top of page

Harga Seorang Pahlawan Nasional

Ada kalanya politik kepentingan menyusup ke dalam pengajuan calon Pahlawan Nasional.

loading_historia_white.gif
transparant.png

KH Noer Alie, proses pengajuannya sebagai Pahlawan Nasional sempat menimbulkan kisruh. (noeralie.wordpress.com)

  • 10 Nov 2017
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 4 Jul 2025

GELAR Pahlawan Nasional merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan kepada warga negara Indonesia. Tahapan dari usulan hingga penetapannya memakan waktu lama dan biaya yang tak sedikit. Toh hal itu tak menghalangi anggota masyarakat, lembaga, dan pemerintah daerah untuk berlomba-lomba mengajukan calon Pahlawan Nasional.


Bagi anggota keluarga, gelar Pahlawan Nasional adalah sebuah prestise. Mereka juga berhak mendapatkan santunan berupa biaya hidup dan kesehatan, yang berlaku hingga generasi kedua.


“Perawatan makam Pahlawan Nasional juga mendapat tanggungan dari pemerintah,” kata Hartono Laras, direktur jenderal Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial.


Sebelum tahun 2015, tunjangan hidup sebesar Rp1,5 juta dan tunjangan kesehatan Rp3 juta per bulan. Besaran tunjangan itu kemudian diperbaharui. Seluruh tunjangan digabung dan dibayarkan per tahun sebesar Rp50 juta.


“Sampai saat ini ada 86 keluarga pahlawan yang masih disantuni oleh negara,” ujar Hartono.


Menurut Abdul Syukur, sejarawan dari Universitas Negeri Jakarta yang menjadi anggota Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP), kalau dilihat nominalnya, santunan pemerintah untuk keluarga Pahlawan Nasional tidaklah seberapa. Tapi untuk kalangan tertentu gelar Pahlawan Nasional bisa dijadikan modal untuk mendongkrak perolehan suara dalam pemilihan kepala daerah atau wakil rakyat.


“Tak jarang kan ada anak atau cucu tokoh penting di suatu daerah yang memerlukan itu sebagai atribusi historis untuk kepentingan politiknya,” ujar Abdul Syukur.


Sementara bagi pemerintah daerah, Abdul Syukur menambahkan, gelar Pahlawan Nasional merupakan sebuah kebanggaan dan dijadikan ukuran berhasil tidaknya suatu daerah berbicara di pentas nasional. Mereka menganggap daerah mereka punya sumbangsih untuk negeri.


“Pengakuan kultural itu penting,” ujar Abdul Syukur.


Selain kultural, ada keuntungan politis terutama bagi politisi: calon-calon gubernur, bupati, hingga Dewan Perwakilan Daerah. “Kalau berhasil (jadi Pahlawan Nasional) berarti orang ini berhasil mengangkat nama daerah,” ujarnya.


Untuk itu pemerintah daerah rela menggelontorkan dana besar dari kas daerah maupun via sponsor atau perusahaan-perusahaan swasta besar yang bercokol di daerahnya.


“Besarannya bisa mencapai ratusan juta, bahkan milyaran,” ujar sejarawan Rushdy Hoesein.


Biaya itu diperlukan untuk riset, seminar, hingga pembuatan biografi. Semakin tidak populer seorang tokoh semakin mahal biaya yang harus dikeluarkan. Khusus untuk riset, biaya akan membengkak jika harus memburu data hingga ke luar negeri.


“Kalau untuk keluarga para pahlawan yang sejahtera sih itu bukan persoalan, tapi bagaimana bagi yang tidak punya uang?” kata Rushdy.


Karena harus melibatkan akademisi, pengajuan pahlawan dari daerah melibatkan sejumlah sejarawan atau ahli sejarah lokal. Mereka tergabung dalam Tim Peneliti Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD). Mereka bekerja dan diupah atas permintaan pemerintah setempat yang mengajukan pahlawannya.


“Harganya harga pasar gelap. Tergantung penelitian, jauhnya, lamanya,” kata Abdul Syukur.


