top of page

Akhir Cerita Ibnu Hadjar

Setelah menyerah, Ibnu Hadjar divonis mati. Pengikutnya juga lalu dipinggirkan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ibnu Hadjar (kanan). (Blog Bubuhan Banjar).

9 Jan 2023
2 menit membaca

Diperbarui: 21 Mei

SUATU hari pada Juli 1963, menjelang Magrib sekitar pukul 6 sore. Rumah panggung Siti Kadijah didatangi oleh anaknya yang telah lama berkelana di pedalaman hutan. Haderi bin Umar sudah seperti anak hilang selama lebih dari sepuluh tahun di pedalaman Kalimantan Selatan.


Haderi tinggal di rumah itusekitar dua pekan. Kedatangannya yang belum tentu setahun sekali dan entah kapan terjadi lagi, membuat keluarga besarnya berkumpul. Meski sebentar, pertemuan inilebih baik bagi mereka.


Tak sekadar silaturahmi, si anak hilang itu datang untuk berpamitan kepada Siti Kadijah. Seolah anak ini akan pergi lebih lama lagi dari yang sudah-sudah. Salah seorang cucu Kadijah pun ikut bertanya apa yang akan dilakukan pamannya.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page