- 10 Mei 2024
- 5 menit membaca
Diperbarui: 24 Jul
KABAR pengunduran diri Hamka sebagai ketua MUI tersebar luas. Rumah Hamka mendadak ramai. Rekan-rekan Hamka berkunjung memberi selamat. Para pewarta silih berganti datang menggali keterangan lebih dalam. Petugas keamanan tampak berjaga-jaga. Televisi, radio, dan koran membahas pengunduran diri Hamka: apa alasan Hamka keluar dan siapa bakal penggantinya.
Hamka berupaya menjauh dari pers. “Kebetulan hari pernikahan Afif, putra Hamka kesembilan, telah tiba. Buya pergi ke Palembang pada 23 Mei 1981,” kata Irfan Hamka. Ternyata pers tetap mengekor Hamka. Mereka datang ke acara itu dan bertanya lagi soal pengunduran diri Hamka. “Ah, itu kan ulah koran saja yang menganggap soal ini soal besar,” kata Hamka tenang, dikutip Rusydi Hamka dalam Hamka di Mata Hati Umat.
Hamka kembali ke Jakarta. Tidak lama. Sebab, Hamka harus terbang ke Irak pada 29 Mei. Hamka pergi menghadiri acara Departemen Wakaf Irak. “Hamka lalu meneruskan perjalanan ke Bangladesh,” tulis Yunan Nasution, sahabat Hamka, dalam Panjimas, 21 Agustus 1981. Dari Bangladesh, Hamka tak langsung menuju tanah air. Hamka mampir beberapa hari di Kuala Lumpur, Malaysia.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















