- 18 Nov 2017
- 9 menit membaca
SYAHDAN, pada 1975 Sekretariat Kabinet minta Departemen Agama (Depag) untuk membuatkan sambutan Presiden Soeharto untuk Hari Raya Iduladha. Karena tengah berada di Mekkah memimpin jamaah haji (amirul haj), Menteri Agama Prof. Mukti Ali minta pihak Setneg agar menghubungi Sekjen Departemen Agama Bahrum Rangkuti. Bahrum-lah yang kemudian mengorder draf pidato kepada Djohan Effendi. Hal ini termasuk yang dilaporkan oleh Bahrum setelah Mukti Ali pulang dari Tanah Suci.
Djohan yang waktu itu menjadi salah satu Kasubdit di Depag, kemudian ditarik oleh Mukati Ali menjadi staf pribadinya. Dialah yang kemudian menyiapkan pidato/sambutan menteri agama. Bagi Djohan sendiri, Mukti Ali bukanlah orang asing. Ketika dia menjadi mahasiswa IAIN di Yogyakarta, Mukti Ali adalah mentornya dalam diskusi Limited Group yang beranggotakan Ahmad Wahib, kelak calon reporter majalah Tempo yang tewas ditabrak motor ini masyhur berkat catatan hariannya Pergolakan Pemikiran Islam, dan M. Dawam Rahardjo, cendekiawan dan aktivis muslim. Jadi, dia sudah tak asing lagi dengan pemikiran Mukti Ali ketika harus menyiapkan bahan pidato atau sambutan untuknya. Selain itu, jika ada permintaan dari Setneg kepada Depag untuk membuat pidato/sambutan presiden pada hari-hari raya keagamaan atau pada pertemuan-pertemuan organisasi keagamaan.
Setelah Mukti Ali tak lagi menjadi menteri agama, Djohan meneruskan pekerjaan sampingannya itu. Moerdiono, menteri muda sekretaris negara, menanyakan kepada Mukti Ali siapa orang Depag yang biasa menyusun konsep pidato presiden. Mukti Ali menjawab beberapa orang, tapi Moerdiono minta penulis yang tempo hari berhenti untuk beberapa saat. Lalu Mukti Ali teringat Djohan karena dia pernah cuti enam bulan untuk mengikuti kursus bahasa Inggris di Australia atas biaya Colombo Plan. Alhasil, Djohan pun diminta datang ke Setneg di Jalan Merdeka Barat, menemui Moerdiono. Konsep pidato pertama yang diminta Moerdino adalah sambutan Presiden Soeharto untuk acara pertemuan dalang se-Indonesia.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















