Hasil pencarian
9807 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Judi Resmi di Indonesia
SELAMA bulan ramadhan kemarin, polisi rutin menggelar razia hiburan malam. Selain merazia minuman keras, praktek perjudian juga menjadi target utama. Operasi tersebut buka hanya dilakukan di daerah, ibu kota pun tak luput dari operasi razia tersebut. Sejatinya, pemerintah Republik Indonesia secara resmi mengeluarkan larangan bermain judi sejak tahun 1970-an. Melalui Undang-Undang No.7 tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian, segala praktek perjudian di Indonesia dihapus karena hal itu bertentangan dengan agama, dan moral Pancasila. Namun sebelum undang-undang itu dibuat, perjudian di Indonesia merupakan sesuatu yang legal. Bahkan pemerintah menjadi fasilitator jenis perjudian lain yang disebut “undian berhadiah”. Para penggila judi pun turut senang dibuatnya. “Dengan demikian yang nampak sekarang ini memang adanya pergesaran nilai di masyarakat. Segala macam bentuk perjudian dilarang, tapi pada saat yang sama dilegalisir” tulis M. Syafi’I Anwar dalam “Dana Pelajar pun Menjamin Porkas”, termuat dalam Panji Masyarakat No.507, 21 Juni 1986. Keputusan Pemerintah Tahun 1960-an di Indonesia berkembang jenis undian berhadiah legal yang dikeluarkan oleh Yayasan Rehabilitasi Sosial. Yayasan ini dibentuk oleh pemerintah untuk urusan-urusan sosial. Karena keperluan dananya begitu besar, dipilihlah undian berhadiah sebagai salah satu cara untuk menutupinya. Pengundian hadiah Yayasan Rehabilitasi Sosial dilakukan setiap satu bulan sekali. Nilainya pun cukup fantastis –untuk ukuran tahun 1960-an– mencapai 500.000 rupiah. Sementara nilai terendahnya berkisar antara 10.000-20.000 rupiah. Tidak hanya undian hadiah milik pemerintah, masyarakat pun dihibur oleh jenis perjudian lain yang tidak berizin. Namanya ”Lotere Buntut”. Cara memainkannya hanya dengan menebak dua angka terakhir undian berhadiah yang dikeluarkan Yayasan Rehabilitasi Sosial. Lotere Buntut ini bertebaran hingga ke pelosok-pelosok. Sasarannya adalah petani, buruh, dan pedagang-pedagang kecil. Tanpa memerlukan peraturan yang sulit, para pecandu permainan ini dapat langsung memasangkan taruhannya. Besaran hadiah yang didapat pun cukup menggiurkan, berkisar antara 60.000-80.000 rupiah. Di ibu kota, gubernur Ali Sadikin membuat gempar. Ia melegalkan permainan judi yang dikenal sebagai Nalo (Nasional Lotre) berdasarkan Undang-Undang No.11 Tahun 1957 tentang tanggung jawab pemerintah terhadap daerahnya sendiri. Namun di balik pro kontra yang menyeret Ali Sadikin, permainan judi itu terbukti mampu membangun Jakarta menjadi lebih baik. Banyak infrastruktur yang dibangun dan pemerintah juga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat kala itu. Minat masyarakat terhadap undian hadiah dan perjudian sangat tinggi. Hal itu tentu menguntungkan pemerintah dan para pihak terkait. Namun bagi Presiden Sukarno permainan semacam itu justru dinilai sebagai perusak moral bangsa. “Kegiatan ini (perjudian) sempat berhenti di tahun 1965 ketika Presiden Sukarno mengeluarkan Keppres No.113 Tahun 1965 yang menyatakan lotre buntut bersama musik ngak-ngik-ngok merusak moral bangsa dan masuk dalam kategori subversi.” tulis Denny J.A dalam Menegakkan Demokrasi: Pandangan Sejumlah Tokoh dan Kaum Muda mengenai Demokrasi di Indonesia . Dengan dikeluarkannya keputusan presiden itu, ditambah buruknya sistem yang dibuat pihak pengelola, undian hadiah Yayasan Rehabilitasi Sosial pun ditutup. Namun tidak benar-benar dihilangkan. Hanya berganti nama, pada 1978, menjadi Badan Usaha Undian Harapan dengan programnnya Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB). Dalam laporan Tempo “Wajah Lotre Silih Berganti”, 20 November 1993, SSB mengeluarkan kupon undian berhadiah yang diberi nama Tanda Sumbangan Sosial Berhadiah (TSSB) atau Kupon Sumbangan Sosial Berhadiah (KSSB). “Kebijakan baru pemerintah ditengarai sebagai ajakan judi terselubung dengan mengganti namanya” tulis Wahyu Lumaksono dalam Legalisasi Porkas dan Dampaknya terhadap Masyarakat pada Tahun 1985-1987 . Pada 1979 undian hadiah SSB diberlakukan. Sebanyak 4 juta kupon disebar, diundi setiap dua minggu sekali. Pengelolaannya diserahkan kepada Yayasan Dana Bhakti Kesejahteraan Sosial (YDBKS) yang berpusat di Jakarta. Laporan Kedaulatan Rakyat 27 Maret 1986, menyebut undian SSB setiap tahunnya memperoleh omzet kurang lebih 1 triliun rupiah. Hingga tahun 1985 sebanyak 2,5 miliar uang hasil undian, dari 4 juta lembar kupon yang terjual, disebar untuk keperluan sosial dan kemanusiaan. Judi Olahraga Bersamaan dengan penyebaran undian hadiah SDSB, pemerintah mengeluarkan jenis judi legal lain yakni Porkas . Akronim dari Pekan Olah Raga dan Ketangkasan. Undian berhadiah ini berada di ranah olahraga, dan sepak bola menjadi lahan basah untuk praktek perjudian ini. Sebelum direalisasikan, Presiden Soeharto mengirim Menteri Sosial Mintaredja untuk melakukan studi banding ke Inggris. Tidak main-main, pemerintah mempelajari sistem undian berhadiah ini selama dua tahun. Mereka ingin menciptakan model undian tanpa meninmbulkan ekses judi. Di Inggris sendiri jenis undian berhadiah menggunakan perhitungan-perhitugan yang sistematik. Dalam Managing National Lottery Distribution Fund Balances , yang dikeluarkan oleh lembaga resmi Inggris, menjelaskan perhitungan lotere di negara itu bukan semata-mata tebakan saja, tetapi semacam permainan berhitung yang rumit. Pemerintah Indonesia mencoba melakukan hal yang sama. Setelah melalui serangkaian penelitian, porkas akhirnya diresmikan pada 1985. Aturannya mengacu pada UU No. 2 Tahun 1954 tentang undian. Kemudian diperkuat dengan Surat Keputusan Menteri Sosial No. BSS-10-12/85 bertanggal 10 Desember 1985. Pemerintah mengklaim porkas berbeda dengan undian hadiah berbau judi sebelumnya. Dalam porkas tidak ada tebakan angka, melainkan penebakan menang-seri-kalah. Peredarannya pun hanya sampai tingkat kabupaten, dan batasan usianya 17 tahun. Para pembeli kupon hadiah ini akan bertaruh untuk 14 klub sepak bola di divisi utama. Setelah 14 klub melakukan pertandingan –berjalan selama seminggu– hadiah akan diundi. Pembagian hadiahnya: 50-30-20, berurutan penyelenggara tebakan-pemerintah-penebak. Banyak Ditentang Sejak awal diresmikan, porkas mendapat banyak tentangan dari masyarakat. Walau tidak sedikit yang mendukung program judi legal pemerintah tersebut. Para penentang menyebut pemerintah hanya membuat kedok untuk bermain judi. Sedangkan mereka yang mendukung menganggap program itu dapat membantu permasalahan keuangan negara. “Sebagai tindakan reaksi pihak yang menentang undian tersebut, maka pertengahan 1986 Majelis Ulama Indonesia (MUI) menulis surat yang dilayangkan kepada pemerintah agar pelaksanaan porkas dievaluasi kembali” tulis Wahyu. Semakin besarnya gelombang protes dari masyarakat membuat pemerintah akhirnya mengganti porkas menjadi Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah (KSOB). Dalam Tempo 28 November 1987, “Menebak-nebak Izin Porkas”, pemerintah memberikan hadiah utama sebesar 8 juta rupiah, dengan harga kupon 600 rupiah perlembar. Kali ini bukan menang-seri-kalah yang dipertaruhkan, tetapi skor pertandingan. Sepanjang tahun 1987, undian KSOB telah meraup dana dari masyarakat sebanyak 221 miliar rupiah. Tidak adanya ketegasan dari MUI untuk mengeluarkan fatwa tentang porkas membuat masyarakat sedikit cemas. Oleh karenanya, sekitar pertengahan Februari 1986 di Bandung berlangsung acara "Forum Silaturahmi Ulama dan Cendekiawan Muslim Jawa Barat". Salah satu agendanya membahas permasalahan porkas. Laporan Panji Masyarakat menyebut forum yang dihadiri oleh para ulama, ahli hukum, dan cendekiawan Muslim tersebut sepakat mengharamkan porkas dan mengategorikannya sebagai judi. "Forum juga berpendapat, Porkas Sepakbola dalam praktek merusak kehidupan beragama. Khususnya bagi remaja dan pelajar yang disebabkan oleh adanya kontroversi nilai antara yang mereka pelajari di sekolah dan di rumah dengan ditemukan di masyarakat." tulis Syafi'i. Pernyataan menentang porkas dalam forum itu dituangkan dalam 5 halaman kertas folio, dan ditandatangani oleh 100 ulama dan cendekiawan Muslim Jawa Barat. Di antara mereka yang memberikan tanda tangan terdapat nama-nama seperti KH. Drs. Miftah Farid (ketua MU Jawa Barat), KH. M. Rusyad Nurdin (ketua Dewan Dakwah Jawa Barat), KH. Iping Z. Abidin, Ir. Bambang Pranggono (mantan Sekjen BKPMI), dan lain sebagainya. Tidak hanya dari kalangan ulama dan cendekiawan, para mahasiswa pun semakin gencar melakukan aksi pertentangan. Bermula dari aksi protes mahasiswa UII (Universitas Islam Indonesia) Yogyakarta pada 1991 yang mendesak pihak universitas mengembalikan uang sebesar 100 juta rupiah yang diberikan YDBKS untuk pembangunan sarana pendidikan di kampus mereka. Gelombang protes memuncak saat beberapa kios yang menjual kupon SDSB di Jakarta dibakar. Mereka geram dengan pemerintah yang lambat mengambil keputusan untuk menarik seluruh kegiatan undian berhadiah tersebut. Peredaran kupon baru benar-benar dapat dihentikan pada 24 November 1993. Para agen perjudian itu tidak lagi mengedarkan kupon SDSB maupun KSOB. Di hadapan anggota DPR, Meteri Sosial Endang Kusuma Inten Soewono mengumumkan penghapusan undian berhadiah.
