah Gowa, menurut Sultan Muhammad, memiliki kekuatan militer dan politik yang kuat di kawasan Sulawesi Selatan. Jika Islam berhasil berkembang di sana, persebarannya diyakini akan semakin besar dan cepat. Usaha para mubalig itu pun membuahkan hasil. Beberapa bulan setelah melakukan pendekatan, Gowa dan Tallo bersedia memeluk agama Islam. “Kerajaan Gowa dikenal sebagai salah satu kerajaan pertama yang menerima Islam sebagai agama resmi sekaligus menjadi pusat Islamisasi di Sulawesi Sulatan,” tulis Sewang.
- Lomba Masak Gerilyawan
MARET 60 tahun silam. Chairul Saleh terpilih menjadi ketua umum Badan Musyawarah Angkatan 45. Pemilihan itu berlangsung dalam Musyawarah Besar Angkatan 45 yang dihelat di Jakarta, 15-20 Maret 1960. Terpilihnya Chairul menjadi angin segar bagi para veteran Perang Kemerdekaan yang seperti dianaktirikan sejak pengakuan kedaulatan. Chairul merupakan politikus sekaligus veteran Perang Kemerdekaan yang dianggap punya kepedulian tinggi, berprinsip, dan berani mengambil risiko. Selain itu, Chairul juga dikenal memiliki cara berpikir out of the box dan gaya kepemimpinan bak koboi. Lelaki tempramen yang menggemari pencak silat itu sejak muda telah menjadi penentang gigih terhadap cara kerja birokratis yang lamban. Bersama Sukarni dan beberapa pemuda Prapatan 10, Chairul menjadi otak di balik penculikan Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok. Di Perang Kemerdekaan, gaya koboi kepemimpinan Chairul –yang merupakan pendukung kemerdekaan 100 persen Tan Malaka– terlihat saat merespon Agresi Militer II. Ketimbang tunduk kepada pemerintah yang melakukan perjanjian demi perjanjian dengan Belanda yang merugikan republik, Chairul memlih angkat senjata bergerilya melawan Belanda. “Dulu para pemimpin ini adalah mitra pemerintah yang sangat antusias. Divisi Siliwangi dan anggota Gerakan Rakyat Revolusioner turut ambil bagian dalam menghancurkan PKI dalam Pemberontakan Madiun pada September 1948,” tulis Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949 . Bersama sekitar 19 kawannya, Chairul long march dari ibukota Yogyakarta ke Gunung Sanggabuana di barat Purwakarta, Jawa Barat. Meski berbagai rintangan menghampiri rombongan Chairul dalam perjalanan jauh nan berat itu, sampai Chairul sendiri mesti berjalan menggunakan tongkat akibat kakinya bengkak dan berair usai sepatunya jebol di daerah sebelum Purwokerto, tak satu pun anggota rombongan patah semangat. Chairul selalu punya cara menarik untuk mengendurkan otot-otot mereka yang tegang. Di lereng Gunung Ciremai usai rombongan disergap pasukan Belanda, rombongan yang sudah terseok-seok itu tiba-tiba melihat seekor anak kambing mengembik karena terlepas dari induknya. Anak kambing malang itu lalu dimasukkan paksa ke dalam rombongan oleh Dulay, rekan Chairul. Ketika mereka istirahat di tepi sungai di wilayah Hargeulis, Indramayu, Chairul mengeluarkan ide lewat celotehannya. “Hei…kawan-kawan, bagaimana kalau kita adakan acara lomba masak?” kata Chairul, dikutip Irna HN Soewito dkk. dalam biografi berjudul Chairul Saleh Tokoh Kontroversial . Kawan-kawan Chairul yang letih dan kelaparan pun langsung bersemangat mendukung ide Chairul. Suasana pun seketika berganti ceria. Setelah memotong anak kambing malang tadi dan mendapatkan sekadar bumbu dari penduduk, mereka membagi diri ke dalam beberapa kelompok yang saling bersaing menyajikan masakan. Chairul yang sekelompok dengan Erick dan Hasyim Mahdan membuat masakan yang mereka namakan Rendang Padang Kurang Bumbu. “Setelah dicicipi bersama dan dinilai bersama, maka ‘juara masak Long March Lasykar Rakyat Jawa Barat’ ialah Bung Chairul Saleh!” Pengumuman itu sontak mengundang tepuk tangan dan tawa rombongan yang diselingi komentar banyolan yang mengundang gelak tawa. Chairul tak henti-hetinya tertawa. “Akhirnya tempat yang hampir 5 jam mereka duduki itu ditinggalkan dengan penuh kenangan. Perjalanan dengan semangat baru mereka lanjutkan menuju Subang, Kalijati kemudian langsung mendekati gunung yang dituju.”
