Diperbarui: 6 Okt
TENDANGAN kungfu melayang di Stadion Kanjuruhan, Malang usai pertandingan Arema vs Persebaya. Pelakunya bukan pemain sepakbola, melainkan aparat tentara berbaret hijau. Akibatnya, seorang penonton yang memasuki lapangan terkapar di pinggir lapangan.
Aksi barbar aparat belum berhenti sampai di situ. Polisi berbondong-bondong ikut memukuli penonton pakai pentungan. Tembakan gas air mata jadi senjata pamungkas. Banyak penonton yang tergencet di pintu keluar karena berdesak-desakan. Padahal, penggunaan gas air mata telah dilarang oleh federasi sepakbola internasional (FIFA). Seratusan orang akhirnya meregang nyawa kehabisan oksigen.
Tragedi yang terjadi pada akhir pekan kemarin (1/10) itu jadi bencana terburuk dalam sejarah sepakbola Indonesia. Cara bengis aparat meredam penonton menuai kecaman. Alih-alih pengamanan, tindakan tersebut dinilai banyak kalangan lebih mendekati pembunuhan massal.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















