- 14 Jan 2024
- 4 menit membaca
Diperbarui: 30 Mei
PRESIDEN Sukarno terganggu dengan eksposur media dalam menyorot Gerakan 30 September (G30S). Pemberitaan tentang pemotongan kemaluan jenderal-jenderal Angkatan Darat korban G30S adalah yang paling meresahkannya. Pun demikian dengan mata mereka yang isunya dicungkil oleh para pasukan penculik. Berita itu, menurut Sukarno, tidak sesuai dengan visum repertum dari para dokter yang memeriksa jenazah para jenderal tersebut.
Sukarno minta klarifikasi. Pada pembukaan Konferensi Para Gubernur Seluruh Indonesia di Istana Negara, 13 Desember 1965, dia menagihnya ke beberapa nama. Salah satunya kepada Letkol M. Noor Nasution.
“Saya tanyakan kepada Noor Nasution, Letkol, yang mengawasi Antara, dari mana kabar yang dimasukkan di dalam surat kabar ini. Kok di dalam surat kabar dikatakan bahwa jenderal-jenderal yang mati ini dipotong kemaluannya! Donder. Sebab, akibat daripada kabar bohong ini, Saudara-saudara, lebih jahat daripada fitnah. Sebab, akibatnya ialah, Saudara-saudara, rakyat kita menjadi gontok-gontokan, panas-panasan,” kata Sukarno dalam pidatonya termuat dalam Revolusi Belum Selesai: Kumpulan Pidato Presiden Sukarno September 1965-Pelengkap Nawaksara suntingan Budi Setiyono dan Bonnie Triyana.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