- Teror Sampar Ditakuti Tentara Belanda
Pada 1933-1934 wabah penyakit pes merajela di Priangan. Menurut Terence H.Hull dalam Death and Disease in Southeast Asia (disunting oleh Norman Owen), sekitar 15.000 orang Priangan tewas akibat penyakit yang diakibatkan oleh bakteri bernama Yersinia pestis tersebut. Hingga 1939, penyakit pes tetap menjadi hantu yang menakutkan di Jawa. Garut termasuk kawasan yang menyumbangkan korban agak besar. Dalam catatan Adrianus Bonnebaker dalam Over Pest , selama setahun wabah sampar merajalela, ratusan warga Garut telah meregang nyawa akibatnya. Tragedi itu menimbulkan trauma yang mendalam hingga puluhan tahun kemudian. “Zaman itu jika ada tikus dalam jumlah belasan saja terlihat mati di jalanan, ketakutan kami akan wabah penyakit pes muncul kembali,” kenang Ucun (92), warga asal Cigadog, Garut. Namun saat berlangsungnya Perang Kemerdekaan (1945-1949), para pejuang Indonesia di Garut justru memanfaatkan ketakutan kepada penyakit pes itu sebagai media untuk melakukan teror terhadap para prajurit Belanda. Adalah Mayor Saoed Mustofa Kosasih, Komandan Kesatuan Pasoekan Pangeran Papak (PPP) yang kali pertama memiliki ide untuk menjadikan bakteri Yersinia pestis sebagai senjata biologis untuk menghancurkan mental tempur pasukan Belanda. “Ayah saya juga menjadikan isu penyakit pes sebagai alat untuk melakukan perat urat syaraf dengan (pasukan) Belanda,” ujar Basroni Kosasih, berusia 65, salah satu putra dari almarhum Mayor Kosasih. Munculnya ide tersebut bermula dari laporan mata-mata PPP yang menyebut adanya satu seksi patroli pasukan Belanda yang balik badan ke posnya usai melihat beberapa tikus mati di jalanan. Rupanya mereka sangat takut terhadap bakteri pes di tubuh kutu-kutu hitam yang banyak bersarang di bulu tikus. Menurut Ojo Soepardjo Wigena, informasi dari telik sandi itu lantas didiskusikan dan dianalisa oleh Tim Intelijen PPP yang dipimpin oleh Soebardjo alias Shiroyama alias Guk Jae-ma, seorang mantan prajurit Jepang berkebangsaan Korea. “Ikut pula memberi masukan kepada Pak Mayor, seorang dokter yang merupakan bekas anggota tentara Jepang yang nama Indonesia kalau tidak salah adalah Ali, “ungkap eks anggota PPP asal Wanaraja, Garut itu. Maka dibuatlah rencana. Langkah pertama yang dilakukan oleh Mayor Kosasih adalah memerintahkan kepada anak buahnya untuk berburu tikus di sawah-sawah sekitar Wanaraja, tempat markas PPP. Bagi para anggota PPP yang mayoritas adalah bekas petani, pekerjaan mencari tikus bukanlah hal yang susah. Maka setelah berhari-hari, terkumpullah sekitar 10 karung tikus. Malam hari-nya karung-karung berisi tikus itu dibawa ke wilayah pos-pos militer Belanda. Secara diam-diam, binatang pengerat itu lantas dilepaskan dan dibiarkan masuk ke markas pasukan Belanda. Begitu tiap minggu mereka lakukan. Tidak jelas benar apakah kemudian ada serdadu Belanda yang terkena penyakit pes. Yang terang, teror penyakit sampar membuat markas-markas Belanda di Garut jadi mencekam. Beberapa penduduk sekitar pos membuat kesaksian kepada Mayor Kosasih bahwa banyak prajurit Belanda menyingkir dan bahkan terlihat sakit saat dibawa ke kota. “Taktik tikus” juga dilakukan oleh PPP untuk lolos dari kejaran militer Belanda. Caranya, saat akan melakukan penyangongan (penghadangan konvoi militer Belanda) di suatu wilayah, selain logistik, para gerilyawan PPP pun membawa serta pula berkarung-karung tikus yang sudah mati diracun. Begitu penyangongan usai dan berhasil menewaskan beberapa serdadu Belanda sekaligus merampas senjata mereka, unit PPP akan mundur kembali ke hutan-hutan. Namun bantuan militer Belanda kadang nekat terus memburu mereka. Maka saat mundur itulah, tikus-tikus mati tersebut disebar sepanjang jalan. Alih-alih terus melakukan perburuan, para prajurit Belanda itu malah balik badan dan tak mau menghadapi resiko kena penyakit pes. Menurut Ojo, penyebaran tikus-tikus mati juga kerap dilakukan untuk mencegah pembersihan yang dilakukan oleh para prajurit Belanda terhadap suatu kampung. Begitu mendapat informasi akan ada pergerakan pasukan Belanda ke pelosok, orang-orang kampung lalu menyebarkan tikus-tikus mati di jalanan desa. Maka selamatlah desa tersebut dari teror pasukan Belanda yang teryata lebih takut kepada teror sampar daripada teror gerilyawan Indonesia.
- Emas Kegemaran Bangsawan Jawa
Tradisi mengoleksi emas telah lama hidup dan berkembang di Pulau Jawa. Pada suatu masa logam mulia itu pernah beredar di pasaran dengan harga yang sangat murah. Meski begitu, nilai emas ini tidak pernah jatuh. Para penguasa dan bangsawan pun menggunakannya sebagai simbol kekuasaan. Banyak benda koleksi mereka terbuat dari emas. Menurut kesaksian seorang pengembara Tiongkok, termuat dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa karya WP Groeneveldt, peralatan makan raja-raja di Jawa saat melakukan perjamuan seluruhnya terbuat dari emas. Bahkan khusus untuk raja, peralatan emasnya bertabur batu permata sehingga terlihat jelas perbedaan statusnya. Para penguasa itu hidup dalam kemewahan. Kesaksian utusan Tiongkok tersebut diperkuat dengan penemuan ribuan benda berbahan emas pada 1990 di ladang dusun Ploso Kuning, desa Wonoboyo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Terdapat hampir 7.000 koin emas dan perak, beragam perhiasan, beragam bejana, dan perkakas lainnya. Menurut buku yang disusun tim penulis Museum Nasional Indonesia dalam Treasures of the National Museum Jakarta, timbunan emas, yang kemudian dikenal sebagai “Harta Karun