top of page

Aksi Kapal Selam di Papua dan Sabotase yang Gagal

Tiga kapal selam terlibat operasi penyusupan dalam rangka merebut Irian Barat. Hampir tertangkap patroli militer Belanda.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 18 Jun 2015
  • 3 menit membaca

GAGAL dengan diplomasi, Sukarno menempuh aksi militer untuk merebut Irian Barat (Papua) dari Belanda. Pada 19 Desember 1961, dia mengumumkan Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) yang memuat perintah: gagalkan pembentukan negara boneka Papua, kibarkan Merah Putih di sana, dan mobilisasi umum mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan Indonesia. Pelaksana operasi itu adalah Komando Mandala Pembebasan Irian Barat, komando tempur lintas angkatan, di bawah pimpinan Mayjen Soeharto.


Untuk mengetahui medan dan kekuatan lawan, Komando Mandala menggelar operasi penyusupan. Salah satunya Operasi Tjakra II pada 15-26 Agustus 1962. Untuk operasi ini, Angkatan Laut mengerahkan tiga kapal selam (Nagarangsang, Trisula, Tjandrasa) yang berasal dari kelas “Whiskey”. Kapal selam ini dibeli dari Uni Soviet dan tiba di Surabaya pada pengujung 1959, sebagai bagian dari pembangunan kekuatan laut pertama yang dirintis trio KSAL Soebijakto-Jos Sudarso-Ali Sadikin. Indonesia memilih Soviet karena upaya pendekatan ke Amerika Serikat gagal. Meski punya banyak tipe kapal selam, Soviet hanya mau menjual kapal selam kelas W kepada negara-negara sahabatnya. 


Dalam Operasi Tjakra II, ketiga kapal selam itu punya titik pendaratan berbeda-beda meski masih di Teluk Tanah Merah, Papua. Lantaran itulah kapal selam Trisula berangkat paling awal karena mendapat titik pendaratan terjauh. Setelah menerima perintah dari Komandan Kesatuan Kapal Selam-15 Kolonel RP Poernomo pada 15 Agustus 1962, Mayor (Laut) Teddy Asikin Nataatmadja menggerakkan kapal selam yang dipimpinnya, RI Trisula (402), menuju Teluk Tanah Merah, Papua. Keberangkatan Trisula menandai dimulainya Operasi Tjakra II, yang membawa tim DPC (Datesemen Pasukan Chusus) RPKAD (Resimen Pasukan Khusus Angkatan Darat) dan tim ilmuwan.  


“Tim pasukan khusus yang naik kapal selam RI Trisula dan RI Nagarangsang nantinya bertugas melakukan sabotase pada pertahanan Belanda di sekitar kota Hollandia atau sekitar lapangan terbang Sentani,” tulis Atmadji Sumarkidjo dalam Mission Accomplished: Misi Pendaratan Khusus oleh Kapal Selam RI Tjandrasa. Sementara itu, tim ilmuwan menyiapkan masyarakat untuk ikut andil dalam sebuah pemerintahan sementara di sekitar ibukota pascapenyerbuan dan pendudukan Biak yang telah diagendakan.


Dari pangkalan Teluk Kupa-kupa, Halmahera, Trisula bergerak ke timur pada haluan 070 derajat. Rute agak ke utara itu diambil untuk menghindari deteksi pesawat-pesawat Neptune Belanda yang berpangkalan di Biak.


Lettu Dolf Latumahina, komandan tim DPC-2 RPKAD, dan ke-14 anak buahnya ada di dalam Trisula. Mereka merupakan tim khusus dari banyak tim khusus yang dibentuk RPKAD menjelang kampanye pembebasan Irian Barat. Dari sekian banyak DPC, mereka punya spesialisasi masing-masing. DPC-2 mendapat pelatihan langsung dari Mayor Benny Moerdani, dan mendapat spesialisasi penyusupan dari kapal selam.


Selama pelayaran itu, kecuali Dolf yang ditempatkan di ruang perwira, anggota pasukan DPC-2 tinggal di ruang torpedo. Kebanyakan dari mereka menghabiskan waktu dengan bermain gaple dan bersenda gurau dengan awak kapal selam.


Saat berada di utara Hollandia, kapal itu lalu berbelok ke selatan. Trisula sudah berada di dekat garis pantai saat senja. Sekira tiga mil dari pantai, Trisula mulai muncul dari kedalaman laut. Para prajurit mulai tegang. Setelah pintu kedap air di haluan dibuka, dua perahu karet dikeluarkan dan dipompa, lalu mengangkut pasukan DPC-2 ke pantai yang berjarak 300 meter.


