top of page

Membangkitkan Kasti yang Mati Suri

Meski belum dikategorikan sebagai olahraga yang kompetitif, permainan kasti sarat filosofi dan manfaat bagi generasi zaman now.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Anak-anak Indonesia sudah jarang bermain kasti. (Youtube).

16 Des 2017
3 menit membaca

Semasa kanak-kanak, Mohammad Ismail selalu menyempatkan bermain dengan teman-temannya meski tugas rutin yang diberikan orangtuanya tak pernah alpa dia kerjakan. Pria yang di kemudian hari menjadi pejuang kemerdekaan lalu gubernur Jawa Tengah itu menyukai segala macam permainan anak seperti kelereng dan petak umpet, serta permainan olahraga seperti badminton dan kasti.


“Bahkan waktu sekolah di MULO saya dibilang jagonya kasti,” ujarnya dalam biografi yang ditulis bersama Bambang Sadono, Haji Mohammad Menggali Emas Jawa Tengah.


Kasti merupakan permainan olahraga yang populer hingga awal 1990-an. Di lingkungan rumah maupun sekolah, anak-anak usia sekolah dasar banyak yang memainkannnya. Di sekolah, permainan itu bahkan termasuk jenis olahraga yang dijadikan mata pelajaran.


Namun, hingga kini asal-usul dan siapa pencipta permainan kolektif yang biasa dimainkan pagi dan sore hari itu masih gelap. “Kapan awalnya permainan (kasti) ini ada di Indonesia, memang masih kabur. Banyak permainan yang berasal dari negara lain kemudian dibawa ke Indonesia, lalu berkembang yang akhirnya dilakukan orang-orang Indonesia secara turun-temurun,” tutur pemerhati dan pelestari permainan tradisional, Endi Aras Agus Riyono kepada Historia.id.


Spekulasi paling diyakini, kasti adalah permainan yang diadaptasi dari permainan bisbol dan sofbol. Bisbol, yang diduga kuat menjadi “inspirasi” lahirnya kasti, sendiri punya beragam versi asal usul. Versi Prancis, misalnya, berangkat dari sebuah manuskrip dari tahun 1344 yang menunjukkan sebuah ilustrasi permainan mirip bisbol atau kasti bernama La Soule.


Sementara itu, menurut David Block dalam Baseball Before We Knew It: A Search for the Roots of the Game, permainan yang identik dengan bisbol adalah permainan kuno Prancis lain seperti Theque, La Balle au Baton, dan La Balle Empoisonne. Pencarian Block terkait riwayat bisbol juga makin “bercabang” setelah mendapati referensi sebuah buku anak-anak dari Zaman Tudor.


John Newberry punya pendapat lain lagi. Dalam bukunya yang ditulis pada 1744, A Little Pretty Pocket-Book, dia menerangkan bahwa permainan tersebut terinspirasi dari rounders. Permainan kolektif itu merupakan permainan anak-anak di Inggris yang dasar-dasar permainannya sangat mirip bisbol dan kasti saat ini.


Kedua permainan itu, bisbol dan sofbol, kemudian masuk ke Hindia Belanda pada awal abad ke-20. “Awal abad ke-20 itu sport sedang bertumbuh-kembang di Barat,” ujar sejarawan Didi Kwartanada kepada Historia.id. Orang-orang kulit putih, dan kemudian Tionghoa yang belajar di Barat, membawa dan memainkan beragam permainan sport itu ke Hindia Belanda.


Novel Para Priyayi karya Omar Kayam merupakan salah satu pendokumentasi kasti di era kolonial. Lantip, tokoh utama novel itu, seorang bumiputra generasi awal yang mendapat pendidikan Barat, mengggunakan kasti dan permainanan lain untuk mendekatkan diri kepada murid-muridnya. “Mereka saya ajak bermain sepakbola, kasti, bertamasya ke Gunung Gandul dan Alas Ketu, dan kadang-kadang juga ke pantai selatan,” demikian Khayam menulis salah satu kisah dalam novel itu.


Kasti terus meluas cakupannya, ia dimainkan hampir di seluruh kepulauan. Tak ada aturan resmi permainan itu membuat banyak daerah punya aturan dan cara tersendiri dalam memainkannya kendati secara garis besar tetap sama. Yang pasti, kasti tak memiliki aturan jumlah pemain, tempat, dan waktu permainan. Kasti bisa dimainkan hanya oleh enam, delapan, bahkan belasan orang. Tempat memainkannya pun tak hanya di lapangan sepakbola tapi juga bisa di kebun atau tanah lapang di tepian sawah. Soal waktu, biasanya anak-anak baru berhenti memainkan kasti di sore hari ketika suara adzan magrib sudah berkumandang atau suara ibu-ibu dari para pemain sudah terdengar memerintah pulang.


