top of page

Dari Wiragunan Ke Ragunan

Ragunan berasal dari gelar yang diberikan kepada seorang Belanda yang mengabdi kepada Sultan Banten.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 31 Jul 2014
  • 2 menit membaca

TAMAN margasatwa Ragunan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dipadati pengunjung yang mengisi liburan Lebaran. Kebun binatang itu, yang berdiri pada 19 September 1864, semula berlokasi di Cikini sebelum dipindahkan ke Ragunan pada 1966.


Ragunan, menurut sejarawan Belanda F. de Haan, berasal dari kata wiragunan, merujuk pada gelar wiraguna, yang dianugerahkan kepada Henrik Lucaszoon Cardeel oleh Sultan Banten Abul Fath Abdul Fattah atau Sultan Ageng Tirtayasa.


Namun, menurut Windoro Adi dalam Batavia 1740, gelar Pangeran Wiraguna diberikan oleh Sultan Abunasar Abdul Qahar atau Sultan Haji atas jasanya meminta bantuan Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) untuk melawan dan menyingkirkan ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa.


Menurut Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya: Batas-batas Pembaratan, gelar Pangeran Wiraguna diberikan karena jasa Cardeel memugar berbagai bangunan dan mendirikan bangunan kecil yang sampai sekarang masih berdiri di samping Masjid Agung Banten. Bangunan kecil tersebut berupa “rumah meliputi sebuah lantai dasar dan lantai satu yang indah, berjendela besar; sebuah museum kecil terdapat di dalamnya,” tulis Lombard.


Laporan wakil VOC di Banten, Caeff, menyebut Cardeel untuk kali pertama pada Maret 1675. Sebagai tukang batu, dia menawarkan jasanya ketika kebakaran menimpa Keraton Surosowan atau istana Sultan Banten. Setelah diislamkan, dia mengabdi kepada Sultan. Cardeel, tulis Windoro Adi, bukan hanya membangun kembali keraton, namun juga membangun bendungan dan istana peristirahatan di hulu Ci Banten yang kemudian dikenal dengan sebutan Bendungan dan Istana Tirtayasa.


Kendati mendapat bujukan dan tawaran yang baik dari VOC, Cardeel memilih tetap hidup di Banten dan mengabdi kepada raja yang baru, Sultan Haji. Dia bahkan mengawini salah satu mantan istri Sultan Ageng Tirtayasa dan tetap bertugas sebagai “penilik pekerjaan besar”.


Setelah Sultan Haji wafat pada 1687, dia meninggalkan Banten dan berencana pulang ke Negeri Belanda. “Tidak diketahui apakah dia pernah kembali ke negerinya,” tulis Lombard, “tetapi pada 1695, dia diketahui menetap di Batavia sebagai penduduk biasa (burger) dan kembali menjadi Nasrani. Dia menjadi kepala wilayah (wijkmeester Blok M) dan mengusahakan sebuah hutan kecil (Ragunan, red) miliknya di pinggiran kota.”


Cardeel berkongsi dengan seorang juru bedah, Philip Gijger, untuk membangun kincir air dan penggergajian di dekat sungai besar, serta membuat peti untuk keperluan ekspor gula tebu. Pada 1699, pemerintah kotapraja menugasinya memperbaiki beberapa saluran air yang rusak karena gempa bumi dengan upah 150 ringgit. Sejak 1706, dia berhenti membuat peti dan beralih memproduksi arang untuk dijual ke pabrik senjata milik VOC untuk membuat mesiu.


Karena istrinya tinggal di Banten, Cardeel menikah lagi dengan Anna Stratingh tanpa dikaruniai anak. Merasa ajalnya semakin dekat, dia mengangkat anak seorang pemuda Indo bernama Lucas, anak temannya, Hodenpijl, dan membebaskan ibunya, Magdalena, dari status budak.


Menurut Lombard, dalam surat wasiatnya, Cardeel mewariskan kepada Lucas tiga perempat kekayaannya dan seperempatnya untuk saudara-saudara perempuannya di tempat kelahirannya di Steenwijk, Belanda. Cardeel meninggal dunia pada 1711. 

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Maria Ullfah lahir dari keluarga menak terpandang. Memilih jalan perjuangan.
bg-gray.jpg
Pernah dicampakkan dan ditipu intel Jepang, Shamsiah Fakeh lantang menyuarakan emansipasi perempuan. Dituduh bunuh anak sendiri saat gerilya di hutan.
bg-gray.jpg
Jenderal sekaligus pahlawan Italia ini sedang menakhodai kapalnya ketika Perang Aceh meletus. Di perairan Aceh, dia kena kolera.
bg-gray.jpg
Setiati menggerakkan kaum perempuan untuk memperingati satu tahun kemerdekaan Indonesia di tempat pembacaan proklamasi. Mereka terus bergerak meski dihadang tentara Gurkha.
Majalah sastra di Indonesia merepresentasikan suasana zamannya. Sastrawan generasi pertama belum menemukan formatnya hingga sastrawan Pujangga Baru menjadi pionir.
Majalah sastra di Indonesia merepresentasikan suasana zamannya. Sastrawan generasi pertama belum menemukan formatnya hingga sastrawan Pujangga Baru menjadi pionir.
Eksperimen penjara Stanford dihentikan setelah banyak tahanan yang menunjukkan gangguan psikologis dan para penjaga berlaku sewenang-wenang.
Eksperimen penjara Stanford dihentikan setelah banyak tahanan yang menunjukkan gangguan psikologis dan para penjaga berlaku sewenang-wenang.
Lomba asah-otak layaknya cerdas cermat mulanya untuk para serdadu Perang Dunia II. Radio hingga televisi lantas mengadaptasinya untuk pelajar.
Lomba asah-otak layaknya cerdas cermat mulanya untuk para serdadu Perang Dunia II. Radio hingga televisi lantas mengadaptasinya untuk pelajar.
Pernah mendirikan band The Steps yang sohor di akhir 1960-an, Tinton Soeprapto justru meninggalkan dunia musik dan kembali ke dunia otomotif.
Pernah mendirikan band The Steps yang sohor di akhir 1960-an, Tinton Soeprapto justru meninggalkan dunia musik dan kembali ke dunia otomotif.
Peristiwa ini berawal dari ketegangan yang dipicu oleh kecemburuan sosial dan tekanan ekonomi. Aksi kekerasan, penjarahan, dan pembakaran meninggalkan luka sosial yang mendalam.
Peristiwa ini berawal dari ketegangan yang dipicu oleh kecemburuan sosial dan tekanan ekonomi. Aksi kekerasan, penjarahan, dan pembakaran meninggalkan luka sosial yang mendalam.
Horison lahir dari stabilitas politik rezim Orde Baru. Majalah sastra berpengaruh ini bertahan selama enam dekade.
Horison lahir dari stabilitas politik rezim Orde Baru. Majalah sastra berpengaruh ini bertahan selama enam dekade.
transparant.png
bottom of page