- 2 Okt 2019
- 3 menit membaca
Diperbarui: 12 Apr
SEHARI setelah Peristiwa Gerakan 30 September 1965, Brigjen TNI Sucipto, ketua G-V Koti (Komando Operasi Tertinggi), membentuk KAP-Gestapu (Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan September Tiga Puluh). Ini adalah front aksi pertama yang dibentuk untuk melawan PKI. Ketuanya Subhan Z.E. dari Nahdlatul Ulama dan Sekretaris Harry Tjan Silalahi dari Partai Katolik.
Sucipto kemudian memfasilitasi pertemuan para aktivis antikomunis dari berbagai organisasi (NU, HMI, PMKRI, Pemuda Muhammadiyah, PII, Sekber Golkar, Front Nasional, Gasbindo, Gemuis, KBKI, Partai Katolik, dan PSII), untuk bertemu dengan Panglima Kostrad Mayjen TNI Soeharto di markas Kostrad.
Sesudah mengadakan rapat tertutup, menurut John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, para pimpinan kelompok itu menyelenggarakan konferensi pers (rapat umum) pada 4 Oktober 1965. Yang terlibat di dalamnya adalah orang-orang semacam Subchan Z.E. dari Nahdlatul Ulama, yang sejak lama bekerja sama dengan para perwira Angkatan Darat yang anti-PKI. Dengan adanya kerja sama sebelumnya, mereka mampu dengan cepat mengorganisasikan diri.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















