- 25 Des 2020
- 5 menit membaca
TAK ada hal aneh pada sore 22 Desember 1963 yang diingat Paul Sant Cassia, profesor antropologi di University of Malta, yang saat itu berusia sembilan tahun. Pada hari itu, kata Paul, ayahnya berangkat ke pabrik tempatnya bekerja seperti biasa. Ayahnya tetap bertahan bekerja di pabrik itu sebagai satu-satunya warga Siprus berdarah Turki karena begitu mencintai pekerjaannya. Semua berjalan seperti biasa hingga selepas pukul 10 malam Paul mendapati berita terjadinya kerusuhan di dekat pabrik tempat ayahnya bekerja.
“Pada tanggal 22 Desember malam perkelahian terjadi sekitar pukul 10.00 malam di pusat kota. Empat orang tewas dan banyak lainnya luka-luka. Perkelahian terjadi di dekat pabrik dan saya dan saudara laki-laki khawatir ayah akan terlibat ketika dia melakukan inspeksi di halaman pabrik. Kami meneleponnya dan memberi tahu dia bahwa ada masalah. Kami menyuruhnya pulang karena dia mungkin akan cedera jika orang Siprus Yunani mengidentifikasinya sebagai orang Siprus Turki,” kata Paul dalam bukunya, Bodies of Evidence: Burial, Memory and the Recovery of Missing in Cyprus.
Kala itu ketegangan antara warga Siprus berdarah Turki dan warga berdarah Yunani tengah memuncak. Akibatnya, ibukota Nikosia dibagi menjadi wilayah untuk warga Siprus Turki di utara dan wilayah untuk warga Siprus Yunani. Masing-masing komunitas saling mencurigai. Warga berdarah Turki mencurigai warga berdarah Yunani sebagai pendukung Enosis atau ideologi nasionalis yang mengupayakan integrasi Siprus dengan Yunani. Pemilihan Polycarpos Goergadjis, mantan jagal EOKA semasa perjuangan kemerdekaan Siprus dari Inggris yang terlibat dalam pembunuhan terhadap kalangan sipil, sebagai menteri dalam negeri dianggap salah satu langkah strategisnya. Sebaliknya, warga berdarah Yunani menuduh warga Turki ingin menguasai Siprus dan selalu mengkhawatirkan masuknya militer Turki ke Siprus.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