- Perang Banten-Cirebon di Akhir Ramadan
Banten dan Mataram, sama-sama kerajaan Islam, namun bermusuhan. Banten menolak tunduk kepada Mataram. Untuk mendesak Banten, Mataram menggunakan kaki tangannya: Cirebon. Cirebon pun sampai berperang dengan Banten. Dua utusan dari Cirebon, Jiwasraya dan Nalawangsa, datang ke Banten. Mereka gagal membujuk Sultan Banten untuk mengakui kekuasaan Mataram. Utusan berikutnya adalah seorang sentana (keluarga raja), yaitu Pangeran Martasari, dan putranya, berserta Tumenggung Wiratantaha. Martasari dijamu dengan meriah oleh Pangeran Adipati, putra Sultan Abulmaali. Namun, dia gagal membujuk Sultan Banten, Abdul Mafakhir Mahmud Abdulkadir (1596-1651), untuk pergi bersamanyamenghadap Sultan Mataram. “Sultan Banten tidak mau mengakui raja mana di atasnya selain Sultan Mekah, yang sering mengirimkan surat kepadanya berisi pelajaran-pelajaran yang berhikmah,” tulis H.J. de Graaf dalam Disintegrasi Mataram di Bawah Mangkurat I. Kegagalan Martasari membuat marah Patih Mataram, Tumenggung Singaranu. “Singaranu marah dan menuntut bukti kesetiaan Martasari kepada Cirebon. Dia diperintahkan untuk menyerang Banten,” tulis Titik Pudjiastuti dalam Perang, Dagang, Persahabatan: Surat-Surat Sultan Banten . Martasari didampingi Ngabei Panjangjiwa memimpin armada berkekuatan 60 kapal berlayar menuju Banten. Untuk meladeni pasukan Cirebon, Banten menyiapkan 50 kapal di bawah pimpinan Lurah Astrasusila, Demang Narapaksa, dan Demang Wirapaksa. Sultan Banten menjanjikan hadiah dua ribu rial dan sehelai kampuh (kain kebesaran) apabila memenangkan peperangan. Setiba di pelabuhan Tanara, Astrasusila menunggu sambil bersembunyi di Tanjung Gede. Narapaksa dan Wirapaksa bersembunyi di Muara Pasiliyan. Pada pagi hari, sebagian pasukan Cirebon di bawah Panjangjiwa memasuki pelabuhan Tanara. Mereka disergap dan Panjangjiwa menyerah kepada Wirapaksa. Dia dikirim kepada Sultan Banten yang mengampuninya. Ketika orang Cirebon lainnya tiba, mereka melihat senjata terapung. Mereka tak tahu kalau Panjangjiwa tanpa perlawanan sedikit pun telah menyerah. Mereka diserang tiba-tiba oleh Astrasusila dan dua orang demang. Hanya satu kapal yang selamat di bawah Martasari. Lima puluh kapal dirampas. Para awak kapal tidak melawan, dibelenggu, dan diturunkan di padang Sumur Angsana. “Di sana mereka dibunuh, sekalipun mereka minta ampun. Kepala mereka dikirim ke Surosowan,” tulis De Graaf. Keraton Surosowan merupakan tempat tinggal Sultan Banten yang dibangun antara tahun 1552 sampai 1570. Menurut Titik, Sultan Banten marah karena kelakuan prajuritnya yang kejam pada prajurit Cirebon. “Peristiwa penyerbuan Cirebon ke Banten ini disebut Pacirebon (Pacaebonan) atau Pagarage,” tulis Titik. Perang Banten-Cirebon itu terjadi pada hari ke-30 bulan Ramadan. Pada hari Lebaran para prajurit kembali ke Banten. “Bulan Ramadan tanggal 30 itu jatuh pada tanggal 22 Desember 1650. Hari Lebaran jatuh pada hari berikutnya,” tulis De Graaf.
- Pemboman Udara Pertama Indonesia
TIGA puluh menit beranjak dari pukul 02 dini hari tanggal 29 Juli 1947. Di atas pembaringannya yang hanya lima kursi kelas dijajar, pemuda Sutarjo Sigit gelisah. Mata kadet (pelajar penerbang) di Sekolah Penerbangan Maguwo itu tak kunjung bisa terpejam. Parasut yang dijadikan bantal olehnya juga tak membantunya bisa cepat tidur. Tugas berat yang bakal diembannya terus memenuhi kepala Sutarjo. Bukan hanya pertama buat dirinya dan beberapa rekan kadet lain, tugas berupa operasi pemboman udara Semarang dan Salatiga itu juga akan menjadi yang pertama buat Indonesia. Tugas itu muncul sehubungan dengan dilanggarnya kesepakatan dalam Perjanjian Linggarjati oleh Belanda. Pesawat-pesawat Belanda terus membombardir sasaran-sasaran strategis milik republik. Selain menimbulkan korban jiwa, serangan-serangan itu membuat Indonesia kehilangan banyak lapangan udara (lanud) berikut pesawat-pesawat yang dimilikinya. Sutarjo dan Mulyono menyaksikan langsung ketika hendak ke lanud pada 21 Juli 1947. “Waktu tiba di Pangkalan Udara, mereka masih menyaksikan enam buah pesawat yang sedang terbakar, yang terdiri dari Cukiu, Nishikoreng, dan beberapa Cureng, yang sebagian besar tinggal kerangka dan abu belaka,” tulis Irna HN Soewito dkk. dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950 . Bambang Saptoaji, Mulyono, Suharnoko Harbani, Sutarjo, dan beberapa kadet udara lain bertekad untuk membalas dendam dengan melancarkan serangan udara ke daerah pendudukan Belanda. Kendati sempat ditolak tiga pimpinan teras AURI, kegigihan mereka memperjuangkan ide membuahkan hasil. KSAU Komodor Suryadarma dan deputinya bidang operasi, Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma, merestuinya kendati tidak memerintahkan operasi sukarela itu. “Kalau ditinjau dari segi militer, apa yang akan saudara-saudara lakukan tidaklah besar artinya. Namun, bila ditinjau dari semangat perjuangan bangsa secara keseluruhan, apa yang akan kalian lakukan ini adalah untuk menggugah semangat perjuangan bangsa Indonesia,” kata KSAU Komodor Suryadarma kepada para kadet sebagaimana dikutip Adityawarman Suryadarma dalam Bapak Angkatan Udara Suryadi Suryadarma . Halim lalu menetapkan Hari-H operasi tanggal 29 Juli pukul 05.00 dengan sasaran Salatiga dan Semarang. Mulyono, ditemani penembak udara Dulrachman, diplot menyerang Semarang dengan pengawalan Bambang Saptoaji yang menerbangkan Hayabusha. Sutarjo ditetapkan sebagai flight leader dan ditugaskan menyerang Salatiga bersama penembaknya yang juga bernama Sutarjo. Keduanya juga didampingi Suharnoko sebagai wingman dan Kaput sebagai penembak. Mereka bakal menggunakan empat pesawat yang tersisa: dive - bomber Guntai, fight - trainer Hayabusha, dan dua basic trainer Cureng. Semua pesawat peninggalan Jepang. Usai menerima penjelasan teknis dari Halim, mereka kembali ke asrama Wonocatur untuk istirahat. Sutarjo tak bisa cepat tidur sampai dini hari tanggal 29 Juli karena gelisah. Dia tiba-tiba teringat tanggal 28 Juli 1947 usianya genap 20 tahun. Pikirannya terus berjalan, masih adakah tanggal 28 Juli untuknya di kemudian hari. Pukul 03.30, para kadet dibangunkan dari tidur. Mereka lalu diangkut ke lanud menggunakan sedan tua. Nahas, mobil itu mogok di tengah perjalanan. Alhasil, para kadet melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Para teknisi masih sibuk mempersiapkan pesawat ketika mereka tiba di Maguwo. Sutarjo kembali sial, pesawat yang akan diterbangkannya tak bisa dipasang senapan mesin. Alhasil, Sutarjo harus pasrah terbang tanpa alat perlindungan diri. Namun, kesialan lebih diterima Bambang. Sistem sinkronisasi antara tembakan senapan mesin dengan putaran baling-baling pesawat Hayabusha-nya tak dapat diperbaiki. Alhasil, dia gagal terbang. Bambang sampai membujuk rekan-rekannya agar mau digantikan, tapi usaha itu tak berbuah. Setelah menerima briefing singkat Suryadarma dan Halim, para kadet mengudara tepat pukul 05.00 dengan bantuan lampu mobil yang diparkir di pinggir runway sebagai taxi way lights dan sorotan lampu sebuah pesawat yang diparkir di ujung runway . Bambang hanya bisa menatap