top of page

Tentara Rakyat Ikut Murba

Tak setuju jalan kompromi pemerintah RI terhadap Belanda, Lasjkar Rakjat bergabung dengan Partai Murba.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Eks milisi LRDR yang bergabung dengan HMOT, milisi bentukan militer Belanda. (Sumber: Arsip Nasional Belanda)

5 Mei 2019
3 menit membaca

Diperbarui: 21 Feb

PADA 17 Januari 1948, Perjanjian Renville rampung. Dengan ditandatangani perjanjian tersebut  oleh pihak Indonesia dan Belanda, maka otomatis berlaku pula secara praksis semua poin-poin yang telah disepakati. Termasuk penarikan kekuatan-kekuatan militer Republik dari Jawa Barat.


Sebagai penganut “Indonesia Merdeka 100%”, sisa-sisa pengikut LR (Lasjkar Rakjat)  tentu saja tak menerima ketetapan yang dianggap merugikan Republik tersebut. Alih-alih ikut hijrah, mereka justru membentuk Divisi 17 Agustus sebagai pengisi kekosongan kantong-kantong Republik yang ditinggalkan Divisi Siliwangi.


“Pada 17 Agustus 1948, secara terbuka mereka malah mendirikan apa yang disebut sebagai Pemerintah Republik Jawa Barat (PRJB),” ujar Cribb.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page