top of page

Jenderal Hario "Tundukkan" Subandrio

Diajak pergi Subandrio tanpa pemberitahuan jelas, waktu jenderal Suhario terbuang percuma. Tak marah, Suhario lebih dulu “menundukkan” Subandrio.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mayjen TNI Suhario "Kecik" Padmodiwirio ketika di Moscow, Uni Soviet, 1965 (Repro Memoar Hario Kecik II).

10 Mei 2020
3 menit membaca

SUATU senja di RTM Budi Utomo, Jakarta tahun 1981. Mayjen (Purn.) Soehario Padmodiwirio atau yang akrab disapa Hario “Kecik”, mantan Pangdam IX/Mulawarman, kedatangan mantan Menteri/Panglima AU Omar Dani di tempat tahanannya. Dani datang untuk memastikan apakah Subandrio, mantan wakil perdana menteri I, baru saja mengunjunginya.


“Iya, ia membawa berita yang saya sudah tahu. Saya dengarkan saja, berlagak seolah-olah seperti belum tahu,” kata Hario sambil tertawa, yang dituliskannya dalam Memoar Hario Kecik II.


Subandrio datang memberitahu berita rencana pembebasan Hario dan dua jenderal lain yang ditahan di tempat sama oleh rezim Orde Baru.


Mendengar keterangan Hario, Dani pun lega. Dani tahu betul karakter Subandrio, teman satu blok di tahanan itu, suka menguping dan kerap membuat kegaduhan dengan pernyataan-pernyataannya. Dani khawatir berita pembebasan Hario disalahgunakan Subandrio.



Bukan rahasia bila Subandrio si mantan kepala Biro Pusat Intelijen (BPI) kerap mengeluarkan pernyataan yang menimbulkan kegaduhan dalam poltik. Pernyataan-pernyataannya juga kerap merugikan orang lain. Mantan Menteri Penerangan Sudibyo menyaksikan bagaimana pernyataan Subandrio merugikan Chairul Saleh, mantan wakil Perdana Menteri III, yang saat itu menjabat Ketua Periodik Front Nasional.


“Yang sangat saya sesalkan adalah sikap Subandrio yang menuduh Chairul Saleh sebagai orang yang termasuk dinasti ekonomi. Serangan Subandrio begitu hebatnya, yang diikuti oleh kekuatan-kekuatan Kom, yang kira-kira senada. Di situ kelihatan bahwa Saudara Chairul Saleh selalu dipojok-pojokkan oleh Subandrio,” kata Sudibyo dalam kesaksiannya, termuat di Chairul Saleh Tokoh Kontroversial.


Maka dari itulah Dani mendatangi Hario. “Waktu berita tentang akan dibebaskannya tiga Jendral, Pranoto, Rukman, dan selirane sampeyan (Anda, red.), diberitahukan oleh Overste (Tomo) itu, Pak Ban ikut nguping,” kata Dani, dikutip Hario.


Hario dan Dani pun tertawa bersama. Kedua mantan perwira tinggi itu sama-sama tahu karakter Subandrio sejak lama. Terlebih Hario, dia sudah lama kenal Subandrio. Dia merupakan teman Hurustiati, istri Subandrio, saat kuliah di jurusan kedokteran.


Hario paham betul bagaimana cara menghadapi Subandrio. Hario pernah membuat Subandrio “takluk”. Kisah itu terjadi pada awal dekade 1960-an saat Hario masih menjabat sebagai Pangdam Mulawarman dan Subandrio sebagai menteri luar negeri.


Karena suatu urusan, Hario datang ke Jakarta. Saat itulah di suatu pagi dia dipanggil Subandrio ke rumahnya. “Cik, kamu sekarang berangkat ke sini, ke rumah saya. Sudah jangan tanya untuk apa. Saya tunggu sekarang,” kata Subandrio.


Baca juga: Memburu Soebandrio


Subandrio ternyata mengajak Hario ke Kompleks peristirahatan milik Mobil Brigade Kepolisian RI di Megamendung. Namun, perjalanan jauh itu bagi Hario seakan hanya buang-buang waktu saja. Subandrio ternyata hanya ingin memamerkan konsep pidato yang dibuatnya untuk pidato 17 Agustus Presiden Sukarno. Hario pun bingung apa tujuan Soebandrio mengajaknya ke Megamendung.  


“Belakangan, setelah saya mengikuti pidato yang diucapkan Bung Karno lewat radio, ternyata berbeda isinya, tidak seperti yang saya baca di Megamendung,” kata Hario.


Meski seperti dikerjai, Hario tak kecewa karena dia telah “menundukkan” Subandrio ketika mobil yang mereka naiki menuju Megamendung baru melintasi Cisalak. Di sanalah Hario meminta Subandrio untuk memerintahkan supir agar menghentikan mobil karena dia tak tahan ingin buang hajat. Permintaan itu membuat Subandrio kesal.


“Kamu itu bagaimana, saya ini menteri lho. Mosok kamu suruh berhenti. Kurangajar kamu. Di mana kamu akan ngising? Gendeng kamu, Cik. Sini bukan hutan-belantaramu Kalimantan!” kata Subandrio.


Alih-alih menanggapi kemarahan Subandrio, Hario tak ambil pusing dan tetap meminta agar mobil dihentikan. Karena mobil masih tetap melaju, Hario akhirnya mengeluarkan ancaman sambil menyuruh supir menghentikan mobil. “Berhenti...berhenti, saya tidak kuat lagi menahan. Atau saya ngebrok di sini di dalam mobil,” kata Hario.


Ancaman Hario pun mendorong Subandrio memerintahkan supir segera menghentikan mobil. Setelah Hario kembali dari menyelesaikan hajatnya, Subandrio pun kembali marah.

“Tapi saya sendiri dalam hati merasa puas. Inilah suatu momen historis yang spektakuler,” kata Hario.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Drama persaingan sekaligus persahabatan dua pembalap flamboyan legendaris yang memicu adrenalin.
Drama persaingan sekaligus persahabatan dua pembalap flamboyan legendaris yang memicu adrenalin.
Nusantara memiliki pencapaian kebudayaan paling awal di banding negara lain, dari angka nol hingga tempat belajar bahasa Sanskerta.
Nusantara memiliki pencapaian kebudayaan paling awal di banding negara lain, dari angka nol hingga tempat belajar bahasa Sanskerta.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
 Sejak dini, Sandiaga terobsesi beragam olahraga. Menurun dari orangtuanya
Sejak dini, Sandiaga terobsesi beragam olahraga. Menurun dari orangtuanya
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
transparant.png
bottom of page