dari darat. Para kadet tanpa pengalaman terbang itu, terlebih terbang di waktu gelap, mengalami kesulitan begitu mengudara. Terlebih, Sutarjo. Matanya hampir buta karena terpapar cahaya berlebih dari lampu pesawat di ujung landasan. Sampai berapa waktu, pesawatnya terpisah dari rombongan. Di atas sebuah danau luas, Suharnoko memantapkan hati bahwa telah mencapai Ambarawa. Bom pun dilepaskan dari sayap pesawatnya ke beberapa tangsi Belanda. Selesai melakukan pengeboman, Suharnoko mengarahkan pesawatnya ke Salatiga untuk bergabung dengan Sutarjo. Sutarjo “asyik” sendiri di atas Salatiga karena terpisah dari rombongan. Begitu pesawatnya mendekati sebuah markas militer Belanda, dia langsung menarik tuas merah di kokpit. Bom dari sayap kiri pesawatnya pun memporak-porandakan markas Belanda itu. Dia langsung bersiap-siap untuk pemboman kedua. Namun sial, tuas pelepas bom patah sehingga pomboman keduanya gagal. Dia tinggal berharap pada tuas ketiga, berwarna kuning, untuk melancarkan serangannya. “Setelah menukik dan mengarahkan pesawat ke arah sasaran, handle kuning tersebut ditarik, tetapi apa yang terjadi? Handle ini pun patah dan bom masih tetap menggantung di bawah sayap kanan. Dengan rasa dongkol dan kecewa pesawat dinaikan kembali,” tulis Irna. Sutarjo terus mencari cara untuk menjatuhkan sisa bom di pesawatnya karena mendaratkan pesawat dengan bom di sayap sangat berbahaya. Dia akhirnya menemukan jawabannya, yakni menarik kawat penghubung antara bomb - rack dengan tuas. Masalahnya, bagaimana mengendalikan pesawat bila dia mesti menunduk untuk menarik kawat-kawat itu? “Sutarjo kemudian memutuskan untuk terbang straight and level (langsung mendatar) menuju sasaran. Sambil merundukkan badan, ia raih ketiga kawat baja tersebut dengan tangan kiri dan menariknya kuat-kuat. Seketika itu juga keseimbangan pesawatnya kembali normal, tanda bahwa bom telah lepas.” Di Semarang, bom-bom dari pesawat Guntai Mulyono membuat panik militer Belanda. Beberapa penerbang Belanda langsung berlarian menuju pesawat-pesawat mereka di Lanud Kaibanteng. Mereka gagal mengejar lantaran pesawat-pesawat itu belum dipanaskan. Para kadet AURI langsung kembali ke Maguwo setelah menyelesaikan misi masing-masing. Mereka terbang rendah melewati rute berbeda dari yang mereka tempuh ketika berangkat. Suharnoko tiba paling akhir. Pesawat-pesawat yang mereka gunakan langsung disembunyikan dengan ditutupi dedaunan di bawah pepohonan di luar lanud guna menghindari bombardir balasan dari pesawat-pesawat Belanda yang datang sejam kemudian. “Para kadet penerbang Indonesia yang hanya dengan penggemblengan darurat secara kilat di Sekolah Penerbang, telah berhasil melancarkan operasi udara yang pertamakali dalam sejarah perjuangan TNI Angkatan Udara,” tulis Irna.
- Akibat Surplus Jenderal
MASIH ingat Nagabonar? Tukang copet asal Medan di era revolusi yang mengangkat dirinya menjadi jenderal. Rupanya kisah konyol itu bukan rekaan penulis Asrul Sani semata, namun memang fenomena yang kerap terjadi dalam Perang Kemerdekaan di Indonesia (1945-1949). Menurut Salim Said, begitu banalnya organisasi kemiliteran zaman tersebut, hingga siapa pun yang merasa kuat dan memiliki anak buah merasa berhak mengangkat dirinya menjadi jenderal. “Dalam revolusi kita, ada cerita seorang jagoan yang berhasil merampas jip tentara Belanda langsung mengangkat dirinya sendiri menjadi jenderal,”ujar sejarawan militer Indonesia itu. Memang tak ada yang tak mungkin dalam suasana revolusi. Ketika menjadi kaum pemanggul senjata dianggap sebagai puncak dari pengabdian terhadap nusa dan bangsa, maka para pentolan grup-grup pemuda berlomba untuk mengangkat dirinya sendiri sebagai “yang terhebat”, termasuk dalam soal kepangkatan. “Sesudah proklamasi, negara yang tak bermatapencaharian (kecuali dengan terus mencetak uang), memelihara lebih dari setengah juta tentara dan lasykar serta 60 jenderal,”ungkap A.H. Nasution dalam TNI: Tentara Nasional Indonesia Jilid 1 . Di Kementerian Pertahanan dan Markas Besar Tentara di Yogyakarta saja ditempatkan sekitar selusin jenderal ditambah setengah lusin jenderal politik dari Pepolit (Pendidikan Politik Tentara, bentukan Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin) seperti Jenderal Mayor Sukono Dojopratiknjo, Jenderal Mayor Wiyono, Jenderal Mayor Anwar Tjokroaminito serta jenderal-jenderal Angkatan Laut dan Angkatan Udara seperti Laksamana Nazir, Laksamana Atmadji, Laksamana Pardi, Komodor Suryadarma dan Komodor Zulkarnaen. Surplusnya militer Indonesia kala itu dengan para jenderal menyebabkan banyaknya dari petinggi-petinggi tentara itu yang tak memiliki pekerjaan secara professional. Karena itu sebagai upaya untuk menjadikan mereka “sibuk” maka sebagain besar para jenderal tersebut dikaryakan ke dalam “tugas-tugas istimewa” seperti mengurus beras, mengurus kina, menangani opium, mengurus tawanan perang, mengurus kereta api dan mengurus istana negara. Di tingkat bawah, surplus jenderal itu juga menumbuhkan kebingungan dan justru rasa tidak hormat. Terjadi gap antara atasan dan bawahan. Para komandan dari kesatuan-kesatuan kecil yang langsung berhadapan dengan musuh di garis depan menjadi kecewa dan kesal dengan situasi tersebut. Terlebih para jenderal itu bisa dengan seenaknya mengangkat pangkat seseorang yang dia sukai. A.H, Nasution membuat suatu contoh kasus ketika seorang sersan mayor menyumbangkan beberapa ban mobil (yang sangat sukar didapat kala itu) kepada seorang jenderal. Karena merasa suka, sang jenderal lalu menaikan pangkat si sersan mayor menjadi mayor. Suatu loncatan kenaikan pangkat yang mungkin tak akan pernah terjadi lagi di zaman sekarang. “Orang-orang yang kemarin sore dikenal sebagai anggota tentara yang memiliki tugas “kurang berarti”, sekonyong-konyong muncul di Yogyakarta selaku letnan kolonel atau kolonel,” ujar Nasution. Dengan kondisi seperti itu adalah wajar kalau para prajurit di bawah tidak lagi memiliki rasa hormat dan kepercayaan kepada “para pemilik bintang gemeralapan” itu. Jika berpapasan di jalan, alih-alih memberikan salut secara militer, para prajurit lebih memilih untuk pura-pura tidak melihat atau melengos begitu saja. “Karena kami tahu mereka tidak berjuang seperti kami yang mempertaruhkan nyawa di front pertempuran,” ujar Soedarja (95), salah seorang eks prajurit dari seksi intelijejen Divisi Siliwangi. Kebiasaan “berlomba-lomba tampil sebagai jenderal” di dinas ketentaraan resmi, ternyata diikuti pula oleh rekan-rekan mereka di kelasykaran. Bahkan obral pangkat dibuat lebih murah lagi oleh mereka. Seorang jago atau jawara yang memimpin puluhan orang dalam satu badan lasykar, maka dengan semena-mena akan menyatakan diri sebagai “komandan resimen A” atau “komandan divisi B”. Di kalangan lasykar proses pengangkatan perwira dan jenderal malah cenderung lebih “kacau” lagi. Ya laiknya dalam film Nagabonar. Tidaklah aneh, kata Nasution, jika saat itu ada ejekan yang beredar di kalangan masyarakat: “Sudah dipastikan kita akan menang melawan Belanda, karena jumlah jenderal kita jauh sepuluh kali lipat banyaknya dari jumlah jenderal mereka.”
