top of page

Djohan Effendi dan Pidato Soeharto

Djohan Effendi menulis pidato Presiden Soeharto selama 20 tahun atau 2/3 dari 32 tahun kekuasaan penguasa Orde Baru itu. Saking lamanya, dia pernah merasa dirinya ditakdirkan menjadi orang di belakang layar.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mensesneg Djohan Effendi (kanan) bersama Presiden Abdurrahman Wahid. (Youtube Profil Djohan Effendi).

  • 18 Nov 2017
  • 9 menit membaca

SYAHDAN, pada 1975 Sekretariat Kabinet minta Departemen Agama (Depag) untuk membuatkan sambutan Presiden Soeharto untuk Hari Raya Iduladha. Karena tengah berada di Mekkah memimpin jamaah haji (amirul haj), Menteri Agama Prof. Mukti Ali minta pihak Setneg agar menghubungi Sekjen Departemen Agama Bahrum Rangkuti. Bahrum-lah yang kemudian mengorder draf pidato kepada Djohan Effendi. Hal ini termasuk yang dilaporkan oleh Bahrum setelah Mukti Ali pulang dari Tanah Suci.


Djohan yang waktu itu menjadi salah satu Kasubdit di Depag, kemudian ditarik oleh Mukati Ali menjadi staf pribadinya. Dialah yang kemudian menyiapkan pidato/sambutan menteri agama. Bagi Djohan sendiri, Mukti Ali bukanlah orang asing. Ketika dia menjadi mahasiswa IAIN di Yogyakarta, Mukti Ali adalah mentornya dalam diskusi Limited Group yang beranggotakan Ahmad Wahib, kelak calon reporter majalah Tempo yang tewas ditabrak motor ini masyhur berkat catatan hariannya Pergolakan Pemikiran Islam, dan M. Dawam Rahardjo, cendekiawan dan aktivis muslim. Jadi, dia sudah tak asing lagi dengan pemikiran Mukti Ali ketika harus menyiapkan bahan pidato atau sambutan untuknya. Selain itu, jika ada permintaan dari Setneg kepada Depag untuk membuat pidato/sambutan presiden pada hari-hari raya keagamaan atau pada pertemuan-pertemuan organisasi keagamaan.


Setelah Mukti Ali tak lagi menjadi menteri agama, Djohan meneruskan pekerjaan sampingannya itu. Moerdiono, menteri muda sekretaris negara, menanyakan kepada Mukti Ali siapa orang Depag yang biasa menyusun konsep pidato presiden. Mukti Ali menjawab beberapa orang, tapi Moerdiono minta penulis yang tempo hari berhenti untuk beberapa saat. Lalu Mukti Ali teringat Djohan karena dia pernah cuti enam bulan untuk mengikuti kursus bahasa Inggris di Australia atas biaya Colombo Plan. Alhasil, Djohan pun diminta datang ke Setneg di Jalan Merdeka Barat, menemui Moerdiono. Konsep pidato pertama yang diminta Moerdino adalah sambutan Presiden Soeharto untuk acara pertemuan dalang se-Indonesia.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Presiden Sukarno menggagas program transmigrasi Djajaloka untuk menyejahterakan eks pejuang Perang Kemerdekaan. Gejolak politik dan transisi kekuasaan menjadikannya melenceng dari tujuan awal.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo melanjutkan pendidikan ke Belanda. Dia berjejaring dengan orang-orang dari berbagai negara dalam gerakan melawan imperialisme dan kolonialisme.
bg-gray.jpg
Taklik talak dalam buku nikah pada mulanya tak digubris. Sempat dituduh hendak mengubah hukum Islam.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah menjadi menteri perempuan pertama dalam sejarah Indonesia. Mengurus diplomasi, buruh, sampai bedak dan gincu.
Ini bukan zaman Siti Nurbaya. Tapi jika kesulitan mencari pasangan, tak ada salahnya melirik biro jodoh.
Ini bukan zaman Siti Nurbaya. Tapi jika kesulitan mencari pasangan, tak ada salahnya melirik biro jodoh.
Lorong Zaman Pamer
Lorong Zaman Pamer
Perjuangan petani Kendeng menambah deretan perjuangan perempuan di Pantai Utara Jawa.
Perjuangan petani Kendeng menambah deretan perjuangan perempuan di Pantai Utara Jawa.
Negeri-negeri yang bergulat dari masa transisi menuju demokrasi, kejahatan kemanusian di masa lalu acap menjadi beban di masa kini.
Negeri-negeri yang bergulat dari masa transisi menuju demokrasi, kejahatan kemanusian di masa lalu acap menjadi beban di masa kini.
Witan Sulaeman mengadu nasib di Serbia, negeri Eropa Timur yang sarat sejarah sepakbola edan.
Witan Sulaeman mengadu nasib di Serbia, negeri Eropa Timur yang sarat sejarah sepakbola edan.
Berhasrat membalas dendam dan mewujudkan tuntutan, sekelompok aktivis garis keras Armenia mengebom bandara di Paris.
Berhasrat membalas dendam dan mewujudkan tuntutan, sekelompok aktivis garis keras Armenia mengebom bandara di Paris.
transparant.png
bottom of page