top of page

Kabar Pilu dari Kamp Sachsenhausen

Saksi bisu derita umat manusia yang masih berdiri sampai sekarang. Pengabar duka dari masa lalu.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 20 Jun 2014
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 6 Mei 2025

JARUM jam dinding yang terpasang di atas gerbang masuk itu membeku di angka 11:05. Ia adalah pengingat dari sebuah masa di saat ribuan warga Yahudi di kamp konsentrasi Sachsenhausen dibebaskan oleh tentara merah Uni Soviet. Pada gerbang besi usang terpatri tulisan “Arbeit Macht Frei” yang berarti “Kerja membawa kebebasan”. Kebebasan semu yang terkerangkeng pagar tembok tua kamp konsentrasi. 


Saya memasuki situs kamp konsentrasi yang dibangun pada Juli 1936 itu dengan perasaan was-was bercampur ngeri. Alat peraga penyiksaan yang dipamerkan di museumnya melengkapi perasaan yang campur aduk itu. Sebuah tiang gantungan berdiri di sana. Tak jauh darinya, terdapat sebuah benda menyerupai meja berukuran 60 centimeter x 1 meter.


Warga Yahudi yang “divonis” bersalah oleh tentara SS (Schutzstaffel), dipaksa membungkuk, merebahkan tubuhnya pada meja itu. Sementara itu kedua kaki tetap berdiri, dengan pergelangan kaki yang terpasung pada kotak kayu berlubang dua yang hanya muat untuk dua tungkai kaki kurus kering. Dalam keadaan demikian, petugas SS memukul pinggang tahanan menggunakan tongkat besi sebanyak 25 kali. Dalam beberapa kasus, siksaan itu menyebabkan kerusakan pada ginjal yang menyebabkan kematian.


Penyiksaan tak berhenti pada tiang gantungan atau deraan tongkat besi pada pinggang. Beberapa warga Yahudi yang menghuni kamp konsentrasi dijadikan obyek percobaan para dokter Nazi. Praktik keji itu dilakukan dengan cara menyuntikan bakteri penyebab tuberkolosis (TBC) ke paru-paru tahanan kamp. Membiarkannya dijangkiti penyakit TBC untuk kemudian dijadikan kelinci percobaan pembuatan vaksin anti TBC. Banyak di antaranya yang tewas karena malpraktik tersebut.


Sisa-sisa lokasi percobaan itu masih bisa dilihat pada sebuah klinik yang berdiri tak jauh dari gerbang utama kamp Sachsenhausen. Dua buah bak panjang tempat meletakan mayat serupa meja bedah berlapis keramik masih berdiri di dalam klinik. Beberapa botol obat berukuran kecil, di antaranya berlogo tengkorak dengan dua tulang bersilang, tersimpan pada rak kaca. Kesaksian-kesaksian mantan tahanan yang berhasil luput dari maut tertera sebagai keterangan langsung tentang apa yang terjadi di sana sepanjang tahun 1936–1945.


Kamp Sachsenhausen adalah model kamp konsentrasi pertama rezim Nazi yang khusus didesain sebagai tempat menghabisi nyawa tahanan. Tak hanya warga Yahudi yang ditahan di kamp ini, kaum komunis, homoseksual dan aktivis politik penentang Nazi bercampur baur dengan tahanan kriminal lainnya.


Di antara ribuan tahanan itu, ada seorang anak Medan yang juga ikut ditahan di sini. Dia Parlindoengan Loebis, dokter lulusan Universitas Leiden, Belanda. Semasa kuliah, Parlindoengan sempat jadi ketua Perhimpunan Indonesia selama tiga tahun. Ketika Jerman menduduki Belanda pada Mei 1940, dia sempat buka praktik umum. Setahun kemudian, Parlindoengan ditangkap oleh Nazi, dikirim ke kamp konsetrasi Sachsenhausen setelah sebelumnya sempat dipenjara di Belanda.


Parlindoengan Loebis luput dari maut. Dia pulang ke Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan, menetap di Yogyakarta. Kemudian pada 1956, bekerja sebagai dokter perusahaan di tambang timah Bangka-Belitung dan meninggal pada 1994.


Kisah berhadapan dengan Nazi tak hanya dialami oleh Parlindoengan saja. Irawan Soejono, seorang mahasiswa yang bertugas menangani alat cetak dalam kelompok bawah tanah anti Nazi di Belanda, bernasib lebih naas.Kendati tak sempat masuk ke kamp konsentrasi, dia tewas di ujung senapan tentara Jerman saat kepergok membawa mesin cetak di Leiden. Sejak 4 Mei 1990 namanya diabadikan jadi nama jalan di bilangan Osdorp, Amsterdam: Irawan Soejonostraat.


Fasisme meninggalkan trauma mendalam pada sebagian besar warga Eropa, khususnya pada negeri-negeri yang pernah diduduki Nazi. Beberapa negara di eropa, seperti Jerman, Austria, Hunggaria dan Rumania memberlakukan Undang-Undang Pengingkaran Holocaust (Holocaust Denial). Undang-undang itu melarang orang untuk menggunakan simbol swastika Nazi dan mengkriminalisasi orang yang membela paham fasisme Nazi seraya mengingkari fakta pembunuhan massal terhadap warga Yahudi.


David Irving, seorang sejarawan asal Inggris pernah dijerat dengan undang-undang tersebut karena mengingkari fakta adanya holocaust. Dia menulis buku The Hitler’s War dan menampik tuduhan bahwa Hitler dengan sengaja memerintahkan pembunuhan massal. Pada 1989, Irving dipersona non-grata oleh Pemerintah Austria saat menghadiri sebuah acara di Wina. Kemudian pada 1992 pemerintah Jerman mengadilinya atas tuduhan yang sama dan dihukum denda sebanyak 30 ribu DM serta dilarang masuk ke wilayah Jerman.


Fasisme adalah berita duka bagi umat manusia. Dan cerita duka itu seakan masih terekam pada tiang gantungan; tungku pembakaran mayat dan pagar kawat berduri kamp konsentrasi yang masih tegak berdiri sampai hari ini.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
transparant.png
bottom of page