Perkembangan zaman membuat kasti dan permainan tradisional lainnya semakin ditinggalkan dan dilupakan. Kemunculan permainan elektronik, mulai game watch, dingdong, hingga yang terakhir gadget, menjadi pemicunya. Ditambah dengan didikan orangtua yang lebih mementingkan keselamatan dan ketenangan anak, mereka pun akhirnya lebih memilih permainan-permainan elektronik ketimbang harus berpanas-panasan atau hujan-hujanan memainkan kasti dan permainan tradisional lain.


“Gadget itu salah satu (faktor). Munculnya permainan modern, terbatasnya lahan, terputusnya informasi dari generasi ke generasi dan munculnya kehidupan yang individualis menjadi penghambat (pelestarian kasti),” ujar Endi.


Toh, kasti belum punah. Beberapa lomba kasti masih bermunculan di beberapa daerah. Himpunan Pelajar Mahasiswa Massenrempulu (HPMM) Cabang Anggeraja, misalnya, pada Juli hingga Agustus lalu menghelat perlombaan kasti untuk memperingati HUT kemerdekaan.


Namun, itu sifatnya hanya sesaat. Setelah itu kasti kembali “mati suri”. Pemerintah tak bisa berbuat banyak menyelamatkannya karena kasti belum dianggap sebagai olahraga kompetitif.


Hal itulah yang membuat “pejuang” permainan tradisional seperti Endi terus berupaya melestarikannya. “Pameran bersama (di luar Jabodetabek) atas bantuan Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) juga pernah kami adakan di Semarang, Salatiga, Batang, Manado, Aceh, serta Pontianak. Dibarengi dengan pemberian informasi tentang permainannya. Memang tidak mudah, harus dilakukan terus-menerus dan secara berkesinambungan,” ujarnya.


Bersama rekan-rekannya, sejak 2005 Endi aktif menggelar kegiatan pameran, gelar dolanan, hingga workshop di sekolah-sekolah, mal-mal, kampus, taman atau kantong-kantong kebudayaan lainnya untuk melestarikan kasti dan beragam permainan tradisional lain. Permainan tersebut sarat filosofi dan manfaat ketimbang main gadget.


“Pemerintah juga tidak bisa fokus ke satu atau dua permainan. Makanya dibutuhkan sekali munculnya para penggiat (dari elemen masyarakat). Pentingnya dilestarikan karena permainan ini mengutamakan unsur kekompakan, ketangkasan dan kegembiraan. Melatih kedisiplinan dan meningkatkan kerjasama antar-pemain,” tandasnya.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
bg-gray.jpg
Cerita dari Museum Gatot Soebroto di Ungaran. “Rumah Prihatin” yang kaya cerita meski hanya setahun ditinggali sang jenderal.
bg-gray.jpg
Selepas meninggalkan militer, Gatot Soebroto ikut mendirikan IPKI dan lolos ke parlemen. Namun, dia mengundurkan diri karena diangkat sebagai wakil KSAD.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto nyentrik dan eksentrik dalam penampilan, perkataan, dan keyakinan. Jenderal humoris dan dekat dengan anak buah. Penyayang anak-anak dan pelindung umat Buddha.
Sebelum dikenal sebagai dokter dan penerbang, Abdulrachman Saleh aktif di beberapa organisasi pemuda dan kelompok olahraga. Ia merupakan sosok pemimpin yang disegani. Dari sanalah julukan "Karbol" itu muncul.
Sebelum dikenal sebagai dokter dan penerbang, Abdulrachman Saleh aktif di beberapa organisasi pemuda dan kelompok olahraga. Ia merupakan sosok pemimpin yang disegani. Dari sanalah julukan "Karbol" itu muncul.
 Juri memilih Historia sebagai media partner yang paling inovatif dalam menyajikan konten sejarah populer
Juri memilih Historia sebagai media partner yang paling inovatif dalam menyajikan konten sejarah populer
Kolaborasi kelompok teater Belanda-Indonesia di Festival Teater Jakarta. Mengangkat repertoir eks-KNIL dengan trauma dan fantasinya.
Kolaborasi kelompok teater Belanda-Indonesia di Festival Teater Jakarta. Mengangkat repertoir eks-KNIL dengan trauma dan fantasinya.
Bantuan ekonomi seperti pemenuhan kebutuhan pokok, garam, gula, dan minyak menjadi salah satu perhatian dalam peringatan Hari Ibu.
Bantuan ekonomi seperti pemenuhan kebutuhan pokok, garam, gula, dan minyak menjadi salah satu perhatian dalam peringatan Hari Ibu.
Delapan akademisi mencurahkan harapan dan usulan rekomendasi untuk keadilan Pemilu. Mengingatkan spirit para pendiri bangsa dan perjuangan Reformasi 1998.
Delapan akademisi mencurahkan harapan dan usulan rekomendasi untuk keadilan Pemilu. Mengingatkan spirit para pendiri bangsa dan perjuangan Reformasi 1998.
Dulu pesepakbola yang berseragam celana kulot dianggap vulgar. Kini, perempuan dengan seragam berjilbab dianggap tak sesuai.
Dulu pesepakbola yang berseragam celana kulot dianggap vulgar. Kini, perempuan dengan seragam berjilbab dianggap tak sesuai.
transparant.png
bottom of page