top of page

Cerita Sukabumi Saat Agresi

Pengalaman orang Indonesia kala Belanda melancarkan agresi militer pertama dengan nama Operasi Produk.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Militer Belanda dalam Operasi Produk di Sukabumi. (Nationaal Archief).

23 Jul 2018
3 menit membaca

Diperbarui: 21 Jul

SEBAGAI anak-anak, Hetty Kabir masih ingat situasi di Sukabumi pada 26 Juli 1947. Perempuan kelahiran tahun 1937 tersebut melukiskan  bagaimana pagi itu belasan pesawat terbang melayang-layang di atas kota sambil melepaskan bom-bom yang menghancurkan beberapa tempat strategis.


“Salah satunya Stasiun Kereta Api Sukabumi yang langsung porak poranda terkena bom Belanda,” kenang putri Mayor Harun Kabir, salah seorang perwira Divisi Siliwangi.


Sadar akan bahaya mengancam, siang itu juga sebagian besar masyarakat Sukabumi mengungsi ke luar kota. Sementara itu, kekuatan Brigade Surjakantjana yang menjadi penanggung jawab kemananan wilayah Bogor, Sukabumi, dan Cianjur alih-alih melakukan perlawanan, mereka terpaksa mundur ke arah Nyalindung. Di kota yang terletak antara Cianjur dengan Sukabumi tersebut, TNI bekerjasama dengan para pejabat sipil, mereka lantas mendirikan pemerintahan darurat.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page