- 4 Mei 2019
- 3 menit membaca
Diperbarui: 25 Jun
SEJAK kaum bersenjata datang dari arah Jakarta pada awal 1946, Karawang yang tenteram berubah menjadi rusuh: perkelahian dan bentrok terjadi di mana-mana. Menurut Telan (91 tahun), biasanya mereka bertikai gara-gara masalah kecil. Misalnya satu kelompok laskar tidak mau bayar makanan di sebuah restoran, lalu pemilik restoran itu lapor ke pihak kelompok bersenjata lainnya.
“Ya jadilah kemudian tawuran pakai peluru,” ujar mantan anggota laskar di Karawang itu.
Soal itu dibenarkan oleh M. Kharis Suhud. Sebagai eks kombatan di Resimen Cikampek, ia menjadi saksi bagaimana dominannya kaum bersenjata di Karawang beberapa bulan setelah Indonesia merdeka. “Terutama sebuah lasykar yang hampir tiap waktu melakukan pamer kekuatan dengan senjata lengkap di kota sambil menyanyikan lagu-lagu menyeramkan seperti lagu 'Darah Rakyat',” tulis Kharis dalam Sekilas Pengabdian Resimen Cikampek dalam Perang Kemerdekaan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