Wonoboyo” itu diketahui menjadi penemuan terbesar objek emas di Indonesia. “Penemuan ini ditemukan belum terlalu lama. Masing-masing orang yang menemukannya mempunyai hak atas bagian dari benda-benda yang ditemukan, dan benda-benda ini diserahkan satu per satu, jadi tidak jelas apakah semua telah diserahkan,” tulis tim penulis Museum Nasional Indonesia. Koleksi Para Bangsawan Berdasar data yang diperoleh, harta karun Wonoboyo ini diperkirakan berasal dari abad ke-10 atau abad sebelumnya. Hal itu terlihat dari tempat bentuk penyimpanan emas –wadah periuk-belanga dari Tiongkok– yang banyak digunakan untuk mengumpulkan benda-benda berharga pada abad ke-10. Menurut Martowikrido Wahyono dalam Old Javanese Gold (4th-15th century): An Archaeometrical Approach , emas di Wonoboyo berasal dari periode akhir abad ke-9 hingga pertengahan abad ke-10. Asumsinya didasarkan pada kesesuaian antara tulisan di beberapa mangkun dengan prasasti Lintakan yang berasal dari tahun 900-an. Selain itu keberadaan dua perangkat perhiasan yang ditata secara rumit dan dua perhiasan bercorak bunga teratai berlapis emas, serta ketiadaan pencitraan dewa-dewi atau peralatan upacara, semakin memperkuat dugaan bahwa harta karun Wonoboyo merupakan isi ruang harta seorang pangeran dari keluarga dekat raja masa kekuasaan Kerajaan Medang hingga Mataram Kuno di Jawa. Periodisasi harta karun Wonoboyo tersebut didukung juga oleh keterkaitan antara figur manusia pada dua mangkok yang menggambarkan sosok dalam kisah Ramayana dan cerita yang tidak teridentifikasi, dengan figur dari periode Jawa awal yang ditemukan di tempat lain. Kedua figur tersebut memiliki tatanan bentuk serupa. “Kemungkinan besar bahwa sepanjang masa Hindu-Budha raja-raja dan bangsawan tinggi mempunyai kekayaan dalam bentuk perangkat dibuat dari logam mulia, digunakan untuk upacara. Sayangnya sejauh ini tidak ada lagi harta karun kerajaan ditemukan,” ungkap Wahyono. Pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, Majapahit juga memiliki sejumlah harta yang jumlahnya diperkirakan sama besar dengan harta karun Wonoboyo. Peneliti Stuart Robson dalam Desawarna (Nagarakrtagama) by Mpu Prapanca , menjelaskan jika Hayam Wuruk memiliki sejumlah emas yang sangat besar. Kereta kerajaan pada masa kekuasaannya berhiaskan emas dan permata. Bahkan dalam sebuah upacara agung, raja menggunakan tandu khusus yang dihiasi perhiasan emas. Tidak hanya raja, para pejabat istana juga memiliki begitu banyak benda yang terbuat dari emas. Seperangkat alat menyirih dan kipas emas, kata Robson, merupakan suatu hal yang wajar dimiliki para bangsawan tersebut. Mereka menggunakannya sebagai bukti kebesaran dan untuk membedakan keberadaan para bangsawan ini dengan rakyat lain. “Setelah berakhirnya masa Hindu-Budha, anggota kalangan istana masih tetap memanjakan diri mereka dengan emas yang sama berlimpahnya dengan sebelumnya,” ungkap Tim Penulis Museum Nasional. Tidak Menghasilkan Emas Meski keberadaan emas berlimpah namunJawa bukanlah pulai penghasil logam mulia tersebut. Untuk menutupi kebutuhan emas yang begitu tinggi, para penguasa Jawa mendapatkannya dari pulau lain. Mereka melakukan transaksi jual-beli dengan para saudagar, serta kerajaan lain di luar Pulau Jawa. Di samping pemanfaatan simpanan emas, serta timbunan emas dari masa sebelumnya. Penjelajah Portugis Tome Pires sekitar tahun 1513 melihat secara langsung keberadaan emas-emas yang sangat banyak saat kunjungannya di Pulau Jawa. Dalam catatan perjalanannya Suma Oriental , Pires menyebut jika emas di Jawa tersedia dalam jumlah besar dengan kualitas yang baik dan harga yang murah. Pires pernah melihat seorang Raja Hindu di pedalaman Jawa yang hidup bergelimpangan emas. Logam mulia ini digunakan oleh para pengawalnya, diperkirakan sebanyak 2.000 orang, dalam bentuk senjata –keris, tombak, dan pedang. Lengan mereka juga dihiasi gelang emas dan perak. Bukti kekayaan sang raja juga diperlihatkan dengan kalung emas yang tergantung di leher anjing-anjing peliharaannya. Sementara itu kesaksian para pejabat VOC yang datang setelah Pires menyebut dikalangan masyarakat Jawa mulai muncul mata pencaharian baru, yakni pemburu emas. Pejabat VOC Rijklof van Goens dalam pengamatannya sering mendapati makam-makam dan reruntuhan masa Hindu-Budha hingga Islam yang digali oleh para pemburu emas ini. Kesakisan Goens itu tercatat dalam buku De vijf gezenstchappen van Rijklof van Goens naar het Hof van Mataram karya sejarawan HJ De Graaf. Pada abad ke-18, pejabat VOC lainnya, Elzo Sterrenberg juga mendapati beberapa titik penggalian di sekitar kompleks Candi Prambanan. Para pencari emas ini percaya bahwa sekitar candi besar itu terdapat lubang-lubang penyimpanan emas. Namun Sterrenberg tidak menjelaskan apakah para pemburu itu berhasil menemukan emas yang dimaksud. Hingga masa pemerintahan Thomas Stanford Raffles (1811-1816) penggalian masih sering terjadi di datarang tinggi Dieng. Ia memperoleh informasi bahwa penggalian itu dilakukan untuk mencari koin emas, keris, serta arca. Kegiatan pencarian emas menjadi salah satu kegemaran rakyat yang tidak pernah sepi peminat. Pada 1941, Museum Batavia memperoleh ratusan benda dari emas yang diperoleh dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Saat itu angka tersebut terbilang sangat besar. “Dan di Jawa penemuan peninggalan kuno dari emas masih terjadi sampai sekarang, meskipun sering jatuh ke tangannya pedagang atau kolektor dan tidak masuk museum,” ungkap Tim Penulis Museum Nasional.
