top of page

Di Selabintana Masa Depan Hindia dan Indonesia Ditentukan

Di dusun sejuk kaki Gunung Gede ini masa depan Hindia ditentukan. Membuka jalan bagi kemerdekaan Indonesia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Menteri Kobayashi tiba di Batavia, September 1940.

  • 17 Sep 2018
  • 4 menit membaca

HAWA dingin tak menghalangi orang-orang untuk beraktivitas. Minggu pagi, parkiran Selabintana Conference Resort (SCR) sudah ramai baik oleh para penginap maupun penduduk sekitar yang ingin liburan atau mengais rezeki. Di bawah pohon beringin tua raksasa, seorang nenek dengan sabar menunggui dagangannya dan melayani orang-orang yang bertanya.


Pembeli bunga-bunganya datang silih berganti. “Murah-murah banget. Itu bunga yang kecil daunnya banyak di Pamulang gocapan, di sini tadi cuma sepuluh ribu,” ujar seorang ibu-pembeli asal Jakarta kepada Historia.


Selabintana, sekira tujuh kilometer utara Sukabumi kota, sejak lama dikenal sebagai penghasil bunga dan sayur-sayuran. “Di lembah gunung itu terdapat kebun bunga, yang terkenal dengan bunga edelweisnya. ‘Musim Bunga di Selabintana’ merupakan salah satu judul dari pentas sandiwara keliling, Tjahaja Timoer, pada tahun empat puluhan,” tulis veteran Perang Kemerdekaan Mien Adi Hatmodjo dalam memoarnya yang dimuat di buku Seribu Wajah Wanita Pejuang dalam Kancah Revolusi ’45, “Perjuangan Rakyat Sukabumi”.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
bg-gray.jpg
Captain Drury, a veteran of the Java Invasion, is the only British person buried in the old Dutch cemetery at the Bogor Botanical Gardens.
transparant.png
bottom of page