top of page

Antara Pujangga Mengabdi dan Melawan

Sikap pujangga terlihat dari karya sastra yang dihasilkannya. Ada yang mengabdi kekuasaan, ada yang melawan penjajahan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Iluminasi pada naskah Babad Diponegoro yang menggambarkan perlawanan terhadap kolonialis. Foto: KITLV.

29 Mar 2018
3 menit membaca

SIKAP para pujangga terhadap pemerintah kolonial terlihat dalam karya sastra yang dihasilkannya. Misalnya, naskah Hikayat Mareskalek karya Abdullah bin Muhammad Al-Misri, keturunan Arab yang mengagungkan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels.


Dalam Hikayat Mareskalek, Jawa digambarkan tengah mengalami kemunduran dan degradasi moral. Segala maksiat tumbuh di Jawa. Sementara kedatangan Daendels dimunculkan selayaknya mesias. Dia dan bangsa kulit putih (Belanda) adalah pembawa cahaya bagi penduduk Jawa.


“Naskah semacam ini bisa muncul mengingat posisi Abdullah bukanlah bumiputra. Dalam stratifikasi sosial saat itu, posisinya ada di kelas menengah. Bahasa-bahasa yang digunakan lebih memilih menguntungkan yang di atas, daripada yang di bawah, yang di atas adalah para patron Hindia Belanda,” kata Sudibyo, dosen sastra Nusantara Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, dalam diskusi yang diselenggarakan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (29/3).


Sebaliknya, sikap perlawanan terhadap kolonialis terbaca jelas dalam Syair Perang Mengkasar. Naskah itu mengangkat perang besar antara Kerajaan Goa dengan VOC. Penulis syair, Enci Amin merupakan juru tulis Sultan Hasanuddin, raja Goa. Karena berpihak pada Goa, dia pun menciptakan gelar yang menghina lawan. Misalnya, dia menyebut Belanda dengan “Welanda Iblis, si la’nat Allah, Welanda kafir yang bain.”


“Sehingga peperangan yang dilakukan Goa terhadap Belanda dapat dianggap sebagai suatu kewajiban teologis,” kata Sudibyo.


Ada pula pujangga yang bersifat abu-abu. Misalnya Syair Kompeni Walanda Berperang dengan Cina. Secara garis besar alur ceritanya sejajar dengan narasi sejarah pembataian etnis Tionghoa di Batavia pada 1740. Peristiwa ini menimbulkan perlawanan terhadap VOC di beberapa kota di Pantura.


“Prajurit VOC tawanan Istana Kartasura dipaksa mengucap kalimat syahadat, disunat, dipaksa mengenakan pakaian ala Jawa, dan dijadikan pegawai istana Kartasura,” jelas Sudibyo.


Di sisi lain, dalam naskah itu juga muncul stereotipe dan makian kepada masyarakat Tionghoa, seperti "Cina keparat salah hati, gila keparat, Cina celaka, si kutuk laknat anjing celaka, dan Cina durhaka". Stereotipe juga ditujukan kepada Madura dan Bali. Orang Bali disebut dengan "babi alas, macan alas". Dalam surat kepada Pangeran Madura, Himop (Van Imhoff, gubernur jenderal VOC) menyebut Pangeran Madura dengan sebutan "Madura Busuk Hati, binatang alas babi hutan, dan babi hutan anak asu". Pangeran Madura, juga memaki utusan Himop dengan sebutan "alperes anjing welandi".


"Saya melihat sosok ini (penulis Syair Kompeni Walanda Berperang dengan Cina) mengambil posisi tak jelas, abu-abu supaya ke sana selamat ke sini selamat. Karena dia anonim tidak bisa diidentifikasi, tahun terbit juga sama sekali tidak diketahui. Tradisi sastra lama memang begitu,” kata Sudibyo.


Menurut Sudibyo naskah sastra yang dikeluarkan pujangga luar istana biasanya cenderung lebih jujur. Bahasanya jauh lebih ekspresif. Penulis bisa lebih bersuara bebas. Naskah-naskahnya bisa dianggap menggambarkan pemikiran masyarakat kala itu. Namun, kata Sudibyo, hal itu harus juga memperkirakan kapan naskah diciptakan. Jika ditulis sezaman dengan peristiwa sebenarnya, maka validitasnya masih bisa diterima. Seperti Hikayat Mareskalek yang ditulis pada pertengahan abad 19, hampir sezaman dengan Daendels di Hindia Belanda (1808-1811).