- Kengerian Pandemi Global dalam Lukisan
SEIRING pergantian hari, warga dunia yang terjangkit COVID-19 alias virus corona makin bertambah. Semakin bertambah pula korban jiwa akibat pandemi bak malaikat maut itu. Di Indonesia, persentasenya kini paling tinggi dari 176 negara. Per Kamis (19/3/2020), kasus positif COVID-19 dilaporkan sudah bertambah menjadi 309. Sementara case fatality rate (CFR)-nya sudah di atas 8 persen, tertinggi dari ratusan negara yang dilanda pandemi COVID-19 lantaran kini sudah 25 pasien yang meninggal. Pandemi COVID-19 tak pilih-pilih sasaran. Seperti di mancanegara, di Indonesia pandemi itu juga menjangkiti golongan elit maupun kaum melarat. Dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo, misalnya, COVID-19 menjangkiti Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Baca juga: Karnaval Rio yang disetop sebagai imbas pagebuk COVID-19 Masyarakat yang panik berusaha menyelamatkan diri dengan berbagai cara, tak peduli dengan cara egois bahkan culas. Selain banyak yang menimbun masker dan hand sanitizer , mereka juga memborong sejumlah komoditas herbal macam temulawak. Kondisi semacam itu sedikit-banyak serupa dengan gambaran The Triumph of Death, salah satu mahakarya pelukis Belanda Pieter Bruegel the Elder. Lukisan cat minyak di atas panel kayu berdimensi 117 cm x 162 cm yang dibuat sekitar tahun 1562 itu sejak 1827 bersemayam di ruang pamer Museo del Prado, Madrid, Spanyol. Maut Tak Pandang Bulu Bruegel –atau di beberapa sumber dituliskan Brueghel– pelukis beraliran petit genre dari era Flemish Renaissance itu melukis banyak adegan kengerian tentang kematian akibat Black Death (Maut Hitam) atau Black Plague (Wabah Hitam). Pandemi akibat bakteri Yersinia pestis penyebab pes itu bermula pada tahun 1346. Pandemi itu kembali melanda Eropa dan seluruh dunia berturut-turut di abad ke-15, 16, dan abad ke-17. Total 200 juta jiwa manusia melayang karenanya. Bruegel, diungkapkan sejarawan seni James Snyder dalam Northern Renaissance Art: Painting, Sculpture, the Graphic Arts from 1350 to 1575 , turut melewati dua gelombang pandemi Black Death yang menerjang Eropa pada periode 1563-1566 dan 1573-1588. Maka pandemi Black Death yang mengerikan itu terekam kuat di kepalanya, yang lalu dituangkannya ke atas kanvas. Kolase lukisan self-portrait Pieter Bruegel the Elder (Foto: albertina.at ) Dalam lukisan The Triumph of Death , Bruegel menggambarkan banyak detail bagaimana orang-orang menghadapi maut masing-masing dengan latar panorama bumi nan tandus. “Lautan dipenuhi bangkai-bangkai kapal berserakan. Dari tepi pantai terlihat bumi yang tandus dan hangus tanpa kehidupan apapun sejauh mata memandang,” tulis Snyder. Detail lainnya adalah barisan tengkorak yang hidup dan meneror setiap manusia yang ditemuinya berikut beragam adegan kematian mengerikan. Mulai dari pemenggalan kepala, pembakaran hidup-hidup, penenggelaman, hingga eksekusi dengan roda kereta kuda. Adegan-adegan itu merupakan aneka metode eksekusi mati manusia yang jamak di abad ke-16. Lalu, penggambaran manusia dari kelas bawah hingga bangsawan yang digiring sejumlah tengkorak hidup ke dalam sebuah peti raksasa. Peti itu ternyata merupakan perangkap kematian berhias salib di atasnya, seiring sejumlah tengkorak membunyikan lonceng kematian. Baca juga: Pandemi COVID-19 yang memaksa batalnya gelaran Carnevale Venezia Di bagian kiri bawah, Bruegel menggambarkan seorang raja yang juga tak berdaya. Pundi-pundi emasnya tak bisa menyelamatkannya dari maut. Sementara di kanan bawah, Bruegel menggambarkan kaum yang gemar hidup glamor yang berusaha melawan namun akhirnya gentar ketika berhadapan langsung dengan maut itu sendiri. Ia menggambarkan kaum yang senang hidup foya-foya, judi, dan main perempuan yang mulanya merasa tak takut mati, akhirnya tetap ditelan maut. Begitulah Bruegel mendeskripsikan keadaan manusia “kota” di Eropa yang tak berdaya membendung Black Death . “Lukisan Bruegel memperlihatkan adegan kepunahan massal, dengan maut dan barisan tengkorak membunuh apa yang ditemuinya, adegan yang merujuk wabah besar (Black Death, red. ) yang menewaskan berjuta-juta orang di Eropa. Wabah itu terus terjadi hingga abad ke-19,” tulis Paul Rockett dalam Pieter Bruegel the Elder. Inspirasi di Balik Karya Selain melihat sendiri dampak pandemi Black Death, inspirasi Bruegel membuat The Triumph of Death datang dari kisah di Alkitab dan perjalanannya ke Belgia hingga Italia dalam kurun 1551-1555. Penggunaan media panel kayunya terilhami lukisan bertajuk sama, The Triumph of Death, yang pelukisnya hingga kini belum diketahui. Lukisan di tembok itu dia lihat di Palazzo Sclafani di Palermo, Italia. “Juga tentang tema kematian dengan penggambaran tengkorak yang kemungkinan besar Bruegel terinspirasi lukisan Dance of Death di sebuah pemakaman di Paris yang sudah ada sejak 1424, dan kemudian dibuat ulang di atas panel kayu oleh penerbit Guyot Marchant pada 1485. Dalam lukisan itu juga digambarkan bagaimana sejumlah tengkorak hidup menggiring seorang manusia suci menghadapi maut,” lanjut Rockett. Baca juga: Kala Black Death Hampir Memusnahkan Eropa Fresco atau lukisan tembok "The Triumph of Death" di Palazzo Sclafani (Foto: Galleria Regionale della Sicilia) “Penggambaran itu, bahwa manusia baik ia bangsawan maupun rakyat jelata, berbagi penderitaan, merupakan pesan bahwa kematian bisa datang tanpa peringatan. Inspirasi itu kemungkinan besar terilhami dari karya-karya Hans Holbein the Younger (1497-1543) yang lazim membuat karya tentang manusia-manusia yang digiring malaikat kematian menghadapi maut,” lanjutnya. Inspirasi dari kisah di Alkitab dituangkan