- Yang Keliru Tentang Masa Lalu
JIKA ke Bandung via Cianjur, anda akan melewati sebuah tugu yang unik di sekitar Pasar Ciranjang (kira-kira 15 km dari pusat kota). Tugu yang terletak di depan deretan rumah toko itu merupakan replika pesawat (disebutkan di tugu tersebut) jenis Boeing 747 berwarna hijau militer dengan simbol KLM (maskapai penerbangan Belanda) lengkap dengan lambang bendera Si Tiga Warna. Monumen apakah itu gerangan? “Katanya itu untuk memperingati jatuhnya pesawat Belanda yang ditembak tentara Indonesia saat zaman perjuangan dulu,” ujar Oni (36), salah seorang warga Ciranjang. Apa yang dikatakan Oni sejatinya jauh dari kebenaran sejarah. Menurut Raden Makmur (90), selama revolusi berlangsung di Indonesia (1945-1949) tak pernah ada satu pun pesawat milik Kerajaan Belanda (terlebih milik penerbangan sipil seperti KLM) yang jatuh di Ciranjang. “Kita mau nembaknya pakai apa? Pake bedil biasa? Ya tidak mungkin,” ujar lelaki yang pernah bergabung dengan lasykar BBRI (Barisan Banteng Repoeblik Indonesia) itu. Menurut Makmur, kisah pesawat terbang jatuh di Ciranjang memang pernah ada. Tapi bukan milik Belanda, melainkan milik RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris). Ceritanya beberapa bulan setelah proklamasi, Ciranjang diserang oleh sebuah pesawat pemburu jenis Mustang (atau bisa jadi jenis Mosquito). Selain membom beberapa posisi yang dianggap sarang “ekstrimis” Indonesia, pesawat tersebut juga menembaki mobil-mobil sipil yang tengah melaju di jalan raya. “Termasuk katanya sempat menembaki sedan yang ditumpangi oleh Pak Nata Mihardja, Kepala Polisi Ciranjang, namun tidak sempat kena,” ungkap Makmur. Namun saat bermanuver di sekitar wilayah Curug, karena terbang terlalu rendah, salah satu sayap pesawat itu membentur sebatang pohon kelapa hingga oleng dan jatuh di tengah pasar. Maka hancur leburlah pesawat legendaris pada Perang Dunia II itu. Pendapat Makmur berkelindan dengan sebuah dokumen berjudul “Beberapa Catatan Tentang Sejarah Perjuangan Rakyat Cianjur dalam Mempertahankan Kemerdekaan NKRI (1942-1949)” yang disusun oleh DHC (Dewan Harian Cabang) Angkatan 45 Kabupaten Cianjur. Dalam dokumen setebal 137 halaman itu, salah seorang veteran bernama Abu Bakar (terakhir berpangkat kolonel) bersaksi bahwa pesawat pemburu itu memang milik RAF yang tengah melancarkan aksinya pada 3 Desember 1945 jam 11.00. Abu Bakar juga membenarkan Mustang itu jatuh karena salah satu sayapnya mengenai batang pohon kelapa yang banyak tumbuh di wilayah Curug. Dalam situasi hilang keseimbangan, pesawat tersebut meluncur tak terkendali dan jatuh di sekitar halaman gedung Kewedanaan Ciranjang persis dekat pasar. “Seorang tukang cukur rambut dan seorang serdadu Jepang tewas seketika tertimpa pesawat yang jatuh itu,” ujar salah satu tokoh terkemuka LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia) Kabupaten Cianjur tersebut Namun berbeda dengan versi Makmur yang menyatakan pesawat itu langsung hancur lebur saat jatuh, Abu Bakar menyatakan pesawat itu masih agak utuh ketika mendarat secara keras. Bahkan sekelompok anggota TKR (Tentara Keamanan Rakjat) dari Kompi III Batalyon III sempat mengepung bangkai pesawat tersebut dan menembaki dua penumpangnya lalu merampas senapan mesin 12,7 dan sebuah pistol buatan Jerman. “Pesawat itu lalu ditembaki secara gencar dan meledak berkeping-keping,” ungkap Abu Bakar. Lantas mengapa versi sejarah yang lebih valid dan bisa dipertanggungjawabkan ini tidak menjadi acuan pembuatan tugu tersebut? Semua orang yang saya temui di Ciranjang tak bisa menjawabnya. Kesalahkaprahan juga terjadi pada Jalan Adi Sucipta di pusat kota Cianjur. Nama yang identik dengan seorang komodor pionir TNI Angkatan Udara itu sebetulnya adalah milik seorang pahlawan perang kemerdekaan asal Cianjur bernama Asmin Sucipta. Namun entah bagaimana ceritanya, nama “Asmin” berubah jadi “Adi”. Pada tahun 1980-an, seorang anggota DPRD Cianjur bernama Rahmat Purawinata pernah mengingatkan soal tersebut ke pihak Pemkab Cianjur dan langsung dituruti dengan mengganti secepatnya nama jalan tersebut dengan Jalan A. Sucipta. Namun begitu dia berhenti dari anggota DPRD, nama jalan tersebut balik lagi ke nama asalnya yang salah: Jalan Adi Sucipta. “Saya sendiri sampai sekarang tidak tahu apa yang menjadi penyebab berubahnya kembali nama jalan itu,” ujar lelaki yang masih memiliki hubungan darah dengan pejuang Asmin Sucipta tersebut. Lantas siapa sebenarnya Asmin Sucipta atau A. Sucipta itu? Menurut Qadim (95), Asmin adalah seorang pejuang terkemuka Cianjur yang memimpin LASPO, sebuah milisi lokal yang berafiliasi kepada Pesindo (Pemoeda Sosialis Indonesia). Di kalangan pejuang Cianjur dan Sukabumi, Asmin dikenal sebagai seorang penembak runduk yang mumpuni. “Pak Asmin itu jagonya nembak musuh dari jarak jauh. Kalau seorang musuh sudah ada dalam kecenganana (incaran tembakannya) sudah dipastikan dia mati,” ungkap eks anak buah Asmin Sucipta itu. Keahlian Asmin dalam hal menembak diakui oleh putra pertamanya, Mahkun Cipta Subagyo (75). Dari kakeknya, Muhammad To’ib Zamzami (yang tak lain adalah kawan seperjuangan Asmin), Mahkun mendapat cerita bahwa suatu hari sang ayah pernah menghabisi 11 prajurit ubel-ubel (sebutan para pejuang untuk pasukan British India Army) dari jarak sekitar 500 meter hanya dengan mempergunakan Si Dukun, senjata Lee Enfield kesayangannya. “Menurut kakek, waktu itu ayah menembaki serdadu-serdadu yang ada di jalan raya Sukabumi-Cianjur itu dari balik pepohonan di pinggir Sungai Cisarandi” ujar Mahkun . Tak cukup dengan aksi penembakan jarak jauh, Asmin pun terlibat aktif dalam penyerangan-penyerangan nekad ke wilayah kekuasaan militer Belanda. Pernah suatu siang, Asmin melumpuhkan dua serdadu Belanda yang tengah jalan-jalan di sekitar Pasar Bojongmeron. Dengan menggunakan botol kecap, dia memukul kepala kedua serdadu tersebut lantas merampas senjatanya. Karena aksi-aksinya, militer Belanda sangat mengincar Asmin. Dalam suatu perjanjian gencatan senjata pada 1948, Asmin berhasil diringkus lalu dibawa ke penjara Paledang, Bogor. Selanjutnya nasib Asmin berakhir di ujung senapan tim eksekusi mati militer Belanda dan jasadnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Dereded, Bogor. Berdasarkan kisah sejarah itu, Mahkun menyatakan harapannya agar nama Jalan Adi Sucipta dirubah kembali menjadi Jalan Asmin Sucipta. Hal itu memang sudah sering disuarakan oleh media dan komunitas pecinta sejarah di Cianjur. “Tapi hingga kini mereka (pemerintah Kabupaten Cianjur) masih saja acuh tak acuh, inilah susahnya kalau punya pemerintah tak memiliki kesadaran sejarah,” ujar Helmy Adam, aktivis komunitas sejarah De Brings Tjiandjoer.
- Juara di Udara
TROFI-TROFI itu berjejer rapi di salah satu sudut rak Heritage Room di Skadron 8 TNI AU, Pangkalan Pangkalan Udara Atang Sendjaja (Lanud ATS), Bogor. Mereka jadi penghias bergengsi di antara sejumlah foto maupun memorabilia lawas lain yang mengiringi sejarah skadron tersebut. Meski dimensinya kecil, trofi-trofi itu punya makna besar lantaran jadi penanda prestasi matra udara di mancanegara. “Ini piala-piala kita waktu ikut lomba helikopter tahun 1994 dan 1997. Dua kali kita ikut dan dua kali kita dapat juara II,” sebut Kepala Dinas Personel Lanud ATS Letkol (Pnb) Sigit Gatot Prasetyo kepada Historia. Prestasi itu dipetik pada ajang ASEAN Helicopter Championship (AHC) yang dihelat Tentera Udara Diraja Brunei, 13-19 November 1994 di Kompleks Olahraga Hassanal Bolkiah, Berakas. Perlombaan itu, sudah digelar serta diikuti sejumlah negara Asia Tenggara lainnya sejak 1988, merupakan edisi ketiga. Trofi-Trofi Hasil Perlombaan ASEAN Helicopter Championships 1994 (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Soal uji keterampilan, sebelumnya TNI AU masih berkutat pada ajang-ajang yang digelar internal. Eks Danlanud ATS Marsda (Purn) T. Djohan Basyar dalam Home of Chopper menuturkan, Skadron 8 acap jadi andalan dan pulang dengan prestasi tertinggi di sejumlah lomba keterampilan udara antar-satuan udara sejak 1985. TNI AU pun mempercayakan nama besarnya pada Skadron 8 untuk mewakili Indonesia di AHC 1994 di Brunei. Sebelas personel terbaik dipilih dengan dipimpin Letkol (Pnb) Adityawarman bertolak dari Lanud ATS pada 11 November 1994. “Pada perlombaan itu selain Indonesia, diikuti Brunei sebagai tuan rumah, Malaysia dan Singapura. Setiap negara mengirim dua tim, kecuali Indonesia yang hanya mengirim satu tim, diwakili Skadron 8 menggunakan pesawat (heli SA-330) Puma bernomor HT-3308,” sebut Djohan Basyar. Tim berangkat dari Lanud ATS dengan rute Bogor-Tanjung Pandan-Pontianak (transit)-Kuching-Bintulu-Brunei dan tiba sehari setelahnya. Dari sejumlah kategori, TNI AU turun di dua kategori: navigasi dan uji terbang dengan external load (cargo sling). Dokumentasi Tim Skadron 8 di AHC 1994 (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Kontingen TNI AU membuktikan diri dengan keluar sebagai juara II meski berstatus debutan. “Waktu itu Singapura yang jadi juara pertamanya. Dia (RSAF) pakai yang lebih kecil, heli Bell (UH-1 “Iroquois”), sambung Sigit, yang menjelaskan RSAF di lomba itu diwakili Skadron 120 yang sejak 1988 sudah jadi langganan juara. “Lombanya navigasi, seperti lomba mobil slalom begitu, uji keterampilan meliuk-liuk. Lalu (kategori) terbang presisi bawa beban. Jadi kebanggaan juga karena itu kita pertamakalinya tampil.” Itu bukan satu-satunya prestasi mancanegara TNI AU dengan alutsista rotary wings -nya. Tiga tahun berselang, kembali satu trofi mengisi lemari prestasi heritage room Skadron 8 dalam ajang serupa, 2nd Brunei ASEAN Helicopter Invitational Championship, 18-29 Oktober 1997. Trofi Juara II ajang 2nd Brunei ASEAN Helicopter Invitational Championships 1997 (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Ajang itu diikuti lima negara: Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina. TNI AU lagi-lagi mengandalkan Skadron 8 dengan heli SA-330 “Puma” bernomor ekor HT-3317. Kategorinya pun tiada beda dengan ajang sebelumnya, uji skill navigasi serta presisi terbang membawa beban. TNI AU juga pulang ke tanah air dari kompetisi itu dengan gelar juara II. “Dua tim yang diturunkan, yaitu tim A yang terdiri dari Kapten (Pnb) Erwin Buana, Lettu (Pnb) Ferry S, Sertu Heris Sudarmadi. Sedangkan tim B Kapten (Pnb) Sugiyono, Lettu (Pnb) Arifin Sjahrir dan Serka Amang Rosadi. Indonesia memperoleh predikat juara umum II bersama dengan Malaysia, sedangkan juara I dipegang Brunei,” tandas Djohan Basyar.
