top of page

Rosihan Anwar Jatuh Bangun Koran Kiblik

Rosihan Anwar berhasil menjadikan Pedoman sebagai koran yang disegani. Tapi Sukarno membunuhnya dan Soeharto membunuhnya sekali lagi.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Rosihan Anwar. (Repro Napak Tilas ke Belanda).

15 Apr 2011
5 menit membaca

Diperbarui: 10 Mei

SEBUAH kabar menyenangkan datang dari Soemanang Soerjowinoto, pemimpin redaksi harian Pemandangan, pada 1948. Soemanang memberitahukan Rosihan Anwar bahwa R.H.O. Djuanedi, penerbit Pemandangan, memiliki dana dan ingin menerbitkan koran yang membawa suara kaum kiblik.


Sebelum Perang Dunia II, Djunaedi sudah menerbitkan harian Pemandangan dengan Soemanang sebagai pemimpin redaksinya. Djunaedi ingin memanfaatkan percetakan Pemandangan di Senen Raya 107 untuk menerbitkan sebuah koran lagi. Syaratnya sederhana. Nama depan koran harus dengan huruf “P”, sama dengan nama depan Pemandangan.


Rosihan Anwar bukanlah orang baru di dunia jurnalistik. Dia pernah bekerja jadi wartawan Asia Raya dan Merdeka, sebelum kemudian menerbitkan Siasat. Tapi dia tak begitu puas dengan Siasat yang lebih menonjolkan sisi idealisme. Dia butuh perahu lain yang bisa dia nahkodai secara lebih bebas dan menguntungkan secara bisnis.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Gatot Soebroto nyentrik dan eksentrik dalam penampilan, perkataan, dan keyakinan. Jenderal humoris dan dekat dengan anak buah. Penyayang anak-anak dan pelindung umat Buddha.
bg-gray.jpg
Terlantar di negeri orang. Eks romusha bersama buruh Indonesia melakukan aksi propaganda, boikot, hingga pemogokan di Singapura.
bg-gray.jpg
Pengalaman dan usianya membuat Gatot Soebroto acap jadi tempat mengadu para perwira. Namanya tetap abadi di banyak tempat, mulai jalan-jalan protokol hingga RSPAD.
bg-gray.jpg
Kasus perdagangan anak di daerah transmigrasi Rawa Makmur, Kalimantan Timur ungkap kemiskinan ekstrem yang menjerat kehidupan para transmigran. Praktik korupsi aparat disinyalir biang keladinya.
Budaya bahari bisa tumbuh bukan semata-mata karena infrastruktur fisik.
Budaya bahari bisa tumbuh bukan semata-mata karena infrastruktur fisik.
Tak sengaja ditemukan di sebuah zaman, sampai sekarang “susu basi” ini jadi hidangan lezat nan sehat.
Tak sengaja ditemukan di sebuah zaman, sampai sekarang “susu basi” ini jadi hidangan lezat nan sehat.
Kartu Lebaran bukan hanya sarana mengucapkan selamat Idulfitri, tetapi juga pernah bermuatan politis.
Kartu Lebaran bukan hanya sarana mengucapkan selamat Idulfitri, tetapi juga pernah bermuatan politis.
Seorang perupa mengangkat kejahatan kemanusiaan pada 1965 menjadi tema karyanya. Dekonstruksi tanpa provokasi.
Seorang perupa mengangkat kejahatan kemanusiaan pada 1965 menjadi tema karyanya. Dekonstruksi tanpa provokasi.
Konferensi Nasional Sejarah berusaha menghidupkan kembali tradisi bahari bangsa Indonesia yang dulu pernah jaya.
Konferensi Nasional Sejarah berusaha menghidupkan kembali tradisi bahari bangsa Indonesia yang dulu pernah jaya.
Johanis Jan Nortier kabur dari Belanda yang diduduki Nazi ke Australia. Ikut pertempuran Tarakan.
Johanis Jan Nortier kabur dari Belanda yang diduduki Nazi ke Australia. Ikut pertempuran Tarakan.
transparant.png
bottom of page