Bruegel dalam bentuk seseorang yang dipasung dengan batu di lehernya dan hendak ditenggelamkan oleh sejumlah tengkorak hidup. Kisah itu didalilkan dalam Matius 18:6 yang berbunyi: “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ditenggelamkan ke dalam laut.” Juga dalam Lukas 17:2 yang berbunyi: “Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, daripada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini.” Baca juga: Keris dalam Lukisan Rembrandt Terakhir, tentang simbol betapa lemahnya manusia, terlepas dari kesombongan semasa hidup. Bruegel menggambarkannya dalam satu adegan seorang wanita yang tergeletak di depan sebuah kereta kuda yang hendak melindasnya. Wanita itu memegang kayu gulungan benang dan sebuah gunting, interpretasi Atropos. Atropos atau Aisa dalam mitos Yunani adalah salah satu dari tiga serangkai Moirai, yakni dewi-dewi yang memegang takdir manusia. Menurut James Baldwin dalam The Story of Atalanta , Atropos digambarkan sebagai dewi yang memegang benang gulung dan gunting karena dari ketiga Moirai, Atroposlah yang berurusan dalam menentukan kematian seorang manusia dengan menggunting benangnya. Kolase penggambaran Dewi Atropos (Foto: greekmythology.com ) Riwayat lukisan itu, menukil laman resmi Museo del Prado , hingga tahun 1591 dimiliki diplomat Italia Vespasiano Gonzaga yang juga Adipati Sabbioneta, sebuah kota di kawasan Lombardia. Lukisa itu lalu berpindah tangan ke sesama bangsawan Isabella Gonzaga sebelum dimiliki Putri Anna Carraffa dari Stigliano pada 1644. Setelah berpindah tangan kembali pada 1644, lukisan itu menjadi koleksi Ramiro Núñez de Guzmán II, adipati Medina de las Torres. Pada 1746, lukisan itu masuk ke koleksi di Istana La Granja de San Ildefoso setelah dibeli Ratu Spanyol Isabel de Farnesio dan sejak 1827 lukisannya dipindah ke Museo del Prado hingga sekarang. Baca juga: Hikayat Lukisan Gatotkaca
- Sejarah Karantina untuk Cegah Penyakit Merajalela Masa Hindia Belanda
PRESIDEN Joko Widodo akhirnya mengeluarkan himbauan untuk mengkarantina diri guna mencegah penularan virus korona Minggu, 15 Maret 2020 lalu. Sekolah diliburkan, para pekerja diharapkan bekerja di rumah, dan masyarakat diminta untuk beribadah di rumah saja. Namun, tak semua perusahaan memberlakukan kebijakan Kerja Dari Rumah (KDR) atau Work From Home (WFH). Pun tak semua orang mampu mengkarantina diri. Pada Senin, 16 Maret 2020 di Jakarta, misalnya, masih banyak warga beraktivitas. Transportasi umum seperti Halte Trans Jakarta bahkan dipadati penumpang lantaran armada dikurangi sementara tidak semua lembaga memberlakukan WFH. Padahal, upaya mengkarantina diri dianggap cukup efektif untuk mencegah penyebaran Covid-19 yang sudah ditetapkan WHO sebagai pandemik. Beberapa negara yang sudah lebih dulu terjangkit virus korona pun telah menerapkan self-isolation seperti Tiongkok, Korea, dan Italia. Model pertahanan kesehatan dengan mengisolasi diri ini juga pernah jadi upaya pencegahan di masa lampau. Kala pes melanda Jawa pada 1911, pemerintah kolonial lewat Dienst der Pestbestijding (Dinas Pemberantasan Pes) mengeluarkan larangan menjenguk orang sakit. Warga juga diwajibkan untuk melapor kepada mantri pes jika ada anggota keluarga yang sakit atau meninggal. Desa yang terjangkit pes diisolasi dengan diberi dinding pembatas antar-desa. Barak isolasi juga dibangun tak jauh dari desa tersebut. Secara rutin, dokter dan mantri pes mengontrol tiap barak dan memantau kondisi desa terjangkit. Malang sebagai kota awal munculnya pes diisolasi. Seluruh penduduk pribumi dan Tionghoa yang tinggal di sepanjang Lawang hingga Pohgajih dikarantina selama 5-10 hari meski pada praktiknya ada yang dikarantina hingga 30 hari. Sementara, karantina tidak diberlakukan pada seluruh orang Eropa yang tinggal di wilayah tersebut. Orang Eropa cukup memeriksakan diri ke dokter yang akan memutuskan perlu tidaknya dikarantina. Namun kala wabah pes kian merebak hingga ke luar Malang, tindakan karantina hanya berlaku pada penderita pes dan keluarganya. Penduduk yang berjarak 100 meter dari rumah pasien terdampak tak lagi ikut dikarantina. Prosedur karantina yang dilakukan kala pes mewabah ini berpegang pada ordonansi karantina. Liesbeth Hesselink, peneliti sejarah kesehatan Hindia Belanda sekaligus penulis Healers on the Colonial Market, kala dihubungi Historia menjelaskan bahwa ordonansi karantina diterapkan beberapa kali dalam penanganan penyakit menular di negeri jajahan, seperti kusta, kolera, pes, dan influenza. Selain berpijak pada ordonansi karantina, kebijakan diambil berdasarkan aturan yang dimuat Staatsblad van Nederlandsch Indie nomor 277 tahun 1911 tentang pemberian wewenang kepada pejabat pemerintah untuk melakukan karantina pada daerah yang terkena wabah. Aturan ini menegaskan, orang-orang dilarang keluar-masuk daerah terjangkit dan akan mendapat sanksi pidana bila melanggar. Selain itu, kebijakan karantina diambil bertolak dari Perjanjian Sanitasi yang dirundingkan beberapa negara yang memiliki koloni di Asia. “Konferensi internasional diadakan untuk merumuskan solusi bersama, misalnya Perjanjian Sanitasi di Paris pada 1910. Pada dasarnya, semua kekuatan kolonial di Asia takut akan penyakit menular,” kata Liesbeth pada Historia. Ketakutan itu tak bisa lepas dari memori kolektif orang Eropa akan Black Death pada 1347-1348 yang memakan banyak korban. Kala Black Death mengancam, Eropa memberlakukan karantina bahkan melakukan apa yang kini disebut lockdown . Kala pes mewabah, Italia menerapkan sistem pertahanan kesehatan yang kompleks. Eugenia Tognotti, profesor sejarah kedokteran University of Sassari (Italia), dalam tulisannya