- "You Muslim, I Muslim: Teretet No!"
CERITA zaman perang di Indonesia (1945-1949) tidak selalu berkisar pada kisah-kisah sedih dan menyeramkan. Selalu ada cerita-cerita konyol, naif dan lucu di baliknya. Seperti dialami oleh Raden Makmur saat melibatkan diri sebagai pelaku revolusi di wilayah Sukabumi dan Cianjur. Suatu hari Makmur yang saat itu berusia 16 tahun ditugaskan oleh komandannya di BBRI (Barisan Banteng Repoeblik Indonesia) memeriksa setiap penumpang yang baru saja turun dari kereta api di Stasiun Salajambe, Cianjur. Kala itu proklamasi baru saja berkumandang. Semangat kemerdekaan tengah membuncah dan mengucapkan kata “merdeka” sambil mengepalkan tinju kanan merupakan kewajiban setiap orang: tak peduli tua atau muda. Di pintu peron, Makmur bersama beberapa kawannya (dengan bambu runcing di tangan) berjaga. Setiap ada penumpang yang tidak berteriak “merdeka” maka mereka akan segera menegurnya secara keras. Bahkan memukulnya jika itu seorang lelaki sepantaran mereka. Seorang remaja kampung yang buta huruf ketahuan tidak mengucapkan kata “merdeka” begitu turun dari kereta api. Tanpa banyak bicara, dia kemudian digelandang dan ditampar keras oleh Makmur. “Kang salah saya apa?!” protes sang remaja kampung dalam bahasa Sunda. “Kamu tidak mengucapkan 'merdeka', tahu!” teriak Makmur sambil memelototkan matanya. “Merdeka itu apa?” tanya sang remaja lagi Ditanya demikian, Makmur bingung. Dia lantas menanyakan kepada kawan-kawannya. Semuanya menggelengkan kepala. “Apa kang, itu merdeka?” “Ahhh! Saya juga tidak tahu! Pokoknya saya diperintahkan komandan begitu ya harus begitu! Kamu jangan melawan saya!” ujar Makmur, pura-pura marah (padahal bingung juga). Makmur juga pernah punya pengalaman lucu. Saat bertugas ke Sukabumi pada akhir 1945, kusir sado (delman) yang membawanya dari Stasiun Sukabumi terus berkoar tentang semangat revolusi dan telah tibanya zaman merdeka. “Memang apa Kang zaman merdeka itu?” tanya Makmur yang sekarang berusia 90 tahun itu. “Zaman bebas, zaman semua serba tidak bayar: naik kereta tidak bayar, naik bus tidak bayar, makan di restoran Cina tidak bayar. Pokoknya enaklah!” jawab sang kusir seenaknya. “Wah kalau begitu saya naik sado ini tidak bayar juga dong?” tanya Makmur. “Eitsss! Bayar dong! Ini mah lain,” jawab sang kusir. Dalam waktu yang sama, di Bandung remaja-remaja seusia Makmur juga bergerak melawan tentara Inggris yang terdiri dari pasukan bule, Gurkha (Nepal) dan India (Sikh, Hindustan dan Pakistan). Namun ada kalanya, permusuhan antara mereka harus terhenti karena…lapar. Aleh (91) bercerita, suatu hari saat mereka tengah berjaga-jaga di batas demarkasi (saat ini di rel kereta api Jalan Sumatera), dua tentara BIA (British India Army) mendekati mereka sambil membawa bendera putih. Ketika sudah dekat terjadilah dialog dalam bahasa isyarat dan “bahasa Inggris gaya Bandung” saat itu. Salah seorang serdadu BIA itu menyatakan keinginannya untuk mendapatkan seekor ayam dan akan membelinya dengan harga mahal. Tentunya dia menyatakan itu dalam bahasa isyarat tangan yang melukiskan kepala seekor ayam yang sedang mematuk makanan. Aleh dan kawan-kawannya cepat paham. “Oh kokok (bunyi ayam dalam bahasa Sunda). Okelah! I kokok you Tommygun (jenis senjata yang biasa dibawa tentara Inggris),” ujar Aleh. Maka berlangsunglah tawar menawar dalam “bahasa tarzan” dengan kesepakatan akhir: seekor ayam ditukar dengan beberapa granat tangan dan keju. Soal “bahasa Inggris gaya Bandung” itu juga disebutkan dalam buku Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan karya Ratnayu Sitaresmi, Aan Abdurachman, Ristadi Widodo dan Ummy Latifah Widodo. Dari pengalaman seorang bekas pejuang Bandung bernama Suparyadi, mereka mengisahkan tentang upaya-upaya para pejuang Bandung meyakinkan para serdadu BIA asal India yang beragama Islam (sekarang Pakistan) untuk tidak memerangi bangsa Indonesia. “You muslim, I muslim, teretet no!” teriak para pejuang Bandung yang sebagian besar terdiri dari remaja-remaja tanggung itu. Teretet adalah istilah anak-anak Sunda untuk menirukan bunyi senjata, laiknya kata “dor” dalam bahasa Indonesia atau “bang” dalam bahasa Inggris. Apakah tentara-tentara BIA itu mengerti? Sepertinya lambat laun mereka paham juga. Buktinya orang-orang Pakistan itu banyak yang membelot ke kubu tentara Republik dan ikut berjuang bukan hanya melawan Inggris saja tetapi juga tentara Belanda. *
- Mata Uang dari Cangkang Kerang
Ada masa di mana selembar uang kertas seratus ribuan rupiah bewarna pink tak lagi bisa dipakai untuk membayar belanjaan. Tak laku ia dipasaran karena yang berlaku waktu itu adalah uang dari kulit kerang yang kini dengan mudah bisa didapat di antara serakan kerang-kerang di pantai-pantai Indonesia. Ingrid Van Damme dari Museum Bank Nasional Belgia dalam laman Citéco menulis, kulit kerang pada masa lalu pernah digunakan sebagai alat pembayaran dan dianggap sebagai simbol kekayaan dan kekuasaan. "Penggunaan sistem moneter ini berlanjut hingga abad ke-20," tulisnya. Dua varietas kerang yang paling utama adalah Cypreae moneta dan Cypraea annulus, atau apa yang sering disebut kerang cowrie. Keduanya punya semua fitur yang dapat diharapkan dari mata uang, yaitu daya tahan, kenyamanan, dapat dibagi, serta mudah diidentifikasi. "Dibandingkan dengan bahan makanan, yang tak tahan lama, dan bulu, yang dapat rusak oleh hama, kulit kerang mudah ditangani, kecil dan mudah diangkut," kata Ingrid. Gambar dari 1845 memperlihatkan cangkang kerangcowrie digunakan sebagai mata uang oleh pedagang Arab. (The Vintage News) Ditambah lagi, jenis kerang ini hampir selalu memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Mereka juga dapat dihitung atau hanya ditimbang untuk menentukan nilai pembayaran. The Vintage News menulis, jenis kerang ini berasal dari kawasan Samudera Hindia dan Pasifik. Populasinya sangat tinggi di perairan sekitar Kepulauan Maladewa, yang letaknya di barat daya India. Namun dengan uang ini orang-orang kuno bisa berbelanja di kawasan Asia, Afrika, Oseania, bahkan di beberapa bagian Eropa. "Karena kedekatan dengan sumber daya alam, seluruh industri kerang laut lahir di Maladewa. Pria, wanita, dan anak-anak semuanya mengumpulkan dan menyiapkan cangkang untuk diperdagangkan," jelasnya. Caranya, tikar anyaman yang terbuat dari cabang pohon kelapa ditempatkan di permukaan air. Bayi moluska akan berkumpul di tikar. Lalu tikar dikeluarkan dari air untuk dikeringkan. Setelah kering, cangkang dipoles, dinilai, dan diekspor. Sebagian besar ke Bengal yang merupakan pusat perdagangan utama pada saat itu. Cangkang cowrie kemudian dirangkai pada tali untuk dinilai secara terpisah. Kalau tidak, cangkang-cangkang itu dimuat dalam ember untuk dijual dalam jumlah yang lebih besar. Itu semua tergantung pada tempat perdagangannya. Di Bengal, misalnya, pembayaran kerang dilakukan dengan keranjang yang penuh dengan kerang. Setiap keranjang berisi sekitar 12.000 kulit kerang. Ilustrasi Cangkang Cowrie Kendati Maladewa merupakan sumber uang cowrie terpenting sepanjang sejarah, penggunaan kulit cowrie sebagai mata uang, yang menurut beberapa peneliti merupakan bentuk mata uang tertua, justru berasal dari Tiongkok kuno. Beberapa ribu tahun yang lalu, orang-orang Tiongkok membutuhkan mata uang yang efisien. Mata uang yang dapat digunakan untuk berdagang di semua bagian kerajaan besar mereka. Mereka pun lalu memilih kulit kerang karena sulit dipalsukan. "Tetapi yang terpenting sumber kerang jauh dari