top of page

Harga untuk Kemerdekaan Indonesia

Dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag 1949, pihak Indonesia membayar sejumlah besar uang kepada Belanda. Buat apa membayar utang yang tak pernah ada akadnya?

loading_historia_white.gif
transparant.png

Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda. (Arsip Nasional Belanda).

30 Des 2020
10 menit membaca

PADA Selasa sore yang panas, 23 Agustus 1949, delegasi Republik Indonesia, beserta Serikat Federasi Indonesia (BFO) dan Belanda, berkumpul mengelilingi meja besar berbentuk oval di “Room of Knights” (Ridderzal) di Den Haag, di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dipelopori oleh diplomat Amerika Merle Cochran.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page