yang dimuat Time “I’m a Historian of Epidemics and Quarantine. Now I’m Living That History on Lockdown in Italy”, menyebut pada dasarnya pertahanan kesehatan dari wabah terletak pada kebijakan karantina, sanitasi, disinfeksi, dan regulasi sosial untuk populasi yang paling berisiko. Ketika jumlah pasien membludak dan tenaga medis kewalahan menangani, inisiatif dari otoritas sipil memegang peranan penting dalam pertahanan kesehatan. Pada epidemi kolera tahun 1884, para pejabat lokal di Calabria memaksa menteri dalam negeri untuk melarang kereta dari luar daerah memasuki kota itu. Kala Flu Spanyol menjangkiti Italia pada 1918, sekolah, bioskop, teater, dan tempat pertemuan ditutup. Segala jenis pertemuan seperti pemakaman dan upacara keagamaan dilarang. Para pemuka agama pun diminta untuk mensterilkan jubah yang biasa mereka pakai untuk memimpin ibadah. Tognotti mendeskripsikan kota Italia pada musim gugur 1918 sebagai kota sepi, gelap, dan hanya toko farmasi yang buka. Mobilitas orang-orang pun dibatasi. Mereka yang ingin keluar atau masuk ke daerah yang berisiko harus menyertakan surat izin. Di Hindia Belanda, upaya pembatasan mobilisasi massa dilakukan pada kapal-kapal. Orang-orang diizinkan untuk menumpang kapal di Teluk Betung hanya jika bersedia dikarantina terlebih dahulu. “Karantina ini hanya mungkin bagi orang kaya, yang bisa membayar uang jaminan sebesar f 100 untuk orang Eropa atau f 25 untuk pribumi dan Tiongkok,” kata Liesbeth. Lebih jauh ia menambahkan, orang-orang miskin (kebanyakan dari mereka adalah kuli) dimasukkan ke dalam gudang tidak layak di tengah pasar. Gudang itu bahkan tak bisa melindungi mereka dari cuaca. Jemaah haji yang kembali dari Mekah juga mendapat perhatian khusus dari pemerintah kolonial. Sebelum diketahui bahwa pes berasal dari kutu tikus yang tak sengaja terangkut bersama impor beras Burma, rumor awal menyebut wabah itu berasal dari kapal-kapal haji. Pemerintah kolonial pesimis untuk mengendalikan semua kapal yang masuk lantaran jumlahnya amat banyak. Pemerintah juga tak bisa melarang orang Muslim pergi ke Mekah. Oleh karena itu untuk menyiasatinya, pada Mei 1911 pemerintah mengeluarkan ordonansi karantina khusus untuk orang-orang yang baru pulang haji. Semua jemaah, menurut ordonansi, harus tinggal selama 5-10 hari di karantina dekat pelabuhan. Layanan karantina di Pulau Onrust kemudian diperbesar untuk menyediakan tempat bagi 3000 orang dalam 40 barak. “Normalnya hanya pengawasan untuk diagnosis pes,” kata Liesbeth. Haji yang terdiagnosis menderita pes selanjutnya dikarantina di rumah. Kebijakan tersebut dikritik surat kabar De Preanger Bode . Karantina mandiri untuk penderita pes dianggap tidak aman untuk mencegah penyebaran karena penduduk Jawa cukup padat. De Preanger Bode juga menyarankan agar jamaah haji mendisinfeksi pakaian dan barang-barang yang dibawa selama berhaji sebelum kembali ke desa masing-masing. Pasalnya, pes berasal dari kutu tikus yang bisa jadi menyelinap dalam barang-barang para jemaah selama di kapal. Pendisinfeksian merupakan langkah preventif agar para jamaah tak membawa penyakit tersebut ke kampung halaman mereka. Bila kemudian ditemukan kasus pes di desa, warga wajib melaporkannya. Dalam tesisnya “Dukun dan Mantri Pes”, Martina Safitry menulis bahwa apabila terdapat penderita pes yang meninggal, tubuhnya tidak boleh dikubur melainkan harus segera dibakar. Keluarga penderita pes pun harus dikarantina untuk mencari kemungkinan penularan. Sebelum tahun 1915, rumah yang terkena pes akan dilakukan disinfeksi dengan menggunakan layar besar yang menutupi seluruh rumah. Upaya tersebut dinilai dokter L Otten yang mengembangkan vaksin pes di Institute Pasteur, Bandung, tidak efektif karena ketika asap dari fumigasi telah hilang, ada kemungkinan tikus akan kembali lagi ke rumah. Biaya yang dikeluarkan untuk mengasapi satu rumah pun relatif mahal, sekira f 20. Cara tersebut kemudian diganti dengan memprioritaskan perbaikan struktur dan bentuk rumah anti tikus. Dinding anyaman bambu diganti dengan bata, tiang bambu diganti dengan kayu agar tak ada lagi tempat untuk tikus membuat sarang. Seluruh upaya pemberantasan itu ditargetkan selesai pada 1917. Namun penyakit datang silih berganti. Setelah pes pada akhir 1918, Hindia Belanda diserang influenza. Hampir serupa dengan penanganan pes, orang-orang yang terjangkit influenza juga dikarantina. Kapal-kapal yang transit bahkan dilarang menurunkan penumpang atau melakukan kontak agar tak ada penyebaran penyakit dari laut ke daratan. Priyanto Wibowo dkk. dalam Yang Terlupakan Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda menyebut orang-orang yang berada di atas kapal sangat rentan terhadap penularan penyakit influenza mengingat penularan melalui angin laut selama perjalanan amat mudah terjadi. Orang-orang yang berasal dari negara yang telah terjangkit, sambungnya, juga dianggap berbahaya. Kondisi kesehatan yang buruk di kapal dan terbatasnya fasilitas kesehatan di sana menambah kewaspadaan terhadap kapal-kapal yang tiba. Dalam waktu tidak sampai setengah tahun, jumlah pasien influenza dapat ditekan dan tidak terdapat lonjakan tajam. Terbukti, usaha pencegahan dengan isolasi dan karantina berhasil menekan penyebaran penyakit. Banyak orang selamat, wabah pun berhasil dijinakkan. “Karantina sudah banyak diberlakukan. Orang harus tinggal di rumah dan hanya diperbolehkan meninggalkan rumah jika ada keperluan mendesak. Tetapi ada pula diskusi jika perlakuan ketat dengan menjatuhkan denda pada orang yang keluar rumah tanpa izin, seperti Italia dan Spanyol sebenarnya tidak perlu dilakukan,” kata Liesbeth.
- Dinho Oh Dinho...
