- 20 Jan 2024
- 4 menit membaca
Diperbarui: 30 Mei
M. Noor Nasution frustasi ketika tentara Jepang menduduki Sumatra Utara. Dia yang sudah menamatkan sekolah MULO tak bisa lanjut ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tapi, Noor enggan menganggur. Bakat seni menuntun Noor jadi pemain sandiwara. Itu bukanlah suatu pilihan yang keliru. Noor menjadi salah satu seniman terkenal di zaman Jepang.
“Di masa pendudukan Jepang, para seniman turut pula menyumbangkan buah pikirannya melalui seni, drama, seni suara, dan lain-lain. Tokoh terkemuka adalah Saleh Umar atau Surapati dan M. Noor Nasution (alm. mantan direktur Antara),” catat tim peneliti Depdikbud dalam Sejarah Perlawanan Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme di Sumatra Utara.
Noor membentuk kelompok sandiwara bernama Kinsei Gedidan. Sjamsuddin Manan, waktu itu turut dalam rombongan drama dari Kisaran sampai Rantau Prapat sebagai tukang tik naskah, terpukau menyaksikan pertunjukan “Bang Noor”. Noor selalu tampil dengan nama panggung “Monanza”. Kecuali Bing Slamet, Sjamsuddin menyebut belum pernah ada seniman yang berhasil membawakan comical song sebagaimana yang ditampilkan Noor.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















