- 9 Jan 2023
- 2 menit membaca
Diperbarui: 21 Mei
SUATU hari pada Juli 1963, menjelang Magrib sekitar pukul 6 sore. Rumah panggung Siti Kadijah didatangi oleh anaknya yang telah lama berkelana di pedalaman hutan. Haderi bin Umar sudah seperti anak hilang selama lebih dari sepuluh tahun di pedalaman Kalimantan Selatan.
Haderi tinggal di rumah itusekitar dua pekan. Kedatangannya yang belum tentu setahun sekali dan entah kapan terjadi lagi, membuat keluarga besarnya berkumpul. Meski sebentar, pertemuan inilebih baik bagi mereka.
Tak sekadar silaturahmi, si anak hilang itu datang untuk berpamitan kepada Siti Kadijah. Seolah anak ini akan pergi lebih lama lagi dari yang sudah-sudah. Salah seorang cucu Kadijah pun ikut bertanya apa yang akan dilakukan pamannya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