DI saat orang di berbagai belahan dunia tengah direpotkan oleh pandemi COVID-19 (virus corona ),legenda hidup sepakbola Brasil Ronaldinhomasih bisa menimang-nimang bola dan mencetak gol demi gol.Memang itu bukan di lapangan sepakbola seperti biasanya, namun di dalam penjara. Sejak akhir pekan lalu hingga Senin, (16/3/2020), ia sudah mencetak 11 gol untuk sebuah tim di turnamen futsal di dalam penjara. Ya, Dinho (sapaan Ronaldinho) bersama kakaknya, Roberto de Assis Moreira, ditahan di penjara berkeamanan maksimal di Asunción, Paraguay sejak 6 Maret 2020.Penyebabnya, Dinho dan kakaknya mencoba masuk ke negeri berjuluk “Corazón de América” (jantungnya Amerika) itu menggunakan paspor dan identitas palsu. Mengutip The Guardian , Selasa (17/3/2020), Dinho ditahan di penjara itu dalam waktu yang belum ditentukan, sembari menunggu rampungnya penyelidikan. Kuasa hukum Dinho dan Roberto meminta penangguhan penahanan, namuntak dikabulkan Kepolisian Asunción. Keduanya membela diri bahwa paspor dan identitas palsu itu didapat dari pihak sponsor yang mengundangnya datang ke Paraguay. Pasalnya paspor Brasil dan Spanyol Dinho disita penegak hukum Brasil sejak Juli 2019 akibat mengemplang pajak. “Saya sedih mendengar apa yang terjadi kepada teman saya. Dia tak layak mengalaminya,” cetus eks-rekan setim Dinho di timnas Brasil, Rivaldo. Dinho (berkaus putih) bersama kakaknya, Roberto de Assis Moreira kala digiring petugas keamanan akibat 'ke-gep' masuk Paraguay pakai paspor palsu (Foto: Twitter @Mafipe) Namun Dinho tetaplah Dinho. Selain masih menyisakan magis di kakinya dalam turnamen di balik dinding penjara itu, bekas bintang Paris Saint-Germain (PSG), Barcelona, dan AC Milan itu masih jadi pribadi yang murah senyum di setiap saat. “Seperti biasa Anda melihatnya di televisi ketika tampil bermain bola, dia selalu tersenyum,” ungkap Nelson Cuevas, eks bintang timnas Paraguay yang menjenguknya. Siapa Tak Kenal Dinho? Para penikmat bola di manapun mengenal Dinho sebagaimana legenda-legenda penyerang Brasil lainmacam Pelé, Zico, hingga Ronaldo. Sejak merumputdi Eropa bersama tiga klub pada 2001 hingga satu dekade kemudian, Dinho berandil dalam tujuh trofi yang dimenangkan Barca, termasuk satu gelar Liga Champions musim 2005-2006. Sukses itu membuat namanya masuk ke timnas Brasil. Di timnas, Dinho punya andil besar membawa tim Samba merebut Copa América 1999 dan trofi Piala Dunia untuk kelima kalinya di Korea-Jepang tahun 2002. Pada 2011, ia mudik ke Brasil di sisa-sisa kariernya bersama Atlético Mineiro, Querétaro (2014), dan Fluminense (2015) sampai gantung sepatu. Seperti halnya banyak bintang sepakbola Brasil, Dinho bisa punya bab masa jaya di buku kariernya – dengan bergelimang prestasi pribadi, salah satunya trofi Ballon d’Or 2005 – bukan tanpa perjuangan. Ia meniti kariernya se j a k dini sebagai anak yatim . Rebecca Thatcher Murcia dalam biografi bertajuk Ronaldinho menguraikan, Dinho lahir pada 21 Maret 1980 di Porto Alegre, provinsi Rio Grande do Sul dengan nama Ronaldo de Assis Moreira. Ia anak ketiga dari pasutri João de Assis Moreira dan Dona Miguelina Elói Assis dos Santos. Dua kakaknya, Deisi (perempuan) dan Roberto (laki-laki). Roberto kelak menjadi manajer Dinho dan turut mendekam di balik jeruji besi di Paraguay. “Keluarganya hidup di lingkungan miskin di Porto Alegre. Ayahnya seorang buruh las di galangan kapal dan petugas jaga malam di markas klub Grêmio. Terkadang ayahnya juga bermain di klub amatir Esporte Clube Cruzeiro. Ibunya, selain membesarkan anak-anak, juga menyambi jadi sales kosmetik,” tulis Murcia. Dinho pertamakali dikenalkan sepakbola oleh ayahnya kala berusia lima tahun. Ia jatuh hati pada permainan si kulit bundar meski belum di lapangan hijau. Dinho kecil sudah gemar belajar juggling bola seraya main-main sepakbola pantai dan futsal. “Ayahnya dan kakaknya mengajarinya skill sepakbola di rumah. Dia akan bermain selama berjam-jam. Kadang dia belajar sendiri juggling bola di udara, tidak hanya dengan kakinya, tapi juga dengan lutut, kepala, dan dadanya. Dia juga belajar sendiri men- dribble bola cepat dan kemampuan mengontrol bola dari pesepakbola pro yang ia tonton lewat layar kaca,” sambungnya. Dua cuplikan Dinho cilik kala menimba ilmu di akademi muda Grêmio (Foto: Twitter @10Ronaldinho) Saat usia tujuh tahun, ia bergabung ke akademi muda Grêmio. Privilege itu bisa ia nikmati mengingat Robertomerupakan salah satu pemain utama di klub berjuluk Imortal Tricolor tersebut. Dengan kemampuannya yang di atas rata-rata anak sebayanya, Dinho sering dimainkan di tim anak-anak yang lebih tua. Sejak itu ia mulai dipanggil teman-teman setimnya dengan “Ronaldinho” yang artinya “Ronaldo kecil” karena ia menjadi pemain termuda di tim. Sementara, futsal dan sepakbola pantai masih gandrung dilakoninya beriringan dengan sepakbola lapangan hijau. “Banyak gerakan yang saya ciptakan sendiri datangnya dari futsal. Karena permainannya dilakukan di lapangan yang kecil dan kontrol bola sangat berbeda dalam futsal dan sepakbola. Kontrol bola saya selama ini sangat mirip dengan kontrol bola pemain futsal,” kataDinho, dikutip John A. Torres dalam Soccer Star Ronaldinho. Setahun kemudian,keluarga mereka pindah ke rumah yang lebih layak di tengah kota Porto Alegre. Rumah itu diberikan klub untuk kakaknya, Roberto. Namun duka seketika mengusik kebahagiaan keluarga yang menempati rumah baru itu. “Terjadi tragedi saat keluarganya tengah menyiapkan pesta ulangtahun Roberto yang ke-18 dan anniversary pernikahan orangtuanya yang ke-19. Ayahnya mengalami serangan jantung hingga terpeleset dan ambruk di tepi kolam renang. Ia tak sadarkan diri lantaran kepalanya terbentur lantai. Walau sudah berusaha diselamatkan dan dilarikan ke rumahsakit, nyawa ayahnya tak tertolong,” lanjutnya. Dinho harus menjadi anak yatimsaat usianya baru delapan