Cina, tak mudah didapat. Ini berarti hanya orang terkaya yang bisa memperoleh komoditas ini dalam jumlah besar," tulis The Vintage News. Jejak tertua penggunaannya sebagai mata uang dapat ditemukan pada benda-benda perunggu yang digali di Tiongkok. Yang tertua berasal dari abad ke-13 SM. Menariknya, selama penggalian di makam beberapa kaisar awal, ditemukan bahwa mereka dimakamkan dengan kulit kerang di mulutnya. Pun rupanya banyak karakter dalam bahasa mereka, yang merujuk pada uang atau perdagangan, mengandung simbol kulit kerang: 貝. "Karakter Tiongkok untuk kata-kata tertentu, seperti "uang", "koin", "beli", "nilai" juga menyerupai bentuk kerang cowrie ," tulis laman itu. Cara Menentukan Nilai Pertanyaannya, bagaimana masyarakat menentukan nilai mata uang cangkang cowrie dibandingkan dengan barang lain? Rupanya itu cukup sederhana. Nilai mereka ditentukan oleh hukum penawaran dan permintaan. Semakin jauh tempat itu berasal dari sumber cowrie atau pusat perdagangan primer, semakin besar nilai yang dimiliki uang cowrie . Itu berarti ada tempat-tempat di mana ia dihargai lebih tinggi. "Anda dapat membeli seekor sapi hanya dengan satu cowrie ," tulis The Vintage News. Sementara di tempat lain, di mana cangkang kerang lebih melimpah, satu cowrie bisa tak memiliki nilai. Di Maladewa, misalnya, seseorang membutuhkan ribuan kerang untuk ditukar dengan satu koin emas. Nilainya juga ditentukan berdasarkan waktu pemolesan cangkang kerang. Semakin banyak pekerjaan dimasukkan ke dalam kerang, semakin banyak nilai yang mereka miliki. "Mereka yang akrab dengan proses penambangan Bitcoin akan melihat bahwa ini terdengar sangat mirip. Ini adalah prinsip yang sama yang kita gunakan hari ini tetapi ditemukan ribuan tahun sebelumnya," lanjut laman itu. Peran cangkang kerang sebagai mata uang terus dipakai sampai pertengahan abad ke-20. Ini pun menunjukkan seberapa efisien dan stabil sistem purba ini.
- Penerjunan Pertama Indonesia
DERU mesin pesawat DC-3 Dakota RI-002 memecah keheningan pagi 17 Oktober 1947. Pilot Bob Freeberg, veteran AL AS yang menjadi pilot Commercial Air Lines Incorporated (CALI), dan co-pilot Mayor Makmur Suhodo berkonsentrasi penuh mencari dropping zone , Sapanbiha, Kalimantan. Langit masih gelap. Belantara Kalimantan di bawah hanya terlihat hamparan warna hitam. Mata Mayor (Ud.)Tjilik Riwut, pemuda Dayak yang menjadi perwira di Bagian Siasat Perang Sekretaris KSAU, terus memelototi daratan yang akan dijadikan titik penerjunan. Meski sulit, dia tak ingin gagal. Misi kali ini menjadi pertaruhan baginya sekaligus AURI dalam mempertahankan kemerdekaan di bumi Kalimantan. Sejak Indonesia diproklamirkan, para republiken berjuang secara swadaya mengusir Belanda yang dipasrahi AS memegang kendali ketertiban dan keamanan di Kalimantan. Perjuangan para republiken di Kalimantan dilakukan dengan bergerilya menggunakan persenjataan alakadarnya. Bantuan dari pusat selalu gagal mencapai tujuan lantaran blokade pasukan Belanda amat ketat. Bagi Gubernur Kalimantan Ir. Mohammad Nur, satu-satunya pengiriman bantuan yang mungkin hanya lewat udara. Sepucuk surat pun dikirimkannya kepada KSAU Komodor Suryadarma di ibukota RI Yogyakarta. “Isinya meminta bantuan agar AURI bersedia melatih pemuda-pemuda asal Kalimantan, kemudian menerjunkan mereka kembali ke Kalimantan untuk berjuang membantu saudara-saudaranya,” tulis Irna HN Soewito dkk. dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950 . Permintaan itu membuahkan hasil. Setelah merundingkannya dengan pimpinan AURI, Markas Besar Tentara (MBT) membentuk staf khusus untuk membuat pasukan payung yang akan diterjunkan ke Kalimantan. Dalam waktu singkat, sekira 60 pejuang asal Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa berhasil direkrut. Mereka ditempatkan di Asrama Padasan, dekat Lanud Maguwo. Di bawah Tjilik Riwut, yang ditunjuk Suryadarma memimpin pembentukan pasukan itu, mereka kemudian menjalani latihan dasar terjun. Mereka dilatih oleh Opsir Udara II Sujono, Opsir Muda Udara II Amir Hamzah, Sersan Udara Mispar, dan Kopral Udara Sangkala. Namun karena sempitnya waktu, latihan terjun hanya didapatkan secara teori dan latihan di darat tanpa penerjunan dari pesawat. Dua belas orang akhirnya terpilih masuk dalam tim penerjuanan yang akan menggunakan pesawat RI-002 itu. Letnan Udara II Iskandar ditunjuk mengomandani tim. Dua personil PHB (perhubungan) AURI bakal menemani penerjunan mereka. Selain ikut terjun, Tjilik Riwut mendapat tugas menjadi penunjuk jalan, sedangkan Amir Hamzah sebagai jumping master . Dini hari 17 Oktober 1947, mereka diberangkatkan dari Lanud Maguwo. “Suryadarma turut hadir untuk memberikan briefing dan melepas keberangkatan mereka dengan manyalami seluruh anggota pasukan satu per satu,” tulis Adityawarman Suryadarma dalam Bapak Angkatan Udara Suryadi Suryadarma . “Tujuan dan tugas operasi penerjunan rahasia itu adalah membentuk dan menyusun kekuatan inti gerilya di daerah asal suku Dayak, Sepanbiha, membantu perjuangan rakyat setempat, membuka stasiun pemancar induk, serta menyiapkan daerah penerjunan untuk operasi selanjutnya,” tulis Irna dkk. Sekira subuh, pesawat RI-002 sudah mencapai langit Kalimantan. Pesawat itu terus terbang menuju sebuah bukit kecil yang berada di sebelah titik penerjunan. “Akan tetapi 10 menit kemudian di sebelah bukit kecil yang dimaksudkan itu kami tidak ada melihat suatu apapun kampung atau lapangan,” kenang Tjilik Riwut dalam memoarnya, Kalimantan Memanggil . Setelah Tjilik yakin mereka sudah di atas Sepanbiha, pintu pesawat pun dibuka. Satu per satu penerjun melompat keluar dan terjun, kecuali Jamhani yang batal terjun karena takut. Penerjunan personil itu kemudian diikuti penerjunan peralatan dan logistik bekal gerilya. Kendati beberapa penerjun sempat tersangkut di pohon, mereka semua selamat menapakkan kaki di darat. Mereka akhirnya bisa bergabung kembali pada hari ketiga lantaran tercerai-berai saat mendarat. Sebagian peralatan yang diternjukan pun tak dapat ditemukan. Namun yang menjadi masalah, mereka ternyata bukan mendarat di Sepanbiha ( droppingzone ), melainkan di Kampung Sambi, barat laut Rantau Pulut, Kotawaringin. Alhasil, mereka pun terpaksa survive di dalam belantara. Pada hari ke-35, mereka bermalam di sebuah ladang di tepi Sungai Koleh. Dini hari 23 Nopember, ketika mayoritas mereka sedang nyenyak tertidur, tembakan dari pasukan NICA menghujani mereka dari tiga arah. Letda (Ud.) Iskandar, Sersan (Ud.) Achmad Kosasih, dan Kapten (Ud.) Hari Hadisumantri gugur seketika. Suyoto tertawan. Sisa pasukan yang selamat langsung menyelamatkan diri. Mereka langsung keluar-masuk hutan melakukan gerilya. Namun kepungan pasukan NICA begitu ketat, ruang gerak mereka kian terbatas. Kurang dari dua bulan kemudian, sisa pasukan penerjunan pertama yang selamat itu semua tertangkap. Setelah dibawa ke Banjarmasin, mereka ditahan di Penjara Bukitduri, Jakarta sebelum dipindah-pindah lagi ke Penjara Glodok, Cipinang, dan Nusakambangan. Mereka dibebaskan menjelang Konferensi Meja Bundar. Untuk mengenang operasi penerjunan pertama Indonesia itu, sutradara Vladimir Sis membuat film berjudul Aksi Kalimantan . Selain Bambang Hermanto, film itu dibintangi antara lain oleh Bambang Irawan dan Mieke Wijaya. “Operasi penerjunan yang dilakukan oleh 13 prajurit AURI tersebut merupakan peristiwa yang menandai lahirnya satuan pasukan khusus AURI, yang kemudian dikenal sebagai Pasukan Gerak Tjepat (PGT),” tulis Adityawarman.