“Ingatan orang pada masa itu masih tajam,” kata Sudibyo. “Namun, kalau jarak waktunya panjang, itu sudah berjarak, jarak itu kemudian diisi fiksi dan imajinasi.”


Sebaliknya, naskah yang berasal dari dalam tembok keraton berbahasa lebih santun. Pujangga istana sangat terikat oleh sikap politik tuannya. “Filter karya biasanya lewat kesetiaan pujangga pada tuannya. Para pujangga istana tahu apa yang menyenangkan raja, dan apa yang tak disukai,” kata Sudibyo.


Beberapa pujangga keraton juga sering mengambil inspirasi dari budaya kolonial. Seperti dalam Serat Baratayudha dari Pakualaman. Penciptanya membuat tampilan ilustrasi naskah dengan mengawinkan budaya Jawa dan Belanda. Misalnya, dalam penggambaran adegan perang, di sana ditampilkan bendera triwarna, merah-putih-biru; dan bendera gula kelapa, merah dan putih yang menjadi bendera Keraton Yogyakarta.


Ada pula penggambaran jamuan makan ala Belanda, Rijsttafel. Di atas meja makan terdapat nama-nama Kurawa dan Pandawa. Namun, jenis hidangan yang disajikan merupakan hidangan Eropa lengkap dengan susunan sendok, garpu, dan pisau.


“Ini adalah persentuhan kolonial dengan local genius yang ada dalam keraton Nusantara. Jadi, dalam bidang naskah para pujangga kita terutama yang bergerak di bidang artistik sudah sedemikian rupa memanfaatkan unsur asing dalam iluminasi yang dibuatnya,” kata Sudibyo.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Kasus perdagangan anak di daerah transmigrasi Rawa Makmur, Kalimantan Timur ungkap kemiskinan ekstrem yang menjerat kehidupan para transmigran. Praktik korupsi aparat disinyalir biang keladinya.
bg-gray.jpg
Panglima tempur yang memadamkan gejolak di berbagai daerah. Menggagas banyak hal penting setelah aktif lagi di Angkatan Darat.
bg-gray.jpg
Sebagai gubernur militer, Gatot Soebroto berperan dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Dia disebut turut bertanggung jawab atas eksekusi mati Amir Sjarifoeddin cs.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi kepala polisi wilayah Banyumas pada awal kemerdekaan. Dekat dengan anak buah, Gatot berhasil memimpin pasukan dalam pertempuran Ambarawa.
Setelah mendapat janji gubernur DKI, ada harapan Masjid Jami Al Masur direstorasi. Namun, prosesnya tak mudah.
Setelah mendapat janji gubernur DKI, ada harapan Masjid Jami Al Masur direstorasi. Namun, prosesnya tak mudah.
Buku ini hadir dengan membawa perspektif baru dalam memandang konflik Israel versus Palestina, yang selama ini nyaris terabaikan: sepakbola.
Buku ini hadir dengan membawa perspektif baru dalam memandang konflik Israel versus Palestina, yang selama ini nyaris terabaikan: sepakbola.
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Mars menjadi destinasi utama robot-robot penjelajah ilmiah karena manusia belum mampu sampai ke sana. Namun robot-robot itu tak bisa pulang ke Bumi.
Mars menjadi destinasi utama robot-robot penjelajah ilmiah karena manusia belum mampu sampai ke sana. Namun robot-robot itu tak bisa pulang ke Bumi.
Dari sebuah pelana kuda, Hermes menjadi kunci untuk memasuki kalangan sosialita.
Dari sebuah pelana kuda, Hermes menjadi kunci untuk memasuki kalangan sosialita.
Penjualan vas antik di tengah situasi ekonomi yang sulit menyulut kemarahan masyarakat China.
Penjualan vas antik di tengah situasi ekonomi yang sulit menyulut kemarahan masyarakat China.
transparant.png
bottom of page