tahun. Dukanya bertambahdengan cedera parahnya Roberto yang tak bisa disembuhkan sehingga harus tutup karier lebih dini. Dinho sempat mengurung diri di kamarnya beberapa waktu akibat kedukaan yang bertubi-tubi itu. Dinho akhirnya teringat banyak wejangan mendiang ayahnya tentang sepakbola. “Semakin hari sentuhan bola di kakinya semakin baik. Dia selalu teringat banyak pesan ayahnya, salah satunya: ‘biarkan segalanya bergulir simpel’. Ia pun mengamalkannya di lapangan,” tambah Torres. Puncak pencapaian Dinho di timnas kala memenangi Piala Dunia 2002 (Foto: Twitter @10Ronaldinho) Di pundaknyalah harapan masa depan keluarganya diusung. Dinho bangkit. Namanya mulai dikenal luas setelah jadi sorotan sejumlah media lokal. Gara-garanya, saat berusia 13 tahun Dinho bikin geger usai mencetak 23 gol dalam sebuah laga yang berakhir dengan skor 23-0. “Ada beberapa detail yang belum jelas tentang itu, apakah terjadi di sebuah laga sepakbola lapangan hijau atau futsal. Namun hal itu tak menjadi masalah karena banyak wartawan suratkabar dan televisi yang tertegun dan pemain belia itu menjadi selebritis instan,” lanjutnya. Ditolak Madrid, Dipinang Barca Sejak masuk tim utama Grêmio pada 1998, Dinho mulai menebar magisnya. Di final Campeonato Gaúcho Série A1 kontra tim sekota Internacional, Dinho kembali menjadi pemberitaan gegara mempermalukan Dunga, gelandang veteran cum kapten timnas Brasil saat menang Piala Dunia 1994 . Momen itu terjadi kala Dunga menempel ketat pergerakan Dinho.Si bintang muda melakukan trik bola lambung ke atas kepala Dunga agar ia lepas dari kawalan, lantas disusul dengan dribble bola cepat khasnya yang sudah dilakoninya sejak di tim muda Grêmio. “Saya bekerja dengan beberapa pemain hebat di masa saya melatih di periode paling menarik dalam karier mereka kala masih berusia 19-20 tahun. Namun dengan tak mengurangi rasa hormat pada yang lain, kemampuan Ronaldinho berada di atas mereka semua,” sanjung Celso Roth, pelatih Grêmio periode 1998-1999, dikutip Jethro Soutar dalam Ronaldinho: Football’s Flamboyant Maestro. Alhasil, sejak 1997 Dinho sudah masuk timnas Brasil U-17. Ia menjadi bagian tim Samba kala menggondol Piala Dunia U-17 pada 1997 yang digelar di Port Said, Mesir. Meski di Grêmio ia hanya memberi gelarCampeonato Gaucho pada 1999, nama Dinho masuk catatan sejumlah pemandu bakat klub-klub top Eropa. Pada 2001, ia memukau Arsenal yang menjadi klub pertama yang naksir pada permainannya.Sayangnya ia batal merumput bersama klub berjuluk The Gunners itu di Liga Inggriskarena tersandung izin kerja. Pun dengan pinangan klub Skotlandia, St. Mirren, dengan perkara yang sama. Merantau ke Eropa, PSG jadi klub pertama Dinho di Benua Biru (Foto: Twitter @nel17brian/@10Ronaldinho) Beruntung, Paris St. Germain berkenan mengurus izin kerjanya meski prosesnya rumit. Dinho akhirnya resmi berkostum PSG dengan nilai transfer 5 juta euro berdurasi lima tahun kontrak. Di musim perdananya, Dinho turut serta menyumbang gelar Piala Intertoto 2001. Namun, ia tak akur dengan pelatih PSG Luis Fernandez. Penyebabnya lantaran Dinho mulai tertular kehidupan malam, hingga beberapakali terlambat latihan. P ada jendela transfer 2003, nama Dinho sempat diincar dua raksasa Spanyol, Real Madrid dan Barcelona. Dinho yang karier nya sedang melangi t setelah setahun sebelumnya memenangi Piala Dunia 2002 , menjadi salah satu nama di bursa transfer yang paling santer dihubungkan dengan dua raksasa Spanyol itu. Sel a in Dinho ada David Beckham dan Thierry Henry. Henry kemudian berada di luar radar lantaran akhirnya memutuskan bertahan di Arsenal. Sementara Real Madrid lebih memilih Beckham lantaran kerupawanannya masuk dalam kriteria bos MadridFlorentino Perez, yang menginginkan skuad Galaticos-nya terdiri dari para pemain tampan. Dinho pun disingkirkan karena wajahnya tak setampan Beckham. Namun, dewi fortuna masih menaunginya. Bos baru Barca, Joan Laporta, kepincut performaDinho. Ia sampai rela merogoh kocekklub 30 juta euro sebagai mahar yang melampaui penawaran Manchester United. Keputusan Laporta tak salah. Ia jadi pembeda dan pengubah peruntungan Barca yang sebelumnya sedang mengalami masa-masa sulit. Berturut-turut, Dinho ikut menyumbang saham kala Barca juara La Liga musim 2004-2005, dan 2005-2006, serta Supercopa de España 2005 dan 2006. Tak ketinggalan satu trofi Liga Champions 2005-2006. Dengan Dinho dan Lionel Messi yang kala itu tengah naik daun, Barca kembali jadi rival yang diperhitungkan Madrid. Setiap kali El Clásico (duel Barca-Madrid) terjadi, tak terhingga momen seru dan sengit terjadi, baik kala beradu di Camp Nou maupun Estadio Santiago Bernabèu. Dinho kala "ngajarin" Real Madrid main bola dalam duel El Clasico dengan dua golnya pada 19 November 2005 (Foto: fcbarcelona.com ) Dalam laga 19 November 2005 di markas Madrid, Dinho bahkan menceploskan doblete alias dwigol ke gawang Iker Casillasuntuk menegaskan kemenangan 3-0. Aksi-aksi cantiknya kala menari-nari dengan bola sebelum mencetak dua golnyamemaksa fans Madrid di Santiago Bernabeu memberi standing ovation . Dinho tercatat jadi jugador Barca kedua setelah Diego Maradona yang menerima penghormatan itu pada 1983di tempat yang sama. “Saya takkan melupakan momen ini karena sangat jarang bagi pesepakbola menerima penghormatan itu dari fans lawan,” ujar Dinho, dinukil The Independent , 21 November 2005. Namun sejak 2008 kala pindah ke AC Milan, perlahan magis Dinho mulai pudar. Pun saat pulang kampung ke Brasil hingga pensiun pada 2015. Meski begitu, ia tetap legenda hidup yang takkan dilupakan Messi dkk. “Ronaldinho adalah pemain yang bertanggungjawab atas perubahan di Barca. Kala itu kami mengalami masa yang buruk dan perubahan itu datang seiring kedatangannya dan itu hal yang luar biasa,” kenang Messi di laman resmi klub, fcbarcelona.com , 13 Oktober 2016.





















