top of page

Keraguan terhadap Keris Diponegoro

Benda yang baru diserahkan ke Museum Nasional diragukan sebagai keris Kiai Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Keris Kiai Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro dikembalikan Belanda ke Indonesia dan menjadi koleksi Museum Nasional. (Fernando Randy/Historia).

10 Mar 2020
5 menit membaca

Diperbarui: 20 Apr

BUTUH waktu 36 tahun hingga akhirnya keris yang disimpan di Belanda diidentifikasi sebagai Kiai Nogo Siluman. Benda itu dipulangkan ke Indonesia dan diserahkan ke Museum Nasional, Jakarta, pada Kamis 5 Maret 2020. Namun, menyusul kepulangannya, keraguan apakah keris itu benar Kiai Nogo Siluman pun merebak.


“Secara ilmu padhuwungan (ilmu pengetahuan perkerisan Jawa, red.) nggak kena,” kata Toni Junus, konsultan keris yang menulis buku Tafsir Keris, kepada Historia.ID.


Secara umum, Nogo Siluman dikenal sebagai salah satu dhapur atau tipologi bentuk keris. Adanya kepala naga dengan mahkota di kepalanya lalu unsur nama “Siluman” yang berkaitan dengan kemampuan untuk menghilang, kata Toni, setidaknya cocok dengan karakteristik keris Nogo Siluman.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
transparant.png
bottom of page