Begitu sampai, mereka langsung bercakap-cakap dengan penduduk setempat. Namun tak berlangsung lama. Awak Trisula melihat cahaya kelap-kelip datang dari arah daratan. Komandan Trisula, Asikin, memerintahkan pasukan DPC-2 segera kembali ke kapal selam. Selagi mereka berdiskusi tentang cahaya itu, dua pesawat Neptune Belanda datang dan mengelilingi posisi mereka.


Setelah pasukan DPC-2 masuk, Trisula segera menyelam cepat hingga ke kedalaman 150 meter. Dari dalam laut terlihat ternyata bukan hanya pesawat Belanda saja yang mengejar mereka, tapi juga sebuah kapal destroyer Angkatan Laut Belanda. Trisula menyelam lagi, hingga kedalaman 180 meter. Sekira dua jam kemudian, destroyer itu berada di atas permukaan, dimana Trisula bersembunyi. Destroyer itu terus berputar-putar di atas posisi Trisula.


“Awak kapal selam dapat mendengar dengan telinga telanjang suara gauk (sirene) destroyer yang ada di atasnya di mana destroyer Belanda itu (seolah-olah) ingin menyatakan bahwa dia mampu mendeteksi posisi kapal selam tersebut,” tulis Sumarkidjo.


Trisula sendiri mempertahankan kedalamannya dan terus bergerak ke utara. Setelah mencapai posisi 2oLU, kapal selam itu berbelok ke barat dan akhirnya sampai ke pangkalan semula. Meski selamat, banyak awak Trisula kecewa lantaran begitu berlabuh mereka baru tahu bahwa ada perintah cease fire (gencatan senjata).


Setelah Trikora berakhir, Trisula dan kapal selam-kapal selam lain ikut dalam berbagai operasi militer yang muncul kemudian. Pada masa pemerintahan Soeharto, yang lebih memperhatikan pembangunan militer pada Angkatan Darat, kapal tersebut kurang mendapat perhatian sebelum akhirnya pensiun.*


bg-gray.jpg
Banyumas is one of Central Java’s rice-producing regions. However, floods and malaria caused famine in the area. This issue caught the attention of a member of the House of Representatives.
bg-gray.jpg
Percobaan bom nuklir-hidrogen oleh Amerika Serikat di Kepualaun Eniwetok di Pasifik merisaukan seorang anggota DPR. Mendorong pemerintah galang sikap penolakan di pentas internasional.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
Lomba asah-otak layaknya cerdas cermat mulanya untuk para serdadu Perang Dunia II. Radio hingga televisi lantas mengadaptasinya untuk pelajar.
Lomba asah-otak layaknya cerdas cermat mulanya untuk para serdadu Perang Dunia II. Radio hingga televisi lantas mengadaptasinya untuk pelajar.
Pernah mendirikan band The Steps yang sohor di akhir 1960-an, Tinton Soeprapto justru meninggalkan dunia musik dan kembali ke dunia otomotif.
Pernah mendirikan band The Steps yang sohor di akhir 1960-an, Tinton Soeprapto justru meninggalkan dunia musik dan kembali ke dunia otomotif.
Peristiwa ini berawal dari ketegangan yang dipicu oleh kecemburuan sosial dan tekanan ekonomi. Aksi kekerasan, penjarahan, dan pembakaran meninggalkan luka sosial yang mendalam.
Peristiwa ini berawal dari ketegangan yang dipicu oleh kecemburuan sosial dan tekanan ekonomi. Aksi kekerasan, penjarahan, dan pembakaran meninggalkan luka sosial yang mendalam.
Horison lahir dari stabilitas politik rezim Orde Baru. Majalah sastra berpengaruh ini bertahan selama enam dekade.
Horison lahir dari stabilitas politik rezim Orde Baru. Majalah sastra berpengaruh ini bertahan selama enam dekade.
Dari tuntutan jam kerja hingga perlindungan pekerja. Perjuangan buruh mengalami perubahan, namun tujuannya tetap satu: keadilan.
Dari tuntutan jam kerja hingga perlindungan pekerja. Perjuangan buruh mengalami perubahan, namun tujuannya tetap satu: keadilan.
Berawal dari ahli psikologi ingin mengamati kehidupan narapidana di penjara. Eksperimen ini menjadi eksperimen paling terkenal dan kontroversial.
Berawal dari ahli psikologi ingin mengamati kehidupan narapidana di penjara. Eksperimen ini menjadi eksperimen paling terkenal dan kontroversial.
transparant.png
bottom of page