top of page

Soeharto di Tengah Perang Dingin

Buku baru tentang bagaimana Presiden Soeharto memainkan peta politik internasional dan regional guna meraih sekaligus mempertahankan kekuasaannya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden Soeharto mendampingi Presiden Filipina Corazon C. Aquino melakukan inspeksi barisan kehormatan di Lapangan Terbang Halim Perdanakusumah, Jakarta, 25 Agustus 1986. (ANRI).

14 Nov 2023
7 menit membaca

Diperbarui: 28 Mar

BAGI seorang dengan ketertarikan studi terkait sejarah dan politik Asia Tenggara, sudah barang tentu mengetahui Soeharto. Sebagai presiden kedua Indonesia, ia masyhur karena sikap tangan besi dan laku korupsi, di samping label dirinya sebagai Bapak Pembangunan. 


Sebelum pecah peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S), nama Soeharto belum banyak dikenal publik. Pasca kejadian tersebut, barulah ia mulai masuk dalam percaturan politik nasional. Hal ini tidak terlepas dari manuvernya di sekitar kejadian yang menewaskan enam jenderal dan satu perwira, di mana Soeharto memegang jabatan vital sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).


Tentu sosok Soeharto yang tiba-tiba muncul menggantikan Sukarno di tengah gejolak perpolitikan dan ekonomi, mengundang banyak akademisi menulis tentang dirinya. Teranyar, Mattias Fibiger, seorang peneliti hubungan internasional dan ekonomi-politik dari Harvard Business School, menjabarkan analisis mendalam bagaimana Soeharto memainkan peta politik internasional, guna meraih sekaligus mempertahankan kekuasaannya dalam buku berjudul Suharto’s Cold War: Indonesia, Southeast Asia, and the World.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page