top of page

Di Balik Istilah Orde Baru

Datang sebagai pengoreksi tatanan lama dalam sejarah Indonesia, Orde Baru kemudian tampil sempurna selaku rezim yang dikoreksinya

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pengambilan sumpah dan pelantikan Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden Republik Indonesia dalam Sidang Istimewa MPRS, 11 Maret 1967 di Jakarta. (ANTARA-DOK IPPHOS)

4 Nov 2020
3 menit membaca

Diperbarui: 17 Apr

SAAT di penghujung waktu kekuasaannya, Presiden Sukarno pernah dikunjungi oleh sahabat lamanya Muriel Stuart Walker alias K'tut Tantri di Istana Bogor. Ktut yang datang bersama Dewi A. Rais Abin, disambut hangat oleh Bung Karno. Terjadilah perbincangan kecil yang sempat direkam oleh Dewi dalam bukunya, Hidajat: Father, Friend and A Gentleman.


“K'tut, nowadays we have Old Order and New Order! (K'tut, sekarang ini kita memiliki dua masa: Orde Lama dan Orde Baru!)” ujar Bung Karno secara tiba-tiba.


“I don’t mint Bung, wether there is Old Order or New Order as long as there is order (Mau Orde Lama atau Orde Baru, selama ada tata tertib dan ketenteraman, itu tidak masalah Bung),” jawab K'tut.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page