top of page

Misteri Kematian Seorang Demonstran

Peluru dari kesatuan manakah yang sebenarnya bersarang di jasad Arief Rahman Hakim?

loading_historia_white.gif
transparant.png

Jasad Arief Rahman Hakim sedang disemayamkan di kampus FK UI. (Arsip Nasional Belanda).

25 Feb 2018
4 menit membaca

Diperbarui: 24 Feb

CATATAN harian itu berbicara banyak. Sebagai salah satu pimpinan demonstran KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), Yozar Anwar mengisahkan secara detail peristiwa demonstrasi di Jalan Merdeka Utara pada Kamis, 24 Februari 1966.


“Jam 9 pagi, mahasiswa mulai berbondong-bondong dengan membawa jaket kuning yang berlumuran darah,” tulis Yozar dalam Angkatan 66: Sebuah Catatan Harian Mahasiswa. Darah siapakah gerangan yang memenuhi jaket kebanggaan Universitas Indonesia (UI) itu?


Menurut Yozar, darah yang berlumuran pada jaket kuning itu adalah milik Arief Rahman Hakim, seorang demonstran KAMI dari Fakultas Kedokteran UI yang tewas sehari sebelumnya. Ceritanya, Arief tengah berdemonstrasi di sekitar Lapangan Banteng ketika barisan demonstran didesak oleh aparat kemananan yang terdiri dari pasukan Resimen Pelopor (Menpor), Divisi Siliwangi (Batalyon 317 dan Batalyon 323) dan Resimen Tjakrabirawa sebagai lapis terakhir penjagaan Istana Negara.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page