top of page

Molotov

Bom molotov diciptakan bukan untuk alasan agama, apalagi untuk menghabisi nyawa seorang anak mungil: Intan Olivia Marbun.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Menteri Luar Negeri Uni Soviet, Vyacheslav Molotov, menandatangani Fakta Nazi-Soviet dengan Menteri Luar Negeri Jerman, Joachim von Ribbentrop, 23 Agustus 1939. (Wikimedia Commons).

  • 9 Feb 2017
  • 2 menit membaca

Diperbarui: 10 Agu 2025

Mengenang Intan Olivia Marbun


SEPERTI peluru, bom molotov tak punya mata, agama, ideologi atau bahkan tak pernah memilih kepada siapa dia harus bertuan dan kepada siapa pula dia harus membawa petaka. Seperti yang terjadi pada Minggu, 13 November 2015, ketika seorang pemuda dirasuki kebencian melemparkan bom molotov ke arah pekarangan gereja Oikumene di Samarinda.


Musibah datang menimpa anak-anak tiada berdosa yang sedang bermain di halaman, sementara orangtua mereka berdoa di dalam gereja. Mereka datang ke gereja atas nama agama, pemuda penebar duka itu pun melempar bom molotovnya atas nama agama. Lantas Intan Olivia Marbun, salah satu anak mungil yang terkena sambaran api kebencian itu, tewas akibat luka bakar di sekujur tubuhnya.


Bom molotov diciptakan bukan untuk alasan agama, apalagi untuk menghabisi nyawa seorang anak mungil. Orang-orang Finlandia menemukan bom molotov untuk kali pertama pada perang di musim dingin 1939 untuk mengejek Vyacheslav Molotov, menteri luar negeri Uni Soviet. Molotov membuat perjanjian untuk tak saling serang dengan Nazi Jerman pada 23 Agustus 1939 setelah sama-sama melakukan invasi ke Polandia.


Ejekan itu bisa jadi wujud kecemasan atas Nazi yang giat menyerbu ke berbagai penjuru daratan Eropa. Maka perang tak terhindarkan. Fasisme Jerman yang merasa paling unggul dari segala yang unggul mulai menindas. Yahudi, kaum gay, bahkan mereka yang mengalami keterbatasan fisik dilibas habis atas nama kemurnian ras Aria.


Intan adalah korban kebencian, seperti juga Teddy, seorang tahanan anak di kamp konsentrasi di Terezin, dekat Praha, Ceko. Dia terpaksa hidup di masa perang dan menjadi kejaran Nazi karena tak pernah bisa memilih untuk lahir sebagai Yahudi atau bukan. Maka dalam ketakutannya sebagai tawanan pada 1943, dia menulis:


Di sini terdengar suara tembakan, tangisan,

Dan oh... begitu banyak lalat.

Semua tahu kalau lalat membawa penyakit.

Oh... ada sesuatu yang menggigitku... apakah itu kutu busuk?

Di sini di Terezin, hidup bagai di neraka

Kapan aku pulang? Aku tak bisa mengatakannya sekarang.


Teddy mungkin tewas bersama 33 ribu orang tahanan Yahudi lainnya di kamp Terezin. Tak pernah ada laporan resmi tentang dia kecuali bait-bait puisi yang sempat ditulisnya semasa berada di kamp “neraka” itu. Dari puisinya terselip harapan untuk pulang kendati dia tak pernah mengerti kapan itu terjadi lantas kematian menggenapi penderitaannya.


Sementara Intan di Samarinda masih terlalu kecil bisa memahami kenapa orang beragama dan harus saling bertikai karena agama. Sampai dia meninggal, orang-orang tak jua berhenti bertikai karena agama. Di media sosial, orang-orang acuh tak acuh atas kematian Intan. Bahkan sebagian menganggap peristiwa itu adalah pengalihan isu.


Pertanyaanya, seberapa berharga sebuah isu hingga harus membunuh seorang anak tak berdosa? Jawaban atau analisis apapun tak akan pernah bisa mengembalikan Intan hidup kembali. Kisah kematian Intan akibat teror kebencian pun semakin tenggelam di antara riuh rendah orang-orang memperebutkan kekuasaan.


Duka untuk Intan adalah duka untuk peradaban yang tak pernah kunjung beringsut maju ke depan, karena alam pikiran sebagian orang yang masih tertinggal di abad kegelapan.*


Majalah Historia Nomor 34, Tahun III, 2016

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo tak hanya berotak encer dalam pelajaran, wawasan dunia dan kesadaran kebangsaannya tumbuh berkat Jules Verne, Multatuli, hingga Sun Yat-sen.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah terpikat sosialisme pada pandangan pertama. Sutan Sjahrir jadi comblangnya.
bg-gray.jpg
Buyut Ahmad Subardjo berasal dari keluarga terpandang di Aceh yang terlibat persaingan kekuasaan. Dia memilih merantau ke Jawa dan menjadi pemuka agama Islam. Anaknya mengikuti jejaknya.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah berada di dalam pusaran kontroversi penyusunan RUU Perkawinan. Berbuah manis walau penuh kompromi.
Sebagaimana Premier League, Serie A, dan NBA, akhirnya F1 juga membatalkan ajang balapannya. Menghindari pengalaman enam dekade lampau.
Sebagaimana Premier League, Serie A, dan NBA, akhirnya F1 juga membatalkan ajang balapannya. Menghindari pengalaman enam dekade lampau.
Palestina menjadi tujuan rombongan Dardanella saat tur ke wilayah Timur Tengah. Di sana mereka menjadi saksi ketegangan antara orang Yahudi dan penduduk Arab.
Palestina menjadi tujuan rombongan Dardanella saat tur ke wilayah Timur Tengah. Di sana mereka menjadi saksi ketegangan antara orang Yahudi dan penduduk Arab.
Lilik Sudjio menggarap film pahlawan super, komedi, hingga mistik. Sutradara terbaik yang kurang dilirik.
Lilik Sudjio menggarap film pahlawan super, komedi, hingga mistik. Sutradara terbaik yang kurang dilirik.
Abu Maraheel bukan sekadar ikon dan legenda olahraga Palestina. Nyawa sang Olimpian tak tertolong setelah Israel memblokade Rafah.
Abu Maraheel bukan sekadar ikon dan legenda olahraga Palestina. Nyawa sang Olimpian tak tertolong setelah Israel memblokade Rafah.
Dagelan politik dalam pusaran zaman. Oase yang membuat bangsa tertawa geli, tak melulu nyeri.
Dagelan politik dalam pusaran zaman. Oase yang membuat bangsa tertawa geli, tak melulu nyeri.
Lahir dari buah pikiran Betty Uber, Uber Cup jadi pasangan abadi Thomas Cup sebagai kejuaraan yang paling sarat gengsi.
Lahir dari buah pikiran Betty Uber, Uber Cup jadi pasangan abadi Thomas Cup sebagai kejuaraan yang paling sarat gengsi.
transparant.png
bottom of page