Sejarawan Didi Kwartanada tidak menafikan adanya uang yang dikeluarkan untuk menyasar anugerah gelar Pahlawan Nasional. Itu ditujukan untuk membiayai sejumlah kegiatan seperti riset, penulisan dan pembuatan buku serta seminar. Kendati tidak bisa menyebut nominalnya, Didi memastikan jumlahnya pasti tidak sedikit. Terlebih beberapa seminar diadakan di beberapa kota.


"Waktu kami (Yayasan Nabil) mengadakan seminar tentang John Lie dan A.R. Baswedan, kami mengadakannya beberapa kali di berbagai kota," ujar Didi.


Salah satu yang berpengalaman “menelorkan” Pahlawan Nasional adalah Nina Lubis, sejarawan Universitas Padjajaran merangkap ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Jawa Barat. Dia antara lain berhasil meloloskan KH Noer Alie, kendati diwarnai polemik terkait plagiatisme. Disebut oleh Ali Anwar (sejarawan Bekasi), Nina menerima Rp25 juta dari pemerintah Kabupaten Bekasi. Sayangnya, Nina belum bersedia diwawancarai Historia.


Tapi Nina juga pernah gagal. Dilansir majalah Arsip edisi 64/Juli-Desember/2014, dia pernah mengajukan nama M. Toha, pejuang Jawa Barat, sebagai Pahlawan Nasional. Pengusulannya selalu kandas oleh TP2GP. Selain sejarah M. Toha masih sumir dan minim data pendukung, kepahlawanannya banyak terjadi di daerah lain.


Menurut Abdul Syukur, sejarawan yang dibayar dalam proyek Pahlawan Nasional adalah lumrah. Selagi tak menyalahi integritas keilmuan, tak ada salahnya kemampuan sejarawan dihargai. Hal itu juga akan mendorong suatu penelitian.


“Itu salah satu kontribusi sejarawan terhadap masyarakat, dibayar ataupun tidak. Tanggungjawab moral sejarawan juga untuk mengajukan pahlawan dengan cara membantu pemerintah daerah karena yang bisa mengusulkan ke pusat itu pemerintah daerah,” kata Abdul Syukur.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Sjahrir-Amir Sjarifoeddin memburu para oposannya. Sukarno pinjamkan mobil dan beri sangu untuk menangkap Tan Malaka dan kawan-kawannya.
bg-gray.jpg
Tan Malaka tampil pertama kali untuk menghimpun kekuatan dalam Persatuan Perjuangan. Oposisi Tan Malaka berhasil menjatuhkan Kabinet Sutan Sjahrir, namun hanya kemenangan semu.
bg-gray.jpg
Sutan Sjahrir menemui Tan Malaka untuk bekerja sama. Namun, dua tokoh Minang ini tak sejalan dalam perjuangan. Sjahrir memilih diplomasi membuat Tan Malaka oposisi.
bg-gray.jpg
Pohon ini punya narasi mitos bisa menurunkan hujan. Menarik berbagai pemerintah kolonial Eropa untuk mendapatkan dan memperkenalkan tanaman ini ke berbagai negeri jajahan.
K-Pop, budaya Korea yang ikut mengguncang penutupan Asian Games 2018 Jakarta-Palembang.
K-Pop, budaya Korea yang ikut mengguncang penutupan Asian Games 2018 Jakarta-Palembang.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
China butuh waktu tiga dekade untuk membangun ekonominya menjadi yang terpesat di dunia.
China butuh waktu tiga dekade untuk membangun ekonominya menjadi yang terpesat di dunia.
Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.
Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.
Pemahaman secara mendalam dan berimbang terhadap peristiwa pada kurun 1959-1969 syarat menuju rekonsiliasi.
Pemahaman secara mendalam dan berimbang terhadap peristiwa pada kurun 1959-1969 syarat menuju rekonsiliasi.
Berhasrat membalas dendam dan mewujudkan tuntutan, sekelompok aktivis garis keras Armenia mengebom bandara di Paris.
Berhasrat membalas dendam dan mewujudkan tuntutan, sekelompok aktivis garis keras Armenia mengebom bandara di Paris.
transparant.png
bottom of page