top of page

Ki Padmasusastra, Sang Penyelamat Sastra Jawa

Sempat diberhentikan sebagai abdi dalem keraton tidak membuat Ki Padmasusastra berhenti menggeluti sastra Jawa.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ki Padmasusastra (kiri). (sastra.org).

25 Agu 2022
3 menit membaca

Diperbarui: 3 hari yang lalu

NAMA Ki Padmasusastra memang kurang populer dalam jagat sastra. Padahal, perannya bukan “kaleng-kaleng”. Tanpa sumbangsihnya, bisa jadi sastra Jawa hanya tinggal sejarah.


Sastra Jawa sudah ada sejak masa Jawa Kuno, sekitar tahun 700 Masehi, ketika periode animisme dan dinamisme. Eksistensinya berlanjut pada saat Islam menyebar sekitar abad ke-15, yang sekaligus menandai dimulainya periode Sastra Jawa Baru.


Ketika Mataram terpecah oleh Perjanjian Giyanti, perkembangan sastra Jawa surut. Produksi karya-karya sastra dilakukan hanya dengan menerjemahkan kitab-kitab sastra Jawa Kuno ke bahasa Jawa baru. Tiga tokoh yang berpengaruh pada periode ini adalah Yasadipura I, Yasadipura II, dan Ranggawarsita.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page