- 10 Okt 2016
- 4 menit membaca
Diperbarui: 2 Mar
SAYA lupa kapan tepatnya sejarawan Asvi Warman Adam menelpon saya pada 2012 yang lampau. Dia mengabarkan kepada saya bahwa kami berdua diminta untuk bertemu Maulwi Saelan di sekolah Syifa Budi, Kemang, sekolah yang dikelolanya sejak dibebaskan dari penjara rezim Soeharto.
Pada hari pertemuan itu, Pak Maulwi berbatik dengan berkopiah menyambut kami dengan senyum ramah. Dalam pertemuan itu dia menawarkan kami untuk menulis biografinya. Sejarawan Asvi Warman Adam mengusulkan agar ada empat tema buku mengenai Maulwi Saelan: sebagai penjaga kemerdekaan, penjaga gawang, penjaga presiden dan penjaga pendidikan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