- Sumber Pemasukan Kerajaan Kuno
Kerajaan-kerajaan kuno punya kebijakan meringankan pajak bagi desa-desa perdikan ( sima ). Namun, pemasukan negara tetap terjaga, salah satunyaa dari pajak. Semua penduduk wajib membayar pajak. Di samping mereka harus kerja bakti untuk raja atau kerajaan. Menurut arkeolog UGM, Djoko Dwiyanto membayar pajak merupakan komitmen rakyat untuk menjaga keselarasan hubungan sosial dengan rajanya. “Seorang raja dianggap dapat melindungi, melayani, dan menyejahterakan rakyatnya,” tulisnya dalam “Pungutan Pajak dan Pembatasan Usaha di Jawa Pada Abad IX-XV Masehi” dalam Jurnal Humaniora I/1995. Pajak Tanah Ada beberapa hal yang dikenai pajak. Pertama, pajak tanah. Ini terkait dengan istilah pajak dalam bahasa Jawa Kuno yang disebut drabya haji . Selain punya arti pajak secara umum, ia jua berarti “milik raja”. Djoko menjelaskan, pengertian ini muncul dari anggapan kalau rajalah yang punya hak atas tanah dan segala aktivitas di atas tanah itu. Sementara rakyat hanya punya hak menggarap dan mengelola. “Hak raja atas sebagian pembagian hasil itu diwujudkan dalam bentuk iuran sejumlah emas dan perak. Iuran ini harus diserahkan ke kas kerajaan,” lanjut Djoko. Tanah yang kena pajak yaitu sawah, pegagan atau sawah kering, kebun, sungai, rawa, dan lembah sungai. Besar pajaknya ditetapkan berdasarkan luas tanah, terutama untuk sawah dan kebun. Menurut epigraf Boechari dalam “Kerajaan Matarām dari Prasasti" yang terbit di Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti,” petugas kerajaan yang mengukur tanah itu bernama wilang thani . Artinya pemerintah pusat punya daftar catatan tentang luas dan berbagai macam tanah yang ada di seluruh kerajaan, dan berapa penghasilan pajak yang dapat diterima. Penetapan itu seringkali menimbulkan sengketa akibat standar ukuran yang berbeda. “Beberapa contoh kasus terjadi berupa permohonan revisi pajak dengan cara mengukur kembali luas tanah yang akan dikenai pajak,” jelas Djoko. Pajak Orang Asing Kedua, pajak perdagangan dan usaha. Boechari menerangkan usaha yang dimaksud yaitu hasil kerajinan dan keahlian tertentu yang digunakan untuk mencari nafkah seperti pesinden, pelawak, penabuh gamelan, dan dalang. Ketiga, pajak orang asing yang dalam prasasti disebut warga kilalang . Misalnya, dalam Prasasti Palebuhan (927 M) disebut orang asing yang wajib membayar pajak, yaitu keling, Arya, dan Singhala. “Gambaran yang diperoleh dari prasasti orang asing masa itu erat kaitannya dengan perdagangan,” jelas Djoko. Pajak yang dikenakan kepada mereka bukan karena aktivitasnya, melainkan keberadaannya sebagai orang asing. Keempat, pajak keluar masuk wilayah yang dalam prasasti disebut pinta palaku . Artinya, pajak yang dikenakan pada orang yang melakukan perjalanan. Dalam praktiknya, penarikan pajak tidak kaku. Pada saat tertentu raja memberikan keringanan bahkan membebaskan dari pajak. Dalam penetapan sima , pajak tak dibebaskan sama sekali karena raja membutuhkan pemasukan untuk menggaji pegawai kerajaan. Menurut Djoko dalam usaha menjaga kestabilan sumber pemasukan itu muncul istilah pembatasan usaha. Ini dilakukan agar kerajaan tak kehilangan sumber pendapatan sama sekali. “Barangkali secara politis untuk menjaga agar tidak terjadi akumulasi pengusaha dalam sebuah sima yang bermaksud menghindari pajak,” jelas Djoko. Misalnya, perdagangan ternak. Dalam Prasasti Linggasutan (929 M) disebutkan pajak tidak dipungut di daerah sima jika tidak melebihi jumlah yang ditetapkan yaitu jumlah pedagangnya tiga orang dalam sebuah kelompok aktivitas perdagangan. Jika kerbau tak lebih dari 30 ekor, sapi 40 ekor, kambing (?) ekor, dan satu wadah pranjen ( wantayan ) itik. Jika pada periode Jawa Tengah jenis usaha yang dibatasi adalah perdagangan, pada periode Jawa Timur ditambah lagi. Pembatasan juga berlaku pada bisnis sarana transportasi, seperti pemilikan perahu dan kuda tunggangan serta budidaya di pantai dan kelautan. “Hasil ini sangat erat kaitannya dengan ketentuan bahwa sumber daya perekonomian yang bermanfaat bagi kemaslahatan umum sebaiknya dikuasai negara,” jelas Djoki. Sumber kas kerajaan lain adalah hasil rampasan perang. Petugas yang mengurusnya disebut tawān atau hañanan di ibukota kerajaan. Lalu cenderamata dari negara sahabat yang tak banyak disebutkan dalam prasasti. “Mungkin sekali karena jenis pendapatan itu tak begitu berpengaruh terhadap kondisi perekonomian negara,” jelas Djoko.
- Ramadan Para Tahanan
SAMBIL duduk di teras sel tempat tahanannya dan menghirup udara segar, Mia Bustam bergantian memandangi langit malam dan menyaksikan rekan-rekan sesama penghuni kamp shalat tarawih di kamar F1. Selama Ramadan, pintu sel dibuka untuk lalu-lalang tapol perempuan yang ingin shalat tawarih. Para penghuni yang tidak tarawih menunggu di luar, termasuk Mia yang memutuskan masuk Katolik setelah jadi tahanan politik (tapol). “Pada bulan-bulan lain kami tidak pernah melihat bulan atau bintang-bintang karena langit tidak tampak, terhalang oleh atap emper. Selama bulan puasa kami nikmati benar pemandangan indah itu,” kata Mia dalam memoarnya Dari Kamp ke Kamp. Sepulang tarawih, kawan-kawan Mia membawa pulang jaburan, snack yang dibagikan selepas tarawih untuk dinikmati sambil menyimak pengajian. Jaburan itu lantas dibagi rata dengan para penghuni kamp lain, biasanya setup jambu biji. Menu ini terbilang mendingan, pasalnya makanan di dalam kamp amat buruk. Kol dan ikan asin busuk atau grontol (jagung rebus dengan parutan kelapa) yang jagungnya amat keras (jenis metro) menjadi menu rutin mereka. Waktu makan normal para tapol ialah pukul 10 pagi dan 3 sore. Kala bulan puasa, mereka sebetulnya cuma memindahkan jam makan saja, lantaran jatah makannya dipakai untuk sahur dan berbuka. Hidangan untuk para tapol ketika puasa pun tak ada yang spesial, tetap kol busuk, ikan asin buduk, atau grontol super keras. Pernah suatu kali di Ramadan tahun 1966, ketika Mia masih ditahan di Beteng Vredeburg, terdengar suara orang muntah dari dalam sel pria lantaran berbuka puasa dengan makanan kadaluarsa. Sore itu jatah makan yang dikirim dari Wirogunan berupa gathot (singkong hitam yang diberi parutan kelapa). Rupanya, gathot itu sudah apek dan beracun. “Tahanan perempuan tidak memakan gathot itu, malah banyak yang menangis, nelangsa ,” kata Sumiati pada Josepha Sukartiningsih yang menulis “Ketika Perempuan Menjadi Tapol”. Namun, namun beberapa tahanan pria yang kelaparan langsung memakannya. Tak lama setelah itu, beberapa di antaranya pun tumbang jalaran gathot beracun. Suasana jadi panik, para sipir mondar-mandir bingung. Para tahanan berusaha menolong teman satu selnya yang keracunan. Di tengah kekacauan itu, Pak Parman Jenthut, tapol asal Kricak yang disegani, berteriak, “Yang masih sehat, jangan makan gathot itu!” Salah seorang tapol ingat kalau daun papaya mentah bisa jadi penawar keracunan. Kebetulan, di halaman depan kamar petugas ada pohon pepaya yang belum berbuah. Maka, habislah daun-daunnya diambil untuk mengobati para tapol hingga tinggal pokoknya saja. Jatah makan tak layak terulang lagi pada Ramadan 1967. Mia kala itu sudah dipindahkan ke Wirogunan. Makanan yang dibagikan menjelang buka puasa ialah oyek apek dan berkutu. Tapol perempuan di blok F dan tapol pria di blok E sepakat tidak menyentuh oyek itu. Mereka lebih pilih lanjut puasa sampai esok hari tanpa makan sedikitpun. Tapi pada akhirnya pihak pengurus dapur mengalah. Jam 9 malam mereka memberikan grontol yang masih hangat beruap. Jagungnya pun bukan metro seperti biasanya, melainkan jagung manis. Namun lantaran para petugas memasaknya dengan terburu-buru, alhasil jagung pun kurang matang dan jadi biang gas di perut. Tak lama kemudian keluar “tembakan-tembakan” dari dalam sel. “Dat-dut-dat-dut itu bisa terjadi kalau jagung dimasak tak matang benar,” kata Mia. Meski sudah rajin ibadah sejak sebelum masuk tahanan, para tapol yang digolongkan sebagai orang komunis (meski tidak semuanya demikian) diangggap tidak beragama. Mereka mendapat pembinaan mental. Mulanya para tapol diminta memilih agama yang akan dipelajari, kemudian tiap minggu akan ada rohaniawan yang datang berkunjung. Mereka sering merasa bosan dengan pengulangan materi sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. “Kami semua ya beragama. Meski selalu dituduh PKI ateis, kami semua beribadah… nyatanya di dalam kamp ngajinya sudah bagus-bagus,” kata Indrasih, penghuni kamp Plantungan dalam Gerwani: Kisah Tepol Wanita di Kamp Plantungan.
