Diperbarui: 15 Sep
PADA akhir 1944, di bawah tekanan Jepang kehidupan rakyat Indonesia semakin terpuruk. Banyak orang kelaparan hingga meninggal karena beras susah didapat. Kesulitan itu juga dialami komponis Cornel Simanjuntak dan kawan-kawannya di Jakarta.
Meski Cornel bekerja di Keimin Bunka Shidosho, namun uang yang diperolehnya hampir tak lagi bernilai. Penjual beras lebih memilih menukar berasnya dengan barang berharga daripada uang. Karena itu, Cornel memilih menggunakan gajinya untuk membeli buku bekas dan pakaian bekas.
Karena tidak ada beras, Cornel dan temannya, Binsar Sitompul dan Gayus Siagian, makan singkong dengan sayur kangkung yang hanya dibumbui garam.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















