top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Ketika Cornel Simanjuntak Menodong Ibu Sud

Komponis Cornel Simanjuntak pernah berjualan arang untuk bertahan hidup. Menodong gurunya, Ibu Sud.

19 Jul 2020

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Ibu Sud (melihat ke kamera) pada 1953. (Wikimedia Commons).

PADA akhir 1944, di bawah tekanan Jepang kehidupan rakyat Indonesia semakin terpuruk. Banyak orang kelaparan hingga meninggal karena beras susah didapat. Kesulitan itu juga dialami komponis Cornel Simanjuntak dan kawan-kawannya di Jakarta.


Meski Cornel bekerja di Keimin Bunka Shidosho, namun uang yang diperolehnya hampir tak lagi bernilai. Penjual beras lebih memilih menukar berasnya dengan barang berharga daripada uang. Karena itu, Cornel memilih menggunakan gajinya untuk membeli buku bekas dan pakaian bekas.


Karena tidak ada beras, Cornel dan temannya, Binsar Sitompul dan Gayus Siagian, makan singkong dengan sayur kangkung yang hanya dibumbui garam.


“Namun rupanya Cornel menyadari juga, bahwa ia perlu mencari jalan keluar dari kemelut itu. Pada suatu sore sepulang di rumah ia menyatakan, bahwa di Gang Thimas, Tanah Abang, ada barang dagangan berupa arang,” tulis Binsar Sitompul dalam Cornel Simanjuntak, Komponis, Penyanyi, Pejuang.


Arang itu harus dijual dan mendapatkan untung karena modal pokoknya harus disetorkan kepada pemilik arang. Mereka yang biasanya bergelut di dunia kesenian itu pun harus rela menjadi penjual arang agar dapur kembali mengepul.


Agar arang itu cepat laku, mereka menodong orang-orang yang dikenal. Cornel meyebut nama-nama yang kemungkinan mau membeli arang, seperti Lasmidjah Hardi yang turut berjuang ketika revolusi, dan Ibu Sud, pencipta lagu kenamaan.


“Esok harinya kami berangkat ke Gang Thomas. Segera pula keranjang-keranjang berisi arang kami tumpuk di atas sebuah gerobak dorong. Cornel bekerja keras tanpa menghiraukan tangan dan pakaiannya yang menjadi hitam. Kami pun berangkat. Saya memegang bagian depan gerobak untuk menjaga keseimbangannya, dan Cornel mendorong dari belakang,” kata Binsar.


Setelah basah kuyup oleh keringat, mereka sampai di Jalan Maluku, Menteng, tempat Ibu Sud tinggal. Tanpa bertanya dulu, mereka lalu menurunkan lima keranjang arang dan mengangkutnya ke dapur rumah Ibu Sud.


Ibu Sud hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak-anak muda itu. Ia juga tidak menawar harga arang ketika Cornel menyebut nominal. Tak sampai di situ, pada kesempatan itu Cornel menodong lagi. “Ibu Sud, kami lapar nih,” kata Cornel.


Ibu Sud segera pergi ke dapur. Kembali dari dapur, Ibu Sud membawa dua piring nasi goreng yang masih hangat dan baunya harum. “Aduhai, sudah lama kami tidak menikmati hidangan seenak itu,” kata Binsar.


Melihat anak-anak muda kumal dan kelaparan itu Ibu Sud hanya termenung. “Hai Cornel, mana lagumu yang baru? Jangan asyik mengurus arang saja dong,” kata Ibu Sud.


“Tunggu saja Bu, kalau sudah laku semua ini, akan saya buat lagu Romantika Penjual Arang,” jawab Cornel.


Mendengar jawaban Cornel, Ibu Sud hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala. Hubungan Cornel dengan Ibu Sud memang sudah erat sejak lama. Cornel banyak belajar musik dari Ibu Sud sejak pindah ke Jakarta.


Biasanya, ketika Cornel selesai membuat lagu baru, Ibu Sud yang menjadi pendengar pertamanya. Ibu Sud juga yang menganjurkan Cornel mengikuti les menyanyi pada Ny. Kempers, seorang guru musik berkebangsaan Belanda.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Tuan Rondahaim melawan Belanda di Simalungun hingga akhir hayatnya. Dia tidak pernah menyerah. Penyakit rajalah yang menghentikan perlawanannya.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
bottom of page