- Pasang Surut Pasar Tanah Abang
Kerusuhan melanda kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada 21—22 Mei 2019. Selama dua hari berikutnya, Pasar Tanah Abang terdampak. Para pedagang menutup kiosnya. Mereka jatuh rugi. Perputaran uang senilai Rp200 miliar per hari hilang. Tapi tiga hari setelah kerusuhan, Pasar Tanah Abang buka kembali. Pengunjung pun menyesaki pasar untuk membeli pakaian Lebaran. Sejarah Pasar Tanah Abang ialah sejarah bangkit berkali-kali dari hantaman bala. Kerusuhan dan kebakaran pernah menimpa pasar ini silih berganti. Tapi pasar ini mampu bertahan. Bahkan kemudian menjelma pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara. Pasar Tanah Abang bermula dari permintaan Justinus Vinck, pejabat kaya VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur), untuk mendirikan pasar di atas dua lahan miliknya pada 1733. Satu di wilayah Weltevreden (sekarang Pasar Senen), lainnya berada di Tanah Abang. Vinck melihat perkembangan Batavia ke wilayah selatan telah membentuk permukiman baru. Ada pula pembukaan kebun-kebun baru seperti kebun kacang, kebun jahe, kebun pala, kebun sirih, dan kebun melati untuk penduduk di Tanah Abang. Tetapi belum ada pasar di sekitar wilayah hunian baru ini. Vinck memperoleh izin pendirian dari Gubernur Jenderal Abraham Patras dua tahun berselang, pada 30 Agustus 1735. Surat izin Gubernur Jenderal menyebutkan hari buka pasar milik Vinck. “Pasar diselenggarakan hari Senin untuk Pasar Weltevreden, hari Sabtu untuk pasar yang akan dibangun di Bukit Tanah Abang,” tulis Abraham Patras dalam suratnya kepada Vinck, dikutip PD Pasar Jaya dalam Pasar Tanah Abang 250 Tahun. Terdampak Huru-Hara 1740 Dua pasar Vinck memiliki jenis dagangan berbeda, sesuai aturan Gubernur Jenderal. Pasar Senen untuk jenis sayur mayur dan keperluan sehari-hari. Tanah Abang kebagian jenis tekstil, klontong, dan sedikit sayuran. Vinck membangun sebuah jalan untuk menghubungkan dua pasar ini. Keberadaan jalan mempermudah pedagang dan pembeli menjangkau pasar tersebut. Kemudahan akses terhadap pasar menumbuhkan jumlah transaksi. Dua pasar ini selalu ramai selama lima tahun beroperasi. Sebuah lukisan karya Johannes Rocht pada 1750 menggambarkan keramaian Pasar Weltevreden. Tampak bangunan pasar terbuat dari bambu dan atapnya berbahan rumbia. Gerobak sapi, kerbau, dan kuda memenuhi jalanan pasar. Tersua juga pedagang sedang memikul barang di jalanan pasar. Rocht memang hanya melukis suasana Pasar Weltevreden. Tidak ada lukisan tentang Pasar Tanah Abang. Tetapi lukisan tentang Pasar Weltevreden dianggap mewakili keadaan serupa di Pasar Tanah Abang selama lima tahun pertama operasional pasar. Dalam lima tahun pertama pula salah satu pasar milik Vinck menghadapi bala. Pasar Tanah Tanah Abang beroleh serangan dari Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron von Imhoff pada 8 Oktober 1740. Serangan Von Imhoff merupakan jawaban atas perilaku agresif orang-orang Tionghoa di Tanah Abang terhadap pos jaga VOC sehari sebelumnya. Banyak orang Tionghoa menjadi pedagang di Pasar Tanah Abang. Mereka juga bertempat tinggal di sekitar kawasan pasar. Pasukan VOC menggunakan meriam untuk menghadapi orang-orang Tionghoa di Tanah Abang. “Dengan mudah W. von Imhoff membubarkan gerombolan Tionghoa yang bikin gaduh di Tanah Abang,” catat Adolf Heuken dalam Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta . Adolf menambahkan orang-orang Tionghoa lari kocar-kacir menyelamatkan diri. Tembakan meriam merusak sejumlah bangunan Pasar Tanah Abang. “Baru lima tahun berdiri Pasar Tenabang terkena bencana, porak-poranda, dan terbakar ludes,” tulis Abdul Chaer dalam Tenabang Tempo Doeloe. Huru-hara ini melumpuhkan Pasar Tanah Abang hingga 20 tahun. Kumuh dan Sarang Gelandangan Pasar Tanah Abang beroperasi kembali setelah hubungan VOC dengan orang-orang Tionghoa membaik. “Malah orang Cina diberi kepercayaan dan kekuasaan untuk memungut cukai pasar secara borongan,” ungkap Abdul Chaer. Orang Tionghoa juga memperoleh izin pengelolaan rumah madat atau candu di sekitar Pasar Tanah Abang. Pasar Tanah Abang terus semarak memasuki 1800-an. Hari buka pasar tidak lagi cuma pada Sabtu, melainkan juga pada hari Rabu. Keramaian aktivitas perdagangan di pasar tak seiring dengan perbaikan kualitas lingkungan. Bangunan-bangunan pasar kian lama kian rapuh dan kusam. Sampah-sampah menumpuk dan semrawut. “Sampai akhir abad ke-19 bahkan awal abad ke-20 Pasar Tanah Abang belum mempunyai bangunan permanen,” tulis PD Pasar Jaya. Perbaikan fisik di Pasar Tanah Abang berlangsung secara kecil-kecilan pada 1913. Lantai bawahnya mulai dikeraskan pondasi adukan. Perbaikan ini kurang berdampak banyak bagi lingkungan pasar. Khawatir pedagang dan pembeli berkurang, pemerintah kolonial akhirnya merombak Pasar Tanah Abang secara besar-besaran pada Agustus 1926. Bangunan lama nan rapuh berganti bangunan permanen. Lebih nyaman untuk aktivitas para pedagang dan pembeli. Lebih bagus pula untuk promosi nama Pasar Tanah Abang keluar Batavia dan Hindia Belanda. Tetapi kedatangan Jepang pada 1942 mengubah banyak hal di Pasar Tanah Abang. “Pasar Tanah Abang yang tadinya kesohor tekstilnya, saat itu berubah menjadi los-los dan kios kosong melompong tidak ada tekstil sama sekali bahkan banyak yang tutup dan ditempati gelandangan,” cerita H.M. Hasan, pensiunan kepala pasar dalam Pasar Tanah Abang 250 Tahun . Preman dan Kebakaran Pasar Tanah Abang kembali memperoleh cerlangnya setelah sempat masuk tahun-tahun kegelapan selama masa Jepang hingga Revolusi Fisik (1945—1949). Di bawah pengelolaan Pemerintah DKI Jakarta lewat Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya, Pasar Tanah Abang mengalami perombakan secara besar-besaran pada 1973. Pasar Tanah Abang menjadi bangunan bertingkat tiga. Bangunan baru mengerek harga sewa kios lebih mahal. Banyak pedagang tak bisa membayar. Mereka memilih dagang di luar pasar, di pinggir jalan. Keberadaan mereka menyalahi aturan. Pemerintah berupaya menertibkan mereka. Tetapi mereka memperoleh perlindungan dari centeng-centeng atau jago Tanah Abang. Demi keamanan berdagang, mereka rela membayar uang jago. “ Masalah keamanan pasar dirasakan sangat baik. Tentang jawara, tidak pernah mereka melakukan tindak yang menjurus semacam pemerasan. Dengan kami mereka malah saling bekerja sama secara dekat ,” kata seorang pedagang dalam Pasar Tanah Abang 250 Tahun . Pemerintah mulai kehilangan kendali atas keamanan pasar. Mereka bahkan menyerahkan urusan keamanan renovasi pasar kepada salah satu centeng tersohor Tanah Abang dekade 1970-an, Haji Bidun. Kehadiran pemerintah di Pasar Tanah Abang menjadi sebatas pengatur. Keamanan berada di tangan para jago. Jago-jago memperoleh banyak uang atas jasa keamanan, parkir, dan kebersihan dari para pedagang. Tetapi lama-lama mereka tidak lagi melindungi para pedagang, melainkan memerasnya. Bahkan mereka juga menjadikan pembeli sebagai sasaran. Istilah jago tidak lagi tepat untuk mereka. Istilah preman muncul untuk menyebut perilaku mereka. Perputaran uang di Pasar Tanah Abang pada 1990-an mencapai Rp8—10 miliar per hari. Para preman dari berbagai etnis dan wilayah berebut kendali atas Pasar Tanah Abang. Puncaknya terjadi pada November—Desember 1996. Bentrok antarpreman di Pasar Tanah Abang meminta korban jiwa. Pedagang dan pembeli menghindari kawasan ini beberapa lama. Usai rusuh antarpreman, pedagang dan pembeli kembali ke Pasar Tanah Abang. Ini terjadi terus menerus. Kerusuhan Mei 1998 sempat membuat nadi Pasar Tanah Abang berhenti. Tetapi kemudian berdetak kembali. Kebakaran besar pada 2003 menghentikan aktivitas perdagangan selama beberapa hari. Tetapi setelah kebakaran, sembari menunggu bangunan baru dibangun, pedagang menggelar dagangan di jalanan sekitar pasar. Pembeli tetap berdatangan di tempat seadanya itu. Tidak ada satu pun bala mampu meruntuhkan Pasar Tanah Abang untuk selama-lamanya.





















